
Saat Vergile membuka kamarnya untuk beristirahat, ia dikejutkan oleh dekorasi feminim menghiasi kamarnya. 'Apa-apaan ini?' pikirnya terkejut menyaksikan kamarnya berubah drastis.
"Maaf aku lupa memberitahumu." ucap Laphia memegang pundaknya dari belakang diikuti oleh Liliana disampingnya.
Gill kemudian menoleh ke belakang menatapnya, "Apa maksud semua ini?" tanya Gill.
"Mulai sekarang Liliana akan tinggal sekamar dengan mu?" jawab Laphia.
"Apa!" respon Gill terkejut.
Liliana tersipu malu saat mendengar Laphia menjelaskan hal itu padanya, "Kenapa harus sekamar dengan ku, laki-laki dan perempuan itu tidak boleh sekamar kan. Apalagi kami baru saja bertemu." tolak Gill mencari alasan logis.
Laphia tersenyum, "Memangnya mau kamu apakan Liliana, apa iya kamu mau mencumbuinya?" sindir Laphia membuat Liliana malu.
"Tentu saja tidak, tapi..." Menoleh kembali memperhatikan kamarnya.
"Aku tidak melihat ada ranjang lain disini selain tempat tidurku sendiri." sambung Gill.
"Anggap saja Liliana itu adalah ibumu, kamu bisa mengobrol dan berkeluh kesah padanya. Jangan sungkan, dia akan mendengarkan apa yang kau katakan, Bukan kah begitu Liliana?." ucap Laphia menoleh kearahnya.
Liliana mengangguk, "Iya, itu benar." kemudian membuang wajahnya malu.
'Sial, sepertinya mereka bekerja sama untuk menjebaku.' batin Gill dalam hati.
"Sebaiknya kamu segera mandi Vergile, kau sangat bau!" ucap Laphia sambi mengipas hidungnya dengan telapak tangannya.
"Baiklah, lagi pula aku tidak akan bisa tidur dengan tubuh lengket seperti ini." ucap Vergile berjalan masuk kamarnya.
"Aku tinggal dulu ya Liliana. Vergile itu memang anak yang nakal jadi kau harus banyak bersabar." ucap Laphia sambil menepuk pundaknya pelan.
"Aku mengerti." balasnya dengan senyum kemudian Laphia pergi.
Liliana kemudian masuk dan duduk diranjang sambil menatap Gill yang sedang menikmati matahari tenggelam, "Vergile, apa kamu merasa lapar. Soalnya kamu belum makan sejak tadi siang, kalau kamu lapar aku akan membuatkan makanan kesukaan mu. Kamu mau menu apa malam ini?" tanya Liliana lembut penuh perhatian.
"Tidak perlu Bu, aku masih belum lapar." jawab Gill singkat tanpa menoleh.
"Tidak perlu sungkan Vergile, kamu bisa minta apa saja padaku." ucap Liliana.
"Ada Vergile, kamu terlihat gelisah sore ini?" tanya Liliana.
Gill menutup mata menikmati angin sore yang menerpanya sepoi-sepoi, "Aku baik-baik saja, aku hanya ingin menikmati suasana sore yang damai ini." jawabnya.
"Aku tidak melihat ada setelan baju lain di dalam lemari mu Vergile. Kenapa kamu hanya membawa satu, itu pun sudah robek." tanya Liliana.
"Awalnya aku hanya iseng daftar ke sekolah ini, aku pikir tidak akan diterima jadi aku tidak mau repot membawa banyak barang. Tapi tenang saja, aku sudah memberitahu ibuku kalau aku diterima di sekolah ini. Kalau dia sudah tidak sibuk, pasti ia akan mengantarkannya kemari." jawab Gill.
"Begitu ya," ucap Liliana kemudian bangkit dari duduknya, "Kamu mau mandi dulu?" sambungnya bertanya.
"Duluan saja, aku masih menunggu matahari itu tenggelam."jawab Gill.
"Baiklah." jawabnya pelan langsung pergi.
'Kenapa hari terasa begitu singkat dan tanganku,' melihat tangannya yang tak bisa digerakkan,' Sampai kapan ini akan terus begini.' sambungnya.
Malam setelah matahari terbenam, nampak Laphia sedang masak di dapur seorang diri. Terlihat ia sangat bahagia sampai bersenandung ria saat mengaduk maasakan yang sedang dia buat dalam panci yang cukup besar.
Setelah masakannya tercium bau harum dan sudah mendidih, barulah ia mengambil centong dan mencicipinya, "Baiklah, ini sudah pas." ucap
"Vergile, Liliana, makan malam sudah siap. Turun lah, Ayo kita makan!" panggil Laphia keras.
"Sebentar, kami akan menyusul." jawab Liliana dari atas.
'Liliana pasti akan senang dengan ini.' batinnya melihat sup yang ia buat dalam panci tersebut.
Saat Laphia sedang mengambil mangkuk dan piring di rak. Ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu, "Pasti itu Alice," ucap Laphia yakin berjalan menghampiri pintu.
'Aku harus tegas memperingatkannya untuk tidak pulang terlambat, lama-lama dia bisa menjadi gadis nakal kalau aku tidak ketat membimbingnya.' batinnya dalam hati.
Laphia langsung membuka pintu sembari berkata, "Darimana saja kamu Alice, lain kali jika kau...,- Ia terkejut saat mengetahui orang yang berdiri di depannya itu bukan Alice.
Seketika ekspresi tegas Laphia berubah menjadi takut saat melihat Erfyona berdiri di hadapannya dengan mata merah menyala, meliriknya tajam dari atas. Laphia sampai menelan ludah saking takutnya menatap mata merah itu dari bawah, "Apakah Vergile ada disini?" tanya Erfyona.
Laphia hanya mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa, dahinya sampai mengelurkan keringat dingin karena dia merasa tegang, "Boleh aku masuk?" tanya Erfyona.
Laphia kemudian menyingkir dari tengah pintu dan membiarkannya masuk, setelah terkena cahaya lampu baru lah Laphia terkejut dengan sosoknya, 'Cantik sekali wanita ini, pakaiannya sangat anggun dan mewah. Pasti dia dari kalangan Ningrat!' batin Laphia dalam hati kagum.
Erfyona kemudian duduk di kursi di temani oleh Laphia di sampingnya, 'Baru kali ini aku melihat ada wanita secantik ini. Kulitnya sangat bersih dan mulus, tak ada satupun jerawat di tubuhnya.' pikir Laphia mengamatinya penuh kagum.
"Menu apa ya kira-kira yang akan di buat oleh Bi Phia malam ini?" tanya Gill berbicara pada Liliana sambil menuruni tangga, terdengar oleh mereka berdua.
"Entahlah, yang jelas semua masakannya tidak ada yang mengecewakan." jawab Liliana mengikutinya di belakang.
'Siapa itu?' batin Gill yang melihat Erfyona duduk di samping Laphia.
'Siapa wanita itu, ibunya Vergile?' duga Liliana.
'Jangan-jangan!' pikir Gill panik.
"Lama tidak bertemu, Vergile!" sapa Erfyona sambil menjentikan jarinya membuat Laphia dan Liliana seketika jatuh pingsan.
"Kak Fyona!" ucap Gill terkejut.
Erfyona langsung menoleh ke belakang menatap Gill hangat sambil tersenyum manis, "Kemarilah, kamu selalu membuat ku khawatir." ucapnya lembut.
Gill segera menghampiri Erfyona dan duduk di sampingnya, "Kemarin kamu bilang kalau tangan kanan mu cidera dan tidak bisa digerakkan, sekarang bagaimana. Apakah ada perubahan?" tanya Erfyona.
"Ya itu benar, tapi tidak sampai separah itu kok." jawab Gill berusaha menutupinya.
"Mana, coba tunjukin!" bujuk Erfyona menatap matanya dekat dengan nada rayuan.
Gill malu membuang wajahnya, "Untuk apa?" kekehnya menolak sambil berusaha menyembunyikan tangan kanannya.
Karena gelagat Gill yang mencurigakan, seketika Erfyona tahu apa yang sedang dia sembunyikan. Tanpa banyak cakap ia langsung meraih tangan kanan Gill dan meletakkannya di atas meja, ia sempat terkejut merasakan kulitnya yang dingin.
"Gill tangan mu sangat dingin." ucap Erfyona sambil memeriksa tangan kanannya.
"Aku tahu." jawabnya singkat.
Erfyona kemudian mencubit lengan tangannya keras, "Apakah sakit?" tanya Erfyona.
Gill menggedekan kepala, "Tidak." jawabnya.
Erfyona kemudian mengecek lagi kemungkinan yang lain sebelum ia memvonisnya, "Kenapa bisa sampai seperti ini, Apa yang telah kamu lakukan dengan tangan mu ini?" tanya Erfyona.
"Tidak ada, aku,-
"Jangan bohong, kalau kamu tidak mau jujur luka ini tidak akan segera sembuh," potong Erfyona.
"Memangnya bisa sembuh?" tanya Gill.
"Tentu saja bisa, oleh karena itu aku butuh informasi dari mu." jawab Erfyona.
Gill menghela nafas panjang dan menghembuskannya, "Sebenarnya..." sedikit ragu ingin membertahunya.
"Aha, sebenarnya apa?" tanya Erfyona sambil membolak-balik tangan kanannya, mengamatinya lebih rinci.
"Aku mendapat luka ini setelah bertarung melawan Froast Dragon." ucap Gill sedikit gugup.
"Apa!" respon Erfyona terkejut, "Kamu gila ya, Froast Dragon itu bukan naga yang bisa ditaklukan oleh sembarang orang." sambungnya.
"Aku tahu itu, aku terpaksa melakukannya karena aku membutuhkan kekuatannya." jawab Gill.
Erfyona langsung memeluknya dan mengelus rambutnya, "Syukurlah kamu tidak terluka parah, kamu sungguh nekat Gill. Itu sangat berbahaya, naga itu bisa membunuh mu dengan mudah." ucapnya di pelukan.
Ia kemudian melepas pelukannya dan menatap mata Gill hangat, "Kenapa kamu tidak bilang kalau mau Hewan perang seperti itu, aku bisa mencarikannya untuk mu. Kamu tidak perlu berbuat nekat seperti itu." tutur Erfyona lembut.
"Terima kasih. Tapi selagi aku bisa, aku tidak ingin merepotkan orang lain." tolak Gill halus.
Erfyona tersenyum mendengarnya kemudian mencubit pipi Gill keras, "Kamu sok tegar Gill." godanya, setelah itu ia kembali memeriksa tangan Gill. kali ini dia serius melakukannya sampai harus mengaktifkan mata merah terkutuknya.
'Awalnya aku mengira kalau dia hanya berpura-pura, tapi jika sudah seperti ini nampaknya itu tidak mungkin. Kenapa dia begitu perhatian padaku, apakah dia tulus menganggapku sebagai adiknya. Dan apakah hanya dia saja Iblis yang tidak bisa aku bunuh nantinya?' batin Gill terharu melihatnya berusaha keras sampai keringatnya menetes.
"Araa, kenapa kamu menatapku seperti itu?" goda Erfyona.
Gill yang terkejut langsung jadi salah tingkah, "Tidak kok, itu hanya perasaanmu saja." sangkalnya.
"Jadi apa yang kamu pikirkan tadi saat menatapku?" tanya Erfyona.
"Mungkin kah kamu tertarik kepada wanita yang lebih tua darimu?" sambungnya menduga.
"Aku tidak berfikir sampai sejauh itu," sangkal Gill.
"Jadi apa yang kamu pikirkan, kamu rindu pada ibumu?" tanya Erfyona.
"Ibuku. seperti apa wajahnya?" tanya Gill.
"Dia cantik, rambutnya putih seperti kapas, kulitnya putih pucat, dan matanya merah. Itu saja sih impresi pertama saat aku bertemu dengannya," jawabnya.
"Ah satu lagi, dia itu lumayan tinggi untuk ukuran seorang wanita tapi masih dibawah ku." sambungnya.
"Apakah wajahnya menyeramkan?" tanya Gill membuat Erfyona berhenti sejenak.
"Apa kau bercanda?" tanya balik Erfyona.
"Tidak." jawab Gill pelan merasa kebingungan dengan pertanyaanya.
"Saat itu dia pernah mengancamku dan sempat mengeluarkan wujud aslinya." ucap Erfyona sambil mencoba mengingatnya.
"Lalu?" sambung Gill penasaran.
"Ya dia tidak bisa apa-apa, wanita itu bukan lah tandinganku." jawab Erfyona.
Erfyona langsung mengamatinya dan menyimpulkan bahwa, "Hanya bagian rambut saja, selebihnya kau ini jauh berbeda." ucapnya.
Erfyona pun lanjut mengecek kondisi tangannya menggunakan mata terkutuknya, "Kak Fyona?" ucap Gill pelan berusaha merayunya.
"Tumben kamu berkata lembut kepadaku." jawab Erfyona sedikit curiga.
"He he, apakah kamu bisa membantuku?" tanya Gill.
"Katakan!" jawabnya.
"Jadi gini. kemarin saat aku hendak bertarung melawan Froast Dragon, aku sempat meminjam pedang milik Alin dan,-
"Dan kau malah merusaknya, Benar kan?" potong Erfyona.
"Kok tau?" ucap Gill terkejut.
Erfyona tersenyum, "Kamu terlalu gegabah Gill. aku sarankan kamu mencari informasi dulu mengenai target yang akan kamu jadikan buruan, sebelum nantinya kamu eksekusi." jawab Erfyona.
"Jadi, apakah Kak Fyona mau membantuku?" tanya Gill memastikan.
"Boleh, tentu saja aku membantu adikku." jawabnya membuat Gill lekas tersenyum lega.
"Tapi ada syaratnya." sambungnya memotong kebahagian Gill.
"Syarat, apa syaratnya?" tanya Gill penasaran.
"Rahasia, nanti akan kuberitahu." jawabnya.
Setelah hampir empat jam mengecek kondisi tangan Gill, akhirnya Erfyona menemukan kendalanya, "Akhirnya ketemu." ucapnya tersenyum lega sambil mengusap keringatnya.
"Apa yang terjadi dengan tanganku?" tanya Gill penasaran.
"Luka mu lumayan parah Gill." jawabnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Gill.
"Sel gerak mu putus dan ada sesuatu yang menyumbat aliran darah mu." jawabnya.
"Menyumbat?" tanya Gill.
"Kau tahan sebentar, jangan bergerak!" ucapnya dijawab anggukan oleh Gill.
Erfyona kemudian menggunakan ilmu penyembuhan tingkat tinggi yang ia kuasai dan memfokuskannya kepada kedua telapak tangannya, 'Ini mulai sedikit terasa panas!' batin Gill berusaha menahannya.
"Arrghh!" rintih Gill kesakitan merem melek.
"Tahan Gill, sebentar lagi selesai." ucap Erfyona memberi dorongan.
Seketika uap panas keluar dari dalam pori-pori kulitnya, banyak sekali hampir menutupi ruangan tempat mereka duduk. 'Darimana semua uap panas ini berasal?' pikir Erfyona.
Setelah semua uap panas keluar barulah Erfyona mulai menyembuhkan sel geraknya yang telah terputus, dalam proses ini Erfyona harus mengeluarkan mana Healer yang sangat banyak. Besar kemungkinan pengguna akan mengalami kelelahan parah sampai pingsan setelah menggunakan teknik ini.
Baru sampai setengah Erfyona nampak sudah mulai ngos-ngosan, keringatnya mengucur deras sepertinya kekuatannya mulai terkuras. "Kak Fyona, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Gill merasa khawatir.
"Kalau sudah tidak bisa sebaiknya berhenti, jangan memaksakan diri." sambungnya.
"Berisik, sudah kamu diam saja. Serahkan semuanya padaku." jawab Erfyona ngotot.
Lima menit kemudian barulah jari jemari Gill sudah mulai bisa digerakan, 'Tanganku!' batin Gill terkejut melihatnya.
"Syukurlah!" ucap Erfyona senang tersenyum puas usahanya berhasil.
Dua menit setelah itu Erfyona langsung lemas menyandarkan tangan dan kepalanya di atas meja sambil tersenyum puas, "Akhirnya selesai juga." ucapnya.
"Terima kasih Kak Fyona, berkat mu tanganku bisa kembali." ucap Gill dengan senyum bahagia.
Erfyona membalasanya dengan senyum manis sambil menatap matanya hangat, separuh tubuhnya tergeletak di meja tak berdaya. "Sebentar ya Kak Fyona, aku ambilkan sesuatu yang bisa mengembalikan kekuatanmu." ucap Gill bangkit meninggalkannya.
Terlihat mata Erfyona sudah terpejam sayup saat Gill sedang meninggalkannya. di dapur Gill langsung mengambil cangkir kaca dan menuangkan air hangat hendak membuatkannya teh manis, 'Semoga saja ini bisa membantu, aku pernah membaca bahwa manisnya gula itu bisa memulihkan tenaga orang yang lemas.' pikirnya sambil mengaduk teh yang ia buat.
"Maaf, membuatmu menunggu Kak Fyona." ucap Gill keluar dari dapur dengan berjalan cepat sambil membawa teh hangat tersebut.
"Ini teh mu Kak Fyona, masih sedikit panas jadi pelan,- Dia tertidur?' batinnya terkejut melihat matanya tertutup.
Gill mendekatinya mencoba membangunkannya perlahan, "Kak..." panggilnya sambil menggoncangkan tubuhnya pelan.
'Lemas sekali tangannya, jangan-jangan dia!' duga Gill membuatnya tambah panik, "Kak Fyona!" panggilnya berulang-ulang sambil menggoncangkan tubuhnya sedikit keras.
Gill melihat sedikit respon dari tubuhnya berupa jentikan jari dan gumaman kecil, 'Syukurlah, aku kira dia sudah terlelap pingsan.' batinya mengelus dada menghembuskan nafas lega.
Gill kemudian membantunya duduk dan menyuruhnya untuk membuka mata, perlahan Erfyona melakukan apa yang Gill perintahkan walaupun sulit baginya karena tubuhnya masih sangat lemah.
Gill membantu tangannya meraih cangkir teh tersebut dan mengangkatnya agar bisa sampai kepada tegukan pertama, "Pelan-pelan Kak Fyona," ucap Gill lembut.
Setelah Erfyona meminumnya, Gill bertanya apakah ia akan baik-baik saja jika dia tinggal masak di dapur. Erfyona menjawab tak apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Gill pun langsung pergi ke dapur meninggalkannya sendiri di ruang tamu.
Lima menit berselang Gill kembali dengan membawa sebuah piring berisi sayur rebus dan saus kacang di tengah piring tersebut, "Bagaimana keadaanmu Kak Fyona, apakah masih merasa lemas?" tanya Gill sambil meletakkan piring yang ia bawa.
"Sudah lebih baik daripada yang tadi yang tadi. Terima kasih Gill, kamu baik sekali." jawabnya lembut.
"Bukan apa-apa, aku hanya ingin membalas kebaikan Kak Fyona." sangkal Gill.
"Oh ya?" sambung Erfyona terkejut.
"Sebentar ya, aku masih masak satu menu lagi. Aku tinggal dulu takutnya nanti gosong!" ucapnya sambil berjalan pergi.
"Menu ini spesial untukmu Kak Fyona, aku jamin kau pasti suka." sambungnya.
'Aku belum pernah melihat Gill memasak sebelumnya,' batin Erfyona melihatnya berjalan kembli ke dapur, 'aku ragu apakah masakannya benar-benar memiliki cita rasa.' menoleh ke arah piring yang baru saja diletakkan oleh Gill.
Gill bersenandung merdu sambil mengaduk daging yang sedang dimasak, terlihat dia sangat menikmati prosesnya. Ia teliti dalam memiluh bumbu-bumbu yang akan dia masukan ke dalam masakannya tersebut.
Tekhnik memotongnya pun juga tergolong sangat cepat dan akurat, ia bisa dengan mudah memotong bahan sesuai keinginannya, benar-benar seperti seorang juru masak Profesional.
"Humh, hah aku sungguh merindukan aromanya. Sudah lama aku tidak memasak seperti ini." ucapnya.
Setelah itu Gill mulai memasukan bumbu pelengkap lainnya seperti, kayu manis, jahe, daun jeruk, dan bunga lawang. Saat ia sedang fokus memasak, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara orang tersedak dari arah ruang tamu depan.
Sontak pikirannya langsung tertuju kepada Erfyona, karena panik Gill langsung mematikan kompornya dan berlari mengecek keadaanya. Dan benar saja setelah sampai ditempat, terlihat Erfyona tersedak sesuatu di lehernya sampai urat lehernya terlihat saking kerasnya ia mencoba untuk memuntahkannya.
Dengan cepat Gill langsung menghampirinya dan memukul punuk leher Erfyona sedikit keras, seketika sisa makanan yang membuatnya tersedak langsung keluar dengan mudahnya. Gill kemudian mengambil cangkir teh yang ia buat sebelumnya dan memberikannya kepada Erfyona untuk menghilangkan batuk susulan setelah makanan itu keluar.
"Astaga Gill, sayur apa yang kamu masak ini. Teksturnya berserat seperti kangkung, tapi kenapa pada saat aku menelannya terasa sangat licin ditenggorokan?" tanya Erfyona.
"Maaf aku lupa memberitahumu sebelumnya, jadi sebenarnya ini adalah menu favoritku. Namanya adalah Sayur Lung dengan Saus kacang, aku biasa menyantapnya saat bersantai jadi aku bisa dengan halus mengunyahnya." jawab Gill.
"Aku lebih suka ini daripada kangkung karena sedikit ada rasa manis." sambungnya.
"Lung. Sayur apa itu, aku belum pernah dengar?" tanya Erfyona penasaran.
"Singkatnya itu adalah daun ubi jalar yang direbus biasa." jawab Gill.
"Wah, aku tidak pernah mengira kalau daunnya juga bisa dimakan. Kamu memang benar ada sedikit rasa manis pada daunnya, sedikit lebih enak daripada kangkung." ucap Erfyona.
"Benarkan, saranku kalau mau memakan sayur ini petik lah bagian daun yang paling muda. Selain lebih manis, seratnya juga masih sedikit jadi tidak perlu memakan waktu lama saat dikunyah." tutur Gill.
"Begitu ya, aku jadi dapat ilmu baru." jawab Erfyona.
"Aku selesaikan dulu masakan ku di belakang, sebaiknya Kak Fyona makan yang itu saja karena mungkin rasanya lebih familiar dengan lidah mu." ucapnya.
"Memangnya kamu masak menu apa di belakang?" tanya Erfyona.
"Rahasia." jawab Gill langsung pergi kembali ke dapur.
Dua menit setelah itu Gill datang dengan membawa nampan besar di kedua tangannya, satunya berisi minuman berwarna dengan hiasan bunga mawar senada dengan warnanya, "Ini dia hidangan Anda, Nona!" meletakan kedua nampan itu di depannya.
"Alright, cepat buka tudungnya pelayan!" ucap Erfyona tidak sabaran, menggenggam pisau makan dan garbu di tangannya.
Setelah Gill membuka tudungnya baru lah aroma nikmat masakan itu tercium olehnya, "Humh, wah harumnya. ***** makan ku seketika langsung bangkit, boleh aku makan?" tanya Erfyona.
"Silahkan Nona." jawab Gill membungkuk Gentle layaknya pelayan Profesional.
Saat Erfyona mecoba suapan pertama baru lah dia tahu betapa nikmatnya makanan itu, 'Ini merupakan makanan ternikmat yang pernah masuk mulutku,' batinnya saat mengunyah makanan tersebut.
Erfyona sampai tersenyum bahagia saat ******* makanan berbahan daging tersebut, 'Lumernya, aku sampai tidak sadar kalau makanan yang aku makan ini berbahan utama daging. Ini sangat lembut dan meresap bumbunya ke dalam, sungguh sempurna.' batinnya.
'Syukurlah, sepertinya dia sangat menikmatinya.' batin Gill dalam hati turut merasa senang.
"Bagaimana Kak Fyona, apakah kamu menyukainya?" tanya Gill.
"Itu pertanyaan konyol Gill, ini adalah makanan paling enak yang pernah aku makan!" jawab Erfyona dengan mulut penuh makanan.
Gill tersenyum puas mendengarnya, "Sebenarnya menu ini membutuhkan waktu masak yang cukup lama untuk mencapai kesempurnaan." ucap Gill memberitahunya.
"Benarkah, bagiku ini saja sudah pas dan nikmat luar biasa. Memangnya seberapa lama memasak menu ini?" tanya Erfyona.
"Delapan jam," jawab Gill membuat Erfyona terkejut sampai ia berhenti sesaat.
"Apa kau bercanda, kenapa harus selama itu jika sebentar saja sudah seenak ini?" tanya Gill.
"Agar santan dan bumbunya meresap masuk ke dalam daging." jawab Gill.
"Begitu ya, kamu memang ahlinya masakan nikmat." puji Erfyona.
"Ngomong-ngomong apakah kamu sudah bertemu dengan muridku di sekolah ini?" sambungnya membuat Gill sedikit terkejut.
"Kak Fyona punya murid?" ucap Gill bertanya balik.
"Emh!" angguknya, "Terakhir aku dengar dia tergabung di Organisasi penting sekolah ini." jawab Erfyona membuat Gill tambah terkejut.