
Pada saat Exifilia berjalan dengan marahnya pergi keluar dari kamar Azazeal, tiba - tiba langkahnya terhenti dikejutkan oleh seorang wanita dari bangsa Iblis yang dibawa oleh Acquila sebelumnya.
Wanita itu? ... (Mengamatinya) ... Pasti dia juga yang telah melukai Tuan sampai begitu parah, Aku harus membuat perhitungan dengannya! Pikirnya marah langsung menghampirinya dengan membawa senjata di genggamannya.
"Berani sekali kau tetap berada disini!" Ancam Exifilia marah berjalan menghampirinya bersiap untuk menyerangnya.
"Tunggu - tunggu! (Berusaha menahan langkah Exifilia untuk mendekat dengan kedua telapak tangannya) Nona tolong berhenti! Anda tidak boleh melakukan ini, dia adalah sahabat baik dari Sanctuary Dragon Lord! Kalau mau melukainya, yang ada kau hanya akan mendatangkan murkanya," jelas Uriel padanya.
"Sahabat baik?" Tanya Exifilia penasaran sambil menurunkan senjatanya.
"Iya, kata-Nya dia adalah Erfyona Land Sankarea!" Jelas Uriel padanya.
Sankarea! Pikir Exifilia terkejut dan langsung berlutut membungkuk menghormatinya setelah ingat siapa wanita itu sebenarnya.
"Maafkan saya Nona, saya tidak tahu kalau Anda sedang menyamar!" Katanya dengan sopan.
"Iyah ha ha, tidak apa - apa! Aku bisa mengerti, bahkan dia tadi juga sempat tidak mengenaliku," jawab Erfyona.
Lagian siapa sih itu Land Sankarea! Namaku itu Ella Vanya, bukan Sankarea! Berapa kali aku harus bilang pada mereka! Pikir Erfyona dalam sedikit merasa kesal.
Melihat sekarang ini aku adalah bangsa musuh lebih, baik aku mengikuti saja apa yang mereka katakan, lagi pula nama itu seperti nama seorang yang sangat di hormati di sini. Aku yakin, dengan berpura - pura menjadi dirinya, pasti aku tidak akan mendapat masalah! Kata Erfyona berfikir ulang.
"Kalau saya boleh tahu, ada perlu apa sampai Nona datang kemari?" Tanya Exifilia penasaran.
"Kebetulan tadi waktu aku sedang terbang mengitari langit Underworld, tidak sengaja aku melihat ada pertarungan tidak jauh dariku. Karena aku penasaran, aku samperin saja pertarungan tersebut. Pada saat aku sampai, aku sangat terkejut melihat Tuan Azazeal yang tengah terluka parah sedang di bawa pergi oleh Acquila." Kata Erfyona mulai menjelaskan.
"Sayangnya kepergian mereka terganggu oleh kemunculan Raja iblis Leviathan yang datang menghalanginya. Melihat mereka berdua yang sedang terdesak, akhirnya aku memutuskan turun tangan dan membantu mereka. Aku tidak tega, melihat Tuan yang terluka begitu parah. Kemudian aku langsung menyuruh Acquila pergi membawanya pulang, sedangkan aku akan menghadangnya!" Imbuhnya.
"Setelah aku berhasil mengalahkan Raja iblis tersebut, aku menjadi sangat khawatir dengan keadaan Tuan Azazeal, dan akhirnya memutuskan untuk datang kemari!" Sambung Erfyona.
"Nona lengan Anda!" Kata Exifilia panik melihat kedua lengan tangannya terluka dan mengeluarkan darah.
"Tidak apa - apa, kau tidak perlu khawatir! ... Ngomong - ngomong bagaimana keadaan Tuan di dalam? Apakah dia sudah siuman?" Tanya Erfyona.
"Tuan masih terbaring lemah dan belum membuka matanya," jawab Exifilia dengan wajah sedih.
"Begitu, ya ... " Sambung Erfyona merasa sedih.
"Sebentar, ya Nona! Saya sembuhkan luka pada tubuh Anda, Knight lepaskan borgol dan rantai yang mengikat tubuhnya,-
"Nona! Tolong jangan Anda lepaskan rantai dan borgolnya, Sanctuary Dragon Lord memerintahkan saya untuk menjaganya dengan kondisi seperti ini, dia tidak ingin kalau Nona Helfeany mencurigainya!" Sahut Uriel menghentikannya.
"Helfeany! Apakah dia ada di sini?" Tanya Exifilia dengan raut wajah sedikit takut.
"Iya, kami baru saja berpapasan dengannya waktu sedang berjalan menuju kemari!" Jawab Uriel.
Pasti dia langsung datang setelah tahu kabar, kalau Tuan Azazeal sedang terluka parah, bisa gawat kalau mereka tetap berada di sini dan berpapasan kembali dengannya! Pikirnya Exifilia terkejut.
"Ikutlah denganku, kalau sampai nanti Helfeany datang dan tahu kalian masih ada disini, pasti akan ada masalah yang terjadi!" Ajak Exifilia.
"Baiklah, mari Nona!" Ajak Uriel padanya, kemudian mereka berjalan pergi menuju suatu tempat yang Exifilia kehendaki.
Sementara itu di sisi lain, Bidadari surga sedang mengadakan pertemuan besar yang di hadiri lebih dari seratus bidadari cantik di sana. Semua Bidadari berkumpul dan duduk berjejer rapi di bawah singgah sana Queen, pemimpin mereka yang Agung.
"Puji Ratu kami! Pemilik kecantikan abadi, pewaris dari seluruh kekuatan murni! Ratu dari para putri, seorang dewi pemikat para hati! Aura penakluk sejati, pemimpin tertinggi dari para pemimpin!" Sanjung seorang Bidadari padanya di ikuti oleh yang lainnya.
Hemh! Aku lah sang pemimpin! Tidak ada orang yang lebih berkuasa dariku, semua makhluk harus tunduk kepadaku, Aku lah kecantikan dan Aku lah kesempurnaan itu! Katanya dalam hati sombong membanggakan dirinya dari atas singgah sananya setelah mendengar pujian dari para Bidadari bawahannya.
"Cukup!" Perintah Queen mengangkat tangannya menyuruh mereka berhenti memujanya.
Mereka pun berhenti dan merunduk semua secara patuh memberinya hormat.
"Aku tidak melihat Alin disini, kemana dia pergi?" Tanya Queen sedikit keras.
Tetapi semua hanya diam dan tetap merundukkan kepala, tidak tahu hendak menjawab apa.
"Kenapa kalian diam?! Apa kalian tidak dengar!" Sambung Queen marah.
"Mohon ampun Ratu, kami tidak tahu kemana Alin Xaverias pergi," jawab salah satu bidadari.
Aneh sekali! Biasanya sebelum pergi dia selalu meminta izin dulu kepadaku ... Apa jangan - jangan dia pergi diam - diam untuk menemui para Guardian? Kalau itu benar,- pikir Queen mencurigainya.
"Sreekkk! Jduugg!" Suara pintu terbuka.
"Iya hampir saja kita kena marah Ratu!" Sambung salah satu Bidadari di dekatnya.
"Dia itu selalu saja melibatkan orang lain dalam setiap masalahnya" imbuh Bidadari lain sedang menggosipkan Alin yang sedang berjalan mendekat ke arah Queen.
"Dari mana kamu? Kenapa kamu pergi tanpa seizin ku?" Tanya Queen menatapnya serius dari atas tahtanya.
Alin kemudian membungkuk memberinya hormat, sebelum menjawab pertanyaan tersebut. "Sebelumnya saya minta maaf Ratu, tanpa di beritahu, tentu Anda sudah tahu saya sebelumnya pergi kemana," Jawab Alin sopan.
"Baiklah, lupakan saja itu ... Informasi apa yang kau dapat dari misi pengintaian mu di bumi?" Tanya Queen.
"Para Iblis Tirani sudah mulai bergerak Ratu, daerah jajahan mereka kian meluas! Banyak dari manusia di bawah sana sedang sengsara di bawah kekuasaan mereka!" Jawab Alin.
"Houh," Menatap Alin dingin merasa sedikit tertarik tentang apa yang dia sampaikan.
"Mereka juga telah menyadari keberadaan kita yang sedang membaur, hal itu di perkuat oleh serangan terencana dari mereka kepadaku, waktu aku sedang melakukan pengintaian. Mereka secara sengaja dan seperti telah di beritahu sebelumnya kalau aku bakal turun ke desa tersebut." Sambung Alin.
"Apa kau bilang?" Tanya Queen terkejut.
"Saya juga tidak tahu Ratu, dan yang lebih mengejutkannya lagi, mereka sudah menyiapkan Kesatria kegelapan untuk menghabisi saya di desa tersebut. Mereka menyembunyikan penyamarannya dengan sangat baik, seperti semua ini telah di rencanakan oleh mereka matang - matang!" Jawabnya.
"Lalu bagaimana caramu selamat dari Kesatria kegelapan itu?" Tanya lagi Queen dengan sangat penasaran.
"Saya beruntung, pada waktu saya terdesak dan hendak di akhiri oleh mereka. Saya di selamatkan oleh seorang remaja yang berasal dari bangsa Dementor!" Jawabnya jujur.
"Dementor?" Sambung Queen dengan nada seperti tidak asing dengan nama tersebut.
Apakah dia adalah ciptaan terbarunya? Jadi dia ingin cari muka, ya di depan para pelayanku! Pikir Queen mencurigai Dementor tersebut.
"Iya Ratu! Dia adalah Dementor yang sangat unik, berbeda sekali oleh Dementor yang pernah saya temui selama ini." Jelasnya.
"Maksudmu?" Tanya Queen tidak mengerti.
"Sifatnya berbanding terbalik dengan bangsa Dementor yang asli Nona, Anak itu sangat baik, ceria dan murah senyum. Dia memang masih remaja sekitar umur 17 tahunan, tapi dari segi kekuatan, dia sungguh tidak bisa diremehkan! ... Tapi ..."
"Tapi kenapa?" Sahut Queen begitu penasaran.
"Dia memiliki ambisi hidup yang sangat buruk! Ia bertekad untuk memusnahkan seluruh bangsa Iblis Tirani, tentu itu akan membuat kehidupan ini tidak seimbang!" Jawab Alin.
"Lalu apa urusanmu? Itu akan sangat menguntungkan kita. Berkat anak itu, kita jadi tidak usah repot - repot mengurus Iblis terkutuk itu!" Ucap Queen.
"Memang benar Nona, tapi tidak semua dari para Iblis Tirani itu memiliki hati yang jahat! Saya yakin beberapa di antara mereka memiliki hati yang baik, tidak seperti yang kita kira selama ini," Ucap Alin mengeluarkan semua argumennya.
"Kau tidak tahu mengenai mereka yang sebenarnya, jadi dengan mudahnya kau berkata begitu. Kalau kamu bertemu dengan anak itu lagi, bawa dia kemari! Aku ingin berbicara dengannya." Ucap Queen.
"Tentu saja Ratu, seperti yang Anda minta." jawab Alin patuh.
...
"Itu saja?" Tanya Queen hendak mengais informasi yang lebih banyak darinya.
"Tidak Ratu, ada hal lain yang mungkin Anda belum tahu, ... Apakah Anda sudah mendengar kabar mengenai Tuan Azazeal?" Tanya Alin.
"Belum, ... Kenapa? Apa yang telah terjadi padanya?" Tanya Queen penasaran.
"Saya mendengar kabar, kalau Tuan Azazeal saat ini sedang terbaring lemah di Kerajaannya." Jelasnya.
"Apa! Itu, itu adalah ... Berita yang sangat menggembirakan! He hahaha! Dari mana kau dapat informasi itu?" Tanya Queen dengan wajah gembira merasa sangat senang dan puas.
"Informasi ini telah tersebar luas di antara para Guardian Ratu, dan tidak sengaja seorang pelayan dari salah satu Guardian malah membocorkan informasi rahasia ini!" Jawab Alin.
"Bagus, bagus! Aku senang sekali mendengarnya, ha hahaha! ... Tetapi aneh sekali, Kau tahu, kan? Kalau Azazeal itu sangat mustahil untuk dikalahkan?" Tanya Queen sedikit curiga.
"Dari berita yang saya dengar, Tuan Azazeal mendapat luka parah itu setelah kembali dari Underworld! Entah makhluk apa melukainya dari bawah sana, yang jelas, makhluk itu sangat kuat dan bisa saja suatu saat mengancam kita Ratu!" Jawab Alin cemas.
"Ha ha ha, kau tidak perlu khawatir. Kita ini kuat! Tidak seperti sekumpulan Guardian sampah itu! ... Sangat disayangkan (melihat telapak tangannya yang sedang mengepal) bukan tangan ini yang membuatnya seperti itu!" Ucap Queen dengan tatapan marah penuh dendam.
"Ratu, apakah Anda berencana untuk membalas dendam sekarang?" Tanya Alin.
"Tidak itu sangat memalukan, aku ingin pertarungan yang adil. Lagi pula saat ini aku sudah puas melihatnya menderita, dengan begitu dia akan berfikir dan sadar tentang apa yang telah dia lakukan padaku dulu," jawab Queen berdiri dari singgah sananya dan berbalik memalingkan tubuhnya dari hadapan Alin.
"Aku yakin saat ini dia sedang menyesali perbuatannya!" Sambungnya dengan tatapan yakin.