The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 63 ~ Naga dan Hukum rimba



Esok paginya Indyra terbangun dengan tubuh yang masih telanjang tertutup oleh selimut. Ia tersenyum manis memperhatikan wajah Gill yang masih tertidur lelap di sampingnya, 'Ternyata Vergile itu tampan juga. Andai saja ia lebih merawat diri lagi pasti banyak sekali wanita yang akan jatuh hati padanya.' batinnya sambil senyum-senyum sendiri dengan pipi merah merona kesengsem.


Dengan malu dan gugup Indyra mencoba menyingkap poni belah tengahnya 'Lembutnya.' batinnya terpukau saat menyentuhnya.


Saat Indyra tengah asik membelai rambutnya tiba-tiba Gill terbangun dan lekas membuka mata, "Indyra" ucapnya lirih kemudian mengucek matanya yang sayup karena masih ngantuk.


"Kau sudah bangun?" Jawabnya lembut menatapnya hangat.


"Pukul berapa sekarang?" Tanya Gill bangun dari tidurnya duduk di ranjang tanpa mengenakan baju.


Indyra tersenyum manis "Tidak perlu terburu-buru sekarang masih pukul 5 pagi." Ucapnya kemudian merangkul tubuh Gill membuatnya sedikit terkejut.


"Terima kasih Vergile, tadi malam sungguh sangat menyenangkan. Meskipun baru pertama kali tapi aku sangat menikmatinya." Sambungnya.


Namun Gill hanya diam setelah mendengar ucapannya itu dan tak merespon pelukannya. "Vergile...


"Sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu." Potongnya dengan nada yang dingin membuat Indyra terkejut sekaligus merasa sedih.


Wajahnya menjadi murung karena ucapannya itu, "Aku minta maaf kalau permintaanku kemarin itu terkesan memaksamu." Ucap Indyra pelan dan gugup.


"Tidak apa-apa, jangan di pikirkan aku hanya ingin membantumu. Jangan sampai ada orang lain yang tahu, ini hanya antara kau dan aku. Mengerti?" Kata Gill memintanya berjanji.


Ia mengangguk "Aku mengerti" jawabnya.


Gill kemudian turun dari tempat tidur tanpa sehelai busana, berjalan menghampiri pakaiannya yang kusut tersampir di atas kursi belajar. "Menurutmu Greey itu bagaimana, karena hampir separuh murid kelas mengaguminya. Bagaimana denganmu?" Tanya Gill memecahkan suasana canggung sambil mengenakan baju.


"Soal itu..." Ia menjadi gugup saat mendengar pertanyaannya itu.


"Dia adalah orang kedua yang menerima keberadaan mu setelah aku. Kemarin aku melihat bagaimana dia memberimu semangat." Imbuhnya sambil mengancingkan benih bajunya.


"Greey memang orang yang baik, ia pasti akan sangat mudah mendapatkan banyak teman. Nama besar Masternya juga akan membuatnya semakin di kenal banyak orang." Jawabnya sedikit malu-malu.


"Menurutmu apakah aku bisa sepopuler dirinya?" Tanya Gill iseng sambil merapikan leher bajunya di depan cermin kaca.


"Entahlah, meskipun bisa itu akan sangat sulit bagimu." Jawabnya.


"Begitu ya." Ucap Gill sambil mengancingkan benih pada ujung lengan bajunya.


Indyra kemudian turun dari tempat tidur dengan tubuh telanjang berjalan menghampiri Vergile yang sedang bercermin di depan kaca dan langsung merangkulnya dari belakang. Ia mengalungkan ke dua tangannya pada dada Gill sedangkan dagunya ia sandarkan di atas pundaknya, "Indyra..." Gumam Vergile terkejut dengan rangkulannya.


"Apakah aku perlu melakukan hal yang sama jika ingin mendapatkan banyak teman?" Tanya Indyra menggelengkan kepala menatap wajahnya.


Gill lantas tersenyum setelah mendengarkan pertanyaanya itu "Percuma saja, yang ada kau hanya akan di permainkan. Manusia itu tidak sejujur yang kau kira, mereka labil dan tidak bisa di percaya." Nasihatnya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanya Indyra bingung.


"Entahlah, aku tidak tahu sebaiknya kau bertanya pada Greey. Dia bisa menjadi jembatan penghubung untuk mencari teman." Jawab Gill.


Mendengar itu wajah Indyra berubah menjadi ragu dan tidak percaya diri "Sepertinya ini akan sangat sulit." Ucapnya pelan minder.


"Kau harus mencobanya, tidak perlu sungkan Greey itu orangnya terbuka kepada semua orang. Siapa tahu dia mau membantumu." Nasihatnya.


"Mungkin kamu benar tapi Greey itu adalah idola di kelas kita, kalau aku mendekatinya yang ada malah aku semakin di benci. Takutnya mereka nanti akan menuduhku yang bukan-bukan dan terkesan hanya cari muka." Jawabnya pelan malu-malu.


Gill kemudian memejamkan kedua matanya sembari menarik nafas panjang, "Maaf untuk masalah ini aku tidak bisa membantumu. Siswa kelas A itu adalah kumpulan para pecundang, mereka sangat sombong dan sering merendahkan orang lain. Lebih baik kau jalin hubungan dengan siswa kelas lain saja, siapa tahu kau akan diterima." Ucap Gill memberinya saran.


"Akan ku coba, terima kasih telah memberiku saran Vergile." Ucapnya senang langsung mengecup pipinya, "Apakah kau memiliki teman dari kelas lain?" Sambungnya.


"Hanya ada satu orang yang aku kenal belum lama ini." Jawabnya.


"Cowok atau cewek?" Imbuhnya penasaran.


"Cewek." Jawab Gill santai.


"Benarkah, ternyata kamu pandai juga mengambil hati wanita untuk di ajak berkenalan karena biasanya cewek itu cukup selektif dalam memilih teman jadi aku cukup terkejut mendengarnya." Jelasnya.


"Kalau begitu aku beruntung, tapi sayang aku tidak peduli dengan hal semacam itu." Jelasnya singkat langsung melepas rangkulan tangannya, "Sebaiknya aku segera kembali, kita lanjutkan nanti ngobrolnya di kelas." Ucap Gill berpamitan langsung membuka pintu dan pergi meninggalkannya.


Nampak wajah Indyra sedikit sedih pagi ini setelah menerima perlakuan yang cukup dingin dari Gill. Ia mengira bercinta itu bisa mempererat hubungan mereka namun sepertinya hal itu sia-sia. Ia kemudian menoleh ke luar lewat kaca jendela kamarnya melihat Gill berjalan pergi menjauhi kos-kosannya, 'Apakah aku salah memperlakukannya istimewa...' pikirnya sambil terus mengamati Gill berjalan pergi.


Saat Gill ingin mengetuk pintu kos ia di kejutkan oleh Laphia yang terlebih dahulu membukanya dengan membawa kantong plastik penuh berisi sampah. "Vergile?" Ucapnya terkejut melihatnya berdiri di hadapannya.


"Selamat pagi Bi." Sapa Gill dengan senyum ramah.


Ia kemudian meletakkan kantong berisi plastik tersebut di sampingnya sambil memasang wajah kesal "Pergi kemana saja kamu tadi malam sampai lupa tidak pulang." Tanya Laphia serius.


"Aku, ... Ada banyak tugas yang harus aku selesaikan dan aku ketiduran." Jawab Gill sedikit gugup.


"Oh, lalu kamu tidur di mana?" Tatapnya serius dengan kedua tangan ditekuk menyangga dada.


'Dia ini.' batin Gill kesal melihat sikapnya "Di asrama salah satu temanku." Jawabnya.


"Cewek atau cowok?" Tanya Laphia menginterogasinya teliti.


"Tentu saja cowok." Jawabnya berbohong namun ia berhasil memasang wajah percaya diri seolah tak ada hal yang sedang ia tutupi.


"Benarkah, lalu kenapa kamu memakai baju milik wanita?" Tanya Laphia membuat Gill syok.


"Baju wanita, tidak ini tidak seperti baju wanita ini lebih seperti baju ... " Terkejut saat mengetahui benih bajunya ada motif bunga di tambah hiasan mutiara pada kancing baju lengan tangannya.


'Gawat, kenapa baru sekarang aku menyadarinya. Sebelumnya aku sudah bercermin dan sepertinya tidak ada motif seperti ini ...' batin Gill semakin merasa gugup saat Laphia mendekatinya dan mengendus bau tubuhnya sampai ia memutari seluruh badannya.


Jantung Gill berdebar kencang saat tubuhnya sedang diendus olehnya, 'Sial dia benar-benar sangat teliti' pikirnya panik.


Saat pemilik kos sedang mengendusnya tak sengaja dia melihat bercak bibir yang samar-samar di dagu bawah Gill, hal itu membuatnya semakin yakin kalau Gill sedang menutupi sesuatu. "Jujurlah Vergile. Pergi kemana kamu tadi malam?" Tanya dia.


Gill menghirup nafas panjang menyerah di tempat "Aku tidur di asrama perempuan, dia yang memintaku dan melarangku untuk pulang." Jawabnya pelan merunduk merasa bersalah.


"Lalu?" Imbuhnya bertanya.


"Lalu ... Ini sangat memalukan untuk di ceritakan,-


"Lalu kau menidurinya. Aku benar kan?" Potongnya membuat Gill terkejut langsung terdiam seribu bahasa. Ia mengangguk pelan tak berani menatap wajahnya.


Wanita itu terkejut ia masih tidak percaya kalau Gill telah melakukan hal itu. "Enak ya jadi murid yang terkenal, bisa bermain wanita sesuka hati." Sindirnya keras dengan nada yang tidak enak di dengar.


"Sudah berapa gadis yang kamu tiduri kemarin?" Sambungnya.


"Ini tidak seperti yang Bibi bayangkan, aku bisa menjelaskan,-


"Vergile?" Potong Alice dari belakang tubuh Laphia berjalan ke luar dengan seragam yang rapi.


"Alice ..." Gumam Gill melihatnya ke luar.


"Darimana saja kamu Vergile. Kami menunggumu semalam untuk makan malam bersama tapi kamu tidak pulang." Tanya Alice penasaran.


"Maaf, kemarin aku,-


"Dia tidur di asrama perempuan." Sahut Laphia.


Seketika Alice terkejut mendengarnya "Apa!" Ucapnya dengan wajah syok, "Benarkah itu Vergile?" Sambungnya memastikan.


"Soal itu ..." Gumam Gill bingung hendak berkata apa.


Alice seketika merasa kecewa padanya 'Pakaian yang ia kenakan itu adalah milik wanita, dia sudah tidak dapat mengelak lagi. Pakaiannya pasti kotor karena semalam, ternyata dia sama saja dengan lelaki brengsek lainnya.' batinnya kecewa.


Tak berapa lama angin berhembus kencang dan menyingkap rambut Gill membuat Alice sadar kalau ada kejanggalan yang terjadi. 'Tunggu kenapa dahinya memar seperti itu, bukannya dia semalam tidur dengan wanita.' pikirnya menyadari sesuatu, ia kemudian menoleh ke bagian lainnya dan melihat lengan tangannya sedang di perban.


Ia kemudian meraih tangan Gill yang sedang di perban dan langsung membuka kancing lengannya, mereka berdua sontak terkejut saat melihat bercak darah pada kain perban yang Gill kenakan. Terlihat wajah Gill nyengir menahan rasa sakit saat kancing lengannya di buka 'Luka ini masih baru.' ucap Alice dalam hati setelah melihatnya.


"Apakah kau berkelahi kemarin?" Tanya Alice sambil menatap wajahnya.


"Tidak, ini luka saat aku sedang bertarung dengan Emilia,-


"Jangan bohong. Luka ini masih baru." Jelasnya membuat Gill mati kutu.


"Jujurlah Vergile." Sambung Laphia memojokkannya.


"Kemarin aku berkelahi dengan beberapa siswa laki-laki yang ingin mencoba melecehkan teman sekelas ku. Aku di keroyok dan alhasil tubuhku terluka cukup parah, gadis itu memutuskan membawaku ke asramanya untuk di obati. Ia tak mengizinkan aku pulang sampai kondisiku benar-benar pulih. Kalau aku tidak memaksa pulang, mungkin aku bisa beberapa hari berada di sana." Jelasnya membuat mereka tersentuh hatinya.


"Bagaimana keadaan gadis itu sekarang. Apakah dia juga terluka?" Tanya Alice penasaran.


"Aku sedikit terlambat jadi ia sempat menerima beberapa tindak pelecehan." Jawab Gill.


"Pasti dia sangat trauma karena musibah itu." Gumam Alice merasa kasihan.


'Bercak bibir itu pasti adalah ungkapan terima kasih yang ditunjukan oleh gadis itu padanya, kalau begitu aku tidak bisa menyalahkannya secara langsung karena dia telah membantu seseorang.' pikir Pemilik kos setelah mengetahui kebenarannya.


"Bibi minta maaf ya Vergile karena telah menuduh mu yang bukan-bukan. Bibi jadi merasa malu setelah tahu kebenarannya." Ucap Laphia pelan merasa bersalah.


Gill tersenyum "Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena kemarin tidak pulang sehingga membuat kalian menunggu." Jawab Gill merendah menyadari kesalahannya.


"Nanti setelah pulang sekolah langsung pulang ya. Jangan belok kemana-mana." Nasihatnya pada Gill sabar.


"Iya tentu saja, terima kasih Bi." Dengan senyum ia menerima nasihatnya.


"Kalau begitu buruan masuk dan ganti baju. Aku akan menunggumu di sini." Perintah Alice.


Gill mengangguk setuju "Permisi Bi." Langsung menyelonong masuk ke dalam.


"Gill tetap lah Gill, dia memang anak yang misterius dan selalu membuat orang bertanya-tanya." Gumam Laphia melihatnya berjalan menaiki lantai tangga.


"Aku suka sifatnya yang ringan tangan, saat ini sulit sekali mendapatkan teman sepertinya." Imbuh Alice di sampingnya.


Setelah tiba di kelas Gill terkejut karena belum ada seorang pun yang datang di sana. Ia kemudian masuk dengan kedua mata terpejam sambil menghirup udara segar yang masuk dari lubang jendela "Sangat menenangkan, suasana seperti ini lah yang aku inginkan." Ucapnya pelan.


Saat sedang berjalan menuju tempat duduknya, tak sengaja ia menginjak sesuatu yang mengganjal kakinya "Emh?" membuka mata merunduk ke bawah mengeceknya.


'Penghapus?' ia kemudian mengambilnya dan mengamati penghapus tersebut 'Punya siapa ini?' pikirnya penasaran ia kemudian menarik bungkus yang melapisi penghapus tersebut berharap ia menemukan nama pemilik dari penghapus tersebut.


Setelah ia membukanya tertulis dalam penghapus tersebut kata 'Emilia' yang berarti penghapus ini adalah miliknya. 'Murid Alin ya. Hemh buat apa aku berurusan dengan gadis sombong sepertinya.' langsung ia lempar ke belakang tidak peduli.


"Ouch!" Rintih seorang wanita kesakitan sontak membuat Gill terkejut, spontan ia langsung menoleh ke belakang.


'Dia!' batin Gill terkejut melihat Emilia yang sedang berdiri di depan pintu.


"Benda apa yang menimpa kepalaku tadi, keras sekali." Gumam Emilia sambil menggosok kepalanya yang habis terkena lemparan. Ia baru sadar kalau di depannya ada Gill yang sedang berdiri melihatnya, ia terkejut dan langsung menuduhnya sebagai pelaku.


"Beraninya kau melempar batu ke arahku!" Ucapnya marah.


Tanpa banyak cakap Gill langsung menunjuk benda apa yang dia lempar barusan, Emilia yang mengetahui barang apa yang Gill lempar seketika berubah menjadi senang. "Penghapus ku!" ucapnya senang sekali langsung jongkok dan mengambilnya.


Setelah mendapatkan penghapusnya kembali Emilia langsung menatap wajah Gill dengan raut wajah curiga "Jangan-jangan kau yang mencuri penghapus ku." Tuduhnya.


"Apa!" Gill seketika tertawa mendengar tuduhannya itu "Untuk apa aku mengambil penghapus jelek seperti itu." Ejeknya membuat Emilia marah.


"Orang bodoh sepertimu tidak akan tahu mana barang yang bagus. Asal kau tahu penghapus milikku ini memiliki harga yang sangat fantastis yang tidak akan mampu untuk kau beli." Hina Emilia balik.


"Iya-iya aku tahu, tadi aku menemukan penghapus itu terjatuh di lantai. Kalau aku tidak segera mengamankannya pasti sudah hilang tersapu." Jawab Gill menjelaskan.


"Bohong, kalau aku tidak mengetahuinya kau pasti sudah mengambilnya." Tuduhnya ngotot karena Emilia merasa tidak suka dan risih dengan kehadiran Vergile di kelasnya.


"Terserah kau saja, aku malas berdebat degan mu." Ucap Gill tak perduli berbalik menuju tempat duduknya.


"Hemh, mana ada maling yang mau mengaku." Ledeknya kesal.


Sesaat susana kelas menjadi canggung karena pertengkaran tersebut. Namun Gill sama sekali tidak peduli dengan hal itu, ia langsung duduk dan menatap ke arah luar jendela sedangkan Emilia hanya duduk diam dengan raut wajah yang kesal.


'Kenapa aku harus satu kelas dengan orang sepertinya. Hanya karena dapat bertahan dan mengalahkan Naga saja dia langsung di sama ratakan denganku.' batin Emilia melirik tajam ke arah Gill penuh kebencian.


'Aku bingung bagaimana caraku mengawali semuanya, memang aku pernah membunuh beberapa Iblis sebelumnya tapi pergi ke Underworld itu adalah hal lain. Jika tidak segera aku bereskan mereka akan semakin menyusahkan, hari ini mungkin aku selamat tapi besok tidak ada jaminan.' pikirnya termenung serius.


Ia kemudian mengepalkan tangan serius, 'Waktu ku tidak banyak, aku harus segera memulainya. Aku yakin ilmu yang ku pelajari dari Tuan Azazeal tidak akan sia-sia, dengan kekuatan sebesar itu rasanya tidak akan sulit memusnahkan mereka. Sovereign, Egamossa, dan Arigma pasti akan sangat berguna.' sambungnya serius penuh semangat.


"Wah ternyata sudah ada kalian berdua di sini," ucap Greey yang baru saja tiba "Selamat pagi Emilia, Vergile!" Sapa-nya ramah namun tak mendapat respon dari keduanya, Emilia hanya menampakkan wajah cuek kesalnya sedangkan Gill terus melihat ke arah luar jendela.


Tiga puluh menit kemudian siswa mulai ramai dan berdatangan satu per satu, setelah menunggu sekitar lima belas menit akhirnya bel masuk berbunyi dan jam pertama pelajaran pun di mulai. Nampak guru pembimbing hari ini adalah seorang gadis kecil yang imut ia akan mengajar mata pelajaran Animal Klonoust.


"Selamat pagi semuanya!" Sapa sang guru dengan suara yang imut membuat semua murid gemes.


"Imutnya!" Puji murid laki-laki.


"Pipinya chuby sekali, aku jadi ingin mencubitnya." Timpal murid perempuan.


"Dia lebih imut daripada adikku di rumah. Ahh jadi pingin bawa pulang." Timpal murid laki-laki lain.


"Hari ini kita akan belajar Animal Klonoust. Perkenalkan namaku adalah Sista Adeline, aku adalah pembimbing kalian hari ini. Oh iya banyak siswa mengira kalau aku ini adalah anak kecil tapi jangan salah meskipun wajah dan tubuhku kecil umurku sudah lebih tua loh daripada ibu kalian di rumah." Jelasnya membuat siswa terkejut.


"Sungguh?" Ucap murid perempuan terkejut.


"Tidak mungkin." Timpal murid laki-laki terkejut.


"Teehee!" Tersenyum sambil berpose imut setelah melihat reaksi mereka "Ibu masih belum tahu nama kalian jadi saat ibu panggil nanti kalian angkat tangan yah." Sambungnya tersenyum ramah imut khas anak kecil.


Ia pun mulai dari absen pertama dan lanjut ke absen berikutnya, setelah hampir dua puluh menit perkenalan akhirnya Sista mulai menjelaskan mata pelajaran yang akan ia sampaikan. "Apakah ada yang tahu apa itu Mapel Animal Klonoust?" Tanya Sista mengetes murid kelas.


Seketika Emilia langsung mengacungkan jarinya ke atas membuat semua orang terkejut, "Fu fu fu ada yang tahu ternyata, bisa kamu jelaskan Emilia?" Ucap Sista terkejut.


"Baik" Emilia langsung berdiri dari tempat duduknya, "Animal Klonoust adalah mata pelajaran yang akan membahas tentang jenis, spesies, dan ras dari hewan peliharaan perang. Pelajaran ini mencakup tatacara mendapatkan hewan, bagaimana menjalin kontrak dengannya dan masih banyak lagi yang lain." Jelas Emilia tanggap membuat Sista terkesan.


"Anggota Dewan Inti memang hebat ya" pujinya.


"Terima kasih." Langsung duduk dengan diiringi oleh tepuk tangan meriah dari teman sekelas.


"Seperti yang baru di jelaskan oleh Emilia di mata pelajaran ini kita akan fokus membahas tentang hewan perang, aku akan menjelaskan jika kalian belum mengetahuinya." Ucapnya mengambil spidol di atas mejanya dan berjalan menuju papan tulis.


"Hewan perang adalah senjata kedua dalam pertempuran, kekuatan yang mensupport kita dari belakang sehingga memudahkan kita untuk menguasai jalannya pertarungan. Hewan perang memiliki peran yang sangat penting dalam pertempuran, ia dapat mengganggu, menyerang, mengobati saat kita sedang terdesak." Jelasnya.


"Hewan perang di bedakan menjadi tiga golongan berdasarkan kegunaan dan skill mereka. Yang pertama adalah tipe Support : Hewan dalam kategori ini sangat tidak cocok jika kita gunakan untuk menyerang, ia memiliki kekuatan yang sangat kecil dan daya tahan tubuh yang lemah. Bisa di katakan tipe hewan ini adalah yang paling lemah dari ketiga golongan tersebut." Jelasnya.


"Lalu apa gunanya hewan tersebut?" Tanya salah satu siswa laki-laki.


"Seperti tipenya dia akan terus mensupport mu, mengobati luka, menghilangkan rasa sakit, dan lain sebagainya. Sederhananya adalah jika kamu terluka terkena serangan maka hewan itu akan dengan mudah menyembuhkan mu." Jawabnya.


"Oh jadi seperti itu." Ucap mereka paham.


"Kedua adalah tipe pengganggu : hewan tipe ini memiliki kekuatan yang cukup besar, kemampuan utamanya adalah merusak panca indera musuh. Ia multifungsi bisa jadi support, bisa juga jadi penyerang makannya dia di kategorikan ke dalam hewan pengganggu. Sebagai contoh yang sudah pernah kita lihat adalah Naga Esper milik Emilia dan Centaurus milik Greey." Jelasnya.


"Wah keren!" Ucap para murid laki-laki terpesona mendengar penjelasannya.


"Aku jadi ingin punya." Timpal murid perempuan merasa tertarik.


"Yang terakhir adalah tipe penyerang : hewan tipe ini sangat cocok untuk di gunakan dalam pertarungan maupun peperangan, ia memiliki kekuatan penghancur yang sangat dahsyat dan bisa membuat mental lawan kalian jatuh. Hewan tipe ini identik dengan Naga karena ia menguasai dua wilayah, yakni darat dan udara selain itu ia memiliki teriakan yang sangat menyeramkan cocok untuk menakut-nakuti lawan." Jelasnya.


"Suara menggelegar dan kekuatan yang dahsyat menjadi kebanggaan tersendiri bagi mereka yang memiliki hewan tipe ini. Sayang hewan tipe ini masih belum banyak yang punya, mungkin hanya ada segelintir di sekolah ini dan bisa di hitung jari." Imbuhnya.


"Kenapa bisa begitu, padahal tipe penyerang adalah yang paling cocok untukku." Tanya Vania penasaran.


"Itu karena menjalin kontrak dengan mereka tidak lah mudah." Sahut Emilia dengan santai.


"Emilia benar, jika kekuatanmu tak memenuhi syarat maka jangan harap mereka mau menjalin kontrak denganmu. Mereka hanya mau menjalin kontrak dengan orang yang memiliki kekuatan di atas mereka atau setidaknya yang mampu mengimbanginya." Imbuh Sista menjelaskan.


"Jadi itu alasan kelangkaannya,-


"Bu Sista benar, meskipun kita semua bersatu mengumpulkan kekuatan tetap saja kita tak akan bisa menaklukan satu dari tipe penyerang itu." Timpal Greey membuat semua orang terkejut.


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Emilia penasaran.


"Awalnya aku juga ingin memiliki hewan tipe ini tapi saat itu aku masih belum tahu apa-apa. Tuan Gabriel pernah memberiku pilihan dengan menghadirkan satu ekor Naga dan satu ekor Centaurus. Awalnya aku ingin mengambil naga sebagai peliharaan ku tapi di luar dugaan naga itu ternyata sangat kuat. Semua kekuatanku sudah aku kerahkan tapi semuanya sia-sia, naga itu sama sekali tidak terluka setelah menerima berbagai macam serangan ku. Aku bahkan sempat di bikin lumpuh satu tahun setelah berhadapan dengan naga itu." Jawabnya membuat semua orang terkejut.


"Ehh!!" Seisi kelas terkejut mendengarkan ceritanya.


"Benarkah itu?" Tanya teman laki-laki penasaran.


"Kalau Greey saja tidak bisa apa lagi kita yang hanya murid biasa." sambung teman perempuan merasa putus asa setelah mendengar ceritanya.


"Tapi setidaknya kita memiliki satu yang berhasil di sini." Ucap Sista menoleh ke arah Emilia dengan bangga.


"Sudah jelaskan siapa yang terkuat di kelas ini." Dengan senyum ia membanggakan dirinya, seketika ia langsung banjir pujian dari teman sekelasnya.


"Apakah Anda tahu siapa naga penyerang yang paling kuat. Saya akan menaklukannya sekuat tenaga." Tanya Gill mengejutkan semua orang.


"Kau mau menaklukannya?" Sambung teman di depannya langsung di susul tawa ngakak oleh yang lainnya, begitu pula Sista yang menganggapnya sangat gegabah menanyakan hal itu.


"Vergile, vergile menaklukan Naga penyerang biasa saja kau belum tentu bisa apalagi yang terkuat." Ejek Sista mencandainya.


"Kau terlalu gegabah Vergile. Naga penyerang itu sangat kuat tidak seperti yang kau bayangkan, kulit mereka sangat keras sekeras intan api mereka sangat panas melebihi lava." Jelas Greey memberitahunya.


"Tolong beritahu aku karena aku membutuhkannya." Ucap Gill ngotot.


"Sudah Bu bagi tahu saja, biarkan dia menghayal dengan naga impiannya itu." Ledek Vania di susul tawa oleh yang lainnya.


Sista sampai meneteskan air mata saking lucunya "Baiklah-baiklah aku akan memberitahumu." Ucapnya sambil mengusap air matanya, "Naga penyerang yang paling kuat adalah Sanctuary Dragon Lord. Ia adalah naga yang menjaga Istana Orion milik Tuan Azazeal." Jelasnya.


"Kalau kau mau Naga itu kalahkan dulu pemiliknya Tuan Azazeal." Ejek siswa laki-laki lain di susul tawa ngakak yang lainnya.


"Mau mengalahkan Tuan Azazeal. Tidurmu miring Nak ha ha ha ha!" Timpal yang lain mengejeknya.


"Cih" gumam Gill merasa kesal pertanyaan seriusnya di buat candaan.


Indyra lalu mengelus bahu belakang Gill dengan lembut "Sabar ya Vergile, mungkin masih belum saatnya kamu memiliki naga itu." Ucapnya menguatkan hatinya.


Gill kemudian tersenyum dan menoleh ke arahnya "Kau benar, sepertinya aku harus lebih pandai lagi mengatur egoku."


Masuk waktu istirahat saat Gill sedang merapikan alat tulisnya tiba-tiba Greey datang menghampirinya "Mau pergi ke kantin bareng Vergile?" Ajaknya.


"Duluan saja, aku masih ada urusan." Jawabnya sambil mengemasi barang-barangnya.


"Mau ikut Indyra?" Ajaknya ramah.


"Ehmm" gumam Indyra bingung menoleh ke arah Gill yang sedang mengemasi barang.


"Kenapa tidak pergi Indyra?" Tanya Vergile datar sambil memasukan buku dan alat tulisnya ke dalam tas.


"Kau tidak mau ikut?" Tanya Indyra lirih.


"Aku sedang ada urusan. Kau pergi saja dengan Greey." Jawabnya.


"Vergile!" Panggil seseorang mengejutkan mereka bertiga.


'Alice?' batin Gill terkejut mengetahuinya berdiri di tengah pintu kelas sambil melambaikan tangan dengan senyum ramah.


Alice kemudian masuk ke dalam dan menghampiri Gill "Mau ikut pergi ke kantin Vergile?" Ajaknya dengan senyum manis.


Indyra yang melihat kedekatan mereka menjadi sedikit cemburu "Maaf aku sedang sibuk." Jawabnya singkat.


"Yahh sayang sekali." Dengan wajah cemberut ajakannya ditolak oleh Gill.


"Kamu sepertinya sangat akrab dengan Vergile, boleh aku tahu siapa namamu?" Tanya Greey menatap wajah Alice hangat membuatnya tersipu malu.


"Ehh anu..." Memalingkan wajahnya yang tersipu malu kemudian ia langsung pergi dengan terburu-buru, "Sampai jumpa nanti Vergile!" Ucapnya pergi berpamitan.


"Sepertinya dia adalah orang yang sangat sibuk ya." Ucap Greey lirih melihatnya pergi.


"Sebaiknya kalian bergegas sebelum bel masuk berbunyi." Ucap Gill.


"Kau benar, ayo Indyra kita pergi!" Ajak Greey langsung meraih tangan Indyra mengajaknya pergi.


'Dia menyentuh tanganku!' batin Indyra terkejut.


"Jangan khawatir aku akan mentraktir mu nanti, kau bebas memilih makanan yang kau suka." Imbuh Greey meyakinkannya dan mereka berdua pun akhirnya pergi.


Sedangkan Gill pergi ke atap gedung sekolah seperti biasa untuk menemui Fain, nampak ia sudah di tunggu olehnya. "Sepertinya kau mulai terbiasa dengan tempat ini." Ucap Fain sambil melihat pegunungan hijau.


"Tempat ini sangat menenangkan, semoga saja tidak ada orang lain yang menemukan tempat ini selain kita." Jawab Gill berdiri di samping Fain sambil menghirup udara segar.


"Sebenarnya ada satu orang yang sudah tahu tempat ini, dia dulu sering datang kemari tapi sekarang sepertinya sudah tidak lagi." Jawab Fain.


"Begitu ya ..." Ucap Gill lirih memejamkan kedua matanya menikmati angin yang berhembus kencang.


"Apakah hari ini kau kena hukum lagi?" Tanya Fain.


Gill tersenyum, "Seorang gadis kecil mana berani menghukum ku." Jawabnya.


"Bu Sista ya ... Dia adalah guru paling sabar yang di sekolah ini. Sebenarnya aku merasa kasihan padanya karena dia adalah satu-satunya guru yang paling sering mendapat tindak pelecehan." Ucap Fain membuat Gill terkejut.


"Apa kau bilang, kenapa seorang guru bisa di lecehkan?" Tanya Gill marah.


Fain tersenyum melihat ekspresi Gill yang terkejut "Sepertinya kau masih belum tahu apa-apa tentang sekolah ini, tapi kamu pasti sudah tidak asing dengan yang namanya hukum rimba. Hukum yang membuat orang kuat semakin berkuasa dan orang yang lemah akan semakin menderita." Jawabnya.


"Istilah lainnya adalah 'Yang kuat lah yang akan berkuasa.' Sekolah ini adalah rimba bagi mereka yang menjadi domba dan taman bunga bagi mereka yang menjadi singa." Jawab Fain.


"Ceritakan lebih banyak lagi, aku ingin tahu semuanya." Perintah Gill.


"Tidak ada lagi yang bisa aku ceritakan, sisanya adalah cerita pemerkosaan, pemerasan, penindasan, dan penganiayaan. Kau mau dengar?" Tanya Fain.


"Tidak, sudah cukup." Jawabnya.


"Di belakang layar guru pun juga banyak yang melakukan hal seperti itu. Mereka memang tidak mempunyai kekuatan tapi mereka cerdas dan bermain menggunakan kekuasaan. Biasanya siswa akan diancam tidak dinaikkan kelas jika mereka tak mau menuruti kemauannya." Imbuh Fain.


"Ternyata sekolah ini memang sudah rusak. Lalu kenapa masalah ini tidak segera diselesaikan, kemana Stefanie selama ini?" Tanya Gill.


"Kau mungkin tidak akan percaya mendengar hal ini tapi Nona Stefanie pun juga pernah di perkosa oleh muridnya sendiri." Jawab Fain membuat Gill terkejut.


"Dia adalah tangan kanan Alin Xaverias, bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" Tanya Gill yang masih belum percaya.


"Bahkan semut pun tahu bagaimana cara mengalahkan gajah yang memiliki tubuh ratusan kali lipat lebih besar darinya." Jawab Fain.


"Mengeroyoknya secara ramai-ramai." Ucap Gill yang menyadarinya.


"Kau bisa melakukan apa saja yang kau mau di sini asalkan kau kuat tak terkalahkan." Jelasnya memberitahu inti ceritanya.


"Apakah membunuh adalah hal yang wajar di sini?" Tanya Gill.


"Iya, mereka kerap melakukan itu untuk menghilangkan barang bukti. Meskipun begitu membunuh tetap ada konsekuensinya, jika pelaku tertangkap basah oleh Dewan Inti maka hukuman yang akan dia terima akan semakin berat." Jelasnya.


"Lalu kenapa masih banyak kejahatan di sekolah ini jika memang sudah ada Dewan Inti?" Tanya Gill penasaran.


"Dewan Inti akan menindak tegas pelaku jika ada korban yang melapor disertai dengan bukti yang kokoh. Tanpa adanya bukti sama saja dengan melakukan tuduhan palsu, pihak pelapor malah bisa balik kena tangkap jika tidak membawa bukti yang konkrit." Jelasnya.


"Pelaku selalu bermain dengan sangat rapi, mereka sudah memprediksi tindakan apa yang akan diambil oleh korban. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya mereka tidak akan segan membunuh seseorang untuk menghilangkan barang bukti." Imbuhnya.


Setelah mendengar itu Gill tersenyum dan berkata, "Sekolah ini ternyata menarik juga."


"Saranku kau jangan mudah percaya dengan kata-kata seseorang. Siapa saja bisa berkhianat, siapa saja bisa jadi musuh di sini. Jika orang tua mu berkunjung kemari, minta agar dia di kawal oleh seseorang tidak menutup kemungkinan Orang tuamu juga bisa saja jadi korban. Semua orang memasang wajah palsu di sini, mereka yang selalu tersenyum belum tentu bahagia begitu juga sebaliknya." Nasihat Fain.


"Terima kasih Fain, tapi apakah kata-katamu ini bisa di percaya?" Tanya Gill.


Fain tersenyum, "Dari awal sebenarnya aku sudah tahu kalau kau ini adalah orang yang cerdik, tapi kau sengaja menutupinya dengan berpura-pura bodoh. Menipu orang dengan berpura-pura bodoh itu adalah trik lama yang jenius." Ucap Fain membongkar kedok Gill.


'Ternyata aktingku tidak seratus persen berhasil.' batin Gill dengan senyum menyadari kesalahannya.


"Kau pasti mengincar sifat sombong mereka yang selalu merendahkan mu namun pada akhirnya kau lah yang akan membuat mereka menari di telapak tangan mu." Imbuhnya.


"Ternyata pangkat Senior itu bukan sekedar omong kosong, aku akui memang sulit membodohi orang yang sudah tiga tahun berada di sini." Puji Gill.


Fain tersenyum setelah menerima pujian itu "Jujur aku sangat tertarik padamu Vergile. Aku penasaran langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya." Ucapnya.


Gill seketika berbalik dan menatap wajahnya "Kau pasti sudah bisa menebaknya." Ucapnya santai kemudian berjalan pergi tak lama kemudian bel masuk berbunyi.