The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 80 ~ Rahasia dan gertakan untuk Enrylind



Usai pertarungan itu, Gill dan ketiga temannya lansung mengunjungi Vega di ruang pengobatan sekolah. dengan nada penuh semangat Greey mengucapkan kekagumannya pada Vega, ia hanya tersenyum mendengar pujian itu.


'Luar biasa Vega, aku hampir tidak mengenalimu tadi. kamu sungguh sangat keren!' puji Indyra diikuti anggukan oleh Alice.


'Bagaimana perasaanmu Vega?' tanya Gill.


Vega tersenyum dan menjawab, 'Aku seperti terlahir kembali, kemenangan ini hampir membuatku melupakan semua masa pahit dalam hidupku. aku senang sekali atas pencapaianku ini' ucapnya dengan senyum puas di wajahnya.


'Apakah kau mengalami luka yang parah?' tanya Indyra. Ia menggedekan kepala dan menjawab 'Hanya goresan kecil' Alice lalu mengajukan sebuah pertanyaan, sejak kapan Vega memiliki zirah yang sama seperti Emilia.


Vega menjawabnya sudah lama, dirinya sengaja menyembunyikannya dan tidak bermaksud untuk memamerkannya. Indyra menambahkan kalau setiap murid yang memiliki zirah pastilah Masternya adalah orang yang hebat, ditambah bahan untuk membuatnya pun tak murah. Hanya keturunan Bangsawan atau Keluarga kerajaan saja yang mampu.


Vega mangangguk dan membenarkan ucapan Indyra tersebut, dia mengaku bahwa dirinya sebenarnya adalah keturunan Raja II Makedonia, Ricther Dimitry. Sontak semua orang terkejut kecuali Gill yang nampak tidak peduli. dengan baik-baik Vega memberitahu temannya itu untuk tidak menceritakannya hal itu kepada siapa pun, tentu saja untuk keselamatannya.


Mereka mengangguk dan berjanji akan tutup mulut dan merahasiakannya. Greey bertanya apakah Gill sudah tahu mengenai hal ini, ia penasaran kenapa responnya biasa saja. Gill menyangkalnya dan menjawab baru mengetahuinya sekarang, dia menjelaskan kalau sudah memprediksi hal ini sebelumnya.


Gill berkata kalau penampilan Vega tak mencerminkan gadis biasa, awalnya ia menebak kalau Vega adalah keturunan Bangsawan sebelum akhirnya identitasnya terungkap sebagai keluarga Raja. Vega tersenyum dan berkata, 'Mungkin aku belum bisa berdandan sederhana, sejak kecil aku sudah didik untuk memperhatikan penampilanku' ucapnya.


(Ditempat Emilia, Alin datang menjenguknya)


Nampak dari wajahnya Emilia sedikit merasa malu, ia terus merundukan kepala tak berani menatap wajah Masternya. Alin lalu duduk disamping tempat tidurnya dan melihat ke arah Emilia yang tersandar penuh dengan luka, 'Apa kau masih tidak terima dengan kekalahan mu?' tanya Alin.


Dia hanya terdiam membisu dengan tatapan kosong, 'Sepertinya dia sangat terpukul karena kekalahannya' batin Alin yang melihatnya terdiam. ia lalu memegang pundak Emilia dan sempat membuatnya terkejut, 'Nona!' ucapnya terkejut.


Nampaknya dari tadi Emilia terlelap dalam lamunan kesedihan, bahkan ia baru menyadari kalau di sampingnya ada Alin. 'Kamu harus berlatih lebih keras lagi Emilia, aku sudah memperingatkan mu untuk jangan merasa puas terlalu cepat' tuturnya.


Emilia menganguk dan mengakui kesalahannya, ia lalu kembali bertanya apa yang bisa dia lakukan sekarang. Alin menjawab dengan satu kata, 'Berlatihlah!' Emilia lalu bertanya apakah Alin mau melatihnya kembali. Ia tersenyum dan berkata kalau tanpa dirinya pun Emilia bisa bertambah kuat.


Emilia yang polos lantas bertanya bagaimana caranya. Alin lalu menjawab, 'Kau adalah anggota dari Dewan, kamu bisa memanfaatkan itu. Kau punya akses kemana saja, termasuk mempelajari ilmu baru' ucapnya.


'Apakah Nona akan sepenuhnya melepaskan ku dan tidak akan melatihku lagi?' tanya Emilia dengan raut wajah sedih.


'Kau harus bisa berdiri sendiri Emilia, kamu tidak bisa terus mengandalkan orang lain' jawabnya. Alin lalu mengelus kepalanya, 'Aku masih akan mengawasi latihanmu, tapi selebihnya kau berusaha lah sendiri' sambungnya.


Emilia tersenyum lega Alin masih memperhatikannya, 'Terima kasih Nona, maaf saya membuat Anda malu hari ini' ucapnya merasa bersalah. Alin tersenyum dan bangkit dari duduknya, 'Tidak apa-apa, jadikan lah ini motivasi agar kau bisa bertambah kuat. Istirahatlah kembali!' jawabnya lalu pergi.


Kembali ke tempat Gill dan kawan-kawan yang sedang bersenda gurau, mereka terkejut saat melihat Alin masuk ke UKS dan berjalan ke arah mereka. 'Sepertinya Nona Alin akan marah kepadamu Vega' ucap Indyra yang melihat tatapan matanya menyorot mereka.


Raut wajahnya seketika berubah pucat, Greey lalu menyangkalnya dengan berkata, 'Jangan berkata yang tidak-tidak, Nona itu orangnya baik. Mungkin dia mau mengucapkan selamat padamu' ucapnya.


Setelah Alin sampai Greey, Indyra, Alice dan Vega langsung merundukkan kepala menyambutnya dengan kata yang lembut. Alin tersenyum dan mengawali pertanyaan dengan menanyakan kondisi Vega. dalam hati Vega sedikit terkejut namun ia menjawabnya baik-baik saja.


Alin lalu menoleh ke arah Greey, 'Sudah sangat lama ya Greey' dengan senyum manis. Greey pun juga membalasnya dengan senyum, 'Anda sama sekali tidak berubah Nona' jawabnya. Alin lalu merangkulnya dari samping membuat Greey dan yang lainnya terkejut.


'Kau tidak ingin mengunjungi Gabriel lagi? Aku dengar dia mau menikah minggu depan' ucapnya dalam rangkulan. Mereka sontak terkejut, 'Benarkah, bahkan Tuan sendiri tak memberitahuku soal ini' ucap Greey.


'Iya itu benar, dia akan membuat acaranya meriah dan megah. Kamu akan rugi jika tidak datang, akan ada banyak sekali makanan yang enak dan tentu para wanita yang sangat cantik' kata Alin menjelaskan. Greey hanya tersenyum dan berkata akan datang jika tidak ada kesibukan.


Alin lalu melepaskan rangkulannya dari Greey dan menghampiri Gill lalu menatapnya dingin, 'Siapa murid sombong ini, jangankan merunduk hormat, memberi senyum pun tidak!' sindirnya pedas membuat Indyra, Alice, dan Vega terkejut.


Gill hanya diam dan menatap wajah Alin datar. Alin lalu tersenyum dan merangkul lehernya memberikan jitakan dikepala, Gill memberontakan memperlihatkan hubungan mereka yang sangat dekat. Gill lalu meninju perutnya menimbulkan suara rintihan yang sangat menggoda, 'Kalian sudah saling kenal?' tanya Greey penasaran.


Alin lalu tertawa dan menepuk pundak Gill karena telah meninju perutnya. ia lalu merangkulnya dan menyandarkan kepalanya di pundak layaknya seorang kekasih, tangannya lalu mengusap dadanya lembut seperti sedang memberi rangsangan, 'Vergile adalah mantan kekasih ku' jawab Alin dengan nada panas.


Seketika mereka heboh mendengarnya dan sempat tidak percaya, 'Benarkah itu Vergile, kau adalah mantan kekasih dari Nona sang Bidadari?' tanya Indyra yang masih tidak menyangka.


'Alin!' ucap Gill tegas membuatnya tertawa, ia lalu menjelaskan kalau itu hanya bercanda. 'Vergile adalah temanku, setelah Gabriel memiliki tunangan pertemanan kami sudah tidak seasik dulu. Vergile adalah satu-satunya teman yang aku masih bisa leluasa bergaul dengannya, aku lah yang memasukkannya ke Akademi ini supaya kami bisa sering bertemu' jelasnya.


'Kenapa kau tak menjelaskan soal itu Vergile?' tanya Alice merasa kesal. dengan wajah polos Gill menjawab, 'Harus ya?' mereka semua lalu memukulinya sembari berkata 'Mestilah!' melihat itu Alin tertawa.


'Oh iya Gill aku dengar kau juga ikut ujian ini, Apakah itu benar?' tanya Alin. Gill mengangguk mengkonfirmasi pertanyaannya itu, 'Benarkah, lalu siapa lawan yang kau pilih' sambungnya. Greey menjawab kalau lawannya adalah Enrylind.


Alin sedikit terkejut mendengarnya namun setelah itu ia tersenyum dan mulai mengenal dirinya yang sebenarnya yang suka mengambil pilihan gegabah, 'Kau memang tidak berubah sama sekali Vergile' ucap Alin pelan sambil menghembuskan nafas.


'Dia memang sangat gegabah Nona, tidak hanya kali ini saja. dulu dia menantang Emilia, syukurlah masih bisa menang kalau tidak pasti ia sudah celaka!' ucap Indyra.


'Melihatnya saja sudah membuatku ngeri, apalagi jika harus berhadapan dengannya. Nona Enrylind itu adalah wakil Dewan Inti, selain itu dia juga sudah berpengalaman dalam pertarungan. Apakah kau masih kekeh ingin melawannya Vergile?' sambung Vega.


'Absolutely' jawab Vergile percaya diri.


'Melawan Enrylind itu sama saja dengan kau bertarung melawanku, dia itu kuat. Gelarnya bukan lah omong kosong, dia adalah murid dari Erfyona Ella Vanya, Putri kerajaan Lucifer yang sangat dihormati. Enrylind memiliki dua senjata Legendary dan Enam Hewan perang S rank. Singkatnya dia adalah musuh yang mustahil dikalahkan oleh siswa biasa, tapi jika kau yang melawannya aku masih mempunyai harapan' ucap Alin membuat keempat teman Gill bertanya-tanya.


'Bagaimana Nona bisa yakin?' tanya Greey.


'Aku tahu kekuatan mereka berdua, lagipula kalian jangan terlalu memandang rendah Vergile. Dia itu kuat loh, kalian akan tercengang saat tahu siapa dirinya nanti' jawab Alin membuat mereka terdiam.


Karena Alin membuat suasana menjadi canggung akhirnya Gill meredakannya dengan berkata, 'Lupakan saja tentang Enrylind, itu adalah urusanku. Alin kita tidak sedang bicara berdua jadi jaga ucapanmu, temanku bukan hanya kamu saja disini!' tegasnya menasihati.


Alin lalu merunduk dan meminta maaf, mereka semua terkejut dengan respon Gill yang tegas dan Alin yang seketika melunak saat mendapat teguran darinya. 'Yang Nona Alin katakan itu benar Vergile. kita sebagai seorang teman harusnya lebih mempercayaimu, bukannya malah meremehkan mu!' ucap Vega membelanya.


'Kami lah yang bersalah Vergile, tidak seharusnya kau memarahinya. Kami lah yang seharusnya minta maaf' ucap Greey membuat tatapan mata Gill menjadi malas lalu ia membuang wajahnya karena temannya itu lebih memilih Alin daripada dirinya.


'Jadi gadis itu yang namanya Alin?' ucap Froast Dragon dalam dirinya. Gill sedikit terkejut dan mengiyakan pertanyaannya itu, ia lalu balik bertanya kenapa dia menanyakan hal tersebut. Froast Dragon menjawabnya tidak ada apa-apa, dia lalu memuji kalau Alin itu lumayan cantik. Kenapa Tuannya tak menjadikannya sebagai istri?


Gill lalu menjawab kalau dirinya sekarang belum ada niatan untuk menjalin hubungan serius dengannya, dirinya ingin lebih fokus pada misi utama dan mengkesampingkan dulu soal asmara. 'Tuan jika kau memang ada rasa dengan seseorang sebaiknya utarakan secepatnya, karena kalau tidak kau akan menyesal. jika Anda sudah mengatakannya paling tidak dia tahu tentang perasaan Anda dan mungkin dia mau menjaga hatinya saat Tuan tidak berada disampingnya' tuturnya.


Setelah mengobrol dengan Vega dan Indyra, Alin lalu kembali menghampiri Gill karena melihatnya tersenyum sendiri dipojokan. ia lalu bertanya apa yang sedang dia lakukan, kenapa dia senyum-senyum sendiri. Gill menjawab bohong dengan beralasan kalau temannya sedang berbicara dengannya melalui telepati.


Alin lalu menawarinya untuk pergi bersama menghadiri pernikahan Gabriel minggu depan, terus terang Alin mengatakan dia butuh teman dansa di depan teman-temannya. seketika ajakannya itu ditolak mentah-mentah oleh Gill membuat wajah Alin menjadi pucat dan bersedih, dia lalu menawarinya pilihan dengan mengajak Greey untuk menggantikannya. Gill berkata kalau Greey adalah pedansa yang baik.


Spontan Greey menolak tawarannya itu, dia hanya ingin datang sebagai orang biasa dan tak ingin mengikuti pesta dansa. Alin lalu memohon kepadanya melalui telepati, suaranya nampak sedih saat sedang memohon kepada Gill, 'Aku mohon Gill, jadi lah pasanganku untuk satu malam saja. kau harusnya hadir pada pesta itu sebagai perwakilan dari Tuan mu Azazeal!' ucapnya memohon.


'Jika hanya perwakilan saja, aku rasa Exifilia mungkin bisa tidak harus aku yang datang ke sana' jawabnya.


'Apakah kau sungguh tidak bisa menyempatkan waktumu satu malam saja untukku?' dengan wajah memohon berharap hati Gill melunak dan mau menemaninya. Gill yang merasa risih dengan ekspresinya itu akhirnya berubah pikiran, 'Pukul berapa dansa itu di mulai, aku bisa menemanimu 15 menit saja setelah itu akan pergi' jawabnya.


'Pukul 7 malam, janji ya!' ucap Alin yang hanya dijawab oleh helaan nafas panjang lalu pergi. melihatnya saja sudah membuat Alin senang, ia lalu menyuruh Indyra untuk bersiap-siap karena sebentar lagi adalah gilirannya. Indyra mengangguk dan pergi untuk bersiap-siap, sebelum pergi Greey dan Alice memberinya semangat. Indyra mengangguk lalu pergi bersama Alin.


Karena pertarungan Gill masih di gelar besok akhirnya dia memilih untuk pergi ke atap gedung sekolah bermaksud memikirkan lokasi yang akan dia bantai malam ini. ketika tengah membuka pintu betapa terkejutnya ia saat melihat Enrylind dan Fain ada di sana, namun ada yang berbeda dari Enrylind hari ini.


Wajahnya terlihat pucat dan lesu, tubuhnya tersandar di bangku dengan Fain disampingnya yang menggenggam tangannya mengalirkan kekuatan penyembuh untuk mengobatinya. Enrylind terkejut melihat Gill ada di depannya, dengan wajah yang marah ia bertanya apa yang dia lakukan di atap gedung sekolah. Enrylind berkata hanya orang tertentu saja yang bisa mengakses tempat tersebut.


Gill hanya diam dan berjalan mendekatinya, ia lalu berlutut dihadapannya untuk melihat kondisinya. 'Enrylind memiliki kekuatan yang sangat dasyat, Masternya menyegel kekuatan besarnya itu ke dalam sebuah segel. saat ini segelnya melemah dan kekuatannya bocor melukai organ dalamnya' ucap Fain menjelaskan.


'Huarghk!' Enrylind memuntahkan darah segar dan membasahi baju Gill di depannya. ia malah tersenyum dan memberi tatapan tajam kepada Gill, 'Kenapa, aku masih bisa dengan mudah mengalahkan mu meskipun Master telah menyegel separuh dari kekuatanku' ucap Enrylind terbata-bata sambil menahan rasa sakit.


Gill hanya diam dan pandangannya malah terfokus pada belahan dadanya, ia melihat sedikit bentuk daripada segel yang dimaksud. 'Apa yang sedang lihat bodoh, aku akan membuatmu babak belur jika kau berani kurang ajar padaku!' ancamnya geram.


'Sebaiknya kau pergi Vergile, kamu hanya akan memperkeruh suasana' ucap Fain dengan baik-baik. Gill lalu bangkit dan menatap Enrylind dari atas, dalam benaknya ia berfikir kalau pertarungan besok akan terasa tidak adil jika kekuatan Enrylind sebagian tersegel. dia ingin menunjukan kalau dirinya mampu dan bukan lah orang yang bisa dipandang sebelah mata. Gill lalu memiliki inisiatif untuk membantu menyembuhkan penyakitnya.


Ia lalu teringat perkataan Azazeal kalau api hitam bisa membuka segel apapun dan memyembuhkan penyakit kronis yang sudah tidak bisa disembuhkan. Gill lalu berjalan mendekatinya dan mengulurkan tangannya ke arah belahan dadanya yang menonjol, 'Apa yang akan kau lakukan Vergile, Tarik tanganmu kembali!' perintah Enrylind marah.


Fain menjadi sedikit siaga terhadapnya dan memperintahkan Gill untuk menjauh, 'Enyahlah kau Vergile!' teriak Enrylind mengamuk mengeluarkan aura dahsyatnya. terlihat matanya berubah ke mode terkuat miliknya dengan bentuk unik ditengahnya sama seperti mata milik Gill yang bersegel.


Gill lalu menutup matanya dan meraih leher Enrylind, ia lantas terkejut kenapa tubuh Gill masih bisa bergerak setelah menerima aura kuat dari matanya. Fain yang mengetahui kekuatan Enrylind tak berpengaruh padanya, ia lantas mengeluarkan sebuah tombak berwarna ungu untuk berjaga-jaga jika Gill berani macam-macam pada temannya itu.


Fain yang melihat wajah Enrylind seperti kesakitan akhirnya mengeluarkan kekuatan tombaknya itu dan berniat menghentikan Gill. namun semua usahanya itu sia-sia saat Gill membuka matanya dan mengaktifkan segelnya. seketika waktu berhenti, mereka berdua lantas bertanya-tanya kenapa tubuhnya membeku. Fain yang mengetahui Gill bisa mengentikan waktu lantas mengeluarkan kekuatan matanya juga, meski tak sekuat mata Gill namun ia masih bisa bergerak meskipun gerakannya melambat.


Enrylind panik saat melihat tangan Gill perlahan membuka kancing bajunya, dalam benaknya ia berpikiran kalau Gill akan memperkosanya ditengah kesempatan itu. tatapan mata Enrylind langsung berubah menjadi penuh dendam tatkala Gill berhasil membuka tiga kancing baju atasnya dan ia menyaksikan dada putihnya yang besar menyembul.


'Akan ku bunuh kau Vergile, kau sudah berani melecehkan ku!' batinnya dalam hati marah besar. ketika Enrylind melihat mata Gill ia merasakan aura yang sangat dahsyat, terasa dingin dan gelap, sungguh sangat menakutkan. kini Enrylind tahu kalau Gill bukanlah siswa normal seperti pada umumnya, dia adalah monster yang menyamar sebagai siswa normal.


Mata Enrylind mendelik histeris merasakan aura yang gelap dan dingin, tak terasa air liur tertelan oleh lidahnya saking takutnya ia. Gill yang mengetahui bentuk segel itu lantas terkejut, dia tidak menyangka kalau Enrylind adalah murid dari Erfyona karena memiliki segel Lucifer yang sama.


Segel itu berkedip pelan berwarna orange seperti api yang menyala panas, kulit Enrylind hangus terbakar tepat disekitaran segel itu menempel. 'Ini pasti sakit sekali' ucap Gill pelan merasa kasihan padanya. Gill lalu mengeluarkan api hitam miliknya di ujung jari telunjuknya, Enrylind dan Fain yang melihat itu terkejut bukan main. mereka tahu api hitam hanya dimiliki oleh Azazeal dan hanya dia saja yang berkuasa atas api tersebut.


Yang terbesit di dalam benak mereka hanya dua pertanyaan yakni, siapa sebenarnya Gill itu dan dari mana ia mendapatkan api hitam abadi tersebut. Gill lalu menyuruh Enrylind untuk menahannya sejenak dan berkata kalau ini akan sangat menyakitkan. belum selesai Gill berkata Enrylind langsung berteriak kencang sampai suaranya serak tatkala api hitam itu menyentuh kulitnya.


Perlahan kedipan segel api itu padam dan luka terbakarnya mulai sembuh dan satu menit kemudian segel hitam itu pun menghilang tanpa meninggalkan sedikitpun bekas luka. nafas Enrylind langsung terengah-engah dan mengucurkan banyak sekali keringat. Gill lalu menonaktifkan matanya dan mengembalikan waktu seperti sedia kala.


Enrylind lalu merasakan efeknya, tubuhnya sekarang menjadi ringan dan lebih baik daripada sebelumnya. ia lalu menatap wajah Gill dengan raut wajah penasaran, 'Bagaimana kau bisa melakukannya. Siapa kau ini sebenarnya Vergile?' tanya Enrylind.


Gill hanya diam, 'Darimana kamu mendapatkan Elemen api abadi itu, kau sungguh sangat misterius Vergile!' ucap Fain yang juga penasaran.


'Dengan begini pertarungan besok akan seimbang, aku harap kau tidak mengecewakan ku Enrylind' ucap Gill membuat jantung Enrylind berdetak kencang. 'Dan untuk senjataku...' Gill lalu merubah darah segar yang keluar dari mulut Enry sebelumnya menjadi sebuah pedang yang mengkilap tajam, memantulkan bayangan.


Melihat itu mereka tambah terkejut lagi, sejatinya Enrylind dan Fain adalah orang yang cerdas dan terpelajar. pengetahuan mereka luas dan mengetahui berbagai jenis elemen, bahkan jika itu adalah elemen yang langka. melihat itu Enrylind langsung lemas dan nyaris putus asa, dia tahu Gill bisa dengan mudah mengalahkannya jika ia memiliki Elemen terkutuk itu.


'Aku tahu kamu adalah murid dari Erfyona yang dirumorkan itu, dari bentuk segelmu saja aku sudah tahu itu sama dengan simbol Lucifer miliknya. tak diragukan lagi kalau kamu memang musuh yang kuat. dengan menghapus segel itu aku harap kau mampu memberikan perlawanan yang seru' sambungnya.


'Kau mengenal Masterku, kau tahu soal Nona Erfyona? Katakan dimana dia sekarang!' tanya Enrylind penasaran.


Gill lantas tersenyum dan menyembunyikan pedangnya dengan cara menghilangkannya secara perlahan, 'Aku akan memberitahumu, jika kau berhasil mengalahkan ku' ucapnya lalu berbalik dan pergi.


'Oh satu lagi,' menoleh ke belakang tanpa membalik badan, 'Aku tidak akan menahan diri saat melawanmu besok, jadi persiapkan dirimu' ucapnya lalu lanjut berjalan pergi. mereka berdua hanya bisa terdiam setelah mendengar ucapannya itu.


Saat Gill sedang berjalan menuruni anak tangga Froast Dragon bertanya padanya, apakah ia akan mensummonnya untuk mengalahkan gadis itu. Gill menjawab, 'Menurutmu?' Froast Dragon tersenyum dan berkata, 'Ini pasti akan menarik!'


Enrylind bertanya-tanya, darimana Gill mengetahui informasi soal Masternya. dalam hati ia sangat rindu dengan Erfyona, dahulu ia berjanji akan menemui Enrylind jika dia sudah menjadi kuat. 'Nona aku telah menjadi gadis yang kuat, kenapa Anda tidak kunjung menemuiku. Apakah kau membenciku?' batinnya.


'Strategi apa yang sudah kau persiapkan Enry?' tanya Fain. seketika Enry terbangun dari lamunan sedihnya, ia lantas menjawab tidak tahu dan berkata kalau dirinya belum memikirkannya. Enrylind tidak tahu kalau Vergile punya dua Elemen yang sangat dahsyat yakni darah dan dan api hitam abadi.


'Entahlah Fain, aku sendiri tidak tahu. aku bahkan tidak yakin bisa mengalahkannya setelah mengetahui kekuatannya. aku terlalu menganggapnya remeh!' ucap Enrylind dengan nada lesu.


'Tapi Vergile telah menghilangkan segel yang telah membelenggu separuh dari kekuatan mu. Apakah itu tidak cukup?' ucap Fain berusaha membangkitkan semangatnya.


'Dengan sepercik api hitam itu saja dia bisa menghapusku dari dunia ini. belum lagi elemen darahnya yang bisa membuatku mati kurus kering seperti mumi. Oh apakah aku harus menyerah saja dan memohon kepadanya agar ia memberitahuku dimana keberadaan Nona Erfyona' ucapnya bingung gundah gelisah.


'Tapi bagaimana dengan keenam hewan S rank mu, kau mempunyai dua senjata legendaris. kamu juga memiliki zirah dan sayap yang kokoh tak tertembus, apakah itu semua tidak cukup. Enry kamu itu kuat, berhenti bersikap pesimis seperti ini!' ucap Fain memarahinya.


'Enry apakah kamu akan menyerah begitu saja tanpa bertarung?' tanya Fain pelan dari hati yang terdalam.


Ia tersenyum kepada Fain, 'Tentu saja tidak. aku akan mencobanya meskipun hasilnya akan sama. aku masih tidak menyangka, ada siswa seperti itu di sekolah kita. kita tidak bisa membiarkan murid sepertinya terus berada di bawah, ia bisa menjadi ancaman dan mungkin bisa saja mencelakai siswa yang lain. Kita harus meluluskan dia secepatnya!' jawab Enrylind yang direspon anggukan setuju oleh Fain.


Saat sedang berjalan menuju Arena Froast Dragon kembali bertanya, apakah Gill akan benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya. Gill tersenyum sampai gigi putihnya terlihat, 'Tentu saja tidak, aku hanya sedang menggertaknya saja supaya mentalnya jatuh. kau pasti sudah tahu, apa yang akan terjadi jika semua orang mengetahui elemen darahku. mental mereka pasti akan rusak dan mengira kalau aku adalah monster. Enrylind pasti akan terbunuh dengan elemen darahku dan akan menjadi debu dengan api hitamku, Kak Fyona pasti akan menghajarku habis-habisan' jawabnya.


'Ternyata Tuan sudah memikirkan resikonya sampai sejauh itu, kau memang pemikir dalam Tuan' pujinya.


Gill tersenyum mendengar itu, 'Semakin besar kekuatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab dan resikonya. harus bijak dalam menggunakannya jika kita tidak ingin kekuatan kita balik menjadi bumerang mematikan. Aku hanya ingin melihat apakah Enrylind berani muncul di Arena besok!' dengan senyum Gill berkata demikian.