The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Chapter X ~ Pelajaran yang berharga



Sebelum matahari terbit menyinari Kingdom of Norman. Anastasya, Calista dan para pengawal pribadi mereka secara diam-diam pergi berangkat untuk menemui Gill di pondok tengah hutan.


"Emhh," Gill merasa perih pada tangannya yang terkena silauan matahari pagi menembus lubang atap rumahnya.


'Kenapa semuanya hitam? Bukankah kemarin malam aku sudah bisa melihat?' pikir Gill dalam hati bertanya-tanya.


"Arrghh," Berusaha bangun dari tempat tidur.


Imelda yang sedang duduk tertidur di samping tempat tidurnya menjadi terbangun mendengar suara Gill berusaha bangun. "Anda sudah bangun, Tuan?" Tanya Imelda dengan mata sayup masih mengantuk.


"Imelda, sejak kapan kamu berada disini?" Tanya Gill.


"Sejak tadi malam Tuan." jawabnya.


"Tumben kamu tengah malam datang ke kamarku? Biasanya kamu selalu membangunkan ku kalau ingin masuk ke kamar." kata Gill.


"Maaf Tuan, apakah Anda tidak ingat kejadian kemarin malam?" Tanya Imelda.


"Tidak, memangnya apa yang telah terjadi?" Kata Gill bertanya balik.


"Saya juga tidak tahu pastinya, kemarin waktu saya sedang tertidur lelap tiba-tiba saya dikagetkan dengan suara kaca pecah seperti di pukul oleh benda keras pada tengah malam. Mendengar itu saya langsung bergegas kemari."


"Waktu saya sampai saya terkejut melihat Anda sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri dengan tangan yang terluka parah mengucurkan banyak sekali darah dan nampak banyak sekali puing-puing pecahan kaca yang berceceran di lantai." jelasnya.


Kemudian Gill memegang tangannya yang tengah dibungkus oleh kain tersebut. "Arggh!" Rintihnya kesakitan tersenggol oleh tangan satunya.


"Apakah Anda sungguh tidak mengingatnya?" Tanya Imelda memastikan.


"Kemarin aku mengalami mimpi buruk dan tidak terasa aku mengigau sampai melukai diriku sendiri." jawabnya berbohong.


"Terima kasih Bi, kalau bukan karena bibi yang dengan cepat mengobati ku entah apa yang telah terjadi padaku." dengan wajah senang merasa bersyukur.


"Iya Tuan, sudah menjadi tugas saya untuk selalu melayani Anda." jawabnya merendah.


"Bi?" Tanya Gill pelan.


"Iya Tuan?" Jawabnya.


"Apakah menurutmu orang sepertiku ini suatu saat akan bisa melihat lagi?" Tanya Gill dengan nada sedih.


"Saya tidak tahu Tuan, tetapi saya yakin Anda akan bisa melihat lagi suatu hari nanti." Jawabnya meyakinkan hatinya.


"Terima kasih Bi, aku juga berharap begitu." kata Gill pelan.


"Sebentar ya Tuan saya tinggal dulu, saya ingin membuat sarapan untuk Anda." kata Imelda.


"Iya, nanti kalau kemari tolong bawakan segelas air putih ya, Bi?" Kata Gill.


"Iya Tuan, saya permisi." Kemudian pergi.


Gill hanya duduk termenung di atas tempat tidur sambil membayangkan kejadian semalam. 'Tangan ini menjadi bukti, ternyata kemarin itu nyata, tetapi kenapa sekarang aku kembali buta lagi?' Pikir Gill keheranan.


'Dan dia juga bilang kalau aku ini,-


*Ingatan Gill kemarin malam.


"Kau itu tengah di anak tiri kan saat ini! Apa kau tidak menyadarinya? Kau dipisahkan dari saudara-saudarimu yang lain!"


"Terserah kau mau percaya atau tidak tetapi inilah kenyatannya!"


"Iblis? Oh ayolah, kita ini satu!"


"Bunuh lah mereka semua, sebelum mereka membunuh mu. Ayo Gill bunuh mereka, BUNUH!"


"TIDAK!" teriak Gill dalam ingatannya.


"DUARR PYARR!" kaca pecah berhamburan ke lantai.


'Aku tidak akan menurutimu brengsek! Kau bukan bagian dari diriku. Kau hanyalah Iblis jahat yang lahir dari hati tersakiti.' sambungnya dalam hati.


Waktu Imelda sedang berjalan ke dapur, dia mendengar deru langkah kaki kuda di depan rumahnya. Ia segera keluar dan mengeceknya dan benar saja Anastasya beserta rombongannya telah sampai.


"Selamat datang Nona, senang bisa melihat Anda berkunjung kembali," sambut Imelda dari depan pintu sambil membungkuk.


"Terima kasih Imelda," jawab Anastasya.


"Bi, apakah Gill ada di rumah?" Tanya Calista.


"Apakah ini Nona Calista?" Tanya Imelda terkejut.


"Hi hi iya Bi, saya Calista kakak perempuan Gill." jawabnya.


"Wahh! Saya pangling Non, Anda sudah tumbuh besar sejak terakhir kali saya melihat Anda," katanya terkejut.


"Terima kasih, Bi. Bibi juga awet muda dari dulu tidak pernah berubah." pujinya.


"Nona muda bisa saja. Mari silahkan masuk!" Sambil membukakan pintu.


Kemudian mereka semua masuk ke dalam rumah tersebut. "Bi? dimana kamar Gill?" Tanya Calista.


"Mari saya antar, Silahkan duduk dulu Nona sebentar saya buatkan minuman hangat untuk Anda." kata Imelda.


"Terima kasih Imelda," jawabnya sambil duduk.


Kemudian Imelda pergi bersama Calista untuk menunjukkan letak kamar Gill. "Ini Non kamarnya, dia ada di dalam," kata Imelda memberi tahunya.


"Terima kasih, Bi." Ucapnya senang sekali.


"Saya tinggal dulu ya, Non?" Balas Imelda.


"Iya," jawabnya singkat.


'Aku tidak sabar bertemu denganmu Gill, aku penasaran seperti apa kamu sekarang!' batinnya dengan wajah senang tidak sabar ingin bertemu kemudian ia mulai membuka pintu kamarnya perlahan.


"Gill?" Panggil Calista pelan sambil membuka pintu.


"Emhh?" Kata Gill terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Siapa di sana?" Sambungnya.


'Wahh ini kah Gill yang dulu aku kenal? Dia tampan sekali! Aku hampir tidak mengenalinya karena perubahannya yang sangat signifikan.' katanya dalam hati terkejut segera menghampirinya yang sedang duduk di kasur.


"Ini aku Gill, masa kamu lupa?" Katanya sambil memegang tangannya.


"Maaf! Aku beneran tidak tahu siapa kamu." Jawabnya sambil hendak melepaskan genggaman tangan Calista.


"Aku Calista, saudarimu!" Jelasnya.


"Calista? Kamu Calista! Suaramu terdengar berbeda dari yang sebelumnya." Kata Gill terkejut.


"Tentu saja sekarang aku sudah berumur 20, kalau kamu?" Tanya Calista.


"Aku ... Entahlah aku tidak tahu pastinya." jawabnya bingung.


"Kamu pasti 17 tahun. Soalnya umurmu tidak berbeda jauh denganku." Katanya memberi tahu.


"Iya mungkin kamu benar, kamu kemari datang sendiri?" Tanya Gill.


"Aku datang bersama Ibu, dia sedang duduk di depan." jawabnya.


"Ini tangan kamu kenapa? Kok diperban begini." Sambung Calista terkejut baru menyadarinya.


"Aku tidak apa-apa, ini sudah lama." Jawabnya sedikit gugup.


"Beneran? Kayaknya ini masih baru." Sambil mengangkat tangan Gill.


"Sudah-sudah, aku beneran tidak apa-apa!" Sambil melepaskan tangan Calista yang sedang mengamati luka pada tangannya.


Tiba-tiba Calista langsung merangkul tubuhnya dengan sangat hangat, Gill sontak terkejut seketika ekspresi wajahnya berubah. "Kamu sudah besar sekarang Gill, aku senang sekali. Aku masih ingat dulu kamu itu kecil sekali dan sangat imut." katanya di pelukan.


"Bodoh jangan bicara hal memalukan seperti itu!" Ucap Gill dengan sedikit gugup dan malu.


"Emh kenapa? (Sambil mencubit hidungnya) Kamu memang adikku yang paling manis." pujinya.


"Sudah hentikan, kita cari topik yang la,-


Gill dikagetkan dengan Calista yang tiba-tiba mencium pipinya, seketika wajahnya merah merona malu sekali. "Ihh wajahmu memerah lucu sekali!" Godanya sambil menatap wajah Gill.


"Ahh!" Kata Gill terkejut gugup salah tingkah.


"Apa yang kau katakan!" Sangkalnya sambil memegangi pipi bekas kecupannya tadi.


"Kamu baru pertama kali ya dicium oleh wanita?" Goda Calista.


"Te.. tentu saja tidak! Ibu sering melakukannya padaku." Sahutnya menyela dengan sedikit gugup.


"Yang itu lain, sekarang kakakmu ini akan menunjukan kepadamu ciuman yang sebenarnya." Memegang kedua pipinya dan mendekatkan wajahnya.


'Aku tidak tahan melihat wajahmu yang seperti ini, kenapa kamu tampan sekali Gill. Aku sudah menduga kalau kamu akan tumbuh seperti ini!' ucapnya dalam hati dengan mata berkaca-kaca karena terpesona.


'Baguslah Ibu masih belum kemari, ini adalah kesempatanku. Maafkan aku Gill, aku terpaksa melakukan ini karena aku tidak ingin kamu menjadi milik orang lain.' langsung mencium bibirnya ganas dan menempelkannya erat.


"Terima kasih Imelda, kau tahu kemana Calista pergi?" Tanya Anastasya.


"Dia pergi ke kamar Gill, Non." jawab Imelda.


"Maaf ya Non saya tinggal sebentar. Saya sedang memasak di belakang takutnya nanti gosong." sambungnya.


"Iya, tidak apa-apa." jawabnya.


Kemudian Imelda pergi dan melanjutkan memasaknya, sementara itu Anastasya terdiam sejenak dan menoleh ke barang bawaannya yang akan dia berikan kepada Gill. Ia kemudian meraih barang bawaannya dan mengantarkannya ke kamar Gill.


Setelah sampai di depan pintu ia menghirup nafas panjang sambil memegang gagang pintu kamar bersiap membukanya. 'Nak, ibu datang.' katanya dalam hati langsung membuka pintu secara perlahan.


"Kreekk!" Suara engsel pintu berbunyi.


'Ah!' kata Anastasya terkejut melihat apa yang disaksikan oleh kedua bola matanya.


Nampak dari matanya Calista sedang duduk di pangkuan Gill dan menciumnya buas penuh nafsu, dengan pakaian yang berantakan hingga nampak dengan jelas belahan dadanya. Tangan polos Gill ia tempelkan ke dada montoknya, sedangkan satunya ia lingkarkan pada pinggul seksinya.


Roknya tersingkap tinggi hingga ke pinggul sampai terlihat jelas lekukan bagian bawah. Calista sengaja menindih bagian vital Gill dengan selangkangannya hingga terlihat tonjolan itu menusuk miliknya. Tanpa perasaan malu ia sengaja menggoyangkan pinggulnya dan menggesek-gesekkan nya untuk menyulut nafsu birahi adik polosnya tersebut.


"Calista..." Panggil Anastasya lirih dengan senyum menahan marah luar biasa.


'Ah!' Kata mereka berdua terkejut seketika menghentikan ciuman tersebut.


"Ibu!" Kata Calista terkejut menoleh ke arahnya dengan mata merah dan bibir basah air liur.


Calista langsung turun dari pangkuan Gill dan segera merapikan kembali bajunya yang berantakan. Dengan wajah takut Calista memberanikan diri mendekat ke arah ibunya yang sedang menunggunya di tengah pintu.


"Sheet!" Sahut tangan Anastasya meraih lengan tangan Calista langsung menariknya keluar dari dalam kamar Gill.


Sementara Gill tengah hanya dapat terdiam bengong karena masih terkejut tentang apa yang barusan dia rasakan. 'Apa itu tadi?' Sambil memegang bibirnya yang masih basah air liur.


'Terasa hangat dan nikmat, rasa ini belum pernah aku rasakan sebelumnya walaupun ibu sering melakukannya kepadaku.' sambungnya dalam hati masih bingung dan kaget.


"Plash!" Gill terkejut mendengar suara tamparan keras dari luar kamarnya. "Bi! Kau kah itu?" Tanya Gill sedikit keras.


"Ibu, Calista! Dimana kalian?" Panggilnya sedikit keras.


"Sreekkk! Jduugg!" Suara pintu terbuka.


"Gill? Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya Anastasya pelan sambil berjalan menghampirinya.


"Ibu?" Kata Gill terkejut.


Anastasya kemudian duduk di samping Gill dan mengancingkan kembali kancing baju yang terbuka berantakan karena ulah Calista. "Nak? Apa yang Calista lakukan tadi kepadamu?" Dengan pelan sambil mengancingkan bajunya.


"Aku tidak tahu Bu, tapi itu sangat menyenangkan." Jelas Gill pada Anastasya. Dia sontak terkejut mendengar jawaban jujur dari Gill.


'Si Calista itu dasar kakak yang kurang ajar, aku tidak pernah menyangka dia akan berbuat seperti ini.' kata Anastasya dalam hati kesal sambil mengelap bibirnya yang basah air liur.


"Tapi kamu sungguh tidak apa-apa 'kan?" Tanya dia memastikan.


"Aku tidak apa-apa, Bu. Tapi ..." tanya Gill pelan.


"Hemhh? Ada apa, Nak?" Tanya Anastasya.


"Kenapa ciuman yang selalu ibu berikan kepadaku tidak sehangat tadi, apakah benar ibu tidak mencintaiku?" Tanya Gill penasaran.


"Nak ciuman itu adalah hadiah fisik kepada seseorang yang berharga bagi kita, ciuman itu dapat di berikan kepada sesama pasangan kekasih yang saling mencintai, Orang tua kepada anaknya, dan lain sebagainya." Jawabnya.


"Kecupan yang ibu berikan kepadamu itu adalah ungkapan hati ibu kalau ibu sangat menyayangimu sebagai seorang anak. Sedangkan yang Calista lakukan tadi adalah ciuman seorang kekasih kepada pasangannya, tentu rasanya sangat berbeda. Perlu kau tahu kalian tidak bisa menjalin hubungan kekasih karena Calista itu adalah Kakakmu." Jelasnya.


"Kenapa tidak? Dia adalah wanita sedangkan aku pria, itu normal kan, Bu?" Tanya Gill penasaran.


"Tidak, Nak. Cinta itu tidak sesederhana itu banyak hal yang masih belum kau ketahui tentang hubungan Asmara. Di dunia ini cinta yang terlarang adalah mereka yang masih memiliki hubungan darah antar pasangan seperti yang saat ini sedang kau rasakan." Jelasnya.


"Apakah ini peraturan keluarga kita?" Tanya Gill yang masih penasaran.


"Tidak Nak semua bangsa dan makhluk yang berakal pasti menyadari hal ini." jawabnya.


"Apakah orang seperti aku ini kelak juga akan memiliki pasangan?" Tanya Gill pelan dengan wajah sedih murung.


"Tentu saja, anak ibu kan tampan. Kakakmu saja sampai terbawa nafsu karena melihat ketampanan mu." pujinya seketika wajah Gill kembali senang dan tersenyum kembali.


"Terima kasih, Bu!" Tersenyum manis.


"Ini tanganmu kenapa, Nak?" Tanya Anastasya khawatir mengangkat tangannya dan memperhatikannya.


"Tidak apa-apa Bu, ini sudah lama dan sudah hampir sembuh. Bibi lah yang mengobatinya dia punya obat ampuh untuk ini." jawabnya sambil menarik tangannya yang luka dari pengamatan ibunya.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu sudah makan belum?" Tanya Anastasya.


"Belum." Jawabnya singkat.


Anastasya tersenyum dan mengeluarkan kotak makanan yang ia bawa, "Ini ibu bawakan makanan kesukaan kamu."


"Ibu baru saja membuatkan mu telur goreng mata naga. (Sambil menyodorkannya di depan wajah Gill agar ia mencium aromanya) Bagaimana?" Tanya Anastasya berniat menggugah nafsu makannya.


"Hmhhh (hirupnya) Harum sekali Bu! Aku sudah tidak sabar ingin segera memakannya." Dengan wajah senang sekali.


"Sebentar, ya (mulai menyendok makanan tersebut) ini ayo buka mulutmu." Sambil mengangkat sendok yang penuh dengan makanan. Dengan senang hati Gill langsung membuka mulutnya.


"Naganya datang happ! Gimana, enak 'kan?" Tanya Anastasya.


Gill langsung mengunyahnya tanpa sisa, nampak dari wajahnya ia sangat menikmati makanan tersebut, "Hemmhh! Ini enak sekali Bu. Seperti biasa masakan mu memang yang terbaik." Puji Gill senang sekali.


"Ibu senang kamu menyukainya." Dengan senyum diwajahnya.


"Bu aku minta maaf atas sikap egois ku yang kemarin. Maafkan aku apabila perkataan ku menyinggung perasaanmu." Katanya pelan tiba-tiba meminta maaf dengan raut wajah bersalah.


"Tidak apa-apa, Nak! Ibu mengerti. Maafkan ibu juga, ya? Selama ini ibu jarang menemani kamu." Jawabnya.


"Ibu senang sekali kamu tumbuh menjadi anak yang baik. Meskipun selama ini ibu jarang sekali menemani kamu, jauh dari dalam hati ini sebenarnya ibu ingin sekali selalu berada di sampingmu. Melihatmu tertawa bahagia dan menjalani hari-hari bersama, sebagai keluarga yang utuh." Sambungnya jujur mengeluarkan isi hatinya dengan air mata yang berlinang membasahi pipinya.


"Benarkah? Kalau begitu ibu tinggal saja disini masih ada kamar kosong kok di rumah ini." Kata Gill senang sekali.


Sontak Anastasya tersenyum di tengah rasa sedihnya, ternyata putranya tersebut sangat menyayanginya dan berharap bisa bersatu kembali sebagai keluarga. "Ibu ingin sekali seperti itu, tetapi ibu ini tulang punggung keluarga. Kalau ibu tidak bekerja siapa yang akan mencukupi segala kebutuhan kamu." jelasnya.


Gill kemudian terdiam sesaat dan merunduk sedih. Tiba-tiba Anastasya memeluknya hangat untuk mengobati luka sedih pada hatinya. "Kamu jangan sedih, ya! Ibu akan selalu mengunjungimu setiap ada waktu." katanya di sambil memeluknya.


"Terima kasih Bu, aku bersyukur memiliki ibu penyayang sepertimu." jawabnya di pelukan.


Kemudian mereka melepaskan pelukannya, "Kamu jangan sedih lagi ya, ibu jadi ikutan sedih melihatmu seperti ini." Ucapnya.


"Aku sudah tidak bersedih lagi kok Bu." Jawabnya sambil mengangkat kepala.


"Mana senyumnya, katanya sudah nggak sedih lagi?" Sindirnya.


Kemudian Gill mulai mencoba tersenyum kembali walau berat sekali dalam hatinya menerima kepergiannya setelah ini. "Nah gitu dong." kata Anastasya sambil memberinya senyuman manis.


"Bu, kemana Calista? Kok tidak ada suaranya lagi?" Tanya Gill keheranan.


"Dia langsung pulang, katanya ada tugas mendadak dari sekolah." Jawab Anastasya mengalihkan rasa penasarannya.


"Ayo buka mulutmu, makanannya masih banyak loh!" Sambungnya.


Anastasya kembali menyuapinya dengan hangat penuh kasih sayang. Mereka menghabiskan waktu yang tersisa dengan saling melepas rindu satu sama lain karena sudah lama tidak bertemu. Sementara itu Calista sedang menunggu Ibunya di dalam kereta kudanya dengan wajah ketakutan setelah mendapat murka dari ibunya.


*Yang terjadi di luar kamar Gill____


"JDUUG!" Anastasya mendorong tubuh Calista sampai mentok ke tembok.


"Apa yang kau lakukan Calista? Kenapa kamu mengambil hal berharga yang adikmu punya." Tanya Anastasya marah padanya.


"Kenapa ibu marah? Itu adalah bukti kalau aku sangat mencintainya." Jawabnya lantang.


"Kurang ajar kamu! Aku tidak pernah mendidik mu untuk mencintai saudaramu sendiri." Kata dengan raut wajah marah.


"Bu sebagian dari diriku adalah Iblis! Dan Iblis tidak mengenal saudara." Jawabnya.


"Apa tujuanmu sebenarnya?" Tanya Anastasya terus terang.


"Karena Gill memiliki wajah yang tampan, aku ingin sekali menjadikannya suami pendamping hidupku. Aku tidak mau kesempurnaannya itu dimiliki oleh orang lain,-


"PLASSS!" Tiba-tiba Anastasya menampar wajahnya dengan sangat keras.


"Kurang ajar kamu, bertahun-tahun aku mendidik mu agar menjadi anak yang berbakti tapi apa hasilnya! Memalukan, kau malah menjadi perempuan murahan!" Katanya marah sekali.


"Pergi kamu dari sini! Kembalilah ke dalam kereta kudamu." Teriak Anastasya mengusirnya sambil menunjuk ke arah kereta kuda yang berada di luar.


"Ingat Bu! Rahasia mu ada di tanganku. Aku bisa saja memberi tahu Ayah kalau aku mau. Kau tidak bisa terus memperlakukan ku seperti ini dan turuti lah apa yang ku mau!" Ucap Calista mengancam balik.


"SHEET!" Dengan cepat Anastasya langsung meraih leher bajunya dan mengangkat tubuhnya ke udara. Dia sangat murka sampai mengeluarkan wujud Valuetans Perfect Queen dengan mata merah menyala dan taring tajam siap mengoyak tubuhnya.


"Dengar, ya! Aku tidak peduli kau anakku atau bukan. Kalau kau tidak mau menuruti apa kataku, bersiaplah kau menjadi santapanku!" Ancamnya balik dengan wajah menakutkan.


Calista sangat ketakutan di dalam kereta jika ia kembali mengingat wajah ibunya. Ia syok dan tidak menyangka ibu yang dia kenal selama ini sebagai sosok yang ramah dan penyayang, memiliki sikap dan tutur kata yang baik ternyata bisa berubah 180° menjadi sosok yang mengerikan.