The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 20 ~ Janji seorang Jenderal perang



Algreed yang tak tega melihat Istrinya bersedih, dia langsung menghampirinya dan menarik tangannya membawanya pergi menjauh dari Gill. Sementara itu Anastasya masih gila dan trauma tidak percaya melihat Gill bisa berubah seperti itu. Ia sangat ketakutan saat melihat sisi lain dari putranya tersebut.


"Prajurit. Seret anak ini menjauh dariku. Buang dia ke jurang kegelapan, jadikan tubuhnya makanan Ruh jahat penghuni jurang tersebut, Cepat!" Bentaknya. Karena ketakutan, para prajurit segera berlari menghampiri tubuh Gill dan menyeretnya pergi.


"Istriku, tenanglah. Ini aku Norman," katanya berusaha menenangkan hati dan pikiran istrinya yang sedang gila. Tetapi Anastasya tetap menjerit dan terus memberontak ingin menyakiti dirinya sendiri, karena merasa kasihan akhirnya Norman terpaksa memukul punuk lehernya dan membuatnya pingsan berharap dia bisa tenang.


Para prajurit yang sedang menyeret tubuh Gill mereka merasa kasihan padanya. "Kasihan Tuan muda, sudah cacat di buang oleh ibunya. Setelah kembali eh malah di siksa dan di bunuh." Gumam salah seorang prajurit sambil terus menyeret tubuh Gill bersama rekannya.


"Diamlah, apa kau mau di bunuh juga. Aku tidak pernah melihat Nona Anastasya semarah itu, tadi itu sungguh sangat mengerikan. Namun setelah ia menggigit tubuh Tuan muda tiba - tiba dia menjadi gila. Aku jadi bingung apa yang sebenarnya terjadi," jawab temannya.


"Keluarga kerajaan memang rumit." dengan senyum rekannya menanggapi.


Setelah sampai di depan jurang mereka segera mengangkat tubuh Gill sedikit tinggi dan mengambil ancang-ancang untuk melemparkannya. "Wushh" tubuh Gill di lempar bagaikan bangkai ke dalam jurang gelap tersebut.


'Maafkan Tuan muda, kami hanya melaksanakan perintah' Kata salah satu prajurit dalam hati merasa kasihan melihat tubuh itu jatuh ke tempat yang dalam dan gelap. Mereka kemudian berbalik dan mulai berjalan pergi untuk kembali ke Istana.


'Gill ayo bangun. Kau belum mati!' Bentak hati kecilnya.


"JDUG JDUG!" Gill langsung terbangun dan lekas membuka matanya, tanpa sadar dia telah berhasil mengeluarkan sayap Dementor nya dan segera terbang menyusuri jurang tersebut untuk mencari ujungnya.


Nampak dari matanya di depan sana terdapat silauan cahaya yang sangat terang menyinarinya di dalam kegelapan. Ia segera bergegas menghampiri cahaya itu. Setelah berhasil sampai daratan Gill kemudian duduk di bawah pohon besar yang teduh mengistirahatkan tubuhnya yang penuh luka sambil meratapi kebenaran dirinya.


'Siapa aku ini sebenarnya? Kenapa semua ini terjadi padaku. Apa yang salah dari diriku?' Pikirnya merenung.


'Kau terkejut bukan setelah tahu kebenarannya. Apakah kau masih berpikir kalau aku ini adalah Iblis dari hatimu yang tersakiti?' Jawab dirinya yang lain.


'Apakah kau sungguh ingin tahu siapa dirimu? 'Tanya dirinya yang lain.


'Sudah saatnya aku tahu tentang diriku. Aku benci terus diperlakukan seperti ini, mereka akan membayar mahal atas apa yang telah mereka perbuat!' Jawab Gill tegas dengan tatapan serius penuh dendam.


'Tidak lama lagi kau juga akan tahu identitas mu dan alasan mengapa kamu di benci. Sekarang ikutilah kata hatimu dan berjalan lah kemana langkah kaki akan membawamu.' Yakinnya. Gill kemudian bangkit dari duduknya dan lekas berjalan pergi tak tahu arah tujuan.


Ia berhenti sejenak di atas genangan air dan menoleh ke bawah ke arah genangan air tersebut. 'Sekarang aku tahu. Ternyata anak baju hitam robek itu adalah aku dan kini aku mengerti kenapa Ia sangat benci kepada ibu. Aku tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini.' Katanya sambil menghadap ke langit dengan hati teguh setebal baja.


Dia lanjut berjalan menyusuri jalan setapak dengan wujud Dementor, dalam hatinya dia menaruh rasa benci luar biasa kepada seluruh Iblis Tirani dan golongannya.


Langkah kakinya terhenti saat ia menyaksikan rombongan warga desa setempat sedang berjalan di depannya. Nampak para warga tersebut sedang mengikuti seorang gadis cantik seolah mengantarkannya menemui calon mempelai pria. Namun dia melihat kejanggalan dimana ada dua orang tua di belakang yang sedang menangis sedih membuat hati Gill menaruh rasa curiga.


Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti mereka dari balik pepohonan. Setelah lama membuntuti akhirnya ia tiba di suatu tempat yang sangat luas. di depan mereka nampak sebuah patung yang sangat besar di bawahnya tertata rapi sebuah sesaji untuk ritual persembahan.


'Apakah gadis itu akan di jadikan tumbal. Kalau benar begitu ini adalah kesempatanku, jangan sampai aku mengacaukannya. Aku akan menunggu mereka keluar...' Katanya dalam hati dengan tatapan mata fokus terus memperhatikan mereka.


"Tidak, kembalikan Putriku. Dia adalah anak satu-satunya yang aku miliki!" Teriak wanita dalam jeratan lelaki tua berusaha menghalanginya mendekati gadis tumbal tersebut.


"Sudah, ini demi keamanan kita. Kau harus rela, anak kita rela berkorban untuk melindungi kita semua. Tolong kau hargai keputusannya!" Kata lelaki itu yang ternyata adalah suaminya sambil terus menghadangnya.


"Tidak Nak. Jangan kau lakukan itu. Ibu sangat menyayangi kamu. Biarkan Ibu yang menggantikan mu di sana!" Teriaknya kencang sekali serak bercampur tangis.


"Berhentilah membuatnya sedih. Mulai cepat ritualnya!" Sahut suaminya sambil terus menahannya.


Gadis tumb itu sempat menoleh ke arah ibunya dengan meneteskan air mata sedih perpisahan sebelum dia berdiri di depan patung dewa itu menurut keyakinan mereka para warga. Ia kemudian melepas semua baju yang ia kenakan dan hanya memakai ****** ***** sebagai simbol pemujaan dan penghormatan kepada mereka para dewa.


Kemudian bayangan hitam mulai terbentuk di depan wanita tersebut dan keluarlah mereka para Iblis banyak sekali dari dalamnya. Gadis itu seketika menjerit histeris melihat mereka para dewa yang datang dengan wajah yang sangat mengerikan. Gadis itu mencoba untuk lari namun gagal karena dihadang dan di tahan oleh beberapa lelaki yang merapalkan mantra sebelumnya.


Para warga juga ikutan membantu lelaki tersebut untuk menahan Gadis cantik yang akan ditumbalkan tersebut hanya ibunya lah yang berusaha sekuat tenaga untuk menolong dirinya dari ritual pengorbanan itu. Sedangkan para Iblis itu terus menerus bermunculan dari dalam lingkaran hitam itu.


"Hai Manusia. Berikan persembahan kalian untuk kami. Apakah kalian ingin merasakan murka dari kami!" Ancam para Iblis tersebut.


"Tidak. Jangan. Lepaskan anakku!" Teriak Ibunya berusaha meraih tangan putrinya walau terpaut jauh dan saling terhalang oleh para warga yang memisahkan mereka berdua.


"Ya Tuhan lihat lah ini. Lihatlah hamba mu ini. Hamba yang tidak berdaya ini ingin meminta belas kasihmu. Berbelas kasih lah pada hamba, tolong selamatkan putri saya." Teriak Ibunya memanjatkan do'a kepada Tuhan karena rasa sakit hatinya dan ketidakberdayaannya dari para warga dan Iblis tersebut.


Tak berapa lama munculah bayangan hitam gagah perkasa dengan kepakan sayap tegas menghalangi cahaya matahari mereka. Para Warga dan Iblis langsung menoleh ke atas melihat benda apa yang menghalangi pandangan mereka.


"Sepertinya mati saja tidak akan cukup untuk membuat kalian merasa takut." Ucap seseorang mengagetkan semuanya mengepakkan sayapnya perlahan turun dari langit.


'Apa itu?" gumam para warga yang penasaran.


"Malaikat!" dengan senyum senang dan tangis haru karena Tuhan langsung mengabulkan doanya. "Terima kasih Tuhan karena telah mengabulkan doaku." sambungnya dengan linang air mata haru menetes membasahi pipi.


Ternyata suara itu adalah Gill yang sedang turun perlahan sambil memberikan sedikit ancaman, tatapannya sangat dingin dengan aura membunuh yang sangat kuat.


"Dementor. Bunuh dia!" Teriak salah satu Iblis panik melihat kedatangannya.


Mereka kemudian berubah ke mode tempurnya dan terbang menyerbu Gill di langit. Suasana riuh terjadi di atas langit saat ini perang pecah antara seorang Dementor melawan ratusan Iblis Tirani. Para warga hanya bisa menyaksikan pertarungan dahsyat mereka dari bawah. Tak berapa lama kepala Iblis tersebut mulai terpenggal satu per satu dan berjatuhan di sekitar tempat persembahan tersebut.


Para warga yang tadinya percaya kepada kekuatan para Dewa (Iblis) seketika langsung terdiam membisu. Mata sampai melotot histeris melihat kepala dari dewa mereka sembah berjatuhan terpenggal satu per satu. Ibu dari wanita tersebut tersenyum bahagia doanya terkabul dan putrinya tidak jadi dikorbankan. Sedangkan putrinya dia senyum-senyum sendiri melihat kedatangan Gill yang heroik barusan.


'Siapa Malaikat yang barusan itu. Dia sungguh sangat luar biasa.' batinnya dalam hati terpukau.


Para warga merasa takut saat melihat Gill turun merendah dan mencengkeram keras leher salah satu Iblis ditangannya. Iblis itu hanya merengek meminta belas kasihan kepada Gill, tetapi dia malah menyiksanya dengan cara menusukan tangannya ke dalam dada Iblis tersebut dan mengeluarkan jantung dari tubuhnya secara perlahan. Iblis itu teriak kesakitan sejadi-jadinya merasakan jantungnya hendak copot dari tubuhnya.


Teriakannya terhenti ketika Gill menarik keras jantungnya secara tiba-tiba hingga terputuslah jantung tersebut dari susunan organ lainnya. Dia melemparkan jantung Iblis itu tepat di depan mata para warga yang sedang menonton nya dan membanting keras tubuh Iblis itu ke arah patung persembahan hingga hancur berkeping-keping.


Anak dan ibu itu kemudian berlari dan saling berpelukan bahagia mereka tidak jadi berpisah. Sedangkan para warga hanya diam seribu bahasa tak percaya melihat kepala para dewa bergeletakan di atas tanah bercampur dengan potongan organ dalam mereka yang terurai menjijikan. "Jadi selama ini kita telah menyembah para Iblis?" Kata salah satu warga yang mulai menyadarinya.


Ibu dan anak itu tersenyum di pelukan masing-masing dan menghadap ke atas menunjukan bahwa mereka berdua sangat berterima kasih padanya. Sedangkan gadis itu malah menatap Gill dengan perasaan suka dan jatuh hati padanya oleh sosoknya yang luar biasa indah.


"Terima kasih Tuhan. Engkau telah menyelamatkan putri Hamba." Kata Ibunya pelan berterima kasih di pelukan anaknya.


Gill hanya menatap mereka berdua dengan tatapan dingin karena dalam hatinya dia tidak bermaksud menyelamatkan mereka berdua tujuannya adalah membantai mereka para Iblis satu per satu hingga musnah semuanya tidak tersisa. Gill kemudian menghadap ke langit dan mengepakkan sayapnya untuk pergi, dia menjatuhkan bajunya yang sudah sobek di antara kepakan sayapnya yang keras.


Gadis itu seketika melepas pelukannya dari sang ibu dan berlari ingin menangkap baju robek dari Gill yang terjatuh terbawa angin tersebut. "Syukurlah aku mendapatkannya." ucapnya senang sekali dengan senyum sambil memeluk kain itu erat di dadanya.


"Apa yang kau peluk itu Nak?" Tanya Ibunya.


Ia kemudian mengangkat kain sobekan baju Gill dan menciumnya penuh cinta sambil membayangkan wajah gagah dari Gill fire barusan. "Bukan apa-apa Bu. Aku hanya senang saja mendapat hadiah dari Malaikat yang telah menyelamatkanku." Jawabnya dengan senyum bahagia diwajahnya.


Kemudian dia menghampiri putrinya tersebut dan ikut melihat apa yang anaknya pegang tersebut. "Aku rela menjadi tumbal untuk Malaikat setampan dia. Aku menyesal telah karena telah mengambil keputusan bodoh. Mulai sekarang aku hanya mau menjadi Abdi kasih untuk Malaikat tadi. Tidak ada yang lain!" Katanya tegas.


"Mau kepada siapa lagi. Patung persembahannya saja sudah hancur," jawab salah satu warga dengan nada putus asa. Mereka berdua tersenyum bahagia mendengar jawaban putus asa mereka dan mereka semua akhirnya beriringan untuk kembali pulang ke desa. Gagal lah ritual persembahan hari ini dan bersyukurlah mereka karena Dewa mereka yang serakah telah berhasil dilenyapkan.