The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
BAB 37 ~ Another Mischelle



"Tok!"


"Tok!"


"Exifilia? Apakah kau di dalam?" Panggil Sanctuary dari luar pintu kamarnya sedikit keras.


Suara itu? Pikir Erfyona terkejut tidak asing mendengar suara tersebut.


Ia langsung diam dari Senda guraunya bersama Erfyona dan Uriel.


"Ada apa, Nona?" Tanya Uriel penasaran melihat Exifilia yang tiba - tiba diam.


"Tunggu sebentar, ya!" Langsung bangkit berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan menghampiri pintu.


"Sreekkk!" Exifilia membuka pintunya perlahan.


"Tuan! ... Tumben Anda datang kemari? ... Silahkan masuk! Kita bicara di dalam," Kata Exifilia terkejut melihat Sanctuary berdiri di depan pintu kamarnya.


"Tidak usah, terima kasih. Aku hanya ingin bertanya, Apakah kau melihat kemana Erfyona pergi?" Tanya Sanctuary.


"Beliau ada di dalam, Tuan. saya sedang mengobati lukanya, Mari silahkan masuk!" Ucapnya mempersilahkannya masuk.


"katakan padanya untuk segera datang menemui Tuan Azazeal diruangan-Nya" Ucapnya pada Exifilia.


"Tuan sudah sadar?!" Tanya Exifilia terkejut senang mendengarnya.


"Iya, namun keadaanya masih sangat lemah. Lebih baik kalian mengunjunginya secara bergantian saja, biarkan beliau istirahat sejenak untuk memulihkan kondisinya." Jawab-Nya.


"Syukurlah, saya senang mendengarnya. Baiklah nanti akan saya sampaikan." Jawab Exifilia sambil merunduk sopan, kemudian Sanctuary berbalik dan lanjut berjalan pergi.


Ia kemudian menutup kembali pintu kamarnya dan berbalik menghampiri Erfyona.


"Nona..." Panggil Exifilia pelan sambil berjalan menghampirinya.


"Ada apa Exifilia, tadi itu siapa?" Tanya Erfyona penasaran.


"Tadi itu adalah Sanctuary Dragon Lord, dia datang untuk meminta Anda menghadap Tuan Azazeal diruangannya." Jawab Exifilia.


"Apakah Tuan sudah sadar?!" Tanya Uriel terkejut.


"Beliau sudah sadar, tetapi kondisinya saat ini masih lemah. Sanctuary Dragon Lord meminta kita untuk datang secara bergantian, agar tidak mengganggu waktu istirahat-Nya." Jelas Exifilia.


"Mari saya antar, Nona!" Ajak Exifilia pada-Nya.


Erfyona pun tersenyum senang menerima ajakannya, ia segera bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar Azazeal. Dalam hatinya dia sudah tidak sabar lagi ingin segera melihat Azazeal untuk kedua kalinya.


Setelah sampai di depan kamar Azazeal...


"Silahkan, Nona! Saya dan Uriel akan menunggu Anda di sini." Ucap Exifilia dengan senyum manisnya.


"Terima kasih, Exifilia." Jawab-Nya langsung membuka pintunya dan masuk ke dalam.


"Sreekk! JDUUGG!" Erfyona masuk dan menutup pintunya kembali.


Nampak dari matanya, Azazeal sedang menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur. Melihat ke atas dengan tatapan mata kosong.


"Permisi Tuan ... Apakah Anda memanggil saya?" Tanya Erfyona pelan.


!!! Pikir Azazeal terkejut langsung terbangun dari lamunannya.


"Kemarilah, aku ingin berbicara denganmu?" Ucap-Nya.


Ia kemudian berjalan menghampiri-Nya dan berlutut di depan tempat tidurnya.


"Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Tuan?" Tanya Erfyona merunduk sopan.


"Mendekat lah, kau tidak perlu takut." Imbuh-Nya.


Erfyona segera bangun dan mulai mendekat ke samping tempat tidurnya, dengan perasaan malu tidak percaya diri.


"Duduklah!" Perintah Azazeal, ia kemudian duduk di pinggir tempat tidur-Nya.


"Apa yang membuatmu datang kemari? Jujurlah, kamu tidak perlu malu ataupun takut." Tanya Azazeal.


sontak Erfyona terkejut mendengar pertanyaan-Nya, ia masih sedikit malu menjelaskan maksud dari kedatangannya.


"Saya datang karena Anda, Tuan." Jawabnya sedikit gugup merunduk menahan malu.


"Karena aku? ... Kenapa?" Tanya Azazeal bingung.


"Maaf sebelumnya apabila perkataan saya ini menyinggung perasaan Anda atau terkesan tidak sopan. Alasan saya datang kemari adalah karena Anda memiliki wajah yang sangat mirip dengan orang yang saya kenal. Ia telah menghilang beberapa abad yang lalu. Karena kedatangan Tuan ke Lockheim beberapa tahun lalu, saya mengira Anda adalah dia." Jawabnya jujur.


"Siapa nama orang yang kau cari itu" Tanya Azazeal penasaran.


"Mischelle." Jawabnya singkat.


"Mischelle?,- kata Azazeal tidak asing dengan nama tersebut dan berusaha mengingatnya kembali.


"Arghh!" Teriak Azazeal kesakitan langsung memegang kepalanya saat ia mengingat sekelebatan ingatannya dahulu.


"Tuan!" Ucap Erfyona panik.


"Mischelle? ... Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, Arghh." ucap-Nya sambil menahan rasa sakitnya.


Dia tahu? ... Apakah Tuan Azazeal pernah bertemu dengan Mischelle? ... duga Erfyona dalam hati.


"Tuan jangan memaksakan diri, kondisi tubuh Anda saat ini masih lemah!" Ucap Erfyona cemas menasihatinya.


"Kenapa kamu mau mencarinya?" Tanya Azazeal pelan merasa bingung.


"Karena saya menyukai Mischelle. ia selalu membuat hati saya merasa nyaman, karena dia saya jadi tahu apa itu arti cinta. Mischelle selalu ada di saat saya sedang membutuhkannya, walaupun dia terlahir sebagai makhluk terlemah di keluarga saya. Awalnya saya sangat membencinya karena saya pikir, dia hanya ingin memanfaatkan saya saja. tetapi seiring berjalannya waktu anggapan saya selama ini kepadanya berubah,-


",- Sebaliknya dia malah berjuang mati - matian untuk melindungi saya. Namun semua itu tidak bertahan lama, setelah dia melindungi saya untuk kesekian kalinya, tiba - tiba dia menghilang entah kemana. Saya masih ingat keinginan tulus hatinya... (Terus melanjutkan ceritanya)


Saat Azazeal sedang mendengarkan Erfyona bercerita, tiba - tiba dia mengingat kembali segelintir kata - kata yang pernah dia ucapkan dulu pada seseorang.


"Dia berkata bahwa keinginannya yang sebenarnya adalah untuk,-


"Membantu menjadikanmu seorang pemimpin tersebut." Sambung Azazeal mengungkapkan segelintir kata yang baru dia ingat.


!!! Sontak Erfyona terkejut mendengar-Nya sampai melotot kedua matanya.


"Bagaimana Anda bisa tahu?!" Tanya Erfyona terkejut penasaran.


"Entahlah, sepertinya dulu aku pernah berkata seperti itu kepada seseorang. tetapi aku sudah lupa dan sama sekali tidak ingat siapa orang tersebut." Jawab Azazeal.


"!!! Anda pernah berkata seperti itu juga?" Tanya Erfyona terkejut.


Aku jadi semakin yakin, kalau Tuan Azazeal itu adalah Kak Mischelle! Tetapi aku tidak boleh terlalu terburu - buru, bisa jadi orang yang dimaksud itu adalah orang lain. Pikir Erfyona sambil melirik ke arah wajah Azazeal mengamati apakah kecurigaannya benar.


"Itu sudah sangat lama, aku bahkan juga tidak yakin, apakah dulu aku pernah berkata begitu." Jawab Azazeal.


Kenapa dengan perasaanku ini? Entah kenapa hatiku merasa sangat yakin kalau Tuan Azazeal adalah dia. Pikir Erfyona galau dengan dugaannya.


"Tuan?" Tanya Erfyona sedikit malu - malu kucing.


"?" Tatap Azazeal penuh tanya.


"Jujur dalam hati, tujuan saya datang kemari adalah untuk mengenal lebih jauh mengenai diri Anda, karena wajah Anda sangat mirip dengan orang yang saya kenal selama ini." Ucapnya menjelaskan maksud hatinya.


"Lalu?" Tanya Azazeal.


"Apakah saya boleh, menganggap Anda lebih dari seorang Tuan?" Imbuh Erfyona.


... Azazeal terdiam sesaat memikirkan jawabannya.


"Maaf,- Ucap-Nya


!!! Sontak Erfyona terkejut mendengar jawabannya.


",-aku tidak layak dengan kedudukan itu." Jawab Azazeal merasa sedih.


"Ken,- kenapa Anda berkata seperti itu?!" Tanya Erfyona terkejut tidak percaya mendengar jawab pesimisnya.


"Ada apa dengan diri Anda, Tuan? ... Anda seperti menjadi orang lain, tidak seperti Tuan Azazeal yang dulu saya kenal" Sambungnya bangkit berdiri sambil meluapkan semua kekecewaannya.


"Erfyona dengar,- katanya pelan.


"Dulu Anda saya kenal sebagai penguasa sejati, semua makhluk tunduk kepada perintah Anda. Ada apa dengan Anda Tuan? Apa yang sebenarnya terjadi,-


"Erfyona!" Ucap-Nya sedikit keras.


!!! Sontak Erfyona terkejut dan diam sesaat merasa malu atas tindakannya yang tidak sopan.


"Erfyona, aku sudah bukan lagi pemimpin Guardian. Aku bukan lagi Azazeal yang dulu kau kenal, inilah aku apa adanya. Aku lelah berpura - pura menjadi orang lain, aku rela dibenci karena sifat asliku yang seperti ini!" Jawab Azazeal menjelaskan semuanya.


Sontak Erfyona terkejut mendengar semua pengakuannya yang menyedihkan, dia hanya bisa marah bercampur sedih dan kasihan pada Azazeal. Ia bingung hendak berkata apa lagi padanya, karena benturan emosi yang sangat kuat akhirnya tubuhnya roboh ke lantai dan menangis meneteskan air mata.


"Tuan, saya menyukai Anda, ... Hiks ... Aku menyukaimu Kak Mischelle ... Hiks ... Hiks" katanya mengungkapkan isi hatinya jujur karena telah kehabisan kata - kata.


Namun Azazeal hanya diam membisu di atas tempat dengan wajah dinginnya.


"Aku sudah sering mendengar kalimat itu, sampai membuatku menjadi bosan dan jenuh." Jawab Azazeal dengan wajah dinginnya.


"Cinta itu tidak akan pernah membosankan Tuan, Cinta itu bermacam - macam. Ada cinta orang tua kepada anaknya, cinta antar sesama pasangan, cinta seorang tuan dan pelayannya, cinta hewan, cinta dengan alam,- ... Kata Erfyona dengan polosnya berusaha menjelaskan secara detail.


"Cukup Erfyona, kamu simpan saja pepatah itu untuk dirimu sendiri. Maaf, tapi aku tidak tertarik mendengarnya." Sahut Azazeal berusaha untuk tidak ngegas.


Sontak Erfyona langsung diam, seketika wajahnya berubah dari yang semula percaya diri penuh semangat menjelaskan soal Cinta, kini menjadi lemas dan murung. Hatinya sedih sekaligus terpukul, mendengar perasaannya di tolak mentah - mentah oleh Azazeal.


"Lalu bagaimana dengan yang tadi, Tuan? Tentang isi hati ini yang barusan saya sampaikan?" Tanya Erfyona.


"Kau boleh saja menganggapku dengan sebutan cinta yang kau yakini itu, tetapi aku akan tetap menganggap mu sebagai seorang pelayan yang sangat aku sayangi, sama halnya dengan Acquila, Sam, dan yang lainnya." Jawab Azazeal bijak menurut perasaannya.


"Benarkah? Apakah Anda tidak akan marah?" Tanya Erfyona terkejut mendengarnya.


Azazeal hanya membalasnya dengan senyum manis seolah tidak keberatan sama sekali dengan keputusannya. dalam hatinya ia merasa bahwa cinta itu hanyalah sepatah kata atau rayuan semata, bukan tentang perasaan ataupun hati.


Alasan Azazeal menerima perasaan Erfyona adalah karena dia tidak ingin membuat hatinya menjadi sedih dan terluka. dia tidak bermaksud memberinya harapan palsu, karena Azazeal sudah menjelaskan sebelumnya.


Seketika wajah Erfyona berubah menjadi sangat senang waktu menyaksikan senyum manis-Nya, dia masih tidak percaya. Seseorang yang dia cari selama ini, kini telah berada di depan matanya.


Dalam hatinya, Erfyona tidak keberatan menjadi seorang pelayan, asalkan dia bisa terus bersama Azazeal. ia kemudian bangkit berdiri dan menatap ke arah wajah-Nya dengan mata yang berbinar - binar, tak kuasa menahan air mata bahagia yang hampir menetes.


Terima kasih Tuhan, akhirnya usahaku selama ber-abad - abad tidak sia - sia. Aku senang bisa kembali melihat senyum indah itu, walau aku tidak tahu, siapa sebenarnya Tuan Azazeal ini. Tetapi semua ini sudah cukup untukku. Ucap Erfyona dalam hatinya bahagia sambil terus menatapnya.


"Fyona?" Tanya Azazeal pelan sambil menatap wajahnya yang berlinang air mata kebahagiaan.


Seketika Erfyona langsung memeluk-Nya bahagia dan mengeluarkan segala isi hatinya selama ini.


"Tuan tolong jangan tinggalkan aku. Aku tidak ingin kehilangan-Mu seperti aku kehilangan Mischelle sebelumnya! Aku sangat menyayangi-Mu melebihi apapun di dunia ini," ucap Erfyona menangis bahagia sambil memeluk tubuh-Nya erat.


perlahan walau sedikit kaku, Azazeal berusaha membalas pelukannya dengan sehangat mungkin. setelah cukup lama mereka berpelukan, akhirnya Erfyona melepaskan pelukannya dan memberanikan diri menatap mata Azazeal dari dekat.


Hatinya sangat terpesona melihat wajah Azazeal yang sangat tampan, dengan kulit putih semu kekuningan yang sangat halus, rambut hitam berkilau, ditambah dengan kedua bola merah dan biru yang indah bagai kristal yang berkilauan.


Sungguh perpaduan yang sempurna. Tuan Azazeal memang sangat tampan rupawan, mungkin hanya aku saja wanita Iblis yang paling beruntung dapat melihat wajah Tuan sedekat ini. Aku sadar, wajah tampannya ini akan banyak memikat hati para perempuan di luar sana. Aku akan berusaha tetap tegar, apabila suatu saat Tuan memilih wanita lain yang lebih cantik dariku, atau membagi hatinya dengan wanita tersebut. pikir Erfyona sambil terus menatap wajahnya.


"Tuan, Anda memiliki sepasang mata yang sangat indah!" pujinya tidak dapat berpaling dari mata indah Azazeal.


tiba - tiba dengan sangat beraninya, ia langsung mencium kening-Nya dengan penuh cinta. Namun yang keluar dari ekspresi wajah Azazeal hanyalah raut wajah yang datar seperti tidak terkejut ataupun tergoda dengan apa yang telah Erfyona lakukan padanya.


Karena Azazeal hanya diam dan tak bergeming, Erfyona menjadi semakin berani untuk mencium keningnya lebih lama lagi.


Aku senang, (meneteskan air mata bahagia) akhirnya aku bisa memberi tanda cintaku ini kepada orang yang paling aku impikan selama ini. orang yang paling berkuasa si seluruh penjuru langit, sekaligus yang paling tampan rupawan. Tuan Azazeal... pikirnya sangat senang.


Hemhh (menghirup bau semerbak dari tubuh Azazeal) baunya harum sekali, entah kenapa bibir ini sangat berat untuk kulepas dari kulit halusnya. kenapa aku merasa tubuhku menjadi panas dan kulitku seperti menebal. pikir Erfyona keheranan.


Jangan - jangan! pikir Erfyona terkejut langsung melepaskan kecupannya.


Syukurlah aku masih bisa mengendalikan nafsuku. tadi itu hampir saja aku menodai Tuan Azazeal. bau harum itu hampir saja menghipnotis ku, wajahnya yang tampan di tambah dengan bau harum semerbak, aku yakin tidak ada wanita yang tahan setelah bersentuhan kulit dengannya. pasti dia akan hanyut terbawa oleh nafsunya. pikir Erfyona sambil mengamati wajah Azazeal.


"Fyona? ... Kamu tidak apa - apa?" tanya Azazeal merasa aneh melihatnya terus memperhatikan wajahnya.


"ah! ... tidak Tuan, saya tidak apa - apa." jawabnya sedikit terkejut.


Erfyona kemudian meraih tangan Azazeal dan menempelkannya ke dadanya memeluknya erat penuh cinta.


"Tuan, saya mohon berjanjilah, Anda tidak akan meninggalkan saya." mohonnya dengan menatap mata Azazeal sambil memeluk tangan-Nya erat.


"Aku akan berusaha untuk memegang janjiku, namun aku tidak berdaya apabila Tuhanku berkata lain." ucap-Nya.


Erfyona kemudian memeluk kembali tubuh Azazeal dan menyandarkan kepalanya di dada-Nya. "Terima kasih, Tuan." ucapnya senang memejamkan kedua matanya untuk ketenangan hatinya.