
Pada suatu pagi hari Ratu Sherlyn dan kedua pengawal pribadinya ( Takeshi dan Catherine ) pergi untuk berburu hewan liar di hutan.
Tidak sengaja mereka melewati jurang yang waktu Michael terjatuh waktu itu.
Mereka mencari jalan lain untuk turun dan memilih berburu di hutan seberang sungai tersebut.
Setelah melewati sungai tersebut mereka memutuskan untuk instirahat sejenak.
di tengah waktu mereka istirahat Catherine melihat sobekan kain bekas terkena darah seseorang yang sudah menghitam lama.
Bercak ini, tidak salah lagi ini darah, jadi dia selamat! Pikir Catherine
Dia kemudian memberi tahu Sherlyn dan Takeshi tentang temuannya tersebut. Mereka segera kembali dan menyusun rencana untuk mencari keberadaan Michael.
Malamnya di halaman depan rumah Enry. Michael duduk merenung sendiri sambil melihat bintang.
Semoga kalian tenang di sana Bibi, Paman, Patricia dan untukmu kawan aku akan membalasnya... Ucapnya dalam hati berdo'a.
Tak berapa lama Enry datang menghampiri Michael.
"Sudah ya, Kak Michael,"
"Jangan bersedih lagi, mereka juga sedih melihat Kakak seperti ini terus," Sambungnya duduk disampingnya.
Tetapi Michael tidak menghiraukan sama sekali apa yang dikatakan oleh Enry. Dia tetap melamun menatap langit dengan raut muka sedih.
Enry kemudian memeluknya dari belakang.
"Emhh!"
Michael terkejut kalau Enry ada disampingnya saking larutnya dalam kesedihan sampai tidak menyadarinya.
"Kak Michael ayo masuk, udaranya semakin dingin di luar."
Michael mengangguk menerima ajakan darinya untuk masuk ke dalam rumah dan segera tidur.
Keesokan paginya Enry membangunkan Michael dengan nada yang halus.
"Kak Michael bangunlah sudah pagi, Ibu sudah menyiapkan makanan untuk kita,"
"Ayo, kita makan bersama - sama."
Michael hanya membalasnya dengan senyuman.
Kemudian Enry langsung bergegas membantunya bangun dan mengajaknya turun. Michael yang melihat makanan hasil masakan Ibu Enry merasa senang bahwa usahanya dulu memperbaiki desa ini tidaklah sia - sia.
Syukurlah desa ini sudah tidak seperti dulu lagi. Pikirnya. Kemudian dia mencoba memakan Sup Jagung buatan Ibu Enry tersebut.
"Wah, ini enak sekali!" Katanya kagum.
"Hebatkan Kak, mama memang pandai memasak." Sahut Tama.
Enry yang melihat Michael makan dengan lahap dia tersenyum senang.
Syukurlah, Kak Michael sudah mulai baikan... Katanya dalam hati.
"Terima kasih Tuan berkat Anda dan Tuan Noah, desa ini sudah tidak kekurangan makanan lagi." Kata Ayah Enry.
Mendengar itu Michael berhenti makan sejenak dan mengingat Noah perasaan bercampur senang dan sedih.
Lihatlah mereka Noah, andaikan kamu disini merasakan kebahagiaan ini.. pikirnya sedih.
Enry memandangnya dengan tatapan kasihan kemudian lekas menyendok makanan dari mangkuknya.
"Ayo Kak Michael buka mulutnya, Aaa!"
"Ayo Kakak buka mulutnya, buka, buka ,buka!" Sambung Tama.
Kemudian dia mulai membuka mulut perlahan dengan sedikit merasa malu kemudian Enry menyuapinya.
"Nyaamm." Kata Enry.
"Yeayy." Kata Tama tepuk tangan dan di ikuti oleh orang tua mereka.
Suasana ini membuatnya senang dan tidak bersedih lagi. Michael benar - benar merasakan kebahagiaan, dan kehangatan sebuah keluarga hari ini. Setelah mereka selesai makan terdengar suara ketukan dari pintu depan. Segera ayah Enry bangkit dari kursi untuk membukakan pintunya.
"Tuan Michael kemarilah, ada seseorang yang ingin menemuimu." Kata Ayah Enry.
Michael yang penasaran segera berdiri dibantu oleh Enry dan segera menghampirinya.
Terrlihat semua warga desa berkumpul di depan rumah Enry dengan membawa berbagai hasil panen mulai dari padi, jagung, gandum, dan lain - lain.
"Tuan Michael tolong terimalah sedikit rasa terima kasih dari kami,"
"Karena tanpa uluran tangan dari Anda dan Tuan Noah kami pasti akan mati kelaparan waktu itu, Silahkan" Kata salah warga desa.
Hatinya terenyuh mendengar rasa terima kasih dari warga dan mulai tersenyum senang.
Dia jadi tidak enak mau menolaknya karena para warga memaksa.
"Terima kasih Semuanya, Aku sangat menghargainya." Balasnya.
Mereka tersenyum senang karena Michael tidak menolaknya.
"Maaf Tuan ini saya buatkan sebuah kaki dan tangan dari kayu yang berkualitas,"
"Saya mendengar kalau Anda sedang terluka parah sampai merengut bagian tubuh Anda,"
"Dengan ini saya berharap dapat membantu meringankan aktivitas Tuan sehari - hari." Kata salah satu warga desa.
"Wahh! Terima kasih pak." Ucapnya senang sekali.
Kemudian Michael segera mencoba memakainya dibantu oleh Enry dan lelaki si pembuat tersebut. Ternyata cocok dan pas pada tubuhnya. Segera dia mencoba menggunakannya untuk berjalan dan melompat. Michael sangat bersyukur dia bisa berdiri dan berjalan kembali walaupun tidak sesempurna dulu.
Para warga yang melihatnya bahagia, mereka juga ikut merasa senang. Seketika Enry langsung berlari dan lompat memeluknya erat. Michael menerima pelukannya dengan sangat senang.
"Syukurlah! Aku senang melihat Kak Michael kembali tersenyum seperti ini." Katanya menatap Michael dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih semuanya, untuk hadiah yang telah kalian semua berikan kepadaku, Aku sangat menghargainya." Dengan membungkuk berterima kasih kepada seluruh warga desa.
"Kami senang jika barang yang kami berikan membuat Anda senang Tuan, kami permisi dulu." Ucap salah satu warga.
Kemudian mereka bubar dan pergi.
"Yah, Enry ingin mengajak Kak Michael jalan - jalan dulu!"
"Iya jangan telat nanti pulangnya, berhati - hatilah kalian berdua."
Disepanjang jalan tengah desa semua warga menyapa Michael dengan senyum di wajah mereka. Mereka mulai membangun rumah secara gotong royong, ada juga yang sedang memeras susu sapi, anak - anak dengan riangnya berlarian bermain.
Michael di ajak oleh Enry berjalan - jalan di tengah hutan. Dia diajak ke berbagai tempat favoritnya.
"Nah disini Kak Michael dulu kakakku mengajarkanku berlatih pedang,"
"Tempat ini sangat bagus, pemandangannya juga indah, Apakah kakakmu masih mempunyai pedangnya?"
"Masih, Dia menyimpannya di gudang,"
Mungkin tidak ada salahnya kalau aku mengajarinya juga teknik bertarung yang kuat, supaya dia tidak berakhir tragis seperti kakaknya dahulu... Pikirnya.
"Baiklah besok aku akan mengajarimu teknik berpedang andalanku."
"Benarkah! Terima kasih banyak Kak Michael." Katanya senang sekali.
"Tetapi dengan satu syarat!"
"Apa itu?" Dengan ekspresi penasaran.
"Kamu jangan bertindak gegabah dengan kemampuan yang kamu miliki, jadilah wanita yang cerdas dan tidak arogan,"
"Emhh," angguknya.
"Enry janji tidak akan menyusahkanmu, Kak." Dengan wajah imut meminta di elus kepalanya.
Michael membalas dengan mengelus kepalanya.
Dia nampak senang sekali dimanja oleh Michael.
Tiba - tiba terdengar suara lapar dari perut Enry.
"Kamu lapar, ya?"
"Hehe, i... iya Kak, Maaf." Katanya dengan wajah malu.
Michael tersenyum.
"Ayo kita berburu hewan di sekitar sini."
"Tetapi aku tidak tahu caranya berburu, Kita juga tidak membawa senjata apapun."
"Sudah ayo, nanti aku ajari caranya."
Michael kemudian mengajarinya cara membuat jeratan untuk berburu. Setelah selesai dipasang mereka memutuskan bersembunyi dan menunggu target buruannya datang.
Setelah lumayan lama menunggu akhirnya seekor **** hutan datang dan menginjak jeratan tersebut.
"Yeay, berhasil!" Teriak Enry senang.
Kemudian mereka keluar dari persembunyiannya dan segera menghampirinya kemudian membawa **** hutan itu untuk mereka bakar. Setelah matang mereka berdua segera menyantapnya. Enry menyantapnya dengan sangat lahap karena terlalu lapar.
Aku baru kali ini memakan daging, tidak kusangka rasanya sangat enak! kata Enry dalam hati.
Michael tersenyum bahagia menyaksikan Enry begitu lahap makannya. Syukurlah kamu senang dan menyukainya, ternyata benar kata Noah kamu memang permata tersembunyi yang sangat berharga... batinnya.
Michael melihat Enry makan mengingatkannya pada Patricia yang memiliki umur yang sama. Tetapi ia harus melupakannya, karena dia sudah tenang di alam sana. Kemudian Enry melihat ke arah Michael dengan memberikan senyum manis penuh makanan di dalam mulutnya. Hatinya bergetar senang sekali akhirnya dia bisa memberikan sedikit kebahagiaan kepada orang lain. Tidak terasa hari sudah semakin sore. Setelah selesai makan mereka membawa sisanya pulang.
Keesokan paginya.
"Kak, Michael, kakak ayo bangun!" Kata Enry membangunkan.
"Katanya kakak mau mengajariku teknik andalan kakak." Sambil duduk di perutnya dan menggenjotnya.
"Kak ayo!"
Dia tidak sengaja menggenjot bagian bawah daerah pribadinya. Michael yang kaget langsung bangun dan kepala mereka saling berbenturan.
"Ouchhh,"
"Kamu ini ngagetin aja!"
"Lagian Kakak sih enggak mau bangun," katanya menggerutu dengan wajah imutnya.
"Iya, iya Kakak dah bangun," sambil mencubit kedua pipinya dan mengelus kepalanya. Enry membalasnya dengan senyum manis senang sekali.
"Ayo kita sarapan bersama, setelah itu ajari aku teknik itu." Katanya sambil menarik tangannya.
Kemudian mereka segera turun untuk sarapan bersama. Selesai makan Michael diajak Enry ke gudang untuk mengambil pedang Kakaknya dan mereka langsung berangkat ke tempat latihannya kemarin. Setelah sampai Enry sangat tidak sabar dan kegirangan mendapat teknik baru dari seorang anak keluarga Josh Hamzah.
"Jadi apa nama Teknik yang akan Kak Michael ajarkan kepadaku?"
"Teknik ini dinamakan Assasination Blade, Aku akan mengajarimu gerakan dasarnya terlebih dahulu."
"Wah nama yang bagus, keren sekali, cepat ajari aku, aku ingin segera menguasainya." Katanya penuh semangat.
Michael terheran dengannya.
Sangat jarang seorang perempuan menyukai teknik berpedang, tetapi dia ini sangat maniak terhadap teknik pedang terbaru. Kebanyakan perempuan kurang suka menggunakan pedang dan lebih memilih Ilmu Magis atau Archer. Michael segera menjelaskan kepadanya teknik dasarnya. Enry sangat memperhatikan waktu ia sedang menjelaskan teknik tersebut.
Setelah selesai teorinya kini tinggal mempraktekannya saja. Michael membantunya berlatih cukup lama dan tak terasa hari sudah siang. Aku menyuruhnya istirahat kemudian kita lanjutkan lagi nanti.
Michael terkesan dengannya baru belajar sesaat tetapi dia hampir fasih untuk gerakan dasarnya. Dia tidak menyangka Enry sangat berbakat dalam menggunakan pedang. Dulu Michael mempelajari teknik tersebut hampir dua hari untuk gerakan dasarnya saja.
Setelah selesai istirahat mereka mulai berlatih kembali. Cukup lama mereka berlatih akhirnya mereka berdua sangat kelelahan dan memutuskan untuk menyudahinya.
"Wah! Bagus sekali Enry, kamu sudah fasih dengan gerakan dasarnya,"
"Besok mungkin kamu akan bisa menguasainya dengan sempurna." Kataku penuh rasa kagum.
"Benarkah? Aku sangat tidak sabar untuk besok." Katanya penuh semangat.
Keringat mereka sangat banyak karena berlatih saling serius. Hari semakin sore dan mereka memutuskan pulang.
Hari kedua berlatih.
Gerakannya sudah mulai lincah.
Michael menjadi semakin sulit menahan serangannya. Cuman kekurangannya kekuatan menebasnya masih lemah. Dia memaklumi itu karena dia seorang perempuan. Tetapi Michael terus memberinya dorongan untuk bisa menyempurnakan teknik ini.
Hari ketiga berlatih.
Michael sangat terkejut dengan perubahan signifikan darinya. Dia langsung menguasai teknik itu dan bahkan lebih sempurna darinya. Dari segi kekuatan dia dapat walaupun dia seorang wanita.
Dari segi gesit dan kelincahan dia juga bisa lebih cepat lagi daripada kemarin. Dari segi prediksi dan fokus dia sangat luar biasa akhirnya Michael memutuskan bahwa dia sudah bisa menguasai teknik ini dengan baik.
"Kerja bagus Enry, Aku tidak menyangka kamu sehebat ini dalam berpedang, Kakak sangat bangga padamu." Kataku penuh kagum.
"Benarkah! Aku sudah bisa menguasainya?" Katanya dengan dengan kelelahan kemudian ia terjatuh berlutut di tanah.
Kemudian Michael mengangkat tubuhnya untuk menggendongnya pulang karena hari sudah sore. Enry memeluknya begitu erat.
"Terima kasih Kak Michael, aku sangat menyayangi kakak" ucapnya lirih di dekat telinganya.
Sesampainya di rumah mereka membersihkan diri dan langsung tidur karena sama - sama kelelahan seharian berlatih.
Malamnya desa tersebut mendapat serbuan anak panah berapi dari hutan sekeliling desa tersebut.
Nampak mereka keluar menggunakan baju jubah serba hitam dan menggunakan topeng.
Mereka tidak segan membunuh para warga yang hendak menyelamatkan diri, mereka memporak - porandakan desa tersebut dengan membakar dan membunuh semua penduduk.
Kedua orang tua Enry yang menyaksikan tengah ada keributan segera masuk ke kamar Enry. Nampak putrinya itu tengah memeluk Michael penuh cinta. Dengan berat hati dia membangunkannya dan memberitahu kalau keadaan desa sedang gawat.
"Tuan Michael, maaf mengganggu Anda malam - malam begini." Kata Ayah Enry membangunkannya dengan wajah panik.
Mereka berdua seketika langsung terbangun dan mendengar suara keributan dari luar seperti teriakan orang bertarung.
"Ada apa, Pak?" Tanya Michael.
Ayah Enry memberitahu Michael dengan berbisik ditelinganya. Sontak Michael terkejut sampai melotot matanya mendengar apa yang dia bisikan.
"Tolong lindungilah anak - anak kami, Tuan." Pinta Ayahnya.
Michael mengangguk percaya diri penuh keyakinan.
"Enry larilah lewat pintu belakang bersama Tuan Michael bawalah juga adikmu,"
"Aku dan para warga akan menghadang mereka." Sambungnya.
"Ayah apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Enry.
Tetapi ayahnya sudah bergegas keluar.
"Sudah Enry percayakan mereka kepada Ayahmu, Sekarang ayo kita kabur," sambil memegang tangannya.
Setelah itu Ibu Enry masuk dengan menggendong Tama yang sedang tertidur.
"Nak tolong bawalah Adikmu pergi dari sini selamatkan dia, Tuhan tau ibu sangat menyayangimu." Ucapnya dengan ekspresi panik dan sedih seketika langsung mencium keningnya.
Enry hanya diam termenung kaget dan bingung tentang situasi malam ini. Kemudian dia tersadar setelah Michael menggenggam tangannya.
"Enry, ambilah pedang tadi, kita akan membawanya untuk berjaga - jaga,"
"Baik Kak!" Seketika dia langsung pergi dengan menggendong Tama.
"Tuan Michael, saya mohon kepada Anda sekali lagi, tolong jaga kedua anak saya!" Katanya memohon dengan cemas dan tak terasa air matanya membasahi pipinya.
"Iya, saya berjanji akan melindungi mereka berdua apapun yang terjadi."
Ibu Enry tersenyum senang mendengar hal itu darinya. Kemudian dia pergi keluar menyusul suaminya. Sedangkan Michael langsung bergegas menyusul Enry.
Akhirnya mereka berdua berlari kabur lewat belakang rumah. Ternyata disana sudah ada sekelompok dari mereka yang sedang sembunyi menunggu mereka berdua dari semak - semak.
Orang yang mengenakan jubah hitam itu kemudian keluar dengan pasukannya dan menembakinya dengan anak panah.
Mereka terus berlari tanpa tahu arahnya.
Michael membiarkan Enry berlari didepannya karena dia sambil menggendong adiknya sedangkan Michael melindunginya dari belakang. Terdengar jelas dera kaki kuda dengan jarak yang tidak terlalu jauh dibelakangnya.
"Shuuut!" Anak panah melesat ke arah Enry.
"Ctinggg!" Ditangkisnya oleh pedang Michael.
"Ouhh!" Kata Enry terkejut mendengar bunyi barusan dan menolehnya ke arah Michael.
"Sudah fokuslah berlari, aku akan melindungimu!" Teriak Michael.
Terima kasih Kak Michael, aku berharap kita bisa bersama terus seperti ini dan berbagi cerita bersama... Katanya dalam hati.
Mereka terus berlari dengan cepat sambil Enry menggendong yang masih tertidur.
"Shuuut... Shuuut!" Dua anak panah melesat dan satunya mengarah kepadanya.
"Ctingg.. tingg!" Tangkisnya.
Tiba - tiba dari langit nampak puluhan anak panah melesat menuju ke arah mereka.
Michael dengan berusaha keras menangkis semua anak panah itu dengan gerakan cepatnya.
Setelah menangkis semua anak panah tersebut dia terus melanjutkan berlari dengan tetap dengan dibelakangnya. Walaupun nafasnya yang sudah sesak terengah - engah karena terus berlari dari tadi dan juga setelah menahan serangan puluhan anak panah barusan.
Apa!.. pikirnya terkejut
Secara tiba - tiba serangan susulan anak panah berjumlah ratusan dari langit mengarah kepadanya dan Enry. Dengan sisa tenaganya saat ini ia tidak bisa menangkis ratusan anak panah tersebut. Akhirnya tanpa pikir panjang Michael segera berlari ke arah Enry untuk melindunginya.
"Bruugh!"
"Ahhh!" Teriaknya kaget.
"Arghh!.." teriak Michael lirih sambil menahan rasa sakit puluhan anak panah menembus tubuhnya.
Tes - tes darah menetes dari mulut Michael mengenai pipi dekat matanya yang tengah memeluk adiknya.
"Kamu,... Tidak apa - apa kan, Enry?" Sambil menahan rasa sakit.
"Kak Michael..." Lekas mulai membuka mata perlahan kemudian melotot sangat terkejut dan tak percaya dengan keadaan Michael yang mengenaskan oleh berbagai puluhan anak panah yang menusuk tubuh Kakaknya tersebut demi melindungi dirinya.
"Tidaaaakkk!" Teriaknya depresi sangat sedih.
*Tidak, aku tidak mau kehilangan seseorang yang aku sayangi lagi, selama ini aku hanya diam menyaksikan mereka tersiksa demi melindungi diriku yang lemah,
Aku lelah, aku lelah menjadi orang yang lemah, kenapa aku harus terlahir sebagai wanita*!!... Gumamnya marah sekali.
Kemudian dia menidurkan tubuh Michael di tanah dan bangkit berdiri sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya bersiap membunuh mereka semua dengan wajah yang sangat marah dan depresi karena dia merasa semua ini karena dirinyalah yang lemah.
Lekas dia mau melangkahkan kakinya tiba - tiba tangan Michael memegang kakinya mengahalangi langkahnya.
"Berhentilah Enry,... Bukankah kamu dulu pernah berjanji kepadaku untuk tidak gegabah," sambil memegangi kakinya.
Dia kemudian menoleh kasihan kepada Kakaknya tersebut dan kemudian berjongkok.
"Tapi Kak, ak--,
"Aku tidak apa - apa," sahut Michael sambil memberinya senyum manis dengan bibir yang penuh darah.
Enry terus menangis bersedih melihat keadaanya yang penuh luka.
"Bukankah melindungi adalah kewajiban seorang Kakak kepada Adiknya? Kalau kamu maju kesana, siapa nanti yang akan melindungi Tama?" sambil menatap ke arah Tama yang sedang lelap tertidur.
"Larilah Enry..." Sambungnya lirih.
"Tidak... Tidak! Aku tidak akan pernah meninggalkan Kakakku lagi," jawabnya meneteskan air mata sambil menggeleng - gelengkan kepala tidak mau meninggalkan Michael.
Michael berusaha memasang muka tenang dan santai supaya dia tidak lagi bersedih dan tegang.
"Sudah, kamu duluan saja, nanti kakak akan menyusulmu." Sambil mengacungkan jari kelingkingnya berniat membuat janji denganya. Seperti sumpahnya dulu kepada Patricia.
"Ayo raihlah jariku, Kakak akan berjan--,
Seketika Enry langsung menarik leher baju Michael dan menciumnya dibibir. Enry ******* bibirnya dan memainkan lidah kakaknya tersebut dengan penuh cinta.
Apa! dia bahkan sampai berbuat nekat seperti ini kepadaku, ciuman ini, Apakah dia menyukaiku? Pikirnya terkejut.
Michael kemudian membalas ******* bibirnya.
Mereka berciuman cukup lama untuk meredakan rasa sedih di hati mereka masing - masing. Setelah lama berciuman akhirnya Enry mulai melepaskan ciumannya.
"Tadi itu ciuman pertamaku loh Kak," sambil mengusapi air liur di mulutnya.
"Kakakku dulu pernah bilang, ("kalau kamu mempunyai seseorang yang sangat kau hargai, dan dirimu condong kepadanya maka berikanlah kepadanya hal yang paling berharga yang kamu miliki, yang tidak akan pernah dia lupakan selamanya.") Jadi Enry minta, Kak Michael tolong penuhi janjimu untuk tidak meninggalkanku, ya?" Sambil menempelkan tangannya ke pipinya.
"Iya, kakak tidak akan meninggalkan Permata kecil kakak ini," sambil mengelus pipi manisnya.
"Janji ya Kak Michael, Kakak akan menyusulku nanti." Dengan mata yang berbinar - binar dan ekspresi wajah penuh harap.
"Iya, Kakak janji." Sambil tersenyum.
Akhirnya dengan berat hati dia langsung menggendong adiknya kembali dan bergegas pergi sambil meneteskan air mata tak kuasa meninggalkannya sendiri.
Tak berapa lama mereka datang.
Michael kemudian berusaha untuk berdiri dan memegang erat pedangnya. Terlihat ada tiga orang lagi yang sampai dengan menaiki kuda dan mengenakan jubah merah kemudian dua orang dari mereka membuka topeng di kepalanya.
"Kau!!"
Wajah itu... Pikirnya
"Itu beneran kalian!"
Terlihat sangat jelas dan dia sangat terkejut dan tidak percaya. Dia adalah orang tersebut adalah Ayahnya Josh Hamzah dan Patricia Josh Hamzah.
Michael tersenyum senang dan mendatangi mereka dengan tertatih - tatih dan berlutut senang sekali di tengah - tengah mereka bertiga.
"Aku senang sekali kalian baik saja,"
Mereka berdua kemudian turun dari kuda mereka dan menghampiri Michael.
"Jleeeb!"
"Huarrggh!" Teriak Michael terkejut dan memuntahkan darah dari mulutnya.
Mereka berdua menusuk kedua paru - parunya secara menyilang. Michael melihat mereka dengan tatapan takut dan bercampur sedih.
"Bagaimana, kabarmu Michael?" Tanya Josh.
Michael hanya terdiam sambil menahan rasa sakit sambil menatap mereka.
"Jawab! Anak keparat!" Teriaknya sambil menjambak rambutnya dan memaksanya menatap dirinya.
"Lihatlah betapa menyedihkannya dirimu!" Celanya.
Tetapi Michael hanya terdiam.
Kemudian Patricia ikut berjongkok didepannya.
"Ayah kau jangan memperlakukan Kak Michael seperti ini," kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantungnya.
"Sini Kak, aku obatin lukamu," sambungnya.
"Arrrggghh!" Teriak Michael kesakitan.
Ternyata benda yang dikeluarkan dari sakunya tersebut adalah sebuah pisau kecil yang tajam.
Yang dia tancapkan ke kulit wajah Michael kemudian menggoreskannya untuk melukai dan merusak wajahnya.
"Oh, maaf Kak, aku terlalu cepat, ya?"
"Baiklah, kalau begitu pelan - pelan saja, ya?" sambungnya.
Kemudian Patricia menancapkan pisau tersebut lebih dalam lagi dan menggoresnya secara perlahan. Michael hanya dapat berteriak merasakan siksaan dari mereka berdua.
"Hahaha, bagus Patricia, terus lanjutkan!" Puji Ayahnya.
"Kenapa?... Kenapa kalian begitu benci kepadaku?" Tanya Michael lirih dengan merunduk.
"Benci? Tidak kami tidak membencimu sama sekali, kami hanya sedikit memberimu arti kehidupan," jawab Josh.
"Arti kehidupan?" Katanya lirih.
Seseorang yang masih menunggangi kuda kemudian beranjak untuk turun dan segera membuka topengnya dihadapan Michael.
"Sherlyn!..." Kata lirih dengan mata terbelalak terkejut.
"Hi Sayang!" Dengan wajah sombong dan liciknya.
Kemudian Sherlyn mengangkat pedangnya, dan menusukkannya ke arah jantungnya.
"Selamat tinggal Michael, Hmhm," dengan sedikit tersenyum senang diwajahnya.
"Huaarrk!" Memuntahkan darah segar kental dari mulutnya.
Pengelihatan Michael perlahan menjadi kabur dan tubuhnya terasa dingin, semua hawa kehidupan pada dirinya perlahan menghilang.
Seperti inikah rasanya?
Inikah rasa yang mencekam itu?
Ini tidaklah buruk bagiku,
........
Maafkan aku Enry aku gagal menepati janji kita, Semoga Tuhanku masih memberiku kesempatan kedua untuk bertemu denganmu lagi, Selamat Tinggal Dunia, Terima kasih untuk sedikit ceritanya... Pikirnya dengan senyum diwajahnya sebelum nyawanya menghilang.
Akhirnya Michael meninggal dunia dibawah tusukan pedang ketiga orang yang sangat dia sayangi dengan wajah dan tubuh yang hancur, dua paru - paru yang tertusuk menyilang serta jantung yang tertembus oleh pedang Sherlyn.