
Disisi lain Komandan sedang mengejar sang Ratu dari belakang, ia terus memanggil namanya 'Ratu Ellise' dan berkata agar Ratu jangan panik. Dia berjanji akan menyelamatkannya meskipun sebenarnya tubuhnya sudah tidak sanggup lagi. karena teriakan itu Pita jadi marah karena merasa terganggu, tanpa pikir panjang ia langsung mengeluarkan busur panah berniat membidiknya dari atas.
'Matilah kau!'ucapnya geram langsung melepaskan anak panah pertamanya.
Meskipun tubuh Komandan sudah terluka parah namun pengelihatannya masih tajam, ia bisa dengan mudah menghindari anak panah yang melesat ke arahnya. Pita menjadi marah karena merasa di permainkan, akhirnya ia menggunakan anak panah sihir yang bisa meledak saat menyentuh tanah atau benda padat lainnya.
Karena kepandaian Komandan mengontrol kuda sangat tinggi dia pun berhasil menghindarinya dan sedikit menerima goncangan efek dari ledakan anak panah sihir tersebut. emosi Pita semakin memuncak karena serangannya berhasil dihindari, ia lalu mempercepat serangannya dengan anak panah sihir yang diperluas area ledaknya.
Hanya dengan lima biji anak panah, Pita berhasil menjatuhkan Komandan tersebut dan kuda yang ditunggainya pun mati seketika. Pita tertawa terbahak-bahak karena serangannya berhasil mengenaiya, 'Kyaha ha ha, rasakan itu brengsek!' ejeknya merasa puas.
'Ratu!' teriak sang Komandan.
Pita melihat gemuruh petir dari arah teman-temannya semakin riuh, ia cemas kalau nanti Gill berhasil menyusulnya. dia lalu memacu gajahnya untuk berjalan sedikit cepat, 'Sial, hewan ini benar-benar lambat!' gerutunya dengan wajah panik hingga keringat mengucur di dahinya.
Pita terkejut mendengar gemuruh petir yang sangat keras dari arah temannya. dia semakin takut dan panik sampai tidak berani menoleh ke belakang, ia terus mencambuk pantat gajah yang ia tunggangi dengan sangat keras supaya larinya bertambah cepat. tapi sayang usahanya tersebut tak membuahkan hasil sama sekali, gajah itu tak sedikitpun bertambah cepat karena pada dasarnya ia bukan hewan tipe pelari.
'Ayolah, berjalan lah lebih cepat!' gumamnya dalam hati panik.
Saat dalam kepanikan Pita merasakan aura kematian yang sangat menakutkan dari Gill. ia lalu menoleh ke samping dan terlihat Gill tengah terbang melesat ke arahnya sambil mengayunkan pedangnya, dengan sigap Pita langsung melompat mengindari serangannya dan meninggalkan Ratu di atas Gajah.
SLASSH!
Tubuh gajah tersebut langsung terbelah menjadi dua bagian dan jatuh lah Ratu dari punggung gajah tersebut. ia berteriak dalam gumamannya dengan mata mendelik takut jatuh dari ketinggian. melihat ada korban yang tidak bersalah dari serangannya, Gill langsung menukik ke bawah menyambar tubuh sang Ratu untuk di selamatkan.
Dari raut wajahnya terlihat Ratu tersebut sedikit merasa takut pada Gill. tapi seketika rasa takut itu menghilang saat ia melihat mata biru indah yang Gill miliki, dia langsung takjub oleh warna biru kristalnya. dalam hati ia bertanya-tanya 'Siapa ia sebenarnya' Ratu yakin kalau yang menyelamatkannya itu bukan Manusia tapi Malaikat.
Selain sepasang mata yang indah, Manusia tidak mungkin memiliki sayap perkasa sama sepertinya. Manusia adalah makhluk berakal yang paling lemah di antara dua ciptaan Tuhan yang lain yakni, Iblis dan Malaikat.
Ratu sangat penasaran siapa wajah di balik jubah hitam tersebut, tak kehabisan akal sang Ratu memutuskan untuk mencium baunya dan akan selalu mengingatnya jika suatu saat ia bertemu kembali dengan orang yang memiliki ciri yang sama.
Setelah mendarat ke tanah Gill langsung menjatuhkan tubuh Ratu dan berbalik menatap tajam ke arah Pita. Ratu terkejut dan tidak menyangka tubuhnya akan langsung dijatuhkan begitu saja, baru kali ini dia perlakukan tidak seharusnya oleh orang yang menyelamatkannya. tapi dia sadar posisinya saat ini tidak ada apa-apanya di banding orang yang berdiri di depannya itu.
Pita langsung mengeluarkan tongkat sihirnya dan menggenggamnya, 'Jika dia berhasil sampai disini itu tandanya mereka bertiga sudah mati. aku harus berfikir, bagaimana aku bisa selamat darinya. jika mereka bertiga dapat dikalahkan dalam hitungan menit maka sudah tidak diragukan lagi, pria ini sangat kuat. Dia bukan tandinganku!' pikirnya.
Pita langsung mengambil langkah mundur bersamaan dengan kaki Gill yang mulai berjalan maju, saat ia mulai berlari Pita jadi panik dan langsung memanggil semua bawahannya mulai dari Skeleton sampai para Monster dengan tinggi 2,5M berkepala banteng. Gill langsung berlari cepat sambil menjentikan jempolnya, mengeluarkan pedang merah muda dari sarungnya.
'Bunuh dia!' perintah Pita pada bawahannya sambil mengarahkan tongkatnya ke Gill yang sedang berlari.
SWRIINGGH!
Sekali tebas tulang para Skeleton langsung hancur berantakan, rusuk dan tengkorak mereka terpisah satu sama lain. dengan gesit Gill langsung memenggal kepala Minotour itu satu per satu lalu melompat dari pundak Minotour satu ke pundak lainnya mengincar kepala mereka. melihat bawahannya yang mulai berkurang karena keganasannya, Pita lalu mengeluarkan busurnya dan menghujaninya dengan anak panah beracun.
Setelah meratakan para Minotour kini giliran Elder Lich, yakni Skeleton dengan kemampuan sihir api. jumlah mereka memang tidak sebanyak Skeleton biasa, hanya belasan saja. bagi para Kesatria atau Komandan Istana, situasi bertarung ini sangat sulit. mereka harus bisa menghindari bola api para Elder Lich, sekaligus panah beracun yang terlontar dari busur Pita.
Namun Gill bukan lah Manusia, ia memiliki kekuatan luar biasa yang tidak dimiliki oleh Guardian lainnya. baginya semua serangan itu tak ada artinya, terbukti ia bisa menghindar dan menangkis semua serangan itu tanpa terluka sedikit pun. tidak sampai satu menit semua Elder Lich berhasil dia kalahkan, Gill lalu berjalan pelan menghampiri Pita yang sudah terpojok.
Sesekali ia memutar pedangnya penuh gaya berniat memenggal kepalanya, kaki pita bahkan sampai bergetar karena ketakutan. namun diam-diam ia masih memiliki kartu As. dia lalu memanggil bawahannya yang terakhir berwujud Zirah Kesatria dengan pedang besar di genggamannya, 'Dengan ini kau pasti akan mati, ha ha ha!' ancamnya bangga.
Rupanya dia hanya ber-akting ketakutan supaya Gill lengah dan menganggapnya remeh, terbukti rencananya itu berhasil. Gill tidak dapat mengelak saat Zirah Kesatria itu mengayunkan pedangnya, ia menahannya dan terhempas mundur cukup jauh. ia lalu bangkit dan mengamati Zirah yang tingginya 5M tersebut.
'Bagaimana rasanya terhempas, sakit bukan ha ha ha' ejeknya dengan mata melotot kegirangan, ia senang karena bisa melawan Gill balik meskipun serangan itu tak berpengaruh apa-apa padanya, 'Bodohnya kau karena mengira aku lemah, aku ini lebih kuat daripada mereka bertiga!' tegasnya dengan bangga.
Gill lalu menancapkan pedangnya ke tanah dan mengangkat tangan kananya di atas kepala. seketika petir bergemuruh di langit dan menyambar tangannya, 'Tombak busuk mu itu tidak akan bisa mengalahkan Malaikat maut Mu!' ledeknya penuh percaya diri. Pita langsung memerintahkan Zirah Kesatria itu untuk maju, begitu pula dengan Gill yang berlari cepat dengan Egamoosa di genggamannya.
JDARR!
Dengan satu kali sambaran petir Zirah tersebut langsung rontok berjatuhan, namun ada satu hal yang membuat Gill terkejut yakni Zirah itu kosong tak ada tanda-tanda orang di dalamnya. diluar dugaan semua bagian Zirah yang rontok bisa utuh dan bersatu kembali seperti sedia kala, 'Sudah ku bilangkan, Kau tidak akan bisa mengalahkan Malaikat maut Mu!' dengan senyum meremehkan.
'Tuan apa Anda melihatnya?' tanya Froast Dragon.
'Ya, wanita itu memulihkan Zirah dengan cincin merah yang melingkar di jarinya' jawab Gill.
Gill lalu mengangkat Egamoosa di atas kepalanya dan hilang lah tombak itu dalam sekali kilatan petir. dia lalu balik mencabut pedang sebelumnya dan mengaktifkan mata terkuatnya, Greatest Knight untuk mengeluarkan kekuatan besarnya yaitu memperlambat waktu. Gill tidak ingin tenaganya terbuang sia-sia hanya untuk melawan makhluk bongkar pasang, ia lalu berlari dan menebas kepala Pita dari belakang.
Kepala pita langsung jatuh menggelundung ke tanah dengan mata mendelik karena terkejut, karena pengendalinya sudah mati otomatis Zirah Kesatria tersebut rontok kembali tak ada sihir yang mengendalikannya. Gill lalu berjalan menghampiri Ratu sambil membawa pedangnya. Ratu sedikit takut padanya karena melihat pedangnya yang berlumuran darah bekas pemenggalan.
Gill lalu menancapkan pedang itu di tanah, tepatnya antara pinggang dan tangannya yang terikat di belakang. dia lalu mengelurkan sayapnya dan mengepakkannya keras, terbang kembali menembus awan. Ratu lalu menggesekan tali pengikat tangannya itu pada bagian pedang yang tajam, setelah terlepas dari semua ikatan ia lalu melepas simpul kain yang menyumpal mulutnya.
Ratu lalu berdiri dan tidak sengaja menemukan ciri-ciri baru dari orang yang menyelamatkannya, yakni helai rambut putih yang rontok saat ia mengepakkan sayapnya keras. dia lalu mengambilnya dan memperhatikannya untuk beberapa saat, 'Malaikat itu berambut putih, warna matanya biru kristal, dan baunya harum semerbak tak pernah ku kenal sebelumnya' katanya sambil mengeluarkan kain merah dari dalam saku dan meletakkan helai rambut itu di dalamnya.
Ratu lalu melipat kain tersebut rapat dan memasukannya kembali ke dalam saku. dia juga mencabut pedang merah muda tersebut dan berkata, 'Indah sekali!' ucapnya terpesona melihat warna merah mudanya yang memantulkan cahaya.
'Pedang ini akan kusakralkan di Istana dan akan ku gunakan untuk melantik jenderal yang naik pangkat. Semoga suatu saat aku bisa bertemu dengannya kembali dan mengucapkan terima kasih atas pertolongannya ini' sambungnya lalu mengeluarkan kalung salib dari balik leher bajunya dan menciumnya, tanda ia bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan padanya. Dia lalu mengambil sarung pedang yang tergeletak di tanah dan menyarungkannya, setelah itu ia pergi.
(Paginya di dalam kelas 1B)
Vega dibuat jengkel oleh teman sekelasnya yang gelud di pagi hari, kedua siswa laki-laki itu saling adu jotos satu sama lain karena salah siswa tidak terima pacarnya di ambil oleh cowok lain. Vega langsung menghembuskan nafas panjang, 'Ini masih pagi loh' ucapnya pelan menghampiri mereka berdua.
'Berhenti, ada apa ini?' ucap Vega tegas, namun mereka berdua tak berhenti dan terus melayangkan pukulan satu sama lain. dari matanya Vega melihat kalau gadis yang sedang diperebutkan oleh kedua siswa itu nampak sedikit tersenyum melihat perkelahian itu 'Dia!' gumam Vega mengenali wajah gadis tersebut.
Gadis itu ternyata adalah siswa yang sama dari kelas 1C yang dahulu kepergok oleh Vega berhubungan **** di kelas 1B. tepatnya adalah awal Vega dan Gill bertemu, 'Apa yang kau lakukan disini, Keluar. kau bukan dari kelasku' ucap Vega tegas.
Gadis itu malah terseyum seolah meremehkannya, 'Memangnya kamu siapa menyuruh ku keluar seenaknya, aku adalah siswa di sini. Terserah aku dong mau pergi kemana' jawabnya lengus membuat tangan Vega mengepal keras.
Ia berusaha menahan amarahnya terlihat dari genggaman tangannya yang mulai melemas, 'Aku tidak akan mengulangi perkataanku, keluar sekarang atau kuseret paksa!' ancam Vega.
Gadis itu malah tertawa dan membalasnya dengan kata-kata ejekan, 'Oh kau berhasil membuatku takut, atau mungkin kau tidak tahu siapa aku. Biar ku beritahu supaya gadis bodoh sepertimu tidak sombong dan,-
PLASSH!
Vega menamparnya keras sampai ia terjatuh, 'Aku tidak peduli siapa kamu. Asal kau tahu aku adalah ketua kelas disini jadi aku berhak menindak tegas siapa saja yang membuat kegaduhan!' tegasnya.
'Beraninya kau!' ucapnya marah sambil memegang pipinya yang merah, bekas tamparannya 'Joe, Rudy hajar wanita ini. Dia sudah kurang ajar kepadaku!' perintahnya kepada dua siswa yang saling bertarung.
'Kalian jangan terpancing, dia hanya memanfaatkan kalian,- pukulan keras langsung mendarat di perut Vega hingga ia muntah darah, seketika tubuhnya tumbang di lantai. Wanita tersebut langsung menertawainya, 'Laki-laki itu memang sangat bodoh, mudah sekali diperdaya. Kau sudah lihat kan, Tak ada yang bisa menghentikanku disini ha ha ha!' ucapnya congkak.
'Habisi dia!' perintahnya. mereka berdua menganguk dan mulai malayangkan pukulan. Vega langsung menutup kedua matanya, takut menerima pukulan tersebut.
Pagi itu Greey dan Indyra tidak sengaja bertemu di depan gedung sekolah, mereka saling sapa satu sama lain dan memutuskan untuk masuk ke kelas bersama. di jalan Greey bertanya 'Sudah berkurang berapa hari masa hukuman Vergile?' Indyra menjawab baru tiga hari ini, 'Empat hari lagi dia akan kembali' sambungnya.
Greey merasa bahwa kelas terasa sepi tanpa kehadirannya, Indyra pun juga merasakan hal yang sama terlebih lagi dia adalah orang yang duduk satu meja dengannya. mereka berdua berharap waktu hukuman itu segera berakhir dan Gill bisa masuk seperti biasanya.
Saat mereka sedang bercanda, tidak sengaja Greey melihat seorang siswa laki-laki sedang menyeret rambut murid perempuan dengan kejinya. bukan hanya Greey dan Indyra saja yang melihatnya namun semua murid yang datang pagi itu juga menyaksikannya. setelah lewat di depan mereka berdua, barulah nampak wajah gadis yang ditarik rambutnya tersebut.
Ia adalah gadis yang sama yang cekcok dengan Vega sebelumnya. merasa kasihan dengan gadis itu Greey lalu menghentikan lelaki tersebut, 'Lepaskan dia, semua masalah bisa dibicarakan dengan baik-baik' ucapnya.
Lelaki tersebut berhenti dan menoleh ke belakang, 'Sebaiknya kau jangan ikut jika tidak tahu masalahnya!' ancamnya dengan tatapan tajam. dia lalu pergi sambil terus menyerat rambut gadis tersebut. gadis tersebut berteriak keras sambil memohon pertolongan kepada Greey.
Saat Greey hendak membentaknya, dia terkejut mendengar Indyra berkata 'Vega kamu kenapa?' dengan nada yang cemas. Indyra dan Greey langsung menghampiri Vega yang terkulai lemas di atas tandu, 'Vega apa yang terjadi padamu?' tanya Greey khawatir.
'Aku bermaksud menghentikan dua orang siswa yang sedang berkelahi, tapi malah aku sendiri yang di keroyok' jawabnya masih sempat bercanda saat dirinya terluka.
'Apakah pria itu tadi yang menghajar mu?' Tanya Greey. dia menjawabnya bukan, saat Greey ingin bertanya lagi tiba-tiba bel masuk berbunyi. 'Apakah kau terluka parah?' tanya Indyra.
'Tidak, ini hanyalah luka ringan. aku tidak apa-apa. sebaiknya kalian berdua segera masuk kelas sebelum wali kelas kalian datang' Jawab Vega.
'Istirahat nanti kami akan menjenguk mu!' ucap Greey berjanji. Vega tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu mereka berpisah.
(Jam Istirahat di dalam UKS)
Karena telah berjanji sebelumnya akhirnya mereka berdua datang setelah bel istirahat berbunyi, mereka tidak datang berdua melainkan mengajak Alice Yumini. Indyra yang mengajaknya saat mereka sedang dikantin, membeli buah tangan untuk Vega.
'Hai Vega!' sapa Indyra ramah berjalan menghampirinya lalu saling peluk pipi, nampak hubungan mereka sudah sangat dekat meskipun belum lama kenal. 'Aku kira kalian hanya bercanda' ucap Vega terkejut melihat kedatangan mereka bertiga.
'Kau ini bagaimana, mana mungkin kita berbohong. Teman itu saling tolong menolong, suka maupun duka' jawab Indyra, 'Ini aku bawakan soto untuk mu, semoga saja kamu suka' sambungnya mengeluarkan mangkuk yang tertutup dari dalam kantong.
'Apaan sih repot-repot, pake bawain soto lagi' ucap Vega hendak menolaknya halus karena merasa tidak enak, 'Kau harus memakannya, kami sudah membelikannya untukmu' balas Indyra membuka tutup mangkuk tersebut.
'Baiklah jika kau memaksanya. Terima kasih, aku berhutang semangkuk soto padamu' ucap Vega membuat Indyra tertawa lirih. ia berkata tak ada hutang dalam bentuk makanan, 'Saat ini sumber makanan melimpah ruah, tak ada yang namanya hutang. Sebentar ya, aku tuangkan kuahnya' sambung Indyra melepas tali yang mengikat plastik berisi kuah tersebut.
'Oh iya Vega, perkenalkan dia Alice Yumini. Teman satu kos Vergile' ucap Greey memperkenalkannya. Alice sedikit membungkuk sopan saat ia diperkenalkan oleh Greey. mendengar kata 'Teman satu Kos' membuat Vega tersedak karena terkejut.
'Pelan-pelan Vega, jangan terburu-buru' ucap Indyra mengusapi bibirnya yang basah dengan kuah soto.
'Apa, bukan kah itu melanggar aturan!' ucap Vega terkejut. Indyra menjelaskan kalau Kos campuran seperti itu sudah biasa di sini. ia menambahkah kalau Kos yang dia tinggali juga merupakan Kos campuran, 'Salah satu alasan kenapa banyak orang memilih Kos campuran adalah biaya sewanya yang murah dan peraturannya juga tidak terlalu ketat' sambungnya.
'Apakah Vergile sudah pernah menodai,- Alice langsung menyangkal ucapan Vega tersebut, dia percaya bahwa Vergile bukan orang yang seperti itu 'Vergile adalah orang yang baik, aku mengajaknya ke Kos karena hari itu sudah malam dan dia belum dapat tempat untuk menginap. Ia pernah menolongku sebelumnya jadi aku ingin membalas budi padanya' ucap Alice.
'Vergile pernah menolongmu?' tanya Vega penasaran. Alice lalu mengangguk mengiyakan pertanyaanya itu, dia lalu menjelaskan semuanya dari awal mereka bertemu.
'Jadi kalian berdua adalah korban Bully yang diselamatkan oleh Vergile?' tanya Vega terkejut. Mereka berdua mengangguk serempak.
'Ayo Vergile pulang lah. aku ingin tahu, bagaimana kau melakukan semua itu' ucap Greey dalam hati.
'Apakah kalian menyukainya?' tanya Vega mengejutkan mereka berdua. Alice menyangkalnya dengan beralasan hanya ingin membalas budi, sedangkan Indyra berbohong dengan beralasan tidak berfikir sampai sejauh itu.
'Apakah Vergile itu masuk dalam lelaki idaman kalian?' Tanya Vega membuat mereka mulai merasa tidak nyaman. Alice menjawab iya namun tidak semua, dari segi sikap ia memang suka tapi dari fisik tidak. Indyra juga sependapat dengannya, ia menambahkan kalau Vergile itu tidak peka dengan kode cewek.
'Sudah jangan bahas itu, tidak enak ada Greey di sini' ucap Indyra pelan bermaksud mencandainya. 'Oh iya, hanya dia saja ya yang cowok disini fu fu fu' timpal Alice mencandainya.
Greey pun mulai ada pikiran iseng balik mengerjai mereka 'Bagus dong, tak ada saingan disini. Kalian bertiga adalah miliku' ucapnya membuat mereka baper.
'Memang ya laki-laki itu tidak pernah puas hanya dengan satu wanita' ucap Indyra menggodanya, 'Tapi kalau dipikir-pikir kita ini seperti perempuannya Greey bukan sih, kita kan sering hangout bareng dan hanya Greey saja cowonya' tambah Vega.
'Mau bagaimana lagi, aku tidak percaya pria lain selain mereka berdua. saat ini Vergile masih kena Skors dan hanya Greey lah yang ada' ucap Indyra.
'Maaf ya Greey, kami para cewek memang suka bergosip seperti ini. kami gengsi mengungkapkan perasaan kami dan hanya memberikan kode khusus jika memang ada cowok yang mampu menarik hati. Kamu sebagai cowok juga harus peka terhadap kode yang diberikan, jangan seperti Vergile yang tidak mau berurusan dengan hal rumit' sambungnya.
'Iya nanti aku akan berusaha memahaminya, tapi untuk sekarang tidak dulu. aku ingin fokus berlatih agar bertambah kuat, aku masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan Vergile dan Emilia' jawab Greey.
'Harga dirinya sebagai cowok pasti hancur saat kami membicarakan kehebatan Vergile di depannya' batin Indyra dalam hati merasa bersalah.
'Kamu iri ya dengan Vergile?' tanya Vega terus terang membuat Indyra dan Alice terkejut. Greey menyangkalnya, malahan dia ingin seperti dirinya yang gagah berani menolong siapa saja.
'Aku tahu kok kemarin itu kamu berniat menolongku. Tapi kakak kelas itu memang bukan tandingan kita, dia sudah berpengalaman dan skill bertarungnya juga di atas kita semua' ucap Alice menepuk pundaknya dari belakang.
'Setidaknya kau pernah bertarung melawan siswa kelas dua, meskipun kalah kamu sudah tahu seberapa besar kekuatan mereka. Tanpa kamu sadari kau sudah satu langkah di depan Vergile, itu bisa memotivasi dirimu untuk terus bertambah kuat' tutur Indyra.
'Ya kamu benar, pukulan pria itu sungguh sangat kuat. minimal aku harus memiliki kekuatan yang sama sepertinya jika aku ingin diakui' jawabnya, 'Tapi pria berambut merah itu, dia mengalahkannya dalam sekali serang. Pria itu sangat mengerikan!' sambungnya penasaran.
'Maksud mu Senior Fain?' tanya Vega.
'Jadi namanya Fain?' ucap mereka bertiga serempak terkejut.
Vega juga terkejut mendengar mereka berkata serempak, 'Iya, itu benar. dia termasuk orang yang disegani di angkatannya, jarang sekali aku mendengar ada orang yang berani macam-macam dengannya' jawabnya.
'Apakah mereka berdua satu angkatan?' tanya Alice.
'Tidak, Fain itu kelas tiga sedangkan orang yang dia hajar itu kelas dua' jawabnya, 'Aku yakin dibalik kekuatan besarnya itu, dia pasti sudah meneteskan banyak darah dan keringat saat berlatih dengan keras. menghabiskan ribuan jam bahkan puluhan tahun untuk memperkuat tubuhnya' sambungnya.
'Semuanya tidak ada yang Instant Greey. ada tahapannya, ada proses yang harus kau lalui' ucap Indyra.
'Aku mengerti' jawabnya singkat mengangguk.
'Untuk urusan asmara kau tidak perlu khawatir Greey, banyak wanita yang tergila-gila padamu terlebih jika mereka tahu siapa Master mu' ucap Vega.
Greey tersenyum dan menjawab, 'Tidak, aku tidak ingin dipandang seperti itu. aku ingin mencari yang tulus, menerima aku apa adanya. Dia ya dia, aku ya aku, kami berbeda. jika aku menggunakan status dalam mencari pasangan dan ternyata aku tidak sesuai dengan yang ia kira maka lahir lah kekecewaan yang akan membuat hubungan kami hancur'
'Kau termasuk pemikir dalam Greey, aku bahkan tidak berfikir sampai sejauh itu' puji Indyra.
'Semuanya ada plus minusnya, saranku jangan tangan terlalu bangga dengan apa yang bukan milik mu sendiri' tutur Greey dan mereka pun lanjut mengobrol membicarakan hal lain.