
"Setelah ini kau akan pergi kemana, Gill? Apa iya kamu akan langsung memulai aksimu, kau bahkan belum tahu seluk beluk dari Underworld. Bertindak tanpa persiapan yang matang itu akan membahayakan nyawamu sendiri, loh!" Kata Erfyona sambil menenteng tangannya seperti anak kecil.
Sampai kapan dia terus memegangi tanganku, ini sungguh membuatku risih. Yang tadi itu hampir saja, untung mereka semua polos. Coba kalau tidak, aku bisa jadi aib yang memalukan bagi Tuan Azazeal. Pikirnya masih terngiang di kepalanya dan merasa malu sendiri.
Tidak, aku tidak akan mempermalukan Tuanku. Dia sudah menaruh kepercayaan yang besar padaku. Aku tidak akan menyia-nyiakannya. Sambungnya.
"Gill!" Panggil Erfyona sedikit menarik tangannya.
"Eh,!! Iya!" Jawab Gill terkejut tersadar dari lamunannya.
"Kau ini!" Ucap Erfyona kesal merasa diabaikan.
"Dari tadi kau mendengarkan-Ku, Tidak?" Tanya Erfyona dengan nada kesal.
"Tidak. Memangnya ada apa?" Tanya Gill datar.
"Dasar kau ini! Sudah lupakan saja." Jawabnya ngambek.
Kenapa sih dengan wanita ini, aneh sekali. Dikit - dikit marah, dikit - dikit ngambek, membuatku kepalaku sakit. Memahaminya mungkin butuh waktu ribuan tahun, tidak mungkin bisa lebih. (Menghirup nafas panjang) Hahh... Memahami wanita sepertinya hanya akan membuang waktuku yang berharga. Pikirnya dalam hati terus memperhatikan wajahnya tang cuek.
Lebih baik sekarang aku memikirkan cara untuk memulai rencana besar-Ku ...(berfikir sejenak)... Oh iya, Kak Fyona, kan tahu banyak mengenai ras dan marga para Iblis! Aku bisa memanfaatkan pengetahuannya itu untuk memburu mereka. Yah, itu ide yang sangat bagus! Pikirnya menemukan ide cemerlang.
"Ehemh!" Memberi kode Erfyona untuk memperhatikan dirinya, namun usahanya sia - sia dan Erfyona masih saja cuek kepadanya.
Ergghh!!! Apa sih maunya wanita ini! Ucap Gill kesal merasa diabaikan.
Aku benci melakukan ini. Ini sangat memalukan bagiku, tapi kalau tidak... Pikir Gill bingung mempertimbangkannya.
"Kak Fyona... Kakakku yang manis. Aku boleh tidak bertanya sesuatu padamu?" Rayu Gill berusaha meluluhkan hatinya yang kesal.
Namun Erfyona diam saja dan tetap memasang wajah cuek, seketika hal itu membuat Gill sangat marah. Hatinya terbakar oleh api amarah karena dia merasa telah di rendahkan.
Errghhh! Aku sudah mengalah sampai mempermalukan diriku sendiri dan ini balasannya,?! Andai saja Tuan tidak menghalangiku, pasti sudah ku parut wajah menjengkelkan itu! Ucap Gill kesal dan marah namun tetap berusaha untuk menahannya.
Fufufu... dia sangat imut kalau sedang marah. Salah sendiri kau mengabaikan-Ku adik manis. Ucap Erfyona dalam hati sedikit melirik ke arah Gill menahan diri dari nafsu gemesnya yang ingin mencubit pipinya di saat sedang imut - imutnya.
"Aku butuh bantuan-Mu mengumpulkan informasi mengenai para Iblis itu. Apakah kau mau membantuku?" Tanya Gill terus terang, namun Erfyona tetap saja cuek dan enggan menjawab pertanyaannya.
"Jadi begitu, ya..." Ucap Gill pelan.
Maaf ya, Gill. Sepertinya kau harus bekerja keras untuk membuat hatiku luluh kembali. Ucap Erfyona dalam hati mengerjainya.
Namun di luar dugaan, Gill malah memberontak dan melepaskan lengan tangannya dari cengkeraman Erfyona yang sontak mengejutkan dirinya.
"Kau hanya membuang waktuku saja! Kalau kau memang tidak mau katakan saja, Tidak. Itu lebih baik, dari pada hanya diam tanpa kepastian." Ucap Gill balik marah.
"Kalau begitu aku akan pergi mencaritahunya sendiri,-
"Tunggu Gill!" Sahut Erfyona langsung meraih tangannya kembali berusaha menghentikan langkahnya.
"Maafkan aku, yah? Tadi aku hanya bercanda." Sambungnya.
"Bercanda? Hemh! Lucu sekali." Jawab Gill.
"Kau jangan marah lagi dong, nanti aku cub,- langsung menghentikan tangan Erfyona yang hendak mencubit pipinya dan mencengkeramnya keras.
"Dengar! Aku tidak suka kau berbuat seenaknya padaku. Aku mengalah karena aku mengira kau bisa berguna untukku tapi ternyata aku salah. Kalau saja Tuan tidak mengasihani-Mu. Kau mungkin sudah habis waktu itu!" Ancam Gill marah melotot tajam ke arahnya.
"Sakit, lepaskan tanganku!" Rintihnya berusaha melepaskan cengkeramannya, kemudian Gill membanting tangan Erfyona keras.
"Aduhh..." Rintihnya sambil memijat bekas cengkeramannya.
"Iya - iya aku minta maaf, aku janji tidak akan mengerjai-Mu lagi." Ucap Erfyona kapok sedikit merasa kesakitan.
Hampir saja egoku menghancurkan semuanya. Tadinya aku mengira dia adalah anak yang menyenangkan dan mudah bersahabat, ternyata aku salah. Meskipun begitu dia masih lebih baik daripada Si brengsek itu! Ucap Erfyona dalam hati.
Setelah mendengar permintaan maaf dari Erfyona, Gill kemudian lanjut untuk berjalan pergi. Namun lagi - lagi Erfyona kembali menghentikannya.
"Tunggu!" Seketika menghentikan langkah kakinya.
"Aku bersedia membantumu. Tapi... Apakah kau mau memaafkan-Ku...?" Tanya Erfyona pelan.
Gill kemudian berbalik dan menarik nafas panjang. "Baiklah, aku memaafkan-Mu." Ucap Gill pelan berusaha mengendalikan amarahnya yang sudah terlanjur membara.
"Ternyata kamu memang anak yang baik (Dengan senyum manis). Ayo ikut aku!" Kembali menarik tangannya.
"Kita mau kemana?" Tanya Gill penasaran.
"Nanti kau juga akan tahu." Jawab Erfyona sambil terus menarik tangannya.
Setelah sampai di depan pintu masuk ruang kerja Azazeal.
"Tok!"
"Tok!"
"Tuan, saya Erfyona. Apakah saya boleh masuk?" Tanya Erfyona dari balik pintu.
"Kenapa kita malah pergi ke sini?" Tanya Gill pelan.
"Untuk berpamitan. Tidak sopan, kan? Kalau kita langsung pergi begitu saja." Jawab Erfyona.
"Masuklah!" Terdengar suara Azazeal dari dalam.
Pada saat mereka telah masuk ke dalam, Erfyona terkejut pada saat melihat Exifilia telah berada di sana terlebih dahulu. Lalu terbesit lah sedikit rasa cemburu dalam hati Erfyona. Merasa tidak enak melihat kedatangannya, Exifilia kemudian berpamitan untuk segera pergi.
"Saya permisi, Tuan." Membungkuk dan segera berjalan pergi.
"Kebetulan kau juga berada di sini, jadi aku tidak perlu mencari-Mu." Sambung Erfyona.
"Ada apa, Nona?" Tanya Exifilia pelan enggan untuk berbalik karena malu, kalau dirinya dikira telah berbuat yang tidak - tidak.
"Maaf. Sepertinya aku tidak bisa menginap di sini." Jawab Erfyona pelan.
"Apa,?!" Tanya Exifilia terkejut langsung berbalik dengan ekspresi wajah sedih.
"Kenapa? Apakah di sini tidak nyaman Nona? Apakah ada dari kami yang membuat Anda tidak betah disini?" Tanya Exifilia sedih tidak percaya Erfyona akan meninggalkannya.
"Tidak, itu tidak benar. Kalian semua sangat baik kepadaku. Walaupun aku ini seorang iblis, kalian menyambut ku hangat seperti seorang keluarga. Aku bisa merasakan semua itu." Jawab Erfyona.
"Disini juga sangat nyaman, hampir semua yang kuinginkan tersedia. Orion memang sangat indah dan menakjubkan, aku tidak percaya bisa menyaksikan semua ini dengan mata kepalaku sendiri. Aku bersyukur bisa menginjakkan kaki di sini." Imbuhnya.
"Lalu kenapa Anda tetap bersikeras untuk pergi?" Tanya Exifilia sedih meneteskan air mata.
"Aku rindu dengan rumahku Exifilia. Meskipun disini sangat menyenangkan, entah kenapa aku merasa asing di antara kalian." Jawab Erfyona.
"Nona!" Ucap Exifilia sedih langsung memeluknya sebagai salam perpisahan.
"Nona berjanjilah kau akan datang lagi kemari, kalau tidak aku akan sangat merindukan-Mu!" Ucap Exifilia sedih menangis di pelukan.
"Kau jangan sedih, aku pasti akan mengunjungimu lagi." Jawab Erfyona berusaha menenangkan hatinya yang sedih.
"Orion akan selalu terbuka untukmu, Nona!" Ucap Exifilia penuh harap kemudian melepaskan pelukannya dan tersenyum yakin kalau Erfyona akan menepati janjinya.
"Terima kasih Exifilia, kau memang temanku yang baik." balasnya.
"Dimana teman - temanmu? Aku tidak enak kalau langsung pergi begitu saja, tanpa berpamitan kepada mereka." Tanya Erfyona.
"Mari Nona saya Ant,- ucapnya hendak mengantarkannya.
"Tunggu dulu, aku bahkan belum berpamitan kepada Tuan Azazeal!" Sahutnya.
"Kalau begitu, saya akan menunggu Anda di luar." Katanya kemudian pergi.
"Baiklah." Jawab Erfyona kemudian berbalik untuk menghampiri Azazeal.
"Tuan. Maaf bukannya saya menolak kebaikan hati Anda, tetapi,-
"Aku paham. Balikan tubuhmu!" Perintah Azazeal.
"Eh? Ehmm." Ucap Erfyona menyetujuinya walau sedikit merasa bingung dengan apa yang akan Azazeal lakukan padanya.
Mungkinkah Tuan akan memelukku dari belakang sebagai salam perpisahannya? Sebab itulah dia menyuruhku berbalik karena dia merasa malu. Ahh!!! Romantis sekali. Walaupun dia tipe lelaki yang dingin, aku tidak menyangka ia akan melakukannya,-
Eh,!!! Apa ini? Benda apa yang menyentuh leherku ini? Ucapnya dalam hati kaget merasakan sesuatu menyentuh kulit lehernya. Ia kemudian membuka matanya dan terkejut setelah melihatnya.
"Ini,?!" Ucap Erfyona terkejut senang sekali, setelah melihat Liontin ungu kehitaman tersebut mengalungi lehernya.
Ia kemudian berbalik dengan wajah senang sekali tak kuasa membendung air mata bahagia yang hampir menetes. "Tuan..." Ucapnya dengan mata yang berbinar - binar.
"Kau suka?,-
"Aku sangat menyukainya Tuan!" Sahut Erfyona langsung memeluk tubuh Azazeal erat dan menangis bahagia. Tak lupa dia juga memberinya ciuman hangat di pipi Azazeal sebagai ungkapan terima kasihnya.
Namun Azazeal sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun, wajahnya tetap saja dingin seperti tidak merasakan apa - apa walaupun Erfyona telah menciumnya dengan sangat lama.
Meskipun Azazeal tidak menunjukan reaksi sama sekali, tapi Erfyona dengan tulus memberinya ciuman penuh cinta. Karena dalam hatinya, tidak ada hal lain yang lebih berharga dari pada Azazeal itu sendiri.
"Tuan, apakah Anda berencana menikahi Kak Fyona dengan mahar kalung itu?" Tanya Gill salah paham.
"Tidak, kau jangan salah paham." Jawab Azazeal yang seketika mengejutkan Erfyona.
"Kalung ini aku berikan padamu karena aku merasa kau berarti untukku. Dengan kalung ini kau akan aman dari bahaya besar yang mengancam nyawamu, kau juga bisa dengan bebas keluar masuk gerbang langit yang membatasi manusia dan Iblis." Jelas Azazeal membuat hati Erfyona terbawa perasaan yang membuatnya salah paham.
Makna dari kata 'Berarti' bagi Azazeal adalah berguna, dengan kata lain tujuan Azazeal memberikan kalung tersebut adalah untuk mempermudah dirinya dalam melaksanakan tugas yang Azazeal perintahkan selama di Underworld.
"Tuan Anda memang selalu mengerti apa maunya wanita meskipun Anda adalah lelaki yang dingin. Tapi saya yakin, jauh di dalam sana. Anda adalah pribadi yang penyayang dan hangat." Ucap Erfyona dengan berlinang air mata bahagia.
"Tuan setelah ini apa yang harus saya kulakukan? Jika hanya terus berada disini dan berdiam diri, itu akan sangat membosankan. Tolong beri saya perintah untuk yang pertama kalinya." Mohon Gill.
"Ambisimu itu sudah termasuk perintah dariku, tapi sebelum kau kesana. Pergilah kau ke Majesty Strength Academy terlebih dahulu. di sana kau akan menerima didikan dari para Master yang handal yang akan menggantikan ku sementara ini. Biar bagaimanapun kau ini masih seorang anak kecil yang polos." Jawab Azazeal.
"Majesty Strength Academy? Tempat apa itu? Dimana letaknya?" Tanya Gill penasaran.
"Itu adalah tempat dimana kau akan belajar hal - hal baru, mengingat saat ini kau adalah murid Tuan Azazeal. Sepertinya kau tidak akan kesulitan untuk melewati seleksi ujian masuknya." Ucap Erfyona.
"Kalau aku saat ini saja sudah kuat, lalu untuk apa aku pergi kesana? Bukankah itu hanya akan membuang waktuku." Tanya Gill yang masih belum paham.
"Dengar Gill, aku tidak pernah meragukan kekuatanmu sama sekali. Aku yakin kau mampu menaklukan Underworld dengan kekuatanmu sendiri saat ini. Tapi kuat saja tidak cukup kalau otakmu masih dangkal, kau juga terlalu dini untuk mengemban tugas besar seperti itu." Jawab Azazeal.
"Percayalah kepada Tuan-Mu Gill, ini demi kebaikanmu. Beliau tidak bermaksud menipu atau mengulur waktumu. Sungguh inilah yang terbaik saat ini." Ucap Erfyona mendukung Azazeal.
"Baiklah, kalau Tuan Azazeal sudah memberi perintah aku tidak mampu untuk menentangnya." Ucap Gill membungkuk menerima perintahnya dengan patuh.
"Tetapi aku tidak tahu dimana tempat itu berada. Bagaimana aku bisa sampai sana kalau tempatnya saja aku tidak tahu?" Sambungnya kebingungan sendiri.
"Erfyona!" Panggil Azazeal memerintahkannya.
"Ikutlah denganku, akan ku tunjukan tempat itu padamu." Ajak Erfyona seketika meraih tangannya dan mengajaknya pergi.
"Saya permisi Tuan!" Ucap Gill berpamitan tidak sempat memberinya hormat karena sudah di tarik terlebih dahulu oleh Erfyona.
Baiklah. Mereka sudah kebagian tugasnya masing - masing. Kini giliran ku untuk keluar dari zona nyaman ini dan melaksanakan tugas itu dengan sebaik mungkin. Pikir Azazeal kemudian berjalan menyusul mereka keluar.