The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 68 ~ Dewan Inti mulai bergerak



Pagi harinya Laphia dan Alice dibuat terkejut dengan berbagai makanan yang sudah terhidang di meja makan. Tercium harum bau masakan tersebut dan langsung membangkitkan ***** makan mereka, "Wah kelihatannya enak sekali!" ucap Alice ngiler melihat makanan mewah tersebut.


"Liliana sejak kapan kamu memasak semua hidangan ini?" tanya Laphia terkejut.


Ia tersenyum manis "Aku sengaja bangun pagi agar sarapan terhidang tepat waktu. Ayo kemarilah, kita sarapan bersama." jawabnya.


Mereka berdua kemudian duduk dan langsung dituangkan teh hangat oleh Liliana, "Vergile belum bangun?" tanya Liliana sambil meletakan secangkir teh di depan Alice.


"Dia selalu bangun terlambat, untung lah hari ini hari minggu mau tidur seharian pun juga tidak ada yang ganggu." jawab Alice.


"Baru kali ini aku melihat mu memasak Liliana, tidak kusangka ternyata kamu pandai juga." puji Laphia.


"Kamu membuat ku malu Laphia," jawabnya.


"Ayo ambilah, piring kalian masih kosong. Makanlah sampai kenyang, aku sengaja membuatnya banyak." sambungnya mempersilahkan mereka makan dengan ramah.


"Wah hidangan ini enak sekali, dagingnya terasa gurih dan lembut entah kenapa meskipun memakai santan kelapa tapi rasanya tidak terlalu pekat." ucap Alice begitu menikmati setelah menelan suapan pertama.


"Hidangan ini sangat pas disajikan saat sarapan karena tidak terlalu berat untuk lambung dan tentunya mengenyangkan. Apa nama hidangan ini Bi?" sambungnya bertanya.


"Itu adalah Gulai kambing, aku sengaja tidak membuat santan-nya kental karena akan berat untuk lambung kalian." jawabnya menjelaskan.


"Begitu ya, Bibi jago sekali." puji Alice sambil menikmati suapan selanjutnya.


"Wah ada sup jamur juga!" ucap Laphia terkejut senang.


Liliana tersenyum melihat ekspresi bahagianya tersebut, "Aku sengaja membuatkannya untuk mu Laphia, Ayo makan lah!" ucapnya mempersilahkan.


Tanpa ragu Laphia langsung mengambilnya di sebuah mangkuk banyak sekali, Liliana yang melihat itu hanya dapat tersenyum senang makanan yang ia buat ludes laris manis.


Saat mereka sedang asik sarapan Gill tiba-tiba turun dengan mengenakan seragan yang lengkap siap untuk berangkat sekolah, "Tumben sekali tidak ada yang membangunkan ku." ucap Gill pelan sambil menuruni anak tangga.


"Syukur lah kau sudah bangun Vergile. Ayo kemari lah kita sarapan bersama, kami sudah menunggumu dari tadi." sambut Laphia.


Gill kemudian menatap Liliana yang tengah berdiri di tengah meja sedang menuangkan segelas teh untuknya. Ia tersipu malu saat tahu Gill sedang menatapnya, "Kemarilah Vergile, makanan ini sangat lezat. Kau akan menyesal jika tak mencobanya." sambung Alice mengunyah sambil berbicara.


Gill kemudian duduk di seberang mereka berdua, "Bukan kah ini sudah siang, kenapa kamu malah santai-santai?" tanya Gill pada Alice.


"Hari ini hari minggu Vergile. Kamu mau sekolah ke mana?" jawab Laphia mencandainya.


"Benarkah, kenapa kamu tidak memberitahuku?" tanya Gill terkejut mendengarnya.


Liliana langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan, tertawa lirih melihat ekspresinya. "Sudah sebaiknya kau segera makan Gill, sebelum hidanganya dingin. Aku tidak berbohong, ini enak sekali." ucap Alice.


Saat Gill ingin berdiri untuk mengisi piringnya, "Biar aku saja." sahut Liliana Gercep membantunya.


"Sedikit saja ya." ucap Gill memberitahunya.


"Makan lah yang banyak Vergile, semua hidangan ini dibuat khusus untuk mu jadi jangan sungkan." ucap Laphia.


"Terima kasih, tapi aku tidak terbiasa makan banyak saat pagi." jawab Gill ngeles.


"Lauk?" tanya Liliana.


"Telur saja." jawab Gill.


Setelah hidangannya sampai ia langsung meraih sendok menggunakan tangan kirinya dan bersiap menyerok nasi hangat dalam piring tersebut, "Makannya pakai tangan kanan dong sayang biar sopan." tutur Laphia menyindirnya.


"Maaf tapi tangan kanan ku sakit." jawab Gill membuat mereka terkejut.


Nampak wajah Liliana sedikit terkejut menaruh rasa curiga setelah mendengar ucapannya tersebut, "Sakit kenapa?" tanya Laphia penasaran.


"Biasa lah anak laki-laki." jawab Gill santai.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Liliana memastikan.


Gill kemudian mengangguk dan mengangkat tangannya menggunakan tangan kiri, menyandarkannya di atas meja makan. "Boleh aku sentuh?" tanya Liliana malu-malu kucing.


"Silahkan." jawab Gill.


"Sepertinya baik-baik saja, aku tidak menemukan ada luka gores ditangan mu?" ucap Alice mengamatinya.


"Tangan mu dingin sekali seperti tangan orang mati." ucap Liliana terkejut setelah menyentuh kulitnya.


"Boleh ku sentuh satunya?" sambungnya.


"Kau tidak perlu memintanya, sentuh saja tidak apa-apa." jawab Gill langsung menyodorkan tangan kirinya.


"Aneh sekali, baru kali ini aku melihat hal seperti ini" gumamanya, "Apakah terasa sakit?" tanya Liliana.


"Tidak, justru karena itu lah tanganku ini benar-benar mati tak bisa digerakan." jawab Gill.


'Sepertinya memang dia lah yang menyelamatkan ku, aku terkejut melihat anak seusianya rela mengorbankan tangannya untukku. Oh Vergile kamu romantis sekali, aku tidak peduli umur mu berapa tapi dengan keberanian ini menunjukkan kalau kamu sudah dewasa.' ucapnya dalam hati menatap Gill hangat.


"Perkenalkan Vergile dia adalah Liliana Han Yora, temanku sekaligus wali kelas 2A." ucap Laphia.


"Senang bertemu dengan mu." sapa Vergile sopan menundukkan kepala dengan senyum.


Liliana membalasnya dengan anggukan pelan merona merah pipinya, "Senang juga bertemu dengan mu." balasnya pelan.


"Beliau juga yang memasak semua hidangan ini Vergile, jadi berterima kasih lah padanya." sambung Alice.


"Maaf membuat mu repot menyiapkan semua ini. Terima kasih aku, sangat menghargainya." ucap Gill tulus.


"Tidak apa-apa, aku senang jika kamu merasa senang." jawabnya pelan sedikit memalingkan wajah karena malu.


'Aku tidak pernah melihat Liliana merasa malu separah ini, sekarang aku tahu kalau dia beneran tulus menyukai Vergile.' batin Laphia mengamatinya.


"Liliana, kau kan sudah lihat tangan Vergile terluka. Kenapa kamu masih diam saja. Dia tidak akan bisa makan sendiri." ucap Laphia memberinya kode untuk peka.


Liliana terkejut mendengar hal itu, "Tidak apa-apa Bi, aku bisa sendiri." sahut Vergile menolaknya halus.


"Sudah daripada nanti bulepotan." ucap Laphia.


"Ayo Liliana, tunjukan sikap keibuan mu." ucap Laphia menggodanya.


"Kamu tidak keberatan kan?" tanya Liliana memberanikan diri menatap wajahnya.


"Umh" membung wajah merah meronanya, "Hanya untuk kali ini saja ya." Jawabnya.


Dengan penuh cinta Liliana meniup nasi dan telur hangat tersebut, setelah dingin ia mulai menyodorkanya, "Ayo buka mulut mu Vergile." ucap Alice.


Dengan malu-malu Gill mulai membuka mulutnya, Liliana pun mendorong masuk sendok tersebut dengan lembut sembil terus memperhatikan wajah manisnya yang malu-malu.


Setelah nasi tersebut masuk ke dalam mulutnya barulah dia merasakan kembali kelembutan seorang ibu, 'Aku sangat merindukan rasa ini' batinnya dalam hati sedih sedih teringat dengan ibunya.


"Ada apa Vergile, Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Laphia melihatnya melamun.


"Umh tidak, aku hanya kepikiran bagaimana aku bisa lupa kalau hari ini adalah hari minggu." jawabnya.


"Lain kali kamu harus bangun lah lebih awal dan cek kalender mu secara rutin." jawab Alice menasihatinya.


"Aku mengerti." Anguknya.


Selesai sarapan Gill langsung mengucapkan terima kasih kepada Liliana karena mau menyuapinya, dia membalasnya dengan senyum dan berkata kalau ia hanya ingin membalas budi.


Gill berpamitan kalau setelah ini ia ingin pergi keluar jalan-jalan. Dia sempat mengajak Alice tapi ditolak karena ada Pekerjaan Rumah (PR) dan akhirnya Gill memutuskan untuk pergi sendiri.


Di dapur saat sedang mencuci piring bersama Liliana bertanya mengenai sikap dan perilaku Gill sehari-hari. Laphia menjawab kalau Gill itu adalah anak yang bandel dan nakal, ia menceritakan detail kenakalannya tersebut membuat Liliana senyum-senyum sendiri.


Namun di akhir cerita Laphia berkata kalau Gill sebenarnya adalah anak yang baik. Ia hanya belum mampu mengekspresikan diri dan selalu bertindak gegabah khas seorang anak remaja.


Liliana tersenyum sedikit merona wajahnya setelah mendengar jawabannya itu, ia pun kembali mengajukan pertanyaan dengan topik lain.


Pindah ke Gill yang sedang berjalan seorang diri, langkahnya terhenti saat ia melewati tempat dimana dirinya menyelamatkan Liliana kemarin. Nampak tempat itu ramai sekali dikerubungi banyak siswa dan beberapa guru.


Agar tidak dicurigai Gill memutuskan untuk mengambil jalan lain dan memilih menghindari kerumunan tersebut. Disepanjang jalan dan lorong kelas Gill mendengar banyak sekali orang yang membicarakan temuan mayat yang ia bunuh kemarin malam.


Seluruh Majesty di buat heboh oleh temuan mayat tragis tersebut, orang-orang berkata bahwa kasus ini adalah kasus yang paling heboh dari rentetan peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya. Mereka menyebutkan ada tiga alasan yang membuat kasus ini heboh.


Pertama mereka menyimpulkan kalau ada pembunuh berdarah dingin di Majesty. Karena biasanya pembunuhan itu tidak terlihat seperti pembunuhan, pelaku membuatnya seolah-olah kejadian itu adalah kecelakaan. Dengan begitu kasus yang pelaku buat tidak menimbulkan investigasi yang lama dan segera terlupakan.


Kedua mereka menganggap kalau pelaku adalah seorang amatiran karena tanpa ia sadari pembunuhan yang meninggalkan jejak itu bisa berdampak buruk pagi para pelakunya. Itu sama saja pelaku meremehkan atau menantang Dewan Inti dimana Organisasi tersebut adalah pemegang hukum tertinggi di Majesty.


Mereka telah berpengalaman menangani puluhan kasus serupa dari yang rumit sampai ke yang sulit sekalipun. Mereka selalu berhasil mengusut siapa pelaku dibalik suatu kejadian.


Oleh karena itu para pembunuh selalu bermain rapi dan tak pernah meninggalkan jejaknya sekdikit pun karena mereka tahu tak ada seorang pun yang bisa lolos dari kejaran hukum Organisasi tersebut.


Alasan ketiga yang menjadi dugaan kuat kasus ini heboh adalah pelaku sengaja meninggalkan jejak tersebut dan bermaksud meneror seluruh orang di Majesty. Dengan meninggalkan jejak tersebut sudah bisa dipastikan kalau pelaku tidak takut dengan Ancaman yang Dewan Inti berikan.


Pelaku tentunya tidak akan bertindak gegabah seperti itu. mereka meyakini kalau pelaku sudah tahu semua hal tentang Dewan Inti dan sengaja melakukan itu karena ia percaya dengan kemampuannya. Jika hal itu benar adanya maka sudah dipastikan Majesty sudah tidak aman lagi karena hanya Dewan Inti lah pelindung terkuat yang ada di sekolah tersebut.


"Ah segarnya tempat ini, tidak salah jika aku langsung menuju kemari." ucap Gill berdiri di atap gedung sambil menikmati hembusan angin segar menerpa.


"Untung lah tidak ada Fain di sini jadi aku bisa bersantai dan menikmati waktu ku tanpa adanya gangguan." sambungnya dengan senyum bahagia.


Di sisi lain Fain dan anggota Dewan Inti tengah berdiskusi berusaha mengusut pelaku dibalik kasus pembunuhan mutilasi yang mereka temukan tadi pagi, "Bagaimana Fain. Apa pendapat mu?" tanya gadis rambut hitam disampingnya.


"Ketua sebaiknya kita lacak pelaku menggunakan Buddy Bear Kak Linssy (Gadis imut anggota dewan sekaligus pemilik Boneka beruang besar warna Strawberry). Aku yakin kita bisa dengan mudah menemukan pelaku,- usul Emilia.


"Aku tidak mau menggunakan Buddy Bearku untuk hal kotor seperti itu, bulu lembut dan harum Strawberry-nya akan sangat cocok untuk kupeluk." potong Linssy dengan wajah cemberut menolak mentah-mentah usulannya tersebut.


"Kak Linssy tolong jangan egois, ini untuk kepentingan seluruh siswa di Majesty,- ucap Emilia berusaha membujuknya.


"Sekali tidak boleh ya tidak boleh!" ucapnya tegas memeluk Buddy Bearnya erat dengan suara kecil anak TK.


'Errghh, aku tidak tahu kenapa bocah egois ini malah punya peringkat lebih tinggi daripada aku. Harusnya aku yang diposisi itu, pemilik Espher Dragon, murid Nona Alin, Si jenius Majesty kurang apalagi coba. Apasih yang membuat bocah ini spesial?' pikir Emilia kesal menatapnya sinis.


"Kita tutup saja kasus ini, Membosankan!" ucap Fain bangkit dari tempat duduknya hendak pergi.


Sontak ucapannya itu mengejutkan keenam angotanya, "Fain kau jangan bercanda. Ini adalah masalah serius, bukan lelucon,- sahut gadis rambut hitam disampingnya marah.


"Ada apa dengan mu ketua, tidak biasanya kau seperti ini?" tanya pedang pembantai.


"Rey, Davis, dan Gio. Kalian tahu mereka bukan?" tanya Fain tanpa berbalik badan.


"Tentu saja kami tahu ketua." jawab wanita cantik berkacamata budar dengan rambut kelabang.


"Lalu kenapa kalian mempermasalahkan keputusanku, dari dulu aku selalu berharap kalau Predator wanita seperti mereka mati saja." ucap Fain.


"Ketua benar, setidaknya tugas kita telah berkurang karena kematiannya." ucap laki-laki berambut ungu.


"Itu memang benar tapi ini bukan soal mereka bertiga, oke lah saat ini mereka sudah mati tapi ini tentang siapa pembunuhnya. Kita tidak tahu dampak apa yang akan pembunuh itu timbulkan kedepannya, hari ini dia membunuh orang yang bersalah tapi kedepannya apakah iya targetnya masih sama. Kita tidak tahu kan?" sahut gadis berambut hitam ngotot penuh kekhawatiran.


"Itu benar ketua, aku sependapat dengan Kak Enrylind (Gadis rambut hitam wakil ketua Dewan Inti)." ucap pedang pembantai pro dengan argumen Enrylind.


"Kak Enrylind benar, saat ini kita masih belum tahu siapa pelakunya. Kita tidak bisa menjamin orang itu akan terus melakukan hal sama." ucap gadis berkacamata bundar dengan rambut kepang.


"Ketua tolong, kami butuh keputusan mu." ucap Emilia meyakinkannya.


Fain kemudian tersenyum dan berkata, "Bagaimana jika aku mengatakan "Pelaku sengaja meninggalkan jasad korban di TKP karena ia ingin memberi peringatan kepada orang yang berbuat sama seperti korban." ucap Fain.


Mereka seketika diam termenung memikirkan kembali argumen Fain, "Tapi kenapa harus mereka yang di bunuh, bukannya masih banyak pelaku yang sama?" tanya Enrylind.


"Itu karena nama mereka sudah dikenal banyak orang." jawab Fain singkat.


"Bisa jadi argumen ketua benar, aku menduga pelaku sebenarnya sudah merasa muak dengan para predator itu sehingga dia merencanakan ini untuk memberi pelajaran kepada mereka." ucap laki-laki rambut ungu.


"Baiklah ini mulai sedikit masuk akal." ucap pedang pembantai.


"Jujur baru kali ini aku mempercayai seorang pembunuh, entah aku yang terlalu dendam atau memang kejadiannya seperti itu tapi aku sudah tidak ingin lagi mengusut siapa pelakunya, sisanya terserah kalian. Aku mau pergi makan siang, Dadah..." ucap Fain pergi sambil melambaikan tangan.


"Perutku juga sudah lapar." ucap laki-laki berambut ungu ikut pergi menyusulnya.


"Kasus ini semakin membingungkan saja." gumam pedang pembantai pelan.


"Bagaimana Kak Enry, Apa yang akan kita lakukan?" tanya Emilia.


"Aku tidak masalah jika yang dikatakan Fain itu benar tapi masalahnya kita masih belum tahu siapa pelakunya." jawab Enrylind pelan sambil berfikir.


"Apakah perlu aku kembali ke TKP untuk mencari barang bukti lain?" tanya Emilia.


"Biar aku saja yang pergi kesana, sebaiknya kamu kembali meng-outopsi tubuh para korban. Kita membutuhkan detail kecil yang hilang." jawab Enry.


"Rapat kita tutup sampai disini, kita lanjutkan lagi besok jika belum selesai." ucap Enry menyudahi rapat tersebut.