The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 78 ~ Mencari lawan.



Dikantin mereka berempat saling mengobrol membicarakan pertandingan yang akan digelar besok. Indyra bertanya kepada Vega siapa lawan yang akan dia pilih. Vega menjawab kalau dia akan menantang Emilia, sontak Alice, Greey dan Indyra pun terkejut. 'Kau sungguh ingin bertarung melawan Emilia?' tanya Greey yang masih tidak menyangka.


'Dia itu kuat loh!' timpal Alice.


Vega mengangguk dan mengakui kalau Emilia itu adalah siswa yang kuat. dia menjelaskan alasannya kenapa memilih Emilia sebagai lawan tanding. alasan pertama adalah penasaran, Vega ingin mengukur sekuat apa murid dari Alin Xaverias tersebut. alasan kedua adalah Vega ingin membuktikan siapa ketua kelas terkuat diangkatan kelas satu dan alasan terakhir yang menjadi dorongan utama adalah Vega tidak menyukai Emilia.


Greey dan Indyra jadi bertanya-tanya, ada masalah apa antara mereka berdua. Vega menjawab 'Tidak ada, hanya masalah kecil yang tidak terlalu penting' Gill lalu menduga kalau alasan yang Vega sembunyikan adalah membenci sikap Emilia yang sombong.


Raut wajah Vega nampak terkejut mendengar dugaan Gill itu, 'Aku juga kok, itu bukan lagi rahasia umum. seseorang bisa saja menjadi sombong jika mempunyai sesuatu yang bisa dibanggakan' sambungnya membuat Vega tertunduk.


'Itu adalah pilihan yang bagus Vega, kau bisa bertanya pada Vergile mengenai semua kelemahannya!' ucap Greey memberitahunya sebuah strategi. Gill lalu menjawab, 'Sebenarnya Emilia itu adalah lawan yang mudah. kau cukup menghindari semua serangan pedangnya terutama jurus Leghius Marsha miliknya. sekali kau terkena organ dalam tubuh mu akan lumpuh dan sulit untuk digerakan' ucapnya dengan enteng.


'Meskipun begitu kau harus tetap berhati-hati, ingat dia masih memiliki Espher Dragon sebagai kartu andalannya' timpal Indyra memperingatkan. Vega mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah mendukungnya.


Vega bertanya pada Indyra siapa lawan yang akan dia hadapi. Ia menjawab kalau masih belum yakin dengan keputusannya ini, tapi Indyra berencana untuk menantang salah satu dari siswa yang sempat melecehkannya dulu. 'Apakah kau ingin membalas dendam?' tanya Vega.


Indyra menggedekan kepalanya, 'Lebih tepatnya aku ingin menunjukan padanya kalau aku bukanlah gadis yang lemah' jawabnya serius. Greey mendukung penuh keinginan Indyra itu, 'Jika kau sudah yakin dengan keputusanmu, sepulang sekolah nanti ayo kita temui mereka. kita buktikan kalau diam bukan berarti lemah!' ajak Greey.


Vega penasaran dan bertanya siapa lawan yang Greey pilih. Gill menjawab kalau lawannya adalah Vessel. seketika Vega terkejut bukan main, 'Apakah kau yakin. Vessel itu kuat loh, dia bukan lah orang yang bisa dengan mudah dikalahkan' ucap Vega.


'Ya aku tahu, sebab itu lah dia dihormati oleh siswa nakal lain' jawab Greey polos. Vega tersenyum dan menggedekan kepala, 'Greey kau ternyata tidak tahu apa-apa mengenai Vessel' ucapnya membuat Greey penasaran.


'Memangnya siapa Vessel itu?' tanya Alice penasaran.


'Tidak hanya dihormati disekolah, Vessel juga dihormati di desanya. di usianya yang masih remaja dia pernah bertarung melawan pasukan Iblis demi melindungi satu buah keluarga di desanya. waktu itu aku melihat dengan kepalaku sendiri bagaimana ia menghabisi para iblis itu. gerakannya sangat lincah, tubuhnya kuat, dan tidak mengenal kata menyerah. Selagi tubuh Vessel masih bisa digerakan dia akan terus bertarung sampai batas maksimalnya' jawab Vega menjelaskan.


'Kalian berdua berasal dari desa yang sama?' tanya Alice yang dijawab anggukan oleh Vega.


'Jadi Vessel itu bukan siswa nakal, tapi kau bilang waktu itu... ' tanya Indyra yang sudah salah sangka.


'Dari dulu hubungan kami memang tidak akrab tapi sebenarnya dia adalah anak yang baik. Vessel adalah pribadi yang keras kepala dan emosional, sedikit saja salah bicara maka bisa membuatnya marah' jawabnya, 'Bagaimana Greey apakah kau masih ingin bertarung melawannya. dia akan menjadi lawan yang sengit bagimu, ia tidak akan menyerah sampai berhasil mengalahkan mu' sambungnya.


'Ya, aku yakin sudah memilih lawan yang tepat!' Angguknya.


Saat Vega dan Indyra ingin bertanya pada Gill mengenai siapa lawan yang akan dia pilih. satu kantin mendadak dibuat heboh oleh kedatangan Enrylind, gadis senior yang cantik, jarang sekali ter-ekspose. semua mata langsung tertuju padanya, termasuk teman-teman Gill yang melihatnya penuh kekaguman.


'Kakak itu cantik sekali ya' puji Greey terpukau, 'Kau benar, aku suka rambut hitamnya. pakaiannya juga sangat modis, sepertinya dia expert dalam dunia fashion!' timpal Alice yang juga mengaguminya.


'Siapa nama senior itu. penampilan dan wajahnya sangat mencolok, mencuri perhatian' gumam Indyra penasaran, lensa matanya mengikuti kemana Enry berjalan.


Vega langsung menoleh ke arah Gill melihat reaksinya, 'Wow siapa sangka seorang Enrylind akan makan ditempat umum' ucap Vega membuat Indyra, Alice dan Greey bertanya-tanya.


'Dia adalah orang nomer dua di dalam Dewan Inti atau kita bisa menyebutnya wakil ketua' jelasnya membuat mereka terkejut.


'Pantas saja aku tidak pernah melihatnya!' ucap Greey terkejut, 'Sekarang aku tahu kenapa pandangan orang tertuju padanya' sambungnya.


'Berhenti. Namamu Enrylind kan?' tanya Gill mengejutkan semua orang. wanita itu lalu berhenti dan berbalik dengan tatapan tajam, 'Kau!' gumamnya.


'Hei Gill jaga bicaramu, bersikap lah yang sopan. Dia bukan lah orang sembarangan!' tutur Indyra pelan.


'Aku rasa semua orang disini tahu bagaimana menghargai orang terhormat sepertiku, tapi aku tidak melihat itu pada dirimu. Apakah skors yang aku berikan masih kurang Vergile?' sindirnya.


'Jadi dia anggota Dewan yang menghukum Vergile kemarin!' batin mereka berempat terkejut.


'Lupakan soal yang kemarin, sekarang aku ingin membuat kesepakatan baru denganmu!' ucap Gill mengajaknya bernegosiasi.


'Kesepakatan?' gumam Enrylind penasaran.


'Bertarunglah denganku besok,-


Semua orang terkejut mendengar tantangan yang keluar dari mulut Gill. mereka tidak menyangka kalau ia akan senekat itu menantang Dewan Inti bertarung satu lawan satu. Vega langsung menarik tangan Gill ke belakang dan berkata di dekat telinganya, 'Vergile kau jangan bodoh, wanita itu tidak sama seperti Dewan inti yang kau lawan sebelumnya' tuturnya.


Gill tak memperdulikannya dan melepas genggaman tangannya, melanjutkan tantangan yang ia ucapkan sebelumnya. 'Jika aku yang menang, kau tidak bisa mengatur aku lagi jika suatu saat aku melakukan kesalahan' sambung nya membuat kesepakatan. penawarannya itu tak lebih dari sekedar lelucon bagi para siswa yang ada dikantin saat itu, bahkan Enry pun tak menanggapinya secara serius.


'Hoey Vergile, apa yang kau bicarakan. Kau tidak bisa mengajukan banding dengan hal sekonyol itu!' ucap Greey.


Enrylind tersenyum, 'Sepertinya kau sangat dendam padaku Vergile' ucapnya pelan berjalan menghampirinya, menatap matanya dari dekat memamerkan segel terkutuknya. 'Sadarilah posisimu Vergile, orang lemah itu sebaiknya menjaga ucapannya agar terhindar dari setiap masalah' sindirnya.


'Tapi itu tidak berlaku untukku' ucap Gill tegas dengan tangan mengepal keras.


Enrylind tersenyum, 'Baiklah, ku kuterima tantanganmu' ucapnya lalu mendekatakan bibirnya ke telinga Gill, 'Tapi kalau aku yang menang, Apa yang akan kudapat?' bisiknya bertanya yang juga di dengar oleh teman-temannya.


'Aku memiliki 30 pedang kelas pahlawan, jika kau menang akan kuberikan semuanya' jawab Gill pelan di dekat telinganya. 'Menarik' ucap Enrylind mundur beberapa langkah.


'Baiklah aku pikir kau adalah lawan yang menarik tapi tekad kuat dan kerja keras saja tidak akan cukup untuk mengalahkan ku. Kekuatan kita berbeda jauh Vergile, kau buta dan tak berkaca!' ucapnya lalu berlik dan berjalan pergi.


Setelah Enrylind pergi, keempat temannya langsung datang mengerubunginya. 'Duh Vergile, kau ini kesurupan apa sih sampai berani menantang wakil Dewan Inti?' tanya Alice dengan nada tinggi, tak habis pikir dengan keputusannya.


'Aku akui kau memang berani Vergile, tapi dimana kau akan mendapatkan senjata kelas Legendary itu. Kelas Legendary adalah senjata Bidadari dan Guardian. Kau mau meminjamnya dari mereka?' tanya Greey.


'Kata siapa Bidadari hanya menggunakan senjata Legendary, aku pernah melihat Alin memakai pedang kelas pahlawan saat melawan iblis' jawab Greey santai.


'Disaat seperti ini bisa-bisanya kau bercanda, sekarang aku tanya. Kau akan melawannya dengan apa, kau dengarkan dia tidak bisa dikalahkan dengan dengan pedang Pahlawan!' ucap Vega.


'Kau percaya dengan ucapannya, dia itu hanya menggertak' jawab Gill santai, 'Hah?' ucap Vega bingung dengan jawabannya, 'Yaampun, kau bilang itu gertakan. Sadar Gill itu adalah peringatan untuk mu jika dia serius.' sambungnya.


'Iya-ya aku cuma bercanda kok, tapi aku sungguh akan memenangkan pertandingan ini. aku menantangnya bukan berarti aku tidak ada persiapan' ucapnya bersamaan dengan bell masuk yang berbunyi, 'Yuk dah kita kembali, sudah jangan dipikirkan. Aku yang menghadapinya saja tidak menganggapnya serius ha ha ha' sambungnya lalu pergi tanpa beban.


Mereka hanya saling tatap penuh tanya melihat reaksi Gill yang santai. Vega menggedekan kepala seraya berkata, 'Yah semoga saja persiapan mu itu cukup Vergile. Kau sungguh tidak tahu semengerikan apa musuh yang kau hadapi saat ini' sambil melihatnya berjalan pergi.


(Malam hari di kos Laphia)


Gill, Alice, Laphia dan Liliana sedang makan malam bersama. Alice memberitahu mereka kalau besok akan ada ujian tarung. mereka berdua sudah tahu dan berkata kalau itu adalah ujian rutin setiap tahunnya, mulai dari kelas satu sampai tiga. 'Ini adalah ujian pertama bagi kalian, masih ada dua ujian lagi nanti di kelas dua dan tiga' ucap Liliana.


'Apakah kamu sudah menentukan siapa lawan yang akan kau hadapi?' tanya Laphia pada Alice. dia mengangguk dan menjawab kalau lawannya adalah teman sekelasnya.


'Lalu bagaimana denganmu Vergile?' tanya Liliana. saat Vergile memberitahukan namanya, Laphia langsung tersedak, sedangkan Liliana memuntahkan air yang ia minum. mereka berdua terkejut dan tidak menyangka.


Gill langsung menjelaskan sebelum mereka bersuara, 'Yeah aku tahu itu gila, mereka juga berkata begitu' ucapnya.


Liliana menahan Laphia yang hendak bertanya, ia lalu menepuk pundaknya dan berkata, 'Apa yang sudah kau persiapkan Vergile?' tanya Liliana.


Gill meyakinkan mereka, 'Tak ada yang perlu dicemaskan, semuanya akan baik-baik saja' jawabnya. namun jawabannya itu belum membuat hati mereka puas. Gill yang kesal langsung mengangkat telapak tangannya setinggi pundak, tidak mau mendengar ucapan mereka yang seolah meragukannya. Laphia langsung terdiam, Liliana mencoba menghiburnya agar dia tidak marah.


(Pagi harinya di Arena Strength Academy)


Gill, Greey, Vega, dan semua peserta yang mengikuti ujian itu sedang berbaris di depan sebuah kotak kaca mengambil nomor antrian bertarung. di kertas tersebut dijelaskan berbagai peraturan, Meliputi ;


Waktu pertarungan untuk setiap rival adalah 45 menit. satu hari hanya akan menggelar pertarungan sebanyak 15 pertarungan, jumlah peserta yang ikut adalah 44 orang yang artinya hanya ada 24 rival yang akan saling bertarung.


Nilai diambil berdasarkan skill bertarung, elemen pengguna, hewan perang, dan senjata yang digunakan. bonus akan diberikan jika peserta dapat mengalahkan lawannya dengan waktu yang singkat. Peserta akan dinyatakan kalah jika ia menyerah, kelelahan, terluka parah, dan senjata dilucuti.


Peserta akan didiskualifikasi jika kedapatan menjalin kontrak dengan iblis untuk memperkuat diri, menggunakan elemen hitam, mengeluarkan senjata kelas Legenda tanpa kesepakatan, dan berambisi membunuh lawan.


Setelah mendapatkan nomor antrian masing-masing dari mereka lalu membukanya dan membaca semua isi kertas tersebut. setelah membaca, mereka lalu saling bertanya berapa nomor yang di dapat. Vega mendapat nomor 1 hari pertama, mereka terkejut dan langsung memberikan semangat padanya sebagai peserta yang mengawali ujian.


Indyra mendapat nomer 9 di hari pertama, Alice mendapatkan nomer 13 di hari pertama, sedangkan Greey mendapat nomor 17 di hari kedua dan Gill mendapatkan nomor 21 di hari kedua.


'Semuanya semangat ya, kita tidak boleh meremehkan lawan. jika diantara kita nanti ada yang terluka, sempatkan waktu untuk saling jenguk ya!' ucap Alice memberi semangat.


Greey mengangguk dengan senyum, setuju dengan perkataannya itu sedangkan Gill hanya tersenyum ringan. mereka lalu saling rangkul satu sama lain untuk saling menguatkan. Indyra dan Alice meraih tangan Vega dan memberinya semangat, 'Kamu pasti bisa Vega, Kami percaya padamu!' ucap Indyra diikuti anggukan setuju oleh Alice.


Vega tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih dengan mata yang berkaca-kaca. selanjutnya giliran Greey yang meraih tangannya dan menatap matanya dalam penuh kehangatan, 'Apapun yang terjadi jangan menyerah ya, kau sudah sampai sejauh. kita memang tidak bisa menentukan takdir, tapi dengan berusaha setidaknya kita bisa sedikit merubah keaadaan' ucap Greey membuatnya baper. ia lalu memeluknya dan mengucapkan terima kasih pada Greey, seketika wajah Greey menjadi merona menerima pelukan itu.


Greey lalu menyikut lengan Gill mengingatkan kalau sekarang adalah gilirannya. Gill lalu mendekatinya dan menepuk pundaknya, 'Aku tidak tahu harus berkata apa' Ucap Gill bingung. Vega tersenyum mendengarnya dan berkata, 'Loh ko gitu, biasanya kamu adalah yang paling bijak' godanya.


Gill tersenyum sambil menghela nafas membuat Vega baper hanya dengan senyumannya. 'Jika mereka telah memberimu semangat,' menoleh ke arah Greey, Indyra dan Alice. 'Maka aku akan memberimu...


Seketika Gill membekukan waktu dan mengeluarkan satu dari sekian banyak pedang yang diberikan oleh Erfyona dulu. Vega terkejut melihat pedang berwarna hijau berkilau, dalam hati ia kagum melihat keindahan pedang tersebut. Gill lalu menyodorkannya, 'Ambilah!' membuat Vega terkejut, tidak menyangka.


'Apa ini, kenapa kau memberikan pedang ini padaku?' tanya Vega dengan raut wajah kebingungan. Gill lalu meraih tangannya dan memberikan pedang itu padanya, 'Aku sangat menghargai makanan yang kau berikan disaat aku tidak membawa uang. Kau sangat ingin mengalahkan Emilia buka?' ucap Gill.


Vega merasa tidak enak dengan Gill karena ia mentraktirnya dengan niat tulus dan tak mengharapkan apa-apa darinya. Ia lalu berinisiatif untuk tidak menerimanya, namun Gill memaksanya dan tidak ingin pedang itu kembali tangannya. 'Terima lah, aku ingin kau menerimanya. anggap saja ini adalah hadiah ulang tahun mu, bukan imbalan untuk traktiran mu, meskipun aku sangat menghargainya' ucap Gill.


Vega terkejut dan baru ingat kalau hari ini adalah Ultah-nya. ia lalu bertanya-tanya pada dirinya, 'Jika aku saja tidak mengingatnya, bagaimana dia bisa tahu?' batinnya.


'Bagaimana kau bisa tahu, bahkan aku sendiri baru ingat kalau hari ini adalah ultah-ku. Siapa yang memberitahumu, ini aneh sekali' tanya Vega kebingungan membuat Gill tertawa melihat ekspresinya.


'Sungguh! Padahal aku hanya menebaknya saja' jawab Gill diikuti oleh tawa canda. 'Apakah kau suka?' sambungnya yang langsung dijawab anggukan 'iya' olehnya. mata Vega berkaca-kaca penuh kagum saat melihat pedang itu, 'Ini adalah pedang yang indah, aku tidak percaya kau akan memberikannya padaku. Terima kasih Vergile, kau memang orang yang baik' ucap Vega dengan senyum senang menghiasi wajahnya.


'Semoga pedang ini berguna untuk mu' jawab Gill dengan senyum. Vega lalu merangkulnya dan mencium pipinya sebagai ucapan terima kasih. saat ia sedang memberi Gill pelukan hangat ia baru sadar sedang melakukan itu di keramaian, Vega lalu menyembunyikan pedang tersebut dan melepas pelukan itu secepatnya.


Waktu telah berjalan normal saat Vega menyadarinya, ia sedikit kebingungan dengan peristiwa yang baru saja ia alami. instingnya merasakan ada yang tidak beres saat ia menerima pedang itu dari Gill, dia sempat merasakan kalau tubuh semua orang diam pada tempatnya dan tidak bergerak sama sekali.


'Berjuanglah Vega, jangan memaksakan diri ya karena kemenangan bukan lah segalanya' ucap Gill membuatnya terbangun dari lamunannya memikirkan keanehan yang terjadi.


Vega terkejut dan mengangguk mengucapkan terima kasih. Dia lalu melupakan apa yang ia pikirkan sebelumnya dan kembali fokus karena sebentar lagi pertarungannya akan dimulai. 'Baiklah Vega kami akan melihatmu dari bangku penonton, Sampai jumpa nanti!' ucap Greey melambaikan tangannya dan mereka berempat pergi meninggalkannya.