The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 64 ~ Menolong Sista si guru boneka



Saat Gill sedang berjalan kembali ke kelas, ia dikejutkan oleh suara rintihan bercampur desah dari dalam kamar mandi yang sedang dia lewati. Merasa penasaran Gill pun berhenti dan masuk ke dalam kamar mandi tersebut berniat mengeceknya.


Saat sedang mencari Gill terkejut melihat ada empat orang siswa laki-laki sedang memperkosa satu wanita, wajah si korban masih belum terlihat karena terhalang oleh tubuh mereka berempat yang mengerubunginya. Nampaknya mereka berniat menggilir wanita lemah itu dengan kejinya 'Baru saja diomongin' batin Gill tidak menyangka melihat hal itu.


Ia bersembunyi di balik dinding sambil mengawasi sekitar, ia tidak mau gegabah karena Gill tahu orang-orang itu sangat licik dan pandai bertarung. Saat seorang dari mereka bergeser nampak lah wajah dari gadis yang di perkosa itu 'Bu Sista!' batin Gill terkejut melihat ia sedang di perkosa dengan mulut disumpal oleh kain seragam.


'Ternyata Fain benar, sepertinya tidak hanya kali ini mereka melakukannya pada Bu Sista.' batin Gill terus memperhatikannya yang menangis meneteskan air mata karena menahan rasa sakit.


Nampak mereka berempat tersenyum sambil menggerayangi bagian tubuh yang lain. Sambil melakukan itu tak luput kata-kata kasar juga keluar dari mulut mereka yang terkesan menghina dan melecehkan Sista sebagai seorang guru 'Kemarin Indyra, sekarang dia. Nampaknya tiada hari tanpa bertarung di sekolah ini, tapi kau tahu. Aku suka bersekolah disini.' batin Gill bersemangat tersenyum senang langsung keluar dari tempat persembunyiannya datang menghampiri mereka.


Mereka yang melihat kedatangan Gill sontak terkejut dan langsung mencabut *********** saat sedang asik-asiknya "Minggir, kalian menghalangi jalanku." Ucap Gill santai.


'Vergile!' batin Sista terkejut melihat kedatangannya yang tiba-tiba.


"Ternyata ada yang mau jadi jagoan di sini" sindir salah satu dari mereka meremehkan Gill.


Gill hanya tersenyum menanggapi hinaan mereka "Apanya yang lucu brengsek!" Sahut teman mereka marah melihat Gill tersenyum, "Kau mau bergabung ya, maaf tapi sudah tidak ada lubang untuk mu ha ha ha!" Timpal yang lain menghinanya.


Mendengar itu Gill tertawa ngakak "Siapa juga yang mau bergabung dengan sekumpulan sampah menyedihkan." Balas Gill menohok membuat mereka marah seketika.


"Sepertinya membunuh anak kelas satu tidak akan menimbulkan masalah yang besar." Ucap salah satu dari mereka yang tersulut api amarah.


Mendengar itu Sista menggedek kan kepalanya tak mau kejadian yang sama terulang kembali, dalam ingatannya ia dulu pernah menyaksikan siswa yang ingin menyelamatkannya namun ia malah terbunuh tepat di depan matanya oleh keroyokan mereka berempat.


"Kau benar lagipula sekarang adalah jam belajar, kita tidak perlu segan memberinya pelajaran agar dia mengerti sopan santun." Timpal temannya mendukungnya.


Gill seketika tertawa lebih kencang daripada sebelumnya, namun tawanya kali ini berbeda terdengar seperti seorang psikopat. Ia langsung tersenyum bengis dan berkata, "Sopan santun, lucu sekali. Aku belum pernah mendengar lawakan selucu ini."


Mendengar itu mereka semakin terbakar oleh api amarah, "Meskipun kau meminta maaf, kau tetap tak akan bisa kabur dari sini!" Ancam salah satu dari mereka dengan mata mendelik setan.


"Kau tahu pemerkosaan itu adalah hal paling keji bagi kaum perempuan, tapi sepertinya kalian sudah biasa melakukannya." Gumam Gill sambil merunduk kan kepala.


Dengan acuh dan percaya diri lelaki itu menjawab, "Apakah kami peduli ... Tidak!" Di susul tawa oleh teman-temannya.


'Sudah Vergile, lari lah aku tidak ingin melihat mu berakhir di sini,-


"JDARRK!" Tanpa banyak cakap Gill langsung memberi mereka pelajaran dengan membunuh salah satu temannya. Ia mencengkeram wajahnya dan mendorongnya kuat hingga terhempas ke tembok menyebabkan dinding kamar mandi tersebut retak parah.


Kepalanya hancur di tempat dengan bercak darah muncrat kemana-mana, mengotori ruangan. Sista terkejut bukan main saat mengetahui kekuatan Gill yang sebenarnya, ia bahkan tidak melihat saat Gill sedang melakukannya


'Tangkas sekali dia, mataku sampai tak mampu melihatnya. Gerakannya itu melampaui batas wajar manusia normal. Sekarang aku tahu alasannya serius menanyakan itu!' batin Sista terkejut, mengingat kembali saat Gill bertanya soal naga terkuat.


Ketiga temannya sempat terkejut saat melihat gerakan cepat Gill, namun mereka tetap tenang dan tidak panik sedikitpun. Dengan santainya mereka mengusap darah yang keluar dari pipi dan memberinya tepuk tangan, "Luar biasa" ucapnya.


'Seperti dugaan ku, mereka bukan siswa nakal amatiran. Aku cukup terkejut melihat mereka masih bisa tenang saat rekannya terbunuh. Aku harus waspada!' batin Gill fokus menatap mereka.


"Aksimu memang sangat menakjubkan, tapi kau sangat bodoh karena berani menantang orang sembarangan." Dengan senyum licik.


"Asal kau tahu aku adalah Putra mahkota dari Raja Iblis Leviathan, Linggar Zophienik. Membunuhku sama saja dengan kau menantang kerajaan ku, kau sudah tak bisa berbuat apa-apa. Skak Mat!" Sambungnya dengan nada sombong sambil tertawa jahat.


"Dia juga adalah siswa yang memiliki hubungan baik dengan Bidadari surga posisi ketiga, Alin Xaverias. Sedikit saja kau berani melukainya maka kau akan di keluarkan dari sekolah ini." Sambung teman Linggar di sampingnya dengan bangga dan percaya diri kalau dia tidak akan kenapa-napa.


"Apa!" Ucap Gill terkejut.


"Cepat atau lambat wanita itu juga akan jadi milikku. Alin Xaverias itu adalah seorang wanita dan wanita sangat mudah untuk ku kendalikan, aku sudah tidak sabar ingin segera mencicipinya." Sambung Linggar kurang ajar.


'Jumlah mereka sebelumnya ada empat orang kenapa sekarang hanya tersisa dua, kemana satunya pergi. Jangan-jangan dia pergi saat aku sedang membunuhnya!' pikir Gill bertanya-tanya setelah menyadari ada yang aneh.


"Kau mau wanita ini kan?" menoleh ke arah Sista yang tangannya di ikat dan mulutnya disumpal "Ambilah, aku sudah bosan bermain dengannya. Wanita ini sudah tidak ada rasanya!" Cela Linggar merendahkannya.


"Itupun jika kau berhasil mengalahkan kami." Sambungnya sambil mengeluarkan senjatanya siap untuk bertarung.


"Kau pasti sudah sadar ada seseorang yang telah kabur dari sini. Kami sengaja membawanya untuk berjaga-jaga kalau hal seperti ini terjadi. Kau akan di laporkan kepada Alin Xaverias dengan tuduhan pemerkosaan dan kami lah yang akan menang." Ancam teman Linggar di sampingnya membawa senjata siap untuk bertarung.


Gill tersenyum mendengar hal itu dan seketika suaranya berubah menjadi besar dan menyeramkan, mereka berdua kaget termasuk Sista yang mendengarnya "Sayang sekali" Ucapnya.


"Kalian akan mati sebelum Alin sampai di sini." Membuka dan mengaktifkan mata terkuatnya secara bersamaan.


'Mata itu!' batin Sista terkejut mengetahui sesuatu.


"Kau pikir itu akan membuat kami takut,-Tubuhku!' batinnya terkejut tubuhnya kaku tak bisa digerakkan.


'Apa yang terjadi?' batin Linggar panik tubuhnya kaku tak bisa bergerak.


'Elemen darah! Apakah aku tidak salah lihat. Dari yang aku baca elemen itu sangat langka dan tidak mungkin di miliki oleh orang kuat biasa. Ini merupakan momen yang sangat berharga bisa melihat elemen darah yang bagi sebagian orang adalah mitos. Bagaimana Vergile bisa memilikinya, sungguh ini tidak bisa di percaya!' batin Sista terkejut melotot kedua matanya.


"Mati lah dengan menderita." Dengan senyum Gill mengutuk mereka berdua.


Seketika dua bulir darah dalam telapak tangan Gill menguap mengeluarkan asap "Apa yang kau lakukan pada kami pengecut,- mereka langsung berteriak sejadi-jadinya merasakan darah dalam tubuh mereka mendidih sampai membakar kulit luarnya.


Gill tersenyum melihat mereka tersiksa, ia merasa puas bisa menghukum seseorang dengan hukuman yang setimpal. Mereka berdua terus berteriak sampai suaranya serak terdengar oleh satu sekolah, tak berhenti di situ Gill langsung membekukan waktu agar ia bisa puas menikmati teriakan tersebut tanpa adanya gangguan dari luar.


Waktu dalam kamar mandi berjalan normal sedangkan di luar membeku untuk sesaat. Kekuatan ini memerlukan energi yang sangat besar jadi tidak bisa di gunakan secara berulang. Saat sedang asik menyiksa mereka secara mengejutkan Gill tiba-tiba batuk berdarah setelah mengeluarkan dua kekuatan besar tersebut.


'Vergile!' Ucap Sista terkejut melihatnya batuk berdarah.


'Sepertinya tubuhku sudah mencapai batasnya' batin Gill setelah melihat bercak darah pada telapak tangannya, 'Sebaiknya aku segera mengakhirinya sebelum mereka balik menyerangku' batinnya langsung memperkuat serangannya berkali-kali lipat.


Mereka menjerit keras merasakan sakit luar biasa saat darah dalam tubuhnya memanas hingga mampu melebur semuanya, dalam hitungan detik tubuh mereka langsung meleleh bagaikan es yang mencair dan menguap menjadi asap hilang seketika.


Setelah membunuh mereka Gill langsung menonaktifkan mata Dementor-nya dan langsung menghubungi Alin untuk mengabarinya soal peristiwa barusan. Seperti biasa Alin menjawab panggilannya dengan nada yang sangat ramah dan hangat, tanpa banyak basa-basi Gill langsung menjelaskan perkaranya.


Setelah mendengar penjelasannya Alin sontak terkejut dan langsung marah karena merasa telah ditipu. Ia marah karena Linggar menggunakan namanya untuk mengancam dan menindas seseorang. Dia tidak menyangka kalau Linggar adalah orang yang biadab dan laknat karena yang Alin tahu ia adalah tipe orang yang baik dan polos, tutur katanya halus dan sangat menghormati orang lain.


Gill memberitahunya kalau saat ini ada bawahan Linggar yang sedang menuju ke tempatnya, ia memberitahu Alin kalau bawahannya itu datang kepadanya untuk memfitnah diri-Nya. Setelah Alin mengetahui itu ia malah menjadi semakin marah karena Linggar berani memfitnah teman baiknya, ia berjanji kepada Gill akan mengeksekusi bawahan Linggar tersebut di tempat.


Gill tersenyum dan mengucapkan terima kasih padanya, begitu pula sebaliknya karena jika Gill tak memberitahunya Alin akan terus percaya kalau Linggar adalah orang yang baik, setelah semuanya jelas mereka pun mengakhiri telepati tersebut.


Ia menoleh ke arah Sista yang sedang menatapnya hangat dengan linang air mata haru. Dalam benaknya Gill tidak ingin menjadi pahlawan karena dia sadar dengan sifatnya yang kejam dan tak berperikemanusiaan. Ia juga tidak mengharap pujian dari orang yang telah dia tolong karena semua yang Gill lakukan adalah bentuk balas dendam kepada keluarganya.


Ia kemudian melepas tali yang mengikat tangan Sista dan langsung pergi tanpa sepatah kata, "Tunggu!" Ucap Sista keras menahan langkahnya.


Gill kemudian berhenti tanpa berbalik, "Terima kasih karena telah menolongku,-


"Sebaiknya kau segera kembali, mereka sudah menunggumu dari tadi." Potong Gill dan lanjut berjalan pergi.


"Anu, bagaimana kamu bisa menguasai Elemen itu. Kenapa kamu menyembunyikannya,-


"Itu tidak ada urusannya denganmu. Jika kau masih menghargai pertolonganku sebaiknya kau bungkam dan jangan menceritakannya kepada siapapun." Sahut Gill lalu pergi kembali ke kelas dengan kedua tangan di masukan ke dalam saku celananya.


Sista terus memperhatikannya yang sedang berjalan pergi, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai alasan Gill yang tak menjawab pertanyaannya 'Ada apa dengan anak yang satu ini, sifatnya aneh sekali. Dia kuat dan berbeda dengan murid pernah yang aku temui selama ini. Apa yang dia sembunyikan, siapa dia sebenarnya.' batinnya penasaran.


Setelah sampai di depan kelas ia langsung masuk dengan santainya, "Darimana saja kau ini Vergile. Kau tidak dengar ya bel masuk sudah berbunyi dari tadi?" Ucap Emilia marah melihatnya tidak disiplin.


Ia berhenti sejenak untuk menjawab pertanyaannya, "Maaf, tadi aku pergi ke kamar mandi sebentar." Jawabnya santai.


"Sebentar katamu,-


"Apakah kau juga mendengar suara barusan Vergile?" Potong Greey bertanya.


"Suara apa?" Jawab Gill bertanya balik.


"Seperti suara orang menjerit, kencang sekali. Masa kau tidak dengar?" Timpal Vania.


"Oh suara itu, tadi aku juga sempat mendengarnya." Jawab Gill santai.


"Kau tahu suara itu asalnya dari mana?" Tanya Greey kepo.


"Entahlah, aku tidak tahu." Kemudian berjalan menuju tempat duduknya.


Ia disambut senyum oleh Indyra mempersilahkannya masuk duduk di bangkunya, "Vergile, apakah kau tadi melihat Bu Sista?" Tanya Indyra.


"Tidak, memang dia belum masuk?" Jawab Gill bertanya balik.


"Belum." Jawabnya.


"Mungkin sebentar lagi." Ucap Gill.


Dan benar saja tak lama setelah itu Sista datang sambil mengempit buku Mapel-nya, "Maaf ya semuanya, tadi ibu sedang ada rapat jadi jadi datangnya agak sedikit telat." Ucap membungkuk meminta maaf.


Para siswa memaklumi hal tersebut dan memaafkan Sista atas keterlambatannya dan jam lanjutan pun di mulai. Saat Indyra sedang iseng memperhatikan Gill mengeluarkan buku dan alat tulisnya, ia dikejutkan oleh bercak darah pada telapak tangannya yang masih segar.


'Vergile, kau bertarung lagi?' batin Indyra menatap wajahnya yang dingin, sadar kalau Gill telah berbohong.