The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 51 ~ Motivasi dan ikatan



'Suara siapa itu?' Tanya Exifilia dalam hati penasaran.


"Tuan Edward! Apakah Anda dengar suara barusan?" Tanya Exifilia memastikan.


"Iya aku mendengarnya. Sepertinya suara itu berasal dari depan." Jawab Edward.


"Tidak sopan! Di saat Orion tengah berduka seperti ini masih ada saja orang yang mencari masalah." Sambung Exifilia marah langsung berjalan untuk menghampiri sumber suara tersebut di ikuti oleh Edward di belakangnya.


"Kreekh! Jdugh!" Suara pintu gerbang yang di buka oleh Exifilia.


"Hei kau! Berani - beraninya,- bentak Exifilia marah.


"Tunggu Exifilia!" Sahut Edward menyuruhnya berhenti.


'Ah!' pikir Acquila terkejut langsung menoleh ke belakang.


"Acquila,?!" 'Apa yang dia lakukan di sini?' Tanya Exifilia dalam hati kebingungan melihatnya duduk di lantai dengan tangis sedih di wajahnya.


"Sepertinya ada yang tidak beres di sini." Kata Edward langsung berjalan menghampirinya di ikuti Exifilia di belakangnya.


"Kalian?" Tanya Acquila dengan suara serak pelan.


"Acquila. Sedang apa kau di sini?,- tanya Edward.


"Apakah kau yang berteriak kencang tadi?" Sahut Exifilia.


"Maaf... Tadi aku sedang mencari Tuan Azazeal." Jawab Acquila pelan kehabisan suara.


"Beliau sudah pergi." Jawab Edward singkat.


"Apakah Anda tahu kemana beliau pergi?" Tanya Acquila dengan wajah penasaran.


"Tidak. Tuan langsung pergi begitu saja." Sambung Exifilia dengan nada datar.


"Tuan..." Rengek Acquila kembali menangis dan bersedih.


"Semua pelayan hadir di sana. Tapi aku tidak melihat mu sama sekali. Kemana kau tadi? Seperti inikah sikap seorang ketua yang tadi dengan heroiknya berani menentang perintah Tuannya?" Sindir Exifilia dengan nada dan wajah judes.


"Tidak Exifilia! Tadi ak,-


"Alasan!" Sahut Exifilia yang terlanjur kecewa.


"Exifilia tenanglah." Ucap Edward menasihatinya.


"Ternyata selama ini kau hanya cari muka di depan kami, dengan bersikap seolah - olah hanya kau saja yang mempunyai rasa peduli yang tinggi. Tapi saat temanmu meninggal. Sedikitpun kau tidak meluangkan waktumu untuk menjenguknya atau bahkan mendoakannya. Ketua macam apa kau ini Acquila!" Bentak Exifilia kecewa bercampur marah.


"Tidak Exifilia, kau salah paham!" Kata Acquila mencoba menjelaskan.


"Cukup Acquila!" Bentak Exifilia marah.


"Kau tidak usah membela diri lagi! Sekarang kami tahu sifat aslimu. Dari awal aku sudah tahu, kamu tidak akan bisa menggantikan posisi Nona Avhriela! Harusnya Helfeany saja yang berada di posisi itu, Bukannya kamu!" Sambungnya marah.


"Exifilia sudah,- kata Edward berusaha menenangkannya.


"Kau mengecewakan Acquila! Kenapa tidak kau saja yang mati dan menggantikan Sam di sana. Itu lebih baik dari pada harus melihat wajahmu yang hina itu di sini!" Cela Exifilia setelah itu berbalik dan pergi.


"Jleebh!" Kata - kata keras Exifilia itu langsung menusuk dalam hatinya yang membuat mentalnya semakin hancur.


"Acquila." Panggil Edward pelan.


"Kata - kata Exifilia yang barusan itu jangan kau masukan dalam hatimu, ya. Kau sendiri tahu kalau suasana hatinya saat ini sedang tidak baik. Biar bagaimanapun Sam itu adalah teman dekatnya, jadi dia pasti merasa sangat terpukul karena kepergiannya. Kau mungkin lebih tau daripada aku mengenai hubungan dekat mereka berdua." Jelasnya mencoba menghibur Acquila.


"Kau sudah berusaha Acquila. Kebanyakan orang hanya bisa mengkritik dan menyalahkan saat kita membuat pilihan yang salah. Mereka tidak pernah tahu seberapa keras perjuangan yang telah kau lakukan untuk mempertahankan nama baikmu. Kebanyakan dari mereka akan melihat kesalahan kecil yang kamu perbuat daripada hal besar yang pernah kamu berikan." Imbuhnya.


'Tuan...' Ucap Acquila kagum dalam hati merasa lebih baik setelah menerima motivasinya.


"Aku juga sama Acquila. Mungkin aku bisa belajar banyak darimu mengenai tugas - tugas seorang pemimpin. Tadinya aku merasa ragu dengan posisi ini. Sebelum Tuan Azazeal pergi aku sempat bertanya satu hal padanya "Bagaimana jika suatu saat ada masalah yang tidak dapat aku selesaikan?" Kata Edward.


"Kau tahu Tuan berkata apa?" Tanya Edward pada Acquila. Namun dia hanya diam dan menggedekan kepala tidak tahu apa - apa.


"Dia menyuruhku untuk mempercayai diriku sendiri. Semua makhluk memang selalu membuat kesalahan, itu wajar karena semua butuh proses. Beliau bilang kepadaku "Tidak ada makhluk yang sempurna di seluruh alam semesta ini" termasuk dirinya sendiri. Yang membedakan adalah bagaimana cara kita menyikapi kegagalan itu. Belajar dari kesalahan adalah cara terbaik untuk merubah diri menjadi lebih baik." Jawab Edward.


"Percaya diri dan tidak pernah menyerah. Aku yakin kau juga memilikinya, Acquila." Kata Edward meyakinkan hati Acquila.


'Ah! Kata - kata itu,?!' kata Acquila dalam hati terkejut teringat kembali dengan kata - kata emas Azazeal.


"Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?" Tanya Acquila bingung dan galau.


"Yang terpenting sekarang adalah bangkit terlebih dahulu." Kata Edward sambil mengulurkan tangannya membantu Acquila untuk berdiri. Dia pun meraih uluran tangannya dan dapat kembali berdiri dengan kokoh.


"Caranya mudah! Sebagaimana kau bisa duduk, tentu kau juga bisa bangkit lagi. Yaitu dengan niat yang kuat kalau kita bisa,-


Acquila langsung memeluk tubuh Edward erat dan mencium bibirnya dengan sangat hangat. Dia senang sampai meneteskan air mata karena dititik terendahnya saat ini masih ada orang yang mau memperhatikannya dengan sangat baik. Sebaliknya jantung Edward langsung berdebar kencang tidak menyangka Acquila akan melakukan ini padanya.


Edward juga turut merasakan apa yang dirasakan oleh Acquila melalui ciuman tersebut. Perasaan mereka saling mengalir dan terhubung satu sama lain. Edward merasakan betul beban berat yang Acquila pikul selama ini. Hal itu Edward ketahui dari gerakan ******n bibirnya yang seperti memberitahunya segala beban berat yang ada padanya.


'Aku belum pernah merasa se-tentram ini sebelumnya saat menghadapi masalah besar seperti ini. Entah kenapa aku merasa seperti memiliki ikatan dengan Tuan Edward. Ia sangat hangat dengan menenangkan, berbeda sekali dengan Tuan Azazeal waktu itu.' pikir Acquila sambil terus menciumnya.


'Dia memberikan semua isi hatinya padaku. Ciuman ini bukan berasal dari nafsu tapi perasaan. Perasaan berat yang membelenggunya selama ini. Yang dia tidak tahu mau membaginya dengan siapa. Selama ini aku mengira hanya aku saja makhluk yang paling tersiksa batinnya. Tapi sekarang aku menyadari kalau aku tidak sendiri.' pikir Edward.


'Tidak adil rasanya jika hanya dia yang memberitahukan perasaannya. Karena sudah sejauh ini, aku pikir tidak masalah kalau aku juga memberitahunya.' pikir Edward kemudian membalas luma*an bibirnya.


'Perasaan ini,?! Dia membalasnya sama seperti aku memberitahunya. Ternyata benar dugaanku. Tuan Edward juga memiliki perasaan yang sama denganku. Perasaan yang terpendam oleh penderitaan.' pikir Acquila yang merasakan ******* bibirnya.


'Kenapa aku tidak tahu kalau selama ini orang yang bernasib sama ada di dekatku.' kata mereka berdua di dalam hatinya masing - masing serempak.


Mereka berciuman dengan sangat hangat dan romantis. Semua isi hatinya mereka keluarkan melalui ciuman tersebut. Tanpa mereka sadari, aksi mereka menjadi bahan tontonan untuk para Knight dan pelayan wanita di Orion.


"Apa yang sedang mereka lakukan?" Tanya salah satu Knight pada temannya.


"Entahlah. Baru kali ini aku melihatnya." Jawab temannya.


"Hahh Nona Acquila. Romantis sekali! Dia sungguh membuatku iri." Kata salah satu pelayan wanita memerah wajahnya menyaksikan itu.


"Kau benar. Dia sungguh beruntung bisa berciuman dengan Guardian gagah seperti Tuan Edward!" Sahut teman satunya.


"Lain kali aku mau tanya. Apa rahasianya bisa semenarik itu di depan mata para Guardian." Sahut temannya yang lain.


"Hei kalian. Apa yang sedang kalian lihat?" Tanya Stacia penasaran.


Sontak mereka langsung terkejut dan berbalik melihat ke sumber suara. "Nona Stacia!" Ucap mereka terkejut melihat Stacia di belakangnya.


'Ah itu!!! Sungguh tidak punya malu melakukan hal intim seperti itu di depan umum!' Ucap Stacia dalam hati mengecam perbuatan mereka berdua.


"Maaf Nona. Alasan kami melihat mereka karena kami merasa penasaran saja dengan apa yang mereka lakukan." Jawab salah satu prajurit.


"Itu bukanlah hal yang penting bagi kalian para Knight. Masih banyak tugas yang perlu kalian kerjakan, kembalilah bekerja!" Perintah Stacia pada mereka.


"Baik Nona!" Membungkuk memberi hormat kemudian membubarkan diri.


"Dan kalian!" Sahut Erfyona yang menghentikan langkah pelayan wanita saat hendak pergi.


"Hal ini tidak patut untuk dibanggakan, jadi jangan coba - coba untuk memberitahukannya kepada siapapun. Kalian mengerti,?!" Ancam Stacia dengan mata melotot tajam yang membuat mereka ketakutan.


"Mengerti Nona, kami berjanji tidak akan memberitahukannya kepada siapapun. Permisi." Langsung pergi dengan ekspresi wajah ketakutan.


'Sungguh pelayan yang memalukan! Disaat suasana sedang berduka seperti ini dia malah melakukan perbuatan tak senonoh seperti itu. Dia sama hina-nya dengan Iblis Tirani! Andai saja Nona Avhriela masih ada di sini, kau pasti sekarang sudah di kutuk menjadi Iblis hina itu!' Ucapnya dalam hati geram melihat kelakuan Acquila. Kemudian ia lanjut berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.


Sementara di lain sisi Gill dan Alin masih dalam perjalan ke Paradise Palace untuk mendapatkan sebuah senjata yang Gill inginkan. Di perjalan mereka menghabiskan waktunya bercerita, bersenda gurau dan mengobrol ringan.


"Gill aku tadi sempat mendengar kau menyebut nama Nona Erfyona dengan sebutan Kakak. Apakah kalian sudah saling kenal sebelumnya atau bagaimana?" Tanya Alin kepo.


"Sebenarnya dia sendiri yang menyuruhku untuk memanggilnya begitu. Katanya dia lebih nyaman dipanggil oleh sebutan kakak dari pada biasanya. Sebenarnya aku agak risih memanggilnya dengan sebutan itu tetapi kalau tidak. Dia akan terus mencubit pipiku dan menggodaku terus - menerus." Jawabnya.


"Aku tidak berdaya di hadapan wanita itu. Di sisi lain Tuan menyuruhku untuk menghormatinya dan di sisi lain dia juga sangat menyebalkan. Aku terpaksa mengalah dan menuruti segala kemauannya karena hanya dia saja satu - satunya orang yang bisa membantuku." Imbuhnya.


"Kau membuat kesepakatan dengan Nona Erfyona?" Tanya Alin memastikan.


"Ya seperti itulah. Dia mau membantuku mengumpulkan detail informasi mengenai Iblis tirani dengan syarat aku harus menerimanya sebagai kakak kandungku sendiri. Tidak boleh melawan apalagi sampai berbuat nakal. Pokoknya harus patuh apapun yang terjadi. Huhh! (Menghembuskan nafas panjang) Dia sungguh berhasil membelengguku. Tadinya aku berfikir akan mendapatkan kebebasan di sini tapi ternyata tidak." Jawab Gill dengan raut wajah lelah.


"Masa remaja adalah tempat di mana kita sedang giat - giatnya mencari jati diri kita. Mengingat keluarga dan orang tuamu saat ini tidak mempedulikan mu. Sepertinya Nona Erfyona berusaha untuk mengisi kekosongan peran tersebut." Kata Alin mencoba menjelaskan maksud Erfyona.


"Nona Erfyona tidak ingin kau memilih jalan yang salah apalagi sampai kau terjebak di dalamnya. Sepertinya dia sangat tulus menyayangimu sebagai adiknya dan tidak ingin kehilanganmu. Aku harap kau juga menerima niat baiknya dengan tulus. Jangan kau sia - siakan orang yang memperhatikanmu." Imbuhnya.


"Baiklah aku mengerti. Selagi dia masih berguna dan tidak menghalangi Ambisi-ku. Aku juga akan menerimanya dengan baik sesuai kesepakatan." Jawab Gill dari hati yang terdalam.


'Ternyata kau masih belum mengerti rasa perhatian dan kasih sayang Gill. Nona Erfyona berusaha memberikan perhatiannya padamu tapi kau malah tidak tulus menerimanya dan hanya menganggapnya sebagai kesepakatan.' ucap Alin dalam hati merasa sedih mendengar jawabannya.


"Apakah kau tidak pernah merasakan kasih sayang dari saudarimu?" Tanya Alin memancingnya berkata jujur.


"Kasih sayang, perhatian, terserah kau menyebutnya apa. Semua itu tidak penting lagi bagiku! Tujuan hidupku hanya satu. Yakni membinasakan ras terkutuk itu dan sebelum tujuan itu terwujud. Jiwa dan ragaku akan terus tersiksa seperti ini." Jawab Gill dengan tatapan serius ke depan.


'Gill yang malang. Seandainya kau tahu manisnya cinta itu seperti apa pasti hidupmu serasa di surga. Meskipun kau berkata begitu aku juga tidak bisa menyalahkan mu. Karena keadaan lah yang membuat kita berubah.' ucap Alin dalam hati berusaha memahami perkataannya.


'Sebaiknya aku mencari topik pembicaraan lain yang mungkin bisa mengalihkan perasaan sedihnya.' pikir Alin berusaha mencari topik pembicaraan.


"Nona Erfyona itu cantik sekali, Kan,?! Apakah kau tidak merasa bangga punya kakak perempuan secantik dia?" Tanya Alin dengan topik yang baru.


"Mestilah cantik diakan wanita. Kalau dia tampan kan aneh jadinya." Jawab Gill polos.


"Hi hi hi, kau ini bisa saja." Kata Alin dengan tertawa kecil.


"Ngomong - omong apakah kau menyukainya,- Maksudku sebagai kakakmu?" Tanya Alin penasaran.


"Tidak. Aku menghormatinya karena perintah. Di luar itu dia adalah wanita yang biasa saja bagiku." Jawab Gill datar.


'Ternyata dia masih polos dan belum mengerti pesona wanita. Itu bagus! Dia akan sulit di untuk rayu. Kalau suatu saat aku bisa mendapatkannya...(menghayal berfantasi di dalam otaknya).


"Selamat Alin! Aku tidak menyangka kau dipinang juga oleh lelaki Dementor ini!" Kata teman Bidadari yang lain dalam khayalannya.


"Kau sungguh wanita yang beruntung mempunyai suami Dementor tampan sepertinya!" Sahut temannya yang lain dalam khayalannya.


"Selamat untukmu Alin. Aku tidak menyangka kau akan mendahuluiku dalam pernikahan ini. Aku hanya bisa mendo'akan yang terbaik untukmu." Kata Queen memberinya selamat.


"Kamu sungguh wanita yang beruntung. Karena berhasil membuatnya memilih dirimu dari sekian banyaknya wanita yang ada. Selamat untukmu Alin." Kata Azazeal memberinya selamat.


"Selamat ya Alin. Aku tidak percaya ini, Gill sudah tumbuh menjadi pria dewasa." Kata Erfyona sambil meneteskan air mata bahagia.


"Alin! (Panggil Gill sambil mengulurkan tangannya) Kita sudah menikah, kenapa tidak langsung saja?" Ajak Gill hendak membawanya pergi ke kamar pengantin.


"Hahh! Tidak - tidak aku masih belum siap. Memalukan sekali." Kata Alin menghayal sendiri yang membuat wajahnya memerah.


'Dia kenapa?" Tanya Gill dalam hati yang menyaksikan Alin menghayal sendiri. "Nasib - nasib. Kenapa aku selalu di pertemukan dengan wanita yang aneh - aneh." Kata Gill sedikit mengeluh.


Tak terasa perjalanan lama mereka menemui ujungnya. Di depan mereka sudah nampak Paradise Palace yang menjulang tinggi dan indah. 'Apakah ini tempatnya? Bagus sekali!' kata Gill dalam hati terpukau melihatnya pertama kali.


"Hei Alin! Apakah ini tempat yang kau maksud?" Tanya Gill padanya. Namun Alin masih saja menghayal dan tidak menghiraukannya.


"Hei!" Panggilnya sambil menepuk pundaknya.


"Aahhh!" Desahnya dengan penuh berahi karena terkejut.


"M-m-maaf Gill. Ada apa?" Tanya Alin gugup sekali memerah wajahnya. 'Memalukan sekali itu tadi. Semoga dia tidak mendengarnya, kalau dia dengar aku mendesah seperti itu. Hancurlah kehormatanku!' pikir Alin grogi mengeluarkan keringat dingin.


"Kenapa kau tadi mendesah?" Tanya Gill terus terang.


'Kyaahhh! Dia mendengarnya! Aku harus apa. Aku harus apa,?! Pikirkan sesuatu, pikirkan sesuatu!' pikirnya langsung panik.


"Emh itu, anu,-" Buntu tidak dapat mencari alasan karena gugupnya.


"Lupakan saja itu tadi ya aha ha ha. Aku hanya terkejut dan sedang tidak fokus. Sekarang apa yang ingin kau katakan?" Tanya Alin cepat saking gugupnya dengan senyum tensin menghiasi wajahnya.


'Hemh mencurigakan.' kata Gill dalam hati dengan raut wajah mencurigainya.


'Gawat habislah aku. Pupus sudah harapanku kalau dia sampai tahu.' ucap Alin dalam hati tegang dengan jantung terus berdetak kencang.


"Apakah itu tempat yang kau maksud?" Tanya Gill sambil menunjuknya.


"Hahh kita sudah sampai! Tidak terasa ya. Ayo ikut aku, kau pasti akan suka!" Ajaknya langsung meraih tangannya dan menariknya pergi.


"Hei tunggu dulu." Kata Gill terkejut.


'Syukurlah! Aku selamat, untung dia tidak meneruskan kecurigaannya.' kata Alin dalam hati sambil terus menarik tangannya membawanya pergi ke Paradise Palace.