
Setelah berhasil mengalahkan Froast Dragon Gill langsung pergi ke Paradise Pallace untuk mengembalikan Lavender Sword milik Alin.
Sesampainya di tempat Gill mendapat banyak sekali godaan dari para Bidadari karena ia datang dengan wujud dewasa sehingga dia terlihat tinggi dan mempesona.
Namun sayang ia langsung menerima efek samping dari God Hand sebelumnya. Terlihat tangan kanannya terkulai lemas tak bertenaga.
Para Bidadari itu mengerubungi Gill bagaikan lalat menyerbu bangkai. Jari dan telapak tangan mereka membelai hangat wajah dan tubuh Gill.
Para Bidadari itu senang saat menggoda dan membelainya. Gill sendiri tak mempermasalahkan hal tersebut selama itu tak mengganggu dirinya.
Sesampainya diruang tahta Gill membungkuk memberi Queen hormat. Avhriela membalasnya dengan senyum dan beberapa kata sambutan.
"Kau memiliki kelopak mata yang sangat mirip dengan-Nya" puji Avhriela pada Gill setelah melihat penampilan barunya.
"Terima kasih Nona." jawabnya.
"Pertumbuhan mu cepat sekali Gill aku sampai pangling jika itu adalah kamu." sambung Ariella di samping Queen.
"Tidak, aku masih Gill yang sama seperti saat itu." jawabnya.
"Bagaimana Gill. Apakah kau berhasil?" tanya Alin penasaran.
"Tentu saja, tapi sebelumnya aku ingin minta maaf padamu." jawabnya sambil meraih Lavender Sword di pinggang belakang.
Alin menggedekan kepala bingung dengan ucapannya "Minta maaf kenapa?" ucapnya.
Gill langsung mengeluarkan pedang tersebut dan menunjukkannya pada Alin. Seketika ekspresi wajahnya berubah saat tahu pedangnya patah dan hancur seperti itu.
Ia syok sampai tubuhnya roboh ke lantai tak percaya Lavender Sword kesayangannya musnah "Pedangku..." ucapnya sedih.
"Maaf tapi sisik Froast Dragon memang sangat kuat." ucap Gill memberitahu penyebabnya.
"Kenapa kau malah menggunakan pedang Alin. Kemana kedua senjata yang dulu aku berikan padamu?" Tanya Queen.
"Aku menjadikannya barang jaminan untuk sebuah kepercayaan." Jawab Gill.
"Dasar kamu tidak tahu terima kasih. Kedua senjata itu adalah kesayangan Ratu, ia rela memberikan barang kesayangannya padamu dan sekarang kau malah,-
"Cukup Ariella." potong Avhriela sambil mengangkat telapak tangannya.
"Katakan kenapa kau melakukannya?" Sambungnya.
"Bolehkah saya mengajukan pertanyaan sebelum menjawabnya?" ucap Gill bertanya balik.
"Katakan." jawab Queen mempersilahkan.
'Apakah Nona pernah ada hubungan dengan para pelayan Orion?' Tanya Gill melalui telepati.
'Apakah aku harus menjawabnya?' jawab Queen.
'Saya tidak memaksa, saya hanya ingin tahu apakah hal yang saya dengar itu benar.' ucap Gill.
'Jadi ini alasan mu memilih bertanya melalui telepati?' ucap Queen menatapnya dari atas singgah sana dengan tatapan penuh tanya.
Gill hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya tersebut. 'Itu benar, tapi sekarang aku sudah tidak mau berurusan dengan tempat itu lagi.' jawab Avhriela.
'Anda pasti masih ingat dengan pelayan bernama Sam?' tanya Gill.
'Oh si Dementor itu.' jawabnya jutek.
'Dia telah terbunuh Empat bulan yang lalu.' ucap Gill mengejutkannya.
"Apa!" ucapnya terkejut mendengar hal tersebut.
"Ada apa Ratu?" Tanya Ariella penasaran.
"Tidak, bukan apa-apa." jawabnya kembali melanjutkan telepatinya.
'Kau pasti bercanda. Sam itu adalah Dementor yang kuat, aku pernah melihatnya mengalahkan lima Guardian sekaligus.' sambungnya.
'Mereka juga berkata seperti itu. Stacia bilang Sam adalah utusan terbaik Tuan Azazeal.' jawabnya.
'Bagaimana mungkin Sam bisa terbunuh?' Tanya Queen yang masih belum percaya.
'Dia berhadapan dengan pemilik Elemen Darah.' jawabnya membuat Queen terkejut untuk kedua kalinya.
"Itu masuk akal karena orang yang memiliki Elemen darah pasti lah sangat kuat." ucapnya.
Dalam hati Avhriela sebenarnya sudah tahu kalau Gill lah pelakunya, ia mengetahui itu dari alur pembicaraannya. tapi ia memilih untuk diam dan tidak membahasnya lebih jauh lagi.
Gill kemudian mendekati Alin dan berkata "Aku berjanji akan mengganti pedang milik mu ini." ucapnya sambil menepuk bahunya halus dan mengusapnya.
"Alin kau jangan merengek seperti anak kecil. Di sini banyak sekali senjata yang sama seperti milik mu, ambilah sesuai yang kau mau." Ucap Queen menasihatinya.
"Tidak, saya tidak mau. Yang merusak lah yang harus bertanggung jawab." tolaknya kekeh.
"Alin jangan menambah beban orang lain, itu hanyalah pedang kelas menengah di sini banyak berserakan,- sambung Ariella.
"Tidak apa-apa, saya memang harus menggantinya. Saya akan bertanggung jawab." potongnya.
Dalam hati Alin tersenyum senang mendengar perkataannya itu, ia tahu kalau Gill tak akan menolaknya.
"Aku minta maaf atas sikap Alin yang menyebalkan, dia memang seperti itu dan selalu menyusahkan kami." ucap Ariella membungkuk.
"Tidak apa-apa, ini bukan salahnya." jawab Gill lembut.
"Apakah kamu sudah bertemu dengan Rose Marry?" tanya Queen.
"Maaf soal itu saya belum mencari tahu." jawabnya.
"Begitu ya." ucapnya pelan.
"Nona jangan risau, setelah semuanya selesai saya akan langsung mencarinya." ucapnya meyakinkan hati Queen.
Avhriela tersenyum "Aku mengandalkan mu Gill." ucapnya berharap.
"Saya akan langsung kembali Nona, Permisi." membungkuk berpamitan.
''Silahkan." jawabnya dengan senyum dan Gill pun pergi meninggalkan Paradise Pallace.
Seperti biasa setelah sampai Gill langsung merubah wujudnya ke bentuk semula dengan penampilan siswa biasa. Ia berjalan menyusuri jalanan malam yang sepi dan sunyi kembali ke kosannya yang berada di tengah hutan.
'Bagaimana kondisimu Froast Dragon?' tanya Gill menghubunginya melalui telepati karena segel kontrak mereka saling terhubung.
'Ini mungkin akan memakan waktu yang lama tapi Anda jangan khawatir Tuan. Saya baik-baik saja.' jawabnya.
'Maaf jika luka yang kutimbulkan akan sefatal ini untuk mu.' ucap Gill merasa kasihan sambil terus berjalan.
'Seekor naga tidak akan mau tunduk jika belum di buat babak belur. Bangsa kami memang terkenal sombong dan keras kepala, ini bukan lah kesalahan Anda.' jawab Froasr Dragon.
'Saya akan tetap bertarung dengan Anda meskipun,-
'Sudah tidak apa-apa, sesuatu yang dipaksakan malah akan berakhir buruk. Asal kau tahu aku juga mengalami luka yang fatal setelah bertarung melawan mu, aku tidak tahu berapa lama tanganku ini bisa sembuh tapi sepertinya ini juga akan lama.' potong Gill.
'Apa yang terjadi dengan tangan Anda Tuan?' tanya Froast Dragon.
'Tanganku tidak bisa digerakkan sepertinya otot dan saraf gerak ku bermasalah.' jawabnya.
'Apakah itu terasa sakit?' tanya Froast Dragon.
'Tidak, ini lebih seperti,- "Suara apa itu!" ucap Gill terkejut setelah mendengar suara gaduh seperti raungan hewan buas yang sedang bertarung.
"Sepertinya tidak jauh dari sini." sambungnya langsung pergi mencarinya.
Tiga puluh menit berlalu dan Gill belum menemukan asal dari suara tersebut. 'Aneh sekali suara itu terdengar jelas dari sini tapi kenapa tak ada satu orang pun di sekitar sini.' pikirnya.
Tanpa berpikir banyak Gill langsung mengaktifkan mata Dementor tahap pertama gunanya adalah untuk melihat hal tersembunyi yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
Dan benar saja ternyata ada sebuah segel besar berbentuk persegi panjang di depan matanya. Gill langsung menempelkan telapak tangannya pada segel tersebut untuk mengecek seberapa kuat segel tersebut.
'Segel ini sangat lemah aku bisa dengan mudah memasukinya. Sepertinya segel ini di buat untuk menutupi pandangan mata telanjang.' pikirnya langsung masuk ke dalam segel tersebut.
Di dalam Gill di buat terkejut saat melihat pertarungan sengit antara tiga murid senior dan satu guru perempuan.
Gill langsung bersembunyi di balik pohon dan mengamati mereka dari kejauhan 'Pelecehan lagi?' pikirnya menduga.
Tiga siswa senior itu memanggil satu ekor Naga, sisanya adalah tipe support dan penggangu. Sedangkan sang guru perempuan memakai Spirit Weapon sama halnya dengan Erfyona yang menggunakan Stella Black Wings.
Spirit Weapon yang ia gunakan berbentuk zirah perempuan dengan sabit panjang melengkung tajam.
'Ini pasti akan sangat seru, aku penasaran sekuat apa guru pengajar di Majesty.' batin Gill terus mengamati.
Terdengar samar di telinga Gill karena jarak mereka terpaut jauh beberapa meter. Namun sedikit yang ia tangkap dari percakapan tersebut adalah salah satu dari siswa tersebut menyatakan perasaannya pada sang guru namun ia ditolak karena sang guru sudah memiliki pilihan.
Ia sudah tidak peduli lagi dengan Istilah 'Cinta tak harus memiliki' ia berfikiran jika dia tak bisa memilikinya maka orang lain juga tidak boleh.
Ia ingin memilik pujaan hatinya itu seorang diri entah itu hidup atau mati, dia hanya ingin pujaan hatinya tersebut terus berada disampingnya dan tidak akan meninggalkannya.
karena obrolan mereka tak kunjung menemui titik terang akhirnya tak ada cara lain selain menyelesaikannya dengan kekerasan.
Terlihat sang guru kesusahan saat menghadapi mereka bertiga. Mereka sangat kompak dan solid sehingga susah untuk di tumbangkan.
Seperti Naga pada umumnya Elemen yang dimilikinya adalah api sedangkan hewan pengganggunya adalah seekor sigung memiliki bau beracun yang menyengat.
Dari segi kekuatan guru tersebut memang unggul namun karena kalah jumlah ia jadi kesusahan. Sepertinya dia belum pernah melawan musuh lebih dari satu, nampak ia sangat kesulitan menahan serangan yang bertubi-tubi.
'Entah kenapa tanganku selalu gatal saat melihat melihat pertarungan sengit seperti ini.' batin Gill dalam hati.
Solidaritas dan kekompakan mereka sangat tinggi, guru tersebut sampai dibuat tak berkutik tidak mampu membalikan serangan.
Semakin lama serangan mereka kian brutal membuat sang guru semakin kuwalahan. Ia tak mampu menahan serangan gabungan tersebut lebih lama lagi karena sudah mencapai batasnya.
Lima menit setelah itu dia tumbang dan terjatuh ke tanah. Tangan dan kakinya sampai bergetar nyeri karena terlalu lama ia gunakan.
Salah satu murid misterius tersebut langsung mencengkeram keras rahang pipinya dan menatap wajah cantik sang guru dari dekat, 'Apa yang sedang mereka bicarakan?' batin Gill dari kejauhan.
Salah satu dari mereka mengetahui kalau ada seseorang yang sedang mengintip di balik pohon, karena terlalu penasaran Gill sampai tidak sadar kalau dirinya sudah ketahuan.
Ia langsung melemparkan sebuah belati kecil yang tajam, karena tak fokus pipi Gill jadi tersayat dan mengeluarkan darah, "Siapa di sana. Keluar lah, percuma kau bersembunyi!" Ancamnya lantang.
Dengan santai Gill keluar dari balik pohon dengan kedua telapak tangan diangkat setinggi pundak.
"kita apakan dia Rey?" tanya temannya pada lelaki yang tergila-gila pada guru tersebut.
Rey langsung melepaskan cengkeramannya dan berdiri menatap Gill tajam, "Kita habisi dia!" jawabnya tegas.
"Aku pernah melihat dia sebelumnya!" sahut temannya mengingat sesuatu.
"Dia adalah anak yang sempat membuat heboh sekolah beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah namanya adalah Vergile murid kelas dari 1A." sambungnya memberitahu.
"Jadi dia siswa yang yang mengalahkan Emilia dan Espher Dragon di ujian masuk?" timpal teman di samping Rey.
"Menang atau kalah, dia tetap lah murid kelas satu tak sebanding dengan kita." ucap Rey.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, cepat berikan wanita itu padaku." Ucap Gill sambil melentingkan jari telapak tangannya.
Mereka bertiga langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar hal itu. Gill hanya menghembuskan nafas panjang, sabar dirinya ditertawakan.
Tak bertahan lama tawa mereka langsung berubah menjadi Histeris saat melihat kepala temannya terpenggal terjatuh menggelundung di depan kaki mereka dengan mata mendelik.
'Sejak kapan dia bergerak!' pikir Rey kaget bercampur panik, "Gio cepat kita mundur,- belum selesai Rey berbicara darah merah kental muncrat membasahi pipinya dan kepala Gio terjatuh menggelundung tepat di tengah kakinya berdiri.
"Gio!" ucapnya gemetar merunduk ke bawah.
Mata Rey langsung mendelik histeris ketakutan, dahinya meneteskan keringat dingin sebelum akhirnya Gill membelah tubuhnya menjadi dua dari atas kepala sampai bawah vital.
Tanpa banyak cakap Gill langsung memikul tubuh guru malang tersebut dan membawanya pulang ke kosan. Sesampainya di kosan Laphia terkejut bukan main saat melihat Gill membawa seorang wanita yang pingsan di pundaknya.
"Ya Tuhan, Vergile kau apakan wanita ini?" Tanya Laphia penasaran.
"Dia tergeletak di tengah jalan, sepertinya dia pingsan aku masih merasakan denyut nadinya." jawab Gill.
"Cepat kau bawa masuk!" perintah Laphia lngsung membukakan pintu lebar.
Di dalam Laphia langsung membangunkan Alice untuk membantunya mengobati perempuan tersebut. "Siapa wanita ini Bi?" tanya Alice penasaran.
"Sudah kamu jangan banyak tanya, Sekarang ambilkan kotak obat milik bibi di kamar!" perintahnya dan Alice pun langsung pergi mengambilnya.
Laphia langsung menggelar tikar di lantai ruang tamu dan menyuruh Gill membaringkannya di sana. Saat sudah terbaring barulah Laphia mengenali sosok dari perempuan yang pingsan tersebut.
"Kulitnya lebam dan penuh goresan, sepertinya dia adalah korban dari aksi kejahatan." duga Laphia setelah mengecek lengan tangannya.
"Dia!" ucapnya terkejut setelah menyingkap rambutnya.
"Bibi mengenalnya?" Tanya Gill penasaran.
"Bibi ini kotak obatnya." ucap Alice datang membawa kotak merah di tangannya.
"Taruh saja di situ." jawab Laphia.
"Sepertinya aku pernah melihat wanita ini sebelumnya. Kalau tidak salah dia adalah seorang guru, aku pernah melihatnya mengajar di sebuah kelas tapi aku lupa di kelas mana dia mengajar." ucap Alice.
"Wanita ini bernama Liliana Han Yora, dia adalah wali dari kelas 2A. Dulu aku mengenalnya sangat baik saat masih menjadi guru." Jelas Laphia sambil memperban lengan tangannya.
"Dia cantik sekali," puji Alice pelan terpukau melihat wajahnya dari dekat.
"Liliana adalah seorang Bidadari, seorang saksi mengatakan bahwa dia pernah melihat Liliana memotong sayapnya sendiri." ucap Laphia memberitahu Alice.
Alice pun terkejut mendengarnya "Kalau itu benar aku ingin tahu kenapa dia melakukannya." ucap Alice pelan sedih mendengar berita tersebut.
"Aku hampir tidak pernah bertemu dengannya setelah pensiun menjadi guru dan sekarang aku tidak menyangka bisa bertemu dengannya lagi. ia masih terlihat sangat cantik dan tidak berubah sedikut pun, aku tidak tahu apakah dia masih mengenaliku." ucap Laphia bercerita.
"Bi aku langsung ke atas ya, aku mau tidur." pamitnya bangkit berdiri.
"Kamu tidak mau makan dulu?" tawarnya.
"Aku tidak lapar Bi, simpan saja buat sarapan besok." jawabnya sambil berjalan pergi.
"Selalu saja seperti itu, sudah dua hari ini dia tidak pernah makan bersama kita." gerutu Laphia.
"Sudah biarkan saja Bi, mungkin dia masih belum terbiasa makan bersama orang baru." ucap Alice.
Saking asiknya mengobrol mereka berdua sampai tidak sadar kalau Liliana perlahan mulai membuka mata "Dimana aku?" ucapnya lirih.
"Kau sudah sadar Liliana?" tanya Laphia.
'Suara ini!' ia kemudian mengucek matanya dan memfokuskan pandangannya, "Laphia?" ucapnya.
"Lama tidak bertemu Liliana." sambutnya dengan senyum ramah.
Liliana tersenyum senang sampai air matanya menetes membasahi pipi "Apakah aku sudah mati, selama ini aku selalu mencarimu Laphia. Aku sangat merindukan mu." ucapnya senang berusaha bangkit dari tidurnya namun Laphia mencegahnya untuk tidak banyak bergerak terlebih dahulu.
"Aku kira kau sudah tidak mengenali wajah ku lagi." balas Laphia pelan merasa malu dirinya sudah mulai menua.
Ia tersenyum, "Aku masih bisa mengenalimu dengan baik Laphia. Dimataku kamu masih Laphia yang sama seperti saat aku mengenal mu pertama kali." jawabnya.
Mereka berdua kemudian berpelukan hangat melepas rindu masing-masing membuat Alice terharu melihat hal tersebut 'Aku senang melihat mereka bisa bertemu kembali. Tidak kusangka hubungan mereka akan sedekat ini.' batinnya bahagia sambil mengusap air matanya.
"Bagaimana aku bisa berada di sini Laphia. Perasaan tadi aku,- kepalanya tiba-tiba terasa sakit saat Liliana mencoba mengingatnya kembali.
"Istirahat lah Liliana, jangan memikirkan hal berat terlebih dahulu. Tubuh mu masih lemah." ucap Laphia kembali membaringkannya tidur.
"Vergile lah yang membawa mu kemari, dia menemukan mu tergeletak di tengah jalan." sambungnya menjelaskan.
"Vergile, dimana dia sekarang?" tanya Liliana begitu bersemangat.
"Dia tidur, setelah membawamu tadi dia langsung kembali ke kamar." jawab Laphia.
"Vergile tinggal di sini?" tanya Liliana.
"Iya, sudah lumayan lama." jawab Laphia "Kenapa, kau nampak begitu bersemangat saat aku menyebut namanya." tanya Laphia penasaran.
"Jujur aku sebenarnya jatuh hati pada anak itu." ucap Liliana mengejutkan mereka berdua.
"Apa!" ucap mereka berdua serempak terkejut.
Terungkap fakta bahwa lelaki yang selama ini dia jadikan alasan untuk menolak para pria sebenarnya adalah Gill itu sendiri.
"Vergile itu masih terlalu dini untuk kau kencani Liliana." ucap Laphia tidak menyangka.
"Di sekolah ini banyak sekali gadis cantik, tapi sepertinya Gill masih belum mengerti keindahan wanita." timpal Alice berargumen.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak akan langsung mengencaninya seperti orang dewasa. Aku akan mengait hatinya dengan perhatian dan kasih sayang seperti yang orang tuanya berikan padanya." jawabnya yakin.
"Aku harap dia tidak salah mengartikan perhatian dan kasih sayang yang kau berikan." ucap Laphia pelan.
Saat masih menjadi Bidadari Liliana pernah bertemu dengan Azazeal namun saat itu dia masih belum tahu siapa namanya. Liliana benar-benar dibuat mabuk kepayang oleh ketampanannya, namun setelah ia melihat eksekusi Erfyona dia menjadi terpukul berat dan depresi.
Jiwanya tersiksa karena sedang dimabuk asmara, namun peraturan tetap tidak boleh di langgar. Karena sudah tak tahan dengan peraturan yang mengekang akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Paradise Pallace dan memotong sayapnya agar dia tidak bisa kembali dan bisa bebas memilih cinta.
Setelah memotong sayap bukannya kebahagiaan yang dia dapat tapi malah melahirkan sebuah penyesalan. Liliana baru sadar setelah beberapa tahun di bumi kalau lelaki yang dia taksir adalah bangsa langit, tanpa sayapnya ia tak akan bisa bertemu dengannya lagi.
Wajah Gill mengingatkannya pada Azazeal hal itu lah yang membuat hati Liliana senang berbunga-bunga saat bertemu dengan Gill. Liliana Han Yora memilki tubuh yang masih muda kencang terawat seumuran dengan Leona Havelyn dan sedikit lebih tua daripada Alin. Bisa dibilang Liliana memiliki pesona mama muda yang baru memiliki satu anak kecil.