
Sementara itu di Orion.
Semua pelayan turut berduka cita atas gugurnya Sam di dalam misi. mereka semua berkumpul di kamarnya sembari merundukkan kepala dengan wajah yang sedih dan linang air mata.
Tubuh Sam hancur secara mengenaskan. tangan kanan dan kirinya putus dari tubuhnya, perutnya sobek sampai terlihat organ dalamnya, sayapnya patah dan bulunya kusut dekil bercampur dengan tanah seperti bekas hempasan yang keras.
Rambutnya kotor oleh lumpur bercampur darah, pipinya robek sampai rahang giginya terlihat. Kaki kanan bawah lutut putus sementara kaki kirinya penuh dengan luka sayatan yang dalam.
"Sam kenapa kau pergi begitu cepat. aku akan sangat kesepian tanpamu disini. Jawab aku Sam,- Ujar Exifilia bercampur isak tangis sedih.
"Nona. Tuan Sam sudah tiada, anda harus kuat menerima kenyataan ini. kalau Anda terus bersedih seperti ini dia pasti juga merasa sedih di sana." Sambung Uriel berusaha menguatkan hatinya yang sedih sambil menempelkan tangannya di pundaknya.
"Uriel katakan padaku semua ini tidak nyata. Hiks... Hiks." Ucap Exifilia sedih menyandarkan kepalanya di dada Uriel tidak berhenti untuk menangis.
"Tidak Nona, ini nyata. Hidup memang keras dan kejam." Jawab Uriel meneteskan air mata sedihnya sambil memeluk erat tubuh Exifilia berusaha menguatkan hatinya.
Mendengar itu Exifilia menangis sangat sedih sampai meraung-raung tidak percaya kalau Sam temannya itu sudah pergi untuk selamanya. Exifilia adalah pelayan yang paling terpukul atas kepergian Sam saat ini. Biar bagaimanapun Sam adalah pelayan yang paling dekat dengannya walaupun hubungan mereka tidak bisa dibilang akrab.
Mereka berdua selalu berselisih karena perbedaan dan saling kritik mengkritik satu sama lain. mereka berdua selalu bertengkar seperti anak kecil namun pada saat menjalankan tugas bersama. mereka berdua sangat kompak dan solid, tidak ada lagi perdebatan ataupun saling ejek. Mereka sangat kuat dan tak terkalahkan.
Chemistry mereka sangat bagus dan semua pelayan mengakui itu. hampir semua misi yang dibebankan kepada mereka berhasil diselesaikan dengan sangat baik seperti yang di inginkan oleh karena itu mereka berdua di beri julukan Ellain Dreadwyrm (Permusuhan yang saling menguatkan).
Para pelayan memaklumi Exifilia yang menangis sampai meraung-raung karena mereka tahu. Dialah pribadi yang merasa paling kehilangan.
'Sam kenapa kau meninggal Se-tragis ini.' ucap Stacia dalam hati memejamkan kedua matanya dengan linang air mata kesedihan. ia masih tidak percaya kalau depannya itu adalah Sam yang sudah menjadi mayat.
"Aku tidak kuat menyaksikan semua ini." Sambungnya seketika berbalik dan berlari pergi ke luar tak kuat melihat tubuh Sam yang hancur mengenaskan.
"Nona Anda mau kemana!" Panggil Lazarus yang melihatnya tiba - tiba berlari pergi keluar.
"HARI INI KITA TELAH KEHILANGAN KELUARGA KITA YANG BERHARGA. IA GUGUR DENGAN TERHORMAT SEBAGAI PELAYAN YANG LOYAL. APABILA ADA KESALAHAN ATAU DOSA YANG PERNAH DILAKUKAN OLEHNYA. YANG MUNGKIN SAMPAI SAAT INI MASIH TERSIMPAN DI HATI KALIAN. MOHON UNTUK DI MAAFKAN." KATA SANCTUARY DRAGON LORD MENGELUARKAN KATA - KATA BIJAK DENGAN MAKSUD MEMBANGUN KEMBALI HATI MEREKA.
"SAM ADALAH PRIBADI YANG BAIK YANG MUNGKIN SEBAGIAN DARI KITA TIDAK MENYADARINYA. DI SINI KITA TELAH MELIHAT DENGAN MATA KEPALA SENDIRI. SEBESAR APA PERJUANGAN DAN PENGORBANANNYA SELAMA INI." IMBUHNYA.
"SAM MEMANG SUDAH TIADA. NAMUN SEMANGAT DAN TEKAD KUATNYA MASIH MELEKAT DI HATI KITA MASING-MASING. SEBAGAI KELUARGA BESARNYA MARI KITA MEMBERINYA PENGHORMATAN UNTUK YANG TERAKHIR KALINYA." PERINTAH SANCTUARY DRAGON LORD.
Seisi ruangan langsung berlutut diam untuk beberapa saat yang membuat suasana menjadi hening dan sunyi, hanya ada tangisan Exifilia saja di dalam ruangan tersebut. Ini adalah bentuk penghormatan terakhir untuk setiap bangsa langit yang meninggal terutama mereka yang meninggal dengan jasa yang besar.
"Sreekk Jdugh!" Suara pintu kamar terbuka.
Pada saat mereka tengah memberi penghormatan terakhir kepada Sam tiba-tiba Azazeal datang dengan membuka pintu kamarnya. sontak hal itu membuat mereka semua terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Tuan!" Ucap Edward terkejut seketika mereka semua berbalik dan berlutut kepada Azazeal.
"Bangunlah!" Perintah Azazeal sambil terus berjalan menghampiri mayat Sam yang tengah terbaring di atas ranjang.
Melihat Exifilia yang dari tadi terus menangis di samping tempat tidur Sam membuat Lazarus menjadi tidak enak pada Azazeal. Ia merasa bahwa sikap Exifilia itu terkesan seperti mengabaikan dan terasa tidak sopan. "Nona Exifilia, Berlutut lah! Di depan mu ada Tuan Azazeal- perintah Lazarus.
"Tidak apa-apa Lazarus" Sahut Azazeal.
"Maaf Tuan." Ucap Lazarus membungkuk.
Kemudian Azazeal berbalik untuk melihat mayat Sam. Dalam hati Azazeal yang terdalam sebenarnya dia juga merasa sedih dan ikut merasa kehilangan. walaupun Sam hanya sebilah bidak baginya, namun karena dialah Orion menjadi ramai dan pekerjaannya jadi mudah.
"Selama ini kau telah berjuang dengan sangat keras untuk menjaga nama baikku di luar sana. Aku sangat menghargai semua itu Sam." Ucap Azazeal memberi penghormatan terakhirnya.
"Sedikitpun aku tidak pernah meragukan dirimu. kau adalah pengawalku yang sangat loyal. Sekarang istirahatlah dengan tenang, terima kasih untuk semuanya." Sambungnya mengucapkan salam perpisahan.
Exifilia menangis setelah mendengar ungkapan hati Azazeal yang membuatnya masih tidak percaya kalau Sam sudah tiada. "Sam kau dengar itu kan? Tuan sangat bangga kepadamu. Kau pasti senang mendengarnya,-
"Exifilia" ucap Azazeal sambil meraih pundaknya menatap matanya dalam, berusaha menguatkan hatinya agar dia bisa menerima semua kenyataan ini.
"Tuan." Ucapnya pelan menoleh ke atas membalas tatapan hangat Azazeal dengan wajah yang masih belum ikhlas. Exifilia lalu memeluk tubuh Tuannya tersebut erat sembari menangis sedih di pelukannya. Azazeal pun balas memeluknya, dia seperti seorang ayah yang mencoba menghibur putri kecilnya dengan mengelus rambutnya.
Melihat tubuh Sam yang rusak mengenaskan. Azazeal kemudian mengeluarkan sedikit kekuatannya untuk menyempurnakan kembali tubuhnya seperti sedia kala. Sebelum tubuhnya dikristalkan oleh Sanctuary Dragon Lord dan disimpan di ruang penghormatan.
*NOTE: PENGKRISTALAN ADALAH BENTUK PENGUBURAN/PEMAKAMAN UNTUK JASAD MAKHLUK LANGIT YANG TELAH BERJASA BESAR SELAMA HIDUPNYA. UNTUK MAKHLUK LANGIT BIASA AKAN DI PETIKAN SAMA SEPERTI PENGUBURAN RAJA DI DUNIA.
'Sam!' Pikir Exifilia terkejut senang melihat Azazeal kembali menyempurnakan tubuhnya yang rusak. dengan begini Exifilia sedikit merasa senang walau Sam sudah tidak dapat kembali lagi setidaknya dia masih bisa melihat Sam dengan kondisi tubuh yang utuh.
"Sam!" Ucap Exifilia senang dan langsung memeluk tubuhnya erat yang sudah menjadi mayat.
Setelah menyempurnakan tubuh Sam, Azazeal kemudian berbalik dan mengumumkan kepergiannya setelah ini. "Semua sudah jelas dan telah mendapatkan tugasnya masing-masing. Edward akan menggantikan ku memimpin rapat semesta. Erfyona telah kembali ke Lockheim sesuai perintahku. Gill telah aku kirim ke Majesty untuk melaksanakan misi pertamanya." Jelas Azazeal.
"Kalian jangan menyalahkan Gill atas kejadian ini, semua ini terjadi di luar kendalinya dan sudah menjadi ketetapan Tuhan kita. aku harap kalian tidak terlalu lama larut dalam kesedihan ini. yang sudah pergi ikhlas kan lah dan yang belum Lindungilah!" Sambungnya memberi mereka kata bijak.
"Kekuasaan tertinggi Orion akan aku serahkan kepada Sanctuary Dragon Lord. Dia akan menggantikan-Ku sementara waktu sampai waktu yang telah ditentukan habis." Jelasnya.
"Anda akan pergi Tuan?" Tanya Exifilia dengan nada dan raut wajah sedih karena akan di tinggal oleh Azazeal.
"Anda akan pergi ke mana Tuan?" Tanya Edward dengan raut wajah bimbang tidak yakin mampu mengemban tugasnya sebagai pemimpin.
"Ke tempat yang sangat jauh, yang tidak akan bisa kalian kunjungi." Jawab Azazeal singkat.
"Tuan, tolong beritahu saya kemana Anda akan pergi. kalau semisal ada masalah yang tidak mampu saya selesaikan. setidaknya saya tahu dimana tempat untuk mengadu." Jawab Edward.
"Semua makhluk pasti mengawali sesuatu dengan kesalahan. itu wajar karena semua butuh proses. belajarlah dari kesalahan tersebut dan rubah lah dirimu jadi lebih baik. Percaya diri dan tidak menyerah, aku yakin kau memiliki itu." Jawab Azazeal menaruh kepercayaan yang besar padanya.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin Tuan." Kata Edward penuh semangat membungkuk memberi Azazeal Hormat.
Azazeal tersenyum dan mulai melangkah untuk pergi namun tiba-tiba Exifilia memanggilnya dan menghentikan langkah kakinya. "Tuan!" Panggilnya.
Azazeal kemudian berbalik secara perlahan. Namun secara mengejutkan Exifilia langsung memeluknya erat sampai dadanya menempel ketat pada tubuh Azazeal. "Tuan, aku akan sangat merindukan mu!" Ucap Exifilia di pelukan.
"Aku titipkan Orion ini padamu Exifilia, kau mau kan menjaganya selagi aku tidak ada?" tanya Azazeal yang di jawab anggukan olehnya.
'Exifilia itu seperti anak yang manja, ia selalu ingin diperhatikan dan di sayang oleh mu. aku bangga padamu Tuan, di balik kekuasaa mu yang Absolut ternyata kau juga bisa menjadi orang tua yang baik bagi para pelayanmu.' Ucap Sanctuary Dragon Lord terharu melihatnya.
"Sampaikan salam ku kepada Stacia dan yang lainnya, aku tidak punya banyak waktu untuk berpamitan pada mereka." Ucap Azazeal kemudian melepaskan pelukannya.
"Sesuai yang Tuanku minta." Jawab Exifilia dengan senyum di wajahnya.
"Sanctuary, bawa tubuh Sam ke ruang penghormatan dan kristal-kan dia di sana!" Perintah Azazeal.
"Sesuai perintah Anda Tuan." Jawab Sanctuary Dragon Lord membungkuk patuh kemudian Azazeal berangkat berjalan pergi.
Karena jalan menuju pintu keluar melewati kamar Acquila akhirnya Azazeal memutuskan untuk mampir dan berpamitan padanya. Kecurigaan Azazeal selama ini ternyata benar bahwa penciptaan Acquila tidak murni 100% karena dirinya, melainkan adanya campur tangan Tuhan di dalamnya.
Hal itu bisa dilihat dari sifatnya yang memiliki rasa peka dan sosial yang tinggi bahkan sampai berani menentang Azazeal Tuannya sendiri.
"Acquila." Panggil Azazeal masuk begitu saja ke kamarnya.
Nampak Acquila sedang menangis sedih duduk di atas ranjangnya sembari menekuk kedua kakinya. Ia kaget saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"Tuan?" Ucapnya pelan langsung mengelapi air matanya yang menetes.
"Ada perlu apa Tuan kemari, kalau hanya omong kosong lagi sebaiknya pergi saja." Sambungnya dengan nada dan wajah judes langsung menyingkurkan wajahnya.
"Kenapa kamu tidak datang. seluruh temanmu hadir di sana loh?" Tanya Azazeal sabar berusaha memahami situasinya.
Namun Acquila hanya diam enggan untuk menjawabnya. Ia terus saja meneteskan air mata sedih teringat momen berharganya bersama Sam.
"Kau masih marah?" Tanya Azazeal pelan merasa bersalah namun Acquila tetap saja diam enggan untuk bicara sepatah katapun.
"Aku hanya mau berpesan satu hal kepadamu, selagi aku pergi kau jangan memusuhi Gill. Dia adalah pelayan dengan tugas paling berat saat ini," ucap Azazeal.
'Sudah tahu saat ini aku sedang marah masih saja membicarakan anak setan itu di depanku. Dasar pria tidak punya hati!' Ucap Acquila ngambek kesal dalam hati.
"Kau tidak tahu apa yang telah anak itu lalui selama ini, jika suatu saat ia datang kemari untuk meminta bantuan. Maka tolonglah dia, berilah kemudahan." sambung Azazeal.
'Tidak akan, sampai matipun aku tidak akan segan untuk menolongnya. anak terkutuk itu sudah sepantasnya membusuk di bawah sana! Karena kebodohanmu dia malah datang kemari dan membunuh Sam!' Jawab Acquila dalam hati marah menyimpan dendam.
"Aku sudah menyempurnakan tubuh Sam yang rusak sebagai penghormatan dan upaya terakhirku. Aku akan pergi menyelesaikan perintah Tuhan, jaga dirimu baik-baik Acquila." Kata Azazeal berpamitan.
'Ahh?!' Ucap Acquila dalam hati terkejut mendengar kata-kata Azazeal yang menyentuh hatinya. Ia segera menoleh ke belakang mencarinya namun sayang dia sudah tiada.
"Tuan. Dimana kau?" Panggil Acquila panik mencarinya ke seluruh ruangan kamarnya namun tidak menemukan sedikitpun batang hidungnya.
"Dia mungkin belum pergi jauh!" Kata Acquila menduganya. Ia kemudian berlari ke luar kamarnya menuju Gerbang depan berharap Azazeal belum pergi.
'Aura kekuatannya sudah mulai memudar, Tuan tolong jangan pergi. Sam sudah pergi meninggalkanku dan kini kau juga ikut pergi' kata Acquila dalam hati terus berlari hampir mendekati pintu gerbang.
'Tuan jangan tinggalkan aku.' Ucapnya dalam hati sedih mengulurkan tangannya untuk meraih gagang pintu gerbang.
"Tuan!" Teriaknya langsung meraih gagang pintu gerbang tersebut dan menariknya.
"Wushh! Swusshh!" Angin berhembus kencang setelah gerbang itu di buka.
"Tidak mungkin..." Kata Acquila melongo sedih. Tidak ada siapa-siapa di depan pintu gerbang tersebut sejauh mata memandang. Azazeal sudah pergi meninggalkannya. seketika tubuhnya roboh ke lantai lemas langsung meneteskan linang air mata.
Acquila juga merasakan Aura kekuatannya sudah menghilang bak di telan bumi. ia hanya bisa menangis meraung-raung di depan pintu gerbang tersebut seorang diri. dia hanya bisa menyesali perbuatannya selama ini dan terus memikirkan keburukannya di depan Azazeal.
"Kenapa penyesalan selalu datang di akhir cerita, Kenapa? Padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin dan melakukan segala yang terbaik, tapi kenapa aku malah mengacaukan semuanya. kenapa aku tidak bisa memilih keduanya dan harus mengorbankan salah satunya!... Hikss... Hikss.... Hikss!" Teriaknya menyesal menangis meraung-raung.
"Tuan Azazeal!!!" Teriaknya keras sekali sampai suaranya serak mengeluarkan seluruh kesedihannya dengan menyebut nama orang yang dia sayangi.