
Tak terasa mereka telah seharian melepas rindu dan hari sudah mulai gelap, nampak cahaya matahari mulai meredup menembus kaca jendela kamar Gill. "Maafkan ibu, Gill. Ibu harus segera kembali." Katanya pelan berpamitan.
"Iya Bu, tapi ibu akan mengunjungi ku lagi 'kan?" Tanya Gill sedih.
"Tentu saja, sehari saja ibu tidak melihatmu rindunya setengah mati masa tidak kesini lagi." Jawabnya.
Kemudian mereka berdua berpelukan sebelum berpisah. "Ibu pergi dulu ya, Nak! Jaga diri kamu baik-baik. Ingat apa yang di katakan oleh Imelda, dia sudah seperti ibumu sendiri." katanya sambil memberinya senyum manis.
"Iya, ibu jaga kesehatan juga ya di sana! Sampaikan salam ku kepada Calista." Jawabnya.
"Iya Nak tentu saja, nanti akan ibu sampaikan padanya," ucapnya kemudian memberinya ciuman terakhir sebelum pergi.
"Dah Gill!" Katanya berpamitan di tengah pintu kemudian menutupnya dan berjalan pergi.
"Non Anda tidak mau makan dulu?" Tanya Imelda di ruang tamu.
"Tidak usah Imelda, Terima kasih. Aku sedang buru-buru sekarang." Katanya lanjut berjalan pergi. Imelda mengikutinya dari belakang untuk mengantarkannya sampai halaman depan.
"Aku pulang dulu Imelda! Tolong kau jaga Putraku." Katanya di depan pintu kudanya.
"Iya Non, sudah menjadi kewajiban saya." Kemudian Anastasya naik ke kereta kuda dan lekas berjalan pergi. "Hati - hati Non!" Sambung Imelda.
Sesampainya di depan Istana dia segera membuka pintu kereta kuda dan menurunkan kakinya. "Darimana saja kamu Istriku?" Tanya Norman curiga berdiri di depannya.
"Kamu ini ngagetin saja. Aku baru saja berkunjung dari rumah temanku, anaknya sedang ulang tahun hari ini. Sebagai teman baik, tentu aku akan mengunjunginya." jelasnya.
"Kenapa kamu tidak memberi tahuku sebelum pergi?" Tanya Norman menatapnya dengan serius.
"Kamu tadi masih tidur, aku tidak tega membangunkan mu yang masih terlelap." jawabnya sambil memberinya senyum manis.
Norman terus menatap wajah Anastasya yang tersenyum kepadanya, dalam hati dia masih menaruh rasa curiga karena selama ini dia selalu pergi tanpa izin tetapi tatapannya tersebut teralihkan ketika melihat Calista yang turun menyusul Anastasya di belakang.
'Calista!' kata Norman dalam hati kemudian menghampirinya. Dalam hati Anastasya merasa takut kalau Calista sampai membocorkan rahasianya tersebut kepada Norman.
"Kamu dari mana saja Calista? Harusnya kamu ke sekolah hari ini." Tanya Norman di depannya sambil memegang kedua pundaknya. Tetapi Calista hanya diam membisu dan masih ketakutan membayangkan wajah seram ibunya.
"Nak, kenapa? Kamu sakit?" Tanya Norman cemas.
"Dia sedang tidak enak badan Norman, makanya aku segera pulang. Biarkan dia kembali ke kamarnya untuk istirahat." Sahut Anastasya.
"Ya sudah, kembalilah ke kamarmu, istirahatlah!" Kata Norman. Kemudian Calista lanjut berjalan masuk ke dalam duluan.
"Istriku, aku tidak mau tahu lagi. Mulai sekarang kemanapun kau pergi, izinlah dulu kepadaku supaya jelas. Kalau ada apa-apa di sana aku tahu kamu sedang berada di mana. Bukan hanya kali ini kamu pergi tanpa seizin ku, tapi sudah berkali-kali." Ucap Norman memarahi istrinya.
"Iya aku minta maaf, aku mengaku salah. Aku tidak tahu kamu akan se-khawatir ini kepadaku." Jawabnya merunduk mengakui kesalahan.
Norman menghela nafas panjang kemudian memegang pundaknya. "Aku tidak melarang kamu pergi, tapi tolong beritahu aku kemana kamu akan pergi." Dengan nada pelan sabar.
"Terima kasih Norman, kamu memang suami yang pengertian," pujinya kembali tersenyum kembali.
"Ya sudah mari kita masuk, hari sudah gelap." sambil menarik tangannya mengajaknya masuk ke dalam bersama.
Sementara itu di pondok Gill. Ia tengah bersiap untuk tidur. "Tuan, nanti kalau Anda ingin sesuatu panggil saya, ya? Saya akan kembali ke kamar." katanya.
"Iya Bi, terima kasih." Katanya sambil berbaring di ranjang.
"Selamat malam, Tuan." kemudian pergi.
Setelah mendengar suara pintu tertutup dan langkah kaki Imelda yang mulai menjauh akhirnya dia memutuskan untuk segera tidur, "Gill Fire." Panggil seseorang yang suaranya mirip sekali dengannya sontak dia terkejut dan bangun dengan mata terbuka.
"Wah wah wah! Sepertinya kau senang sekali setelah ibumu berkunjung kemari." Sambungnya seketika Gill langsung menoleh ke arah kaca cermin dimana suara itu berasal. Ia terkejut lagi-lagi dirinya yang brengsek itu muncul lagi ingin meracuni pikirannya.
"Kamu, mau apa lagi kamu menemui ku?" Tanya Gill sedikit keras.
"Tenang saja aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin mengecek keadaanmu saja." jawabnya basa-basi.
Gill segera bangun dari tempat tidur dan menghampiri cermin tersebut, "Apakah kedatangan mu hanya ingin memperdaya ku dengan omong kosong mu itu? Sayang sekali kali begitu, aku tidak semudah itu bisa kau pengaruhi." Katanya tegas.
"Begitu ya? Ternyata kata-kataku terlalu berat untuk otak udang sepertimu,-
"BRAAK!" Gedor Gill marah ke kaca tersebut, "Aku sudah cukup sabar menghadapi mu, jangan mencoba menyulut amarahku lebih dari ini." Ucap Gill tegas memperingatkan.
"Baiklah aku minta maaf, ternyata mempengaruhi mu dengan kata-kata kasar tidak efektif. Sekarang aku akan menyadarkan mu dan mengajakmu berpikir ulang." Katanya hendak mempengaruhinya dengan kata-kata halus yang licik.
"Apa yang kau katakan, mau mencoba mem-bolak-balikkan fakta, ya?" Tanya Gill.
"Saat ini kau sedang melihatku. Coba kau pikir, jika aku tidak menampakkan diri kau kembali buta lagi. Benar 'kan?" Ucapnya.
Mendengar itu Gill hanya bisa diam dan merenung sesaat, "Kau itu sebenarnya tidak cacat Gill, kau saja yang terlalu lemah dan selalu berprasangka buruk kepada dirimu sendiri. Padahal kau hanya butuh aku, Akulah kekutan mu. Sadarlah!" Sambungnya.
"Terserah kau mau mempercayai kata-kataku atau tidak, tapi setelah kau tahu kenyataan tentang dirimu pasti kau akan sangat terkejut. Bangunlah dari zona nyaman ini, buanglah jauh-jauh pikiran pengecut mu yang selalu menganggap dirimu lemah." Nasihatnya.
"Bagaimana caranya? Apa yang bisa kulakukan?" Tanya Gill.
"Oh ayolah, mental mu lembek sekali. Gunakan akal mu! Apa kau selamanya ingin terus menyusahkan ibumu dengan berpura-pura lemah seperti ini! Kau ini laki - laki 'kan?" Tanya sisi gelapnya.
"Berharap saja tidak cukup Gill, harus ada kerja keras yang menyertainya agar keinginan mu itu terwujud. Dunia luar itu tidak semengerikan yang kau kira. Ayo bangunlah!" Sambungnya.
"Ya kau benar! Selama ini aku memang berfikir negatif tentang diriku. Aku tidak mau terus menjadi beban ibuku, aku ingin berjuang untuk masa depanku." Kata Gill mulai tergugah semangatnya.
'Bagus! Akhirnya aku bisa mempengaruhinya, sekarang tinggal melanjutkan ke tahap berikutnya.' pikir Gill jahat dalam cermin.
"Bagus! Seperti itu lah Gill yang aku kenal!" Sambungnya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" Tanya Gill.
"Pertama kau harus keluar dari sini dulu, jangan kau bilang kepada Imelda kemana kau akan pergi." Katanya mengajari Gill.
"Kenapa? Aku tidak ingin membuatnya khawatir memikirkan ku." jawab Gill.
"Kalau kau memberi tahunya secara otomatis dia akan mencari mu dan bila kau tertangkap akan sangat sulit untuk bisa kabur kembali. Ingat dulu Ibumu menyuruhnya membawamu pergi ke kamar saat kau bertanya tentang kebenaran, itu membuktikan kalau sebenarnya ibumu dan Imelda bersekongkol dan menutupi sesuatu darimu." Jelasnya memperkuat hati Gill yang masih bimbang.
"Benar, aku juga merasakan hal itu. Lalu?" Sambung Gill bertanya.
"Alihkan Imelda untuk beberapa hari selama kau kabur, suruh dia untuk pergi ke tempat yang jauh." katanya melontarkan idenya.
"Ternyata kau sangat cerdas dari yang aku kira, jadi kapan aku akan memulainya?" Tanya Gill.
"Soal itu terserah kamu, kalau kau ingin cepat mengetahui kebenaran ya bergegaslah, lebih cepat lebih baik 'kan?" Katanya.
"Baiklah kalau begitu, sudah ku putuskan besok aku akan memulai semua ini!" Katanya yakin.
"Bagus, kalau begitu sampai jumpa besok Gill!" Katanya kemudian menghilang dari cermin. Kemudian Gill bergegas kembali ke ranjangnya untuk segera tidur menyiapkan energi yang cukup untuk rencananya besok.
Keesokan paginya, Imelda mengetuk pintu kamar Gill untuk mengantarkan sarapan, "Tuan, bangunlah! Ini sarapan Anda sudah siap." Panggilnya dari luar sambil mengetuk pintu kamarnya meminta izin sebelum masuk.
"Ayo Gill bangunlah!" Panggil sisi gelapnya dari dalam cermin. Kemudian Gill membuka matanya dan menoleh ke cermin. "Apakah kau sudah siap?" Tanya dia dalam cermin. Gill membalas dengan mengangguk penuh keyakinan bahwa hati dan tekadnya telah bulat nan mantab.
"Masuklah Bi! Aku sedang membereskan tempat tidur." Jawab Gill dari dalam.
Kemudian Imelda memutar gagang pintunya dan akhirnya masuk ke dalam, nampak dari matanya Gill tengah menata rapi bantal dan sprei tidurnya, "Sarapan dulu Tuan, setelah itu Anda lanjutkan lagi." Ucapnya sambil meletakkan makanan yang ia bawa ke meja samping tempat tidur Gill.
"Iya Bi! Taruh saja di tempat biasa, nanti aku akan memakannya." Jawabnya sambil menarik merapikan selimutnya.
"Tolong nanti di habiskan, ya? Nona Anastasya berpesan itu dari kemarin tetapi saya lupa dan baru mengingatnya." Katanya.
"Iya Bi tentu saja. Setelah ini tolong buatkan aku dua cangkir kopi ya ,Bi?" Kata Gill.
"Tumben Anda meminta kopi, bukannya Anda tidak menyukainya?" Tanya Imelda keheranan mendengar permintaanya yang tidak biasa.
"Semenjak Calista memberiku kopi kemarin, aku mulai sedikit menikmati dan mulai suka dengan kopi." jawabnya ngeles.
"Baiklah, tunggu sebentar ya Tuan!" Kemudian berjalan pergi keluar dan menutup pintu kamarnya. Setelah selesai merapikan tempat tidurnya dia segera duduk di kursi depan meja tersebut dan memakan makanan yang telah Imelda siapkan.
Setelah selesai menyantap makanan dia duduk sebentar di kursi untuk menurunkan makanan tersebut ke lambung agar tidak sakit nantinya, "Ini Tuan kopi yang Anda pesan." Katanya mengagetkannya sambil berjalan mengangkat kopi tersebut di tangannya.
"Oh iya Bi! Terima kasih." katanya terkejut.
Kemudian Gill meraih secangkir kopi tersebut di atas mejanya, "Hati-hati Tuan, itu masih panas." Sahut Imelda memberitahunya sebelum Gill menyeruputnya.
"Iya Bi!" Jawabnya kemudian meniupnya perlahan, "Itu secangkir satunya lagi untukmu Bi sengaja memesannya dua. Aku hanya ingin ngobrol santai saja dengan mu di temani secangkir kopi, kayaknya seru!" Katanya sambil terus meniup uap panas yang keluar dari cangkir tersebut.
"Terima kasih Tuan!" Kemudian mengambil secangkir kopi satunya dan meniupnya untuk kemudian menyeruputnya perlahan.
"Oh iya, bibi ini sudah merawat ku lebih dari enam belas tahun 'kan? Apakah bibi tidak rindu dengan kampung halaman bibi?" Tanya Gill sambil terus meniupnya.
"Saya sudah menganggap rumah ini seperti rumah saya sendiri Tuan," jawabnya.
"Tetapi bagaimana dengan anak, suami dan keluarga bibi di sana? Apakah bibi tidak merindukan mereka?" Sambung Gill kembali meletakan kembali cangkir kopi itu di meja sambil menunggunya dingin.
"Suami dan anak saya telah meninggal sejak lama sebelum saya datang kemari. Nyawa mereka melayang saat berperang melawan Black Knight Kingdom yang di pimpin oleh Raja Iblis terkejam dari selatan, Asmoudus!" Jawabnya dengan raut wajah sedih.
"Maaf Bi, aku tidak bermaksud membuatmu sedih. Kalau boleh tahu darimana bibi Imelda berasal, tolong ceritakan kepadaku sedikit tentang kampung halaman bibi." Kata Gill.
"Saya tinggal di kota Cansavania di bawah pemerintahan El Alfonso Kingdom. Dahulu kerajaan tersebut sangat makmur di bawah kepemimpinan Raja Herodes, kami semua sejahtera di bawah pemerintahannya. Namun semenjak terjadi peperangan banyak sekali nyawa pasukan dan orang yang tidak bersalah melayang."
"Ternyata putra Raja Herodes itu telah bersekutu dengan para petinggi Black Knight Kingdom sebelumnya dan bersepakat akan tunduk kepada mereka, asalkan mereka tidak membantai habis seluruh keluarganya."
"Lima tahun setelah kepemimpinannya, efek buruk mulai dirasakan masyarakat. Mulai dari keadilan dan hukum yang semakin melemah, upah pajak dan sewa tanah dinaikkan, sampai kelangkaan bahan pangan kian menjadi siksaan bagi kami rakyat kota Cansavania saat itu."
"Dan yang lebih parah, kejahatan mulai terjadi dimana-mana. Para prajurit penegak hukumlah yang berkhianat kepada rakyat dan menjadikannya mangsa mereka. Para rakyat di paksa tunduk oleh kekuasaan mereka. Anak-anak banyak yang di bunuh, para suami dijadikan pekerja paksa, dan kami perempuan dijadikan sebagai budak pemuas nafsu."
"Kami selalu berdoa dan berharap ada seorang malaikat yang turun membantu kami yang sedang tertindas. Kami sangat tersiksa oleh hukum rimba di bawah kepemipinan Iblis Tirani!"
"Andai saya sekuat itu! Tentu saya tidak akan membiarkan sistem Tirani ini terjadi!" Jelasnya terakhir dengan nada marah.
"Kalau saja aku terlahir lebih awal dan sempurna, pasti aku akan menyelamatkan desamu, Bi." Ucap Gill marah mengepalkan tangannya keras.
"Sudah tidak apa-apa Tuan, semua ini sudah menjadi ketetapan Tuhan. Kita hanya bisa berdoa agar pemerintahan kejam seperti ini segera berakhir." katanya dengan nada sedih.
"Iya Bi, aku juga berharap masalah ini segera selesai." Jawabnya.
'Gawat padahal sudah ku singgung semua tentang keluarga dan desanya, tetapi kenapa dia malah ngotot tetap ingin berada di sini. Tapi aku merasa kasihan padanya, ini seperti pelarian baginya meninggalkan orang yang dicintainya demi bisa selamat.' kata Gill dalam hati naik turun emosinya.
Gill kemudian meraih cangkir kopi di meja dan mulai menyeruputnya, "SLURRRRPP!"
Saat sedang menyeruput kopi tiba-tiba terbesit niat jahil dipikirannya, 'Yah itu ide yang bagus!' pikirnya terkejut menemukan ide cemerlang.
"Uhug-uhug! Hueek!" Teriaknya pura-pura tersedak langsung memuntahkan air kopi dari dalam mulutnya membasahi tubuh dan lantai di bawahnya. "Anda tidak apa-apa, Tuan?" Tanya Imelda panik seketika menarik kain lap dari saku bajunya dan mengelapi baju Gill yang basah.
"Kopi apa ini Bi! Rasanya tidak enak sangat berbeda dengan yang di bawa Calista kemarin." Tanya Gill.
"Maaf Tuan! Saya kira kopi yang di bawa Nona Calista adalah kopi biasa!" Jawabnya dengan merasa bersalah.
'Bodohnya aku! Nona Calista itu kan keturunan Raja! Mana mungkin dia mau minum kopi dengan rasa yang biasa.' katanya dalam hati menyalahkan dirinya.
'Maafkan aku Imelda, sebenarnya kopi yang kau buat ini cukup enak. Kau juga sudah tahu kalau aku memang tidak suka kopi, ini hanyalah alasanku agar kau mau pergi keluar dengan waktu yang lama.' kata Gill dalam hati merasa tidak enak.
"Seperti apa rasa kopi yang Anda rasakan saat itu, Tuan?" Tanya Imelda penasaran.
'Gawat! Aku tidak tahu tentang macam-macam rasa kopi, Bagaimana ini?'pikirnya kebingungan. "Aroma kopi itu sangat kuat dan terasa pekat, sedikit ada rasa unik dari kopi tersebut yang tidak bisa aku jelaskan." Katanya panik asal ngomong.
"Pasti itu kopi luwak!" Jawab Imelda spontan mengetahuinya.
"Kopi luwak?" Sambung Gill bertanya penasaran.
"Kopi luwak memang dinobatkan sebagai kopi ternikmat di dunia. Hampir semua orang menyukainya karena rasa dan aroma khasnya. Kopi tersebut berasal dari biji kopi yang telah di makan oleh luwak, kotorannya dibersihkan dan diolah secara bertahap sampai menghasilkan aroma dan cita rasa yang khas. Kopi itu sangat mahal dan jauh sekali membelinya." jelasnya.
'Tepat sekali! Hyek ternyata ada juga kopi menjijikan seperti itu, tapi syukurlah! Akhirnya aku mempunyai peluang untuk bisa kabur.' kata Gill dalam hati.
"Dimana aku bisa mendapatkan kopi itu? Aku sangat menyukainya." Kata Gill.
"Kopi itu hanya di jual disekitaran kota North Hill, salah satu kota terbesar di Athaelash Kingdom. Perlu lima hari lebih untuk bisa sampai ke sana, belum termasuk waktu kembalinya." Jawab Imelda.
"Yah sayang sekali, padahal itu merupakan kopi satu-satunya yang aku suka." jawab Gill berpura - pura murung dan sedih.
"Kalau Anda memang menyukainya, saya rela pergi ke sana untuk membelikannya untuk Anda." Kata Imelda dengan tulus.
"Benarkah? Tapi tempat itu sangat jauh. Bagaimana cara bibi pergi ke sana?" Tanya Gill.
"Saya bisa meminta bantuan Nona Anastasya untuk mengurus tumpangannya, mungkin bisa sedikit lebih cepat, enam atau tujuh hari mungkin saya sudah kembali lagi." jawabnya.
"Baiklah, terima kasih Bi! Aku akan menantikannya di sini." Jawab Gill senang sekali.
"Tetapi apakah Anda akan baik-baik saja selama saya pergi?" Tanya Imelda sedikit bimbang dan khawatir tentang Gill.
"Jangan risau Bi, bibi kan sudah mengajariku cara hidup mandiri. Aku sudah terbiasa dan lancar mengerjakan semua keperluanku sendiri." Jawab Gill dengan entengnya.
'Oh iya aku lupa! Tuan muda kan dari kecil sudah ku ajari mandiri, lagian sekarang dia juga sudah besar, mungkin dalam hatinya ia juga merasa tidak enak terus menjadi beban.' Pikirnya dalam hati.
"Baiklah, saya percaya kepada Anda, Tuan! Sebentar ,ya saya minta izin dulu ke Nona Anastasya." Kemudian dia berdiri dan lekas berjalan pergi.
"Satu lagi Bi! Tolong katakan kepada Ibu kalau aku akan baik-baik saja di sini. Aku tidak ingin membebani pikirannya yang tengah sibuk bekerja." Sahut Gill dengan sedikit keras.
"Iya Tuan, akan saya sampaikan!" Kemudian dia lanjut berjalan pergi kembali ke kamarnya. Dia menggunakan kekuatan telepati nya untuk meminta izin kepada Anastasya.
Hari itu Kingdom of Norman menerima kunjungan dari keluarga Norman, East Monna. Mereka datang untuk mengunjungi sekaligus merundingkan sesuatu yang penting.
Mereka semua duduk di ruang keluarga yang sangat luas penuh dengan hiasan yang mewah terpajang di dinding. Mereka berkumpul untuk menanyakan kabar satu sama lain saling melepas rindu sudah lama tidak bertemu. "Bagaimana kabarmu Norman?" Tanya Ayahnya Algreed Norman.
"Baik Ayah, Bagaimana denganmu?" Jawab Norman bertanya balik.
"Ayah baik-baik saja." Jawabnya.
"Dan bagaimana juga denganmu Anastasya? Kamu tambah cantik saja!" Sahut Seferaa Istri Algreed Norman di sampingnya.
"Saya baik-baik saja Bu! Senang berjumpa dengan Anda kembali." Jawab Anastasya dengan senyum manis cantik.
"Aku dengar kemarin kalian mempunyai momongan ke lima, dimana anak itu sekarang? Aku ingin sekali bertemu dengannya." Tanya Seferaa mengagetkan mereka berdua.
"Ah mengenai itu...
"Dia telah meninggal sejak lama, imunitas tubuhnya sangat lemah dan akhirnya meninggal lima hari setelah kelahirannya." Sahut Norman menjelaskan dengan raut wajah sedih.
"Sangat disayangkan, padahal kami belum sempat melihatnya." jawab Algreed dengan sedih.
"Sudahlah, lupakan yang sudah terjadi Ibu, Ayah! Kami juga sudah merelakannya pergi, mungkin kami belum beruntung saja hari itu." jawab Anastasya sedih.
"Ayah, Ibu saat ini kan kita sedang berkumpul melepas rindu, lebih baik kita ngobrol hal yang lain saja yang lebih menyenangkan." Kata Norman mengalihkan pembicaraan.
"Lebih baik kita mulai saja makan bersamanya, Mari!" Ajak Anastasya mempersilahkan mereka berdua.
Suasana hangat sebuah keluarga sangat dirasakan oleh Norman dan Anastasya saat ini, sedangkan Gill sedang terbaring sendirian di atas tempat tidurnya sambil menunggu Imelda mendapat izin dari ibunya. Ia tidak tahu kalau saat ini keluarganya tengah mengadakan pesta besar untuk keluarganya yang sedang berkunjung.
Waktu Anastasya dan para keluarga besar Norman sedang makan bersama, tiba-tiba dia menerima panggilan telepati dari Imelda. 'Nona Anastasya! Maaf sebelumnya tengah mengganggu waktu Anda sebentar.' Kata Imelda dalam telepati nya.
'Sebentar, aku sedang sibuk saat ini. Aku akan menghubungi setelah ini.' Jawab Anastasya.
'Baik kalau begitu, saya tunggu Nona.' Kata Imelda kemudian mengakhiri telepati-nya.
"Maaf Norman, aku mau ke belakang sebentar aku sudah tidak tahan." Bisiknya lirih di dekat telinga suaminya.
"Cepatlah!" Jawabnya sambil melirik ke arah para keluarga yang lain yang tengah sibuk makan.
Kemudian Anastasya segera bangkit dari kursi dan segera pergi, Algreed dan Seferaa yang menyadari Anastasya pergi mereka penasaran dan menanyakannya ke Norman ada apa dengannya. Norman hanya menjawab kalau Istrinya hanya ingin pergi sebentar ke belakang dan akan segera kembali lagi setelah ini.
Setelah kelihatan cukup jauh dari keluarga Norman dan suaminya. Dia segera menghubungi Imelda kembali dan menanyakan alasannya menghubungi dirinya. 'Ada apa Imelda, ada kepentingan apa kamu menghubungiku?' Tanya Anastasya.
'Saat ini Gill putra Anda sedang ingin minum sebuah kopi, seperti yang Nona Calista bawa kemarin.' Jawab Imelda.
'Tumben sekali Gill minta kopi. Kopi apa yang dia mau?' Tanya Anastasya.
"Dia hanya mau Kopi luwak asli dari North Hill, seperti yang Nona Calista bawa kemarin.' Jawab Imelda.
'Tempat itu kan sangat jauh, ada-ada saja permintaanya. Lalu bagaimana dengannya, kalau kau tidak ada siapa yang akan membuatkannya makan dan minum? Apakah dia bisa sendiri?' Tanya Anastasya cemas.
'Anda tidak perlu cemas, saya sudah mengajarinya sejak kecil untuk bisa mandiri, saya yakin dia bisa mengurus dirinya sendiri setelah saya tinggal beberapa hari." Jelasnya meyakinkannya.
'Tapi! Bagaimana ka,-
'Tuan muda minta Anda untuk percaya kepadanya Nona, dia sudah besar dan bukan anak kecil lagi.' Sahut Imelda.
Anastasya kemudian menghela nafas panjang, 'Baiklah kalau begitu, aku percaya padanya. Nanti aku akan mengirimkan kuda tercepat yang aku punya agar menghemat waktu dan cepat sampai.' Sambungnya.
'Terima kasih Nona! Saya pamit menyiapkan segala perlengkapan, maaf sudah mengganggu waktu berharga Anda.' katanya hendak menyudahi obrolan tersebut.
'Berhati-hati lah Imelda, banyak sekali perampok dan Iblis jahat di luar sana.' Tutur Anastasya memberitahu.
'Terima kasih Nona atas informasinya, saya akan lebih berhati-hati. Permisi.' Kemudian menyudahi obrolan tersebut.
'Aneh-aneh saja barang yang kamu minta Nak sampai menyusahkan bibi ... Tunggu, jarang sekali Gill meminta hal aneh seperti ini. Apa jangan-jangan ini pengalihan.' duganya merasa khawatir takut kalau rencananya selama ini akan terbongkar.
'Tapi mana mungkin itu terjadi! Dia kan buta dan tidak tahu arah, mana mungkin dia bisa sampai kesini. Sebaiknya aku mengirimkan satu pengawal untuk mengantisipasi jika hal itu beneran terjadi dengan begitu aku sudah tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.' Sambungnya dalam hati kemudian pergi untuk kembali lagi ke Norman.
"Bagaimana Bi? Apakah Ibuku mengizinkan mu?" Tanya Gill penasaran.
"Iya Tuan, beliau berkenan. Saya akan bersiap-siap sebentar sambil menunggu kuda jemputan nya datang." jawabnya.
"Syukurlah! Aku senang mendengarnya. Tolong belikan aku yang banyak ya Bi!" Kata Gill senang sekali.
"Iya Tuan seperti yang Anda minta, saya permisi!" Kemudian Imelda pergi keluar untuk mempersiapkan semua keperluannya.
Gill langsung membuka matanya saat pintu kamarnya di tutup oleh Imelda, "Bagaimana Gill? Sudah siap mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya?" Tanya sisi gelapnya dari dalam kaca.
"Aku siap, aku lelah terus dibohongi." Jawabnya tegas.
"Bagus kalau begitu siapkan juga barang yang akan kau bawa." kata sisi gelapnya kemudian Gill langsung mengemasi juga apa yang akan dia bawa selama di perjalanan.