The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 77 ~ Rekan baru, God Phoenix!



Kerajaan Norman saat ini tengah sibuk mencari keberadaan Anastasya yang sudah seminggu tidak kembali ke istana. Norman merasa cemas karena ia pergi tak meninggalkan kabar. dia menduga kalau Gill lah yang telah membawa istrinya pergi. Norman sampai menyewa pembunuh bayaran untuk mengambil istrinya dan mengeluarkan dana yang sangat banyak.


Dia khawatir kalau Gill akan melukai Anastasya, istri yang sangat ia sayangi. selain itu beredar kabar kalau ada pembantai berdarah dingin yang sangat kuat di Underworld. karena itu lah Norman sangat sedih dan khawatir, tak bisa tidur dan terus memikirkannya. separuh harta Kerajaan miliknya ia gunakan untuk menyewa Iblis pembunuh terkuat, yang dirumorkan pernah membunuh Guardian sebelumnya.


Ia yakin pembunuh sewaannya itu mampu untuk mengalahkan si Malaikat Maut atau sekedar merebut istrinya dari Gill. tak hanya Norman yang merasa cemas, keempat anaknya pun juga merasakan hal yang sama terutama Calista. dia telah mencoba meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari Anastasya namun keinginannya itu ditolak.


Norman khawatir peristiwa yang lampau terjadi kembali, selain itu kepergian Anastasya masih belum jelas penyebabnya. dia takut kalau pembantai itu lah yang mengambil istrinya. Norman berpikir kalau Gill tak cukup berani untuk datang kembali ke tempat yang dulu pernah memberinya trauma.


Singkatnya pembantai itu lah yang membuatnya cemas dan sedih. ia takut kalau suatu saat pembantai itu datang ke wilayahnya dan memporak-porandakan semuanya, itu adalah mimpi buruk yang saat ini para Raja iblis hadapi.


Samidi mencoba menenangkan pikiran Norman yang sedang gundah menunggu kepulangan Anastasya. ia berkata, 'Raja tidak perlu cemas, Ratu adalah wanita yang kuat. Beliau pasti akan kembali' yakinnya. Norman hanya terdiam merunduk dengan tangan menyangga kepala, rambutnya terlihat kusut pertanda ia depresi memikirkannya.


Semua orang yang berada di dalam ruang tahta menunjukan raut wajah sedih, anak, komandan, kepala pelayan, semuanya. saking larutnya dalam kesedihan, mereka sampai tidak mendengar kalau ada dua orang yang masuk dari pintu tahta. Samidi yang menyadarinya sontak terkejut dan meminta Raja untuk melihatnya juga.


Senyum Norman langsung merekah tatkala ia melihat siapa yang datang. seketika dia mengusap air matanya dan segera bangkit dari kursinya, turun menghampiri Anastasya dan Seperaa. ia berlari dan langsung memeluk tubuh istrinya erat. Anastasya terkejut dengan respon suaminya itu, ia tersenyum dan balas memeluk tubuhnya dengan kedua tangan melingkari pinggang.


Seperaa ikut tersenyum bahagia melihat hubungan mereka yang harmonis, bersamaan dengan itu ia juga merasa sedih jika teringat dengan suaminya. Norman bertanya pergi ke mana ia selama ini. Anastasya menjawab kalau ia pergi ke rumah Seperaa, dengan alasan untuk menghiburnya karena sedang bersedih. Norman lalu menoleh ke arah ibunya memastikan apakah Anastasya tidak berbohong.


Sepera mengkonfirmasinya dengan berkata, 'Itu benar. menurut ibu dia tidak perlu berpamitan dengan mu jika hanya untuk bertemu denganku' jawabnya. terlihat wajah Norman sedang menahan amarahnya, dalam hati ia merasa kecewa karena tanpa mereka sadari ia telah mengeluarkan biaya yang sangat banyak untuk menjamin keselamatannya. Ia pun mencoba menjelaskan semuanya dengan kepala dingin.


Mereka berdua terkejut mendengarnya, Anastasya lalu meminta maaf pada Norman tidak menyangka dia akan sekhawatir itu padanya. dia menambahkan kalau baru tahu berita tentang Malaikat Maut yang menjadi momok di Underworld. Norman lalu tersenyum dan memeluknya sekali lagi seraya berkata, 'Tak apa sayang, harta itu bisa di cari tapi wanita secantik dirimu tak ada duanya di dunia ini' ucapnya lembut.


(Diruang makan)


Norman bertanya apakah Anastasya sempat bertemu dengan Gill sebelumnya, ia berbohong dengan mengatakan 'Tidak' karena sudah berjanji dengan Seperaa untuk merahasiakannya. Seperaa lalu menyindir putranya itu dengan perkataan yang mengarah kepada penyesalan. Norman hanya terdiam tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Putra pertamanya Hugo menjawab kalau keputusan yang ayahnya ambil sudah benar, keluarga Kerajaan tak seharusnya menyimpan aib yang memalukan. ia membelanya dengan berkata, 'Hanya karena kejadian itu jangan langsung menyalahkan ayah!' ucapnya tegas langsung mendapat dukungan dari kedua adiknya.


Tak setuju dengan pendapat Hugo, Calista pun bersuara dengan mengatakan 'Jangan berkata seperti itu Kak Hugo. Nyatanya kau tidak ada di sana saat nenek terkena musibah. Malu lah kepada dirimu sendiri sebagai seorang anak yang tak berguna bagi keluarga!' balasnya menohok membuat Hugo marah.


Dengan tatapan tajam Hugo memukul meja makan keras sampai bergetar air dalam gelas,' Lancang sekali, beraninya kau berkata seperti itu padaku!' amuknya keras. Norman langsung melerai mereka berdua dengan berkata, 'Cukup! Kembalilah kalian ke kamar. Kalian membuat kepalaku sakit!' perintahnya tegas.


Mereka berempat seketika terdiam dan langsung pergi menuruti perintah ayahnya. Anastasya lalu mengelus pundak suaminya itu berusaha meredam emosinya, 'Tidak seharusnya kamu berkata seperti itu pada anak-anak mu Norman' tutur Anastasya pelan. Norman lalu meminta maaf sambil memegang tangan istrinya dengan dahi mengkerut penuh penyesalan.


'Apa yang Gill katakan setelah bertemu dengan mu Ibu!?' tanya Norman penasaran. Seperaa menjawab 'Tidak ada, dia bahkan tak menghampiriku dan hanya menatapku dari atas seolah tidak tahu siapa aku' jawabnya. mendengar itu wajah Norman jadi sedih dan berandai jika dia mampu memperbaiki semuanya.


Seperaa langsung mematahkan harapannya itu dengan berkata kalau Gill tidak mungkin akan kembali, hati yang sudah tersakiti mustahil untuk di obati. Seperaa lalu memberinya gambaran rasa sakit yang cucunya rasakan, 'Jika Anastasya mengkhianatimu dengan cara berselingkuh, apakah kau mau memaafkannya dan menerimanya kembali sebagai istrimu. kau telah menyaksikan bagaimana istrimu itu menikmati setiap noda yang pria lain teteskan di tubuhnya. dengan keburukan dan pengkhianatan yang telah ia perbuat, apakah masih ada sisa maaf di hatimu?' ucapnya.


Anastasya terkejut mendengar gambaran cerita yang seperaa katakan, karena itu mengingatkannya kepada dirinya yang dulu. dalam hati Anastasya merasa sangat sedih dan menyesal jika teringat kembali. Mendengar itu Norman tak dapat berkata apa-apa dan hanya menggedekan kepala, tak sanggup memaafkannya.


Seperaa lalu menjelaskan kalau luka yang Gill terima lebih dari itu, 'Norman, Anastasya. kalian adalah orang tuanya, kalian adalah keluarganya. kalian berdua adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya, keluarga adalah rumah dan orang tua adalah makhluk mulia. Norman kau bisa seperti ini karena didikan kami, lihat lah dirimu kau besar sekarang. kau menjadi seorang Raja yang dihormati oleh banyak rakyatmu, semua itu tak lepas dari kasih sayang yang orang tuamu berikan' ucapnya menyadarkan mereka berdua.


'Gill tak mendapatkan itu, dia besar dengan rasa sakit dan kepedihan. orang yang besar tanpa kasih sayang cenderung berpotensi menjadi pribadi yang buruk. tak ada tempat baginya untuk bercerita ataupun belajar, yang ada dalam benaknya adalah balas dendam atas rasa sakit yang telah kalian ukir di hatinya. satu-satunya orang yang dapat mempengaruhi anaknya untuk tidak berbuat buruk adalah orang tuanya. semakin lama Gill hidup sendiri, semakin bulat pula tekat buruknya' imbuhnya membuat mereka berdua cemas.


(Jam 11 malam setelah Gill selesai belajar)


Liliana menemaninya belajar sampai larut malam, matanya sampai merah karena menahan rasa kantuk. dia tersenyum manis kala Gill mengucapkan terima kasih setelah menemaninya belajar. Liliana mengelus rambutnya seraya berakata kalau Gill suatu saat akan tumbuh jadi pria yang tampan.


Gill hanya tersenyum dan tak menanggapinya serius. ia lalu balik bertanya tentang luka yang ia lihat di punggungnya tadi sore. Liliana terkejut dan raut wajahnya sempat berubah terkesan seperti orang yang bimbang. Gill lalu meminta maaf dan tidak memaksanya untuk menjawabnya sekarang, dia hanya mengucapkan rasa penasaran dihatinya karena melihat luka itu sangat dalam dan menyakitkan.


Liliana akhirnya memberanikan diri untuk buka suara, 'Apakah kamu mau berjanji tidak akan menceritakan ini kepada siapa pun?' Gill menganguk dan berkata kalau dia bisa dipercaya, ucapnya dengan tatapan serius.


Liliana lalu bercerita kalau dia bukan lah seorang Manusia, ia membongkar identitasnya sebagai seorang Bidadari yang bodoh dan penuh dosa. Gill terkejut mendengarnya dan bertanya apakah dia sama dengan Alin Xaverias. dia menjawabnya tidak dan menjelaskan kalau ia adalah Bidadari Agung di bawah kepemimpinan Erfyona Land Sankarea.


Gill berkata kalau baru kali ini mendengar nama itu. dia menambahkan namanya mirip dengan seseorang yang dia kenal. Liliana menjelaskan kalau itu adalah nama dari pemimpin Bidadari Agung yang langsung melayani Tuhan. Gill penasaran dengan tugasnya, apakah melayani berarti service intim.


Liliana langsung menepisnya dengan berkata, 'Tuhan tak melakukan hal kotor seperti itu!' dia menjelaskan kalau tugas Malaikat dan Bidadari Agung yang ada di Istana Tuhan adalah terus bersujud dan mengagungkan nama-Nya.


'Lalu bagaimana ceritanya kedua sayap ibu bisa hilang. Yang kutahu sayap Makhluk Surgawi itu sangat kokoh, mustahil benda tajam biasa dapat memotongnya' tanya Gill.


'Ibu sengaja memotongnya untuk sebuah alasan' jawabnya pelan menunduk dengan raut yang wajah sedih. Gill terdiam dan sedikit syok dengan jawabannya.


'Itu pasti sangat sakit karena kulit adalah indera yang paling peka dari setiap anggota tubuh' ucap Gill pelan mencoba memhaminya.


Liliana mengangguk dan berkata kalau rasa sakitnya masih bisa dia rasakan sampai saat ini. Gill lalu bertanya, 'Kenapa ibu rela melakukannya, padahal itu adalah mahkota yang Tuhan berikan'


'Karena Cinta ibu rela melakukannya. Ibu tahu itu adalah tindakan yang bodoh dan tak termaafkan. Ibu menyesal telah melakukannya, sekarang ibu sudah tidak bisa kembali dan hanya bisa menyesalinya sendiri' dengan isak tangis penuh penyesalan Liliana menceritakan dosanya.


Gill langsung memeluknya dan menempelkan dagunya di pundak, telapak tangannya mengelus punggungnya lembut. 'Tak apa ibu, semuanya sudah terjadi. Makhluk berotak dangkal seperti kita memang tidak bisa memungkiri kalau membuat pilihan itu sangat sulit' ucap Gill berusaha menenangkannya.


'Tuhan tahu kau sudah menyesali perbuatanmu, sekarang minta maaf lah padanya. penyesalan adalah bentuk siksa dari dosa yang telah ibu lakukan' sambungnya. Gill lalu melepas pelukannya dan menatap matanya dalam, 'Jika Tuhan murka tentu Dia akan langsung mencabut nyawamu. Jangan ibu sia-siakan kesempatan yang telah Ia berikan' sambil mengusap air matanya yang berlinang dengan kedua ibu jarinya.


Liliana menganguk dan tersenyum lebar mendengar perkataannya. dalam hati Liliana bertanya-tanya, apakah Tuhan sedang berbicara padanya lewat sebuah perantara. Ia merasa setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah cahaya dari keputusasaan. Liliana lalu memberi nasihat pada Gill agar dia tidak bernasib sama sepertinya yang dibutakan oleh cinta. karena cinta adalah godaan terberat setiap insan yang bernyawa.


Gill hanya tersenyum. Liliana lalu bertanya apakah Gill juga pernah merasakan sakit yang rasanya masih membekas sampai saat ini. Gill mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata, 'Apa itu?' tanya Liliana. Gill langsung membuka bajunya dan membuat Liliana terkejut setengah mati. Matanya sampai mendelik dengan alis terangkat ke atas, ia syok sampai menutup mulutnya karena melihat luka pada tubuh Gill yang parah.


'Aku rasa kita impas untuk saling menjaga rahasia' ucap Gill pada Liliana yang masih syok. dia lalu bertanya darimana Gill mendapatkan semua luka ini. Gill malah bercanda dan menyuruhnya untuk menebaknya. awalnya Liliana menjawab kalau itu adalah cakaran binatang buas tapi tebakannya itu salah. tapi karena penasaran ia langsung menyerah dan bertanya jawabannya.


Gill percaya kalau Liliana bukan lah wanita yang 'ember' selain itu Liliana juga mempercayainya dan mau menceritakan kisahnya yang sebenarnya. singkatnya tujuan Gill bercerita adalah untuk memberitahunya kalau bukan hanya dia saja yang memiliki masa lalu yang suram.


Liliana menangis haru mendengarnya, bagaimana Gill terus dibohongi dan diasingkan jauh dari keluarganya karena kecacatan yang ia derita. Gill meminta agar ceritanya ini tidak diceritakan kepada siapapun, dia hanya tidak ingin dikasihani. Gill ingin tumbuh layaknya orang normal lainnya tanpa adanya bayangan kelam dari masa lalu, selain itu kisahnya juga tidak pantas untuk diceritakan.


Sampai akhir cerita pun Liliana tak berhenti dari tangisnya membuat Gill keheranan, 'Berhentilah menangis ibu. itu adalah kisahku, aku lah yang merasakannya' ucapnya.


'Gill kamu tahu? semua wanita itu memiliki fitrah naluri keibuan. meskipun kamu bukan putraku tapi aku sangat menyayangkan perilaku ibumu. Ibu adalah sosok yang mulia dalam keluarga, aku yakin wanita itu bukan ibumu. Seorang ibu tidak akan tega untuk menyakiti buah hatinya, dia adalah orang tua yang lembut dan sabar, akan selalu ada disisimu melindungi apapun yang terjadi' ucapnya menjelaskan dengan nada yang dalam.


Gill hanya menjawabnya dengan nada yang datar, 'Yah aku pernah membaca itu di dalam sebuah buku' Liliana sedih mendengarnya. dia tahu kalau sebenarnya Gill sedang tidak baik-baik saja, dia memendam semuanya sendiri. pshikologinya hancur, tak mendapatkan perhatian ataupun kasih sayang. Gill tumbuh dari rasa sakit dihatinya.


Ia lalu memegang kedua belah pipi Gill dan menatap wajahnya penuh perhatian, 'Gill dari dulu aku ingin sekali punya putra sepertimu. aku berani bilang kalau ibumu itu adalah wanita yang bodoh, suatu saat dia akan menyesal karena telah mencampakanmu. Ibumu tidak tahu kalau dia telah membuang berlian indahnya, yang sudah susah payah dia ukir'


Liliana lalu memeluk kepalanya di dada seraya berkata, 'Mulai sekarang aku akan merawatmu seperti darah dagingku sendiri. aku akan memberimu cinta dan kasih sayang yang tidak orang tuamu berikan. Kau mau kan menerimaku sebagai ibu angkatmu?' Gill menganguk dalam pelukannya. Liliana tersenyum dan mengecup keningnya lalu mereka mempersiapkan diri untuk tidur.


Setelah Liliana tertidur pulas, perlahan Gill mengangkat tangannya dan keluar dari pelukannya menggantinya dengan sebuah guling. sebelum pergi Gill sempat menatap wajahnya sesaat yang sedang tertidur pulas, ia tersenyum dan mengecup keningnya. Wajah Liliana nampak senang setelah menerima kecupan itu, ia lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Gill dan ia pun pergi.


Gill mengobrol bersama Froast Dragon saat sedang terbang di udara, ia bertanya apakah Froast Dragon tahu dimana tempat God Phoenix berada. Froast Dragon menjawab kalau sarang burung api itu berada di dalam Inti Matahari. mendengar itu Gill terkejut sampai berhenti sesaat, 'Apakah kau bercanda?' tanya Gill bercanda.


'Tidak, itu benar Tuan. Manusia menyebut Burung itu sebagai Dewa Matahari tapi sebenarnya dia adalah Guardian yang dikutuk karena berani membangkang. aku tidak tahu kenapa Tuhan mengurungnya disana dan tak memberinya siksa apa-apa' jawab Froast Dragon.


'Misiku akan semakin mudah jika aku berhasil menjadikannya rekan tempurku' ucap Gill bersemangat. Froast Dragon memberitahunya kalau dia adalah burung yang licik, ia tidak akan mudah untuk dijinakan karena sifat pembangkangnya. Froast Dragon memperingatkan Gill untuk berhati-hati dan jangan mudah percaya dengan kata-katanya.


Gill bertanya apakah dia tidak bisa memanggilnya saat berada dalam Matahari. untuk kali ini Frost Dragon menjawab dengan perkataan yang menarik, 'Meskipun kau memanggilku aku tidak akan keluar' ucapnya membuat Gill tersenyum. 'Dasar' gumamnya pelan mengepakkan sayapnya lagi.


(Pagi harinya di kelas)


Tangan Gill masih bergetar setelah ia bertarung dengan God Phoenix. dalam hati ia masih tidak menyangka kalau Elang api itu memiliki kekuatan sebesar ini, bahkan setelah ia berubah menjadi Greates Knight namun tanpa Dreamer Wings. Froast Dragon memujinya dan berkata kalau Gill bisa meratakan separuh lebih dari Underworld hanya dengan menggunakan kekuatannya saja.


Namun secara mengejutkan God Phoenix merespon perbincangan mereka dengan berkata, 'Underworld itu adalah tempat yang kecil, tempat itu akan langsung hangus terbakar jika kau memanggilku. Sebaiknya kau berhati-hati Nak, jangan asal men-summon jika tidak ada hal yang genting. pertimbangkan resikonya, kekuatan yang terlalu besar bisa balik menjadi petaka bagi pemiliknya' Nasihatnya.


'Aku mengerti. kau adalah kartu As-ku God Phoenix, tapi itu masih belum cukup' jawab Gill membuatnya penasaran, 'Maksudmu?' tanya God Phoenix.


'Tuan masih belum memiliki Joker dalam genggamannya, dia mengoleksi As dan King untuk menundukkan Joker. Kartu mematikan sekaligus kunci kemenangan!' jawab Froast Dragon.


'Siapa Joker yang kalian maksud?' tanya God Phoenix. dengan serempak mereka berdua menjawab 'Ragnarok Dragon' seketika God Phoenix tertawa terbahak-bahak. 'Apakah kalian pernah bertemu dengan Naga terkutuk itu, kalian berkata seolah-olah Naga itu mudah untuk ditaklukan' sambungnya tak bisa berhenti untuk tertawa.


Dengan percaya diri Gill menjawab 'Belum' tapi ia yakin kekuatan mereka berdua bisa untuk mengalahkannya. 'Harapan mu terlalu tinggi Nak, sebaiknya kau berpikir ulang atau mengurungkan niatan itu. aku bisa membakar bumi dan menjadikannya Matahari kedua dengan kekuatanku, tapi apakah kau tahu siapa Ragnarok itu?' ucap God Phoenix.


'Apakah kau meragukan kekuatan Tuan?' tanya Froast Dragon terus terang, tanpa banyak pikir God Phoenix menjawabnya 'iya' seketika membuat Froast Dragon marah. 'Karena aku pernah melihatnya sendiri bahwa Ragnarok itu adalah Naga yang mengerikan. biar aku ceritakan kepada kalian seperti apa Ragnarok Dragon itu' sambungnya.


'Ragnarok mendapat julukan Darkness Dragon. dia adalah Raja dari para Raja Naga, satu pasukannya saja memiliki kekuatan yang sama dengan Froast Dragon dan itu jumlahnya ribuan. dia bersarang di dalam Black Hole, tempat yang menyeramkan dan paling dihindari oleh semua Guardian' jelasnya membuat mereka berdua terkejut.


'Itu adalah dua alasan yang membuat Ragnarok mustahil ditaklukan. segala macam bentuk cahaya dan kekuatan tak ada artinya jika harus melawan dahsyatnya Black Hole, belum lagi kau harus menghadapi ribuan Naga kuat di dalamnya. Sanctuary adalah satu-satunya Naga yang bisa mengimbangi kekuatannya. ia memiliki cahaya Galaksi, cahaya yang paling terang yang tidak bisa di lahap oleh kekuatan Ragnarok' sambungnya.


'Aku sempat mendengar kalau mereka dulu pernah bertarung' ucap Gill.


'Kejadian itu sudah sangat lama, kemenangan Sanctuary tak lepas dari campur tangannya Tuan Azazeal di dalamnya' jawab God Phoenix.


'Apa yang membuat Tuan Azazeal bisa menundukan Naga sekuat Ragnarok?' tanya Gill penasaran.


'Tuan Azazeal adalah ketua dari para Malaikat, dia punya separuh kekuatan Tuhan. namun dari yang aku tahu Ragnarok itu dikalahkan dengan Double Belatrix Sword dan Empat penjaga Neraka Heim. sekarang Tuan Azazeal hanya memegang satu Belatrix dan kekuatannya sudah tak sedahsyat dulu lagi, meskipun ia masih memiliki Empat penjaga Neraka Heim' jawab God Phoenix.


Mereka berdua langsung terdiam setelah mengetahui siapa itu Ragnarok, 'Bagaimana Tuan, Apakah Anda masih kukuh ingin menaklukan Naga itu?' tanya Froast Dragon.


'Tentu saja, tapi sebelum itu aku harus memikirkan cara bagaimana aku bisa selamat dari lubang hitam itu' jawab Gill membuat God Phoenix tersenyum, 'Dasar anak bandel' gumamnya bercanda.


Telepati mereka terputus saat Gill mendengar Bell istirahat berbunyi. pengajar sempat memberikan beberapa informasi penting sebelum ia meninggalkan kelas, tapi Gill tak mendengarkannya dan malah termenung memikirkan cara mendapatkan Ragnarok. dia sungguh berambisi untuk bisa memilikinya, Gill berfikir jika dia bisa mendapatkan Ragnarok maka ia akan menjadi makhluk terkuat kedua setelah Tuan Azazeal di semesta ini. Dan jika itu terjadi ia bisa dengan mudah membuat Underworld hancur berantakan dan tentu saja membuat hati Anastasya menyesal karena telah mencampakkannya.


Gill terkejut saat Indyra menepuk bahunya, 'Maaf' ucap Indyra pelan, 'Kamu lagi mikirin apa sih?' sambungnya. Gill menggedekan kepala dan menjawab 'tidak ada' ia beralasan hanya sedang melamun kosong.


Greey kemudian datang dan bertanya, 'Siapa lawan yang akan kau pilih untuk ujian bonus besok Vergile?' Gill menggedekan kepala, 'Ujian bonus, Maksudnya?' ucap Gill bertanya balik karena tidak tahu.


'Yaampun, ternyata kamu dari tadi tidak mendengarkan apa kata guru?' ucap Indyra keheranan yang hanya dibalas dengan gedekan kepala oleh Gill. Greey lalu menjelaskan kalau itu adalah ujian bertarung untuk mendapatkan nilai standar kenaikan kelas, dimana semua murid kelas satu sampai tiga dipertemukan dalan satu arena pertempuran. peserta dibebaskan memilih lawan tandingnya, semakin kuat lawan tanding maka nilai yang akan di dapat juga akan banyak. 'Ini adalah kegiatan tahunan yang selalu dinantikan oleh para siswa, loh! ' ucap Greey bersemangat.


'Nilai ini bisa membantumu naik kelas meskipun nilai Akademis-mu hancur. Kau bisa memanfaatkan ini Vergile!' timpal Indyra.


'Meskipun kau berkata begitu, tapi aku masih belum kepikiran siapa yang akan menjadi lawanku. Bagaimana dengan kalian?' tanya Gill.


'Dipertarungan kali ini aku akan menantang Vessel dari kelas 1B, ketua dari para siswa nakal kelas satu' jawab Greey yakin membuat Indyra terkejut. 'Sungguh, kalau tidak salah dia adalah orang yang diceritakan oleh Vega kemarin kan?' imbuh Indyra tidak menyangka.


Greey mengangguk dan membenarkan ucapannya itu, 'Aku dengar Vessel itu adalah siswa yang kuat, pukulannya mampu membuat lawan jatuh dalam sekali serang' jawab Greey.


Saat mereka tengah asik mengobrol Alice memanggil mereka bertiga dari depan pintu kelas dengan Vega disampingnya, mengajak mereka pergi ke kantin sepertia biasa. 'Yuk kita sambung ngobrolnya di kantin!' ajak Indyra, mereka berdua menganguk dan menghampirinya lalu pergi bersama ke kantin.