
Di dalam ruangan kepala sekolah Stefany tengah sibuk menstempel biodata para murid kelas satu karena sebentar lagi ujian tengah semester akan digelar. Wajahnya sangat serius mengamati isi dari setiap dokumen yang akan ia stempel, meskipun begitu sisa dokumen yang belum ia stempel masih banyak dan menumpuk tinggi di atas mejanya.
Ia kemudian berhenti sesaat dan memutar kursinya melihat awan putih dari balik kaca, 'Ingin rasanya pergi berlibur saat jadwal sedang padat seperti ini, tapi sepertinya itu hanya jadi angan-angan saja.' pikirnya dengan tatapan berharap.
KNOK!
KNOK!
Terdengar suara orang mengetuk pintu. Stefany sampai terkejut karena dia telah tenggelam dalam lamunan, "Masuklah." ucapnya tanpa tanpa membalik kursinya.
Tamu itu pun masuk. terdengar jelas langkah kakinya ditelinga Stefany, "Ada apa perlu apa, cepat katakan. tugasku masih banyak." sambungnya.
"Aku tahu itu." jawab si tamu yang tak lain adalah Alin.
Stefany langsung terkejut sampai jantungnya berdetak kencang mendengar suara tersebut. Ia langsung memutar kursi rodanya dan mendelik matanya terkejut, "Nona!" ucapnya langsung berdiri dari kursi, membungkuk memberi hormat.
"Kamu sepertinya sangat sibuk Stefany. Apakah aku mengganggumu?" tanya Alin dengan senyum.
"Sama sekali tidak Nona, memang seperti ini lah pekerjaan saya sehari-hari." jawabnya.
Alin tersenyum dan mulai berjalan menghampirinya, "Sebaiknya kau istirahat Stefany, pekerjaan tidak akan ada habisnya." tuturnya melihat awan putih dari balik kaca jendela.
"Tidak bisa Nona, pekerjaan ini harus segera saya selesaikan. Tidak lama lagi semua berkas ini akan digunakan untuk ujian tengah semester." jawab Stefany.
"Aku tahu kau adalah pekerja keras. Rajin bekerja boleh-boleh saja, tapi jangan sampai pekerjaan itu membuat mu celaka. Kerjaan padat bisa membunuh mu secara perlahan jika kamu tidak pandai mengatur waktu." ucap Alin menasihatinya.
"Manusia ada batasnya Stefany." sambungnya.
"Saya mengerti Nona, tapi jika saya istirahat. Siapa yang akan menyelesaikan semua ini?" jawab Stefany gundah.
"Biar aku yang selesaikan." jawab Alin membuatnya terkejut.
"Tidak Nona, itu akan merepotkan Anda,-
"Ini perintah!" potong Alin membuatnya langsung terdiam.
"Baiklah, kalau itu adalah keinginan Anda." jawabnya pasrah, "Apakah ini alasan Anda datang kemari, Nona?" sambungnya.
"Tidak. sebenarnya aku ada tujuan lain tapi tidak apa-apa, itu tidak terlalu penting." jawabnya.
"Begitu ya," gumamnya merasa tidak enak.
"Apakah Miranda masuk hari ini?" tanya Alin.
"Dia adalah murid yang sangat rajin Nona." jawab Stefany.
Alin tersenyum merasa senang, "Syukurlah kalau begitu. Kamu bisa pergi Stefany, urusan ini biar aku yang selesaikan." ucap Alin.
"Terima kasih Nona, saya permisi." ucapnya kemudian pergi.
"Satu lagi!" sahut Alin menghentikan langkahnya, "Bisakah kamu panggilkan Miranda untuk ku?" sambungnya.
"Sesuai perintah Anda Nona." jawabnya mengangguk langsung menutup pintu keluar.
....
Tak berapa lama berselang Gill datang menemuinya di ruangan Kepala sekolah, Alin langsung menyambutnya dengan sapaan bahagia, "Hai Gill, lama tidak berjumpa." sapanya.
"Ya aku tahu." jawab Gill datar berjalan menghampirinya.
"Cuek seperti biasa." sindirnya pelan membuang wajahnya kesal.
"Sudah lama menungguku?" tanya Gill sambil duduk.
"Tidak, aku baru saja sampai. Ngomong-omong kenapa kamu tidak pakai seragam sekolah?" tanya Alin.
"Aku di skors selama tujuh hari." jawab Gill.
"Di skors, memangnya apa yang telah kamu lakukan?" tanya Alin terkejut mendengarnya.
"Ceritanya panjang, lupakan saja itu tidak penting. Masih banyak hal lain yang harus kulakukan selain pergi ke sekolah." jawab Gill.
"Baiklah, aku mengerti. jadi apa tujuan mu memanggilku datang kemari?" tanya Alin terus terang.
Gill langsung mengeluarkan semua pedang yang diberikan oleh Erfyona kemarin malam. Alin sempat terkejut melihat semua pedang itu, "Darimana kau dapat semua pedang ini?" tanya Alin.
"Underworld." jawabnya singkat.
"Sungguh?" responnya terkejut mendengar tempat itu disebut, namun Gill hanya diam saja dan menatapnya dingin tak bergeming sedikitpun.
'Sampai senekat itu, aku yakin lawan yang dia hadapi pasti sangat kuat. Ia beruntung bertemu dengan Iblis perampas, sekali bertarung bisa mendapat pedang sebanyak ini.' pikir Alin.
Sedangkan disisi Gill, 'Yah siapa sangka dengan semangkok Rendang bisa mendapat pedang sebanyak ini, aku jadi tidak perlu ke Underworld.' batin Gill merasa bersyukur.
"Pilih lah Alin, pedang mana yang kau mau." ucap Gill.
'Semua pedang ini sangat bagus dan langka, sayang sekali Gill hanya mematahkan satu.' batin Alin terpesona dengan keragaman pedang yang Gill dapat.
"Apakah aku boleh mengambil lebih dari satu?" tanya Alin.
"Aku bilang pilih, bukan borong." sindir Gill.
"Iya-iya, aku tahu." jawab Alin cemberut kesal.
"Aku hanya bercanda, ambil lah sesuka hati mu. lagipula aku tidak akan menggunakan semuanya, mungkin aku akan menjadikannya sebagai cadangan." imbuh Gill membuat hati Alin senang kegirangan.
"Wah, terima kasih Gill!" ucapnya senang sekali langsung mengecup pipi Gill.
"Ih apa-apaan sih kamu!" ucap Gill merasa risih, mengelap kembali bekas kecupan dipipinya.
Alin tersenyum dan langsung memilihnya. setelah hampir dua puluh menit memilih akhirnya ia mengambil tiga buah pedang dari total tiga puluh yang ada di meja. Pilihannya jatuh ke pedang berwarna ungu, hijau pandan, dan biru telur asin.
"Fiuh, ini lebih sulit dari yang aku kira." ucapnya menyudahi sesi pemilihannya.
"Kau sudah selesai?" tanya Gill yang menunggunya sampai bosan.
"Sudah. aku rasa tiga pedang ini sudah cukup, mengingat aku sendiri jarang bertarung." jawab Alin.
"Kalau begitu kita sudah impas." ucap Gill.
"Terima kasih Gill, kamu memang tahu bagaimana cara membalas orang yang telah menolong mu." pujinya.
"Anggap saja itu sedekah." jawab Gill.
"Kau pikir aku sudah tidak mampu!" sangkal Alin marah membuat Gill tertawa.
....
Saat mereka mereka berdua sedang asik mengobrol dan bersenda gurau, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangan tersebut.
KNOK!
KNOK!
Alin dan Gill sontak terkejut mendengarnya, "Siapa itu?" tanya Alin memeriksanya.
"Ini saya Nona, Miranda." jawabnya dari luar pintu.
"Sebentar, jangan masuk dulu!" perintah Alin.
"Baik Nona." jawabnya pelan.
Ia langsung menyembunyikan ketiga pedangnya. begitu juga dengan Gill, "Maaf ya Gill, sepertinya cuma sampai sini saja obrolan kita." ucap Alin pelan merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, aku pergi dulu." jawabnya langsung berjalan pergi.
"Masuk lah Miranda!" perintah Emilia dari dalam.
"Permisi." ucap Emilia langsung membuka pintu.
Emilia sempat terkejut saat melihat Gill ada di sana, mata Emilia sempat melirik tajam ke arah Gill yang sedang berjalan pergi melewatinya. namun Gill hanya diam dan tak meliriknya sedikitpun, pandangannya tertunduk ke bawah menuju pintu ke luar.
KREEK!
JDUGG!
Suara pintu tertutup oleh Gill yang sudah keluar, kebetulan saat itu Vania ikut bersama Miranda di belakangnya. Alasan Vania ikut adalah untuk bertemu dengan Alin dan melihatnya secara langsung, seperti apa penampakan dan wujud cantiknya. Vania sangat penasaran terhadapnya.
Dan begitu Vania melihatnya langsung ia seketika merasa kagum dengan kecantikannya, 'Apakah wanita yang berdiri di depan ku ini adalah Nona Alin, sunguh ia sangat cantik.' batin Vania dalam hati terpesona.
Emilia langsung membungkuk memberinya hormat, diikuti oleh Vania dibelakangnya. "Lama tidak bertemu Nona, senang bisa bertemu dengan Anda kembali." sapa Miranda ramah.
"Sudah sangat lama ya Miranda" jawabnya, ia kemudian berjalan menghampiri Emilia, "Bagaimana kabar mu?" sambungnya.
"Saya baik-baik saja Nona," jawabnya.
"Dan siapa gadis manis disamping mu ini?" tanya Alin membuat wajah Vania merona malu.
"Dia adalah Vania, teman sekaligus asisten pribadiku." jawab Alin memperkenalkannya.
Vania pun langsung membungkuk dengan hormat, "Senang bertemu dengan Anda Nona." sapanya ramah.
Alin tersenyum senang melihat sikap Vania yang sangat sopan, "Apakah Anda adalah Master Nona Miranda. Nona Alin Xaverias?" tanya Vania.
Ia mengangguk pelan, "Senang bertemu dengan mu Vania." jawabnya dengan senyum manis.
'Ya tuhan, dia benar-benar sangat cantik!' batin Vania dalam hati melihatnya tersenyum manis.
"Tidak baik kita mengobrol sambil berdiri, Ayo silahkan duduk!" perintah Alin dan mereka berdua pun duduk bersebelahan.
"Vania, ceritakan padaku. bagaimana keseharian Miranda di sekolah?" tanya Alin membuat Emilia terkejut.
"Aku dengar kamu terpilih sebagai ketua kelas mengalahkan Greey, murid didikan Gabriel. Apa itu benar?" tanya Alin.
"Itu benar Nona, oleh karena itu lah saya sangat sibuk." jawab Emilia.
"Nona Emilia dan Greey adalah dua orang yang sangat disegani di sekolah ini, tak ada satu pun siswa yang berani macam-macam padanya." ucap Vania menyanjung Miranda di depan Alin.
"Begitu ya, lalu bagaimana dengan murid yang sempat bertarung melawan mu dulu, katanya ia bisa mengimbangimu." tanya Alin membuat Emilia terkejut.
"Belum ada yang bisa mengimbangiku Nona, anak itu kalah diakhir pertarungan. perbedaan kekuataan kami sangat jauh, bahkan bagi Greey sekalipun." jawabnya angkuh membuat Alin menghela nafas.
'Dia sengaja menutupinya, padahal aku tahu hasil pertarungan itu sangat tipis.' batin Vania dalam hati.
"Apakah kamu puas, Miranda?" tanya Alin.
"Ya, aku tidak pernah merasa sepuas ini setelah mecapai sesuatu." jawabnya.
"Kamu tidak ada kemajuan Miranda." ucap Alin mengejutkan mereka berdua.
"Maksud Nona?" tanya Emilia tidak mengerti.
"Kau mudah cepat puas dan terlalu menganggap rendah orang lain, orang sepertimu tidak akan bisa bertambah kuat." jawabnya memberikan alasan.
"Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah kamu bangga menjadi murid ku?" tanya Alin.
"Tentu saja." jawab Emilia yakin
"Bangga, atau sangat bangga?" tanya Alin sekali lagi.
"Sangat bangga, tak ada orang lain yang seberuntung diriku." jawabnya dengan nada bangga sekali.
"Itu lah sebab kemunduran mu." sahut Alin membuat Emilia terkejut bertanya-tanya.
"Kenapa bisa begitu, jelaskan kepadaku Nona?" tanya Emilia.
"Kamu terlalu bangga sehingga membuat mu menjadi orang yang sombong. Setelah sombong kau akan menganggap rendah orang lain yang tidak sebanding dengan mu." jawab Alin.
"Kesombongan itu pasti akan menghancurkan mu secara perlahan Miranda. kamu tidak akan bisa melihat dunia dari dua sisi yang berbeda, jika kesombongan itu masih menyelimutimu." tutur Alin.
"Orang yang menyanjung mu sekarang bisa saja menjadi bumerang suatu saat nanti. Jangan cepat puas dengan apa yang kau dapat hari ini, waktu terus berjalan. Tidak selamanya kau akan terus berada di atas." sambungnya.
Emilia hanya termenung diam saat Alin sedang menasihatinta, "Apakah kau mendengarkan ku Miranda?" tanya Alin.
Ia mengangguk, "Aku berbicara seperti ini bukan untuk menjatuhkan mu, tapi karena aku sayang kepadamu." imbuhnya.
"Ini tidak hanya untuk Miranda saja, tapi juga untuk mu Vania. Kamu mengerti kan?" tanya dia.
Vania seketika mengangguk dan menjawabnya, "Iya, saya akan selalu mengingat pesan Anda ini."
Alin langung tersenyum mendengarnya, "Apakah kalian berdua sibuk?" tanya Alin.
"Tidak, kami baru saja selesai makan siang." jawab Vania.
"Kalau begitu, mau kah kalian membantuku menstempel semua dokumen ini?" tanya Alin.
"Bukannya ini adalah tugas Nona Stefany?" tanya Emilia.
"Benar, aku sengaja menggantikannya dan membiarkannya untuk istirahat. Dia sepertinya tidak tidur berhari-hari karena tugas menumpuk ini." jawab Alin.
"Suatu kehormatan bisa membantu Anda Nona." jawab Vania senang sekali.
Alin tersenyum senang mendapat bantuan dari mereka dan ia mulai menjelaskan bagaimana caranya. Tampak mereka berdua sangat giat membantu Alin menyelesaikan tugasnya tersebut, sambil bercanda dan bersenda gurau tidak terasa tumpukan kertas itu sudah tinggal sedikit.
"Nona, apakah saya boleh bertanya sesuatu?" tanya Emilia.
"Ada apa Miranda?" jawab Alin sambil menstempel kertas itu satu persatu.
"Ada keperluan apa Vergile tadi kemari?" tanya Emilia.
"Dia meminta izin untuk pulang ke rumah selama dia skors." jawab Alin beralasan.
"Begitu ya." jawab Emilia langsung balik semangat membantunya.
....
Siang itu Gill berpamitan kepada semua orang yang ada di kosan, Alice, Laphia, dan Liliana. Mereka semua hanya berpesan kepada Gill untuk berhati-hati di jalan, kecuali Liliana yang terlihat seperti berat hati dirinya ditinggal pergi.
Laphia yang melihat Liliana bengong menyikutnya sedikit membangunkannya dari lamunan, ia kemudian menyuruhnya untukmengucapkan sesuatu sebelum Gill pergi.
Dengan malu Liliana mulai mendekati Gill dan mengucapkan isi hatinya kalau dia sebenarnya tidak ingin ditinggal sendiri. Gill tersenyum dan mengatakan ia pergi tidak akan lama, dia juga memperingatkan Liliana untuk lebih berhati-hati selagi dirinya pergi.
Liliana bertanya apakah rumahnya itu jauh dan Gill menjawabnya tidak, ia menjelaskan punya cara tersendiri untuk bisa sampai rumah dengan cepat dan aman. Liliana kemudian memeluknya hangat cukup lama, "Aku sudah menganggapmu seperti anak ku sendiri Vergile, tapi aku tidak bisa menghalangimu untuk bertemu dengan orang tua aslimu." ucapnya dalam pelukan.
"Terima kasih. aku sangat beruntung memilikimu wanita sepertimu, Bu Liliana." jawab Gill.
Saat mereka sedang berpelukan hangat barulah tak di sangka Indyra datang membawa sambil menenteng sesuatu ditanganya, Gill yang melihat itu langsung melepaskan pelukannya perlahan karena tidak enak dilihat olehnya.
Indyra kemudian bertanya Gill akan pergi kemana dengan pakaian rapi seperti itu, Gill menjawab kalau dia ingin pulang ke rumah. Seketika wajah indyra berubah menjadi sedih, ia berkata kalau hari ini kelas terasa sepi tanpa dirinya. Dia berharap bisa menemui Gill di kosan jika tidak bisa menemuinya di sekolah, tapi sepertinya itu tidak bisa.
Gill kemudian bertanya barang apa yang Indyra bawa tersebut, ia kemudian memberikan barang ia bawa tersebut pada Gill. Dan setelah dibuka ternyata isinya adalah pakaian kotor yang dia kenakan saat menyelamat Indyra dahulu.
Gill langsung mengeluarkannya dari kantong plastik dan segera mencium baunya. Laphia seketika tahu gadis itu lah Gill selamatkan dalam ceritanya itu. Gill langsung mengucapkan terima kasih banyak padanya karena telah mencucikan pakaiannya, dia juga memuji Indyra kalau pakaiannya tidak pernah sewangi ini. Gill benar-benar sangat senang bajunya bisa kembali dengan bersih dan wangi.
Indyra menjadi tersipu malu oleh pujiannya itu sampai ia memalingkan wajahnya, tak ingin dilihat oleh Gill. Indyra menjawab kalau apa yang ia lakukan ini tidak sebanding dengan pengorbanan Gill waktu itu, ia hanya ingin membalas kebaikannya.
Gill kemudian menyerahkan pakaian itu pada Liliana dan langsung berpamitan pada Indyra. ia tidak menyangka kalau Indyra akan langsung memeluknya. Ia berpesan agar Gill hati-hati di jalan. Gill membalasnya dengan senyuman dan berkata tidak ada yang perlu di khawatirkan. Setelah itu Gill langsung pergi dan Indyra dipersilahkan masuk oleh Laphia.
....
Hari itu di Underoworld Sepera dan suaminya baru saja pulang dari menjenguk cucunya Calista yang dikabarkan menderita penyakit aneh, mereka lega sekarang cucunya itu sudah baik-baik saja. Dalam hati sebenarnya Sepera merasa senang mendengar kabar Gill yang baik-baik saja, entah kenapa ia sangat menyukai cucu bungsunya tersebut.
Namun di tengah jalan ada sesuatu yang terjadi dengan kereta kuda yang mereka naiki, para kuda mendengkik seperti ketakutan dan membuatnya susah dikendalikan. karena penasaran Sepera langsung membuka kaca jendela dan mengeceknya. Secara mengejutkan ternyata di depan ada tiga ular yang sangat besar, sedang berdiri menghadang jalan mereka.
Karena bahaya pengawal menyuruh Sepera untuk tetap berada di dalam, suaminya bertanya apa yang sedang terjadi di luar. Sepera menjawab kalau ada tiga ular besar yang sedang menghadang jalannya, terdengar dari luar suara prajurit yang berteriak kesakitan terkena serangan ular tersebut.
Hal tersebut semakin membuat mereka berdua ketakutan, karena usia mereka yang sudah tidak lagi muda membuat mereka menjadi renta. Dalam kereta keduanya bergandengan tangan erat, berharap keadaan bisa membaik.
Namun yang terjadi malah sebaliknya, para prajurit malah semakin banyak yang menjadi korban oleh keganasan ular tersebut. Sepera dan suaminya di buat terkejut oleh salah satu prajurit yang membuka pintu keretanya menyuruh mereka berdua untuk segera kabur menyelamatkan diri, belum sampai prajurit itu selesai bicara ular besar langsung datang menerkamnya dari belakang dan menelannya bulat-bulat.
Sepera dan suaminya langsung berteriak histeris melihatnya, tak lama setelah itu atap kereta mereka dibuat rusak oleh hempasan ekor ular yang sangat keras hingga membuatnya rusak. terlihat ketiga ular itu mengepung mereka dari segala arah, tak ada lagi prajurit yang tersisa saat itu. Semuanya mati secara mengenaskan dan hanya meninggalkan potongannya saja.
Karena sudah terdesak suami Sepera memutuskan untuk mengorbankan dirinya dan menyuruh Sepera untuk pergi meninggalkannya, ia yang masih berat hati memilih untuk berteriak meminta bantuan, saat dia lekas berteriak suaminya langsung membungkam mulutnya agar ketiga ular tersebut tidak merasa terancam.
Saat sedang memberitahu Sepera, suaminya tersebut lengah dan menjadi sasaran empuk bagi ketiga ular tersebut. Alhasil ia langsung meninggal ditempat secara tragis dengan setengah tubuh saja, setengah sisanya termakan oleh ular dengan serangannya yang sangat cepat.
Sepera langsung menjerit histeris tak percaya suaminya mati, mendengar jeritan itu ketiga ular tersebut menjadi terancam dan serempak langsung menyerangnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain berteriak dan menutup matanya. Karena teriakannya itu sangat keras ia sampai tidak tahu ketiga ular itu sudah mati terhempas oleh sesuatu yang sangat keras.
Tak lama kemudian prajurit lain datang menjemputnya. Sepera yang mendengar panggilan dari pemimpin prajurit seketika membuka matanya dan terkejut melihat ketiga ular tersebut sudah mati secara mengenaskan seperti terkena serangan yang dahsyat hingga membuat tubuh ular itu hancur berantakan.
Mereka langsung meminta maaf kepada Sepera karena sudah datang terlambat, gara-gara keterlambatanya itu suami Sepera menjadi korban. Ketika mereka sedang bertanya mengenai kronologi, tiba-tiba salah satu prajurit berteriak histeris menyebut kata 'Dementor' sambil menunjuk ke arah langit.
Mereka semua lantas terkejut termasuk Sepera sendiri, terungkap fakta bahwa yang membunuh ketiga ular itu adalah Gill menggunakan Arigma Stacion senjata terkuat yang diberikan oleh Queen sebelumnya.
Sepera yang melihat itu langung dibuat terkejut, hatinya campur aduk antara perasaan senang dan tidak percaya. Ia seketika bisa mengenali siapa Dementor itu, dalam hati dia langsung menyebutnya ''Gill cucuku!'' dengan air mata menetes bahagia, senang bisa bertemu dengannya lagi.
Tapi pertemuan itu tidak berlangsung lama karena para prajurit langsung membawanya pergi menjauhi Dementor itu. Sepera hanya bisa melihatnya dari kejauhan sebelum akhirnya Gill berbalik dan terbang tinggi meninggalkannya.
....
Disisi lain Gill tengah mengobrol dengan Froast Dragon melalui telepatinya, ia menanyakan soal kebimbangannya karena ragu hendak menemui ibunya. Froast Dragon meyakinkannya kalau tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, ia berjanji akan setia membantu dan melindungi Gill kemanapun ia pergi.
Mendengar itu Gill tersenyum dan tidak bimbang lagi, keputusannya saat ini sudah bulat yakni menemui Anastasya di Kerajaannya.
Setelah cukup lama mengudara akhirnya Gill sampai di tempat tujuan, ia langsung mendarat disebuah ujung tebing dan mengamati Kerajaan tersebut dari kejauhan. Letak dari Kerajaan Norman bisa dibilang tidak strategis karena lokasinya yang berada tepat di bawah tebing batu yang sangat tinggi dan sewaktu-waktu bisa saja runtuh menimpa Istananya.
Gill duduk di pinggir tebing membiarkan kakinya menggantung, ia dengan sabar menunggunya sambil membayangkan wajah ibunya. cukup lama menunggu akhirnya Anastasya keluar dari dalam Istana bersama dengan Calista, nampak mereka duduk santai berdua di sebuah bangku taman.
Gill tidak akan melewatkan kesempatanya dan langsung mempertajam matanya, memfokuskan pengelihatan pada mereka berdua. 'Apakah wanita rambut putih itu adalah ibuku?' pikir Gill menduga.
'Tidak kusangka ternyata ibu sangat cantik orangnya, tapi sangat disayangkan hatinya tak secantik penampilannya.' batinnya dalam hati terpukau sekaligus kecewa.
'Gadis disampingnya itu pasti adalah Calista!' pikir Gill yakin setelah melihat bulu biru menancap di gulungan rambutnya, 'Gadis itu ternyata tidak beda jauh dengan Miranda, aku tidak suka perawakannya.' sambungnya sambil terus mengamatinya.
Nampak dari mata Gill. Anastasya terlihat sangat bahagia hari itu sampai ia mencium kening Calista sebelum akhirnya mereka berpelukan mesra. namun setelah itu ada seorang pelayan yang menghampiri mereka berdua lalu membawa Calista pergi bersamanya.
Kini tinggal Anastasya seorang yang duduk dibangku taman tersebut, secara mengejutkan ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sedih saat ia sedang sendiri. Ia melamun memikirkan hal yang berat sampai membuat air matanya menetes membasahi pipi.
'Apa yang dia pikirkan?' batin Gill dalam hati bertanya-tanya.
Tapi setelah itu Anastasya langsung mengusapinya dan menempelkan jarinya pada lubang telinga kanannya, 'Sepertinya dia menerima telepati dari seseorang.' duga Gill terus mengamatinya.
Seketika wajah sedih Anastasya berubah menjadi bahagia, sampai ia tersenyum lepas sambil mengusapi air mata yang sekarang berubah menjadi kebahagiaan. Gill langsung curiga saat melihat Anastasya clingak-clinguk mencari sesuatu disekitarnya, ''Ini mulai tidak beres!'' ucap Gill segera bangkit berdiri.
Dan akhirnya Anastasya menoleh tepat ke arah Gill dengan raut wajah terkejut sampai kedua alisnya terangkat ke atas, ia seketika tersenyum bahagia bisa bertemu kembali dengan putra kesayangannya. Namun tidak sebaliknya, Gill yang sudah sadar posisinya diketahui oleh Anastasya segera berbalik dan pergi segera meninggalkan tempat itu.
Anastasya yang melihatnya langsung mengeluarkan sayapnya dan terbang melesat menuju tempat dimana Gill berdiri. tetapi sudah terlambat, tidak ada orang lagi ditempat tersebut.
Anastasya langsung memanggil namanya berulang kali berharap Gill akan kembali padanya, dia berjanji akan meninggalkan semua yang ada di Underworld asalkan Gill mau menemuinya.
Anastsya menangis sampai meraung-raung, suaranya sampai serak, air matanya habis dan pada akhirnya tubuhnya roboh ke tanah tidak bisa apa-apa. "Gill temui aku jika kamu mendengarkan Ibu." ucapnya sedih.
Anastasya tidak menyerah sampai disitu, ia segera bangkit dan berjalan mencarinya lagi. "Ibu tahu kamu masih berada disini Gill. Maafkan Ibu karena telah menyakitimu. Ibu akan melakukan apapun yang kamu mau, asalkan kamu mau keluar menemuiku." ucapnya sambil terus melangkah.
Dan ternyata dugaannya benar. Gill masih berada disekitar tempat itu dan bersembunyi dibalik pohon yang rimbun, 'Ternyata dugaanku benar, itu adalah suara yang sama saat aku masih berada di dalam pengasingan itu.' batinnya yakin.
"Gill bawa ibu pergi dari sini, biarkan aku ikut bersama mu. Gill ibu sayang kamu, Ibu sangat mencintai mu!" teriaknya keras langsung berlutut di tanah tak kuasa menahan kesedihan.
Ia menangis dan hampir putus asa pada saat itu, sampai akhirnya dia melihat kaki seseorang yang sedang berdiri tepat di depan matanya. karena penasaran Anastasya langsung mengangkat wajahnya dan terkejut sekaligus merasa senang bercampur bahagia. Siapa sangka Gill akan langsung muncul di depannya.