
Sementara itu di perjalanan pulang ke Orion.
"Tuan, kenapa Anda sangat terburu - buru? Siapa tamu yang datang sampai mengejutkan Anda seperti itu?" Tanya Erfyona dari belakang sambil melihat ke arah wajah Azazeal yang sedang menatap tajam ke depan.
"Seseorang yang akan membantuku merubah dunia ini." Jawab Azazeal.
Ternyata dia memang bukan tamu sembarangan, pantas saja Tuan sampai seperti itu! Pikir Erfyona sambil terus melihat wajah-Nya.
Tetapi syukurlah, tadinya aku berfikir kalau mereka yang akan datang, ...
Bodohnya aku karena mengira Orion akan hancur hanya dengan kekuatan mereka (para keluarga Lucifer). Padahal kekuatan para pelayan Orion itu sangat besar, Sam saja waktu itu mampu membuat ibu hampir meninggal. Aku yakin, walaupun kebanyakan dari mereka adalah perempuan. Namun dari segi kekuatan, mereka sungguh sangat mematikan. Terutama wanita itu! Pikir Erfyona sambil membayangkan dirinya kemarin berpapasan dengan Helfeany dan merasakan Aura kekuatannya.
Setelah sampai di depan pintu gerbang Orion.
Azazeal dan Erfyona langsung di sambut hormat oleh seluruh Knight. Mereka berlutut memberi-Nya hormat. Saat Azazeal sedang berjalan, ia dikejutkan oleh Exifilia yang sedang berlari tergesa - gesa kearah-Nya.
"Tuan!" Teriaknya sambil berlari menghampiri Azazeal.
Exifilia,?! Ucap Erfyona dalam hati terkejut melihatnya berlarian tergesa - gesa.
"Tuan, huh, huh, huh,- ucapnya langsung berlutut di hadapannya dengan nafas terengah - engah.
"Ada apa Exifilia, kenapa kamu terburu?" Tanya Alin mencoba menenangkan dirinya.
"Nona, di dalam!,-
"Apakah Edward berhasil membawanya?" Sahut Azazeal bertanya.
"Iya, tapi. Sam..." Jawab Exifilia.
"Kenapa dengan Sam, apa yang telah terjadi padanya?" Tanya Erfyona terkejut melihat wajah Exifilia yang seketika berubah menjadi sedih meneteskan air mata.
"Sam telah... dia telah meninggal, Nona. Saat tengah bertarung melawan anak itu, dia,-
Erfyona terkejut langsung membungkam mulutnya. matanya perlahan terbuka lebar, masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.
Tanpa banyak basa - basi Azazeal langsung masuk ke dalam mengabaikan Exifilia yang sedang bersedih di depannya.
Tuan... Pikir Erfyona merasa miris melihat sikap Azazeal yang dingin tidak peduli dengan perasaan Exifilia, yang dengan teganya langsung meninggalkannya pergi begitu saja.
"Kamu yang sabar, ya? ... Sekarang ayo kita masuk, jangan bersedih lagi." Ucap Erfyona lembut berusaha menenangkan kembali hatinya yang sedih, kemudian membantunya untuk bangkit berdiri dan menyusul Azazeal masuk ke dalam.
Suasana tegang sedang terjadi di dalam ruang tahta. Nampak di ruang tersebut Gill tengah di rantai ketat oleh Sam agar dia tidak bisa melawan. Para pelayan juga berkumpul di sana, kecuali Helfeany. Semua petinggi dari segala bangsa ciptaan Azazeal juga hadir. Mereka berjejer rapi sambil menunggu kedatangan-Nya.
Hari ini Gill sungguh sudah tidak bisa di kenali lagi. Dia sudah menjelma menjadi sosok lain yang bukan dirinya selama ini. Wujudnya yang mengamuk saat ini sama persis seperti Azazeal beberapa tahun yang lalu. Tatapan matanya dingin haus akan kekejaman, kedua sayapnya terlentang lebar biru berkilau dengan simbol khasnya di setiap bulunya.
Wajah, tangan, dan bajunya juga penuh dengan lumuran noda darah. "Arrghhh!!!" Teriaknya dengan suara garang. Ia terus berteriak memberontak ingin melepaskan diri dari lilitan rantai Edward.
"Pengecut! Aku akan membunuh kalian semua!" Ancam Gill murka dengan suara garang.
Semua usaha keras sudah Gill lakukan untuk terbebas dari rantai tersebut, namun seluruh usahanya sia - sia. Rantai tersebut mengekang tubuhnya sangat kuat, semakin Gill melawan semakin kuat pula rantai itu melilitnya.
Dilain sisi Edward juga terlihat sangat kesusahan dalam menahan kekuatan besar Gill. Energi kekuatannya juga hampir habis karenanya. Cihh. Apa benar anak ini yang di katakan oleh wanita itu, kekuatannya sungguh tidak masuk akal! Pikir Edward sambil terus menahannya.
Acquila sangat marah pada saat melihat Gill pertama kali, dia sungguh tidak percaya anak itu bisa membunuh Sam teman dekatnya. Aku tahu Sam itu sekuat apa, tapi anak ini!... (Menatapnya tajam judes) ... Aku harap Tuan mengizinkanku untuk membunuhnya! Ucapnya dalam hati menahan marahnya yang sudah meluap - luap.
Yang terbesit dalam pikiran Acquila saat pertama kali bertemu dengannya ialah Gill tidak lebih dari seorang monster rendahan. Acquila menatapnya dengan tatapan yang tajam dan judes, sangat dingin sekali. Tangannya mengepal keras tidak sabar untuk segera membunuh anak tersebut.
"Aku sudah tidak tahan lagi! Dia sudah melakukan kesalahan besar, anak ini harus segera kita bunuh!" Teriaknya langsung mengeluarkan senjatanya.
Semua orang terkejut melihat tindakan nekat dari Acquila tersebut yang sampai mengeluarkan senjata mautnya. Pada saat Acquila mulai berjalan hendak menghampiri Gill, dengan cepat tangannya di sahut oleh Stacia.
"Berhenti Acquila, kau jangan berbuat nekat! Tenanglah sampai Tuan Azazeal datang, kita tunggu perintah darinya. Biar bagaimanapun anak ini juga seorang,-
"Dementor,?! Kau taruh matamu di mana Stacia, Apakah kau masih mau melindungi anak ini setelah perbuatannya yang kurang ajar! Lepaskan tanganku, Aku ingin membalas dendam atas kematian Sam!" Sahut Acquila memberontak ingin melepaskan cengkeraman tangannya.
"Acquila tolong dengarkan aku. Cobalah kau mengerti dengan keadaannya. Aku tahu perasaanmu, aku juga marah sama sepertimu. Tetapi ini bukan mengenai balas dendam. Namun tugas yang diperintahkan oleh Tuan Azazeal!" Kata Stacia sambil terus menahan tangannya.
"Cukup Stacia! Kau jangan mencoba menggurui ku. Aku tidak butuh omong kosong mu!" Balas Acquila menohok yang dengan keras langsung memberontak dan lepaslah tangannya dari cengkeraman Stacia.
"Acquila jangan!..." Teriak Stacia memperingatinya untuk terakhir kali.
Namun Acquila enggan untuk mendengarkannya dan memilih untuk menghampirinya. Acquila sungguh sudah terbakar oleh api amarah, sampai dia melupakan kalau dirinya tidak mempunyai hak atas anak tersebut.
"Acquila mau apa kau kemari, cepat menyingkir lah!" Kata Edward memperingatkannya.
"Sudah jelaskan, aku akan membunuh monster kecil ini. Tuan tolong kau tahan sebentar, ini tidak akan lama." Ucap Acquila.
"Jangan, Mundur lah! Atau kau akan menggagalkan misi kami berdua!" Kata Edward memperingatkannya tegas.
Tetapi Acquila tetap saja bersikeras dengan keinginannya dan mengabaikan peringatan yang telah terlontar keras dari mulut Edward.
"Baiklah monster kecil, sekarang temuilah ajal-Mu!" Langsung mengayunkan pedangnya ke arah kepala Gill.
"Hyaaaatt!" Teriaknya mengayunkan pedangnya.
"Bodoh, hentikan Acquila!" Teriak Edward marah namun tidak bisa berbuat apa - apa.
Suasana menjadi sangat tegang karena keegoisan Acquila, mereka para pelayan juga berteriak ingin menghentikan tindakannya tersebut. Namun apa daya kalau orang yang diberitahu saja tidak mau mendengarkannya.
Hal sebaliknya malah terjadi pada Gill.
Dia tidak tegang atau merasa takut sama sekali, dengan percaya dirinya dia menganggap wanita di depannya itu lemah dan bukanlah sebuah ancaman baginya. Seketika dia melirik ke atas menatap wajah Acquila dengan tatapannya yang kejam.
Perlahan matanya berubah mengeluarkan simbol terkutuk yang membuat kekuatannya meningkat berkali - kali lipat. "Arghh!" Teriaknya keras seketika Aura kekuatannya lepas tanpa kendali mengejutkan semua orang.
"Gawat!" Ucap Acquila panik tidak sempat menghindar saat melihat dan merasakan Aura kekuatan besar tersebut.
"JDUMBB!" Acquila terpental cukup jauh yang membuat seperempat dari pakaiannya robek.
"Acquila!" Teriak Stacia langsung berlari menghampirinya.
Dasar wanita bodoh, itulah akibat karena kau tidak mendengarkan ucapan ku! Pikir Edward kesal sambil menatap Acquila yang terpental dan tersungkur di lantai.
"Kau tidak apa - apa?" Tanya Stacia khawatir sambil membantunya bangkit berdiri.
"Sialan, aku tidak menyangka anak kecil itu memiliki kekuatan Guardian." Ucap Acquila sambil berusaha bangkit.
"Sudah Acquila, cukup. Aku tidak mau kau sampai terluka, biarkan Tuan saja yang mengurus anak ini." Ucap Stacia menasihatinya.
"Diam! Kau masih saja banyak bicara, kata - katamu sama sekali tidak membantuku!" Sahut Acquila masih saja keras kepala.
"Acquila sadarlah!" Bentak Stacia.
"Kau masih saja belum mengerti, ya! Apakah kau sudah lupa tentang peringatan Tuan waktu itu,?!" Sambungnya mengingatkannya kembali.
__FlashBack__
"Helfeany, Sam, Acquila, dan kau Stacia, dengarkan kata - kataku ini. Kalau suatu saat kalian bertemu dengan makhluk yang mempunyai mata yang sama sepertiku ini (sambil menunjukan mata penguasanya) kalian jangan membunuhnya, apapun masalahnya dan apapun penyebabnya. Tetap, jangan kalian bunuh makhluk tersebut." Ucap Azazeal memperingatkannya.
"Biarkan saja." Jawab Azazeal.
"Kalau makhluk itu menentang Anda, Apakah kita juga akan membiarkannya?" Tanya Sam.
"Itu tidak akan terjadi." Jawab Azazeal.
"Lalu, kalau makhluk itu membunuh salah satu dari kami. Apakah Anda juga akan diam saja?" Tanya Exifilia mengejutkan teman - temannya yang lain dan sontak membuat Azazeal diam sejenak.
Azazeal kemudian bangkit dari kursinya dan berbalik membelakangi mereka. "Iya." Jawab Azazeal mengejutkan mereka berempat.
__FlashBackEnd__
"Tapi Sam..." Ucap Acquila sedih yang teringat dengan perkataan Azazeal waktu itu.
"Biar bagaimanapun Sam itu adalah ciptaan Tuan Azazeal. Beliau berhak mengambil apa yang jadi miliknya, kita sebagai pelayan tidak akan mengerti dengan semua ini. Tugas kita hanyalah terus melayaninya sampai ajal menjemput kita, sama halnya dengan apa yang dilakukan oleh Sam." Kata Stacia menyadarkannya.
"Kita hanya bisa memohon. Apakah Tuan Azazeal mau berbaik hati dan menghidupkan Sam kembali." Sambung Stacia.
"Itu sudah tidak mungkin..." Ucap Acquila sedih.
"Kenapa kau berkata seperti itu? Tuan Azazeal itu sangat kuat tau! Kalau beliau bisa menciptakannya, dia pasti juga bisa menghidupkannya lagi." Ucap Stacia dengan entengnya.
"Tidak, kau tidak tahu apa - apa, Stacia..." Ucap Acquila pelan.
__FlashBack: ingatan Acquila__
"Azazeal yang sekarang sudah bukan lagi Azazeal yang dulu kalian kenal. Dahulu dia sangat kuat tak tertandingi dan berkuasa hampir seperti diriku, namun dia yang sekarang..." Ucap Tuhan semesta alam dalam ingatannya.
__FlashBackEnd__
Suasana hening sejenak setelah mereka berdua berdebat, di sisi lain Gill juga sudah mulai tenang dan mulai bisa mengontrol emosinya.
Sementara itu para perwakilan bangsa yang lain masih juga masih sedikit syok dengan apa yang mereka rasakan barusan. Mereka merasa takut dan khawatir kalau Gill akan menjadi penerus Azazeal selanjutnya.
Mereka sadar dan paham betul dengan Aura ganas barusan, salah satu dari mereka menyebutnya sebagai Gal'iell. Efek yang ditimbulkan pada saat Aura itu keluar bukan hanya ketakutan semata namun juga keputusasaan dan mengikis psikologi korban yang mendengarkan.
Jika Gal'iell digunakan untuk melawan penduduk langit efeknya tidak sepenuhnya terasa, hanya efek takut saja yang akan dirasakan oleh korbannya. Sementara kalau Gal'iell digunakan untuk melawan manusia atau bahkan Iblis sekalipun, efeknya akan sangat fatal.
Mereka bisa saja terkikis psikis dan mentalnya. Kebanyakan dari mereka akan mengalami depresi berat yang akan mengurangi semangat hidup mereka. Sebelumnya makhluk yang bisa menggunakan Gal'iell dari seluruh penduduk langit hanya dua saja, yakni Marshal dan Azazeal.
Gal'iell hanya akan aktif jika makhluk tersebut bisa mencapai wujud sempurnanya, seperti Azazeal yang mempunyai wujud Greatest King, dan Marshal yang mempunyai wujud Embers King.
"Sreekk! Jduug!" Suara pintu ruang tahta terbuka.
Semua orang terkejut dan langsung memalingkan wajah mereka ke arah pintu tersebut. Saat mereka melihat siapa yang masuk, senyum mulai nampak dari wajah mereka. Akhirnya orang yang mereka tunggu untuk mengakhiri situasi tegang datang juga.
Sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh Acquila dan Stacia dia sana, mereka tersenyum senang Azazeal datang di saat yang tepat. Seketika kedatangannya di sambut hormat oleh seluruh makhluk yang hadir.
"Edward kau terluka cukup parah." Ucap Azazeal yang melihat tangan, mulut dan dadanya bersimbah darah.
"Ini tidak seberapa, Tuan. Jangan khawatirkan saya." Jawab Edward enteng.
"Jadi benar, Sam menjadi korban dari anak ini?" Tanya Azazeal sambil melihat ke arah Gill.
"Maafkan saya Tuan..." Jawab Edward pelan merasa bersalah.
"Tuan, Bunuh monster itu segera! Dia sudah berani melakukan hal yang kurang ajar, balas kan dendam Sam,- ucap Acquila lantang marah sekali.
"Acquila! (Memalingkan wajah ke arah Acquila dan menatapnya tajam) Siapa yang menyuruhmu bicara!" Bentaknya.
Seketika Acquila langsung diam dan ketakutan, dia merundukkan kepala karena malu atas sikapnya barusan.
"Coba tadi kau mendengarkan ku, pasti hal seperti ini tidak terjadi..." Bisik Stacia lirih padanya.
"Anak itu juga menguasai salah satu Aura mematikan, Tuan,- ucap salah satu perwakilan bangsa langit.
"Gal'iell, anak itu menguasainya, Tuan." Sahut Lazarus dengan nada serius.
"Wah, sungguh di luar dugaan. Sekarang aku tahu alasan kenapa dia mampu membunuh Sam!" Ucap Azazeal.
Gal'iell,!!! Pikir Acquila dan Stacia terkejut bersamaan
Gal'iell! Jadi anak ini, dia menguasainya,?! Pikir Edward terkejut sambil menatap kearahnya yang sedang terantai.
Orang ini! Pikir Gill menatap tajam ke atas melihat wajah Azazeal dengan mata biru terkutuknya.
Azazeal sedikit terkejut pada saat melihat mata Gill yang memiliki simbol di tengahnya, Ia kemudian menekuk kakinya dan menatap mata terkutuk itu dari dekat.
"Siapa yang menyangka, mata indah ini lahir dari sehelai bulu yang hilang." Ucap Azazeal pelan sambil terus mengamatinya.
"Menyingkir lah kau brengsek! Aku akan membunuh kalian semua!" Ancam Gill marah.
"Dasar makhluk biadab, berani sekali kau berkata lancang di depan-Nya!" Bentak Edward marah langsung mengencangkan lilitan rantainya yang seketika membuat Gill berteriak kesakitan.
"Cukup Edward, lepaskan dia..." Perintah Azazeal pelan.
"Tapi Tuan, anak ini,- ucap Edward merasa khawatir dengan perintahnya.
"Edward." Panggil Azazeal kedua kalinya.
"Baik, Tuan." Langsung menyanggupinya dengan lapang dada dan nada pelan terpaksa.
"He ha ha ha, akhirnya aku bebas!" Ucap Gill senang dengan suara garangnya.
"Aku senang akhirnya kau melepaskan ku (menatap ke arah Edward) ... Dan kau! (Menunjuk ke arah Azazeal) dengan bodohnya malah melepaskan aku." Ucap Gill dengan sombongnya.
"Cihh anak sombong itu memang harus di kasih pelajaran!" Ucap Acquila marah kembali mengepalkan tangannya.
"Tadinya aku bersedia dan sukarela di bawa oleh kalian kemari, tapi kalian malah datang dan mengacaukan semuanya. Yang membuat para Iblis terkutuk itu kabur dengan mudahnya ... Kau pasti Tuan dari makhluk ini, kan?" Tanya Gill kepada Azazeal dengan jari menunjuk ke arah Edward.
"Kalau begitu... Kaulah yang harus mati duluan!" Langsung berubah ke wujud terkuatnya dan langsung melesat untuk menyerang Azazeal.
"Matilah!" Teriak Gill hendak membogem bagian wajah Azazeal.
"Tuan!" Teriak Stacia khawatir karena Azazeal masih diam saja.
"Shutt!" Gravitasi menarik tubuh Gill ke tanah.
Apa ini!! Pikir Gill terkejut merasakan Aura dahsyat Azazeal yang seketika menarik tubuhnya ke tanah.
"JDUMBB!" Jatuhlah dengan keras tubuh Gill ke lantai yang membuatnya tidak bisa bangkit lagi.
"Nak, kau jangan terlalu sombong hanya karena kau memiliki Gal'iell dan kekuatan darah itu." Ucap Azazeal menasihatinya.
"Saat ini kau tidak sedang berada di bumi atau Istana ayahmu itu. Ini adalah Orion! Tempat berkumpulnya makhluk adidaya di seluruh penjuru langit. Dan disini, Akulah Rajanya!" Ucap Azazeal menatap tajam ke arah Gill dengan mata penguasanya.
Note: Bogem adalah sebutan untuk pukulan yang berasal dari kepalan tangan seseorang.