
Sontak Alin terkejut sampai di buat melotot kedua matanya, tubuhnya gemetar mengeluarkan keringat dingin.
"A- Anda sungguh Tuan Azazeal?" Tanya Alin terkejut hebat gugup sedikit ketakutan.
"Menurutmu?" Tanya Azazeal balik sambil mengeluarkan wujud sempurnanya dengan sayap gagah indah berkilau warna-warni.
'Ini!' gumam Alin terpana melihat wujud sempurnanya.
'Tidak salah lagi, wujud ini sama persis dengan apa yang di ceritakan oleh Queen!' sambungnya sambil terus mengamati keindahannya, mata Alin sampai di buat tak berkedip berbinar-binar oleh kemegahan sayap tersebut.
___FlashBack__
"Alin, apabila suatu saat kau bertemu dengan Azazeal. kuatkan lah hatimu, jangan sampai kau tergoda olehnya." Ucap Queen menasihatinya.
"Saya akan selalu mengingatnya Ratu." Jawab Alin patuh berlutut memberinya hormat.
"Mungkin kau belum tahu, selain Dia terkenal dengan kekuatannya yang sangat dahsyat. Ia juga memiliki wajah yang sangat tampan." Imbuh Queen.
"Anda tidak perlu khawatir Ratu, saya sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang seperti itu. Bahkan Tuan Edward pun yang menurut saya memiliki wajah paling tampan di depan mata saya ia juga biasa saja,-
"Hemh, kau terlalu meremehkanya!" Sahut Queen.
"Apa!" Alin terkejut mendengarnya.
"Dibandingkan dengan Azazeal, Edward itu bukanlah apa-apa. kalau kau sudah pernah bertemu dengan Edward maka tak lama lagi kau akan bertemu dengan Azazeal, Pemimpin dari para Guardian!" Jawab Queen.
"Apa yang Istimewa darinya Ratu, saya sudah berkeliling bumi dan langit selama ratusan tahun lamanya. Lelaki tampan rupawan sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi saya." Jawab Alin masih saja meremehkan.
"Ternyata tidak ada cara lain untuk membungkam mulutmu, selain kau bertemu dengannya langsung. Ingatlah ciri-ciri fisiknya, perlu kau tahu dia itu sangat berbeda dengan makhluk pernah kau temui selama ini." Ucap Queen dengan raut wajah sedikit kesal memberinya nasihat.
"Apa ciri-ciri tersebut Ratu?" Tanya Alin sangat penasaran.
"Ciri pertama dan yang sangat khas mencerminkan diri-Nya adalah Mata sang penguasa. mata tersebut selain sangat kuat, tetapi juga sangat indah. saat kau pertama kali melihatnya aku yakin kau pasti akan terpana oleh keindahannya dan kau pasti akan mengira kalau itu adalah pengaruh dari kekuatannya padahal bukan. warna lensa matanya tidak sama, warna merah ada pada kirinya sedangkan biru ada pada mata kirinya. masing-masing lensa mata memiliki simbol yang berbeda di tengahnya,"
"Warna kornea matanya bening berkilau seperti kaca dan membiaskan cahaya apabila apabila tersorot, sangat indah untuk sebuah organ tubuh,"
"Ciri yang kedua adalah rambut hitam pekat, rambutnya tidak terlalu panjang. Tidak penting memang tetapi hanya dia lah Guardians yang memiliki rambut hitam pekat sebagus itu,"
"Ciri ketiga adalah kulitnya yang putih sedikit kekuningan, kulitnya bersih dan terlihat sangat halus. dengan melihatnya saja kau bisa tahu kalau kulitnya itu spesial, sangat lembut dan kenyal,"
"Ciri keempat adalah jubah merah darah dengan balutan warna kuning emas. di punggungnya terdapat sebuah simbol yang belum pernah kau lihat selama sebelumnya,"
"Terakhir dan hanya satu-satunya yaitu 600 pasang sayap dengan bulu indah berkilau warna-warni. berbeda dari setiap sayap Guardian dan Bidadari surga yang pernah ada, sayapnya memiliki motif di setiap warna bulunya. Saat dia melentangkan kedua sayapnya, kau akan tahu betapa Istimewanya dia dibanding makhluk lainnya." Kata Queen menyebutkansemua ciri-cirinya.
___FlashBackEnd___
'Sekarang aku tahu Ratu, Anda memang benar. Dia sungguh istimewa dan berbeda dari seluruh makhluk yang pernah aku temui selama ini. Sungguh kehormatan besar bisa bertemu makhluk spesial disini.' Pikir Alin melotot bengong terus melihatnya dengan ekspresi kagum masih belum percaya di depannya adalah Azazeal.
Perlahan Alin mulai merendah di hadapan-Nya dan mulai berlutut memberinya hormat sambil terus menatap ke arah kedua mata-Nya. "Saya Alin Xaverias, Anggota ketiga bidadari surga. Memberi hormat kepada Anda, Tuan Azazeal!" Ucapnya dengan berlutut.
Azazeal tersenyum sejenak kemudian menyuruhnya berdiri. "Bangunlah Alin, angkatlah kepalamu. Tuan mu menerima rasa hormatmu." Ucap Azazeal.
Mendengar hal itu Alin langsung bangun tidak berhenti untuk terus menatap wajah Azazeal. "Tuan, apakah boleh saya mengobrol secara formal dengan Anda?" Tanya Alin.
Azazeal hanya tersenyum kemudian kembali ke wujud lemahnya seperti biasa dan berbalik untuk lanjut melihat taman yang indah.
"Tuan setelah saya bertemu dengan Anda hari ini, anggapan saya terhadap Anda selama ini jadi berubah. Saya merasa tidak enak untuk menceritakannya." Ucap Alin sedikit malu - malu.
"Katakan saja, aku akan mendengarkannya." Jawab Azazeal.
"Maaf kalau cerita saya nanti akan menyinggung perasaan Anda Tuan. Selama ini saya berfikir kalau Anda itu adalah orang yang keras dan kejam yang semaunya sendiri menindas dan menyiksa makhluk yang sudah tidak berdaya. Semua citra buruk yang saya dengar tentang Anda, saya mempercayai itu semua." Ucap Alin.
"Namun... setelah saya bertemu dengan Anda, saya jadi tahu, kalau itu semua hanya tuduhan palsu. kenyataannya Anda adalah orang yang baik dan murah senyum, jarang-jarang saya menemui Guardian seramah Anda, Tuan." Sambungnya memuji Azazeal.
"Itu bukan tuduhan palsu, aku memang pernah melakukannya dulu. Kau juga pernah menjadi saksinya kan?" Tanya Azazeal.
Kemudian Alin teringat saat Edward memberi kutukan itu kepada Gabriel dengan wajah dingin dan tak berperasaan.
"Tidak itu adalah kesalahan Tuan Edward, bukan kesalahan Anda Tuan." Sangkal Alin masih belum percaya.
"Aku yang menyuruhnya melakukan itu, dia tidak akan bergerak tanpa perintah dariku." Jawab Azazeal.
"Tidak mungkin.(Melotot terkejut mendengar pengakuan-Nya) Kenapa Anda melakukan itu Tuan. Anda sudah tahu bukan, kalau membunuh sesama Guardian dilarang keras dan sangat di kecam!" Ucap Alin terkejut sedikit merasa kesal.
Azazeal hanya diam sambil terus menatap ke arah taman, tanpa perubahan ekspresi sedikitpun.
"M,- maaf, Tuan. saya tidak bermaksud mengatur, maafkan saya karena telah lancang menasihati Anda." dengan suara pelan merunduk merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, bukan hanya kau saja yang pernah berkata begitu." Jawab Azazeal pelan tanpa menoleh.
"Tuan..." Tanya Alin perlahan mengangkat kepalanya, merasa takut kalau nanti Azazeal akan marah.
Azazeal hanya diam terus melihat tamannya.
"Nona Erfyona Ella Vanya itu, siapa dia sebenarnya. Apakah benar, dia adalah Reinkarnasi dari Nona Erfyona Land Sankarea?" Tanya Alin pelan sedikit ragu.
"Matamu tidak lah berbohong." Jawab Azazeal singkat.
"Jadi beliau benar adalah Land Sankarea,?!" Tanya Alin terkejut merasa senang sekali.
"Bantu dia mengingat siapa dirinya, jangan kau beritahukan hal ini kepada Avhriela." Ucap Azazeal.
"Sesuai perintah Anda Tuan." Membungkuk memenuhi perintah-Nya.
"Kenapa Queen bertindak melampaui batas hingga berani membunuh Erfyona, apakah sifatnya tidak berubah sampai saat ini?" Tanya Azazeal.
"Maaf saya tidak tahu, Tuan. Sejak saat itu sikap Ratu menjadi sangat dingin kepada kami. Jujur kami semua lebih senang apabila Nona Erfyona lah yang menjadi Ratu kami." Jawab Alin jujur mengeluarkan uneg-unegnya.
"Sebenarnya Avhriela itu adalah satu-satunya wanita yang memiliki hati paling baik dari semua wanita yang ada. di depanmu mungkin dia terlihat jahat, tapi di belakang kau tidak tahu kan. Dia itu hanya berpura-pura tegar untuk menutupi kelembutan hatinya." Jelas Azazeal.
"Ratu Avhriela. (Terkejut mendengar kebenaran Queen dari Azazeal) lalu apa yang harus saya lakukan Tuan. Apakah kami harus jujur mengenai perasaan kami di depannya?" Tanya Alin kebingungan.
"Hormati dia, jaga dia, lindungi dia, dan patuhi segala perintah-Nya. Lakukan tugasmu sebagaimana biasanya." Jawab Azazeal.
"Saya akan mengingat selalu perintah Anda Tuan." Ucap Alin tunduk padanya.
"Sepertinya cukup sampai di sini saja pembicaraan kita, aku harus segera kembali dan menemui anak Dementor itu." Ucap Azazeal sambil berbalik untuk pergi.
"Tunggu Tuan!" Sahut Alin menghentikan langkah-Nya.
"Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, ini mengenai anak tersebut,- sambungnya sambil menatap memohon kepada Azazeal untuk mendengarkan ceritanya.
Sementara itu di kamar Motty.
"Motty lepaskan tangan kakak, sakit, Lepas!" Sambil meronta hendak melepaskan diri.
"Duduk di sini Kak! Aku ingin mendengarkan penjelasan mu!" Perintah Motty kesal kemudian melepaskan cengkeraman tangannya.
"Kenapa kakak tadi merayu Gabriel. Kakak tahu, kan kalau dia itu milikku satu-satuny!" Tanya Motty.
"Sudah berapa kali aku bilang. aku tidak merayunya sedikitpun, kau saja yang terlalu Posesif!" Sangkal Erfyona.
"Lagian apaan tadi itu, kenapa kakak memberinya senyum manis." Gumam Motty lirih merundukkan kepala.
"Itu hanya sebuah senyuman, tidak lebih. Kakak sarankan kamu jangan terlalu cemburuan kepadanya, hal itu justru akan membuatnya tidak nyaman saat bersamamu." Ucap Erfyona menasihatinya.
Hening sesaat dari perdebatan panas tersebut dan saling memalingkan wajah.
"Kakak senang kamu baik-baik saja, Motty. Maafkan kakak karena sudah datang seenaknya. (Merembes hendak meneteskan air mata) ternyata kamu sudah memiliki sandaran hati dan telah melupakan kakakmu ini,-
Hati Motty sontak terketuk dan tersadar dengan sikap egoisnya barusan, ia kemudian berbalik dan memeluk Erfyona dari belakang meneteskan air mata sedih.
"Tidak, itu tidak benar Kak. di hatiku Kak Fyona tetap nomer satu. jangan bicara begitu lagi ya?" Ucapnya di pelukan memohon.
"Apakah itu benar?" Tanya Erfyona menguji kesungguhan hatinya.
"Tentu saja, Kak Erfyona adalah kakakku yang paling baik di dalam keluarga Lucifer. dulu waktu aku belum bertemu dengan Gabriel, kakak lah yang selalu menghiburku dan mengisi kekosongan hatiku. Aku menyesal bukannya menyambut baik, aku malah memarahi mu, adik macam apa aku ini!" Ucap Motty merasa sedih menyesal mengeluarkan semua isi hatinya.
Mendengar ketulusan hatinya, Erfyona langsung berbalik dan memeluk tubuh Motty erat.
"Kakak senang mendengarnya, ternyata kamu masih sama seperti Motty yang dulu. Maafkan kakak sudah berburuk sangka kepadamu." Ucap Erfyona di pelukan meneteskan air mata senang.
"Iya, maafkan aku juga ya Kak karena telah memarahi mu." Ucap Motty di pelukan.
"Iya..." Angguk Erfyona di pelukan sambil mengelus rambutnya yang halus.
Setelah cukup lama mereka berpelukan, akhirnya mereka melepaskan pelukan masing - masing dan mulai mengobrol dengan topik pembicaraan lain.
"Bagaimana cara kakak bisa sampai sini?" Tanya Motty penasaran.
"Ceritanya panjang," jawab Erfyona.
"Tolong ceritakan, Kak! Aku akan mendengarkannya baik - baik." Ucap Motty memaksa dengan wajah memohon.
"Baiklah," jawabnya singkat.
"Waktu itu setelah kepergian mu bersama Gabriel. Grolleum hanya menyisakan Sam seorang diri dan mereka (para Iblis) mengepungnya dari segala arah untuk membunuhnya di tempat. dalam hati, kakak ingin sekali membantunya. namun karena tubuhku sudah terluka parah, akhirnya aku hanya bisa menyaksikan pertarungan yang tidak adil tersebut." Kata Erfyona mulai menjelaskan ceritanya.
"Pada awal pertarungan Sam sangat bertenaga bahkan Ibu dan Ayah sampai dibuat kuwalahan olehnya. punggung ibu tersayat oleh pedangnya dan menyebabkan luka yang cukup serius, hal itu membuat ayah menjadi marah. seketika kekuatannya bangkit dan keadaan pertarungan menjadi terbalik."
"Ibu terluka, lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Motty khawatir tentang kondisi ibunya.
"Sekarang dia sudah tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir" Jawab Erfyona.
"Syukurlah kalau ibu tidak apa-apa, lanjutkan kembali ceritanya Kak!" Mintanya.
"Karena kekuatan ayah begitu besar akhirnya giliran Sam yang terpojok pada saat itu, karena terus-terusan terpojok Sam menjadi tidak tahan dan mengamuk sejadi-jadinya memporak-porandakan Grolleum. setelah itu pertarungan menjadi cukup sengit antara ayah dan Sam sampai pada akhirnya para Raja iblis yang lain juga ikut turun tangan membantunya." Sambung Erfyona meneruskan ceritanya.
"Sontak hal itu membuat Sam sangat kesulitan untuk menahan semua serangan dari keempat Raja besar iblis tersebut. Sam menjadi terpojok dan terluka sangat parah yang hampir merenggut nyawanya sendiri. aku tidak bisa membayangkan, bagaimana jika aku berada di posisinya saat itu, bertarung melawan ke empat Raja setan!"
"Aura penguasa ke empat Raja iblis itu sungguh sangat kuat dan begitu menyeramkan, tubuhku sampai di buat merinding merasakan Aura tersebut. begitu juga yang di rasakan oleh Sam, tubuhnya hanya bisa tengkurap di atas tanah, tidak kuat melawan Aura tersebut."
"Ke empat Raja iblis itu berusaha untuk menggoyahkan tekadnya, dengan begitu Sam akan menjadi putus asa dan tidak akan berani melawan lagi, tentu itu akan sangat memudahkan mereka untuk membunuhnya. Namun di luar dugaan, Sam tetap berusaha untuk mempertahankan nama baiknya di depan Tuannya, dia tidak ingin berlutut memberi hormat kepada ke empat Raja iblis tersebut."
"Sontak hal tersebut membuat ke empat Raja iblis murka yang serempak langsung melancarkan serangan mematikan ke arah Sam. tiba-tiba dari langit jatuhlah sesuatu dengan sangat keras, dia adalah Tuan dari Sam,-
"Tuan Azazeal..." Ucap Motty lirih menduganya.
"di luar dugaan Tuannya malah marah kepada Sam dan langsung mencekik lehernya, mengangkat tubuhnya ke udara. dia meronta-ronta ingin melepaskan diri dari cengkeramannya namun karena cengkeramannya sangat kuat usaha Sam jadi sia-sia. Ia hanya bisa memohon ampun kepadanya atas kegagalan misinya."
"Tak berapa lama, entah kenapa tiba-tiba Tuannya melepaskan cengkeramannya dan membiarkannya pergi. saat Sam telah pergi, ayah kemudian datang menghampirinya dan menghinanya dengan sangat keji. tetapi dia hanya diam saja dan terus merundukkan pandangannya ke bawah, merasa curiga kenapa orang terus merunduk akhirnya ayah menatapnya dari bawah sambil terus menghinanya."
"Saat ayah tengah melontarkan hinaannya, tiba-tiba sesuatu yang besar tejadi. Ia menjadi murka dan mengeluarkan Aura penguasa yang sungguh luar biasa dahsyat, saking dahsyatnya, Aura ini tidak bisa dibandingkan dengan yang sebelumnya. yang membuat semua orang termasuk aku sendiri dan ke empat Raja iblis itu tersungkur jatuh ke tanah seperti sedang di tarik oleh gravitasi yang sangat kuat. Lockheim terguncang hebat pada saat itu, tanah menjadi retak dan membuat Grolleum runtuh luluh lantah."
"Sedahsyat itukah kekuatan Tuan Azazeal?" tanya Motty terkejut mendengar pengakuan Erfyona.
"Ke empat Raja iblis tidak bisa berbuat apa-apa di hadapannya. pada saat peristiwa mencekam itu terjadi, entah apa yang merasuki Gerald waktu itu yang dengan beraninya dia langsung menyerang Azazeal tanpa persiapan sedikitpun,-
"Apa, kenapa Kak Gerald sampai senekat itu?" Tanya Motty terkejut.
"Menurutku dia hanya ingin cari muka saja di depan ayah." Jawab Erfyona.
"Lalu apa yang terjadi dengannya. Apakah Kak Gerald berhasil menang?" Tanya Motty penasaran.
"Alhasil dia malah malah mati konyol di tangan Tuan Azazeal." Jawab Erfyona mengagetkannya.
"Kak Gerald." Ucap Motty dengan wajah sedih.
"Percayalah, kau pasti tidak akan doyan makan saat menyaksikan pembantaian itu terjadi. Ayah, Gerald, ketiga saudaramu dan seluruh penonton juga turut menjadi korban kekejaman Tuan Azazeal pada saat itu." Jelas Erfyona.
"Lalu bagaimana dengan kakak dan ibu pada saat itu?" Tanya Motty penasaran.
"Setelah Tuan Azazeal membunuh semuanya, dia melihat ke arah kami berdua. Aku merasakan tangan ibu gemetar ketakutan saat sedang memegang tanganku, matanya melotot ngeri melihatnya, dahinya mengeluarkan keringat dingin saat dia melihat Tuan Azazeal berjalan mendekat." Jawab Erfyona.
"Biasanya ibu selalu protektif kepadaku dari hal-hal yang akan mencelakaiku, namun pada saat itu dia seperti bukan ibuku saja saking takutnya. aku menyadari dia sangat trauma melihat pembantaian itu, bukan hanya suaminya saja yang menjadi korban tetapi juga anak laki-laki kebanggaannya." Sambung Erfyona.
"Karena posisi kami sudah terluka parah dan sedang terpojok, aku dan ibu hanya bisa pasrah menerima takdir pada saat itu. Saat dia berjarak lima langkah di depanku, dia mengeluarkan kekuatannya untuk membuat semua orang pingsan termasuk ibu di sampingku." Jelasnya.
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Motty begitu penasaran.
"Ia hanya menyisakan aku saja pada saat peristiwa itu terjadi, selain aku semuanya yang masih hidup pasti pingsan terkena serangan tersebut. aku sangat ketakutan karena dia terus memperhatikanku dalam setiap langkahnya. setelah dia sampai di depanku, ia kemudian berjongkok dan menatap mataku tajam." Jawab Erfyona.
"Dia bertanya siapa namaku, dengan gugup dan sangat takut aku memberanikan diri untuk menjawabnya. Setelah dia tahu namaku, tiba - tiba lirikan matanya berubah mengarah ke bawah persis ke arah luka pada perutku, dia kemudian mengulurkan tangannya bermaksud untuk menyentuhnya. dengan wajah ketakutan, aku berusaha untuk mencegah tangannya agar tidak sampai menyentuhnya. mengingat sebelumnya dia bisa membunuh lawan hanya dengan menyentuhnya saja, aku takut kalau dia melakukan hal yang sama padaku." Sambungnya.
"Karena tubuhku sudah lemas aku tidak berdaya pada saat itu, dan dia berhasil menyentuh luka pada perutku. Aku hanya bisa pasrah mengira kalau aku akan di bunuh pada saat itu, di luar dugaan hal mengejutkan pun terjadi. dia malah mengobati luka pada perutku, terasa tangannya sungguh sangat dingin dan nikmat pada saat mengusapnya, tidak terasa sakit sama sekali."
"Setelah dia selesai mengobati luka pada perutku, dia berpindah mengobati luka pada sayap ku. Aku tidak menyangka dia akan berhasil mengobatinya, karena sekali sayap telah terpotong mustahil lagi untuk bisa utuh kembali." Imbuhnya.
"Seketika aku merasa bersalah kepada diriku sendiri karena telah berburuk sangka kepadanya, namun kecurigaanku tidak berhenti sampai di situ. akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya kepada-Nya, kenapa dia menyembuhkan ku dan kenapa tidak membunuhku sekalian. Aku terkejut saat mendengarkan jawaban-Nya, sungguh di luar dugaan dia tahu kalau aku mempunyai hati yang baik oleh sebab itu dia mengampuni nyawaku."
"Kini aku tahu tujuan aslinya. jadi pembantaian itu tadi hanyalah bentuk ancaman yang di perlihatkan kepadaku, bukan hanya rakyat saja yang akan musnah, tapi juga keluargaku dan orang yang kusayang, kalau semisal nanti aku gagal dalam memimpin para Iblis. Tuan Azazeal terus meyakinkanku kalau aku bisa mengemban tugas itu."
"Namun karena rasa curiga ku sudah memuncak, dengan lancangnya aku malah memukulnya dengan sangat keras sampai dia terlempar cukup jauh, sampai membuat topeng yang dia kenakan retak dan pecah. Aku memarahinya seakan aku tidak terima dengan perlakuannya barusan, walaupun itu baik. aku terus mengeluarkan semua kata - kata depresi yang ada dalam hatiku, karena aku merasa apa gunanya hidup tanpa orang yang kita sayangi."
"Kemudian dia menjelaskan semuanya, semua itu tadi bukanlah kenyataan namun hanya ilusi yang dia buat. dia berkata bisa memperbaiki semuanya seperti tidak terjadi apa-apa, persis seperti sedia kala. Ia menambahkan kalau hanya ketiga saudaramu itu yang beneran mati, namun yang lain tidak. Sebelum dia pergi, ia meyakinkanku untuk yang terkahir kali agar aku bisa menjadi seorang pemimpin seperti yang dia mau."
"Saat sebelum dia pergi, ia sempat menyebut namaku untuk yang terkahir kali dan memperlihatkan wajah aslinya. saat aku mengetahui sosoknya yang asli, aku menjadi syok setengah mati. ternyata wajah Tuan Azazeal itu sangat mirip sekali dengan orang yang cari selama ini,-
"Benarkah, siapa orang itu Kak?" Tanya Motty dengan nada tidak sabar.
"Kau tentu sudah tahu dengan ciri-cirinya bukan. (Mencoba mengingatkan kembali dan memberi gambaran tentang hal yang dulu telah Erfyona ceritakan padanya) Rambut hitam pekat berkilau, kulit putih semu kekuningan, dan wajah yang sangat tampan. Kau tentu sudah tidak asing bukan dengan ciri-ciri itu?" Memberi gambaran agar Motty menebaknya.
"Kak Mischelle!" Ucap Motty terkejut sampai melotot kedua matanya setelah dia sadar ciri-ciri yang disebutkan oleh Erfyona yang mengarah padanya.