
"Melamar? ... Hemh kamu pasti bercanda 'kan?" Sambung Ibunya dengan sedikit tawa kecil.
Gabriel terkejut mendengar perkataan seriusnya di anggap lelucon oleh Ibunya. Dia mencoba untuk meyakinkan Ibunya untuk yang kedua kalinya. "Tidak Bu Saya tidak sedang bergurau. Saya beneran menyukai putri Anda ini." Katanya mempertegas.
"Kamu ... Gumam ibunya lirih terkejut mengetahui keseriusannya.
"Fyona ... Disini!" Panggil seseorang dari jauh.
Sontak mereka bertiga terkejut dan menoleh ke arah suara tersebut berasal. Nampak seorang lelaki dengan busana yang sangat rapi dan bagus sedang naik kuda dengan gagahnya berjalan ke arahnya. Setelah sampai, dia kemudian turun dari kudanya.
"Hai Fyona, bagaimana kabarmu?" Tanya lelaki itu padanya.
"B-baik!" Jawabnya gugup. 'Gawat aku harus bagaimana ini, aku tidak ingin Gabriel sakit hati melihat ini.' Pikirnya panik.
"Ibu, bagaimana kabarmu?" Sambungnya bertanya kepada Ibu Erfyona.
"Baik Nak. Tumben kamu kemari pagi sekali, Ada apa?" Kata Ibunya.
Lelaki itu juga menoleh ke arah Gabriel dan memberinya senyum menghormati, tetapi Gabriel membalasnya dengan tatapan sinis dan tidak menyukainya.
"Tidak ada apa-apa Bu, aku hanya ingin menemui Fyona saja ... Oh iya!" Kemudian merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan sesuatu, teryata itu adalah sebuah cincin. Dia kemudian berlutut dan membukanya untuk memperlihatkan cincinnya kepada Erfyona.
'Dia!' Kata Erfyona terkejut melihat dia berlutut ingin melamarnya di depan mata Gabriel dan Ibunya. Ia melirik ke arah Gabriel melihat reaksinya. Nampak Gabriel sangat marah melotot sambil mengepal tangannya keras.
"Maukah ka,-
"Hoey apa-apaan ini!" Teriak Gabriel marah langsung meraih leher bajunya dan menariknya memberinya tatapan mata marah.
''Hoaaaaammhs! Cerita ini sangat membosankan. aku tidak tahu apa yang di maksud dari cerita ini, Tidur ahh... Kemudian Gill merunduk kan kepala dan tertidur.
"Apa yang kau lakukan! Berani sekali kau melamarnya di depan mataku!" Ancamnya dengan keras sekali.
"HENTIKAN!" Teriak Ibunya kepada Gabriel.
Sontak Gabriel terkejut dia membentaknya dan memelototinya. "Lepaskan dia!" Tetapi Gabriel tidak menggubrisnya, "Lepaskan dia Iblis terkutuk!" Sambungnya dengan tegas.
Kemudian Gabriel melepaskan cengkeraman tangannya pada baju lelaki tersebut. "Fyona, ajak dia masuk! Aku ingin berbicara dengan Iblis ini sebentar." Kata ibunya.
Kemudian Fyona menoleh ke arah Gabriel dengan wajah terpaksa sedangkan Gabriel menggedekkan kepala menolak Erfyona pergi meninggalkannya. Dengan berat hati akhirnya dia masuk ke dalam rumah dengan lelaki bangsa Manusia itu.
"Fyo!,- langsung di halang oleh ibunya.
"Bu kenapa lelaki itu yang di suruh masuk? Fyona itu milik saya. Saya mencintainya sudah sejak lama." Kata Gabriel menjelaskan kepada ibunya.
"Bu? Hei! (Sambil mendorongnya sedikit) ngaca kamu ya! Lelaki sepertimu tidak berhak menikahi atau memiliki anak saya!" Celanya.
"SRUJK! dia membanting bunga yang Gabriel bawa tadi dan menginjaknya tepat di depan matanya penuh kehinaan. "Dengan ini kau jangan dekati anakku lagi. Selamanya Iblis dan Archangel tidak bisa bersatu!" Sambungnya.
Gabriel hanya diam seribu bahasa menerima semua hinaan dari Ibu Erfyona. dalam hatinya dia sangat sedih cintanya bertepuk sebelah tangan dengan Erfyona. "Kenapa kau lebih memilih Manusia itu. Padahal kami bangsa Iblis memiliki kekuatan terkuat dari ketiga bangsa." Kata Gabriel tidak terima.
"Kekuatan tidak menjamin dirimu lebih baik dari lelaki Manusia itu. Apakah kau tidak tahu kalau peraturan telah melarang keras hubungan Iblis dan Archangel? Kalau kau tidak tahu biar aku kasih tahu," kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Gabriel dan membisikkannya sesuatu.
"Karena kami bangsa yang Mulia dan terhormat! Sedangkan kalian adalah bangsa rendah yang hina oleh sebab itu kalian di buang ke Underworld tempat yang gelap dan menyedihkan." Bisiknya.
Mata Gabriel terbelalak terkejut setengah mati mendengar penjelasannya barusan. "Sekarang pergilah. Apa kau mau menghinakan dirimu lagi di sini ... Hemh?" Tanya Ibu Erfyona di dekat telinganya.
Gabriel mengangguk diam saking larutnya dia dalam kesedihan. "Oh iya sekalian kau bawa pula sampah yang kau bawa ini!" Sambungnya. Gabriel langsung berjongkok ingin mengambil bunga tersebut yang sudah hancur terinjak, waktu dia ingin mengais bunga tersebut dengan tangannya. Ibu Erfyona lanjut menginjaknya hingga hancur berantakan tidak terbentuk.
"Sayang sekali ya Gabriel, kau boleh menikahi Erfyona, tapi hanya dari dalam mimpimu. Dasar lelaki menyedihkan." Kemudian bergegas masuk dan menutup kembali pintunya dengan keras.
Gabriel terus memunguti setiap bunga yang berceceran terpisah dari tangkainya mengambilnya satu persatu. Dalam hatinya ia sangat marah atas perlakuan Ibu Erfyona padanya dan menaruh dendam kepada lelaki dari bangsa Manusia tersebut.
'Aku ini adalah Iblis. Bangsaku adalah yang terkuat. Aku tidak terima harga diriku di injak-injak seperti ini. Lelaki itu!' Katanya marah sekali sambil meremas kuat bunga yang ia kais di genggamannya.
Ia kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan rumah Erfyona dengan tangan mengepal marah penuh dendam. 'Kalian akan menyesal telah membuatku seperti ini!' Menoleh ke belakang sekejap seblum berjalan pergi.
Setelah sampai di Underworld, dia langsung menyusun rencana untuk menghapus peraturan tersebut dan membinasakan semua manusia di bumi. Dia berusaha memprovokasi para bangsa Iblis satu per satu secara sembunyi-sembunyi. Targetnya adalah mereka para pemberontak beberapa tahun yang lalu.
Berhari-hari Gabriel berjuang mencari anggota untuk membantu rencananya tersebut. Akhirnya dia berhasil mengumpulkan sekitar seratus Iblis untuk membantunya.
Waktu acara tengah berlangsung dengan serunya, tiba-tiba perut Gill terasa sakit sampai membuatnya terbangun dari tidurnya. 'Aduh perutku kenapa ini?' Pikirnya sambil memegangi perutnya. Ia kemudian bangkit dari kursinya. "Aku tinggal dulu sebentar paman!" Katanya berpamitan.
"Mau pergi kemana?" Tanya Luckas.
"Sebentar nanti aku kembali lagi." Katanya sambil berjalan pergi terburu-buru.
Setelah sampai di luar ia masih bingung dengan rasa sakit pada perutnya. "Aduh kenapa ini. Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan rasa sakit ini." Katanya kebingungan terus memegangi perutnya.
Ia terus berjalan menyusuri jalan perayaan tersebut untuk mencari penawar rasa sakitnya tersebut. Saat Gill sedang berjalan tak sengaja ia melihat keributan, terdengar suara teriakan dan tangisan seorang wanita dari depan sana.
Ia langsung bergegas melihat apa yang terjadi. Sesampainya di tempat ia terkejut melihat segerombol Iblis Tirani tengah merusak toko seseorang dan mengambil salah satu kerabat mereka.
"Tuan tolong jangan ambil putri saya. Saya mohon lepaskan dia!" Teriaknya memohon sambil berlutut dengan isak tangis di wajahnya. Para warga hanya bisa menyaksikan wanita tersebut dengan ekspresi wajah kasian tidak berani menolongnya.
"Ibu tolong aku!" Teriak anak itu di bawah cengkeraman para Iblis.
"Putriku!" Teriak wanita itu berusaha menggapai tangan putrinya dengan tangannya sambil menangis sedih.
"Diam, kami adalah Tuan kalian. Manusia harus tunduk pada kami!" Jawabnya keras penuh kesombongan.
"Suara siapa itu! Lancang sekali." Balas Iblis tersebut marah sambil mencari suara tersebut.
Gill melesat dengan sangat cepat menghampiri Iblis yang menyandera anak itu. "Disini brengsek!" Dengan tatapan mata biru full power dan kepalan tangan sekeras baja bersiap menghantam wajahnya.
"JPRAAK!" Pecahlah kepala Iblis itu muncrat lah darahnya ke segala arah tubuhnya langsung tumbang terkejang di atas tanah.
Para warga yang melihat aksi Gill barusan sontak kaget, beberapa langsung menutup matanya tak kuat melihat kasadisan. Mereka semua bertanya-tanya siapa anak muda tersebut yang dengan berani menentang dan membunuh bangsa Iblis dengan gagahnya.
Sedangkan para Iblis yang melihat temannya mati dengan sekali pukulan menjadi sedikit takut dan segera membentuk formasi melingkar hendak mengeroyoknya dari segala arah. Gill hanya berdiri dan merundukkan wajahnya dengan tangan penuh dengan noda darah.
'Siapa anak muda ini? Aku belum pernah melihatnya di desa ini.' Pikir wanita tersebut sambil terus mengamatinya. "Ibu!" Panggil putrinya sontak membuatnya kaget, ia langsung melentangkan kedua lengan tangannya bersiap memeluknya.
Anak tersebut langsung berlari menghampiri ibunya dan langsung memeluknya erat senang sekali. "Syukurlah Nak kamu baik-baik saja!" Kata ibunya di pelukan senang sekali sampai meneteskan air mata.
"Aku juga senang bisa melihat ibu kembali." Balas putrinya di pelukan. "Kakak barusan itu yang menyelamatkanku!" Sambungnya sambil menoleh ke arah Gill.
"Nak larilah! Mereka bisa membunuhmu." Teriak wanita itu memperingatkannya.
"Bunuh dia!" Perintah salah satu Iblis kepada teman-temannya. Mereka langsung bergerak serentak menyerang Gill dari segala arah.
"Siapa pun tolong anak itu!" Kata wanita itu meminta tolong kepada para warga yang sedang melihat mereka, tetapi mereka semua hanya diam tidak berani melakukan apa-apa.
Gill kemudian menghilang dari pandangan para Iblis dan menyerang mereka cepat sekali. Para Iblis mulai runtuh percaya dirinya melihat teman-temannya terpental merusak toko para warga hingga hancur terkena efek serangannya.
Pemimpin Iblis yang melihat anak dan ibu tersebut tidak terjaga dengan cepat melesat dan mengangkat kapaknya hendak mengakhiri hidup mereka berdua. "Matilah kau!" Teriaknya melompat di udara sambil mengangkat kapaknya.
Mereka berdua kaget dan langsung berteriak histeris ketakutan setengah mati. "Tolong kami!" Teriaknya. Gill yang mendengar teriakan mereka berdua langsung menoleh ke arahnya melihat apa yang sedang terjadi. 'Gawat' Pikirnya kaget melihat mereka diambang kematian.
"CTASHH!"
"Itu!" Teriak salah satu warga terbelalak kedua matanya.
"Benarkah itu. Benarkan apa yang kita lihat ini. Anak itu, dia adalah bangsa Dementor!" Sambung salah satu warga lainnya yang juga ikut terkejut melihatnya.
Wanita itu mulai membuka matanya dan terkejut melihat Gill berdiri gagah di depannya melentangkan sayap birunya yang indah melindunginya dari serangan Iblis tersebut. "Ibu apakah kita sudah mati?" Tanya putrinya dalam pelukannya.
"Tidak Nak. Bukalah matamu," balas ibunya. Perlahan putrinya mulai membuka kedua matanya dan terbelalak lah kedua matanya melihat Gill dengan wujud sempurnanya berdiri di depannya.
"Dia kakak yang barusan kan Bu?" Tanya putrinya kaget, ibunya hanya mengangguk senang dan kembali memeluknya.
"Kau!" Kata Iblis tersebut terkejut serangannya berhasil di tangkis oleh sayap Dementor Gill. Ia sangat terkejut melihat wujud sempurnanya karena dia tahu kalau seorang Dementor sudah mengeluarkan wujud aslinya maka dia akan membinasakan seluruh musuh di yang menghalanginya.
Iblis itu kemudian mundur perlahan karena ketakutan, tubuhnya bergetar mengeluarkan keringat dingin. dengan cepat Gill langsung mencengkeram lehernya dan mengangkatnya terbang di udara bersamanya.
"Blood Vengeance!"
Perlahan darah keluar dari setiap lubang tubuhnya dan mengental menjadi satu di depan wajahnya. "Apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Iblis itu gugup melotot ketakutan melihat darah terus keluar dari tubuhnya.
"Tolong ampuni aku. Aku akan memberi semua yang kau mau. Tolong jangan bunuh aku!" Sambungnya memohon ampun.
"Tidak ada ampun untuk para Iblis Tirani. Kembali lah kau ke Neraka!" Jawab Gill tegas dengan suara seram dan tatapan murka.
Gill langsung mempercepat aliran darah yang keluar perlahan tubuhnya menjadi kurus keriput kehabisan darah. Iblis itu teriak kesakitan sejadi-jadinya dalam cengkeraman tangan Gill. Para warga yang melihat Gill menyiksanya dengan sadis mereka menjadi sangat ketakutan kepadanya.
Sedangkan dua iblis sisanya mundur perlahan karena ketakutan melihat Gill menyiksa temannya dengan sangat mengerikan. Waktu mereka sedang memutar badannya hendak berlari.
"Hei mau kemana kalian. Urusanku belum selesai!" Kata Gill dengan suara seram mengerikan.
Mereka berdua terkejut setengah mati mendengar suara Gill barusan. Seketika tubuh mereka kaku tidak bisa di gerakan. Ia kemudian menjatuhkan mayat Iblis yang sudah kurus kering itu di depan Ibu dan anak tersebut.
Mereka berdua terkejut dan ketakutan melihat mayat Iblis tersebut berubah sangat menyeramkan, wanita itu langsung menutup kedua mata anaknya agar dia tidak ketakutan dan tidak membuatnya trauma. Sedangkan darah yang Gill ambil tadi dia membentuknya menjadi sebuah tombak panjang yang langsung melesat ke arah iblis itu masing-masing.
Akhirnya kedua iblis tersebut mati dengan ujung tombak yang menembus jantung mereka. "Kalian berdua! Larilah! Dementor itu akan membunuh kalian!" Teriak para warga memperingatkan ibu dan anak itu.
Wanita itu hanya bisa pasrah mengenai nasibnya beserta anaknya. Karena dia telah melihat bagaimana Gill menghabisi mereka para bangsa Iblis dengan mudahnya, apa lagi menghabisinya yang hanya seorang manusia biasa. Ia menatap Gill yang perlahan turun, kemudian Gill juga menoleh dan menatap wajah wanita tersebut dengan mata biru jenderal Dementor.
Ia memeluk erat tubuh putrinya ketika melihat Gill sudah menginjak tanah dan lekas berjalan menghampirinya. Gill terus menatapnya dan memperhatikannya mengiringi langkah kakinya.
"Arrghhh!" Rintih Gill tiba-tiba sakit pada perutnya kambuh kembali seketika sayap dan mata kuatnya memudar dan menjadi sosok Gill yang biasa saja sama seperti sebelumnya. Ia berlutut merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Bunuh Dementor itu! Ini lah saat yang tepat untuk membunuhnya." Teriak para warga sambil berjalan menghampiri mereka bertiga.
Wanita itu kasihan melihat kondisi Gill yang sedang berlutut merintih kesakitan sambil memegangi perutnya. Ia kemudian langsung bangkit berdiri menghadang para warga. "Berhenti. Kalian tidak boleh membunuhnya!" Teriak wanita itu sambil melentangkan kedua tangannya menghadang para warga.
"Apa yang kau katakan. Apa kau sudah gila? Dementor itu musuh kita juga." Teriak warga yang lain.
"Aku mengerti tapi anak ini lain. Apakah dia menunjukan keseriusannya membunuh kita. Tidak 'kan? Dia bisa saja membunuhku dan putriku tadi bersamaan dengan para Iblis. Tetapi apa yang dia lakukan, ia malah melindungi ku dan membunuh mereka yang mengganggu kita. Apa kalian tidak sadar Hah!" Kata wanita tersebut membela Gill mati-matian.
Para warga hanya terdiam mendengar pengakuan tulusnya. "Tolong dia masih anak-anak, masa depannya masih panjang." Imbuhnya memohon.
"Baiklah kami percayakan dia padamu, tapi ingat kalau ada apa-apa tentang anak itu. Kau lah yang harus bertanggung jawab." Kata salah satu warga.
Wanita itu mengangguk setuju kemudian para warga bubar dan kembali melanjutkan perayaan tersebut. Dengan sedikit takut wanita itu memberanikan diri untuk mendekati Gill dan menanyakan keadaanya. "Anda tidak apa-apa Tuan?" Tanya dia sedikit ketakutan.
"Perutku sakit sekali." Jawabnya pelan merintih kesakitan.
"Mari Tuan ikut saya, akan saya buatkan penawarnya," kata wanita sambil membantu berdiri putrinya mengajaknya berjalan pergi menjauhi mayat Iblis yang menyeramkan tersebut.