The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 76 ~ Gill, kau kembali!



Tidak terasa tujuh hari telah berlalu, kini Gill sudah bisa kembali masuk sekolah seperti biasa. namanya di Underworld kini sudah mulai terkenal bahkan sampai ke telinga para Raja Iblis. Gill mendapat julukan 'Malaikat maut' karena aksinya yang radikal dan kekejamannya membunuh iblis tak kenal gender dan usia.


Gill pandai, ia tidak gegabah dalam melancarkan terornya. awalnya ia hanya menyelamatkan seorang Ratu dan membunuh sekitar 85 orang. tidak puas sampai disitu dia mulai masuk ke ranah yang lebih luas, yakni membantai penduduk desa dari suatu wilayah Kerajaan Iblis yang menewaskan korban sebanyak 178 orang termasuk anak kecil.


Total sudah ada empat desa yang Gill hanguskan selama empat hari terkahir dan merenggut nyawa sebanyak 1.286 orang. Underworld kini menghadapi permasalahan yang serius, keberadaan Gill sudah seperti momok yang menakutkan dan ancaman yang mengerikan bagi para Iblis terkutuk itu.


Namanya juga terkenal di dunia sebagai seorang Malaikat pelindung (Guardian Angels) karena telah menyelamatkan Ratu Ellish. Ratu dengan wilayah kekuasaan paling luas di daratan Eropa barat. Sang Ratu bahkan sampai rela mengeluarkan ribuan keping emas hanya untuk membangun patung raksasa berwujud Malaikat berjubah dengan sayap yang gagah besar.


Patung megah tersebut berdiri di puncak gunung yang tinggi menghadap ke laut. setiap hari minggu Ratu selalu datang ke patung tersebut dan berdoa kepada Tuhan, meminta agar suatu saat mereka dipertemukan kembali. ia selalu meninggalkan karangan bunga disana sebagai tanda penghormatan atas jasanya yang berharga.


Ratu Ellish adalah Ratu yang paling kaya di dunia, semua rakyatnya hidup makmur dan berpenghasilan lebih dari cukup. wilayah kekuasaannya menyimpan berbagai sumber daya alam yang melimpah, termasuk Emas, Intan dan permata yang tentunya harganya sangat mahal. selain terkenal sebagai penghasil logam mulia, Kerajaannya juga terkenal sebagai penghasil pakaian terbaik kelas dunia.


Desain baju dan kain yang digunakan semuanya berkualitas tinggi, motif dan corak yang indah membuat harganya sangat fantastis. hanya orang kaya dan Raja saja yang mampu membelinya. tak ada kata miskin di Kerajaan yang Ellish pimpin, semuanya kaya semuanya pandai dalam mengelola bisnis. semua rakyat menyanjung dan begitu menghormatinya sebagai seorang Ratu yang baik.


Karena Ratu Ellish masih single membuatnya menjadi rebutan para Pangeran, mereka berlomba-lomba menarik hati sang Ratu. namun tak ada satu pun dari para pangeran itu yang berhasil menaklukan hatinya. Ratu tahu mereka tidak tulus mencintainya dan hanya ingin menjadi Raja, menguasai semua kekayaan yang Ratu miliki.


Berita penculikan Ratu Ellish terdengar sampai ke berbagai penjuru dunia. awalnya semua Kerajaan berlomba-lomba ingin menyelamatkannya, tapi sayang nyali mereka tak cukup besar untuk masuk ke dalam Underworld sarang dari para Iblis yang jahat dan kejam. jika Ratu meninggal dan tidak kembali maka Kerajaan lain akan menjajah Kerajaannya, saling berperang memperebutkan wilayah tersebut.


....


Tengah malam Gill baru sampai di Majesty Strength Academy. jalan tampak sepi dan sunyi hanya ada suara jangkrik dan katak yang saling sahut menyahut mengiringi malam yang dingin setelah di guyur hujan. Gill berdiri sejenak dan mengangkat kepalanya ke atas, menghirup udara segar 'Ah segarnya, paru-paruku berasa seperti dicuci' ucapnya lalu mulai berjalan pelan menikmati suasana malam yang sepi.


Ia lalu duduk di bangku panjang pinggir jalan yang diterangi oleh lampu kuning di atasnya. saat sedang duduk ia mendapat telepati dari seseorang yang tidak terduga. orang itu adalah Enrylind, dia memberitahu kalau masa Skors-nya sudah berakhir dan dia diizinkan masuk kelas mengikuti pelajaran seperti biasa.


Gill hanya menjawabnya 'iya' saat Enrylind hendak memperingatkannya untuk yang kedua kali ia langsung memutus telepati tersebut dengan sengaja, 'Dasar gadis resek' ucapnya. Gill lalu mengangkat kepalanya ke atas melihat lampu kuning yang meneranginya, dalam lamunannya itu dia berpikir akan tidur dimana malam ini.


Awalnya dia berpikir ingin tidur di sekolah tapi seragamnya ada di Kosan, sedangkan kalau tidur tempat tidurnya sempit karena ada Liliana di sana. Gill lalu bangkit dan memutuskan untuk kembali ke Kosan, dia tidak masalah jika memang harus tidur di lantai yang penting besok tidak terlambat masuk ke sekolah.


Sampainya di Kosan ia terkejut karena melihat semua lampu sudah padam 'Sudah pada tidur ya' batinnya. ia pun menarik kembali tangannya yang sudah sangat dekat dengan pintu, takutnya nanti mengganggu. Gill lalu duduk di kursi dan meluruskan kakinya di atas meja memilih tidur di luar.


Pagi harinya Laphia di buat terkejut saat ingin membuang sampah di luar. ia sampai menjerit keras tidak tahu kalau ada orang disitu, karena terkejut Gill sampai jatuh dari kursi. Liliana dan Alice langsung berlari ke teras depan mengecek kegaduhan tersebut.


'Apa-apa yang terjadi?' ucap Gill langsung bangkit karena panik dengan mata merah pecah-pecah masih mengantuk.


'Vergile kau membuatku jantungan!' ucap Laphia sambil mengelus dada. Alice dan Liliana kemudian menghampirinya dari belakang dan terkejut melihat Vergile ada di sana, 'Vergile sejak kapan kamu pulang?' tanya Liliana langsung memeluk tubuhnya.


'Kemarin malam' jawabnya pelan dengan kepala tertunduk lesu.


'Kenapa tidak masuk?' tanya Alice. ia menjawab 'Karena kalian sudah tidur' Liliana lalu melepas pelukannya dan mengusap rambutnya yang berantakan, 'Sudah sekarang kamu segera mandi dan berangkat ke sekolah, ini sudah siang takutnya nanti kamu dihukum karena terlambat' tutur Liliana. Gill menjawabnya 'iya' dan berjalan sempoyongan masuk ke dalam, mereka bertiga hanya menggedekan kepala melihat sikapnya.


(Lorong depan kelas 1B)


Tubuh Vergile benar-benar lemas sampai dia dibantu berjalan oleh Alice menuju kelasnya, beruntung dia bertemu Greey dan Indyra disana yang dengan sigap langsung membantunya. mereka langsung meletakan tubuh Gill di bangkunya dan saling mengobrol sejenak.


'Rambutnya masih basah, sepertinya dia habis mandi' ucap Greey melihat lengan bajunya yang basah terkena tetesan air rambutnya.


'Harusnya setelah mandi dia tidak mengantuk, air shower pagi itu sangat dingin!' sambung Indyra mengamatinya yang sedang tertidur pulas dengan kedua tangan ditekuk sebagai bantalan kepala.


Melihat Gill yang sudah masuk setelah menerima hukuman, Emilia langsung menghampirinya dan berkata 'Bagaimana rasanya terkena Skors, Masih mau cari masalah dengan Dewan Inti?' dengan nada ejekan.


....zzzz....


'Beraninya kau!' ucap Emilia marah merasa diabaikan, ia lalu mengepalkan telapak tangannya dan mengangkatnya tinggi ingin memukul keras meja tersebut.


Dengan cekatan Greey langsung menghentikannya dan bekata, 'Emilia jangan ganggu dia, biarkan Vergile tidur sebentar' ucap Greey. Emilia langsung menarik tangannya dengan wajah lengus sembari berkata, 'Jangan sentuh aku!' bentaknya.


'Harusnya siswa pemalas sepertinya tidak masuk ke dalam kelas A, dia merusak nama baik kelas kita' sambungnya kesal langsung berbalik dan duduk di bangkunya.


'Ada apa Nona?' tanya Vania yang baru saja sampai, ingin tahu penyebab dari raut wajahnya yang kesal. Emilia hanya diam dan tak mengucapkan sepatah kata pun, Vania lalu mengangkat kepalanya dan menatap penuh tanya ke arah Greey dan Indyra.


Greey memasang wajah tidak tahu sedangkan Indyra hanya menggedekan kepala, Vania lalu menghela nafas panjang memendam rasa penasarannya. lima belas menit kemudian bel masuk berbunyi, semua siswa langsung duduk di tempatnya masing-masing bersamaan dengan datangnya Sista sebagai guru Mapel hari ini.


Melihat Sista telah datang, Indyra berusaha membangunkannya dengan sedikit menggoncangkan tubuhnya. namun tak ada respon apa-apa. Gill masih lelap tertidur.


Seperti biasa Sista menyapa semua muridnya dengan senyum yang ramah sebagai pembukaan sebelum masuk ke dalam pelajaran. ia teringat kalau hari ini adalah hari berakhirnya Skors Gill. Dia lalu bertanya kepada semua murid yang ada 'Apakah Vergile masuk hari ini?' tanya Sista.


Indyra menjawab 'Iya, namun dia masih tertidur. sepertinya ia kelelahan karena pulang terlalu malam' menoleh ke arah Gill yang tertidur.


Sista lalu berjalan menghampiri mejanya dan melihatnya sendiri. Emilia lalu berdiri dari kursinya dan menyarankan Sista untuk menghukumnya namun jawaban mengejutkan justru keluar dari mulut Sista, 'Untuk sementara biarkan saja dia tidur, kita masih punya dua jam setelah istirahat. Sebagai hukumannya aku akan memberikannya PR nanti' ucapnya.


Emilia merasa kesal melihat Sista meringankan hukumannya, karena tak terima ia lalu mengkritik guru kecil itu sebagai pengajar yang kurang tegas. Sista lalu memberikan alasan kenapa ia hanya memberikan PR sebagai hukumannya.


Setidaknya ada tiga alasan kuat kenapa dia melakukannya, Pertama adalah Gill tidak mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Kedua Gill tidak terlambat. Ketiga Gill tidak melawan atau membentak guru ketika mengajar. Sista menambahkan kalau sebenarnya dia tidak masalah muridnya tak mendengarkannya saat menjelaskan materi. Seketika pendapatnya itu membuat seisi kelas terkejut.


'Posisi kalian disini adalah sebagai murid. kalian duduk dibangku ini karena ingin belajar, ingin menuntut ilmu. kalau kalian tak mendengarkan materi yang guru sampaikan, mau dapat ilmu dari mana kalian?' ucapnya membuat semua murid terdiam.


'Contohnya adalah dia' menoleh ke arah Gill yang lelap tertidur, 'Kerugian terbesar dari para pelajar adalah tak mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi masa depan mereka' sambungnya. Sista lalu kembali ke mejanya dan memulai pelajarannya.


(Jam Istirahat)


Setelah Sista pergi baru lah Greey datang menghampiri meja Indyra, ia mengajaknya pergi ke kantin seperti. terdengar Vega memanggil keras nama mereka berdua dari depan pintu kelas, bersama Alice disampingnya. ia melambaikan tangan mendekat mengajaknya pergi ke kantin, tapi setelah Vega melihat ada Gill disana dia langsung masuk dan menghampiri mereka berdua di dalam.


'Apakah dia sakit?' tanya Vega.


Indyra menjawabnya tidak dan menjelaskan kalau Gill hanya tidur karena kelelahan. Alice terkejut dan bertanya, 'Apakah ia belum bangun dari tadi?' Indyra hanya menggedekan kepala pelan sambil berkata tidak.


Alice lalu menggoncang tubuh Gill sambil memanggil namanya, menyuruhnya untuk bangun. perlahan ia mulai membuka mata dan meregangkan otot tubuhnya sambil menguap, 'Jam berapa sekarang?' tanya Gill dengan mata yang sayup.


'Ini sudah istirahat bodoh!' jawab Alice keras sambil memukul meja. Gill hanya plonga-plongo sambil menggaruk rambut seperti orang bingung. Vega tersenyum dan berkata dengan lembut, 'Nyenyak sekali ya tidur mu Vergile'


'Kamu?' ucap Gill terkejut. Vega hanya tersenyum melihat reaksinya.


Gill terkejut melihat mereka berempat bisa akrab dengan waktu yang singkat, 'Kalian sudah saling kenal?' tanya Gill. Greey menjawab 'Banyak hal yang sudah terjadi selama kau pergi Vergile, seminggu itu adalah waktu yang lama untuk mencari teman'


'Vergile, aku ingin bertanya banyak hal padamu?' sambung Greey. ia menggeleng dan menatap Greey penuh tanya, 'Soal apa?' ucapnya.


'Sebelum itu ayo kita pergi ke Kantin, waktu kita tidak banyak!' ajak Alice.


Gill lalu menggerayangi kantong bajunya memeriksa apakah ia membawa uang saku. melihat ekspresi Gill yang terkejut seperti kehilangan sesuatu membuat Vega berinisiatif untuk mentraktir mereka makan. mereka berempat terkejut dan bertanya 'Sunguh?' Vega membalasnya dengan senyum tulus.


(Di Kantin setelah makanannya sampai)


Gill langsung melahap soto yang ia pesan sebelumnya, mulutnya sampai penuh dengan kedua sisi pipi yang menggelembung. Greey lalu bertanya bagaimana cara Gill menghadapi rasa takutnya saat ingin menolong orang lain. ia menjawab 'tidak tahu' Gill menambahkan kalau dia tidak suka melihat pertarungan yang tidak seimbang.


Greey lalu bertanya siapa lawan tersulit yang pernah ia hadapi saat memyelamatkan mereka bertiga. Gill menjawab, 'Tiga orang yang melecehkan Indyra' Greey terkejut mendengar kata tiga orang, ia lalu teringat kata Indyra yang menyebutkan Gill pernah terluka parah saat menyelamatkannya. Kini Greey tahu jelas penyebab Gill bisa terluka parah yakni menghadapi tiga orang secara bersamaan.


'Lalu apa yang terjadi?' tanya Greey penasaran. Gill lalu menceritakan semuanya secara detail, mulai detail pelecehan sampai ia menghajarnya babak belur. Greey dan Alice terpukau mendengar detail ceritanya sedangkan Vega menyadari satu hal dari cerita tersebut yakni ketiga orang yang babak belur itu berasal dari kelasnya. Vega yakin mereka bertiga adalah teman dekat Vessel, siswa yang menyeret rambut gadis kelas 1C kemarin.


'Lalu bagaimana dengan mu, apakah kau terluka parah?' tanya Greey. ia menjawab tidak, hanya ada sedikit luka gores pada pipi dan tangan. Indyra lalu menyikutnya dan berkata kalau dia berbohong, ia menjelaskan kalau kepalanya berdarah dan perutnya terkena pukulan keras sampai muntah darah.


Greey memujinya dan bercerita kalau dirinya gagal menyelamatkan Alice beberapa hari yang lalu. Gill terkejut dan bertanya apa yang telah terjadi. Alice menjawab kalau itu hanya masalah kecil yang berasal dari ketidak sengajaan. Gill lalu menasihatinya kalau memang sudah ada niatan untuk menolong orang sebaiknya jangan banyak bicara, langsung hajar saja.


'Hanya pengecut yang mengajak musuh untuk berdamai!' ucap Gill membuat Greey terdiam karena ia percaya semua masalah bisa diselesaikan tanpa adanya kekerasan.


Indyra lalu menyela obrolan itu dan meminta untuk beralih topik. Vega kemudian memberi sebuah berita yang sedang heboh dan hangat diperbincangkan saat ini. mereka berempat penasaran, 'Berita apa?' tanya Alice.


'Penculikan Ratu Ellish' jawab Vega.


Gill sedikit terkejut mendengar itu, 'Bukan kah dia Ratu dari Eropa barat?' tanya Greey. Vega mengangguk dan menjelaskan sedikit tentang Kerajaannya. Indyra dan Alice terkejut mendengar ceritanya yang menyebutkan kalau semua rakyatnya makmur dan sejahtera, tak ada kata miskin di wilayah kekuasaannya.


'Apakah kau sudah tahu Vergile?' tanya Vega. ia mengangguk 'Iya, tapi aku tidak tahu kejadiannya seperti apa' jawabnya.


Vega lalu menjelaskan detail kejadiannya. ia berkata kalau malam itu Ratu sedang mengadakan pesta dansa dan mengundang tamu dari tujuh Kerajaan, singkatnya itu adalah pesta dansa yang megah dan mewah. dalam pesta yang ia adakan itu, Ratu Ellish berniat mencari seorang pria untuk teman dansa sekaligus partner kencan.


'Partner kencan, berarti...


'Ratu Ellish masih Single' potong Vega dari Indyra. ia lanjut menjelaskan kalau malam itu ada satu orang pria yang berasal dari Kerajaan tak diundang, tapi karena Ratu baik pria tersebut diizinkan masuk. pria misterius itu terkesan ramah dan murah senyum pada Ratu, karena menarik Ratu lalu mengajaknya berdansa.


Ditengah acara yang sedang berlangsung secara mengejutkan pria misterius itu tiba-tiba berubah menjadi sosok besar bertanduk yang menakutkan. Banyak dari mereka yang bilang kalau itu adalah wujud dari Iblis 'Ludrigo' bawahan Raja Iblis Mammon.


Iblis itu lalu menawan Ratu dan mengancam akan melukainya jika ada yang berani mendekat. suasana langsung berubah menjadi tegang karena kejadian itu, semua tamu yang hadir bahkan ada yang sampai berteriak histeris karena ketakutan. perlahan Iblis itu membawa pergi sang Ratu dan menjadikannya tawanan agar prajurit tak berani macam-macam.


Karena peran Ratu sangat penting akhirnya secara terpaksa semua prajurit dikerahkan untuk menyelamatkannya, mulai dari Palladin sampai Ksatria bayaran. semuanya ikut serta masuk ke dalam Underworld. setelah itu aku tidak tahu kejadiannya seperti apa, tapi setelah Ratu kembali ia langsung membangun patung raksasa bersayap di sebuah bukit yang tinggi menghadap ke laut.


Tempat itu sangat indah dan menjadi tempat yang wajib dikunjungi bagi orang yang berkunjung ke Kerajaannya. Ratu Ellish memerintahkan kepada setiap turis yang hadir untuk memberi hormat kepada patung tersebut. sepertinya sosok itu lah yang menyelamatkannya di Underworld, terlihat ia sangat menghormatinya.


'Apakah kau pernah pergi ke pantai itu Vega?' tanya Alice. Ia menjawab iya dan menambahkan kalau waktu itu umurnya masih tujuh tahun, 'Aku tidak tahu seindah apa tempat itu sekarang. dulu saat aku berkunjung jalurnya masih sangat sulit, jalannya kecil dan penuh dengan semak belukar. tapi jujur tempatnya tidak mengecewakan' sambungnya.


'Liburan musim panas nanti, ayo kita pergi ke sana!' ajak Greey, mereka berempat setuju dengan ajakannya itu.


(Dikelas setelah bel pulang berbunyi)


Sambil berkemas Greey menawari Gill bergabung menjadi anggota OSIS, dia berkata OSIS masih membuka kesempatan bagi siswa yang mau bergabung. dengan wajah jutek Gill menjawab tidak tertarik. ia beralasan kalau itu melelahkan, lebih baik langsung pulang dan Istirahat. Greey tersenyum dan menggedekan kepalanya mendengar sikap dan jawabannya.


Indyra tersenyum melihat ekspresi juteknya menolak tawaran Greey, ia lalu bertanya apa yang ingin dia raih di sekolah ini. Gill menjawab 'tidak ada' ia ingin menjadi siswa normal seperti yang lainnya. tentu Indyra sangat menyayangkan hal itu, siswa berprestasi sepertinya tak harus terpendam di antara murid tak berbakat.


Gill tidak mempermasalahkan hal itu, dalam hatinya hal terpenting saat ini adalah mengumpulkan kekuatan sebanyak mungkin untuk meratakan Underworld. mereka bertiga lalu meninggalkan kelas.


Di depan pintu kelas 1B Greey melihat Vega yang sedang menyapu kelas, membersihkan debu di bawah meja dan bangku. ia menyapanya dan mengajaknya pulang bersama. Vega menolak karena pekerjaannya belum selesai, ia berkata kalau setelah ini masih ada pekerjaan lain yang harus dia selesaikan.


Gill berkata kalau itu sangat merepotkan, sebaiknya ia tinggalkan saja pekerjaan itu dan selesaikan besok pagi. Indyra lalu memukul pinggang Gill keras karena berkata sembarangan, tak seharusnya ia mengajak Vega kepada kejelakan. dia lalu menawarkan diri untuk membantunya namun seketika tawaran Indyra itu di tolak dengan sebab pekerjaannya tinggal sedikit, ia bisa mengatasinya sendiri. Mereka lalu berpamitan dan pergi meninggalkannya.


Di depan lorong kelas 1D nampak Alice sudah menunggu mereka dengan bersandar di tembok dekat pintu. mereka pun pulang bersama dan berpisah dengan Greey di depan gedung kelas.


Sesampainya di Kos Vergile ditanya oleh Laphia kemana Alice, kenapa tidak pulang bersamanya. ia menjawab kalau dia sedang mengantarkan Indyra pulang, nanti juga akan kembali sambungnya. Gill lalu naik ke atas untuk istirahat di kamarnya, ketika tangannya mulai mendorong gagang pintu kamar ia dikejutkan oleh Liliana yang sedang berdiri di depan cermin melihat bekas luka punggungnya.


Gill langsung menunduk ke bawah karena Liliana bercermin tak memakai busana sehelai pun. rambutnya digerai panjang sampai pinggang dengan CD tipis membalut pantatnya. Gill salah tingkah dan bertanya kenapa ia tak mengunci pintunya saat berganti pakaian. Liliana langsung menutup bagian ujung dada yang menonjol dengan kedua telapak tangan yang ditekuk menyilang.


Terlihat wajah Liliana sedikit merah merona tapi karena di depannya itu adalah orang yang dia sayangi, akhirnya ia rela membuka kedua telapak tangannya yang menutupi dada dan berjalan perlahan mendekatinya. dalam hati Liliana berpikir kalau Gill sudah bukan anak kecil lagi dan mungkin sudah terbiasa dengan pemandangan seperti itu. alasan yang lainnya adalah mereka penghuni satu kamar jadi menurutnya akan lebih baik jika tidak ada yang ditutupi. Liliana beranggapan kalau hubungan bisa bertambah erat ketika seseorang terbuka satu sama lain.


Ia meraih pundak Gill pelan dan menimbulkan sedikit rasa kejut padanya. Liliana tersenyum manis dan berkata, 'Kamu sudah pulang?' Gill hanya mengangguk tanpa menoleh wajahnya. ia lalu bertanya apakah Liliana bermaksud menggodanya, dia menjawabnya tidak. Liliana berkata kalau umurnya sudah tidak lagi muda dan anak muda sepertinya tidak mungkin tergugah syahwatnya hanya karena melihat tubuh wanita tua.


Gill lalu melepas jas sekolahnya dan menutupi dada Liliana, 'Bu, aku menghormati mu sebagai guru dan orang tua. tidak seharusnya kamu menunjukan privasimu pada orang lain termasuk aku' ucapnya dengan sedikit rona merah di pipinya dan ia pun pergi untuk mandi.


Liliana seketika tersenyum sampai gigi susunya terlihat dan langsung memeluk erat jas sekolah yang tersampir di dadanya. ia tidak menyangka Gill akan berkata seperti itu. Liliana tahu kalau dia masih tertarik padanya terbukti dari reaksinya saat ia memperlihatkan tubuhnya.


Di dalam kamar mandi wajah Gill masih terlihat memerah karena teringat oleh bentuk dada Liliana, dalam hati ia mengakui kalau itu adalah bentuk terindah dari wanita yang pernah ia jumpai. namun ia langsung menepis pikiran itu sambil menampar kedua pipinya agar terbangun dari pikiran kotor. Gill lalu teringat kalau ada dua bekas luka di belakang punggungnya. dia penasaran dari mana ia mendapat luka tersebut.


Selesai mandi Gill lalu ganti baju dan mengambil tasnya mengeluarkan beberapa buku, mengerjakan tugas yang Sista berikan kepadanya. melihat rambut Gill yang masih basah dan tetesan airnya mengenai buku. Liliana lalu mengambilkan handuk dan mengusapinya penuh kasih sayang, ia membelai rambut itu penuh kelembutan. Liliana tersenyum saat membayangkan Gill adalah putranya yang nakal.


Liliana lalu memeluknya dari belakang membuatnya sedikit terkejut. ia memuji tulisan latin yang Gill tulis karena terlihat rapi dan lekukan abjad-nya terlihat indah. Gill tersenyum mendengar pujian itu dan mengucapkan terima kasih. dengan gugup Liliana memberanikan diri untuk bertanya, 'Vergile?' ucapnya lembut. ia hanya menjawabnya dengan gumaman sambil terus menulis.


'Boleh kah Ibu mencium pipi mu?' tanya Liliana dengan berat hati karena malu, ia hanya mengangguk dan bergumam tak mempermasalahkannya. tanpa ragu Liliana langsung mencium pipinya erat sampai hidungnya pesek. Gill terkejut sampai kedua alisnya terangkat dan pensilnya lepas dari jepitan jarinya, 'Hangatnya' ucapnya dalam hati memejamkan kedua matanya, menikmati kecupan hangat tersebut.


Liliana menciumnya cukup lama karena ia suka dengan pipi halusnya, dalam hati ia merasa terpukau oleh kelembutannya. 'Oh Tuhan takdirkan aku untuk terus bersamanya, aku sangat menyayanginya' ucapnya dalam hati.


Setelah puas menciumnya ia lalu melepasnya dan mereka saling bertatap mata dari jarak yang sangat dekat. Gill menatapnya dalam membuat jantung Liliana berdebar terpesona oleh matanya yang indah, tak tahan dengan paras Gill yang tampan dia lalu meraih kepalanya dan mencium keningnya. Jantung Gill langsung berdetak kencang merasakan kehangatan yang Liliana berikan, saking nyamannya ia sampai memejamkan mata.


Saat Gill akan bicara, Liliana langsung menutup mulutnya dengan jari telunjuk menempel di bibir mengacung ke atas. 'Sebentar Ibu buatkan coklat hangat untuk mu. Pipi dan kening mu sangat dingin Vergile' potongnya lembut langsung pergi ke luar kamar. Gill tak dapat berkata apa-apa dan hanya bengong, ia mengusap bekas kecupan Liliana di pipi dan menatap telapak tangannya dalam.