
Selama dijalan menuju Majesty Strength Academy, Alin dan Gill menghabiskan waktunya untuk mengobrol saling bertukar informasi satu sama lain.
"Apakah kau ingin menjadi yang terkuat di sekolah itu, Gill?" Tanya Alin penasaran.
"Tidak. Aku hanya ingin mencari ketenangan. Sebisa mungkin aku akan menghindari keributan dan hal mencolok lainnya." Jawab Gill pelan.
"Sayang sekali kalau begitu. Kalau kamu bisa menjadi yang terkuat di sekolah itu. Kau akan sangat terkenal, Loh! Bisa menjadi yang terkuat di angkatan mu saja, itu sudah termasuk prestasi yang luar biasa." Tutur Alin memberitahunya.
"Wanita, teman, bahkan guru, semuanya akan menghormatimu, Gill! Kau pasti akan sangat senang. Mengingat dulu masa lalu mu suram. Aku harap dengan menjadi kuat, kau bisa sedikit terhibur dari trauma keluargamu." Imbuhnya.
"Itu bukanlah hal yang sulit bagiku. Tapi menjadi yang terkuat dan populer, itu sudah melenceng jauh dari tujuan utamaku. Majesty Strength Academy adalah batu loncatan untukku." Jawab Gill merasa tidak tertarik.
"Begitu, ya." Balas Alin pelan.
"Jujur sifat mu ini sungguh sangat dingin Gill. Kalau kamu terus seperti ini, yang ada kau tidak akan mendapat teman di sekolah itu. Percayalah, kesepian itu sangat tidak nyaman." Imbuh Alin menasihatinya.
"Aku akan mencoba merubah diriku dan mulai beradaptasi. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku akan berusaha." Kata Gill pelan.
"Keputusan yang bijak, Gill!" Kata Alin dengan senyum senang.
"Apakah tempatnya masih jauh?" Tanya Gill.
"Sebentar lagi sampai." Jawab Alin.
"Oh iya, Gill! Aku ada seorang murid cewek yang sangat cantik di sana. Dia juga memiliki masa lalu yang kelam sama sepertimu. Namanya adalah Miranda Emilia. Dia adalah Putri mahkota kerajaan manusia. Aku dengar dia punya kedudukan yang tinggi di sekolah itu. Kau bisa meminta bantuannya untuk bisa lolos dari seleksi itu!" Sambung Alin memberitahunya cara.
"Aku tidak yakin dia mau membantuku." Kata Gill datar.
"Kau ini pesimis sekali. Rayu dong, Ahh! Wanita itu mudah sekali berubah pikiran saat mendengar rayuan maut laki - laki. Masa kau tidak tahu!" Sahut Alin mencandainya.
"Sama sekali tidak membantu. Aku tidak mau!" Jawab Gill mengabaikan sarannya.
"Lalu bagaimana caramu melewati ujian itu? Aku harap kau tidak bertindak bodoh dengan mengeluarkan busur dan tombak itu. Mereka akan terbunuh, Loh!" Tanya Alin penasaran.
"Aku tidak tahu. Aku hanya akan bertindak sesuai dengan keadaan dan kondisi." Jawab Gill pelan dan santai.
"Lagi - lagi jawabanmu sangat membingungkan untuk dimengerti." Kata Alin merasa kesal.
'Gill!' Panggil seseorang melalui telepati.
'Kak Fyona! Ada perlu apa kau menghubungiku?' Tanya Gill penasaran.
'Tidak ada perlu apa - apa. Cuman ingin memberitahumu kalau barusan kedua orang tuamu datang kemari.' Jawabnya.
"Apa!" Tanya Gill keras karena terkejut.
"Ada apa, Gill?" Tanya Alin penasaran terkejut mendengarnya. Namun Gill meng-kode Alin dengan tangannya, memintanya untuk tidak mengganggunya sebentar.
'Ceritakan padaku?' Tanya Gill.
'Mereka datang untuk mencari penawar dari Gal'iell-mu waktu itu. Salah seorang saudarimu terkena itu dan mereka bingung bagaimana menyembuhkannya.' jelas Erfyona.
'Lalu kau berkata apa pada mereka?' Tanya Gill penasaran.
'Aku tidak tahu ini membantu atau tidak, tapi aku memberitahunya kalau bulu sayap Tuan Azazeal lah yang dapat menyembuhkannya. Aku tahu dia memiliki bulu itu,-
'Kau salah Kak Fyona! Gal'iell itu tidak dapat di sembuhkan. Hanya mereka yang mempunyai darah Dementor saja yang mampu bertahan dari kekuatan besar bulu tersebut.' Sahut Gill.
'Meskipun sedikit?' Tanya Erfyona memastikan.
'Energi langit dan bawah itu berbeda Kak Fyona, ini bukan mengenai besar kecil kekuatan.' Jelas Gill.
'Kalau begitu aku akan membunuhnya? Aku sungguh minta maaf, Gill! Aku beneran tidak tahu mengenai hal itu, gara - gara aku kamu akan kehilangan saudari,-
'Tidak apa - apa, Kak Fyona. Ini bukan salahmu, tetapi mereka! Ini hanyalah awal dari kehancuran yang akan mereka terima.' Sahut Gill tanpa merasa keberatan sedikitpun.
'Kau sampai berbuat sejauh itu demi Ambisimu Gill... (Ucapnya pelan) Ngomong - omong, kau sudah sampai, Gill?' tanya Erfyona penasaran.
'Aku masih di perjalan, mungkin sebentar lagi.' jawab Gill.
'Kau sudah dapat senjata apa? Kalau masih belum, kemarilah! Disini banyak.' Kata Erfyona menawarinya bantuan.
'Tidak, aku sudah dapat. Terima kasih.' Jawabnya.
"Jadi? Kau dapat senjata apa? Apakah senjata itu kuat?' tanya Erfyona kepo.
'Nanti kau juga akan tahu, tidak lama lagi berita itu juga akan tersebar.' jawab Gill sombong.
'Baiklah, aku rasa kau akan baik - baik saja di sana dengan senjata itu. Kalau kau memerlukan bantuan, jangan sungkan, Yah. Kakak akan selalu menanti kedatangan-Mu!' kata Erfyona.
'Kakak sangat menyayangimu, Gill. Jaga dirimu baik - baik.' katanya berpamitan.
'Kakak juga.' jawab Gill datar kemudian memutusnya.
"Siapa barusan itu tadi, Gill? Kau tadi terlihat sangat serius." Tanya Alin penasaran.
"Hanya orang yang ingin basi - basi. Tidak penting juga kuceritakan padamu.' jawab Gill berbohong.
"Sebaiknya kita bergegas sebelum hari gelap." Sambungnya mempercepat kepakan sayapnya.
"Tunggu, Hey! Kau belum jawab pertanyaanku." Panggilnya mengepakkan sayapnya keras menyusulnya.
Setelah cukup lama mengudara, akhirnya mereka berdua sampai di Majesty Strength Academy. Nampak dari atas sekolah itu sangat ramai sekali.
"Apakah di sana?" Tanya Gill berhenti sejenak sambil memperhatikan keramaian tersebut.
"Wah ramai sekali tempat ini! Sudah sangat lama aku tidak kemari. Kebetulan hari ini merupakan penyambutan siswa baru, jadi sangat ramai. Para calon siswa itu datang ditemani oleh kedua orang mereka, dan sebagian oleh Masternya." Jawab Alin merasa rindu dengan tempat tersebut.
"Tapi kamu... (Menatap ke arah Gill dengan muka sedih saat tahu dia datang sendiri tanpa wali murid) Kau tidak perlu sedih, Gill. Aku adalah wali murid-Mu sekarang!" Sambungnya memeluk hangat Gill dari belakang.
"Itu tidak perlu. Aku bisa menanganinya sendiri." Kata Gill datar.
"Kamu jangan sok tegar, Gill. Orang tidak akan membantumu kalau kamu terus bersikap seperti ini." Kata Alin menasihatinya.
"Terima kasih atas ocehannya, sekarang beritahu aku detail dari tempat ini." Balas Gill mengabaikannya.
"Saat ini kita sedang berada di kutub Utara bumi. Academy ini melayang di ketinggian 5000 kaki dari permukaan. Tepatnya 500 kaki di bawah segel langit. Lokasi ini sangat terpencil dan jauh dari peradaban, tidak sembarang orang bisa sampai sini." Jelas Alin.
"Semua siswa di sini memiliki Master yang membuat mereka disegani. Jika mereka tahu kau adalah murid dari Tuan Azazeal,-
"Itu tidak akan terjadi! Menjadi murid Tuan Azazeal bukanlah hal yang bisa di banggakan. Aku tidak mempunyai hak menyeret namanya dalam setiap urusanku!" Sahut Gill tegas.
"Kau benar. Kepercayaan tidak akan sepadan jika ditukarkan dengan kepopuleran. Selain itu kau juga akan menjadi incaran bagi mereka yang berambisi menjadi yang terkuat." Kata Alin memahaminya.
"Jelaskan sistem sekolah ini?" Tanya Gill.
"Pertanyaan yang bagus. Sekolah ini menggunakan sistem seleksi. Akan ada empat tingkatan kelas yang akan kau tempati setelah lulus dari seleksi tersebut yakni, A, B, C, dan D. Sesuai kemampuan yang siswa itu miliki, yang terbaik akan di kelompokkan di kelas A, sedangkan yang sebaliknya di kelas D. Terkesan tidak adil memang, tapi semua itu dibuat untuk menumbuhkan semangat bersaing para siswa." Jelasnya.
"Kau tidak bisa terus ber-malas-malasan di sini. Karena jika kau lima bulan tidak ada perubahan dan terus menjadi yang terlemah, bisa - bisa kau akan di keluarkan dari sini. Kabar baiknya adalah sekolah ini menghalalkan segala cara bagi para siswanya untuk meraih gelar tinggi agar mereka aman dari posisi tersebut." Imbuhnya.
"Aku tidak percaya sistem kuno itu masih diterapkan di sini. Lalu apa yang akan mereka dapat setelah berhasil meraih posisi tertinggi?" Tanya Gill penasaran.
"Kekuasaan tentu saja, Kepopuleran dan yang paling penting adalah Keamanan dari posisi rawan tersebut." Jawab Alin.
"Baiklah, aku rasa cukup. Selebihnya aku akan mencaritahunya sendiri." Kata Gill hendak pergi ke bawah.
"Tunggu, Gill!" Panggil Alin menghentikannya.
"Di Academy ini tidak semua muridnya berasal dari ras terpandang, terus terang saja ada ras Iblis tirani di dalam sana. Aku tahu kau sangat membenci mereka, tapi kalau kau membunuhnya di sini. Kau akan mendapat masalah besar yang mungkin bisa menggagalkan misi-Mu!" Imbuhnya.
"Aku tahu, baunya sangat kuat dari sini. Terima kasih karena telah mengantarkan ku sampai sini. Kau boleh kembali sekarang, sampai jumpa lagi Alin." Ucapnya dengan senyum kemudian berbalik dan pergi ke sana.
"Sama - sama, Gill. Semoga harimu menyenangkan di sana." Balas Alin pelan dengan wajah sedih kemudian berbalik untuk pergi.
Namun hati kecilnya masih belum siap menerima kepergian Gill. Akhirnya dia berbalik menoleh kebelakang untuk yang terakhir kalinya. "Sepertinya hari - hariku akan sepi tanpamu, Gill. Aku akan sangat menantikan panggilan telepati-Mu." Ucapnya pelan melihat kepergiannya dengan wajah sedih, kemudian berbalik dan pergi.
Semua siswa datang dengan di temani oleh wali muridnya, namun tidak dengan Gill. Mereka memakai baju yang bagus dan indah, namun tidak dengan Gill. Disini Gill memposisikan dirinya sebagai pribadi yang lemah dan miskin agar tidak terlihat mencolok.
"Tempat ini ternyata lumayan juga." Kata Gill pelan terus berjalan mengamati sekitarnya.
"Bught! Aduhh!" Teriak seorang gadis menabrak tubuh Gill karena sedang terburu - buru dan membuat barang bawaannya jatuh berceceran di lantai.
"Maaf!" Ucap gadis itu bergegas memungut kembali barangnya yang jatuh.
"Soal itu,- segera membantu gadis itu memungut kembali barangnya.
"Kamu tidak apa - apa?" Tanya Gill sambil memberikan beberapa buah buku di tangannya.
"Iya, aku baik - baik saja. Terima kasih." Jawabnya sambil menerima buku dengan tangan kanannya dan membenarkan kacamatanya yang merosot dengan tangan kirinya.
"Namamu siapa?" Tanya Gill pelan.
Namun si gadis misterius itu langsung bangkit berdiri dan pergi begitu saja. "Maaf! Aku sedang terburu - buru." Katanya tergesa - gesa pergi meninggalkannya.
'Dia sepertinya gadis yang sangat sibuk.' ucap Gill dalam hati melihatnya pergi, ia kemudian lanjut berjalan untuk mengamati kemegahan sekolah tersebut.