
Esok paginya Alice datang menggedor pintu kamar Gill dengan keras, berusaha membangunkannya karena waktu sudah menunjukan pukul 06.30 pagi.
"Brok!"
"Brok!"
"Brok!"
"Vergile bangunlah! Kita akan terlambat. Ini sudah siang!" Panggilnya dari luar terus mengetuk pintunya.
'Ayo Vergile, buruan bangun! Aku tidak ingin meninggalkanmu...' harapnya dalam hati sambil menunggu di depan pintu kamarnya.
'Pagi buta begini siapa sih yang iseng gedor - gedor kamar orang.' batin Gill dalam hati kesal, bangun dari tidurnya dengan tubuh lemas dan mata yang sayup karena masih mengantuk, berjalan sempoyongan untuk membuka pintu tersebut.
"Kreekh! Jdugh!" Membuka pintu.
"Ya ampun, Vergile! Kamu belum siap sama sekali?" Tanya Alice terkejut melihatnya masih kusut dan berantakan.
"Oh Alice, selamat pagi. Kamu mau ke mana pagi buta seperti ini?" Tanya Gill pelan dengan mata merah pecah - pecah menahan kantuk luar biasa.
"Ini sudah siang, Vergile!" Paparnya.
"Ayo buruan kamu segera bersiap, aku akan menunggu di depan!" Ajaknya terburu-buru.
"Masa sih? Tapi inikan masih gelap." Ucapnya tidak percaya sambil menggaruk kepalanya yang gatal.
Tanpa banyak cakap Alice langsung masuk ke dalam dan membuka seluruh korden jendelanya, agar cahaya matahari masuk menyinari ruangan gelap tersebut. Saat cahaya matahari mengenai wajahnya. 'Ahh silau sekali ... Uh!' pikirnya tersadar kalau hari sudah siang.
"Pukul berapa, Sekarang?" Tanya Gill keras dengan wajah panik.
"Sudah setengah tujuh." Jawab Alice.
"Di mana seragamku?" Tanya Gill terburu - buru.
"Di ruang tamu." Jawabnya singkat.
Mendengar itu Gill langsung lari terburu - buru menuju ruang tamu depan untuk segera ganti baju. Saat Alice sedang berjalan menuruni tangga, ia tidak sengaja melihat luka pada tubuh Gill yang tengah ganti baju, langkahnya sampai terhenti karena terkejut.
"Ayo Alice kita pergi! Jangan sampai terlambat." Ajak Gill terburu-buru dengan pakaian yang masih berantakan langsung pergi begitu saja meninggalkannya.
"Bi Phia! Kami berangkat dulu." Pamit Alice keras.
"Iya, hati - hati!" Balasnya dari dalam dapur.
"Tunggu aku, Vergile!" Panggil Alice berlari menyusulnya.
Di sisi lain semua murid kelas 1A sudah Standby di dalam, siap untuk menerima pelajaran. Sambil menunggu pengajarnya tiba, mereka meluangkan waktunya untuk mengobrol, berkenalan, ngerumpi, bercanda, dan masih banyak lagi.
Sedangkan Emilia meluangkan waktunya dengan duduk manis menunggu pengajarnya datang, di temani oleh Vania di sampingnya. Ia sadar kehadirannya di kelas A menarik perhatian banyak orang, termasuk para lelaki di kelas tersebut.
Meskipun Emilia sangat terkenal di angkatannya, tapi itu tidak membuatnya sepenuhnya merasa senang. Terkadang ada juga hal yang membuatnya risih dan kesal. Ia juga sering mendapatkan ejekan dan pelecehan dari para siswa senior.
Tergabung ke dalam Anggota Dewan bukanlah jaminan pasti bisa terbebas dari pem-Bullyan, menjadi kuat adalah satu-satunya jalan yang harus dia tempuh untuk bisa keluar dari belenggu kehinaan.
"Aku tidak menyangka bisa sekelas dengan perempuan secantik dirinya. Ini seperti mimpi!" Ucap salah satu siswa laki - laki terus memperhatikan Emilia dari tempat duduknya.
"Kau benar, kita sungguh beruntung bisa melihat wajah cantiknya setiap hari." Imbuh teman laki-laki sebangkunya yang juga terpesona.
"Nampaknya Anda harus berhati - hati terhadap semua lelaki yang ada di kelas ini. Mereka mempunyai otak mesum, sangat menjijikan!" Tutur Vania melihat ke arah mereka para murid laki - laki dengan tatapan tajam dan judes.
"Mereka itu hanya pelengkap, tak lama lagi juga akan tersingkir turun ke kelas yang lebih rendah." Jawab Emilia dengan senyum menghina.
"Lihat gurunya datang!" Tunjuk salah satu murid perempuan memberitahu temannya yang sedang ngrumpi bersamanya untuk kembali duduk ke tempatnya masing - masing.
"Selamat pagi semuanya, hari ini merupakan kali pertama kita bertemu. Perkenalkan namaku Georghe Lantein. Aku adalah wali kelas kalian untuk satu tahun ke depan. Semoga kita bisa akrab dan rukun di kelas ini. Senang bertemu kalian!" Ucapnya memperkenalkan diri dengan senyum manis penuh percaya diri.
"Guru itu tampan juga, ya?" Bisik salah satu murid wanita pada teman satu bangkunya, meliriknya penuh gairah.
"Aku suka gaya rambut Pompadour-nya. Keren sekali!" Balas temannya lirih terpesona melihatnya.
"Aku masih belum tahu nama kalian siapa, bagaimana kalau kita memperkenalkan diri depan. Kalian setuju?" Tanya Georghe memberi usulan.
"Setuju..." Jawab para murid tidak kompak karena masih ragu dan malu - malu.
"Tidak apa - apa, kalian jangan malu. Ini adalah langkah awal agar kalian bisa saling akrab satu sama lain. Baiklah kita mulai sesuai urutan absen, ya." Mengambil buku dan membukanya.
'Anak itu pasti tergabung di kelas bawah. Melihatnya terus menerus akan sangat buruk untuk kesehatanku. Biarkan sajalah, yang penting dia tidak ada di,-
"Baiklah kita mulai dari nomer absen satu. Vergile, silahkan maju ke depan!" Panggilnya.
'Ahh!' Emilia terkejut mendengar nama-Nya di sebut.
"Nona, kita tidak salah dengar, kan?" Tanya Vania di sampingnya yang juga terkejut sampai membuat matanya melotot.
'Anak itu! Bagaimana mungkin dia bisa masuk kelas A?' pikir Emilia terkejut hebat sampai membuat wajahnya bengong.
"Nona..." gumam Vania pelan melihat Emilia bengong, dengan alis terangkat, dan mata melolotot mengecil pupil-Nya.
"Vergile! Siapa yang namanya Vergile di sini?" Tanya Georghe penasaran sambil mencarinya, karena tak kunjung maju ke depan.
"Sepertinya dia tidak ada Pak." Sahut salah satu siswa laki - laki.
'Sayang sekali. Padahal dia sudah di terima masuk di kelas A, tapi kelakuannya malah seperti ini. Aku tidak habis pikir.' katanya dalam hati sangat menyayangkan sifatnya, kemudian menatap ke nama siswa dengan nomer absen dua.
"Baiklah selanjut,-
"Tunggu!" Sahut Gill berdiri di tengah pintu masuk dengan rambut kusut, dasi berantakan, kancing baju leher yang tidak dikancingkan, dan baju yang keluar dari celana tidak teratur.
"Maaf, saya terlambat..." Imbuhnya pelan dengan nafas ngos-ngosan.
"Ha ha ha ha!" Semua murid menertawainya karena penampilannya yang berantakan seperti orang gila.
"Dia sungguh sangat mirip gelandangan!" Hina salah seorang siswa laki - laki menunjuknya dengan jarinya dan menertawainya.
"Menggelikan sekali penampilannya itu!" Cela salah satu murid wanita dengan tatapan mata jijik.
"Padahal penampilannya kemarin itu lumayan, tapi setelah tahu aslinya seperti ini. Aku jadi merasa kecewa padanya." Sahut wanita disampingnya tertawa lirih.
"Hemh! Penampilannya itu sangat mencerminkan dirinya." Hina Emilia pelan dengan senyum mengejek.
"Para Dewan mikir apa sih? Sampai memasukan murid sepertinya ke kelas A." Sambung Vania keheranan.
Mendengar para murid sedang mengejeknya, membuat hati Georghe menjadi kasihan pada Gill. Ia kemudian berjalan menghampirinya yang sedang berdiri di tengah pintu masuk. "Keluar lah dulu, rapikan bajumu! Setelah itu masuk lah kembali." Perintahnya pelan pada Gill.
"Baik Pak." Jawabnya patuh segera keluar merapikan seragamnya, selang beberapa menit dia masuk kembali.
"Siapa namamu?" Tanya Georghe.
"Vergile, Pak." Jawabnya pelan merasa bersalah.
"Vergile, kenapa kamu terlambat?" Tanya Georghe penasaran.
"Saya tidak bisa tidur kemarin malam." Jelasnya.
"Baiklah, aku memaafkan-Mu. Jangan kau ulangi lagi kesalahanmu ini." Tegur Georghe padanya.
"Silahkan perkenalkan dirimu ke depan!" Perintahnya mempersilahkannya dengan tangannya.
"Halo semuanya! Perkenalkan, namaku Vergile. Umurku 18 tahun. Aku berasal dari keluarga petani kecil di desa yang terpencil. Masterku seorang pandai besi biasa. Tujuanku masuk ke sekolah ini adalah untuk mendapat banyak teman dan belajar lebih banyak tentunya. Senang bertemu kalian!" Ucap remaja pemilik rambut Medium Hair tersebut memperkenalkan dirinya dengan senyum sumringah.
Namun hanya ada satu orang yang merespon ucapannya tersebut dan memberinya tepuk tangan meriah. Sedangkan yang lain hanya diam dengan wajah datar dan dingin mengabaikannya.
'Ternyata benar yang Alin katakan.' ucap Gill dalam hati merasakan sambutan dingin dari para murid.
"Silahkan duduk, Vergile! Senang bertemu denganmu." Ucap Georghe mempersilahkannya.
"Boleh aku duduk di sini?" Tanya Gill sopan pada gadis yang sebelumnya memberinya tepuk tangan meriah.
"Tentu saja, Silahkan!" Jawabnya sembari tertawa lirih sedikit menggeser kursinya memberinya tempat.
"Iyah aku baik - baik saja." Jawabnya.
"Apakah kamu tidak keberatan bertukar tempat duduk denganku? Aku lebih suka duduk di dekat jendela." Tanya Gill mengajaknya bertukar kursi.
"Boleh! Kemarilah." Jawabnya tanpa merasa keberatan sedikitpun.
"Terima kasih, maaf kalau permintaanku ini sedikit merepotkan mu." Ucap Gill merasa sedikit tidak enak.
"Tidak masalah." Kata si gadis dengan senyum manis aneh, terus memperhatikan wajahnya.
'Sedang lihat apa dia? (Tolah - toleh ke belakang mencari apa yang sedang dia lihat) tidak ada apa - apa. Aneh sekali.' katanya dalam hati merasa curiga. Namun si gadis misterius itu terus menatapnya dengan senyum aneh, seperti tergila-gila olehnya.
"Baiklah, kita lanjut ke nomer absen dua. Greey Havord, silahkan maju ke depan!" Panggilnya, kemudian salah seorang murid laki - laki dengan rambut coklat tua bangkit dari tempat duduknya langsung berjalan ke depan.
"Hei itukan murid yang kemarin memanggil Centaurus!" Tunjuk salah satu wanita terkejut melihatnya berada di kelas yang sama.
"Benarkah?" Timpal wanita teman sebangkunya terkejut mendengarnya.
"Aku dengar Centaurus itu masuk ke jajaran hewan Legenda, Loh! Dia pasti orang yang sangat hebat." Puji siswa laki - laki yang juga melihatnya.
"Aku tidak menyangka akan bertemu hewan itu di sini! Aku kira Centaurus itu hanya mitos." Imbuh teman sebangkunya ikut terkagum.
"Anak itu? Dia bukan siswa sembarangan." Ucap Emilia pelan terus mengamatinya.
"Bagaimana menurut Anda kemampuan anak itu kemarin?" Bisik Vania pelan kepo.
"Mungkin dia yang akan menjadi saingan beratku di angkatan ini." Jawab Emilia yakin terus memperhatikannya yang sedang berdiri di depan.
'Bahkan Nona sendiri sampai mengakuinya, ternyata dia bukan siswa biasa.' katanya dalam hati terkejut setelah mendengar pengakuannya.
"Perkenalkan, namaku Greey Havord. Umurku 18 tahun. Sesuai nama belakangku, aku adalah putra pertama dari bangsawan besar, James Havord. Aku tinggal di Kota Leuprha, salah satu kota kecil di selatan Athaelash Kingdom. Masterku adalah Tuan Gabriel, posisi 25 Guardian langit. Senang bertemu kalian semua!" papar remaja berambut poni rapi tersebut, membungkuk sopan setelah memperkenalkan dirinya.
Sontak membuat seisi kelas terkejut dengan pengakuannya barusan. "Haaaaa!" Teriak seisi kelas terkejut hebat.
"Benarkah dia murid sang Guardian!" Ujar salah satu murid wanita terkejut tidak percaya.
"Tuan Gabriel itu adalah Guardian pujaanku! Aku tidak menyangka akan bertemu dengan muridnya di sini." Timpal teman sebangkunya dengan linang air mata senang.
"Ternyata benar. Menjadi yang terkuat di kelas satu tidak akan semudah mudah itu." Ucap Emilia pelan sudah menduganya.
"Gabriel? Baru kali ini aku mendengarnya." Tanya Gill penasaran.
"Dia adalah Guardian posisi 25, Vergile. Bagi para murid di sini, menjadi salah satu murid Guardian 30 besar adalah kebanggaan tersendiri." Pungkas gadis teman sebangkunya.
"Jadi seperti itu. Nampaknya dia akan menjadi pria idola di antara para wanita." Ujar Gill memprediksinya.
"Dia hanya beruntung!" Ungkap murid laki - laki yang sedikit merasa iri.
"Si tengil ini berhasil membuatku iri." Sahut teman sebangkunya dengan tatapan sinis
"Aku berharap dia tidak mengembat semua wanita di kelas ini." Timpal siswa laki - laki lain merasa tersaingi.
Di sepanjang jalan saat Greey hendak kembali ke meja duduknya. Semua murid perempuan menatap ke arahnya penuh kagum dengan mata yang berbinar-binar terpesona. "Dia adalah tipeku." Gumam salah satu cewek malu-malu kucing melihat ke arah wajah tampannya yang sedang lewat di depannya.
"Ganteng sekali, ya?" Puji siswi lain tak berpaling memandang wajahnya.
"Murid dari Tuan Gabriel, keren sekali!" Imbuh teman sebangkunya kesengsem.
'Siapa sangka aku bakal mengajar murid dari Guardian besar!' ucap Georghe dalam hati tidak menyangka sekaligus merasa senang.
"Baiklah selanjutnya..." Panggil Georghe pada nomer urut absen berikutnya.
'Sepertinya malam ini aku akan memulainya. Disini sungguh membosankan, rasa jenuh ini sangat menyiksaku.' kata Gill dalam hati melihat ke luar jendela. Nampak dari matanya para murid sedang praktek teknik bertarung di lapangan yang luas.
'Pada akhirnya tujuan mereka di latih hanya untuk mati. Menjadi kuat untuk di puji, itu adalah pemikiran bodoh para murid di sini. Sampai kapan aku terus berakting membohongi diriku sendiri.' kritiknya dalam hati melihat para murid tersebut berlatih keras.
'Lebih baik aku tidur, sepertinya malam ini akan melelahkan.' imbuhnya dengan senyum menertawai dirinya sendiri yang terbawa oleh arus suasana kelas, membuat dirinya harus berakting menjadi pribadi yang naif.
"Nomer urut tujuh, Vania Zeanith! Silahkan ke depan." Panggil Georghe sedikit lantang.
"Permisi Nona." Bangkit dari kursinya kemudian berjalan ke depan.
"Selamat pagi semuanya! Perkenalkan namaku Vania Zeanith. Akrab di sapa Vania. Umurku 17 tahun, aku lahir dari keluarga pengawal Raja. Tujuanku masuk ke sekolah ini selain untuk belajar, tapi juga melindungi Nona Emilia. Semoga kita bisa akrab teman-teman!" Ucap gadis berambut poni Bob tersebut dengan senyum manis. Seketika semua siswa bertepuk tangan meriah menyambutnya, mereka suka dengan nada sopan dan sikapnya yang kalem.
"Dia sungguh wanita yang humble. Sepertinya ia akan mudah untuk di ajak bergaul." Duga salah satu murid perempuan.
"Kamu benar, dia adalah wanita yang Energik dan murah senyum." Jawab teman sebangkunya.
"Nomer absen delapan, Miranda Emilia. Silahkan maju ke depan!" Panggil Georghe.
"Woahh! Akhirnya yang di tunggu-tunggu terpanggil juga." Ujar murid laki-laki membenarkan posisi duduknya, bersiap menyimaknya baik-baik.
"Ya, aku sudah menunggunya." Sambung teman sebangkunya.
"Perkenalkan, namaku Miranda Emilia. Anak kedua dari keluarga Miranda. Masterku adalah Nona Alin Xaverias, tanpa di jelaskan pasti kalian sudah paham. Senang bertemu kalian." Ucap wanita berambut poni belah tengah tersebut, dengan sisi yang di kuncir panjang ke belakang seperti ekor kuda.
Ia langsung di sambut dengan tepuk tangan meriah oleh golongan laki-laki, karena kebanyakan dari mereka mengidolakannya. Sedangkan dari pihak perempuan, tak sedikit dari mereka yang merasa tersaingi dan benci dengan sikap sombongnya tersebut.
"Sombong sekali wanita ini. Dari nada bicaranya saja aku sudah tahu, kalau dia merasa jijik dengan kehadiran kita di kelas ini." Cetus salah seorang murid wanita pelan mengamati sikapnya.
"Menurutku kemarin dia hanya beruntung. Jika saat itu Vergile yang menang, mungkin wanita itu tidak akan populer sekarang." Sambung teman sebangkunya yang juga membencinya.
"Dia wanita yang cantik ya, Vergile?" Tanya wanita misterius teman sebangkunya terpesona oleh wajah cantik Emilia.
"Zzzzz ... Zzzz" dengkurnya lirih menekuk kedua tangannya di atas meja untuk bantalan kepalanya.
''Astaga dia rupanya tidur, aku sampai tidak menyadarinya." Gumamnya lirih menoleh ke arah Vergile yang tertidur lelap.
'Pasti dia masih mengantuk...' ucapnya dalam hati tidak tega membangunkannya.
"Nomer absen terkahir, Indyra Maze. Silahkan maju ke depan!" Panggil Georghe menutup kembali bukunya dan meletakan nya ke meja.
Berdirilah wanita teman sebangku Gill tersebut setelah mendengar namanya di sebut. Ia maju dengan kepala merunduk dan terus tertawa lirih. "Halo semuanya. Perkenalkan, namaku Indyra Maze. Umurku 17 tahun. Hobi-ku menggambar dan menanam bunga. Apakah ada dari kalian yang punya hobi sama denganku?" Tanya wanita berambut pirang tersebut dengan gaya bicaranya yang aneh.
"Wanita itu aneh sekali, ya?" Bisik siswi perempuan pada teman sebangkunya, menunjuknya dengan raut wajah jijik tidak suka.
"Iya, gaya bicaranya seperti orang kelainan." Jawab temannya risih tidak suka.
"Kenapa wanita ini di tempatkan bersama kita?" Bisik Emilia pada Vania sedikit melirik jijik ke arahnya.
"Meskipun gadis itu terlihat aneh, tapi dia jago bertarung Nona. Predikat nilainya juga tidak buruk." Jawab Vania berbisik lirih di dekat telinganya.
"Kelihatanya gadis itu tidak normal. Ngeri banget sekelas dengan wanita sepertinya..." Bisik salah satu siswa laki - laki dengan wajah takut.
"Iya, ih amit-amit." Balas temannya lirih melirik ke arahnya dengan ekspresi wajah geli dan ngeri.
Meskipun para murid sudah berbicara lirih dengan bibir yang di tutup telapak tangan, namun Indyra masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dalam hatinya dia merasa sangat sedih setelah mendengar ejekan mereka. Yang menganggap dirinya adalah orang aneh, kelainan, bahkan gila. Namun dengan tegar-nya Indyra tersenyum berusaha memperkenalkan dirinya dengan baik.
"Tidak ada ya... Kalau begitu senang berkenalan dengan kalian, semoga kita bisa akrab." Sambungnya mengakhiri perkenalannya.
"Senang juga bertemu denganmu, Indyra. Kamu boleh kembali sekarang." Ucap Georghe dengan senyum manis merasa kasihan padanya, setelah melihat reaksi teman sekelasnya yang membencinya.
"Terima kasih, Pak." Angguknya senang.
Ia kemudian berjalan kembali ke tempat duduknya, tanpa tepuk tangan atau sepatah kata sambutan. Hanya ada lirik mata jijik dan hinaan yang menyakitkan dari para siswa yang tidak suka padanya.
Indyra merasa keberadaanya di kelas tersebut adalah aib yang memalukan, dia sadar kalau dirinya adalah pribadi yang aneh. Namun saat ini, ia sedang berusaha keras untuk merubah dirinya menjadi pribadi yang normal dengan sikap yang mudah bersahabat.
"Baiklah semuanya, waktu perkenalan sudah usai. Aku harap kalian mengingat nama mereka dengan baik." Harap Georghe.
"Sekarang tinggal menentukan pengurus kelas. Tentunya aku sebagai guru tidak bisa bekerja sendiri, aku butuh bantuan kalian. Jadi siapa di antara kalian yang berminat jadi ketua kelas?" Imbuhnya bertanya.
Seketika Greey dan Emilia langsung mengacungkan tangan mereka serempak, ingin menempati posisi tersebut. "Wah! Rupanya kita punya dua kandidat di sini." Ucap Georghe terkejut.
'Apa!' ucap Greey dan Emilia serempak terkejut setelah mendengar pernyataan tersebut, mereka langsung bertatap mata serius satu sama lain menunjukan persaingan yang sengit.