The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 45 ~ Kebangkitan Gill si Dementor Buas.



Apa!!! Pikir Gill terkejut hebat.


Jadi di depanku ini...? Duganya.


__FlashBack: Ingatan Gill__


"Cepat atau lambat, kau pasti akan bertemu dengan-Nya. Dari yang aku dengar, beliau adalah pribadi yang keras dan tidak mengenal ampun. Saat kau telah bertemu dengannya nanti... Aku harap kau tidak berubah dan masih sama seperti ini, Gill!" Ucap Alin dengan senyum manis di dalam ingatan Gill.


__FlashBackEnd__


"Eh, siapa anak itu?" Tanya Erfyona yang baru saja sampai.


"Nona!" Ucap Stacia dan Acquila yang terkejut langsung menoleh kearahnya.


"Oh itu... Dia adalah seorang Monster yang memakai wujud anak kecil. Yang dengan beraninya membunuh Sam, aku harap Tuan segera membunuhnya,-


"Anak itu tersesat." Sahut Erfyona.


"Apa!" Ucap mereka bertiga serempak terkejut.


"Maksud Anda, Nona?" Tanya Acquila merasa heran.


"Ah! Bukan apa - apa, lupakan saja." Kata Erfyona tersadar kalau dia tadi melamun.


Kenapa, kenapa anak itu kembali mengingatkanku padanya. Siapa sebenarnya dia... Ucap Erfyona dalam hati penasaran terus memperhatikan Gill dari kejauhan.


"Apakah Anda yang bernama Tuan Azazeal?" Tanya Gill dengan tubuh yang masih terkena pengaruh Aura kekuatan penguasa Azazeal.


"Ternyata kau mengenalku dengan baik." Jawab Azazeal.


"Kalau begitu aku mohon, Ampuni saya Tuan. Tolong lepaskanlah Aura kuat ini, ada hal penting yang ingin saya tanyakan pada Anda." Mohonnya.


"Jangan, Jangan lepaskan anak itu! Dia sudah membunuh Sam, dia layak mendapatkan hukuman yang setimpal!" Teriak Acquila yang masih tidak terima.


"Lupakan Sam, Acquila. Dia sudah tidak ada, kau tidak perlu mengungkitnya lagi!" Sahut Azazeal marah.


"Apakah Anda tidak berniat menghidupkannya lagi, Tuan?" Tanya Stacia dengan nada sedih.


"Tidak, menghidupkannya lagi untuk saat ini hanya akan mengurangi nyawaku. Dia sudah tidak di perlukan lagi." Jawab Azazeal pelan.


"Tuan...!" Ucap Acquila terkejut mendengar jawabannya. Matanya berbinar - binar membendung air mata yang hendak menetes. Dengan berat hati ia berusaha untuk tidak marah, namun apa daya. Karena rasa kecewa yang telah menusuk dalam hatinya, dia terpaksa mengeluarkan semua isi hatinya.


"Tuan kau memang tidak punya hati. Sebenarnya makhluk apa kau ini!" Teriak Acquila marah.


"Sam sudah banyak berkorban untuk Anda sampai mempertaruhkan nyawanya. Namun apa balasan Anda, peduli saja tidak. Apakah selamanya kami akan terus mengabdi kepada makhluk seperti ini, yang bahkan tidak punya belas kasih ataupun rasa peduli kepada kami para pelayan." Sambungnya.


Acquila...! Ucap Exifilia dalam hati terharu karena melihat Acquila berani menentang Tuannya demi teman seperjuangannya.


"Acquila, cukup! Kembalilah kau ke kamarmu. Jangan memperkeruh suasana!" Bentak Stacia padanya.


"Stacia! Kenapa kau tidak membelaku? Teman kita telah meninggal loh demi melaksanakan perintah egois dari makhluk yang tidak punya hati ini,- sambil menatap tajam judes ke arah Azazeal.


"Cukup Acquila, jangan kau teruskan! Exifilia bawa Acquila kembali ke kamarnya. Hatinya tengah kacau, sehingga dia menjadi gila." Perintah Stacia.


"Gila,?! Kau sadarkan dengan ucapan mu itu. Hei Stacia, bagaimana kalau suatu saat yang meninggal adalah aku, bisa saja Exifilia, atau bahkan Helfeany? Apakah kau masih mau diam saja melihat temanmu mati satu per satu?" Ucap Acquila marah.


Namun Stacia malah berbalik dan menyingkurnya seakan tidak peduli dengan apa yang Acquila katakan.


"Acquila ikutlah denganku, kau sangat kelelahan hari ini." Ucap Exifilia sambil perlahan menarik tangannya pergi.


"Tidak Exifilia lepaskan tanganku. Stacia selama ini kau menganggap kami ini apa,?! Kenapa kau hanya diam melihat temanmu menderita! Azazeal kau sungguh tidak punya hati!" Teriak Acquila marah bercampur kecewa.


"Jduug!" Pintu tertutup setelah Acquila di bawa keluar.


Suasana kemudian hening sesaat setelah pertengkaran itu terjadi. Erfyona merasa simpatik pada Acquila setelah melihatnya berbuat demikian demi teman berharganya. Di dalam hatinya, Erfyona sungguh sangat tersentuh dan kagum oleh keberaniannya.


Kemudian Erfyona berjalan menghampiri Stacia, bertanya kenapa dia mengabaikan teman baik seperti Acquila. "Ada apa denganmu, kenapa kau melakukan itu?" Tanya Erfyona pelan sambil menepuk pundaknya.


Namun Stacia terus saja diam. Akhirnya Erfyona mendekatinya untuk bertanya secara tatap muka, namun pada saat dia lewat di sampingnya. Dia terkejut melihat Stacia sedang memejamkan kedua matanya dan pipinya basah oleh air matanya, ia sengaja menahan tangisnya agar tidak mengganggu yang lain.


Setelah melihatnya, Erfyona mengurungkan niatnya untuk bertanya dan nampaknya air mata tangis itu sudah menjawab pertanyaannya.


"Jadi sampai mana kita tadi?" Tanya Azazeal setelah melepaskan pengaruh Aura kekuatannya.


"Kenapa kau peduli dengannya, apa hubungannya denganmu?" Tanya Azazeal.


"Tidak, aku merasa, akulah yang seharusnya disalahkan karena telah membunuh tangan kepercayaan Anda tersebut. Saya sungguh minta maaf, Tuan!" Langsung berlutut di hadapannya.


Semua orang terkejut melihat Gill yang ternyata sangat mengerti tentang sopan santun dan rasa tanggung jawab yang tinggi.


"Waktu itu aku benar - benar telah tenggelam dalam kemarahan dan tidak dapat berfikir jernih. Di mataku waktu itu semuanya sama. Bunuh adalah kata - kata yang terus terngiang di kepalaku dan akan hilang apabila saya membunuh seseorang." Sambungnya.


"Lalu kenapa kau membunuhnya, apa yang mendorongmu melakukan hal itu?" Tanya Azazeal.


"Semua itu berawal karena ada campur tangannya ibu dalam tragedi itu. Saya murka pada saat melihat mereka (para penduduk desa) dibantai habis dengan kejinya oleh sekumpulan Iblis bengis tersebut. Hal itu di perkuat karena melihat Kakak ke tiga saya di antara mereka yang semakin membuat saya yakin kalau itu ulah dari keluarga saya." Jawab Gill.


"Kenapa kamu rela mati - matian melindungi mereka yang bahkan merekapun tidak mengenal kamu sebelumnya?" Tanya Azazeal.


"Cinta. Para manusia itu memiliki cinta dalam hati mereka, yang tidak saya dapatkan di keluarga saya." Jawab Gill.


"Kenapa kamu memilih kabur dari keluargamu dan malah melindungi mereka sebagai keluarga barumu?" Tanya Azazeal lagi.


"Saya muak melihat keserakahan para Iblis itu. Selama ini saya dibesarkan dengan kepalsuan dan kebohongan, saya merasa saya bukan bagian dari mereka. Tetapi pada saat saya bertemu dengan manusia, mereka dengan hangatnya menyambut saya. Mereka memberikan apa yang mereka miliki bahkan rela mencarikan apa yang saya mau, walau mereka tidak punya." Jawabnya.


"Hati mereka murni, saya belajar banyak dari mereka mengenai arti hidup. Salah seorang di antara mereka juga memberi saya dukungan untuk terus menjalani hidup di tengah masalah berat yang tengah menghantam saya. Saya sangat menyayangi mereka sebagai keluarga baru, canda tawa mereka masih membekas di hati ini walaupun mereka sudah tidak ada lagi." Imbuhnya.


"Oleh karena itu saya murka melihat para Iblis itu lolos dengan mudahnya, sebelum mereka membayar perbuatannya. Tiba - tiba datanglah dia (sambil menunjuk Edward) dan temannya (Sam) yang malah menghalangi saya untuk mengejar Iblis tersebut. Saya kira mereka bersekongkol jadi tanpa pikir panjang saya langsung menyerangnya karena telah menghalangi tujuan saya. Yang ada dalam pikiran saya waktu itu hanyalah balas dendam dan membunuh." Jelasnya dengan nada marah pendendam.


"Apa yang telah dilakukan keluargamu sehingga membuatmu bertindak sejauh ini?" Tanya Azazeal berusaha masuk ke dalam hatinya.


Tanpa banyak bicara Gill langsung membuka bajunya dan memperlihatkan luka yang dulu diperbuat oleh Ibunya Anastasya Gulleen.


Semua orang terkejut dan tidak percaya melihatnya. Bahkan Erfyona sampai menutup mulutnya kaget tidak menyangka akan melihat luka separah itu. Edward juga merasa terkejut, ia terheran bagaimana anak kecil sepertinya bisa selamat dari luka separah itu.


"Anak itu...!" Ucap Stacia kaget langsung mengusapi air matanya.


Dia sungguh sama menderitanya dengan Kak Mischelle waktu itu. Hanya karena terlahir lemah dan berbeda, keluarganya rela membuang dan menelantarkannya. Setelah mereka berdua selesai mengobrol, aku ingin sekali memeluk anak itu untuk menguatkan hatinya yang telah hancur... Pikir Erfyona terharu sampai meneteskan air matanya saat melihat tubuh Gill.


"Bagaimana caramu selamat dari luka separah itu? Untuk anak remaja seusia mu, bisa selamat dari luka separah itu merupakan sebuah anugerah yang besar!" Tanya Edward sekaligus terkagum karena dia berhasil selamat.


"Kekuatannya lah yang telah menyelamatkan anak ini." Sahut Azazeal.


"Saya bersyukur mendapat luka ini dan akan terus selalu mengingatnya. Tanpa luka dan derita ini mungkin saya tidak akan bisa sebesar ini. Dan hanya akan terus membusuk di bawah sana, sebagai sampah yang hanyut oleh arus keadaan." Jawab Gill dengan yakin dan tidak sedih sama sekali.


"Karena luka inilah saya jadi punya tujuan hidup." Sambungnya.


"Apa itu?" Tanya Edward penasaran.


"Membinasakan semua Iblis Underworld dan membuat mereka menderita selamanya. Aku akan membuat mereka merasakan rasa sakit ini berkali - kali lipat. Tangisan dan teriakan mereka akan menjadi simponi yang indah untuk di dengar oleh hatiku yang hancur ini." Ucap Gill marah.


"Apa!!!" Ucap Erfyona terkejut mendengar keinginan besarnya.


"Itu sungguh ide yang sangat gila!" Sambung Stacia.


"Ha ha ha lucu sekali bualan mu, Nak." Ucap Edward sedikit tertawa kecil setelah mendengar tujuan hidupnya.


Kemudian Gill berbalik dan menatap tajam ke arah Edward dengan mata terkuatnya. "Apakah mataku ini dan kematian temanmu itu termasuk bualan dari perkataan ku barusan?" Balas Gill menohok seketika membuat Edward terdiam.


"Apakah Anda juga akan menghentikan saya sampai sini, Tuan?" Tanya Gill sambil menatap tajam ke arah Azazeal.


"Hentikan dia Tuan, anak ini selain kurang ajar dia juga sudah gila,- teriak salah satu perwakilan bangsa ciptaan Azazeal.


"Tidak, aku tidak akan menghalangi mu." Sahut Azazeal pro dengan keinginan Gill.


"Tuan tolong pikirkan baik - baik dampaknya kalau semua Iblis itu dimusnahkan, bahkan Tuhan sendiri belum memberikan perintah kepada Anda mengenai hal,-


"Ikutlah denganku, kekuatanmu tidak akan kuat untuk memenuhi keinginanmu itu." Ajak Azazeal.


"Baik Tuan!" Ucap Gill senang penuh semangat langsung mengikuti Azazeal pergi.


"Bahkan Tuan tidak mendengarkan ku..." Ucap Stacia pelan karena cemburu.


"Ternyata anak itu yang akan membantunya merubah tatanan dunia ini..." Ucap Erfyona pelan setelah menyadari perkataan Azazeal sewaktu pulang tadi, dia kemudian berjalan untuk mengikuti mereka berdua.


Merubah tatanan dunia?... (Berfikir sejenak) ... Jangan - jangan! Pikirnya terkejut menduga - duga. Kemudian berjalan untuk menyusul Erfyona untuk bertanya mengenai apa yang telah barusan dia dengar darinya.