
Tuan pasti akan senang sekali dengan ini pikir Imelda sambil melihat ke ranjang yang penuh dengan biji kopi pilihan dari Athaelash Kingdom. 'Tuan aku pul,- Ah!' ia terkejut setengah mati saat melihat pondok rumahnya hancur rata dengan tanah. Ia segera turun dari kuda dan mencari keberadaan Gill.
'Dia!' Katanya dalam hati terkejut melihat pengawal dari Nona Anastasya yang kemarin meminjaminya kuda tengah membusuk dibalik puing-puing rumah.
'Berarti Gill ... Jadi ini adalah pengalihan. Dia pasti menuju ke kediaman Nona Anastasya. Aku harus segera menghubunginya!' Katanya dalam hati panik langsung memejamkan kedua matanya untuk memulai telepati tetapi tidak ada jawaban satu kata pun dari Anastasya.
'Sial dia pasti sudah sampai di sana. Bagaimana nanti aku mengatakan ini kepada Nona.' Pikirnya panik kebingungan.
Sementara di Kingdom Anastasya mulai tersadar dari pingsannya dan lekas membuka mata. "Kau sudah sadar?" Tanya Norman di samping tempat tidurnya.
"Kepalaku sakit." Rintihnya sambil memegang kepalanya.
"Ini minumlah." Sahut Norman sambil menyodorkan padanya segelas air putih. Ia segera meraih dan meminumnya, "Bagaimana? Sudah lebih baik?" sambungnya.
"Masih sedikit terasa sakit. Apa yang sebenarnya sudah terjadi padaku?" Tanya Anastasya kebingungan.
"Kamu tadi berteriak tidak jelas seperti orang gila setelah membunuh Gill. Apa kamu tidak ingat?" Tanya Norman.
"Arrghhh!" Rintih Anastasya kembali merasakan sakit luar biasa pada kepalanya, dia mulai mengingat kejadian sebelumnya. "Tidak, tidak!" Teriaknya ketakutan sambil memegangi kepalanya, matanya melotot takut dan mulai berteriak kembali.
"Anastasya," panggilnya sambil memegang kedua tangannya yang sedang memegang kepalanya.
"Anastasya, Dengarkanlah aku!" Bentaknya seketika menggenggam erat tangannya dan menyudutkannya ke ujung tempat tidur. "Lihatlah aku!" sambungnya sambil menatap mata Anastasya yang tengah ketakutan.
Perlahan Anastasya mulai diam dan tenang. "Norman," katanya pelan sambil menatap mata suaminya tersebut. Norman senang sekali mendengar Istrinya sudah sadar dan langsung memeluknya senang sekali. "Syukurlah kau bisa kembali tenang." Katanya di pelukan kemudian dia melepaskannya.
"Sekarang ceritakan padaku, Apa yang kau lihat?" Tanya Norman sambil memegang kedua pundaknya dan menatap matanya dengan maksud meneguhkan hatinya.
"Tidak apa-apa aku mengerti saat ini kau sedang ketakutan, aku hanya ingin tahu apakah yang kau lihat itu sama seperti apa yang Hela lihat waktu itu." Sambungnya.
"Tidak Norman, ini tidak seperti yang Hela lihat. Dalam ingatanku Gill itu sangat menyeramkan. Aura yang dibawanya adalah Aura kehancuran. Dia menaruh rasa benci luar biasa tidak hanya kepada kita, tetapi semua bangsa Iblis Underworld" Jelasnya.
"Wajahnya sangat berbeda sekali dengan Gill yang aku kenal selama ini, matanya biru menyala di tengah matanya terdapat simbol yang aneh seperti simbol penguasa zaman dulu. Sayapnya indah sekali, andaikan dia besar di bawah kendali kita. Aku yakin kita bisa menaklukan seluruh penjuru dunia dengan kekuatannya!" Sambungnya.
"Tapi secara tidak langsung, apa yang kau lihat itu adalah pertanda kalau kehancuran itu akan beneran terjadi ... Apa lagi yang dia katakan padamu?" Kata Norman.
"Dia mengancam ku ("Kau akan membayar untuk semua ini. Kau juga akan melihat kehancuran dan penderitaan yang tidak akan pernah kau bayangkan selama ini!") Ucapnya." Jawabnya sedikit gugup ketakutan.
Norman kemudian menyuruh prajurit untuk memanggil Ibunya Saferaa dan prajurit yang tadi membuang mayat Gill. Setelah mereka berdua datang, Norman bertanya kepada mereka memastikan apakah Gill sudah benar - benar meninggal. "Biadab kalian berdua! Siapa yang mengajari kalian menindas dan membunuh anak sendiri. Jawab Ibu!" Katanya marah sekali kepada mereka berdua.
"Cukup! Aku tidak ingin mendengar ceramah mu lagi Bu. Kembalilah keruangan mu!" Perintahnya.
"Sudah ayo kita kembali." Bujuk Algreed sambil menarik tangan Istrinya tersebut.
"Ingat Norman. Kesombongan dan kebencian mu itulah yang akan menghancurkan mu suatu saat nanti!" Katanya sambil berjalan pergi.
"Kami yakin sekali Tuan kalau ia memang sudah mati. Tangannya dingin, denyut nadinya sudah tidak ada, di tambah dia telah kami lempar ke jurang kegelapan yang penuh dengan Roh jahat. Saya yakin meskipun dia hidup sekalipun, ia tidak akan bisa selamat darinya!" Sambung prajurit.
"Baiklah kalian boleh pergi." Perintahnya dan pergilah prajurit tersebut.
Norman yang melihat istrinya sedang bersedih dan ketakutan, dia menghampirinya dan mencoba menenangkan hatinya. "Sudah kamu jangan khawatir, kamu sudah mendengarnya sendiri tadi. Gill itu sudah mati dia tidak mungkin bisa kembali lagi. Seseorang yang telah di lempar ke dalam jurang tersebut, mereka pasti tidak akan selamat. Tentu apa yang Hela katakan itu adalah sebuah kebohongan seperti yang kau katakan dulu." Katanya.
"Mungkin kau benar Norman. Aku saja yang bodoh karena terlalu khawatir," jawabnya pelan.
Sementara itu di desa wanita cantik yang Gill tolong kemarin sedang merayakan kebebasan dari ancaman para Iblis terkutuk tersebut. Wanita cantik tersebut bernama Yolanda Amriela seorang bunga dari desa tersebut. Dia diangkat oleh para warga untuk menjadi kepala desa di usianya yang masih sangat muda. Ia dipercaya karena masih suci dan belum tersentuh lelaki manapun, tentu itu akan membuat para Malaikat dan Tuhan mengabulkan apa yang dia minta.
Yolanda memerintahkan mereka para warga untuk membangun patung dari Gill Fire di tengah desa dengan sangat gagah seperti saat terakhir kali dia melihatnya. 'Terima kasih Tuan. Ini adalah cara kami menghargai keberanian mu. Tolong datanglah kemari suatu hari nanti.' Katanya dalam hati memohon sambil menatap ke arah patung Gill fire dan memeluk erat bajunya di dada.
Hari sudah malam sedangkan Gill masih terus terbang lurus mengikuti arah mata hari tenggelam. Sampai matanya tertuju kepada sebuah desa yang gemerlap, nampak dari atas desa tersebut ramai sekali seperti ada perayaan khusus. Ia merasakan lelah yang luar biasa pada tubuhnya, rasa lapar dan haus juga mulai dia rasakan. Akhirnya dia memutuskan untuk turun Istirahat dan mengisi perutnya.
Dia langsung segera masuk ke desa tersebut dan melihat sekelilingnya. 'Tempat apa ini, indah sekali' Katanya dalam hati terkagum melihat sekelilingnya. Ia terus berjalan mengelilingi tempat tersebut sambil menghibur hatinya yang sedih.
"Hei anak muda. Apa kau gila malam-malam seperti ini tidak memakai baju?" terdengar suara seseorang sedikit samar oleh keramaian. Gill yang penasaran dengan suara tersebut ia segera mencarinya dari arah mana suara tersebut berasal.
"Hei kau anak muda!" Sambungnya dengan jelas. Gill terkejut mendengarnya untuk kedua kalinya. Ternyata suara itu berasal dari sampingnya yakni dari seorang penunggu toko baju. Karena Gill masih bingung apakah dirinya yang dia maksud, dia kemudian menunjuk dirinya sendiri sambil menatapnya penuh tanya.
"Iya kamu, Kemarilah!" sambungnya sambil mengayunkan telapak tangannya menyuruhnya mendekat.
Gill langsung berjalan menghampiri lelaki tersebut. "Ad,- dia tersadar kalau suaranya akan menjadi besar menyeramkan ketika dia mengaktifkan matanya, dia langsung menutup matanya dan melanjutkan pertanyaannya. "Ada apa Tuan. Kenapa Anda memanggil saya kemari?" Tanya Gill padanya.
"Silahkan duduk." Sambil mempersilahkannya dengan tangannya. Setelah Gill duduk dia terus memperhatikan Gill dari tubuh sampai rambutnya dari tatapannya sepertinya dia ingin menggali informasi darinya.
'Kenapa lelaki ini memandangku dengan tatapan yang aneh. Apakah aku di curigai? Kalau dia berhasil mengetahui siapa aku sebenarnya terpaksa aku harus membunuhnya.' Pikir Gill sambil meliriknya sedikit.
"Kau ini berasal dari mana Nak. Apakah kau ini seorang penjahat?" Tanya lelaki tua itu dengan wajah penasaran mencurigainya sambil terus mengamatinya.
_____________________
"Oh bukan, Anda salah sangka. Saya bukanlah seorang penjahat ... Keluarga saya hancur, kedua orang tua saya tidak mengakui saya sebagai anak mereka, mereka juga tidak pernah menganggap saya ada di dunia ini!" Pungkasnya.
"Karena merasa depresi, saya memutuskan untuk kabur dari rumah waktu itu, ketika saya melewati hutan yang cukup gelap, saya di hadang oleh sekelompok Iblis di tengah perjalanan. Mereka menyerang saya dan menjarah semua barang bawaan, saya bersyukur karena masih bisa selamat, saya terus berjalan tidak tahu arah tujuan dan berharap saya mendapatkan pertolongan," imbuhnya menyelewengkan sedikit kenyataannya.
Lelaki tersebut kemudian merasa iba setelah mendengar kisahnya yang menyedihkan. Nampaknya anak ini tidak berbohong! Luka ditubuhnya itu membuktikan kebenaran ucapannya tersebut. Pikirnya sambil memperhatikan luka pada tubuh Gill. "Nak, aku tahu saat ini kau sedang menderita," katanya pelan kemudian lelaki itu berdiri dan mengambil salah satu barang dagangannya. "Ambilah, Nak! Aku tahu kau saat ini sudah tidak punya apa - apa lagi," sambungnya sambil menyodorkan kain tersebut padanya.
"Ta.. tapi inikan barang dagangan Anda! Saya tidak punya apa - apa untuk membelinya!" Sahut Gill berusaha menolaknya. "Sudah tidak apa - apa, Nak! Ambilah! Aku memberikannya padamu," jawabnya sambil kembali menyodorkannya memintanya untuk menerimanya. "Te.. Terima kasih!" Kata Gill sedikit gugup, karena ini merupakan ucapan terima kasihnya untuk orang yang baru dia kenal. Saking senangnya menerima jubah tersebut, dia sampai meneteskan air mata senang bercampur haru karena masih ada orang baik di luar sana yang masih peduli dengannya.
"Kenapa Anda begitu baik kepada saya? Padahal Anda baru pertama kali bertemu dan mengenal saya?" Tanya Gill keheranan. "Nak, menolong itu tidak harus melihat kepada siapa yang akan kita tolong, tidak peduli kepada manusia, Iblis, Malaikat, atau Angels sekalipun, asalkan niat kita baik dan tulus, itu saja sudah cukup! Bukankah makhluk yang paling baik itu adalah mereka yang bisa berguna untuk orang banyak?" Sambungnya.
Hati Gill seketika terketuk, mendengarnya mengucapkan kata - kata yang bisa membangun kembali hatinya yang telah hancur, dan membuatnya memiliki tujuan hidup yang baru. Ia mengangguk dengan senyum senang diwajahnya sangat menyetujui apa yang dia katakan barusan.
"Nak, walaupun saat ini kau sedang hancur! Tapi kau jangan patah semangat untuk meneruskan hidupmu! Masih banyak hal lain di luar sana yang belum kau rasakan dan nikmati! Ingat kau masih muda, kehidupanmu masih panjang! Jangan hanya masalah kecil seperti ini menggoyahkan langkahmu!" Kata lelaki tersebut menorehkan semangat di hatinya.
"Terima kasih, Pak! Anda benar! Tidak seharusnya saya seperti ini, selama ini saya hanya menganggap diri saya tidak berguna dan selalu mengandalkan bantuan dari orang lain. Mulai dari sekarang, saya akan memulai hidup saya yang baru, seperti yang Anda katakan!" Jawabnya dengan hati yang mantab.
"Bagus! Seperti itulah jiwa anak muda! Oh iya sampai lupa saking asiknya kita mengobrol! Perkenalkan nama paman Luckas Ferdinand, panggil saja Luckas, saya seorang kepala desa di sini!" Katanya. "Nama saya Vergile, panggil saja seperti itu! Senang bertemu dengan Anda!" Jawabnya.
"Kalau boleh saya tahu, dimana saya berada sekarang?" Sambungnya. "Desa ini bernama Kaname, letaknya jauh terpencil dari Human Consideracy! Desa ini juga merupakan daerah jajahan bangsa Iblis Tirani di bawah kekuasaan Raja iblis Mammon," jawabnya.
"Kenapa saat ini suasana ramai sekali, apa yang para warga lakukan, aku belum pernah melihat yang seperti ini?" Sambungnya penasaran dengan perayaan ini. "Malam ini ada acara Gam Man To! Yaitu sebuah perayaan khusus untuk memperingati kemenangan bangsa Iblis Tirani melindungi manusia dari jajahan Iblis langit atau yang sering kita sebut Dementor!" Jelasnya.
Gill sangat terkejut mendengarnya. Ternyata Dementor itu suka membunuh manusia juga? Aku tidak habis pikir! Tetapi apa yang kurasakan saat ini adalah dendam ku kepada para Iblis Tirani dan keluargaku! Bukan kepada manusia, Katanya dalam hati. "Tolong ceritakan kepada saya, Bagaimana semua itu bisa terjadi? Saya tidak me,-
Tiba - tiba semua orang pada berlarian terburu - buru seperti akan ketinggalan sesuatu. Luckas yang menyadari bahwa pertunjukan akan segera di mulai, dia segera mengemas kembali barang dagangannya dan mulai menutup tokonya. "Nanti juga kau akan tahu!" Katanya sambil mengemasi barang dagangan dengan terburu - buru. Setelah selesai menutup tokonya dia kemudian menyahut tangan Gill hendak mengajaknya ikut bersamanya.
"Kemana Anda akan membawa saya?" Tanya Gill kebingungan. "Kau ingin tahu jawaban dari pertanyaan mu itu, kan?" Sudah ayo! Kita tidak punya banyak waktu lagi!" Katanya terburu - buru. "Tapi,- "Jangan khawatir! Aku akan membelikan mu makanan nanti di sana!" Sahutnya, kemudian mereka berdua pergi untuk menyaksikan pertunjukan utama perayaan tersebut.