
Setelah sampai di kamar Exifilia.
"Tunggu sebentar ya Nona, saya akan mengambilkan obat dan perbannya untuk Anda." Kata Exifilia.
Erfyona pun langsung duduk di pinggir tempat tidurnya sambil melihat seisi ruangan tersebut. Kamarnya indah sekali, sangat megah dan mewah ... Ah! Itu, kan! Tercengang sebentar saat melihat lukisan wajah Azazeal yang tercoret logo hati di tengahnya.
Jadi dia menyukai Tuannya sendiri? Emhh nampaknya aku ada saingan baru di sini. Pikir Erfyona sambil melirik ke arah Exifilia yang sedang mengambil obat dari lemari yang menempel di tembok.
"Nona? Kalau boleh saya tahu sedekat apa Anda dengan Tuan Azazeal?" Tanya Uriel kepo.
"Eh soal itu ... Jawab Erfyona merasa sangat malu dan memerah wajahnya.
"Nona, mari saya obati bagian yang luka. Ini akan sedikit sakit, jadi tolong ditahan, ya?" Ucap Exifilia mengagetkan mereka berdua yang tiba - tiba langsung berdiri di sampingnya, dengan membawa obat dan perban di tangannya.
"Iya, Terima kasih Exifilia." Sambil menyodorkan lengah tangannya yang terluka.
Exifilia langsung menyandarkan lengan tangannya di pahanya, kemudian langsung menyingkapkan lengan bajunya ke atas agar mempermudah proses pengobatan.
"Ahh! Tolong pelan - pelan Exifil,- Ahhh!!" Rintih Erfyona menahan rasa sakit.
"Maafkan saya Nona, saya akan lebih berhati - hati. Tolong Anda tahan sebentar, ini akan segera selesai." Ucap Exifilia menenangkannya.
"Emhh,- emhh, ahhh!" Rintihnya kecil sambil memejamkan kedua matanya, menggigit bibir bawahnya agar suaranya tidak keras. Wajahnya juga terlihat memerah, seperti sudah tidak kuat menahannya lagi.
"Sudah Nona! Sekarang Anda sudah baik - baik saja." Ucap Exifilia setelah selesai menalikan perbannya.
"Terima kasih Exifilia, aku berhutang budi padamu." Kata Erfyona dengan senyum diwajahnya.
"Sama - sama Nona, saya senang dapat membantu Anda." Jawab Exifilia.
"Kamarmu indah sekali, aku sangat terpesona dengan dekorasi ruangan ini!" Ucap Erfyona dengan wajah kagum melihat seisi ruangan.
"Kalau Anda mau, Nona boleh kok bermalam di kamar ini." Ucap Exifilia mempersilahkannya.
"Tapi inikan kamarmu? Kalau aku bermalam di sini, lalu dimana kau akan tidur?" Tanya Erfyona merasa tidak enak.
"Tempat tidur ini muat untuk tiga orang Nona, Anda tidak usah khawatir. Kalau Anda tidak berkenan, masih banyak kamar lain yang kosong di Istana ini." Jawab Exifilia sopan.
"Exifilia," panggil Erfyona lirih.
"Iya Nona," jawabnya sopan.
"Apakah kau mau menemaniku tidur malam ini?" Tanya Erfyona lirih sedikit merasa malu.
"Tentu saja, seperti yang Anda minta, Nona." Jawab Exifilia sopan merundukkan kepalanya.
Sementara itu di sisi lain, Edward dan Acquila baru saja sampai dan langsung berjalan menuju kamar Azazeal untuk memberikan pil penawar tersebut.
"Sreekkk! Jduug!" Suara pintu kamar Azazeal terbuka.
Sontak semua orang di dalam ruangan terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu kamar tersebut, seketika ekspresi wajah mereka berubah dari yang semula cemas merasa khawatir menjadi senang dan bahagia melihat kedatangan Edward dan Acquila.
"Bagaimana? Apakah kalian mendapatkan penawarnya?" Tanya Sanctuary Dragon Lord dengan tergesa - gesa.
"Bagaimana Acquila? Kalian mendapatkannya?" Imbuh Stacia.
"Tentu saja! Tetapi pil ini hanya bersifat sebagai penawar, Bukan Obat! (Sambil menunjukan pil tersebut ke hadapan semua orang) Tuan Azazeal bisa saja jatuh sakit kembali seperti ini, salah satu cara untuk mencegah hal itu terjadi adalah dengan meringankan beban pikirannya, patuhilah beliau sebagai pemimpin dan yang paling penting, jangan membuatnya marah lagi." Kata Acquila menjelaskan pesan Tuhan secara gamblang.
"Itu adalah pesan-Nya untuk kita para pelayan Tuan Azazeal, jika kami menemukan ada salah satu di antara kalian atau para Guardian. Yang dengan sengaja membuat Tuan kembali marah dan menyebabkan penyakitnya kambuh lagi, maka secara tidak langsung dia telah berani menentang perintah dari Tuhan itu sendiri. Aku Edward dan Sanctuary Dragon Lord akan menghukum makhluk tersebut dengan sangat pedih!" Ancam Edward memperingatkan semuanya.
"Aku harap kalian dapat mengerti dan tidak akan melakukan hal tercela seperti itu.." Imbuh Edward pelan dengan ekspresi wajah memohon.
"Kami adalah pelayan Tuan Azazeal! Kami tidak akan menghianati Tuan kami sendiri. Sebaliknya kami merasa tersiksa apabila Tuan mengabaikan kami, hidup kami seperti di neraka saat keheningan waktu itu terjadi. Sebisa mungkin kami akan berusaha menyenangkannya hati beliau!" Kata Lazarus mengucapkan sumpah setianya mewakili seluruh bangsa yang Azazeal ciptakan.
"Edward, aku percaya kepada mereka semua. Sekarang cepat kau berikan pil tersebut, aku tidak tega menyaksikan Tuan menderita seperti ini." Ucap Sanctuary Dragon Lord menoleh ke arah Azazeal yang tengah terbaring lemah dengan tatapan cemas dan kasihan.
"Emhh!" Angguknya langsung menoleh ke Acquila memberinya kode untuk segera memberikan pil tersebut.
Acquila langsung bergegas menghampiri tempat tidur Azazeal untuk memberikan pil tersebut.
"Tuan bantu saya untuk memberikan pil ini," ucap Acquila meminta bantuan kepada Sanctuary Dragon Lord yang tengah berdiri di seberangnya.
"Tentu!" Jawabnya langsung naik ke atas tempat tidur membantu Acquila menyandarkan tubuh Azazeal agar pil tersebut dapat tertelan turun.
"Tuan, tolong buka mulut Anda." Ucap Acquila meminta Azazeal membuka mulutnya.
Dengan susah payah Azazeal berusaha membuka mulutnya dengan menahan rasa sakit luar biasa dari dalam tubuhnya. Karena kondisinya yang sudah sangat parah, ia hanya dapat membuka sedikit mulutnya. Untungnya pil yang yang di berikan berukuran sangat kecil, jadi dengan mudah dapat masuk dan ditelannya tanpa tegukan air.
Sesudah pil itu diberikan, Sanctuary langsung mengembalikan posisi tubuh Azazeal dari yang semula disandarkan kini dia buat tidur kembali.
Kemudian mereka berdua turun dari tempat tidur Azazeal dan menunggu perubahan yang terjadi dari pil tersebut.
Beberapa menit mereka menunggu...
"Hei lihat! Darah yang tadi terus mengalir kini perlahan mengering dengan sendirinya!" Teriak Stacia yang menyadari perubahannya.
"Ah!" Kata Edward terkejut melihat perubahannya.
"Syukurlah, obatnya bekerja dengan baik!" Kata Stacia merasa senang.
Perlahan Azazeal mulai siuman dan lekas membuka matanya, terlihat dari mata Azazeal semua makhluk ciptaannya berdiri berjejer memenuhi seisi kamarnya sedang menjenguknya dengan wajah sangat cemas.
"Kalian..." Kata Azazeal pelan mulai tersadar dari masa kritisnya.
"Tuan..." Kata Sanctuary dengan wajah haru senang sekali sampai meneteskan air mata, melihat-Nya dapat kembali pulih seperti semula.
"Tuan!" Teriak Stacia langsung merangkul tubuh Azazeal yang sedang terbaring di atas kasur.
"Tuan, Syukurlah Anda baik - baik saja. Saya sangat cemas melihat kondisi Anda yang mengkhawatirkan seperti tadi hiks... hiks... hiks!" Ucap Stacia menangis senang bisa melihatnya pulih kembali.
"Apa yang telah terjadi padaku?" Tanya Azazeal lirih.
"Saya akan menceritakannya nanti, sekarang saya mohon Tuan istirahatlah dahulu." Ucap Acquila menenangkannya.
Tetapi Azazeal hanya diam sambil berusaha untuk bangun dan menyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur. Melihat Azazeal yang tengah kesusahan untuk bangun, secara spontan Stacia langsung membantunya untuk menyandarkan tubuhnya.
Pada saat tubuh Azazeal sedang mau di sandarkan, ia melihat noda darah di pergelangan tangannya. Dia pun berusaha mengingat kejadian itu kembali.
"ARGHH!" Teriak Azazeal kesakitan langsung memegang kepalanya.
"Tuan! ... Cepat ambilkan air!" Perintah Sanctuary Dragon Lord.
Saat Acquila hendak meraih segelas air di atas meja samping tempat tidurnya, dengan cepat Stacia langsung mengambilnya dan memberikannya kepada Azazeal.
Melihat hal itu Acquila menjadi merasa bersalah dan tidak enak jika terus berada di sana. Ia sadar, dialah yang membuat-Nya sampai terluka separah ini. Dia juga lah yang telah memancing kemarahan Azazeal sehingga menimbulkan masalah ini. Acquila langsung merunduk lesu dengan perasaan bersalah yang campur aduk.
"Tuan! Kami senang Anda bisa pulih kembali." Ucap Lazarus berlutut diikuti oleh seluruh perwakilan bangsa yang Azazeal ciptakan.
Kalian! Pikir Azazeal terharu atas kekhawatiran mereka.
"Terima kasih! ... Maaf telah membuat kalian khawatir." Ucap Azazeal pelan.
"Anda tidak perlu berterima kasih Tuan, sudah menjadi kewajiban kami untuk terus melayani Anda!" Sahut Edward dengan sikap seorang kesatria.
"Stacia..." Panggil Azazeal lirih.
"Iya Tuan," jawabnya sambil berjalan mendekat.
"Panggil Exifilia dan Helfeany kemari." Perintahnya.
"Baik Tuan, saya permisi." Jawabnya membungkuk memberinya hormat lalu berbalik dan pergi.
"Kalian, bisa tinggalkan kami berempat sebentar!" Ucap Azazeal kepada seluruh perwakilan bangsa yang Azazeal ciptakan.
"Sesuai perintah Anda, Tuan!" Jawab Lazarus merundukkan kepala kemudian bangkit berdiri berbalik dan berjalan pergi.
Pada saat Acquila hendak ikut pergi keluar bersama mereka, tiba - tiba Azazeal memberhentikannya.
"Acquila, Kamu mau pergi kemana?" Tanya Azazeal pelan.
"Anu, itu,- saya ada urusan sebentar. Nant,- jawabnya mencari alasan karena merasa tidak enak bila terus berada di dekat Azazeal.
"Acquila!" Sahut Sanctuary Dragon Lord sedikit keras memelototinya memberinya kode untuk patuh, seketika Acquila langsung diam dan tidak jadi untuk pergi.
"Apakah kalian sudah mengetahui tentang kondisiku saat ini?" Tanya Azazeal pelan.
"Iya Tuan, Dia memberi tahu kami pada saat kami meminta obat penawar untuk Anda." Jawab Edward jujur.
"Apakah kalian marah atas sikapku sebelumnya yang telah kasar kepada kalian?" Tanya Azazeal pelan.
Seketika semuanya diam membisu, bingung hendak menjawab apa. Namun dalam hati Acquila, ia merasa sedikit kesal atas perlakuan semena - mena Azazeal dulu.
"Kenapa kalian bertiga diam? ... Apakah kalian takut berkata jujur di depanku? ... Apa yang kalian takutkan dari lelaki lemah ini, yang bahkan tidak mampu untuk mengalahkan salah seorang di antara kalian." Tanya Azazeal.
"Tuan sebenarnya,-
"Tidak Tuan! Tolong maafkan kami! Kami yang yang salah karena menjadi pelayan yang tidak becus dalam melaksanakan tugas yang Anda perintahkan. Kami layak mendapatkan perlakuan tersebut, agar kami dapat belajar dari kesalahan kami, dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya." Sahut Edward dengan keras membungkuk sambil meneteskan air mata penyesalan di depan Azazeal.
Ia terkejut melihat kesetiaan Edward yang sangat besar melebihi ciptaanya sendiri, dia merasa sangat tersentuh mendengar jawabannya.
"Edward, saat ini kau adalah seorang Guardian terkuat melebihiku. Aku tahu di belakangku mereka mengira pasti aku pemimpin yang payah dan bodoh, yang hanya bisa menggunakan emosi dalam menyelesaikan masalah. Apakah orang sepertiku ini masih layak untuk memimpin mereka kembali?" Tanya Azazeal pelan.
"Bagi saya Anda tetaplah yang terkuat, Tuan! Dan itu tetap menjadi alasan saya untuk patuh kepada Anda." Jawabnya sopan dan rendah hati.
"Soal kepeminpinan, saya tidak bisa banyak berkomentar ... Tuan, Anda tidak akan pernah bisa membungkam mulut orang yang pada dasarnya sudah membenci Anda dari awal. Sekeras apapun Anda berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka, mereka akan tetap menilai Anda dari keburukan kecil yang pernah Anda buat. Jadi menurut saya, Anda tidak perlu mengikuti apa yang mereka mau. Cukup menjadi diri Anda sendiri dengan prinsip - prinsip yang sudah Anda pegang teguh selama ini!" Sambungnya.
"Terima kasih Edward, aku menghargai pendapatmu. Namun menjadi seorang pemimpin bukanlah tentang kemauan, ambisi dan nafsu saja. Pemimpin berarti melindungi dan bertanggung jawab, kau bisa saja mengabaikan kemauan mereka. Tetapi kau akan melenceng jauh dari dasar - dasarnya!" Jawab Azazeal bijak.
"Terima kasih atas Ilmunya, Tuan!" Ucap Edward membungkuk memberinya hormat.
"Edward!" Panggil Azazeal lirih.
"Iya Tuan," jawabnya sopan.
"Kau akan menggantikan ku memimpin para Guardian." Ucap Azazeal.
"Ah!" Sontak hal tersebut membuat Edward, Acquila dan Sanctuary menjadi terkejut setengah mati.
"Tuan! Kenapa Anda lari dari tanggung jawab Anda?" Tanya Sanctuary terkejut dan meras sedikit kecewa.
"Tuan, kenapa mendadak seperti ini! Belum tentu saya dapat memimpin sebaik Anda, saya khawatir. Kalau suatu hari nanti, kepemimpinan saya malah akan mendatangkan masalah yang lebih besar!" Jawab Edward jujur merasa tidak percaya diri.
"Tuan Edward memang sangat kuat, tetapi beliau belum mampu mengemban tugas seberat ini!" Sambung Acquila membelanya.
"Edward, kita adalah Guardian, pelayan setia Tuhan semesta alam. Kita tidak bisa sesempurna Dia dalam memimpin, kita hanya makhluk biasa yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Masalah itu tidak akan pernah ada habisnya, selesai satu masalah, muncul masalah lainnya. Terus seperti itu karena memang itu lah roda kehidupan, ada saat dimana kita enak, senang dan bahagia, ada juga saat dimana kita sedih dan menderita yaitu pada saat masalah itu datang. Kau tidak perlu khawatir, kau tidak sendirian menghadapi masalah itu karena kamu memiliki anggota yang selalu setia kepadamu dan Tuhan yang selalu kau patuhi!" Jawab Azazeal berusaha meneguhkan hatinya.
"Dengan berat hati, saya akan berusaha melakukan yang terbaik!" Ucap Edward bersumpah sambil membungkuk.
"Aku percaya padamu, Edward! ... Aku lelah ... Biarkan aku beristirahat dari tugas berat yang membelengguku!" Ucap Azazeal dengan wajah dingin.
"Sanctuary!" Panggil-Nya pelan.
"Kau adalah Guard tertinggi di langit. Aku percayakan Orion kepadamu!" Ucap-Nya.
"Keinginan Anda adalah perintah bagi saya, Tuan!" Membungkuk memberinya hormat.
"Tuan, saya mendapat kabar mencengangkan dari Alin Xaverias pada saat dia sedang melakukan pengintaiannya di bumi." Kata Edward memberitahu info penting.
"Aku percaya kau dapat menyelesaikan masalah tersebut Edward!" Jawab Azazeal santai.
"Ini bukanlah masalah yang disebabkan oleh Iblis Tuan, ... Alin Xaverias, dia bertemu dengan sesosok Dementor yang bukan dari Orion Kingdom." Katanya menjelaskan.
Apa! Pikir Azazeal terkejut sampai melotot kedua matanya.