The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Chapter IX ~ Bangkitlah diriku



Malam ini hati Gill sangat sedih bercampur marah kepada Ibunya Anastasya. Dia merasa selama ini telah di bohongi oleh Ibunya yang sekongkol dengan Imelda, 'Kenapa Bu? Apa yang salah denganku? Aku hanya ingin tahu kebenaran itu saja.' Kata Gill dalam hati.


"Kreeek!" Tiba-tiba suara pintu terbuka seketika Gill terkejut dan segera mengusapi air mata sedihnya.


"Tuan, apa Anda sudah makan?" Tanya Imelda pelan sambil membawakan sepiring makanan dan minuman di tangannya.


"Ini saya bawakan makan malam untuk Anda, Silahkan." Kemudian meletakkannya di meja samping tempat tidurnya.


Imelda yang melihat Gill hanya duduk terdiam di atas ranjangnya merasa kasian dan bersalah atas apa yang dia lakukan kemarin.


"Tuan, maaf apabila kemarin ada sikap atau perkataan saya yang menyinggung hati Anda. Semua itu saya lakukan atas perintah Ibu Anda, Nona Anastasya. Tentu untuk kebaikan Anda juga." Katanya pelan duduk di samping Gill.


"Imelda?" Tanya Gill dengan suara berbeda terdengar seperti suara Iblis sedikit serak menyeramkan.


"Iya Tuan?" Jawab Imelda pelan.


"Apakah selama ini kau bersekongkol dengan Ibuku dan merahasiakan sesuatu dariku?" Tanya Gill tegas.


Imelda terkejut mendengar pertanyaannya dan terdiam untuk beberapa saat. "Ada apa Imelda kenapa kamu diam? Apakah itu benar?" Sambung Gill.


"T- ti- tidaak Tuan! Beliau hanya menyuruh saya melakukan apa yang harus saya lakukan sebagai pengasuh. Tidak lebih! Tidak ada hal lain yang di sembunyikan disini." Jawabnya.


"Ibuku itu adalah Bangsa Valuetans 'kan? Apakah kau diancam olehnya jika memberi tahuku?" Tanya Gill berusaha memaksanya.


"Tidak Tuan, Anda salah paham. Nona Anastasya itu orangnya baik dan ramah. Tidak mungkin beliau seperti itu. Dia itu bangsa Manusia biasa sama seperti kita. Tolong jangan berfikiran yang tidak-tidak mengenai Ibu Anda. Kasihan dia Tuan!" jelas Imelda.


"Maaf, Bi! Mungkin bibi benar. (Sambil menoleh ke arahnya dan memberinya senyum palsu) Dia memang wanita yang baik." Jawab Gill.


"Syukurlah kalau Anda mengerti Tuan. Mau saya bantu suapkan atau Anda bisa sendiri Tuan?" Sambung Imelda.


"Aku bisa sendiri, Bi! Tidak apa-apa." jawabnya.


"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu! (Kemudian bangkit berdiri dan lekas beranjak pergi) Maaf saya lupa, tolong setelah ini Anda segera tidur. Nona Anastasya berpesan itu kemarin kepada saya." Sambungnya.


"Iya Bi. Terima kasih sudah mengingatkan." sambil tersenyum manis kepadanya.


"Baiklah selamat malam, Tuan." Kemudian menutup pintunya dan pergi.


Setelah mendengar pintu kamarnya tertutup dan langkah kaki Imelda mulai menjauh. Seketika ekspresi wajah Gill kembali sedih bercampur marah. 'Ternyata memang ada permainan disini. Bodohnya kau Imelda karena mengira aku adalah anak cacat yang tidak berguna.' Katanya dalam hati marah.


"JDUGG!" Pukulnya keras ke tembok marah.


"Sial! Kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa saat ini! Begitu bodohnya aku sampai tertipu bertahun-tahun oleh sandiwara mereka berdua!" Katanya marah sekali.


'Aku harus mencari tahu sendiri kebenaran ini, aku tidak bisa terus dibohongi!' Pikirnya dengan serius.


Disaat yang sama. Kingdom of Norman sedang merayakan kemenangan mereka atas keberhasilannya menaklukan Human Consideracy.


"Untuk Raja kita yang gagah. Bersulang!" Kata Samidi sambil mengangkat gelas penuh dengan anggur.


"HYAAA!" Sahut para prajurit mengangkat gelas mereka.


"CTING!" Mereka pun bersulang untuk merayakan kemenangan.


"Untuk meng- Apresiasi kerja keras kalian semua, aku akan memberikan upah dobel selama dua tahun ke depan!" Teriak Norman sambil mengangkat gelas penuh anggur di tangannya.


"Hidup Raja Norman!" Teriak para prajurit di ikuti yang lain.


Sementara di sisi lain. Anastasya tidak ikut merayakan kemenangan yang di raih suaminya tersebut dan malah sibuk mengemasi makanan untuk diberikan kepada Gill besok pagi.


"Ibu!" Panggil Calista mengagetkannya.


'Uh!' Katanya terkejut seketika langsung menoleh ke arahnya.


"Kamu? Bikin ibu terkejut saja." Kata Anastasya.


"Maaf Bu. Ibu sedang apa? Kenapa tidak ikut merayakan kemenangan bersama Ayah?" Tanya Calista yang memperhatikan ibunya mengemasi barang.


"Ibu sedang mengemasi makanan untuk Adikmu. Rencananya besok ibu akan mengunjunginya pagi sekali." katanya sambil mengemasi bekalnya.


"Boleh Calista ikut? Aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya." Sahutnya tidak sabar.


"Tentu saja boleh. Tapi ingat, besok kamu harus bangun lebih awal." kata Anastasya.


"Oke Bu!" Jawab Calista senang sekali kemudian pergi.


Setelah selesai mengemasi barang - barang yang akan di bawa besok. Anastasya memutuskan untuk duduk dan beristirahat. Ia menghela nafas panjang sambil menatap ke langit malam dan memikirkan keadaan Gill di sana.


'Maafkan ibu Gill karena sudah lama tidak mengunjungimu. Ibu rindu sekali denganmu dan berharap kamu baik-baik saja di sana. Tunggulah sampai besok ya, Nak! Ibu akan datang menjenguk mu.' Katanya dalam hati merasa rindu dengan putranya tersebut. Kemudian Anastasya bangkit dari kursi dan berjalan pergi untuk tidur lebih awal.


Di suatu tempat yang sangat gelap. Gill merasa sangat ketakutan melihat sekelilingnya yang gelap. Dia mendengar berbagai celaan dari tempat gelap tersebut seolah-olah ingin menjatuhkannya dan tidak menganggap keberadaanya di dunia ini.


'Lihatlah si anak buta itu!'


'Pasti orang tuanya sangat menderita, mempunyai beban keluarga sepertinya!'


'Kenapa kau masih berada di sini bocah, Enyahlah kau dari dunia ini!'


'Kau hanyalah sampah yang mengotori kehidupan.'


'Pergi sana kau, Cacat!' Kata - kata itu lah yang membuat Gill merasa sangat sedih kian melemahkan mentalnya.


'Apakah dalam hati Ibu dan Imelda mereka menganggap ku seperti itu?' Tanya Gill dalam hatinya.


"Siapapun tolong aku, bebaskan aku dari sini!" Teriak Gill sambil menangis sedih.


Gill terkejut saat mengangkat kepalanya karena melihat sosok anak lelaki seumuran dengannya sedang berdiri di hadapannya. Dia berambut putih bersih, kulitnya putih pucat, dan memakai baju hitam sobek-sobek seperti selesai bertarung. Ia memiliki mata dan sayap berwarna biru, indah sekali. Anak itu berdiri dan menatap ke bawah ke arah Gill dengan tatapan dingin dan merasa jijik kepadanya.


"Siapa kamu?" Tanya Gill sambil menatap wajahnya dari bawah.


'Siapa dia? Rambut, sayap, dan matanya indah sekali!' Sanjung Gill dalam hati terus mengamatinya.


"Apa?" Kata Gill terkejut mendengarnya.


"Menyedihkan sekali kau ini! Mau sampai kapan kamu merengek seperti itu tidak akan ada seorang pun yang akan menolong mu!" Sambungnya anak misterius tersebut.


"Siapa kau sebenarnya? Kenapa tiba-tiba kau bisa berada di depanku." Tanya Gill sedikit kebingungan.


"Itu tidak penting! Gill kau itu memalukan sekali, sudah cacat tidak berguna lagi." Katanya menohok.


"Apa kau bilang! Tarik ucapan mu barusan!" Serentak bangkit berdiri dan mencengkeram leher baju anak itu.


"Kau mau apa? Apa yang bisa kau lakukan?" Ancamnya balik membuat Gill langsung terdiam seribu bahasa.


"Suatu saat kau akan mengetahui siapa aku ini. Aku sudah lama mengamati mu. Tetapi yang nampak dari mataku adalah seorang anak yang putus asa di tengah sedikit kekurangan fisiknya." Ucap anak misterius tersebut.


"Apa yang bisa ku lakukan?" Tanya Gill pelan sedih merasa putus asa.


"Kau tidak tahu betapa sulitnya bergerak tanpa melihat. Kau bisa dengan mudahnya bilang seperti itu karena kau terlahir sempurna!" Teriak Gill marah.


"Lagi-lagi keluar jawaban dari seorang pengecut." Katanya.


"Apa kau bilang! Apa tujuanmu kemari hanya untuk menghinaku?" Teriaknya marah melotot ke arahnya.


"Dengar Brengsek! KAU ITU LEMAH TAK BERGUNA!" Hina anak misterius itu.


"TIDAK! AKU BUKANLAH SEORANG PECUNDANG!" Jawab Gill lantang sekali sambil mengepal tangannya hendak memukulnya.


"KALAU BEGITU BUKTIKAN PADAKU!" Seketika anak lelaki itu berubah menyeramkan dengan mata melotot, bertaring tajam, memiliki tanduk setan yang runcing, dan kedua sayap birunya terlentang gagah.


Seketika nyali Gill langsung menciut melihat anak itu berubah menjadi sosok lain yang sangat menyeramkan.


"Huhh!" Seketika Gill bangun dari tidurnya dan mengeluarkan keringat dingin dari tubuhnya. Dia sangat ketakutan melihat anak tersebut. Dari yang semula sangat tampan dan indah, seketika berubah menjadi sosok lain yang sangat mengerikan.


"Tadi itu mimpi yang sangat mengerikan,-


"Dimana ini?" Seketika pertanyaan nya teralihkan karena terkejut melihat sekelilingnya.


"Aku bisa melihat? Tidak aku pasti sedang bermimpi lagi." Dia tambah terkejut lagi ketika melihat dirinya sedang duduk berbaring di atas kasur.


"Ini aku sedang tidur! Berarti ini? (Kemudian dia mencubit lengan tangannya) Argh!" Rintihnya.


'Ini nyata! Itu berarti aku bisa melihat sekarang!' Katanya terkejut senang sekali dalam hati kemudian dia menoleh ke arah kirinya dan,-


"JDUUG-JDUUG!" jantungnya berdetak kencang terkejut ketika melihat anak yang tadi dalam mimpinya sedang berada di dalam cermin dan sedang duduk di atas ranjang.


"Huh!" Teriak Gill ketakutan yang seketika terjatuh dari tempat tidurnya karena saking terkejutnya berusaha menyingkir menjauhi cermin tersebut.


'Kenapa dia bisa berada di atas tempat tidurku? Apa jangan-jangan dia ...' Pikirnya menduga-duga.


Akhirnya Gill memberanikan diri untuk menghampiri cermin dan lagi-lagi anak itu lah yang nampak dari dalam cermin tersebut. 'Berarti anak itu adalah ... Aku? ... Tidak, tidak ini pasti mimpi. Ini tidak nyata!' Katanya dalam hati bingung dan takut sambil mengacak-acak rambutnya.


Kemudian dia mendekatkan dirinya ke cermin dan memendam jauh-jauh rasa takutnya. Ia menempelkan telapak tangan satunya ke cermin dan satunya meraba-raba wajahnya. "Inikah aku selama ini?" Katanya. Kemudian dia merundukkan kepala dan berfikir sejenak.


'Apakah anak itu tadi adalah sisi gelap ku yang kemarin marah kepada Ibu? Aku jadi kasihan jika teringat dengannya. Aku akan meminta maaf padanya kalau nanti dia datang lagi.' Katanya dalam hati.


"Untuk apa kau meminta maaf!" sahut anak misterius tersebut.


"Ah!" Gill terkejut mendengar suara barusan dan langsung kembali menatap cermin. Nampak anak itu kembali muncul dengan wujud menyeramkan. Gill sangat terkejut sontak membuatnya mundur beberapa langkah.


"Kenapa, apa yang kau takutkan?" Kata sisi gelap Gill dari dalam kaca.


"Kemarilah." Sambungnya sambil mengayunkan telapak tangannya menyuruhnya mendekat.


Gill memantapkan hatinya dan memendam dalam-dalam rasa takutnya dan memberanikan diri untuk mendekati dirinya yang lain. Perlahan dia melangkahkan kakinya maju mendekati cermin.


"Dengar Gill, kau adalah aku. Dan aku adalah kau! Kita ini satu." Katanya.


Gill menempelkan telapak tangannya ke cermin dan berkata: "Siapa kau ini sebenarnya? Aku tidak merasa seperti dirimu. Kau ini lain dari diriku?" tanya Gill padanya.


"Aku adalah kekuatanmu yang selama ini ada dalam tubuhmu. Cepat atau lambat kau kan menyadarinya dan akan membutuhkanku." Jawabnya.


"Dengarlah apa kataku. Orang tuamu selama ini telah menganaktirikan dirimu, apa kau tidak menyadarinya? Lihatlah perlakuannya padamu. Dia mencampakkan mu dari saudara-saudarimu yang lain. Dia mengasingkan dirimu jauh disini yang hanya ditemani oleh pembantu sewaan murah." Sambungnya.


"Dengar brengsek! Imelda itu bukanlah pembantu murahan seperti yang kau katakan!" Katanya sambil menggedor kaca di depannya.


"Yah terserah apa katamu tapi inilah kenyataanya. Bunuh lah mereka semua sebelum mereka membunuhmu. Binasakan mereka sebelum mereka membinasakan mu. Orang yang pandai adalah mereka yang selalu bergerak selangkah lebih maju dan orang yang bodoh adalah mereka yang mengikuti kata hatinya." Kata sisi gelap Gill dalam cermin.


"Aku tidak akan membiarkan Iblis terkutuk sepertimu menguasai diriku." Balas Gill tegas.


"Ha ha ha ayolah jangan bercanda denganku." Jawab anak misterius tersebut.


"Tunjukan kepadaku kalau kau bukanlah seorang pecundang seperti yang kau katakan. Ayo bunuh mereka!" Katanya sambil mendekatkan wajahnya ke cermin.


"Tidak kau bukanlah aku. Aku tidak sama seperti dirimu." Jawab Gill pelan sambil merundukkan kepala.


"AYO GILL! BUNUH MEREKA!" Teriak sisi jahat Gill dalam cermin.


"TIDAK!" Seketika Gill mengangkat kepalanya dan memukul keras cermin di depannya hingga hancur berkeping-keping.


"BRUAAKK PYARRR!" cermin itu akhirnya pecah dan jatuh berserakan puingnya di lantai.


"Ah!" Kata Imelda terkejut terbangun dari tidurnya mendengar suara gaduh barusan.


"Tuan muda!" Dia langsung bangun dan bangkit berdiri keluar dari kamarnya menghampiri Gill di kamarnya.


Tangan Gill mengucurkan darah hebat membasahi lantai kamarnya saking kerasnya dia memukul cermin tersebut. Tubuhnya menjadi lemas dan dia ambruk ke lantai dengan darah terus mengalir dari tangannya.


"Tuan!" Panggil Imelda baru sampai setelah membuka pintu kamarnya.


"Kenapa dengan tangan Anda? Apa yang telah terjadi?" Terdengar lirih suara Imelda di telinganya tetapi dia sudah terlanjur lemas dan akhirnya pingsan di tempat.