
Delapan belas tahun telah berlalu. kini Gill sudah masuk usia remaja. dia tumbuh menjadi anak yang tampan dan juga pintar, meskipun dirinya tak mampu melihat namun selalu ada Imelda disampingnya, pengasuh setia sewaan Ibunya. Yang selalu ada untuk membantunya.
Imelda senantiasa menemani Gill siang dan malam. Menghiburnya dikala Anastasya tidak kunjung datang pada hari yang telah dijanjikan. Saat dalam proses pertumbuhan Imelda mengajari Gill bagaimana cara menulis dengan menggerakkan tangannya. Melukis kan tinta yang Gill pegang di atas sebuah kertas. Lambat laun akhirnya Gill sudah mulai terbiasa dan mulai lancar dalam menulis.
Imelda juga mengajarinya bagaimana cara memasak makanan yang enak. Dia mengajari Gill bagaimana cara memotong bahan dengan baik dan benar agar tidak melukai jarinya. Semua itu Imelda lakukan karena ia sangat sayang dan kasihan kepadanya. Dia tahu suatu saat Gill akan ditinggalkan oleh keluarganya. ia juga tidak bisa untuk selalu ada di sampingnya.
"Bi, sudah dua minggu ini ibuku tidak datang berkunjujg. Apakah Bibi tau kenapa?" Tanya Gill sambil duduk di atas ranjangnya.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu." jawabnya singkat. "Sebaiknya Tuan muda tidur saja, nanti kalau Nona Anastasya datang. Saya akan beritahu Anda." sambungnya.
"Tolong temani aku jalan-jalan di hutan. Aku jenuh, terus berada di rumah." Pintanya.
"Baik Tuan mari saya bantu." kemudian membantunya berdiri dan pergilah mereka berdua jalan-jalan di hutan mencari udara yang segar.
Sementara di Kerajaan. Anastasya tengah rapat dengan para dewan dan penasihatnya. Mereka sedang menyusun rencana dan strategi untuk menjajah Kerajaan manusia, Human Consideracy.
Semua itu karena keinginan kuat dari Norman untuk memperluas daerah kekuasaannya dan menundukkan mereka manusia sebagai bawahan para Iblis. Mereka sangat serakah akan kekuasaan, kekuatan, dan kesenangan. Para Iblis akan menjajah seluruh dunia Manusia untuk mewujudkan keinginannya tersebut.
"Menyerang Human Considerqcy? Itu adalah hal yang sangat gegabah" Ucap Anastasya terkejut saat mengetahui inti masalah dari rapat tersebut.
"Samidi, bacakan informasi yang sudah kau kumpulkan dari penyelidikan mu kemarin!" Perintah Norman.
"Baik Tuan," Mengangguk, "Dari informasi yang saya dapat. Human Consideracy memiliki Raja bernama Vallerian Hofman dan Istrinya Elizabeth Lena. Mereka mempunyai dua orang putra dan tiga orang putri." jelasnya.
"Human Consideracy memiliki pasukan aktif sebanyak Seratus Lima Puluh Ribu dan mempunyai lima orang komandan kuat dari setiap divisi. Mereka sangat ahli dan terkenal akan kekuatannya. Kabar buruknya adalah mereka memiliki sebuah pedang Saint yang sangat langka." Imbuhnya.
"Pedang?" Tanya salah satu dewan penasaran.
"Rangbreaker Sword, pedang Element cahaya terkuat untuk melawan kita para Iblis." jawab Samidi.
"Lanjutkan!" Perintah Anastasya.
"Human Consideracy juga merupakan sekutu dari Athaelash Kingdom, salah satu Kerajaan manusia terbesar dari wilayah Utara. Tentu hal ini akan menyulitkan kita untuk menguasai mereka." imbuhnya.
"Apa yang akan kita dapatkan jika kita berhasil mengalahkan mereka. Apakah sepadan?" Tanya salah satu penasihat.
"Tentu saja. Kerajaan tersebut memiliki kekayaan yang melimpah, mereka memiliki tambang emas dan permata di arah Barat. Daerah kekuasaan mereka terbentang luas, sumber daya manusia melimpah dan lagi kita juga akan mendapatkan pedang legendaris tersebut." jawab Samidi.
"Mengingat banyaknya resiko yang sangat besar, sebaiknya kita urungkan dulu perang ini sambil kita pikirkan lagi cara yang matang," kata Anastasya.
"Baiklah kita sudahi saja rapat kita kali ini." kata Norman membubarkan rapat tersebut.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Istrinya.
"Kita tidak boleh gegabah. Aku tidak ingin kehancuran menimpa kita seperti yang telah di katakan oleh Hela dulu." jawabnya dengan tatapan serius.
"Aku akan melatih anak-anak dan menjadikan mereka kuat untuk kutempatkandi barisan depan. Memimpin para pasukan saat perang itu terjadi," Jawabnya, "Aku yakin dengan segala kelebihan yang mereka miliki. Kita akan dengan mudah memenangkan perang ini." sambungnya yakin penuh percaya diri.
"Baiklah, aku percaya padamu." ucap Anastasya sambil memegang pundaknya.
Keesokan paginya Anastasya beserta para pengawalnya pergi keluar secara diam-diam untuk mengunjungi Gill di pondok tengah hutan.
Saat Imelda sedang menyapu di depan teras rumah. Dia dikejutkan oleh kedatangan Anastasya beserta para pengawalnya untuk bersambang mengunjungi Gill. Mereka langsung keluar dan turun dari gerbong kereta kudanya untuk menemui Imelda.
"Imelda di mana Gill?" Tanya Anastasya.
"Ada di dalam Nona. mari silahkan masuk!" dengan membungkuk memberi hormat kemudian membuka pintunya.
"Sebentar Non, saya panggilkan Tuan muda." kemudian pergi mencarinya. dengan senyum Anastasya mengangguk kemudian duduk dan menunggunya.
"Tuan muda! Nona Anastasya datang mengunjungi Anda. Ayo bangunlah!" Panggil Imelda dari depan pintu kamarnya.
"Benarkah. Tunggu sebentar Bi!" Teriaknya dari dalam kamar.
Gill langsung beranjak bangun dari tempat tidurnya dengan wajah gembira senang sekali. Sudah dua Minggu dia menunggu ibunya yang tak kunjung datang dan akhirnya sekarang dia beneran telah datang. hatinya merasa tergugah dan semangat kembali.
"Ibu!" panggilnya dari jauh berjalan sambil meraba-raba dinding.
"Gill dimana kamu Nak?" Balas ibunya dari depan.
'Suara itu dari depan!' Pikir Gill kemudian mempercepat langkahnya.
"Bu!" Panggil Gill sekali lagi.
"Gill!" Kata Anastasya terkejut melihat Gill dengan wajah bahagia dan segera bangkit dari tempat duduk untuk menghampirinya.
"Nak ini ibu. kamu baik-baik saja kan? Ibu sangat merindukan mu!" Dengan berlutut sambil mengelus kedua pipinya.
"Ibu." sambil menggerayangi wajahnya.
"Kenapa Ibu jarang mengunjungiku?" Tanya Gill.
"Ibu sedang banyak kerjaan sayang. Kamu sudah makan belum?" Tanya Anastasya.
"Belum." katanya lirih dengan merundukkan wajahnya.
"Ayo sini!" Sambil memegang tangannya mengajaknya duduk di kursi.
"Ini ibu bawakan makanan kesukaan kamu. ayo buka mulutmu!" Dengan mengangkat sendok penuh makanan.
"Ini Nona silahkan diminum sebelum tehnya dingin," sambil meletakan secangkir teh di depannya.
"Terima kasih Imelda," jawabnya ramah.
Gill hanya diam membisu tidak mau membuka mulut dan terus merundukkan wajahnya.
"Nak Kamu kenapa? Kamu marah pada ibu ya?" Tanya Anastasya kembali meletakan sendok penuh makanan itu di piring.
"Tuan muda ada apa dengan Anda? di depan ini Nona Anastasya. Ibu Anda sendiri!" Tanya Imelda.
"Ada apa Nak? Ceritakan lah kepada Ibu, apa yang sedang terjadi denganmu?" sambil kembali meletakan piringnya di meja.
"Aku ingin tahu kenapa aku sendirian disini. kenapa Ibu tidak pernah ada saat aku sedang membutuhkanmu. Aku merasa. Aku merasa seperti diasingkan jauh dari keluargaku sendiri." gumamnya lirih dengan mengeluarkan isi hatinya karena kesal ibunya pulang terlambat.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" Tanya Anastasya dengan wajah sedih.
"Apa karena ini? (sambil menunjuk kedua matanya yang buta) Ibu membuangku disini? " Teriaknya marah bercampur kesal.
"Tidak Nak. Tolong jangan berfikiran yang aneh-aneh." sangkalnya halus.
"Apa yang sebenarnya ibu sembunyikan dariku. apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Tanya Gill kesal.
Anastasya terkejut mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulutnya seketika ekspresi wajahnya berubah. Ia tidak menyangka Gill akan bertanya seperti itu. Dia tidak ingin putranya tahu kalau Ayah beserta saudaranya yang lain sangat membencinya. Anastasya tidak ingin putranya tersebut menyimpan dendam kepada keluarganya.
"Imelda bawa Gill kembali ke kamarnya!" Perintah Anastasya.
"Baik Nona," kemudian memegang dan menarik tangan Gill.
"Ibu aku belum selesai bicara denganmu. Jawab dulu pertanyaanku!" Teriaknya sambil ditarik tangannya oleh Imelda.
"Sudah Ayo Tuan. biarkan Nona beristirahat," kata Imelda sambil menarik tangannya menjauh dari Anastasya.
"Tidak lepaskan aku Bi! Aku belum selesai berbicara dengannya. Ibu!" Teriaknya.
'Maafkan Ibu Nak!
Ibu tidak ingin kau sakit hati mendengar kenyataan mu yang menyedihkan. Ibu tidak ingin kau menyimpan dendam kepada keluargamu sendiri.' ucapnya dalam hati sedih duduk termenung di atas kursi.