
Kabar dari Gill yang telah melindungi berbagai desa dari serangan Iblis sudah tersebar ke penjuru dunia, bahkan sampai terdengar ke Underworld. Tak luput Kingdom of Norman juga mendengar beritanya, terutama yang baru - baru ini terjadi.
"Tuan? Apakah Anda sudah mendengar kabar, bahwa baru - baru ini beberapa desa manusia yang dalam kekuasaan Iblis Tirani mulai runtuh dan merdeka," Tanya Samidi di samping Norman tengah duduk di tahtanya.
"Aku sudah mendengarnya sedikit, tetapi aku belum tahu penyebab pastinya," jawab Norman.
"Desa apa saja yang sudah terbebas tersebut?" Sambung Anastasya bertanya di samping Norman.
"Kaname dan Abud (desa tempat terbantainya 100 Iblis Tirani di langit), menurut kabar yang saya dengar. Ada seorang Dementor yang turun ke desa Abud dan membinasakan para Iblis tersebut pada saat mereka sedang melakukan pemujaan."
"Dan yang baru - baru ini adalah dari desa Kaname, lagi - lagi para Iblis terbantai di sana. Alin Xaverias adalah orang yang bertanggung jawab dari kejadian tersebut," sambung Samidi.
"Alin?" Sambung Anastasya terkejut.
"Alin? Bagaimana Bidadari surga tertinggi bisa ada di sana?" Tanya Norman terkejut berdiri dari kursinya.
"Saya juga tidak tahu Tuan, saya yakin dia tidak sendirian membunuh para Iblis tersebut. Para Iblis sudah memprediksi hal ini akan terjadi oleh karena itu mereka membawa empat kesatria kegelapan yang mempunyai senjata terkutuk untuk bangsa Archangel."
"Saya yakin sekelas Alin Xaverias pun akan kalah melawan senjata tersebut, karena keempat senjata tersebut adalah kelemahan mutlak bangsa Archangel. Saya yakin Dementor itu juga ada di sana membantunya!" Sambung Samidi.
"Apakah kau tahu ciri - ciri dari Dementor itu?" Tanya Anastasya.
"Dementor itu berambut putih,-
Ah! Jangan - jangan dia? ... Apakah dia waktu itu selamat! Pikir Anastasya terkejut menduganya.
"Matanya memiliki simbol yang sangat asing, dia kuat sekali! Setiap korban yang dia bunuh jasadnya selalu nampak kering kehabisan darah, beberapa ada juga yang hangus seperti bekas terbakar." Sambung Samidi.
"Samidi panggilkan Calista kemari!" Perintah Norman.
"Baik Tuan!" Membungkuk permisi kemudian pergi.
"Norman? Jangan - jangan dia..." Tanya Anastasya.
"Ternyata dia masih hidup! Tapi bagaimana bisa? Detak nadinya telah tiada, di tambah ia sudah di buang ke jurang kegelapan. Bagaimana cara dia selamat dari sana?" Kata Norman terkejut kebingungan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Anastasya.
"Kita harus segera melenyapkannya mumpung dia masih lemah! Aku yakin, saat ini dia pasti sedang berusaha mengumpulkan kekuatan. Sedikit saja kita terlambat, kehancuran yang Hela bilang waktu itu pasti akan terjadi." Jawab Norman.
Tak berapa lama mereka mengobrol, akhirnya Calista datang di temani oleh Samidi dibelakangnya.
"Kenapa, Yah? Tumben sekali ayah memanggilku?" Tanya Calista membungkuk memberinya hormat.
"Norman? Apakah kau bermaksud mengutusnya?" Tanya Anastasya.
"Aku tahu Calista adalah saudara yang paling dekat dengan Gill, dia pasti bisa membujuknya untuk kembali kemari. Saat dia sudah kembali, kita akan membunuhnya dengan tangan kita sendiri. Dengan begitu kita tahu kalau dia sudah beneran mati!" Jawab Norman lirih kepada Anastasya.
"Ehemh! Bagaimana latihan mu, Calista?" Tanya Norman.
"Luar biasa! Aku sudah berhasil menguasai Devil's Weapons ku," jawab Calista dengan wajah senang.
"Bagus, bagus sekali, Nak! Ayah bangga padamu. Lalu bagaimana dengan yang lain?" Tanya Norman kembali.
"Dark magic? Aku sudah menguasai hampir semuanya! Semua tingkatan dasar sampai menengah sudah berhasil ku kuasai. Setidaknya aku punya dua teknik tingkat atas yang menjadi andalanku." Jawab Calista.
"Luar biasa! Kami berdua sangat bangga padamu, Nak! ... Oh iya ayah ada berita gembira buat kamu," kata Norman.
"Berita apa, Yah?" Tanya Calista makin penasaran.
"Gill ... Saudaramu masih hidup!" Jawab Norman langsung ke intinya.
"Apa! Dia masih hidup? Dimana dia sekarang?" Dengan ekspresi kaget kegirangan ingin segera bertemu dengannya.
"Dia ada di desa Kaname, susul lah dia kesana! Bukankah kau ingin menikahinya? Ayah sudah membujuk ibumu dan dia telah setuju mengenai itu," kata Norman.
Dalam hati Anastasya ia dilema mendengar rencana dari suaminya tersebut, dari dalam lubuk hatinya. Ia masih sangat menyayangi Gill sebagai anaknya sendiri, dia menyesal telah melukainya dulu. Anastasya berharap suatu saat Gill dapat kembali kepelukannya dan memaafkan segala perbuatan bodoh yang telah dia lakukan.
"Benarkah! Ibu kau sedang tidak lagi bercanda, kan?" Tanya Calista memastikan dengan wajah senang bahagia.
"Calista! Bawa dia kemari apapun yang terjadi. Kami sangat mencemaskan keadaanya, walaupun dengan cara kasar sekalipun!" Perintah Norman.
"Baiklah yah! Aku akan mempersiapkan semuanya terlebih dahulu," membungkuk memberinya hormat kemudian berbalik dan pergi.
"Norman? Bagaimana kalau nanti dia terbunuh oleh Gill?" Tanya Anastasya cemas.
"Kau tidak perlu khawatir, karena sebab itu lah aku mengutusnya. Gill tidak akan melukai saudara yang dia sayangi, aku tahu itu!" Tatapnya tajam penuh keyakinan.
Di sisi lain, Azazeal tengah terbang menuju Underworld bersama Acquila di belakangnya.
"Tuan? Ke daerah mana kita akan pergi?" Tanya Acquila penasaran, tetapi dia hanya terdiam membisu tidak bergeming sedikitpun.
"Saya melihat, baru kali ini Anda pergi ke Underworld! Apakah Anda sudah tahu bagaimana cara kita menyamar supaya tidak ketahuan oleh mereka? Saya dengar pengelihatan dan insting mereka sangat tajam dalam mendeteksi hal asing di sekitarnya," Tanya Acquila sangat kepo.
"Acquila?" Panggil Azazeal.
"Ya, Tuan!" Jawabnya sopan.
"Kau ternyata banyak bicara," kata Azazeal singkat.
"Ma-Maafkan saya, Tuan ... (Seketika ekspresi wajahnya berubah) ... Apakah selama ini kehadiran saya sebagai pelayan, malah membuat Anda semakin menderita?" Tanya Acquila dengan wajah sedih dan kecewa merasa tidak pantas bersama Azazeal selama ini.
"Acquila, Exifilia, Helfeany, Stacia! Kalian adalah keempat wanita yang aku ciptakan dengan berbagai keistimewaan!"
"Aku memang memberimu sifat cerewet dan banyak bicara! Aku tidak bisa menyalahkan dan membencimu mengenai sifatmu tersebut. Namun di balik sifat cerewet mu itu, kau memiliki sifat yang paling loyal dan perhatian padaku di antara semua pelayanku!" Jelasnya.
Sontak Acquila terkejut seketika wajahnya berubah merah merona malu bercampur senang. Aku tidak menyangka, kalau Tuan akan menceritakan segala sifat yang dia berikan kepadaku. Hati ini merasa senang sekali, aku berharap bisa melayani Anda sampai kapan pun. Pikirnya senang sekali dengan senyum diwajahnya.
"T-T-Tuan? emhh..."Sedikit bimbang dan malu mau bertanya.
"Emhh?" Gumam Azazeal bertanya.
"Apakah saya ini cantik? Bagaimana menurut Anda mengenai tubuh saya? Apakah sempurna sebagai seorang wanita?" Tanya Acquila merasa penasaran dengan dirinya.
"He he hahaha!" Tawa Azazeal ngakak mendengar pertanyaannya.
Seketika ekspresi wajah Acquila kembali murung, karena mendengar pertanyaan seriusnya hanya dikira lelucon oleh Tuannya sendiri.
"Aneh sekali Acquila, Kenapa kau tiba - tiba bertanya seperti itu? Apakah kau mencintai seseorang dan kau merasa tidak percaya diri?" Tanya Azazeal balik.
"Eh! (Memerah pipinya malu) ... Emhh," Angguknya.
"Apakah kau mengenal Queen?" Tanya Azazeal.
"Dia adalah Ratu dari Bidadari surga! Wanita tercantik yang pernah Tuhan ciptakan! Saya sangat mengagumi kecantikan yang beliau miliki, saya juga termasuk penggemar beratnya!" Jawab Acquila langsung paham.
"Kau tahu? Dulu aku pernah menantang Tuhan untuk menciptakan seorang wanita yang paling cantik dan sempurna! Dia menciptakan Queen sebagai pelayannya, sedangkan aku menciptakanmu untuk menyainginya!"
"Dia memujiku setelah aku berhasil menciptakanmu! Ia kagum dan sempat memuji keindahan yang kau miliki, oleh karena itu Tuhan menganugerahiku kuasa ini karena aku memiliki tangan yang kreatif sebagai pelayan yang terlatih." Jelas Azazeal.
Bahkan Tuan sampai menantang sang Penguasa demi ambisinya itu? Dia benar - benar gila! Ia memang tidak pernah berubah dari dulu. Hal itulah yang membuatku tidak ingin kehilanganmu sampai kapan pun Tuan dan aku hanya akan terus melayani mu, sebagai pelayan yang kau cintai. Pikir Acquila tersentuh mendengar jawaban Azazeal, memandangnya dari belakang penuh cinta.
"Tuan! Izinkan saya terus berada di samping Anda, hidup saya seperti di neraka saat tidak mendengar perintah Anda!" Mohon Acquila.
"Hemmhh! (Tersenyum manis menoleh kearahnya) Tentu saja, Itukan sudah menjadi kewajiban mu." Jawab Azazeal sedikit mencandainya dan terbang melanjutkan perjalanannya kembali.
Kakak! Apakah kau sudah melupakanku? Apakah kau sudah lupa dengan janjimu? Kau dulu berjanji ingin selalu membuatku tersenyum apapun yang terjadi, tetapi kenapa kini kau malah membuatku sedih? ... Pikir Erfyona sedih menatap langit malam duduk termenung di ujung bukit gunung tertinggi Lockheim.
Bagaimana caraku menemui Tuan Azazeal di langit, sedangkan aku saat ini terlahir sebagai Iblis! Kalau saja telepati ku dapat menembus segel langit, pasti aku bisa dengan mudah menemuinya. Pikirnya langsung bangkit berdiri mondar - mandir memikirkan cara yang lain.
Ayo Fyona! Kau sudah menunggunya sejak lama, kini dia sudah datang dihadapanmu! Apakah kau mau menyia - nyiakan kesempatan ini? Ayo pikirkan cara terbaik mu ... Pikir Erfyona menyemangati dirinya sambil mondar - mandir.
"Ah! Cahaya apa itu?" Kata Fyona terkejut melihat tiga warna cahaya yang menyilaukan matanya, cahaya merah dan biru bersinar dengan sangat terang di ikuti satu cahaya putih di belakangnya, ia melesat begitu cepat ke arah selatan.
"Selama ini tidak ada cahaya yang mampu menembus langit hitam Underworld, Aneh sekali! Itu pasti bukan cahaya biasa! Aku harus mengikuti kemana arah perginya cahaya itu," sambungnya seketika berubah ke mode Iblis, dan terbang melesat menyusul cahaya tersebut.