The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 60 ~ Indyra Maze Part 1



"Bukan hanya para murid yang terpesona oleh kecantikannya, tapi beberapa guru pun juga mengakuinya. Kabar baiknya adalah, dia itu masih perawan, Loh!" Bisik Fain di telinga Gill.


"Kau ini update sekali kalau bicara soal wanita cantik." Sindir Gill bosan mendengarkan topik pembicaraannya.


"Jelas dong! Lelaki mana yang mau dapat bekas." Jawabnya polos.


"Cari topik yang lain lah, bosen dengar wanita terus." Keluh Gill.


"Apa ya...?" Berfikir sejenak.


.....


"Kau tau siapa itu Gabriel? Aku dengar dia adalah Guardian posisi 25." Tanya Gill menemukan topik pembicaraan baru.


"Masa kau tidak tahu siapa itu Gabriel?" Tanya Fain keheranan, namun Gill hanya diam menggedek kan kepala.


"Kau ini seperti anak yang besar di tengah hutan, sampai tidak tahu siapa itu Gabriel. Informasinya sudah tersebar luas, Loh? Sarkas kau, ya?" Tanya Fain curiga.


"Memang aku dibesarkan di tengah hutan. Tapi sungguh, aku tidak tahu soal itu." Jawab Gill berusaha meyakinkannya.


"Gabriel itu adalah Guardian yang sangat berani dan bodoh. Kebodohannya itu sampai terkenal ke seluruh penjuru langit!" Jelas Fain.


"Memangnya apa yang telah dia lakukan? Sampai kau mengatakannya seperti itu." Tanya Gill yang masih belum paham.


"Aku katakan bodoh, karena dia itu rela menggagalkan misi pentingnya demi seorang wanita keturunan Iblis,-


"Ah! Maksudmu?" sahut Gill dengan wajah terkejut.


"Seperti yang kau dengar barusan, ia rela menggagalkan misi demi cintanya terhadap wanita Iblis tersebut. Kalau hati sudah buta oleh cinta, semua hal bisa saja terjadi. Gabriel adalah contoh nyatanya." Jelas Fain.


"Lalu apa maksud berani dari perkataan mu barusan, Fain?" Tanya Gill.


"Tentu saja berani bertindak bodoh!" Sahut Fain terus terang.


"Karena Gabriel sengaja menggagalkan misi tersebut, membuat Pemimpin Guardian menjadi marah besar. Beliau Tuan Azazeal mengutus Edward, si Guardian perkasa untuk menghukum Gabriel waktu itu dengan memberinya luka maut selama 90 tahun." Sambungnya.


'Kalau hal itu terjadi padaku, Ia pasti langsung kubunuh di tempat!' ucap Gill dalam hati gregetan mendengarnya.


"Aku yakin hukuman itu bukan perintah Tuan Azazeal, melainkan belas kasih Edward. Sedikit mengecewakan sih sebenarnya, tapi ya sudah lah. Kita juga bisa apa?" Imbuh Fain pasrah.


"Yah, kalau di pikir-pikir. Tidak ada Gabriel, tidak mungkin ada juga kan Greey Havord?" Menyinggungnya.


"Ha ha kau benar, teman!" Tertawa lepas, merangkul pundak Gill.


"Aku tidak tahu, kenapa para wanita di kelas tadi begitu memuji Gabriel, bahkan sampai memberinya julukan si Malaikat penyayang. Menurutku dia sudah tidak layak lagi menyandang nama Guardian. Menikahi wanita Iblis, itu adalah aib yang memalukan!" Kritik Gill pedas.


"Pffftt ha ha ha! Itu adalah julukan terbodoh yang pernah aku dengar. Para wanita di kelas mu itu sepertinya para jalang semua. Kau harus berhati-hati!" Ucap Fain memperingatkannya.


"Bukan hanya aib. Gabriel itu sudah seperti kotoran di tempat suci, yang harus segera di hilangkan. Mestinya kedua kotoran itu di hukum mati saja!" Imbuhnya merasa kesal sendiri.


"Kringgg!" Lonceng sekolah berbunyi.


"STUDDY TELAH USAI, SAMPAI JUMPA BESOK DENGAN SEMANGAT BELAJAR YANG BARU!" Alarm pulang berkumandang.


"Yah, tidak terasa kita sudah seharian membolos di atap sini." Ucap Fain sambil meregangkan tubuhnya.


"Kau benar, entah kenapa menjadi siswa nakal seperti ini malah terasa menyenangkan." Sambung Gill berdiri dari kursi taman tersebut.


"Itulah yang selama ini masih menjadi misteri. Tapi tenang, besok masih ada waktu lagi untuk membolos. Aku sarankan kau bawa bekal atau kau akan pingsan di sini." ujar Fain memberinya saran.


"Tidak. Mungkin lain kali, kalau aku terus membolos seperti ini, bisa-bisa aku dikeluarkan dari sekolah ini." Tolak Gill halus.


"Baiklah, terserah kau saja. Jangan lupa, kalau istirahat datanglah kemari! Tempat ini selalu sepi, setiap hari aku berada di sini." Ajaknya.


"Tentu, sampai jumpa besok, Fain!" Ucap Gill berpamitan, melambaikan tangannya pergi turun kembali ke kelas.


"Anak yang menarik." Ucap Fain pelan, menatap tajam ke arah Gill yang berjalan pergi.


Sesampainya di depan kelas 1A, suasana sekitar terasa sepi dan hening. "Sepertinya semua orang sudah pulang (berjalan masuk pintu kelas). Wow, gambar apa ini? Keren sekali." Tanya Gill terpesona dengan lukisan pedang di papan tulis.


"Itu gambar pedang Sovereign. Jam terakhir barusan adalah materi sejarah." Sahut suara laki-laki dari belakang.


'Benarkah? Kalau begitu gambar ini sangat jelek, tidak sesuai dengan kenyataanya.' kata Gill dalam hati tersinggung dengan gambar tersebut.


Menoleh ke sumber suara. "Greey?" Ucap Gill terkejut melihatnya masih belum pulang. "Kau belum pulang? Sedang apa kau di sini." Tanya Gill penasaran.


"Aku sedang piket kelas agar besok tidak terburu-buru." Jawabnya sambil mengayunkan sapu lantai, menggiring debu kotor tersebut.


"Sendiri? Dimana teman piket mu yang lain?" Tanya Gill kasihan melihatnya menyapu kelas yang luas sendirian.


"Mereka pergi. Emilia langsung pulang karena mendadak ada urusan, Vania juga selalu berada di dekatnya, dan satunya lagi izin keluar beli makanan. tapi belum juga kembali sampai sekarang." Jelasnya.


'Kasian dia, aku paling tidak tega melihat lelaki menjadi budak wanita.' katanya dalam hati iba, langsung meraih sapu lantai yang tersandar di pojok ruangan.


"Sedang apa kamu Vergile? Besok bukan piket mu, Pulanglah! Kau pasti lelah seharian dihukum." Kata Greey tidak enak melihat Gill turut membantunya.


"Tidak apa-apa, lagipula di Asrama aku juga tidak ada kegiatan." Jawab Gill sambil mengayunkan gagang sapu tersebut, menyapu bersih debu di lantai.


"Terima kasih, Vergile. Maaf telah merepotkan mu." Dengan senyum senang.


"Santai, ingat kata Pak Georghe? Kita adalah keluarga." Balas Gill rendah hati.


"Kalau aku tahu kamu se-rajin ini, pasti kuberikan suara pilih ku tadi untukmu. Aku jadi menyesal telah memilih Emilia." Jelas Gill merunduk sedikit murung.


"Tidak apa-apa, apa boleh buat. Emilia itu lebih populer daripada aku." Jawabnya.


"Bicara soal populer, kau juga sepertinya sangat populer di kalangan para wanita. Reaksi mereka setelah kau memperkenalkan diri tadi sungguh sangat heboh, berbanding terbalik denganku dan Indyra." Sindirnya.


"Kau ini bicara apa, aku ini hanya numpang tenar di bawah nama besar Masterku. Selebihnya aku hanyalah murid biasa." Ujarnya merendah.


"Kamu hanya kurang percaya diri, Greey. Sebenarnya kau itu kuat! Bisa memanggil Centaurus itu adalah hal yang luar biasa bagi murid junior seperti kita. Aku bahkan tidak punya yang seperti itu." pungkas Gill memujinya.


"Setidaknya kau berhasil masuk dengan prestasi, bukan karena dikasihani." Sambungnya pelan merunduk malu.


"Bicara apa kau ini, Vergile. Kau kira aku tidak tahu kemampuan, mu?" Sahut Greey menghentikan sejenak kerjanya.


"Penampilanmu kemarin itu sungguh sangat hebat! Semua orang takjub melihatnya, termasuk aku sendiri. Aku terpukau melihat mu mampu mengimbangi kekuatan naga dan pemiliknya secara bersamaan." Sambungnya dengan mata berbinar-binar terpukau kagum.


"He he, terima kasih. Tapi sayang hasil berkata lain." Merunduk malu.


"Apakah waktu itu kamu sedang sakit? diakhir pertarungan aku sempat melihatmu memuntahkan darah, sebelum akhirnya kau jatuh pingsan." Jelasnya.


"Entahlah, di awal pertarungan aku merasa baik-baik saja. Tapi setelah aku terhempas ke tanah dan terkena serangan Emilia, tiba-tiba tubuhku menjadi terasa sangat sakit." tuturnya dengan wajah ragu tidak yakin.


"Seperti itu, ya... Namun kau tetap lah luar biasa, Vergile. Aku salut padamu, dengan kondisi penuh luka seperti itu. kau masih mampu mengimbangi mereka berdua." Sambil menepuk pundaknya dan melanjutkan kembali pekerjaannya.


"Kau terlalu memuji, Greey. Sepertinya sudah bersih (sambil melihat sekeliling) Jangan kau bersihkan semuanya, sisakan juga untuk mereka. Kalau kamu membersihkan semuanya, yang terjadi mereka akan semakin malas nantinya." tutur Gill menasihatinya.


"Kalau kita niat membantu orang, jangan setengah-setengah. Yang ada nanti malah menimbulkan kesan tidak tulus, dan malah kita yang di cap malas." Jawab Greey balik menasihatinya.


"Tapi tidak perlu sampai melakukan semuanya Greey. Lihat! Kau sudah menyapu banyak. Kamu itu terlalu baik sehingga kebaikanmu itu dimanfaatkan oleh mereka." Kata Gill membujuknya untuk tidak melakukan hal bodoh.


"Tidak apa-apa, aku bisa menyelesaikannya sendiri. Kalau kamu mau pulang, duluan saja." Sangkalnya tidak peduli dan terus menyapu lantai tersebut.


"Greey, tidak semua orang itu tulus meminta bantuan. Kau hanya diperalat jabatan, sesekali coba pikirkan dirimu sendiri,-


"Cukup Vergile! (Mengangkat telapak tangannya setinggi pundak, menyuruhnya untuk berhenti bicara) Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kalau tidak ada hal yang penting, lebih baik kau pulang saja." Sahutnya dengan nada yang dingin, sedikit merasa kesal.


"Baiklah, terserah kau saja. Maaf telah mencampuri urusanmu..." Meletakkan kembali sapunya lalu pergi.


'Maaf Vergile, aku melakukan ini bukan tanpa sebab.' ucapnya dalam hati, melihat Gill yang berjalan pergi.


__FlashBack 2 jam yang lalu__


"Greey, boleh aku minta tolong sesuatu padamu?" Tanya Emilia sambil berjalan menghampiri tempat duduknya.


"Emilia? Ada apa? Apa yang bisa aku bantu?" Jawab Greey sigap menolong.


"Sepulang sekolah nanti aku ada rapat Dewan Inti. Apakah kamu mau menggantikan jadwal piketku?" Dengan wajah merah merona, merundukkan kepala karena malu-malu kucing.


"Aku mengerti. Boleh, kok! Nanti aku dan Vania akan menyelesaikan bagian mu." Jawabnya tidak merasa keberatan sedikitpun.


"Maaf sebelumnya, tapi Vania selalu ikut kemanapun aku pergi. Seperti yang kau tahu, dia itu adalah Asistenku. Aku tidak bisa jauh-jauh darinya, kau mengertikan? ... Jadi apakah boleh sekalian?" Jelas Emilia.


Berfikir sejenak. Nampak dari raut wajahnya, Greey merasa sedikit keberatan. "Boleh ya, Greey..." Mohonnya dengan wajah cantik nan imut, berusaha mengambil hatinya.


'Duh, dia cantik banget kalau sedang lemah lembut seperti ini. Aku jadi tidak tega mau menolaknya.' ucapnya dalam hati sedikit memerah wajahnya karena terpesona.


"Huffftt..." Menghembuskan nafas panjang.


"Hanya kali ini saja, ya?" Ucap Greey menerima permintaanya, walau sedikit keberatan.


"Wah! Terima kasih, Greey!" Langsung memeluk Greey erat dengan dada menempel ketat di tubuhnya.


'Ah!' Terkejut perlahan matanya terbuka lebar, tidak menyangka Emilia akan melakukan ini padanya.


"Jdug-Jdug!" Jantungnya berdetak kencang setelah merasakan tumpukan lemak tersebut membelai dadanya.


'Harum sekali baunya, rambutnya juga sangat halus.' ucap Greey dalam hati terpesona dengan kecantikannya.


"Beraninya sampah itu menyentuh Idolaku!" Bisik para lelaki yang melihatnya dengan tatapan benci.


"Mentang-mentang murid Guardian hebat, seenaknya saja dia membelai tubuh manisnya." Sambung lelaki di sampingnya yang juga benci pada Greey.


"Dasar wanita murahan, katanya keturunan Raja. Tapi kok sikapnya kayak pelacur desa." Sindir salah satu murid wanita yang sedang ngrumpi bersama temannya, melirik sinis ke arah Emilia.


"Iya menjijikan sekali dia. Pangeran tampanku jadi ternoda olehnya." Balas temannya yang lain.


'Jantungnya berdetak keras, dadaku sampai bergetar karenanya. Benar-benar lelaki perjaka yang polos, begini saja membuatnya gugup.' ujar Emilia dalam hati, meliriknya dari belakang.


'Aku tidak menyangka, kalau sekarang ini aku sedang berpelukan dengan murid Alin Xaverias!' kata Greey dalam hati merasa senang.


Tak berapa lama Emilia melepaskan pelukannya, sontak membuat Greey terkejut salah tingkah, langsung melepaskan pelukannya. "Kamu memang Wakil ketua yang baik. Kalau begitu sampai jumpa besok, Greey!" Ucapnya berpamitan dengan senyum manis di wajahnya sebelum pergi.


"Emh (Angguknya) sama-sama ..." jawabnya pelan memalingkan wajahnya yang memerah.


'Mudah sekali mengambil hatinya, cantik memang selalu mempermudah segala hal.' ucapnya dalam hati melirik ke arah Greey, dengan senyum licik mempermainkannya.


___FlashBackEnd___


"Sepertinya Greey menyimpan rasa suka pada Emilia. Tapi menjadikan wanita sepertinya kekasih adalah pilihan yang bodoh. Menyedihkan sekali." Sindir Gill.


"Kyaaaah!" Terdengar jeritan seorang perempuan dari salah satu ruangan di depan.


'Ah! Suara apa itu?' kata Gill terkejut.


"Sepertinya berasal dari depan!" Sambungnya langsung berlari menghampiri sumber suara tersebut.


"Brakh!" Nampak seorang siswi perempuan yang tangannya di ikat oleh tali Pramuka. Sedang di pojokan oleh dua orang siswa laki-laki bertubuh gagah besar, di loker para pria.


'Mereka itu, kan! Orang yang sama, pem-bully Alice kemarin malam. Cihh! Mereka tidak ada kapoknya.' kata Gill dalam hati geram melihat tingkahnya.


'Tapi siapa wanita itu?' ujar Gill dalam hati penasaran karena wajah si gadis terhalang oleh tubuh mereka.


"Tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi." Mohon si gadis tersebut.


"Jangan takut gadis manis, kami hanya ingin bermain denganmu." Balas salah si pria sambil mencumbui lehernya.


"Tidak, aku tidak mau. Lepaskan aku!" Teriaknya berusaha memberontak.


"Kamu memiliki body yang bagus juga." Puji pria satunya sambil meraba-raba pahanya.


"Tidak! Apa yang kamu lakukan?" Teriaknya panik terus memberontak enggan untuk di sentuh.


"Kamu ternyata cantik juga, ya..." Ucap si pria menatap matanya dari dekat.


'Indyra!' kata Gill terkejut setelah melihat wajahnya.


"Bibirmu manis sekali. Aku tidak bisa membayangkan, akan senikmat apa jika aku memasukannya ke dalam sana." Hendak menyentuh bibirnya, namun Indyra mengelak memalingkan wajahnya.


"Jangan sentuh aku!" Tolaknya tegas.


Dengan cepat pria tersebut langsung memegang dagu Indyra secara paksa dan memalingkannya kembali menghadap wajahnya. Perlahan jari telunjuk dan tengahnya menggerayangi bibirnya. Nampak Indyra sangat marah sampai mendelik kedua matanya, membungkam mulutnya erat.


Namun kedua jari tersebut tetap memaksa masuk dan merogoh bagian dalamnya sampai dengan rahang. "Wow, kau ternyata memiliki gigi yang bersih, sepertinya kau pribadi yang suka memelihara diri. Ayo buka mulutmu, perlihatkan padaku lidah manismu!" Perintahnya dengan tatapan mata penuh nafsu.


Indyra terus berusaha memberontak, namun apa daya. Ia hanya seorang wanita, tenaganya tak cukup kuat untuk melawan cengkeraman tangan pria misterius tersebut. "Tidak mau buka, ya..." Ucap si pria tersebut pelan.


"Plassh!" Tampar-nya keras.


"Kyaahhh!" Teriaknya kesakitan.


Melihat Indyra yang telah buka mulut, dengan cepat pria misterius tersebut langsung memasukan ketiga jarinya ke dalam mulutnya secara paksa dan mengorek lidah dalamnya. "Wuih, di dalam sangat hangat dan basah. Lidahmu ini sungguh menggoda!" Sambil terus mempermainkan jarinya di dalam.


"GULPPMHH EMHHGGG!" rintih Indyra terus memberontak tak mampu berteriak karena mulutnya telah disumpal oleh jari pria tersebut.


"Mari kita lihat, seberapa besar bagian tubuh yang berada dalam sini." Ucap pria satunya perlahan membuka kancing baju Indyra dari atas, sambil terus memperhatikan dadanya yang menyembul.


Mendengar itu, Indyra semakin marah dan memberontak kuat. kakinya terus menginjak-injak lantai dengan keras, berusaha mengenai kaki kedua pria tersebut agar mereka melepaskannya. Tapi si pria juga tidak kalah cerdik, dengan cepat salah satu dari mereka memasukan jari tersebut lebih dalam sampai menyentuh telaknya.


Yang akhirnya membuat Indyra menjulurkan lidahnya keluar, membuat ekspresi Ahegao karena merasa geli telak lehernya di sentuh. "HUARKGHH!" Air liur kental jatuh menetes dari ujung lidahnya membasahi baju putihnya.


"Wah-Wah! Aku tidak menyangka kau mampu membuat ekspresi mesum seperti ini, Indyra. Kamu sungguh sangat menggoda." Pujinya terkagum melihatnya melakukan Ahegao. Membutnya semakin bersemangat untuk terus merogoh telaknya lebih dalam, membuat lidah Indyra semakin panjang menjulur keluar, dan tubuh mengejang panas.


"Sepertinya itu adalah titik lemahnya, kau berhasil membuatnya diam." Puji teman satunya.


"Yeah, kau benar. Sangat jarang menemukan wanita yang mempunyai titik lemah di dalam sini." Jawabnya sambil terus merogohnya.


"Ini bukan lagi pem-bullyan, tapi pelecehan! Aku tidak bisa membiarkannya!" Kata Gill marah keluar dari persembunyiannya.


"Lepaskan gadis itu!" Bentak Gill mengagetkan mereka berdua.


"Siapa kau?" Menoleh ke arah Gill dan melepaskan cengkeramannya dari Indyra.


"Lebih baik kau pergi! (Ancam temannya dengan mata melotot tajam) daripada kau bonyok di tangan kami,-


"Banyak bacot, Maju lu semua!" Sahut Gill ketus mengacungkan jarinya ke depan menantang mereka berkelahi.


"Cari mati dia." Dengan raut wajah marah sekali.


"Tunggu apa lagi, HAJAR!" langsung maju serempak hendak mengeroyok Gill.


"Matilah kau sampah!" Teriaknya melayangkan pukulan pertama.


Namun dengan cepat berhasil di hindari oleh Gill. Seketika ia langsung membalasnya dengan pukulan keras tepat di perutnya, sampai membuatnya membungkuk kesakitan. "Ugghh!" Rintihnya langsung roboh ke lantai.


"Beraninya kau!" Sahut teman satunya marah melayangkan pukulan balasan, tapi dengan cepat berhasil dihindari. Gill langsung membalasnya dengan mengayunkan kakinya kencang dan menendang keras kaki pria tersebut sampai membuatnya jatuh tersungkur di lantai.


"Arrghhh!" Teriaknya kesakitan karena hidungnya menghantam lantai dengan keras sampai membuatnya berdarah.


"Vergile..." Ucap Indyra pelan kagum dan terpesona melihat aksi heroiknya menghajar para pem-bully tersebut.


"Ayo bangun, Brengsek! Pertarungannya belum selesai!" Ejeknya meraih leher baju pria yang hidungnya berdarah, dan melayangkan pukulan keras ke wajahnya.


Melihat temannya sedang terdesak membuat pria satunya memutuskan untuk menggunakan cara licik. dengan cepat ia segera bangun, meraih pemukul bola bisbol disampingnya dan memukulkannya ke arah kepala Gill dengan sangat keras. "Vergile awas!" Teriak Indyra histeris memperingatkannya.


"Matilah kau!" Teriaknya keras langsung melayangkan tongkat bisbol tersebut.


"CTASHH!" Mengenai kepalanya dan membuatnya terhempas ke lantai dengan keras.


"Vergile!" Teriak Indyra histeris melihat kepalanya berdarah.


'Pakai senjata, ya... Curang sekali.' kata Gill dalam hati tersenyum senyum meremehkan, berusaha bangkit walau sedikit sempoyongan.


Saat Gill sedang berusaha bangun, dengan cepat salah satu dari pria tersebut balik menarik leher bajunya dan menghempaskan tubuhnya keras ke loker besi, sampai membuatnya penyok.


"BRAKH!"


"Matilah kau Vergile!" Teriak pria tersebut marah langsung memukul wajahnya keras membabi buta.


"Kau tadi memukul perutku, kan? Rasakan ini!" Balasnya memukul keras perut Gill.


"Hentikan! Jangan sakiti Vergile!" Teriak Indyra memohon, namun mereka tak menggubrisnya dan terus memukulinya.


'Sepertinya aku harus mengeluarkan sedikit kemampuanku.' ucap Gill dalam hati, memejamkan matanya dan mengeluarkan kekuatan Dementor-nya.


"Ouch! Hahh!" Rintih pria yang memukul perut Gill mengibaskan telapak tangannya.


"Sakit sekali! Kenapa tiba-tiba jadi keras begini?" Sambungnya merasa kesakitan, heran dengan apa yang terjadi.


"Apa yang kau lakukan? Terus pukuli dia! Buat ia menderita." Sahut teman satunya. saat ia hendak kembali memukul wajahnya, dengan cepat Gill langsung meraih leher mereka dan mengangkatnya ke udara.


"Apa yang terjadi dengan anak ini, tiba-tiba dia menjadi kuat!" Ujarnya terkejut sambil memberontak.


"Arghh! Kau benar. Lepaskan tanganmu brengsek! Aku tidak bisa bernafas." Sambung teman satunya, berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.


"Hemh, Apa? ... Aku kuat? ... Tidak, kalian saja yang terlalu lemah." Jawab Gill dengan tawa menghina.


"Sesekali coba kalian cari lawan yang sepadan, jangan cuman wanita saja yang jadi korban. Itu bisa menumpulkan kekuatan kalian, Loh!" Sambungnya langsung menghempaskan tubuh mereka ke tembok dengan keras, hingga membuatnya retak.


"Arghkk!" Teriaknya memuntahkan darah segar.


"Tolong maafkan kami, biarkan kami pergi." Mohonnya terbata-bata karena cengkeraman keras dari tangan Gill.


"Kami menyesal telah melakukan hal bodoh itu, tolong ampuni kami!" Sambung temannya.


"Kenapa aku harus mengampuni kalian? Kalian saja tidak mau mengampuninya tadi, atau membiarkannya pergi." Menoleh ke arah Indyra dengan mata terpejam.


"Vergile..." Ucap Indyra pelan dengan senyum kagum.


"Maafkan kami. Kami menyesal!" Mohonnya.


"Menyesal di akhir tidak akan ada gunanya. Kalian sudah melampaui batas, ini bukan lagi pem-bullyan. Tapi pelecehan! Kalian harus membayarnya!" Langsung membanting tubuh mereka berdua ke lantai sampai membuatnya retak dan pecah.


"Argghkhh! Uhuk-Uhuk!" Tubuh mereka langsung belingsatan di lantai seperti cacing kepanasan, seketika mereka langsung pingsan.


"Pura-pura pingsan, ya? Cerdik sekali." Sindir Gill pelan langsung menginjak lutut mereka satu persatu sampai sendi engsel mereka rusak, setelah itu di lanjutkan ke lengan tangan. Mereka berdua berteriak keras sejadi-jadinya, membuat Indyra selaku korban menjadi sedikit tidak tega.


Lagi-lagi semua siksa itu tidak membuat hati Gill merasa puas, di akhir pertarungan ia menjambak rambut mereka dan membenturkan wajahnya ke lantai hingga darah melumuri seluruh wajahnya. Gill berniat membuat mereka berdua lumpuh dan menghabiskan seluruh hidupnya di atas tempat tidur.


Setelah merasa puas, Gill segera bangkit berdiri dan meninggalkan tubuh mereka tergeletak di lantai dengan darah berceceran kemana-mana. Wajah mereka sudah tidak dapat di kenali lagi karena tulang wajahnya telah rusak dan darah kental menutupinya.


Dengan jalan yang sempoyongan, kepala bocor, dan wajah bonyok babak belur, Gill berusaha mendekati Indyra yang tengah duduk di lantai dengan tangan yang terikat. "Kamu tidak apa-apa, Indyra?" Tanya Gill pelan sambil melepaskan ikatan pada tangannya.


"Vergile..." Ucapnya pelan tersentuh dengan kebaikan hatinya. Nampak mata Indyra berkaca-kaca, tak mampu membendung air mata yang mau menetes.


"Kenapa kamu menangis? Bagian mana yang sakit,-


"Kenapa?" Sahut Indyra meneteskan air mata.


"Emh? Kenapa apanya?" Tanya Gill bingung.


"Kenapa kamu mau menyelamatkan wanita aneh sepertiku? Sampai kau rela tubuhmu babak belur begini." Jelasnya dengan isak tangis.


"Siapa yang bilang kamu wanita aneh? Kamu itu normal seperti wanita pada umumnya, itu hanyalah hinaan mereka yang tidak suka padamu. Selamanya kita tidak akan pernah bisa membungkam mulut orang yang membenci kita." Jawab Gill merendah sambil mengusap air matanya yang menetes membasahi pipi dengan tangan yang berlumuran darah.


"Waduh, aku malah mengotori wajahmu lagi. Maaf ya Indyra, aku akan membersihkannya,- Langsung memeluk tubuh Gill hangat.


"Terima kasih. Kamu adalah orang pertama yang mengakui keberadaan ku, Vergile. Selamanya aku akan selalu mengingatnya." Ucapnya di pelukan.


"Sama-sama, senang melihatmu kembali bahagia." Balas Gill di pelukan.


"Ayo ikutlah denganku, aku akan mengobati lukamu." Ajak Indyra sambil membantunya bangkit berdiri.


"Kemana?" Tanya Gill penasaran, sambil berusaha bangkit.


"Sudah ikut saja." Jawabnya merangkul tubuh Gill membantunya berjalan.


"Ngomong-ngomong, bagaimana pelajarannya tadi?" Tanya Gill sambil terus berjalan.


"Menyenangkan, semua guru sangat ramah di sini." Jawab Indyra senang.


"Benarkah? Tadinya aku juga berfikir begitu. Tapi setelah bentakan itu aku jadi tidak yakin." Jelasnya.


"Hi hi hi, kamu sih pake acara tidur segala." Balas Indyra mencandainya. Mereka pun memutuskan untuk pulang bersama dan menghabiskan waktunya mengobrol hangat.