The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 61 ~ Indyra Maze Part 2



Dalam perjalanan pulang Gill lekas tersadar kalau jalan yang ditunjukan oleh Indyra bukanlah jalan menuju tempat Laphia. "Indyra, sebenarnya kamu mau membawaku kemana? Jalan ini bukan menuju tempatku." Tanya Gill pelan sambil mengamati pepohonan di sekitar.


"Ini jalan menuju Kos ku, nanti aku akan mengobati mu di sana. Kamu jangan takut aku tidak ada niat jahat." Jawabnya pelan menatap ke arah wajahnya yang berlumuran darah dengan wajah kasihan terus menuntunnya berjalan.


"Bukankah hanya wanita saja yang izinkan masuk? Kalau mereka tahu kamu membawa laki-laki, bisa panjangkan urusannya." Ujar Gill merasa khawatir.


"Kamu jangan khawatir. Disana banyak sekali cewek yang membawa pacarnya masuk ke dalam, tapi penjaga di sana juga tidak mempermasalahkannya. Saat ini kamu sedang terluka, mereka tidak punya alasan untuk melarang mu masuk." Pungkasnya.


"Maaf, aku jadi merepotkan mu." Sambung Gill pelan merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, aku senang bisa membalas kebaikanmu." Jawabnya sedikit gugup malu-malu kucing.


Sesampainya di depan kamar Indyra. Ia langsung membuka pintunya perlahan membantu Gill masuk ke dalam. "Hati-hati." Tuturnya pelan.


"Pelan-pelan..." Membantunya duduk di atas ranjang tempat tidurnya. Nampak dari mata Gill kamar Indyra tidak begitu luas. Hanya ada tempat tidur, 2 pintu lemari kecil, meja belajar dekat jendela, dan kamar mandi di samping lemari bajunya.


'Tempat ini sangat sempit, aku jadi tidak enak berada di sini terlalu lama.' ucap Gill dalam hati sambil mengamati isi kamar tersebut.


"Tunggu sebentar, ya. Aku ambilkan kotak obatnya di bawah." Pamitnya sambil berjalan pergi.


"Iya." Angguknya.


'Dibandingkan dengan wujud Greatest Knight-ku, tubuh ini memiliki regenerasi yang sangat lambat. Ditambah aku tadi sudah menggunakan kekuatan Dementor-ku, meskipun sedikit tapi itu akan memperlama waktu pemulihan. Aku harap luka ini segera sembuh tidak sampai besok!' ungkap Gill dalam hati sambil melihat tangannya yang berdarah.


'Nampaknya aku harus mengurungkan dulu niatku sampai tubuhku benar-benar pulih. Ke Underworld dengan tubuh seperti ini itu sama saja dengan bunuh diri. Andai aku bisa berubah wujud saat tubuh ini terluka, pasti itu bisa mempersingkat waktuku.' sambungnya memalingkan wajahnya ke arah cermin mengeluarkan mata terkuatnya.


"Maaf membuatmu menunggu Vergile!" Sahut Indyra mengejutkannya, seketika ia langsung menonaktifkan kembali mata terkuatnya.


"Ah tidak apa-apa, lagian aku juga tidak akan kemana-mana." Jawab Gill dengan nada gurauan.


"Kamu ini, tubuh sudah babak belur begini masih sempat-sempatnya bercanda." Sindir Indyra yang keluar dari dalam kamar mandi sambil membawa wadah berisi air bersih di tangannya.


"Hi hi, maaf." Dengan senyum nyengir kuda karena malu.


"Jangan banyak bergerak dulu, ya..." Mintanya lekas menyelupkan kain bersih ke dalam wadah yang berisi air dan mengusapkannya perlahan ke bagian wajah yang terluka.


"HSSHH Ouch!" Rintih Gill meringis kesakitan.


"Maaf Vergile!" Langsung menarik kembali tangannya.


"Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja, ya?" Tutur Gill memintanya untuk lebih berhati-hati.


"Emhh!" Angguknya setuju, kembali mengusap lukanya.


'Kenapa tanganku gemetar begini?' sambil melihat ke arah tangannya yang sedang memegang kain basah.


'Setelah di lihat-lihat, ternyata Vergile itu tampan juga. Apakah ini pertanda kalau aku mulai menyukainya? Jatuh hati pada lelaki yang telah menolong wanita, itu wajar 'kan?' sambung Indyra dalam hati menatap mata Gill hangat sambil senyum-senyum sendiri.


'Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan wanita baik sepertinya, meskipun ia sedikit aneh. Tapi hatinya sungguh sangat baik, aku bisa melihatnya melalui tatapan matanya. Dia tulus mengobati ku.' Puji Gill dalam hati tersentuh balik menatap matanya hangat, sejenak mereka saling bertatap mata hangat satu sama lain.


"Sudah! Sekarang tinggal mengikat kepalamu dengan perban." Ujar Indyra menaruh kembali kain lap dan wadah berisi air tersebut di atas meja belajarnya.


"Boleh aku pegang kepalamu?" Sambungnya meminta izin dengan kain perban di tangannya bersiap untuk mengikatkannya.


"Ehmm!" Angguknya memperbolehkannya.


"Kalau begitu, permisi..." Mulai melilitkannya ke bagian kepala yang terluka. Saat Indyra sedang menyingkapkan rambut Gill ke atas, ia terkejut merasakan kelembutan dari setiap helainya.


'Rambut putih ini selain indah tapi juga sangat lembut, benar-benar lelaki yang ideal kau ini Vergile.' pujinya dalam hati terpesona sambil terus mengikatkan perbannya.


"Selesai! Maaf ya kalau ikatannya jelek, ini kali pertama aku mengobati seseorang." Jelasnya sambil memaparkan hasil kerjanya di depan cermin.


Nampak dari dalam cermin ikatan perbannya sedikit miring dan sedikit berantakan. "Luar biasa! Aku merasa lebih baik daripada sebelumnya. Terima kasih Indyra." Jawabnya dengan senyum senang menghiasi wajahnya.


'Yah meskipun amburadul tapi setidaknya ini bisa mencegah darahnya mengalir keluar.' sambung Gill dalam hati berusaha menahan tawa setelah melihat hasilnya.


"Sama-sama Vergile." Jawabnya dengan senyum bahagia nampak dari pantulan cermin.


"Sebentar aku cari kan baju yang sesuai untukmu, sepertinya aku punya satu." Membuka lemari bajunya "Aduh dimana, yah..." Gumamnya mencari baju tersebut di antara tumpukan baju lain.


"Ketemu!" Langsung mengangkat kemeja warna putih itu tinggi-tinggi menunjukannya pada Gill.


"Ini, pakailah!" Menyodorkannya.


"Terima kasih, tapi celanaku..." Merunduk ke bawah melihat celananya yang basah kuyup oleh noda darah merembes sampai bagian dalam.


"Sebentar aku carikan lagi. Emhh bukan yang ini ... Ini juga bukan, di mana ya aku meletakkannya?" Ucapnya pelan terus mencari celana tersebut sampai membuatnya nungging terlihat CD-nya.


Gill yang tak sengaja melihatnya CD-nya seketika langsung membanting pandangannya ke arah lain dengan wajah merah merona. 'Sampai segitunya di membantuku...' Batin Gill tersentuh dengan usahanya.


"Akhirnya ketemu juga! (Mengeluarkannya dari dalam lemari langsung bangkit berdiri menunjukannya pada Gill) Syukurlah aku tidak meninggalkannya. Cobalah! Barangkali muat." Sambil menyodorkan celana hitam panjang tersebut.


"Terima kasih Indyra, kamu telah banyak membantuku." Balasnya dengan senyum senang menerima celana tersebut.


"Tidak perlu sungkan, Pakailah!" Jawabnya.


"Tapi aku belum mandi, tubuhku masih kotor dengan noda darah ini. Kau mau duluan?" Tanya Gill hendak memakai kamar mandinya.


"Kamu saja dulu, aku mau mencari pakaian ganti." Jawabnya kembali mengorek lemari kecil tersebut.


"Baiklah." Berusaha bangkit dari duduknya.


"BRUGHH!" Terdengar seperti benda besar sedang ambruk sontak mengejutkan Indyra yang sedang mencari salinan baju di dalam lemari.


"Vergile!" Teriak Indyra histeris melihat tubuhnya tengkurap di lantai, dengan cepat ia langsung membantunya bangkit berdiri.


"Vergile jangan memaksakan diri kalau belum bisa, berhati-hatilah." Tutur Indyra menasihatinya.


"Maaf, tapi aku harus mandi. Noda darah ini sangat bau dan kotor. Kalau ada orang lain yang tahu, pasti aku akan kena masalah besar!" Jawabnya merasa khawatir.


"Maukah kau membantuku melepas pakaian ini? Sepertinya aku belum sanggup berdiri tegap, lutut dan kakiku masih terasa sakit." Sambungnya.


"Melepaskan pakaian!" Ucap Indyra keras melotot terkejut membuat kedua alis matanya terangkat. 'Kalau berdiri saja tidak bisa, berarti aku dan Vergile nanti akan ... Mandi bareng!' duganya seketika membuat wajahnya semakin memerah.


'Tapi...


'Dia kan yang sudah membantuku, dia bonyok begini juga karena aku. Kasihan kalau nanti dia terjatuh lagi, lantai kamar mandinya kan licin.' pikir Indyra mempertimbangkannya.


"Indyra?" Panggilnya pelan sambil mengayunkan telapak tangannya di depan wajahnya yang sedang bengong.


"Uh! ada apa?" Jawabnya tersadar dari lamunannya.


"Bagaimana? Kamu mau?" Tanya Gill mengulangi kembali pertanyaannya.


"Eh! ... Emhh." Angguknya pelan sedikit merasa ragu.


"Sepertinya kamu merasa keberatan, sekali lagi maaf ya? Aku sungguh tidak ingin merepotkan mu. Tapi kalau kau tidak mau juga gak apa-apa, aku tidak akan memaksa." Imbuh Gill merasa tidak enak setelah melihat raut wajah Indyra yang meragukan.


"Aku mau, kok!" Sahutnya dengan wajah merah Strobery terlihat kalau dia sedang memaksakan diri.


"Beneran?" Tanya Gill memastikan.


"Iyah!" Angguknya dengan wajah yang semakin memerah seperti mau meletus kepalanya.


"Baiklah..." Ucap Gill sedikit melirik ragu ke arahnya.


Dengan sigap ia langsung meraih pundak Gill dan menuntunnya berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah mereka berada di dalam, tiba-tiba rasa canggung dan malu datang kembali dan menghalangi niat Indyra. Tangannya gemetar saat hendak melepaskan kancing bajunya, kulit wajah merona, dan pupil matanya mengecil saking gugupnya.


"Eh! Emhh." Angguknya pelan mulai melepas kancing baju pertamanya.


"Apakah ini pertama kalinya untukmu? Kamu terlihat sangat gugup. Tenanglah, aku tulus meminta bantuanmu. Tak ada niatan lain!" Yakinnya.


"Kalau aku berani macam-macam, kau pukul sekali juga langsung K.O." imbuhnya bergurau.


"Tidak, aku hanya sedikit merasa malu..." Gumamnya menundukan kepala.


"Indyra..." Panggilnya pelan memegang kedua sisi dagunya, mengangkatnya ke atas menatap matanya dalam. Nampak kulit wajahnya memerah karena malu. Kedua matanya berbinar-binar terpapar cahaya rembulan yang menembus kaca jendela.


Dengan tatapan dalam Gill berkata, "Biarkan aku yang memakan rasa malu itu." Sambil menarik dagunya mendekat, membuka mulutnya perlahan sedikit mengeluarkan ujung lidahnya.


"JDUG-JDUG!" Jantung Indyra berdetak kencang terkejut merasakan ciuman tersebut.


"Vergile..." Gumamnya perlahan mulai membuka mulutnya sedikit menjulurkan lidahnya keluar.


"UMMHHG! EMHHGGG!" Desah mereka berdua saling ******* basah bibir masing-masing.


'Hangat sekali. Ahh Vergile aku menyukaimu!' batinnya langsung meraih punuk belakangnya, menempelkan erat mulutnya, dan secara tiba-tiba memasukan lidahnya ke dalam membalas ciuman tersebut.


'Indyra!' kata Gill dalam hati terkejut merasakan lidahnya masuk ke dalam memainkannya dengan sangat ganas.


Tak mau kalah dengan Indyra, ia balik membalasnya dengan memasukan lidahnya ke dalam dan mengoreknya ganas. Tangannya perlahan masuk ke dalam geraian rambut bergelombang tersebut meraih punuk lehernya. Sedangkan satu lagi menggelangi pinggulnya yang seksi menempelkan erat ke dadanya.


"UMN! EMH!" Desah Indyra terkejut mendapat serangan balasan.


Indyra jadi tidak malu lagi melepas bajunya setelah Gill memberinya Wet Kiss, malahan dia semakin bersemangat melepaskan kancing baju tersebut. 'Aku ingin lebih, beri aku lebih Vergile!' batinnya berharap.


Mereka berciuman sangat mesra layaknya sepasang kekasih, tangannya saling menguatkan ciuman tersebut satu sama lain. Erang dan desahan kian menambah suasana hangat pada malam tersebut. Saat mereka sedang berciuman hangat, tiba-tiba Indyra menghentikannya dan menatap mata Gill hangat.


Dengan mata berbinar penuh nafsu, wajah merona, dan bibir basah mengucurkan air liur Indyra memohon, "Aku ingin lebih Vergile, beri aku nektar manismu." Membuka mulut dan memejamkan kedua matanya, menunggu Gill melakukannya.


'Indyra...!' batinnya terkejut langsung melahap mulutnya yang terbuka memainkan lidahnya di dalam. Sedangkan Indyra membalasnya gulatan lidahnya tersebut dan memeras air liurnya untuk di minum.


"GULPMH! GULPMH!"


'Haaah tubuhku jadi panas, apakah aku terlalu banyak menelannya? Tapi aku tidak bisa berhenti. Ini terlalu nikmat untuk sebuah Friend Kiss!' ucapnya dalam hati sangat menikmati ciuman tersebut.


Saat Indyra telah membuka semua kancing bajunya, wanita bermata kuning tersebut mendadak terkejut bukan main saat merasakan permukaan tubuh Gill yang kasar.


Lantas ia segera melepaskan belaiannya tersebut dan mengeceknya. Matanya terbuka lebar sekaligus kedua alisnya terangkat ke atas karena terkejut, 'HUMPH' menutup mulutnya dengan wajah histeris.


Gill terkejut melihat Indyra begitu saja melepaskan ciumannya, "Ada apa Indyra? Ada yang salah?" Tanya Gill pelan menatap wajahnya. Ia penasaran melihat mata Indyra yang melotot histeris saat melihat ke arah perutnya, seketika Gill merunduk dan mengecek apa yang membuatnya terkejut.


"Indyra..." Panggilnya pelan sambil menepuk pundaknya. Sontak ia terkejut langsung menatap wajahnya.


"Gill apa yang telah terjadi padamu? Luka ini ... Dari mana kau mendapatkannya?" Tanya Indyra sedikit terbata-bata karena masih merasa syok.


"Oh ini, (merunduk melihatnya) Luka ini aku dapat saat masih kecil. Dulu aku pernah diserang oleh Iblis Tirani ketika bermain di tengah hutan, bersyukur ibu langsung datang menolongku. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi padaku saat itu..." Dengan senyum ia menjelaskan.


"Ibumu pasti adalah sosok yang sangat berharga bagimu." Pujinya kagum mendengar aksi heroiknya.


"Ya, kau benar. Aku sangat menyayanginya melebihi apapun." Jawabnya.


"Para Iblis itu menyerangku secara membabi buta. Aku tidak tahu kenapa mereka melakukannya. Setelah mendapat luka ini, aku mengalami trauma berat dan tidak berani keluar rumah. Sampai pada akhirnya Ibu memperkenalkanku kepada salah seorang temannya yang seorang pandai besi." Tuturnya mengarang cerita.


"Lelaki tua itu mengajariku bagaimana cara memegang senjata dengan baik dan benar, serta memberiku beberapa teknik bertarung andalannya. Beberapa tahun kemudian aku berhasil menguasainya, setelah itu aku jadi tidak takut lagi berhadapan dengan Iblis Tirani. Tidak semua Iblis bisa kalahkan, namun itu sudah cukup bagiku." Imbuhnya dengan senyum manis.


"Kau sudah berjuang keras Vergile, kamu luar biasa. Jika kamu gagal waktu itu, mungkin sore tadi aku sudah gagal menjadi wanita." Pujinya merasa bersyukur.


"Kau ini bicara apa Indyra, jangan berkecil hati seperti itu. Berjanjilah padaku. (Memegang kedua pundaknya dan menatapnya dalam) Kau akan selalu tersenyum walau dunia ini tidak adil bagimu." Sahutnya dengan tatapan hangat.


Setelah mendengar dukungan hangat darinya, hati Indyra menjadi baper sampai kedua matanya berbinar membendung air mata haru. Ia langsung memeluk tubuhnya erat dan menangis di pelukan, saat itu juga dia mengucapkan sumpahnya pada Gill. "Terima kasih, Vergile. Aku berjanji akan menghadapi semua masalah dengan senyuman." Ucapnya terbata-bata bercampur tangis.


"Kamu jangan mau di lecehkan seperti tadi, kau harus melawan! Jangan pernah berfikiran kalau wanita itu lemah, di luar sana banyak sekali wanita yang menunjukkan kemampuannya. Yang mungkin bisa kamu jadikan tauladan." Ujar Gill menasihatinya sembari mengelus rambutnya di pelukan. Kemudian ia melepaskan pelukan tersebut dan mengusap air mata yang membasahi pipinya.


"Dengar ya Indyra, (menatap matanya hangat meyakinkannya) wanita yang baik adalah mereka yang mampu menjaga harga diri dan kehormatannya." Sambungnya.


Ia tersenyum manis dan membalas tutur kata Gill barusan dengan sebuah candaan, "Kau ini berbicara seolah-olah tahu semuanya, tapi malah kamu sendiri yang mengambil First Kiss-ku"


"Eh soal itu ..." Memalingkan wajahnya yang merah merona karena malu tak berani menatap balik matanya.


Seketika Indyra tersenyum karena godaannya berhasil. Ia langsung meraih dagunya kembali dan mengecup bibirnya hangat penuh cinta. "Tidak apa-apa, kamu layak mendapatkannya." Bisik Indyra di telinganya sambil mencumbu indra pendengarannya tersebut dengan desis nafas dan sedikit permainan bibir.


"Indyra apa yang kamu lakukan, Jangan lakukan itu..." Mohon Gill terbata-bata karena gugup.


Namun dia tidak mendengarkan ucapannya barusan dan terus melanjutkan godaannya tersebut, perlahan ia turun mencumbui lehernya. Dada dan tangannya menempel ketat di dada maskulinnya dengan pinggul dan pantat sedikit nungging ke belakang.


"Kau masih belum bisa mandi 'kan? Aku bersedia membantumu jika kau memang membutuhkannya" Godanya pelan perlahan tangannya turun menggerayangi resleting celananya berusaha melepaskan kancingnya.


"Ah tidak perlu! Bagian itu biar aku saja. Kamu boleh keluar sekarang." Tolaknya halus dengan kedua telapak tangan berdiri sejajar di depan dadanya.


"Yakin..." Rayunya dengan tatapan mata menggairahkan dan jari kuku yang di gigit.


"Ya, ini bukan masalah yang besar." Jawabnya tenang.


"Ouhh sayang sekali. Baiklah beritahu aku kalau kau butuh sesuatu, aku ada di luar." Dengan wajah cemberut sedikit kecewa langsung pergi begitu saja.


'Syukurlah dia mau pergi tanpa paksaan.' batinnya mengelus dada senang langsung memutar keran dan mulai mandi.


Setelah selesai mandi.


"Indyra! Kau masih di sana." Panggilnya dari dalam kamar mandi.


"Ada apa Vergile?" Jawab Indyra yang sedang mencari baju ganti dalam lemari.


"Bisa tolong ambilkan baju ganti ku di atas tempat tidur? Aku lupa membawanya tadi." Mintanya dari dalam.


"Sebentar." Jawabnya bangkit berdiri dan mengambilnya. "Ini!" Sambungnya berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Oh, terima kasih." Menerima pakaian yang di sodorkan olehnya tersebut.


"Huh!" Indyra terkejut tak sengaja melihat senjata Gill yang perkasa sampai membuat matanya melotot. Sontak ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan mundur beberapa langkah ke belakang.


Gill yang melihat Indyra sedang menatap ke arah *********** dengan cepat ia langsung menutup pintunya kembali dan melontarkan kata-kata pengalihan untuk memperbaiki suasana canggung tersebut. "Sebentar ya Indyra dikit lagi selesai dan kamu bisa segera mandi. Mandi terlalu malam itu tidak baik, bukan?" Ujarnya dengan sedikit gugup.


"Tidak usah khawatir, kau jangan terburu-buru. Aku sudah terbiasa mandi tengah malam." Jelasnya membuat Gill terkejut di dalam.


"Eh ... Begitu, ya ..." Balasnya pelan bingung mencari topik pengalihan lain.


'Tadi itu sungguh tidak terduga! Laki-laki memang selalu menyajikan hal yang menarik.' batinnya dengan senyum tertarik.


"Sreekk! Jdugh!" Pintu kamar mandi terbuka, nampak Gill yang sudah selesai ganti pakaian dan terlihat sangat segar.


'Indyra, dia masih di sini? Jangan-jangan masih kepikiran soal yang tadi. Semoga saja dia tidak berfikiran yang aneh-aneh tentangku.' pikirnya panik bercampur malu sampai meneteskan keringat dingin menghadapi situasi menegangkan tersebut.


"Indyra, kamu masih di sini? ... Apakah aku membuatmu takut dengan yang tadi?" Tanya Gill sedikit gugup dan malu tak berani menatap wajahnya.


"Oh tidak, sama sekali tidak. Tidak usah dipikirkan aku baik-baik saja." Sahutnya. "Aku hanya sedang menunggumu, karena kamu sudah selesai. Jadi sekarang giliran ku ..." Sambungnya dengan wajah merah merona.


Menyadari dirinya yang masih berdiri di tengah pintu membuat Gill merasa malu salah tingkah, "Oh maaf!" Segera menyingkir dari tengah pintu.


"Permisi." Menyelonong masuk ke dalam.


'Huihh air mandinya dingin sekali.' ucapnya dalam hati merasa kedinginan berjalan dengan tubuh gemetar langsung duduk di kursi belajar Indyra menatap ke langit malam yang bertaburan bintang.