
Setelah mereka sampai di depan gerbang kastil dan hendak masuk tiba-tiba mereka di hadang oleh para prajurit penjaga.
"Berhenti!" Sambil menyilang kan tombak mereka.
"Emh, Kenapa kalian memberhentikan kami?" Tanya Sam berpura-pura.
"Kalian berdua bukan dari sini 'kan? Katakan apa tujuan kalian datang kemari!" Tanya mereka dengan tegas.
"Kami hanya ingin mampir melihat pertarungan Nona Erfyona dengan Tuan Gerald," jawab Gabriel.
"Pergi kal,-- Sam langsung memperlihatkan mata Dementor nya di hadapan mereka berdua seketika otak mereka menjadi kosong dan linglung.
"Ayo Gabriel." ajak Sam menyelonong masuk ke dalam.
"Hei apa yang barusan lakukan?" Tanya Gabriel sambil berjalan.
"Itu adalah pengendali pikiran, efeknya hanya sementara sebaiknya kita bergegas!" Katanya sambil terus berjalan.
"Emhh!" Angguknya sambil terus berjalan di belakang Sam.
Langkah mereka terhenti kembali saat melihat ada penjagaan ketat di depan sebelum memasuki bangku penonton. Nampak beberapa penonton di cek begitu intens oleh ketua keamanan mulai dari bau, warna mata, sayap, tanduk, suara, perilaku, dan yang lainnya.
"Gawat, sembunyi!" Ucap Sam langsung menarik tangan Gabriel ke belakang dinding.
"Kenapa, kau kan bisa menggunakan cara yang sama 'kan?" kata Gabriel.
"Tidak, disini sangat ramai mustahil menggunakan cara itu kembali. Aku bisa saja melewati komandan keamanan itu, tetapi kau tidak!" Kata Sam.
"Kenapa hanya kau yang bisa dan aku tidak?" Tanya Gabriel penasaran.
"Komandan yang di tengah itu dia bisa dengan mudah mencium bau bangsa Archangel, walaupun pada umumnya Iblis biasa bisa melakukannya tetapi dia lebih sensitif lagi kalau soal bau. Mungkin aku sudah melakukan perubahan padamu tetapi tetap saja, aroma murni mu tidak bisa dinetralkan hanya dengan mengucapkan mantra," jelasnya.
"Jadi apa rencana mu untuk menyusup ke dalam, aku yakin di dalam masih banyak lagi komandan sepertinya?" Tanya Sam.
Gabriel diam sesaat memikirkan strategi yang tepat untuk menyusup diam - diam tanpa harus membuat keributan.
"Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu komandan itu mengarah kemari." kata Sam.
"Baiklah, sudah ku putuskan!" Katanya.
"Bagaimana, apa strategi mu?" Tanya Sam kepo.
"Begini, aku akan menciptakan penyusup dari mayat prajurit yang aku bunuh untuk ku gunakan mengelabui para komandan tersebut. Setelah mereka mengejar bersama para pasukannya dan sepi, aku akan menyusup ke dalam," katanya menjelaskan.
"Bagus! Aku bahkan tidak memikirkannya," puji Sam.
"Kalau semisal aku nanti ketahuan gunakan cara kedua, panggil lah salah satu hewan peliharaan mu untuk mengalihkan perhatian supaya kita bisa kabur," imbuhnya.
"Baiklah, semoga berhasil!" Kata Sam kemudian mereka berpencar.
Sam masuk melihat pertempuran tersebut sedangkan Gabriel pergi untuk mencari dimana Motty di kurung. Dia mencoba menelusuri setiap lorong dan ruangan, jika dia bertemu prajurit biasa maka dia akan membuat alasan.
"Hei kau berhenti!" Teriak salah satu prajurit kepada Gabriel.
"Mau pergi kemana kau!" Teriaknya.
"Ehehehe aku ketahuan!" Sambil menggaruk kepalanya.
"Sheeet!" Gerakan Gabriel sangat cepat tiba di belakangnya dan menyayat leher Iblis tersebut hingga mati.
"Arrrkkgh!" Teriaknya.
Seketika Gabriel menghidupkannya kembali dengan bentuk Iblis serba hitam.
"Suara apa itu tadi!" Kata Prajurit lain yang mendengar teriakan tersebut.
"Penyusup!" Teriak Gabriel mengelabuhi mereka dan seketika langsung bersembunyi di balik tembok.
"Itu dia, Kejar!" Para prajurit itu mengejar mayat buatan dari Gabriel barusan, semua berjalan seperti apa yang dia rencanakan.
"Huarkghh!" Teriak para prajurit yang dibunuh cepat oleh Gabriel tanpa meninggalkan bercak darah sedikitpun.
'Ayolah dimana kau Motty? Aku datang menjemputmu.' Katanya dalam hati sambil berlari mengecek setiap ruangan.
"Cting! Ctingg!"
"Huarrghh! Arrkhghh!" Teriak para prajurit terbunuh.
Dia terus berlari bergegas cepat menemukannya,
Ia telah melewati berbagai lorong di dalam Istana tersebut tapi belum mendapatinya. Pada saat melewati lorong terakhir dia merasakan keanehan, di sekelilingnya penuh dengan hiasan dan berbagai lukisan indah terpajang di dinding.
'Lorong ini sedikit berbeda dengan yang sebelumnya, banyak sekali hiasan dan patung - patung indah tertata rapi disini... Jangan - jangan ini!,-
Seketika langkah kakinya dia berhentikan, karena melihat seseorang keluar dari suatu kamar. dia segera sembunyi ke balik dinding sambil sedikit mengamatinya.
"Motty kau tidak boleh keluar dari sini, ingat kata Ibumu ini, bukannya Gabriel menyukai wanita yang patuh dan penurut!" Kata wanita tersebut sambil menutup pintu.
"Iya, aku paham Bu!" Kata Motty dari dalam.
Ternyata Lorong itu adalah lorong utama untuk jalan menuju ke berbagai ruangan penting di Istana tersebut. Termasuk lorong menuju kamar para keluarga Lucifer.
'Suara itu? ... Motty! ... Akhirnya aku bisa kembali mendengar suaramu, setelah lima puluh tahun penuh kehampaan.' kata Gabriel dalam hati senang sekali.
'Tidak ku sangka kau masih sama seperti dulu dan tidak pernah berubah, aku ingin melihat seperti apa kamu sekarang!' sambungnya berharap tidak sabar ingin bertemu.
'Gawat dia mengetahui ku! Kalau aku melawannya bisa memakan waktu yang cukup lama, belum lagi nanti kalau anggota keluarganya yang lain datang membantunya.' pikirnya.
Kemudian Gabriel merubah mayat Iblis tadi menjadi bangsa Archangel kemudian memberinya cukup kekuatan untuk bisa berlari sangat cepat dan gesit.
"Disana kau rupanya, mati lah kau!" Teriak Geilla dengan berubah ke mode Iblisnya sambil berlari sangat cepat mengejarnya.
"Wushshhh!" Hembusan angin kencang dari kecepatan Geilla mengenai Gabriel.
"Itu tadi cepat sekali, bahkan kecepatannya hampir sama denganku!" Katanya terkejut kaget.
'Ya sudahlah, setidaknya sudah tidak ada lagi orang yang menjaga ruangan tersebut, (melihat ke belakang sambil terus berjalan mendekati kamar Motty) aku jadi tenang sekarang sudah tidak ada lagi yang,- Gabriel kaget setengah mati saat memalingkan wajahnya ke depan dan melihat ada Erfyona di depannya setelah keluar dari kamar Motty.
Kedua mata mereka terbelalak saling terkejut. Erfyona menatapnya dengan wajah merah merona sangat malu dan gugup.
'Dia cantik sekali, merah matanya indah sekali, rambutnya hitam berkilau panjang, Siapakah bidadari yang tersesat ini?' Tanya Gabriel dalam hatinya sangat terkagum oleh kecantikan Erfyona.
Kemudian dia merasakan ada air yang menetes di antara mulut dan kedua lubang hidungnya, dia langsung mengusapinya.
'Ahh ini! ... Dia terkejut melihat noda darah ditangannya bekas mengusap lubang hidungnya karena saking terkesan oleh kecantikan Erfyona yang luar biasa.
"M-maaf Nona, sepertinya aku tersesat prajurit tadi itu bilang toilet ke arah sini, aku jadi bingung." sambil menggaruk kepalanya salah tingkah.
'Bau ini? Archangel. Gabriel! Ah dia pasti Gabriel, jadi dia beneran menepati janjinya.' duga Erfyona dalam hati sambil menatapnya.
"Ahh ha ha iya tidak apa-apa, toiletnya di belakang. nanti kamu belok saja ke kanan." Berpura-pura baik dan bodoh sambil menunjukan arahnya.
Seketika darah mengucur kembali dari kedua lubang hidungnya, "T-terima kasih Nona," katanya salah tingkah karena gugup ada wanita cantik di hadapannya.
waktu Gabriel hendak berjalan pergi, "Pleeek!" Tangan Erfyona menepuk bahu Gabriel menahannya sejenak.
"Tunggu," Kata Erfyona pelan.
'Ah!' kata Gabriel terkejut.
"Kamu kemari untuk menjemput Motty, benarkan ... Gabriel?" Tanya Erfyona di dekat telinganya.
"Ah!" Katanya terkejut sampai melotot kedua matanya.
"Jduug! Jduuug!" Suara detak jantung Gabriel keras terdengar saking kagetnya.
"Sreek," lirik Erfyona ke bawah melihat Gabriel mulai mengeluarkan pedangnya dari sarung dengan jari jempolnya.
"Apakah kau akan menghalangiku?" Tanya Gabriel sedikit merasa takut karena merasakan aura kekuatannya yang sangat kuat.
"Tidak, aku hanya menduganya saja lagian aku juga tidak punya banyak waktu untuk melawan mu di sini. Adikku ada di dalam kalau kau memang mencarinya," kata Erfyona dingin kemudian berjalan pergi.
"Tunggu!" Teriak Gabriel kepada Erfyona.
"Emh!" Menghentikan langkah kakinya tanpa berbalik dan menoleh.
"Kenapa kau bisa dengan mudah percaya padaku? Aku bisa saja membunuh adikmu, Aku ini musuh mu! " Tanya Gabriel penasaran.
Ia hanya tersenyum dan menjawab, "Cinta. kamu mencintainya bukan? ... Motty tidak akan memaafkan ku jika aku sampai melukaimu. Ia bilang suatu saat kau akan datang menepati janji dan sekarang kau menepatinya, aku pikir itu sudah menjawab keraguanku padamu." Balas Erfyona dan lanjut berjalan pergi.
'Dia itu! (Sambil melotot kaget mendengar jawabannya yang mengharukan) hatinya seperti Malaikat! Hanya saja dia terjebak di keluarga Iblis' katanya dalam hati sambil melihatnya berjalan pergi.
"Sreeggh! Jduug!" Gabriel mulai membuka pintu kamarnya.
Nampak Motty sedikit gelap tengah duduk di atas ranjangnya sambil merunduk kebawah.
"Motty!" Panggil Gabriel pelan.
"Uh!" Motty terkejut mendengar suara tersebut.
'Suara itu!' Dia langsung menoleh ke arah Gabriel perlahan matanya terbuka lebar sangat kaget mengetahui di depannya beneran Gabriel.
"Gabriel?" Katanya lirih terkejut tak percaya, lelaki yang selama ini dia tunggu akhirnya datang.
"Aku datang untuk menepati janjiku, Motty." Katanya yang berdiri di tengah pintu.
Motty langsung bangkit dan berlari ingin memeluk Gabriel, dia menyambut Motty dengan pelukan hangat.
"Bagaimana kabarmu Motty? Kamu jadi tambah cantik sekarang," puji Gabriel sambil membelai rambutnya di pelukannya.
"Aku ... aku senang sekali Gabriel ternyata kau masih setia padaku ...hiks... hiks!" Katanya sambil menangis bahagia di pelukannya.
Motty senang sekali melihat Gabriel tiba di hadapannya, yang seketika dipeluknya begitu erat dan tubuhnya tak ingin melepasnya lagi. Akhirnya kesabarannya dan kepercayaannya selama ini membuahkan hasil yang manis.
"Sekarang ikutlah denganku, aku akan menikahi mu dan menjadikanmu seorang Ratu di kerajaan ku." Katanya menatapnya dalam.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Kakak ku sendirian di sini," Katanya dengan nada sedih.
"Kakakmu memang orang yang baik, aku tadi sempat bertemu dengannya di depan, kelak aku juga akan membawanya pergi dari sini dan berkumpul bersama kita." kata Gabriel berusaha menenangkan hatinya.
"Benarkah!" Dengan ekspresi senang sekali.
"Tentu saja! Aku tidak akan membiarkan wanita sebaik dia terkurung disini!" Katanya.
"Sekarang ayo kita pergi, kita tidak punya banyak waktu lagi!" hendak bangkit berdiri dan menarik tangan Motty.
"Emhh!" Kemudian mereka berdua bergegas pergi melarikan diri keluar dari Lockheim Kingdom.