The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 24 ~ Kerusuhan dan tamu tak terduga ( Ga Man To Last Part)



Setelah sampai di toko wanita tersebut, Gill langsung dipersilahkan duduk sambil menunggu obatnya selesai dibuat. Setelah cukup lama menahan rasa sakit di perutnya, akhirnya obatnya selesai di racik dan sampai di hadapannya. "Ini Tuan, maaf membuat Anda menunggu." menaruhnya di meja depannya.


Gill langsung menerimanya dan langsung meminum ramuan itu tanpa sepatah kata pun. "Ahh! Terima kasih Bi." Dengan wajah puas merasa senang.


"Sama-sama Tuan, saya senang bisa membalas jasa Anda. Kalau boleh saya tahu, ada urusan apa Anda turun ke dunia ini?" Tanya wanita tersebut.


"Maksud Bibi?" Tanya Gill balik bingung dengan maksud ucapannya.


"Maaf maksud saya, Tuan kan seorang bangsa Dementor. Jarang sekali seorang seperti Anda ini turun ke bumi kecuali ada hal besar yang akan terjadi." jelasnya.


"Aku hanya kebetulan lewa saja dan kulihat desa ini begitu ramai, jadi aku memutuskan untuk mampir sejenak melihat apa yang terjadi." jawab Gill.


"Dementor itu apa Bu?" Tanya putrinya penasaran di sampingnya.


"Suatu saat kamu juga akan mengetahuinya," jawab Ibunya dengan senyum di wajah sambil mengelus kepalanya.


"Alhamdulillah rasa sakitnya sudah mulai berkurang. Bagaimana bibi tahu penyakit yang saya derita?" Tanya Gill penasaran.


"Itu karena ... (tiba-tiba terdengar suara perut Gill yang keroncongan) Wah suara apa itu?" Sedikit menggodanya.


Gill langsung merunduk malu sambil menggaruk kepalanya salah tingkah. Wanita itu tersenyum kemudian bangkit berdiri dan pergi sejenak, tak berapa lama dia datang kembali dengan membawa sebuah makanan ditangannya. "Ini Tuan. Silahkan." Sambil menaruh makanan tersebut di depannya.


Gill hanya diam merunduk malu hendak mengambil makanan tersebut. "Tuan, kenapa Anda tidak mengambilnya satu pun makan di meja ini. Apakah Anda tidak menyukainya?" Tanya wanita tersebut penasaran.


"Tidak, maksudku apakah aku boleh mengambil apa yang bukan milikku?" Tanya balik Gill sedikit gugup dan malu.


Wanita itu membalasnya dengan senyum dan berkata lembut padanya. "Makanlah Tuan. Saya memberikan makanan ini untuk Anda. Anda sedang lapar 'kan?" Katanya meyakinkan Gill.


Dengan sedikit malu-malu ia mulai mengambil roti di depannya. Ia kembali menoleh ke arah wanita tersebut memastikan apakah dia boleh memakannya, wanita tersebut hanya membalas senyum mempersilahkannya. Gill kemudian tersenyum dan mengambilnya tanpa ragu lagi. Waktu dia membuka mulutnya hendak memakan roti tersebut.


"Kyaaaa! Tolong kami!" Teriak para wanita saling berlarian keluar dari tenda pertunjukan dengan takutnya.


Gill langsung bangkit dari duduknya dan kembali meletakan roti tersebut, ia melihat banyak orang berlarian ketakutan. "Iblis. Ada Iblis. Selamatkan diri kalian!" Teriak seorang pria sambil berlari ketakutan.


"Iblis?" Kata Gill terkejut tangannya mengepal keras. Ia langsung bergegas pergi menemui Iblis tersebut.


"Tuan! ... Nak tolong kemasi makanan ini dan kunci semua pintunya. Ibu akan pergi sebentar, kamu jangan pergi kemana-mana ya?" Kata Ibunya.


Ia mengangguk menyetujui apa yang di perintahkan ibunya dan langsung bergegas membereskan makanannya, sementara wanita tersebut lari mengejar Gill masuk ke dalam tenda pertunjukan tersebut. Sesampainya di dalam Gill terkejut melihat Luckas berdiri di atas panggung sedang berdiskusi dengan salah satu Iblis.


"Menyingkir lah dari hadapanku manusia. Jangan membuatku marah!" Bentak si iblis di depan Luckas.


"Saya mengerti Tuan, tapi orang-orang ini tidak lah bersalah mereka hanya bekerja di bidang mereka." bela Luckas sambil melentangkan kedua tangannya.


"Bssst, bsssst!" Kode Gill kepada seorang penonton di sampingnya yang tengah ketakutan. Ia kemudian menoleh dan meresponnya.


"Hei katakan apa yang sedang terjadi?" Tanya Gill lirih kepadanya.


"Iblis itu tidak terima dengan ending ceritanya, ia ingin semua Dementor itu dimusnahkan. Termasuk dia yang memerankan tokoh tersebut. Ia juga ingin mengambil wanita yang memerankan Nona Alin Xaverias dan berniat menjadikannya budak." jelas lelaki itu.


"Karena tidak terima dengan keinginan Iblis tersebut Kepala desa memutuskan untuk naik panggung dan melindungi mereka berdua." Sambungnya.


"Bersalah atau tidak, aku tidak peduli. Kalau kau masih menghalangiku akan kubunuh kau!" Ancam Iblis tersebut.


"Sudah menjadi tugasku untuk melindungi semua rakyatku," jawabnya penuh percaya diri dengan senyum pasrah diwajahnya.


"Baiklah sesali lah keputusanmu!" Jawab Iblis itu marah sekali hendak mengeluarkan pedang dari sarungnya. Waktu Gill hendak berteriak melarang Luckas melakukan hal nekat tersebut tiba-tiba.


"Plak-plak-plak!" Seseorang bangkit dari tempat duduk dan memberinya tepuk tangan, semua pandangan langsung tertuju kepadanya.


"Luar biasa, ending yang sungguh tidak terduga." Ucapnya sambil membuka kerudung jubahnya, semua orang seketika terkejut dan terkesima melihat wajahnya yang sangat cantik.


'Siapa wanita itu? Ceroboh sekali dia.' batin Gill dalam hati.


"Wah-wah lihatlah siapa yang berdiri di sana. Kemarilah Nona! Orang secantik dirimu tidak layak duduk di antara para manusia." Sambung Iblis tersebut.


"Kau tidak berhak mengaturku Iblis buruk rupa." Jawabnya dengan wajah judes.


"Nona sebaiknya kau berhati-hati dengan ucapan mu. Kalau saja kamu tidak cantik, kau sudah habis dari tadi." Kata Iblis tersebut berusaha menahan marahnya kepada wanita tersebut.


"Ouh begitu ... Apa kau bermaksud meremehkan ku? Lagian siapa juga yang meminta belas kasihan mu." Jawabnya dengan nada ejekan dan ekspresi judes, ia malah membuat si Iblis semakin terbakar oleh api amarah.


"Baiklah nampaknya aku harus memberimu sedikit pelajaran agar kau tidak sombong." Kemudian memberi kode kepada teman Iblis-nya yang berdiri di samping tempat duduk penonton untuk menyerangnya.


Dengan sombong dan ekspresi meremehkan dia menghampiri wanita cantik tersebut. "Aku akan sangat menikmati ini Non,-


"Ada apa Iblis laknat, kau bilang ingin memberiku pelajaran. Ayo kemarilah" Ejek wanita dengan sedikit tersenyum meremehkannya.


'Sial tubuhku tidak bisa bergerak!' Pikir Iblis tersebut kebingungan.


"Apa yang kau lakukan membunuh seorang wanita saja tidak becus." Hina temannya dari atas panggung.


Dengan cepat wanita itu menghunuskan pedangnya dan terbunuh lah Iblis itu seketika. Semua orang yang menyaksikan itu kaget dan merasa jijik melihat darah yang berceceran di lantai. Mereka para iblis semakin penasaran dengan identitas wanita misterius ini yang dengan mudahnya membunuh seorang Iblis.


'Siapa wanita ini, sepertinya dia bukanlah seorang manusia. Aku merasakan dia mengeluarkan pengendali pikiran barusan. Aku harus berhati-hati.' Pikir Gill dalam hati waspada terus mengamatinya dari kejauhan.


"Apakah seperti ini kekuatan Iblis yang mampu mengalahkan Dementor dalam cerita tadi? Mengecewakan!" Hina wanita itu kepadanya.


"Lumayan juga kau ternyata (Sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya) tetapi sekarang... Keberuntungan mu sudah habis!" Ia langsung melesat cepat mau menyerang wanita tersebut dan mengangkat pedangnya hendak membunuhnya.


'Cepatnya!' Pikir wanita itu tersebut kaget mengetahui Iblis itu tiba-tiba berada di depannya.


"CTINGG!" Tangkisnya.


Suara bentrokan antara kedua pedang terjadi di sana, karena kuatnya ayunan pedang dari Iblis tersebut membuat wanita itu sedikit terhempas. 'Aku terlalu meremehkannya, dia bukan Iblis biasa seperti sebelumnya.' Pikir wanita sambil terus mengamatinya.


'Dia bukan Iblis biasa. Nampaknya wanita itu akan kesulitan melawannya.' batin Gill dalam hati terus mengamatinya.


"Bagaimana Nona. Apakah kau masih tidak ingin menarik kata-katamu barusan?" Hina Iblis tersebut.


"Kenapa aku harus menariknya kembali, kenyataannya kalian memang seperti itu kan? Aku jadi tidak perlu menahan diriku lagi." Balas wanita tersebut dengan senyum percaya diri. Perlahan wanita itu mulai berubah penampilannya dari yang semula biasa saja menjadi di penuhi oleh aura kekuatannya.


"Bisa kita mulai?" Tanya wanita itu dengan tatapan mulai serius mengambil ancang-ancang untuk menyerangnya.


"Majulah Nona." Jawab Iblis tersebut dengan entengnya.


Mereka berdua melesat cepat mengadu serangannya masing-masing. Pertarungan sengit tak terelakan lagi, mereka berdua bertarung dengan sangat serius saling membunuh satu sama lain. Gerakan mereka sangat cepat untuk ukuran mata manusia.


"Berlindung!" Teriak Luckas kepada para rakyatnya yang masih berada di dalam tenda pertunjukan.


Mereka panik dan langsung berlarian menyelamatkan diri, sementara yang lain masih bandel tidak mau menyia-nyiakan pertunjukan yang sangat bagus tersebut dan memilih diam menyaksikan pertarungan tersebut.


"CTINGG!"


Mereka saling terhempas satu sama lain. Si Iblis mengalami luka yang cukup parah dari duel sengit barusan sedangkan wanita tersebut tidak tergores sama sekali, bahkan jubah yang dia kenakan tidak sobek sedikit pun.


"Dasar J*l*ng! Kau akan membayar untuk ini!" Teriaknya marah sekali sampai melotot kedua matanya.


"Ouhh aku menggores mu ya. Maaf ya aku tidak sengaja." Ejeknya sambil menutup mulutnya tertawa kecil.


"Kau!" Kata Iblis kehabisan kata-kata saking marahnya. Ia kemudian melirik ke arah teman-temannya yang sedang berdiri jauh di sudut ruangan tersebut seakan memberi mereka kode akan melakukan sesuatu sesuai yang telah di rencanakan.


Mereka merunduk mengiyakan apa yang dia kode kan seakan telah mengerti apa yang harus mereka lakukan. 'Apa yang mereka lakukan. Mereka bermaksud mengeroyoknya. Licik sekali!' Pikir Gill menduganya.


Mereka kemudian melesat bertarung kembali sampai tetes darah penghabisan. Seperti sebelumnya mereka bertarung sampai tidak terlihat karena gesitnya, tetapi tetap saja wanita itu dengan mudah menghindari semua serangannya dan kembali menyerangnya dengan mudahnya.


Sementara teman dari si Iblis tersebut mulai melepas jubah mereka masing-masing. Gill terkejut mengetahui semua Iblis itu juga menyamar menjadi Iblis rendahan. Ia kaget para Iblis tersebut memiliki atribut bertarung yang lengkap seperti seorang komandan tempur dalam pasukan perang.


Mereka mengenakan baju zirah yang sangat bagus, Gill yakin itu bukan baju pelindung yang biasa ditambah berbagai macam senjata yang mereka bawa ditangannya. Menunjukan mereka bukan lah dari kalangan Iblis biasa.


'Senjata itu mengeluarkan aura kekuatan yang sangat aneh. Aku belum pernah melihat senjata seperti itu sebelumnya. Jangan-jangan mereka sudah merencanakan ini sebelumnya?' Duganya dalam hati terkejut.


Mereka langsung melesat hendak mengeroyok wanita tersebut dengan cepatnya. "Aku harus segera menolongnya!"dengan cepat Gill melesat keluar dari tempat persembunyiannya hendak menolong wanita tersebut.


Wanita itu terus bertarung melawannya dengan gerakan cepatnya tanpa tahu kalau dia akan di keroyok oleh teman dari si Iblis tersebut. "Sayang sekali Nona Kau telah masuk ke dalam perangkap ku." Katanya dengan senyum senang di wajahnya.


"Apa!" Kata wanita terkejut tersebut terbelalak kedua matanya dan langsung menoleh ke atas.


"NGUUUUUNGGGG!"


Suara tersebut tiba-tiba berdengung dan membuat kepalanya sakit disusul oleh tubuhnya yang mulai mengeluarkan darah dari setiap lubang tubuhnya. Pandangannya menjadi kabur dan tubuhnya menjadi lemas dan sangat berat untuk digerakkan.


Nampak dari atas ada empat orang yang hendak menikamnya dengan senjata yang mereka bawa. 'Senjata itu adalah senjata terkutuk untuk bangsa Archangel. Darimana mereka mendapatkannya? Tubuhku ... Apakah aku akan mati disini.' Kata wanita tersebut dalam hatinya dengan wajah lemas dan mata yang sayup karena mendengar dengungan suara tersebut yang membuat tubuh dan kekuatannya menjadi melemah.


Nampak dari matanya yang sayup ia merasakan seorang tengah memeluk tubuhnya dan sekelebatan sayap biru yang indah melindunginya dari serangan ke empat senjata mematikan tersebut.


"JDUMMB!"


Gill menahan serangan dari ke empat senjata tersebut dengan sayapnya dan membalikkannya sampai mereka terpental. Semua orang terkejut melihat kedatangan Gill yang begitu cepat. Dalam pelukannya Gill menutupi tubuh wanita tersebut dengan kedua sayapnya yang ia lingkarkan sampai tidak ada cahaya dan suara yang masuk ke dalam.


Wanita itu mulai tersadar dan dia terkejut sedang berada di dalam kegelapan. "Kamu tidak apa-apa?" Tanya Gill dalam kegelapan dengan mata biru menyala menatap wanita itu tajam.


"Siapa kamu dan dimana aku sekarang?" Tanya balik wanita tersebut kebingungan.


"Kau tadi sekarat setelah mendengar suara dengungan keras tersebut." Jawab Gill menjelaskan.


'Aku ingat, sebelum aku pingsan aku merasakan seperti ada seseorang yang sedang memeluk tubuhku. Jadi aku di selamatkan olehnya?' Pikirnya tersadar.


"Apakah kamu yang menyelamatkan ku dari keroyokan para Iblis itu? Terima kasih, aku sangat menghargai pertolonganmu. Kalau tidak ada kamu mungkin aku sud,-


"Kamu terlalu gegabah melawan Iblis sebanyak itu sendirian. Kamu terlalu menganggap remeh semua lawan mu. Kau juga tidak memperhatikan sekeliling mu sebelum bertarung." kata Gill menasihatinya.


"Maaf itu semua kesalahanku. Aku akan lebih berhati-hati lagi." Jawabnya.


"Baiklah aku mengerti, bisakah kau membantuku membuat mereka berdarah?" Tanya Gill.


"Ini akan sedikit sulit bagiku melihat mereka membawa senjata yang merupakan kelemahan ku, tetapi aku akan mencobanya." Katanya.


"Bagus. Apakah kau sudah siap?" Tanya Gill memastikannya.


"Emhh! Angguknya dengan hati yang mantab. Perlahan Gill membuka kedua sayapnya kembali, sementara wanita itu bersiap-siap sambil menutup kedua telinganya dengan sebuah sobekan kain.


'Dia! Bukankah dia yang bersama paman Luckas tadi?' Kata Olivia wanita pemeran Nona Alin Xaverias di belakang Luckas.


"Dia adalah Dementor yang asli!" Sambung pemeran Dementor tersebut terkejut terbelalak kedua matanya melihat Gill berdiri di depannya.


Gill menoleh ke arah Luckas dan memberinya sedikit senyum, sontak mereka bertiga langsung membungkuk memberi hormat padanya.


'Dia masih remaja tapi sudah bisa mengeluarkan sayap sekuat ini. Ia juga sangat tampan berbeda sekali dengan Dementor yang pernah aku temui selama ini. Vergile ya, nama yang menarik.' Kata wanita misterius tersebut kagum melihat Gill berdiri gagah dengan sayapnya.


Gill kemudian menoleh ke arah wanita tersebut dan mengangguk mengajaknya memulai rencana yang telah dia katakan sebelumnya. Wanita itu pun mengangguk menyetujuinya, mereka berdua serempak bergerak maju bersama memulai pertarungan.


"Bunuh Dementor itu, jangan biarkan dia kabur!" Perintahnya kepada keempat temannya.


Mereka bertarung sangat gesit dan lincah, suara adu pedang riuh di pertarungan kali ini. Mereka saling bantu satu sama lain dan saling melengkapi gerakan mereka yang lemah. "Satu sudah ku lumpuhkan sesuai permintaanmu. Satunya lagi aku sedikit kesusahan melawannya!" Kata wanita tersebut menempel di belakang tubuh Gill bersebrangan arah.


"Bagus, sisanya serahkan padaku." Jawab Gill.


Mereka sepakat bertukar lawan dan lanjut kembali bertarung. Si pemeran Dementor yang melihat Gill bertarung tanpa senjata merasa ada yang kurang darinya, karena biasanya Dementor yang ia perankan selalu membawa senjata. Akhirnya dia memutuskan untuk mencarikan Gill sebuah senjata untuk membantunya membunuh para Iblis tersebut.


Setelah lama mencari tak sengaja dia melihat pedang tergeletak di atas panggung dan masih terbungkus sarungnya. Ia kemudian mengambilnya dan memberikannya kepada Gill.


"Tuan terima ini!" Sambil melemparkan pedang tersebut pada Gill.


Gill langsung menerimanya, tanpa sadar di depannya musuh sedang mengangkat tombaknya bersiap hendak memukulnya. Dengan cepat ia langsung membuka pedangnya dan menahan serangannya dengan pedang tersebut. Di luar dugaan pedang yang Gill gunakan tersebut dengan mudahnya di patahkan oleh tombak tersebut.


Akhirnya pipinya tergores oleh mata tombak tersebut karena terlambat menghindar. 'Bangsat pedang ini!' Pikirnya marah langsung menoleh ke arah orang yang memberikan pedang ini.


Si pemeran tersebut langsung sembunyi di belakang Luckas dengan sedikit senyum malu. "Maafkan aku Tuan, aku hanya ingin membantumu, aku tidak tahu kalau pedang itu adalah properti pertunjukan." Katanya lirih malu menampakan wajahnya.


Gill kemudian mengepalkan tangannya dan memukul wajah Iblis tersebut hingga berdarah hebat seperti yang dia lakukan kepada Iblis sebelumnya di luar. "Aku sudah melumpuhkannya. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Tanya wanita tersebut.


"Baiklah saatnya aku beraksi!" Jawab Gill dengan percaya diri.


"Maksudmu?" Tanya wanita tersebut kebingungan.


"Blood Vengeance!" Gill mengaktifkan jurus mematikan miliknya dengan membangkitkan mata Jenderal Iblis-nya.


'Mata itu! Dia bukanlah seorang Dementor biasa. Bahkan waktu Sam mengamuk dulu, matanya tidak seperti ini. Siapa dia sebenarnya?' Pikir wanita tersebut penasaran sambil terus memperhatikannya.


Tubuh para Iblis tersebut menjadi kaku tidak bisa digerakkan dan melayang di udara, darah mereka keluar dari setiap lubang tubuh mereka. Iblis-iblis tersebut ketakutan melihat darah mereka terus keluar dari tubuhnya, mereka tahu kalau akan mati dengan siksaan.


"Hoey apa yang akan kau lakukan pada kami!" Teriak si Iblis yang telah dikalahkan oleh wanita tersebut sebelumnya.


Tetapi Gill hanya diam dan terus melanjutkan siksaannya. Setelah darah yang keluar di rasa cukup, ia langsung melepaskan kendali pikirannya kepada tubuh para Iblis tersebut. Tubuh mereka keriput kering karena banyaknya darah yang diambil sampai membuatnya lemas tidak bisa berdiri.


"Larilah. Larilah seperti pengecut. Ketahui lah kalau bangsa kalian adalah yang paling lemah!" Hina Gill pada mereka.


Dengan hina nya mereka berusaha kabur dengan cara merangkak di lantai tidak berdaya. "Awas saja kau! Kami akan membalas perbuatan mu." Ancam salah satu Iblis tersebut.


"Kalau begitu aku berubah pikiran. Kalian akan ku binasakan di sini!" Teriaknya marah sekali.


"Mati lah kalian makhluk terkutuk! Blood Weapons: Sword of Death." Sambungnya mengeluarkan jurus baru dari elemen yang sama.


Darah yang tadi terkumpul barusan berubah bentuk menjadi empat buah pedang panjang merah menyala yang langsung melesat menusuk tubuh para Iblis tersebut.


"Aku kembalikan lagi darah kalian. Berterima kasih lah padaku." Hina Gill pada mereka.


Pedang tersebut kemudian mencair kembali menjadi darah dan masuk kembali ke tubuh mereka bercampur dengan darah mereka yang lain. Mereka berteriak merasakan sakit yang luar biasa dari jurus Gill barusan. Para penonton yang masih berada di tempat tersebut sampai memejamkan mata tak kuat melihat kesadisan Gill.


Tubuh mereka mengeluarkan asap dari setiap lubang. Darah dari bentuk pedang tersebut ternyata bukan darah murni lagi dan telah bercampur dengan api yang membakar. Tubuh mereka menjadi hitam gosong efek dari darah tersebut, akhirnya mereka mati dengan tubuh keriput dan luka bakar yang sangat dahsyat.


Setelah selesai membunuh mereka para Iblis, tiba-tiba tubuh Gill sangat lemas dan memudar lah wujud gagah Dementor nya itu. Ia sampai jatuh berlutut di lantai tak kuat menahan tubuhnya yang berat saking lemasnya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya wanita tersebut langsung menghampirinya dan menahan tubuhnya yang hampir roboh.


"Tuan!" Kata Luckas khawatir langsung menghampirinya di ikuti dua orang pemeran pertunjukan tersebut di belakangnya.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Gill lirih pada wanita misterius tersebut.


"Aku tidak apa-apa, tapi bagaimana denganmu?" dengan air mata yang hampir menetes terharu karena semua pengorbanan Gill padanya.


"Kamu adalah Dementor yang paling baik dari semua yang pernah aku temui." Pujinya haru pada Gill.


"Siapa nama mu? Kau memiliki wajah yang elok. Aku belum pernah melihat wanita secantik dirimu." Puji Gill pada wanita tersebut.


"Iya aku juga belum pernah melihat wajah secantik ini sebelumnya. Wajah Nona sangat asing bagi kami, aku pernah bertemu wanita tercantik dari bangsa manusia. Tetapi cantiknya Nona ini lain dan berbeda dari kami bangsa manusia. Siapa Nona ini sebenarnya?" Sambung wanita pemeran Alin Xaverias dengan tatapan serius.


Wanita itu kemudian mengusap air matanya yang hampir menetes dan menjelaskan semuanya. "Kamu juga cantik, kamu cocok sekali memerankan diriku." Jawabnya.


Seketika mereka semua terkejut mendengar jawabannya "Jangan-jangan Anda adalah ...


Wanita itu bersinar berubah wujud menampakan jati dirinya yang sebenarnya. Dengan mahkota dan sayap khas bangsa Archangel yang indah. Ia merupakan wanita tercantik di bangsanya namanya adalah Alin Xaverias posisi tiga bidadari surga.


Semua orang ada di situ terperangah kaget tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk mengungkapkan kecantikannya tersebut. Mereka hanya bisa bilang "Sempurna" yang mewakili rasa kagum luar biasa dari dalam hati mereka masing-masing.


"Apakah ini mimpi? Di hadapanku ini adalah sosok besar yang sedang aku perankan saat ini." Kata Olivia terkejut setengah mati.


"Tidak, kamu tidak sedang bermimpi. Raihlah tanganku!" Ucapnya lembut kemudian menyodorkan tangan di depannya.


Olivia dengan sedikit ragu tidak percaya berusaha meyakinkan kembali dirinya dengan memberanikan diri menyentuh tangannya. 'Tangan beliau halus sekali, sangat putih bercahaya. Sekarang aku percaya kalau orang ini adalah Dia.' Katanya dalam hati mantab.


"Nona, kenapa Anda sampai rela datang ke desa terpencil seperti ini?" Tanya Luckas selaku kepala desa.


"Aku hanya ingin merubah sudut pandang kalian dari doktrin-an para Iblis Tirani yang menganggap kami bangsa Archangel adalah bangsa Legenda dan menganggap bangsa Dementor sebagai musuh abadi" Jawabnya.


"Kami bangsa Archangel bukanlah mitos atau legenda. Kami memang ada dan bersembunyi di antara kalian para manusia, kita hidup berdampingan di bawah Tuhan yang sama." Sambungnya menjelaskan tujuannya.


"Luckas!" Panggil seseorang mengagetkan mereka seisi ruangan.


"Livia?" Jawab Luckas terkejut.


'Dia kan wanita yang tadi, sayang sekali aku belum sempat melahap roti tersebut. Kini aku benar-benar menyesalinya.' Kata Gill dalam hati murung.


"Luckas, siapa gerangan perempuan cantik ini?" Tanya Livia sambil terus memperhatikan Alin yang sedang berdiri dengan anggunnya.


"Beliau adalah Nona Alin Xaverias. Perkenalkan Nona dia Livia Rosalina, Istri saya." Kata Luckas memperkenalkan keduanya.


"Senang bertemu dengan Anda Nona Alin Xaverias. Saya tidak percaya ini beneran Anda yang sedang berdiri di antara manusia." Kata Livia memberinya salam hormat.


Alin tersenyum ramah "Senang juga bisa bertemu dengan mu Livia. Aku datang karena memiliki kepentingan di sini." Jawab Alin.


"Luckas remaja yang kau bawa ini, dia adalah,-


"Aku sudah mengetahui semuanya Livia, dengan kehadiran mereka berdua di sini dan sikap yang telah mereka lakukan pada kita semua menunjukan kalau asumsi kita kepada mereka selama ini salah." Sahut Luckas.


"Panggil semua warga untuk berkumpul di sini. Ada hal penting yang perlu mereka dengar." Perintahnya pada Livia.


"Permisi Nona!" Kemudian Livia pergi keluar mengumpulkan para warga.


Tak berapa lama para warga mulai berdatangan. Kebanyakan dari mereka terkejut melihat kecantikan Alin Xaverias yang terpancar indah. "Siapakah wanita itu. Seumur hidup baru kali ini aku melihat wanita secantik ini." Kata salah satu warga kepada temannya.


"Iya kau benar. Dia sangat berbeda dari semua wanita cantik yang pernah kita temui." jawab temannya tak mengalihkan pandangannya dari wajah Alin Xaverias.


Sedangkan para warga yang lain sampai tersandung jatuh tersungkur karena tidak melihat jalan dengan benar dan tetap tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Alin Xaverias. Sedangkan para wanita, mereka juga mengaguminya sebagai sosok perempuan yang sejati.


"Hei bukankah anak itu?" Kata salah satu warga yang melihat Gill yang sedang tergeletak lemas di lantai panggung.


"Dia adalah Dementor yang membunuh Iblis pengacau di luar tadi kan?" Sambung temannya yang juga melihatnya.


Sementara para wanita remaja yang melihat aksi Gill baik di luar maupun di dalam merasa kagum padanya dan mulai mengidolakannya sebagai seseorang yang sangat keren.


"Dia itu sangat keren sekali kan tadi?" Tanya seorang remaja wanita pada teman di sampingnya berkerumun bersama menggosipkan ke gagahan Gill barusan.


"Iya dia sangat keren sekali. Apakah kau tau siapa namanya?" Tanya teman wanitanya.


"Aku tidak tahu, bagaimana kalau kita tanya langsung kepadanya." Sahut temannya yang lain.


"Bodoh ya kau ini, mana mungkin dia mau berkenalan dengan wanita seperti kita." Sahut temannya yang lain.


Mereka sangat mengagumi aksi heroik dari Gill barusan, saking nge-fansnya dengan Gill mereka sampai berteriak tidak jelas. Mereka hanya bisa mengaguminya dari jauh bersama teman-temannya dan hanya bisa menghalusinasi diri mereka sendiri tanpa berani mengungkapkan rasa suka mereka pada Gill.


Tak berapa lama Livia juga telah kembali dengan putrinya. "Apakah semuanya sudah berkumpul?" Tanya Luckas padanya.


"Sudah, silahkan Anda mulai Nona." Jawabnya.


"Teman-teman mohon perhatiannya sebentar!" Kata Luckas meminta para warga untuk diam mendengarkan perkataanya sebentar dan memfokuskan pandangan mereka padanya dari yang semula ke Alin Xaverias. Mereka kemudian diam dan mulai menyimak apa yang akan di katakan oleh Luckas selaku kepala desa Kaname.


"Begini teman-teman, tujuanku mengundang kalian berkumpul di sini adalah untuk membenarkan pandangan dan asumsi kita selama ini kepada mereka berdua yang salah."


"Di depan kalian ini sudah berdiri perwakilan dari bangsa yang kalian anggap ragu dan yang kalian benci tersebut. Mereka adalah Tuan Vergile dari bangsa Dementor dan Nona Alin Xaverias dari bangsa Archangel!" Kata Luckas menjelaskan.


"Wah benarkah itu!"


"Dia beneran dari bangsa Archangel!"


"Aku sudah menduganya kecantikannya itu bukan berasal dari bangsa manusia!" Kata para warga saling sahut menyahut terkejut mengetahui jati diri mereka berdua.


"Jadi lelaki itu namanya Vergile! Nama yang sangat bagus bukan kah begitu teman-teman?"


"Kyaaah! Tuan Vergile keren sekali!"


Timpal para gadis yang mengidolakan Gill.


"Teman-teman mohon perhatiannya sebentar! (Kemudian mereka semua kembali diam dan menyimak apa yang akan dia katakan selanjutnya) Nona Alin akan menyampaikan kebenarannya kepada kalian semua. Mohon untuk di dengar dan di simak baik-baik." Kata Luckas.


"Silahkan Nona." Kata Luckas mempersilahkannya.


Alin sedikit berjalan maju ke depan menghampiri para warga berniat memperjelas pidatonya agar informasi yang akan dia sampaikan bisa dengan jelas di dengar oleh para warga desa Kaname sehingga tidak terjadi salah paham atau Miss komunikasi. Ia berdiri dengan anggunnya menghela nafas panjang untuk memulai pidatonya...