
Di tengah jalan mereka berdua tidak sengaja berpapasan dengan Stacia yang pada saat itu tengah membuka pintu kamarnya, karena kebetulan tempat yang mereka tuju lewat di depannya. Stacia yang melihat Gill di depan matanya sontak merasa terkejut "Kau!" ucapnya kaget.
"Kamu,- belum selesai Gill berbicara tiba-tiba Stacia langsung mengarahkan pedangnya ke leher Gill dengan mata pedang yang menempel pada kulit lehernya.
"Mau apa kau datang kemari. Hanya karena tidak ada Tuan Azazeal kau pikir aku akan takut padamu?" Ancam Stacia dengan lirikan mata yang tajam.
'Wanita ini agresif sekali, apa yang sebenarnya terjadi di sini?' batin Alin penasaran melihat hal yang terjadi di depan matanya.
"Aku tidak punya niat jahat, Turunkan senjata mu. Aku datang dengan baik-baik." ucap Gill dengan senyum.
"Apa kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu?" ujar Stacia mengancam balik sambil menekan pedangnya lebih dalam.
"Sungguh, aku datang untuk meminta maaf atas perbuatanku yang kelewatan. Aku tahu kata maafku ini sudah terlambat dan tidak ada artinya lagi untuk mu." kata Gill berusaha meyakinkannya dengan kerendahan hati.
"Sayang sekali tapi memohon pun tidak akan bisa mengembalikannya,- belum selesai Stacia berbicara Gill langsung menggenggam erat pedang tersebut hingga membuat telapak tanganya berdarah. Ia kemudian menurunkan pedang tersebut di dada dan mengarahkannya tepat ke arah jantung.
Hal itu sontak membuat Stacia terkejut "Apa yang kau lakukan bodoh?" ucap Stacia sedikit waspada.
"Jangan lakukan itu Gill, dia bisa saja membunuh mu!" ucap Alin khawatir melihat aksi nekartnya.
Gill tersenyum "Pedang mu bergetar seolah kau masih mempertimbangkan tindakan mu ini, Benar kan?" ucapnya menduga.
Mendengar itu raut wajah Stacia mendadak berubah, ia penasaran bagaimana bisa Gill menebak perasaannya, "Jangan sok tahu. Kau makhluk yang tidak punya hati, tau apa kau tentang perasaan!" ucap Stacia mengelak sambil meneteskan air mata.
"Kau hanyalah pendatang, asal kau tahu Sam itu lebih berguna daripada kamu yang hanya seorang bocah naif,-
Alin terkejut saat mengetahui Gill lah yang telah membunuh Sam 'Apa, sejak kapan Gill membunuhnya!' batinnya terkejut.
"Sam adalah utusan terbaik Tuan Azazeal, ia belum pernah gagal menjalankan misi sebelumnya. Dia adalah sosok yang,-
"Aku tahu itu. Aku bukan orang yang cocok untuk di sandingkan dengannya." potong Gil mengejutkannya, membuat Stacia terdiam.
'Gill' gumam Alin dalam hati merasa kasihan padanya.
Perlahan Stacia menurunkan kembali pedangnya merundukan kepala merasa bersalah, ia terdiam dengan hati yang gundah bingung hendak mengambil keputusan apa.
"Katakan pada mereka aku akan berusaha menghidupkan Sam kembali. Aku berjanji tidak akan kembali lagi ke sini jika urusanku sudah selesai." sambung Gill membuat Stacia baper.
Gill kemudian pergi tanpa sepatah kata "Kau pasti tidak akan percaya dengan apa yang anak itu lalui. Kamu mengertikan beban berat seorang pelayan dan sekarang kau menambah bebannya lagi. Percayalah saat ini Gill sedang berusaha menenangkan badai seorang diri." ucap Alin memberitahunya sedikit tentangnya.
"Apakah aku salah meminta keadilan padanya?" tanya Stacia pelan bimbang.
"Tanyakan saja pada dirimu sendiri, bagiku itu adalah hal paling egois yang pernah aku dengar. Menyuruhnya menghidupkan makhluk yang sudah mati itu sama saja dengan kau harus membunuh Tuhan." jawab Alin kemudian pergi meninggalkannya.
Setelah sampai di tempat Sanctuary. "Sanctuary Dragon Lord ini adalah kali pertama kita bertemu." ucap Gill menyapanya sambil berjalan mendekatinya.
"Si pembunuh Sam. Berani sekali kau menginjakan kaki di wilayah ku." jawabnya.
"Tenang lah aku sudah jinak, tidak seperti dulu." jawab Gill santai.
"Sebaiknya kau segera pergi, jika tidak ingin mati terpanggang di sini!" ucapnya mengancam Gill.
"Aku akan pergi jika kau mau menjawab pertanyaanku." ucap Gill mengajukan banding.
"Untuk apa aku menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut kotor mu." jawabnya menolak.
"Aku butuh bantuan mu agar misi yang diberikan oleh Tuan Azazeal bisa berjalan lancar, jadi aku minta kerjasama mu." ucap Gill memohon secara baik-baik.
"Jika kau tak mampu menyelesaikan misi yang diperintahkan, sebaiknya kau berhenti dan pergilah dari sini. Percuma saja jika kau,-
"Apakah benar Naga Ragnarok itu ada?" potong Gill bertanya terus terang secara serius.
Ia sontak terkejut bagaimana mungkin Gill yang merupakan pelayan baru bisa mengetahui kejadian yang lampau "Untuk apa kau menanyakan hal itu, ada atau tidaknya juga enggak ada urusannya dengan mu." jawab Sanctuary kekeh tidak ingin memberitahunya.
"Jawab pertanyaan ku." Tanya Gill sekali lagi.
"Kalau memang ada kau mau apa, hanya karena kau mampu membunuh Sam bukan berarti kau bisa mengalahkanya. Hai bocah bodoh, Naga itu memiliki kekuatan yang dahsyat di atas Guardian." Jawabnya.
"Katakan padaku, dimana Naga itu berada." ucapnya serius bertanya.
"Aku tidak akan memberitahu mu. Saat ini Tuan Azazeal hanya memilikimu sebagai pion pengganti Sam. Jika kau mati tak ada lagi pion yang akan bergerak di bagian depan." jawabnya.
"Bagus lah jika kau mengerti, tapi aku tetap akan pergi karena aku membutuhkan kekuatan Ragnarok untuk meratakan Underworld." ucap Gill kekeh dengan keinginannya.
"Kau membuatku merasa muak, sebaiknya kau pergi tidak ada jawaban yang akan kau dengar di sini." perintahnya.
"Jika kau memang mengerti posisiku lalu kenapa kau tidak mau membantuku, bukan kah tadi kau bilang kalau kau adalah Raja dari para Naga. Atau jangan-jangan kau takut berhadapan dengan, -
"Aku tidak pernah takut berhadapan dengan siapa pun. Kau jangan meremehkan ku. Aku hanya tidak ingin berurusan dengan masalah orang lain. Tugasku di sini menjaga Orion!" potong Sanctuary tegas.
Gill langsung terdiam setelah mendengar ucapannya itu, dalam hati ia merasa kecewa karena kedatangannya tak membuahkan hasil sedikitpun. Ia berbalik dan berkata, "Asal kau tahu aku benar-benar membutuhkan informasi itu. Aku pikir Orion adalah tempat yang tepat tapi ternyata aku salah." kemudian berjalan pergi.
"Gill dari mana saja kamu,- sapa Alin dari depan pintu masuk Sanctuary.
"Ayo kita kembali, tak ada alasan bagi kita untuk terus berada di sini." sahut Gill sambil terus berjalan.
"Eh..." gumam Alin penasaran melihat sikapnya yang dingin 'Sepertinya dia masih marah karena tidak dihargai di sini.' duganya dalam hati merasa kasihan padanya.
Di depan pintu ruang tahta Gill kembali berpapasan dengan Stacia namun kali ini dia tidak sendiri melainkan bersama dengan Exifilia disampingnya. "Wow kita kedatangan tamu istimewa." sindir Exifilia.
Stacia hanya terdiam karena ia telah bertemu dengan Gill sebelumnya "Ada apa Gill kenapa kau hanya menundukkan wajah mu. Kemana wajah garang mu saat membunuh Sam dulu?" sindirnya.
Gill hanya terdiam mendengar ejekannya tersebut, Alin menyaksikan tangan Gill yang mengepal keras menahan amarahnya setelah mendapat ejekan tersebut. "Sudah Gill ayo kita pergi" ucap Alin lembut sambil menepuk pundaknya pelan.
Mereka berdua kemudian pergi melewati Exifilia dan Stacia, "Apakah kau pikir aku akan membiarkan mu pergi begitu saja?" ucap Exifilia keras.
"Sudah Exifilia, kau jangan menambah masalah." ucap Stacia menasihatinya.
"Diam kamu, anak ini harus kita beri pelajaran. Ini adalah kesempatan yang bagus untuk membayar perbuatannya itu." ujar Exifilia penuh dendam menatap ke arah Gill tajam dengan kuku runcing yang siap mengoyak tubuh musuhnya.
Gil kemudian berhenti membuat Alin bertanya-tanya, "Gill" ucapnya melihatnya berhenti mendadak.
"Boleh aku tahu nama kalian berdua?" tanya Gill kemudian berbalik menatap mereka berdua.
"Hah!" ucap mereka berdua serempak terkejut.
"Biar ku tebak. Kau yang memiliki kuku runcing pasti namamu adalah Helfeany." ucap Gill yakin sambil menunjuknya, "Dan kamu si rambut anggur," beralih menunjuk Stacia.
"Rambut Anggur?" gumam Stacia sedikit terkejut mendengar sebutan dirinya.
"Namamu pasti Acquila, aku pikir itu adalah nama yang indah dan cocok dengan mu." sambung Gill.
"Ha ha ha, lelucon mu ternyata boleh juga." tawa Exifilia sampai air matanya menetes. Ia kemudian menonaktifkan cakar runcingnya dan mengusap air matanya yang menetes.
"Sayang sekali tapi tebakan mu tidak ada yang benar." sambung Stacia sambil sedikit tersenyum.
"Pffft kau itu sok tahu Gill." ejek Alin menertawainya lirih sambil memukul pundaknya dari belakang.
"Eh!" gumamnya malu sambil menggaruk kepalanya.
"Aku adalah Stacia dan jangan pernah menyebutku gadis Anggur!" jawabnya memperkenalkan dirinya.
"Dia adalah Exifilia. Teman dekat Sam, Dementor yang kau bunuh empat bulan yang lalu." sambung Stacia.
"Aku mengaku itu adalah salah ku, tapi aku berjanji akan bertanggung jawab dan memperbaiki semuanya." jawab Gill terus berusaha meyakinkannya.
"Bagaimana caramu memperbaiki hal mustahil seperti itu. Sam itu sudah mati, bagaimana mungkin kau bisa menghidupkannya lagi." ucap Exifilia.
"Entahlah, aku tidak tahu. Tapi aku akan berusaha sekuat yang aku bisa." ucap Gill tegas penuh semangat.
"Apakah kau sungguh ingin menghidupkan Sam lagi untuk kami?" tanya Stacia mengetes keseriusannya.
Tanpa banyak cakap Gill langsung mengeluarkan Arigma dan Egamoosa kemudian ia lempar tepat di depan mereka berdua sebagai bukti kesunggugan hatinya. Exifilia dan Stacia terkejut melihat kedua senjata itu, "Bagaimana bisa kedua senjata ini berada di tangan mu. Jangan-jangan kau juga,- duga Exifilia terkejut.
"Ratu yang memberikannya pada Gill. Beliau menghormatinya dan memberikan kedua senjata ini sebagai bentuk Apresiasi." sahut Alin menjelaskan agar
tidak terjadi kesalahpahaman.
"Kau mengenal Nona Avhriela. Dimana dia sekarang?" tanya Stacia penasaran.
"Dia berada di tempat yang indah dan tidak kalah megah dari Orion. saat ini beliau adalah pemimpin dan pelindung kami para Bidadari."
"Kau seorang Bidadari?" tanya Stacia dengan wajah terkejut.
Gill langsung menarik tangan Alin dan memeluknya dari belakang mesra, hidung dan bibirnya menempel pada ikatan rambut belakangnya, "Dia berbohong. kedua senjata ini aku dapat setelah aku berhasil mempersuntingnya sebagai kekasih ku. Jadi Nona Avhriela memberikannya sebagai kado hari spesial kami." ucap Gill menyela pembicaraan mereka.
Alin seketika merasa terkejut mendengar pengakuannya itu, wajahnya langsung memerah, nafasnya ngos-ngosan tak karuan. "Begitu ya, sayang sekali padahal kamu adalah tipeku jika kau tidak membuat masalah ini." ucap Stacia.
"Tidak-tidak, itu tidak benar. Kalian salah paham, kami berdua hanya berteman." ucapnya meluruskan fakta yang Gill selewengkan.
"Duh Gill kau jangan mengarang cerita!" sambungnya menoleh ke arah Gill ngambek karena di jahili.
"Cuma bercanda kok." jawabnya dengan senyum.
"Kami selalu merindukan Nona Avhriela, jika kau bertemu dengannya lagi sampaikan padanya untuk kembali. Disini lah dia berasal dan di sini lah tempatnya pulang. Asal kamu tahu Nona Avhriela itu sebelumnya adalah ... Ucap Stacia mencurahkan isi hatinya.
"Pemimpin kalian para pelayan Orion, aku tahu itu." potong Alin membuat mereka berdua terkejut.
"Tuan menceritakannya padamu?" tanya Exifilia.
"Ya, beliau menceritakan semuanya." Angguknya menjawab.
"Tinggalah di sini sebentar jika kau mau, Helfeany dan Acquila harus tahu soal ini. Kau mau kan?" tanya Stacia.
Seketika wajah Alin langsung berubah bingung dan galau, "Bagaimana kau mau kan?" tambah Stacia meyakinkannya.
"Maaf aku tidak bisa, jika Ratu tahu saat ini aku berada disini pasti beliau murka." jawabnya pelan merasa takut.
"Kenapa kau harus takut, Nona Avhriela itu wanita yang baik. Selama memimpin kami dia belum pernah berbuat kejam,-
"Apakah kalian lupa dengan Erfyona Land Sankarea?" potong Alin mengingatkan.
mereka berdua lantas terdiam setelah mendengar itu, 'Nama itu hampir mirip dengan orang yang ku kenal.' batin Gill dalam hati.
"Jika saja kekuatan Erfyona tidak terhisap, pasti Nona Avhriela sudah kalah waktu itu." Ucap Stacia pelan.
"Terhisap?" ucap Alin penasaran.
"Kau tidak tahu?" tanya Exifilia yang hanya dijawab dengan gedekkan kepala oleh Alin.
"Jika kau bisa menghidupkan Sam kembali seperti semula, aku akan memberikan First Kiss ku untuk mu." Ucap Exifilia mengejutkan semua orang.
"Apa!" Ucap Alin terkejut mendengarnya.
"Kau beruntung Gill jika berhasil melakukannya. Exifilia adalah wanita tercantik kedua di Orion setelah Nona Avhriela, selain itu dia juga masih perawan,-
"Kalau itu aku tidak akan memberikannya padamu. Keperawananku hanya untuk Tuan Azazeal, sang pujaan hatiku." Potong Exifilia.
'Jika Tuan Azazeal memang memiliki hasrat untuk menjalin Asmara pasti beliau sudah mengencani Ratu Avhriela kalau bukan Nona Erfyona. Karena sampai sekarang mereka berdua lah yang berdiri dipuncak kecantikan, ditambah para pelayan ini ... mungkin kecantikan ku ini hanya dipandang sebelah mata olehnya. Lebih baik aku tidak terlalu berharap, sepertinya aku harus sedikit membuka hati untuk seseorang yang memang tulus mencintaiku.' batin Alin dalam hati pesimis setelah mendengar ucapan Exifilia barusan.
Gill tersenyum mendengar hal itu, "Aku tidak membutuhkan hal semacam itu, aku hanya ingin namaku kembali bersih dan masalah ini segera selesai. Kau tadi bilang kalau Sam itu lebih berguna daripada aku jadi menurutku menghidupkan Sam adalah pilihan yang tepat." ujar Gill.
'Apakah ucapan ku tadi melukai hatinya, aku tidak tahu kalau dia tulus melakukannya.' batin Stacia dalam hati merasa sedih.
"Setelah semua urusanku selesai aku akan melimpahkan semua tugasku padanya, dia akan kembali menjadi pion utama Tuan Azazeal dan sesuai janji. Aku tidak akan pernah kembali lagi." sambungnya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Aku pergi dulu ya, sampaikan salam ku pada yang lain!" ucap Alin berpamitan sambil melambaikan tangan.
"Menurutmu apakah Gill mampu melakukan itu. Jujur aku sendiri tidak yakin karena aku tahu yang bisa menghidupkan Sam hanya Tuan Azazeal dan Tuhan yang Maha Perkasa." gumam Stacia sambil melihat mereka berdua berjalan pergi.
Namun Exifilia malah berfikiran lain "Entah kenapa sekarang aku malah lebih tertarik pada Gill." ucapnya sambil melihat ke arah Arigma dan Egamoosa.
Stacia langsung terkejut mendengarnya "Jangan bilang kalau Gill sudah bisa menggantikan Sam." ucap Stacia menduganya.
"Aku tidak pernah bilang seperti itu. Tidak ada seseorang pun yang bisa menggantikan posisi Sam di Orion." jawabnya.
"Lihat lah kedua senjata ini." sambungnya.
Stacia mengangguk sambil melihat kedua senjata tersebut, "Kita bisa memanfaatkan Gill dan pacarnya itu untuk membujuk Nona Avhriela kembali." ucapnya Exifilia.
"Itu akan sangat sulit baginya." jawab Stacia.
"Aku tahu tapi itu tidak mustahil." ujar Exifilia.
"Apa kau berniat menukar kesepakatan?" tanya Stacia.
"Entahlah, aku masih ragu." jawabnya kemudian berbalik dan pergi di susul oleh Stacia di belakang.
Di langit saat mereka terbang untuk kembali pulang "Apakah kau tahu dimana letak Froast Dragon?" tanya Gill.
"Naga itu bersarang di puncak Gunung Orkhland. Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?" jawab Alin.
Menoleh ke belakang menatap wajah Alin dengan senyum yakin "Kau pasti sudah tahu, Ayo antar aku ke sana!" langsung melesat terbang cepat sekali.
"Hei tunggu dulu, kau masih belum menjawabnya." ucap Alin keras menyusulnya dari belakang.
setelah sampai di tempat. Nampak awan hitam berpusar di atas gunung tersebut dibalut oleh kilatan petir yang menyala-menyala.
"Di bawah sana adalah puncak gunung Orkhland, tempat dimana Naga itu bersarang. Kemabalikan Pedang Lavenderku setelah kau menggunakannya nanti." ucap Alin memberitahunya.
"Terima kasih, aku berjanji setelah aku selesai menggunakannya nanti akan langsung ku kembalikan padamu." jawab Gill.
"Apakah kau yakin ingin turun dan melawan Naga itu. Di sana dingin loh, Bahaya!" Ucap Alin memberitahunya.
"Karena sudah sejauh ini aku tidak mungkin akan kembali. Tapi aku yakin, ini pasti akan menyenangkan!" jawabnya penuh percaya diri lalu turun menukik tajam seperti seekor burung Elang, menembus awan hitam badai petir tersebut.
"Dia nekat sekali." ucap Alin kemudian pergi meninggalkannya kembali ke Paradise Pallace.
Gill nekat tak membuka sayapnya hingga sampai daratan membuat tubuhnya jatuh keras ke dalam tumpukan salju hingga ambles beberapa meter.
"Fiuhh dinginnya." ucap Gill pelan sambil menatap salju yang terus turun menimbunnya.
Ia kemudian bangkit dan melihat sekitar, nampak di depan matanya terdapat sebuah Goa yang sangat besar.
Pintu Goa tersebut berbentuk seperti mulut Naga yang terbuka dengan Stalatip dan Stalagmid yang meruncing persis seperti gigi Naga.
Dari dalam mulut Goa terdapat udara yang sangat dingin menyembur keluar membuat tubuh Gill menggigil kedingingan 'Tidak kusangka tempatnya akan sedingin ini. Aku yakin di dalam sana pasti lebih dingin daripada ini, sebaiknya aku menantangnya bertarung di luar saja.' pikirnya sambil berjalan mendekati mulut Goa.
"Keluar lah Froast Dragon. Aku Gill Fire ingin menjalin kontrak perang dengan mu!" Teriaknya kencang.
Namun suasana tetap hening dan tak menunjukan keberadaan makhluk hidup di sana. "Apakah benar di sini tempatnya, aku jadi terkesan seperti orang gila berteriak sendiri di sini." gumamnya pelan merespon keheningan.
'Tapi siapa peduli.' pikirnya kemudian berubah ke Wujud Greatest Dementor membuat suara dan matanya berubah menjadi lebih kuat.
"Keluar lah Froast Dragon atau kuhancurkan Tahta mu ini!" Teriak Gill keras menggunakan Gal'iel hingga membuat salju disekitarnya beterbangan tersapu oleh angin efek dari auman dahsyat tersebut.
seketika mata biru besar menyala di atas mulut Goa tersebut. Perlahan mulut Goa itu menutup dan bergeser, tumpukan salju yang Gill pijak juga perlahan retak dan longsor.
"Berani sekali kau mengganggu tidur ku!" responnya dengan suara yang besar menggelegar.
Gill langsung terbang untuk menghindari longsoran salju yang ia pijak, perlahan wujud Froast Dragon mulai terlihat.
"Besarnya!" ucap Gill terkejut setelah melihat dengan jelas wujud asli Froast Dragon.
Jika diperumpamakan tubuh Gill hanya sebesar tikus pengerat sedangkan Naga itu sebesar kerbau hitam malika. Ia baru tahu kalau salju yang dia injak tadi bukan lah puncak gunung Orkhland melainkn timbunan salju tebal yang mengubur badan Froast Dragon.
Ternyata Naga itu tidur dengan posisi tubug melingkar sehingga jika berdiri nampak lah kedua sayapnya yang membuat Gill tercengang.
Froast Dragon memeliki sisik tubuh berwarna putih susu dan cakar emas. Matanya biru besar dengan kelopak mata yang tajam membuatnya semakin terlihat ganas.
'Jika Froast Dragon saja sudah sebesar ini, bagaimana dengan Ragnarok.' pikir Gill menduganya sambil terus melihatnya penuh kagum.
Saking indah dan besarnya Froast Dragon membuat perhatian Gill teralihkan. Ia terkejut saat Froast Dragon tiba-tiba melancarkan serangan pertamanya.
Karena kaget Gill jadi terlambat menghindar membuat ujung sayap kirinya membeku padat, mengakibatkan keseimbangan terbangnya terganggu.
'Luar biasa, tak ku sangka serangannya bisa membekukan musuh se-instan ini.' batin Gill dalam hati terpukau melihat ujuang sayapnya membeku.
Hal tersebut membuat Gill semakin tambah bersemangat untuk mendapatkan Froast Dragon. Ia yakin dengan kekuatan Naga itu akan mempermudah dirinya menyelesaikan misi yang diperintahkan.
Serangan kedua di lancarkan oleh Froast Dragon namun kali ini Gill tidak lagi lengah dan langsung menghindar secepat mungkin.
Udara dingin yang Froast Dragon semburkan membuat suasana pertarungan menjadi sangat apik dimana cahaya biru yang keluar dari mulutnya tersebut membuat petir semakin menggelegar di langit.
"Baiklah ayo kita bertarung!" ucap Gill keras langsung menukik ke bawah tajam sambil menghindari serangannya dengan gesit dan lincah.
Tepat di atas wajah Froast Dragon Gill langsung mengeluarkan pedang yang Alin pinjamkan dan mulai mengayunkannya keras 'Pyar' diluar dugaan Lavender Sword milik Alin malah langsung pecah seperti kaca, puingnya bertaburan kesegala arah sedikit pun tak mampu menggores sisik keras Froast Dragon.
"Kerasnya!" ucap Gill terkejut langsung mundur untuk menghindari serangan balasan dari Froast Dragon.
Ia menatap kembali Lavender Sword yang telah hancur tersebut "Aku bingung, ini sisiknya yang terlampau keras atau emang pedang ini yang tidak berguna." gumamnya menggerutu kesal.
"Sial, padahal aku berharap banyak dari pedang ini,- belum selesai Gill berbicara Froast Dragon langsung menyerangnya kembali.
Beruntung saat itu Gill bisa langsung menghindar "Hampir saja aku mati. Dia sama sekali tak memberiku waktu untuk bernafas!" ucapnya dengan nafas terengah-engah.
Gill kemudian mengaktifkan God Handnya dimana dia memfokuskan semua kekuatan api hitam di lengan tangan kanannya sehingga membuatnya terlihat hitam seperti tangan setan.
Jurus ini meningkatkan kekuatan dan stamina pengguna menjadi ratusan kali lipat. Kekuatannya dapat menghancurkan apa saja yang ada di depannya dengan hanya menggunakan pukulan tangan.
Namun dibalik Over powernya jurus itu tersimpan resiko yang sangat tinggi di mana pengguna akan mengalami kelumpuhan saraf pada bagian telapak tangan yang membuatnya tak bisa untuk di gerakkan.
Lumpuhnya saraf bisa bersifat sementara atau permanen, semakin sering pengguna mengaktifkannya jangka pemulihannya juga akan semakin lama dan bisa saja tidak akan pulih kembali (Permanen).
Dengan cepat Gill langsung terbang melesat, mengepalkan tangannya keras dan mengayunkannya kuat mengarah ke leher Froast Dragon.
Dalam sekali pukul sisik leher Froast Dragon langsung retak melebar semakin luas. Kuatnya pukulan Gill juga membuat tubuh Froast Dragon hilang keseimbangan.
'Apa, tidak mungkin!' batin Froast Dragon dalam hati terkejut setelah menerima serangan tersebut.
Ia kemudian mengepakkan kedua sayapnya untuk menyeimbangkan kembali tubuhnya. Kepakan sayap besar tersebut menimbulkan hembusan angin yang sangat kencang.
Kecepatan angin yang ditimbulkan setara dengan badai topan yang ada di bumi.
Namun semua itu tak akan berpengaruh pada Gill karena wujud Greatest Dementor-nya memberinya daya tahan tubuh dan stamina yang lebih untuk bertarung maupum bertahan.
"Kesatria sebutkan nama mu. Aku akui kamu adalah lawan yang tangguh, aku terkejut melihat kau mampu merusak sisik pelindungku." Tanya Froast Dragon dengan suara besar sambil terbang mengepakkan sayap.
"Gill Fire." jawabnya singkat.
"Nama yang bagus. Katakan kenapa kau mengincar ku?" tanya dia.
"Bertarunglah bersama ku Froast Dragon. Aku butuh kekuatan mu." jawab Gill.
"Bertarung bersama, kau berniat menjadikan ku hewan perang mu?" Tanya Froast Dragon.
Gill mengaguk membuatnya tertawa terbahak-bahak "Kau jangan berharap. Aku adalah Froast Dragon, naga terkuat di bumi. Aku tidak akan tunduk pada siapa pun!" ucapnya.
"Kalau begitu aku akan memaksamu untuk tunduk kepada perintah." Gill langsung menarik bulir darah yang keluar dari tubuh Froast Dragon menggunakan jari telunjuknya.
Bulir darah tersebut melayang di ataa jarinya dengan sedikit bercahaya, "Kau tahu kan apa yang akan terjadi jika bulir darah ini mendidih?" ucapnya pelan mengancamnya santai.
"Blood Bender?" ucapnya langsung disusul oleh tawa ngakak tak percaya Gill bisa menguasai Elemen langka tersebut.
"Kau pikir aku akan takut dengan gertakan mu. Anak polos sepertimu tidak mungkin memiliki Rare Power seperti itu." sambungnya sambil menahan tawa.
Gill tersenyum setelah mendengar dirinya di remehkan. Tanpa banyak bacot ia langsung mengaktifkan Blood Vengence seketika membuat Froast Dragon meraung kesakitan.
Raungannya itu sampai terdengar ke Majesty dan beberapa Negara yang jaraknya puluhan mill dari tempat kejadian.
Gill kemudian menambah rasa sakitnya menjadi dua kali lipat membuat Froast Dragon semakin kencang meraung. Suaranya kencang tersebut sampai mampu memecah awan badai dan awan putih lainnya.
setelah dirasa cukup ia langsung menonaktifkan kekuatannya dan bertanya, "Apakah itu sudah cukup untuk meyakinkan mu?"
"Bagaimana mungkin kau memiliki Elemen langka itu?" tanya Froast Dragon yang masih tidak percaya.
"Keputusan ada di tangan mu." Jawab Gill.
"Aku mengaku kalah." jawabnya merundukkan leher panjangnya tanda menyerah.
Gill kemudian terbang mendekat dan menyentuh luka dalam bekas pukulan kerasnya tadi sekaligus meletakkan segel kontraknya di leher Froast Dragon.
Ia kemudian terbang dan menatap wajah Froast Dragon dari dekat "Istirahat lah, pulihkan kekuatan mu. Selanjutnya kita akan melawan musuh kuat, yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya." ucap Gill.
"Siapa itu?" Tanya Froast Dragon.
"God Phoenix!" jawab Gill singkat menatap matanya serius tajam.