
Di sisi lain, Calista telah kembali dari misi pencariannya. Dalam hati dia merasa terpukul dan syok berat setelah melihat adik kesayangannya berubah drastis menjadi seorang monster yang mengerikan.
Mentalnya terkikis karena melihat semua pasukannya terbunuh di depan matanya sendiri dengan sangat sadis dan keji. Auman Gal'iell masih membekas di dalam ingatannya pada saat Gill membantai seluruh pasukan Iblis tersebut.
"Dia bukan Gill, dia bukan Adikku! Kyaaaah!!!" Teriaknya syok tidak percaya sambil berlari masuk ke Istananya.
Ia berlarian seperti orang gila, rambut dan pakaiannya kusut berantakan sambil terus memegangi kepalanya. Kedua matanya melotot karena masih trauma berat dengan apa yang barusan dia lihat.
"Calista!" Ucap Norman yang terkejut melihatnya berlarian panik.
"Calista, kenapa dia berlarian seperti itu?" Sambung Anastasya seketika bangun dari tempat duduknya.
Calista terus berteriak dan berlari sampai dia tak sengaja jatuh di hadapan mereka berdua. Melihat hal itu, Norman dan Anastasya langsung berlari untuk menghampirinya dan bertanya mengenai keadaannya.
"Monster pergilah, jangan bunuh aku,- ucap Calista tiarap sambil terus memegangi kepalanya saking takutnya.
"Calista, ada denganmu, Nak?" Tanya Anastasya khawatir dengan keadaanya.
"Pergi! Menjauh lah dariku, tolong jangan bunuh aku!" Teriaknya yang masih trauma.
"Ini kami, Nak! Ayah dan Ibumu!" Sambung Norman sambil memegang kedua pundaknya berusaha menyadarkannya.
"Ayah?" Ucapnya yang mulai tersadar dan mulai bangun dari sujudnya, saat Calista melihat ke arah wajah mereka berdua. Tiba - tiba dia menjadi sangat ketakutan dan langsung memberontak kemudian berlari pergi sambil terus berteriak ketakutan.
"Calista!" Panggil Anastasya.
"Aneh sekali, tidak biasanya dia seperti ini... (Berfikir sejenak) ... Anastasya, coba kau tanyakan masalah ini kepada salah satu prajurit yang telah kembali. Siapa tahu dia mengetahui penyebabnya, Aku akan menyusul Calista." Perintah Norman.
"Baik!" Angguknya.
Setelah Norman mencari cukup lama dan hampir mengelilingi seluruh lorong dan ruangan di Istananya, akhirnya dia menemukan Calista yang sedang duduk di bangku taman sambil merundukkan kepala.
"Nak?" Panggil Norman pelan sambil berusaha mendekatinya.
"Siapa itu,?!" Tanya Calista panik karena masih merasa takut.
"Aku Ay,- maksudku Hugo, kenapa kau berlarian ketakutan seperti itu?" Tanya Norman berusaha membuatnya tenang.
"Jangan mendekat!" Teriaknya ketakutan menahan langkah ayahnya dengan tangannya sambil memalingkan wajahnya.
"Jangan takut aku bukan Monster, aku Hugo kakakmu!" Ucap Norman berbohong.
"Pergi! Jangan bunuh aku." Teriaknya ketakutan langsung bangkit dari duduknya dan hendak kembali berlari.
Namun dengan cepat Norman langsung meraih tangannya untuk menahannya pergi, karena saking takutnya Calista memberontak seperti sedang kesurupan, sampai dia mengamuk dan mengeluarkan kekuatannya untuk bisa bebas dari cengkeraman tangan Norman.
Norman terkejut melihat Calista sampai seperti itu, untuk menghindari serangannya tanpa harus melukainya. Ia memutuskan untuk langsung memukul tengkuk lehernya dan membuatnya pingsan agar dirinya bisa tenang. Setelah itu dia menidurkan tubuhnya di kursi taman tersebut sambil menunggu Anastasya datang.
Sambil menunggu Anastasya datang, dia mencoba mengamati tubuh Calista untuk mencari tanda - tanda yang membuat putrinya seperti ini. Setelah cukup lama Norman mencari namun hasilnya nihil. Tidak ada luka serius pada tubuhnya hanya sedikit goresan kecil seperti bekas dia jatuh tersungkur saat berlari.
Dia berteriak seperti melihat Monster, apakah dia bertemu dengan Iblis lain di perjalanannya? ... Tidak itu tidak mungkin, kalaupun itu benar. Harusnya dia juga sudah terbiasa, atau jangan - jangan ini,-
"Ternyata kamu di sini, dari tadi mencari mu." Ucap Anastasya mengagetkannya.
"Jadi bagaimana? Apa yang prajurit itu katakan?" Tanya Norman penasaran.
"Keadaan menjadi semakin rumit sekarang." Jawabnya.
"Maksudmu?" Tanya Norman bingung.
"Hanya ada seorang saja yang selamat dan tidak ada informasi yang berhasil aku dapatkan darinya." Jawab Anastasya.
"Kenapa bisa begitu, Apakah dia sengaja menyembunyikannya,-
"Tidak." Sahut Anastasya.
"Lalu?" Tanya Norman penasaran.
"Dia juga bernasib sama seperti Calista. Namun dia lebih parah lagi sampai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan hendak melukai kami semua. Pada akhirnya dia malah membunuh dirinya sendiri karena saking takutnya" Jawabnya.
"Jadi seperti itu ... (Diam sesaat) ... Aku baru sadar! Dari tadi Calista terus berteriak tidak jelas seolah - olah dia melihat Monster itu dengan jelas. Itu sama seperti yang kau alami dulu saat membunuh Gill. Apakah dia juga sama telah melihat makhluk itu?" Tanya Norman menduganya.
"Bisa jadi! Sebaiknya kita harus cepat, aku takut kalau dia akan nekat mengakhiri hidupnya sama seperti yang dilakukan prajurit tadi." Ucap Anastasya khawatir.
"Panggil Hela, aku akan membawa Calista ke kamarnya." Perintah Norman.
"Baiklah!" Ucapnya langsung pergi menemui Hela.
Norman terus mondar mandir di dalam kamar Calista. Ia bingung hendak berbuat apa untuk menyelamatkan putrinya tersebut, dia cemas dan khawatir dengan keselamatannya.
Cukup lama Norman menunggu, akhirnya Anastasya dan Hela datang. "Ah syukurlah kau datang Hela." Ucap Norman senang sekali berharap banyak darinya.
"Permisi Tuan, apakah saya langsung mengeceknya?" Tanya Hela.
"Oh silahkan! Aku berharap banyak darimu Hela." Ucap Norman membuka jalan lebar - lebar untuk Hela.
Sambil menunggu Hela mengecek keadaan Calista, jantung Norman dan Anastasya berdebar kencang setiap detiknya karena rasa khawatir dan prasangka buruk telah menghantui mereka.
Saat Hela mulai mengeluarkan kekuatan penyembuhnya untuk mendeteksi penyebabnya, tiba - tiba Aura Gal'iell itu masuk ke dalam tubuhnya yang membuat jantungnya sakit seketika. Ia terkejut merasakan kekuatan dahsyat tersebut dan langsung mundur beberapa langkah. Tak sengaja darah mulai keluar dari mulutnya yang membuat tubuhnya lemas seketika.
"Hela!" Teriak Anastasya langsung menghampirinya.
"Kekuatan itu sangat besar!" Ucap Hela terbata - bata sambil menahan rasa sakit, matanya melotot terkejut masih tidak percaya dia merasakan kekuatan tersebut.
"Kekuatan apa Hela? Apa yang telah terjadi dengan putriku?" Tanya Norman penasaran bercampur cemas.
"Calista sedang di bawah pengaruh kekuatan besar. Saya tidak tahu pastinya, namun dari yang saya rasakan tadi kekuatan itu sungguh sangat mengerikan. Tujuh hari dia tidak mendapat penanganan... Nona Calista akan,-... Mohon Tuan maaf saya tidak dapat mengobatinya." Ucapnya merasa bersalah.
"Tidak mungkin..." Ucap Norman syok langsung lemas dan roboh ke lantai.
"Lalu siapa yang bisa menyembuhkannya?" Tanya Anastasya kesal bercampur sedih.
"Jawab aku Hela, Siapa yang bisa menyembuhkannya,?!" Bentak Anastasya.
"Anastasya sepertinya kita harus kuat menerima in,- ucap Norman pesimis.
"Hanya ada satu orang yang mungkin bisa membantu Anda, Nona." Sahut Hela.
"Siapa orang itu, Katakan padaku Hela!" Ucap Anastasya senang sekali tidak sabar mendengarnya.
"Raja Iblis Lockheim. Osmound Vanquisher!" Jawabnya jelas.
"Apakah benar dia bisa menyembuhkan putriku?" Tanya Norman yang masih sedikit pesimis.
"Saya tidak yakin beliau bisa menyembuhkannya, namun saya yakin beliau tahu mengenai kekuatan besar ini. Jika dia tahu mengenai kekuatan ini, tidak menutup kemungkinan kalau beliau juga tahu cara menyembuhkannya." Jelas Hela.
"Apakah dia mau membantu kita? Setahuku Osmound Vanquisher itu pribadi yang selektif. Ia hanya mau membantu sesama Raja Iblis besar saja. Aku tidak yakin dia mau membantu kita." Ucap Norman lagi - lagi pesimis.
"Tidak ada salahnya mencoba, kalau begitu besok pagi kita akan pergi ke Lockheim. Kita harus segera mempersiapkan kebutuhan perjalanannya mulai dari sekarang. Ayo ikut aku!" Ajak Anastasya sambil menyeret tangan suaminya tersebut.
Sementara itu di Orion.
Gill nampak telah menyelesaikan pelatihannya di Heim Hell. Ya dia benar - benar berlatih di dalam neraka terdalam dari yang pernah ada tersebut. Nampak juga wajah dan tubuhnya telah berubah menjadi dewasa dengan body yang gagah dan tampan hampir sama seperti Azazeal.
Alasan Azazeal melatihnya di sana adalah untuk menguji mentalnya. Di dalam sana selain terkenal dengan kepedihan dan kegelapannya yang abadi namun juga penderitaan yang tentunya sangat menyiksa ruh yang masuk ke sana.
Heim Hell adalah tempat penyiksaan untuk ruh yang terkutuk yang dulu pernah membuat kerusakan di alam semesta ini. Selama ini penguasa dari neraka ini adalah Azazeal itu sendiri dan Ghorgoons Knight adalah penjaga tertinggi di dalamnya. Ruh yang telah masuk ke dalam sana pastilah akan hancur dan tidak akan bisa kembali normal seperti sedia kala, bahkan untuk ruh dari Guardian ataupun para Angels sekalipun.
"Kenapa Anda sampai sejauh ini dalam melatih saya? Kenapa Anda sangat percaya kepada saya" Tanya Gill.
"Padahal Anda tahu, saya ini lahir dari rahim wanita Iblis yang hina dan kotor. Lalu saya juga telah membunuh pelayan setia Anda, yang saya yakin dia sudah mengabdi banyak untuk Anda." Sambungnya.
"Kau tidak hina Gill, kau bukan anak dari wanita itu." Jawab Azazeal yang sontak mengejutkannya.
"Tapi saya,-
Kemudian Azazeal langsung menunjukan wujud Greatest King-nya di depan Gill dengan sayapnya yang indah berwarna warni. "Lihatlah! Kau adalah sehelai buluku yang hilang selama ini, aku senang. Tuhanku berkehendak mempertemukan ku denganmu." Ucapnya.
Bagian ini hilang! Selain itu warna dan motif bulu ini juga sama persis dengan punyaku. Jadi benar Tuan Azazeal ini adalah orang yang tuaku yang aku cari selama ini! Ucap Gill terkejut dalam hati yang langsung memantapkan pertanyaannya selama ini mengenai jati dirinya yang tidak bisa di jawab oleh Ibunya.
"Lalu bagaimana saya bisa terlahir ke dalam rahim itu, kalau wujud saya semula sehelai bulu?" Tanya Gill penasaran.
"Ceritanya panjang, suatu saat kau juga akan mengetahuinya." Jawab Azazeal.
Kemudian Azazeal mengangkat salah satu tangannya ke atas dan "JDARRR!" Suara petir menyambar keras yang membuat Gill ketakutan seketika langsung tiarap di depan Azazeal.
"Ambilah." Ucap Azazeal menyodorkannya kepada Gill.
Mendengar itu Gill langsung bangun dan terkejut melihat Azazeal memberikan pedang serba hitam tersebut. "Ini...?" Tanya Gill penasaran dan terpukau oleh pedang tersebut.
"Pedang Sovereign adalah pedang yang sangat dahsyat. Pedang ini sangat cocok denganmu yang memiliki ambisi besar, pedang ini akan dengan mudah memenuhi Ambisimu itu. Setelah kau menerima pedang ini. Kewajiban mu bukan hanya menjadi pelayanku saja, namun kau juga akan menjadi penjaga tertinggi Heim Hell." Jelasnya.
"Sovereign bukan hanya sebilah pedang, namun juga kunci untuk membuka gerbang Heim Hell. Saat kau menerima pedang ini tubuhmu akan terbakar oleh api hitam yang mengelilingi pedang ini. Itu wajar karena warna energi kekuatanmu berlawanan dengan pedang ini. Jika kau mampu menahannya itu berarti kau layak dengan pedang ini." Sambungnya.
Gill langsung berlutut di depan Azazeal bersiap menerima Divine Sword tersebut. Pada saat aura pedang itu menyentuh kulitnya, dia merasa seperti separuh ruhnya terbakar oleh api hitam itu. Namun karena Ambisinya yang sangat besar, Gill merasa sakit seperti ini tidak ada apa - apanya dari apa yang dia alami selama ini.
Ia terus menahannya walaupun dia sangat kesakitan dan tersiksa menerima pedang itu, ia berteriak sangat kencang sampai membuat seisi Heim Hell bergetar bahkan para penjaga juga merasakan aura pedang itu.
"Teman baruku akhirnya dia telah tiba." Ucap Ghorgoons Knight menghentikan sejenak siksaannya setelah mendengar teriakan tersebut.
Semua penyiksa menghentikan pekerjaannya sejenak dan mendengarkan suara tersebut. "Terpuji lah kau, penguasa Heim Hell. Kami menerima kedatangan teman baru kami!" Ucap salah satu dari mereka.
Akhirnya usaha Gill tidak sia - sia, pedang itu akhirnya luluh pada Ambisinya. Aura hitam pedang tersebut telah masuk ke dalam tubuhnya dan membuat warna kornea matanya menjadi hitam pekat pada saat dia menggunakan pedang tersebut. Ia kemudian berlutut dan mengucapkan sumpah setianya di depan Azazeal.
"Hamba Gill Fire, bersumpah setia kepada pimpinan tertinggi. Azazeal sebagai Knight dan Guardian!" Ucapnya tegas yakin dari hati terdalam.
"Bangunlah pelayanku. Aku menerima sumpah setia mu. Harga diri adalah nyawamu, kesetiaan adalah jiwamu, dan Ambisi adalah tujuan hidupmu!" Ucap Azazeal menerima Gill sebagai pelayannya.
Gill kemudian bangkit dan berubah ke wujud sempurnanya menatap mata Azazeal yakin dengan mata terkuatnya. "Sekali lagi. Terima kasih, Tuan. Saya bersumpah tidak akan mengecewakan Anda." Ucapnya mantap.
"Aku tidak pernah meragukan mu Gill. Luka pada tubuhmu itu bisa sembuh dengan pedangmu itu, kenapa kau tidak menyembuhkannya?" Tanya Azazeal.
"Terima kasih Tuan, tetapi. Luka ini hanya akan saya hapus apabila saya telah berhasil memenuhi Ambisi saya." Jawabnya yakin.
"Terserah kau saja." Jawab Azazeal tidak peduli langsung berbalik dan pergi.
Setelah Gill menerima Sovereign sebagai senjata utamanya otomatis membuat kekuatannya berubah menjadi sangat kuat, kini dia mempunyai wujud baru yang lebih Powerfull dari sebelumnya.
Dengan sedikit perubahan pada warna matanya dari yang semula putih menjadi hitam pekat yang membuat simbol dan warna biru pada pupil matanya semakin terlihat jelas. Saat ini Gill telah mempunyai wujud sempurnanya sendiri yaitu Greatest Knight. Wujud sempurna ini setara dengan para wujud tertinggi Guardian inti seperti Embers King dan Sorcerer King.