
Setelah Erfyona selesai berpamitan kepada semuanya, ia kemudian bergegas untuk menemui Gill yang sedang menunggunya di depan pintu gerbang Orion. dia sengaja tidak mengajak Gill berpamitan kepada mereka. Erfyona tahu saat ini bukan waktu yang tepat untuk saling mempertemukan Gill dan para pelayan yang lain.
"Maaf Gill, sudah membuatmu lama menunggu." Ucap Erfyona sambil berjalan keluar dari pintu gerbang.
'Ah!' berbalik karena terkejut. "Tidak apa-apa. Apakah mereka masih marah kepadaku?" Tanya Gill pelan merasa tidak enak.
"Kamu jangan bersedih lagi ya semua ini terjadi di luar kendali mu, kamu tidak perlu menyalahkan diri lagi. Aku percaya kamu itu anak yang baik dan bukan orang yang seperti itu." Ucap Erfyona menguatkan hati Gill.
"Terima kasih, setidaknya aku masih memilikimu sebagai satu-satunya orang yang masih mempercayaiku." Jawab Gill pelan sedih merundukkan kepala.
Melihat mental Gill yang semakin menurun, Erfyona dengan cepat langsung memeluk tubuhnya untuk membangunkannya dari keterpurukan. "Tidak, mungkin aku adalah orang kedua yang mempercayaimu." Ucapnya di pelukan.
"Sebagai pelayan yang paling di percayai oleh Tuan Azazeal, kau jangan sampai membuatnya kecewa ya" Sambungnya kemudian melepaskan pelukannya.
"Iya, aku berjanji kepadamu." Jawab Gill dengan tatapan mata serius dan hati yang mantab.
"Baiklah, kau sudah siap?" Tanya Erfyona.
"Aku selalu siap." Jawab Gill langsung terbang melesat meninggalkan Erfyona.
"Hei tunggu kau belum tahu tempatnya!" Teriak Erfyona yang tertinggal oleh Gill.
"Dasar." Sambungnya dan langsung terbang melesat menyusul Gill di depan.
Sewaktu di perjalanan Gill dan Erfyona menghabiskan waktunya untuk mengobrol ringan mengenai Academy tersebut. "Kak Fyona?" Tanya Gill.
"Ada apa Gill?" Jawabnya.
"Mengenai Academy itu. Apakah ada dari mereka yang lebih kuat dariku?" Tanya Gill penasaran.
"Kau pasti bercanda bertanya seperti itu?" Sindir Erfyona dengan sedikit tawa kecil. Namun Gill tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
"Oh ayolah, Guardian sekaligus pelayan Tuan Azazeal. Kau masih juga meragukan dirimu?" Sambungnya menjelaskan dengan ekspresi wajah penuh tanya namun Gill masih saja diam dan belum juga mengerti.
'Mungkin yang di katakan Tuan Azazeal benar. anak ini lambat dalam berfikir, itulah sebabnya ia mengirim Gill kesana' Pikir Erfyona sambil terus memperhatikannya.
"Aku tidak tahu Gill, semua murid di Academy itu bukanlah orang yang sembarangan. sebaiknya kau jangan meremehkan mereka. aku sarankan pada saat kau masuk nanti, jangan langsung membuat keributan yang terlalu mencolok, ingat siapa identitas mu saat ini. sekali kau ketahuan masalah akan terus mendatangimu, kau tentu tidak ingin terlibat kan?" Tanya Erfyona memberinya saran.
"Terima kasih Kak Fyona, aku akan selalu mengingat saran mu ini." Jawab Gill dengan senyum di wajahnya.
"Apakah hanya aku sendiri di sana?" Tanya Gill pelan.
"Maksud mu?" Sahut Erfyona bingung dengan maksud perkataannya.
"Maksudku, apakah hanya aku saja murid dari seorang Guardian." Kata Gill pelan menjelaskan.
"Well, siapa yang tahu iya. kau cukup mengingat saja saran-ku barusan maka kau akan aman, Oke?" Ucap Erfyona dengan senyum manis.
"Baiklah, lalu bagaimana mengenai ujian masuknya?" Tanya Gill penasaran.
"Itu sangat mudah kau akan di tes bertarung oleh penguji di sana. kalau kau bisa menumbangkannya, kau akan di terima masuk di Academy itu. Sebenarnya cara itu bisa di bilang kuno untuk Academy modern dan bergengsi seperti itu. " Jawab Erfyona dengan entengnya.
"Apakah ujiannya bertarung dengan menggunakan senjata?" Tanya Gill sekali lagi pelan dengan wajah khawatir.
"Kyaaha ha ha ha! Kau membuatku tertawa Gill. Yang namanya bertarung pasti menggunakan senjata, kalau tidak itu namanya bergulat!" Jawabnya sambil terus tertawa ngakak ala wanita Iblis. setelah mendengar itu raut wajah Gill berubah menjadi gelisah dan murung ia sadar saat ini hanya memiliki pedang itu.
Gill bingung bagaimana cara melewati ujian masuknya tanpa harus menarik perhatian banyak orang. Melihat raut wajah Gill yang sedang murung Erfyona seketika berhenti menertawainya dan sadar kalau dia tidak sedang bercanda.
"Maaf Gill, aku kira kau bercanda," Ucap Erfyona pelan merasa bersalah.
"Aku tidak punya senjata lain, selain Sovereign." Jawab Gill terus terang.
"Tunggu, kau memegang Sovereign?" Tanya Erfyona terkejut hebat dan menghentikan terbangnya.
"Kenapa kau terkejut seperti itu?" Tanya Gill keheranan dengan ekspresi wajahnya.
"Apa aku tidak salah dengar, oke mungkin kau tidak tahu tapi pedang Sovereign adalah pedang terkuat dari semua pedang yang pernah ada, tentunya setelah Belatrix milik Tuan Azazeal. Kau dapat pedang itu dari mana?" Tanya Erfyona sangat kepo.
"Tuan Azazeal yang memberikannya padaku." Jawab Gill lugu.
"Woaahh! Tuan pasti menaruh harapan yang besar padamu. Jadi itu yang membuatmu bimbang dari tadi?" Ucap Erfyona merenung sesaat membantunya menemukan jalan keluar.
"Apakah kau tidak terkenal?" Tanya Gill mendadak yang sontak mengejutkan Erfyona.
"Tunggu, Apa?!" Sahutnya terkejut kebingungan mendengar kata yang terlontar dari mulutnya.
"Iya dengan begitu aku bisa meminjam senjata yang kau miliki untuk bisa melewati ujian tersebut tanpa harus menimbulkan kecurigaan." Jelasnya.
"Sebenarnya itu adalah ide yang sangat bagus, tapi namaku sudah di kenal sangat luas Gill. Mungkin kau belum tahu itu tapi itulah kenyataanya." Jawab Erfyona memupuskan harapannya.
"Lalu apa salahnya, daripada aku memakai pedang itu lebih baik aku pakai punyamu saja. Lagipula kau juga bagian dari bangsa Iblis mungkin itu tidak akan menimbulkan masalah yang besar." Ucap Gill masih belum menyerah.
"Aku Putri Kerajaan Gill, mereka semua tahu itu. Percayalah ini bukan ide yang bagus." Skak Erfyona membuatnya kembali putus asa.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan?" Tanya Gill bingung.
"Aku ingat ada sebilah pedang yang menancap di sebuah makam kuno, tepatnya di bagian barat daya Human Consideracy. Kau bisa mengambil pedang itu untuk berjaga-jaga. Pedang itu lumayan walau bukan yang terkuat." Sahut Erfyona mengingat sesuatu.
"Human Consideracy, maksudmu di dunia?" Tanya Gill memastikan.
"Iya tentu saja, dimana lagi kalau bukan di sana." Jawab Erfyona.
"Oke, lanjut ke cara yang kedua." Ucap Gill tidak peduli dengan usulannya.
"Kau menolaknya, kenapa? Itu mungkin bisa membantumu loh?" Tanya Erfyona keheranan.
"Tempat itu sangat jauh Kak, aku tidak punya banyak waktu untuk pergi ke sana." Jawab Gill singkat.
"Baiklah aku mengerti tapi kau mungkin tidak tahu ini. Pedang itu dirumorkan sangat bagus. Inti dari kekuatan pedangnya saja terbuat dari darah Raja Iblis terdahulu. itu adalah inti pedang yang sangat kuat loh. kau bisa mendapatkan pedang itu hanya dengan mencabutnya dari nisan makam pemiliknya. Kau sudah tidak perlu lagi susah-susah bertarung melawan pemilik aslinya." Ucap Erfyona berusaha meng-iming-iminginya agar mau berubah pikiran.
"Ouhhh ternyata itu pedang yang sangat bagus." Ucap Gill seketika wajahnya berubah menjadi senang dan merasa tertarik.
"Yah kau benar!" Sahut Erfyona bersemangat senang dengan senyum di wajahnya.
"Tapi aku tidak akan mengambil pedang itu!" Sahut Gill tegas yang seketika mengejutkannya. Wajah Erfyona langsung membeku, tadinya dia merasa Gill sudah terbawa oleh iming-iming tersebut tapi ternyata dia cuman berpura - pura.
"Oh ayolah Gill. Kau tidak inginkan membuat jantung kakakmu ini berdetak kencang setiap detiknya karena memikirkan keselamatan adik kesayangannya." Ucap Erfyona berusaha keras membujuknya dengan mata berbinar-binar.
"Dengar ya aku tidak butuh pedang itu sama sekali, yang aku butuhkan saat ini hanya kepercayaan mu saja. Kepercayaan yang membuat aku tidak akan kenapa-napa. lagian percuma aku mengambil pedang itu yang ada aku hanya akan mengambil harapan orang lain saja. Yang mungkin sangat membutuhkan pedang itu di banding aku." Jelasnya.
"Maksudmu?" Tanya Erfyona bingung.
"Pedang yang berinti dari sel Iblis kekuatannya tidak akan keluar, bisa dibilang pedang itu cuma pedang biasa jika aku yang menggunakannya. Bukankah kau sudah tahu mengenai hal itu?" Jawab Gill.
"Tidak, aku sungguh tidak tahu kalau bukan karena kamu yang memberi tahuku barusan!" Ucap Erfyona terkejut.
"Memangnya apa nama dari pedang tersebut?" Tanya Gill.
"Ethernal Blood Fallen." Jawab Erfyona.
"Itu nama yang sangat bagus untuk sebuah pedang yang biasa saja." Kata Gill mengkritik nama tersebut.
"Jadi?" Tanya Gill tentang rencana keduanya.
"Ikutlah denganku, perjalanan kita masih panjang. aku akan memikirkannya nanti di jalan,- meraih tangan Gill hendak mengajaknya kembali pergi.
"Nona?!" Panggil seseorang dari belakang yang sontak mengagetkan mereka berdua.
Berbalik dan melihat siapa yang memanggilnya. 'Kau?' pikirnya tidak asing dengan wajah tersebut. "Alin, kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Erfyona kaget dengan kedatangannya yang mengejutkan.
"Alin?" Ucap Gill terkejut melihatnya.
"Gill?" Balas Alin yang juga terkejut melihatnya.
"Kalian saling kenal?" Tanya Erfyona terkejut.
"Iya, aku pernah bertemu dengannya waktu di desa Kaname." Jawab Gill.
'Jadi begitu, sekarang aku mengerti' pikir Alin menyadari alasan Azazeal pergi.
"Kamu mau pergi kemana Alin?" Tanya Erfyona.
"Saya dalam perjalanan pulang Nona. Kalau Anda sendiri?" Jawab Alin.
"Kalau begitu kita sama." Jawab Erfyona.
"Anda hendak kembali lagi ke Lockheim, kenapa Nona. Apakah terjadi sesuatu di Orion?" Tanya Alin penasaran kenapa dia mau meninggalkan tempat sesempurna Itu.
"Tidak, semuanya baik-baik saja. Orion itu sungguh tempat yang sangat bagus, aku pulang karena rindu dengan suasana rumah." Jawab Erfyona.
"Jadi seperti itu, saya mengerti." Jawab Alin pelan.
"Kau sendiri mau pergi kemana Gill. Apa iya kau akan ikut Nona Erfyona ke Lockheim?" Tanya Alin penasaran.
"Tidak, saat ini aku tidak sedang pergi ke tempat itu. aku hanya ingin pergi ke Majesty Strength Academy, karena aku tidak tahu tempatnya jadi aku meminta bantuan Kak Fyona untuk mengantarkan ku kesana." Jawab Gill.
"Majesty Strength, pilihan yang sangat tepat Gill!" Sahut Alin bersemangat.
"Kau tahu mengenai tempat itu?" Tanya Gill terkejut.
"Mestilah aku tahu. Academy itu dikelola oleh salah satu pelayan pribadiku." Jawab Alin memberitahunya.
"Benarkah?!" Tanya Gill terkejut.
"Alin benar. Stefanie adalah salah satu pelayannya, kau bisa meminta bantuan kepadanya mengenai masalahmu saat ini." Sahut Erfyona.
"Apa yang bisa ku bantu?" Tanya Alin penasaran.
"Mengenai seleksi ujian masuknya, aku bingung memikirkan cara agar dapat lolos dari seleksi itu tanpa menarik banyak perhatian." Jawab Gill.
"Itu simpel. Kau bisa mengulur waktu dengan cara bertahan dari serangan penguji sampai waktu yang di tentukan habis." Jelas Alin.
"Apakah pengujinya kuat?" Tanya Gill penasaran.
"Yaahh lumayan, tapi kau tenang saja dia bukan lah tandingan mu." Jawab Alin enteng.
"Masalahnya adalah Gill harus menyembunyikan identitasnya di sini, kalau sampai dia ketahuan itu bisa membahayakan nyawanya. Tuan dan aku tidak ingin hal itu sampai terjadi, kau punya ide untuk itu?" Tanya Erfyona.
"Ini sungguh rumit dari dugaanku. Baiklah Gill, apa kekuatan yang kau miliki saat ini?" Tanya Alin penasaran.
"Tidak banyak. Hanya kekuatan mendasar sesuai umurku saja." Jawab Gill.
'Anak pintar, dia ternyata sangat berhati-hati.' pikir Erfyona dengan senyum setelah mengetahui Gill berbohong demi menyembunyikan kekuatannya.
"Hah? Kau tidak sedang berbohong kan?" Tanya Alin mencurigainya.
"Untuk apa aku berbohong. Tuan memberiku kekuatan sesuai kemampuanku, dia yakin kalau aku kedepannya akan berkembang dengan banyaknya pengalaman yang kudapat. Yah kau tahu pepatah dulu, pengalaman adalah guru terbaik dalam kehidupan." Jawab Gill bijak.
"Baiklah, aku mengerti tapi kalau kau tidak memberitahuku sedikit dari kekuatanmu. Bagaimana aku bisa membantumu, setidaknya kau beritahu aku sedikit dari kemampuan kecilmu itu. kemudian aku akan mencari solusi dari jawabanmu." Kata Alin menjelaskan tujuannya.
"Aku tidak punya senjata apapun saat ini, aku menguasai sedikit teknik berpedang dan beberapa macam jenis sihir tingkat dasar sampai menengah. Kalau tidak punya senjata, aku akan sangat kesulitan menahan serangan dari penguji itu. Apakah kau punya sesuatu yang bisa kugunakan?" Tanya Gill.
"Jadi itu masalahmu. Tapi kalau memang itu saja kemampuanmu, kau akan sangat kesulitan bertahan di Academy itu. kebanyakan para murid di sana menguasai senjata mereka dengan sangat baik. mereka juga menguasai paling tidak lima atau enam sihir tingkat atas. Aku bisa saja membantumu mendapatkan senjata yang kau inginkan tapi tidak dengan masa depanmu di Academy itu." Jelas Alin.
"Kau tidak perlu khawatir, bukannya malah bagus kalau kebanyakan dari mereka itu kuat dengan begitu aku bisa belajar banyak dari mereka." Kata Gill malah senang mendengarnya. Ia merasa senang karena disana dia dapat hiburan yang tidak akan membuatnya bosan.
"Kau ini ternyata seorang maniak ya. Baiklah ikutlah denganku. Di tempatku kau bisa mendapat pedang yang kau mau." Ajak Alin.
"Nampaknya kau hanya bisa mengantarkan ku sampai sini saja Kak Fyona. Maaf..." Ucap Gill merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Gill, aku akan menunggu sambangan darimu. Kau masih ingatkan?" Tanya Erfyona.
"Iya pasti aku akan berkunjung." Jawab Gill meyakinkan.
"Kalau begitu sampai jumpa Gill. Semoga harimu menyenangkan di sana." Ucap Erfyona berpamitan.
"Kau juga Kak Fyona!" Balas Gill.
"Nona!" Panggil Alin menghentikan kepakan sayap Erfyona yang hendak terbang.
"Berhati-hatilah!" Sambung Alin dengan nada cemas.
"Kau juga." Jawab Erfyona dengan senyum cantik menghiasi wajahnya kemudian mengepakkan sayapnya kencang dan terbang melesat kembali pulang ke Lockheim.