The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 59 ~ Kandidat pemimpin kelas A



'Dia ini!' ucap mereka berdua dalam hati serempak saling menatap tajam.


"Nona Emilia saja, Pak! Dia adalah murid besar Angels Paradise, Alin Xaverias. Posisi tiga pula!" Teriak salah satu murid laki-laki menyuarakan dukungannya.


"Iya, benar!" Sahut temannya yang lain Pro dengannya.


"Huuu!" sorak para murid perempuan.


"Greey Havord saja, Pak Georghe! Kami suka dengan sikap ramahnya. Selain itu dia adalah murid emas dari Guardian besar, Gabriel si malaikat penyayang. Pasti dia memiliki sifat yang sama seperti Masternya, kami sungguh mengharapkan itu!" Sahut para murid perempuan menyuarakan dukungannya dengan lantang.


"Iya, itu benar!" Sahut yang lain Pro dengan suara sebelumnya.


"Kami tidak mau dipimpin oleh wanita sombong sepertinya!" Imbuh wanita yang lain.


'Kalian...!' ucap Greey dalam hati tersentuh kagum melihat dirinya mendapat banyak dukungan.


"Nona, tolong jangan Anda masukan dalam hati, yah. Mereka hanya bercanda." Ucap Vania pelan berusaha menguatkan hatinya.


'Apa!' kata Emilia dalam hati marah, mendengar hinaan dari salah satu murid wanita.


"Hemh, dasar wanita tidak tahu diri! (Bangkit dari tempat duduknya). Sudah diberi kesempatan sebesar ini, masih mengecap aku sebagai wanita sombong? Hey buka mata kalian! Aku yang membujuk Dewan Inti menstempel kertas kalian itu, bukan Greey!" Sambil menunjuk ke arahnya dengan emosi yang sudah meluap.


"Nona kendalikan emosi, Anda. Jangan terpengaruh oleh ejekan mereka." Ucap Vania pelan menasihatinya.


Setelah mendengar nasihat dari Vania, sejenak ia menarik nafas panjang berusaha untuk sabar dan tenang. "Centaurus itu tidak lebih kuat dari Dragon, kalian tahu itu, kan?" Ucap Emilia menyindir pendukung Greey, kemudian kembali duduk.


"Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar lagi. Kita adalah satu keluarga sekarang, harus saling menghormati satu sama lain." Sahut Georghe meredakan suasana.


"Kita adakan Voting saja. Siapa yang mendapat suara terbanyak dia yang akan terpilih, sedangkan untuk yang kalah dia akan menjadi wakil ketua. Kalian setuju?" Sambung Georghe memberi usulan.


"Setuju!" Jawab mereka kompak.


"Baguslah kalau begitu. Aku harap kalian dapat menerima posisi tersebut dengan hati ikhlas dan mampu bekerja sama dengan baik. Kalian siap?" Tanya Georghe kepada mereka berdua.


"Siap!" Jawab Greey yakin tanpa merasa keberatan sedikitpun.


"Siap..." Jawab Emilia pelan sedikit takut menerima kekalahan.


"Baiklah, kita mulai Voting-nya sekarang." Langsung bangkit dari tempat duduk dan menulis nama mereka berdua di papan tulis.


"Caranya simple, kalian cukup menggambar garis tegak lurus di bawah kolom nama kandidat, masing-masing siswa hanya boleh menggambar satu. Kalian paham?" Jelas Georghe menjelaskan peraturannya.


"Paham, Pak!" Jawab mereka.


"Oke, kita mulai dari nomer absen 21. Indyra Maze, silahkan maju!" Panggil Georghe dari depan.


Saat Indyra sudah berdiri di depan hendak menggoreskan spidolnya membuat garis, tiba-tiba ia langsung menghentikannya dan memutuskan untuk memikirkannya lagi siapa kandidat yang akan dia pilih.


"Hei gadis aneh, Ayo buruan! Pakai dilama-lamain lagi." Sindir salah satu murid laki-laki kesal melihatnya berdiri bengong.


"Kalau tidak punya pilihan, Golput saja gak apa-apa. Daripada lama seperti ini!" Sahut murid perempuan yang juga kesal.


"Indyra!" Panggil Greey sedikit keras.


"Emh!" Gumam Indyra terkejut langsung menoleh ke arahnya.


'Greey?' ucapnya dalam hati senang melihat Greey melambaikan tangan padanya.


"Kamu jangan bimbang, Indyra! Yakinlah dengan pilihanmu. Siapapun kandidatnya, kami pasti akan berjuang sebaik mungkin." Ucap Greey meyakinkannya.


Indyra meresponnya dengan senyum senang, kemudian menoleh ke arah Emilia berniat membandingkan sikap mereka berdua untuk memperkuat keyakinannya memilih. Nampak dari matanya, Emilia bahkan tidak bergeming sedikitpun dan terlihat tak peduli dengan murid yang akan memilihnya.


'Mereka benar, Emilia memang pribadi yang sombong. Kalau orang sepertinya jadi ketua kelas, aku takut dia akan bertindak semaunya sendiri.' ucap Indyra dalam hati terus melihat Emilia dari kejauhan.


Ia langsung berbalik menatap papan dengan penuh keyakinan menggoreskan spidol tersebut ke dalam kolom Voting milik Greey, memberinya satu suara dukungan. Greey yang melihat dirinya mendapat suara pertama, wajahnya langsung bahagia dengan senyum senang menghiasi wajahnya.


"Baiklah, selanjutnya!" Panggil Georghe.


Beberapa menit kemudian, setelah hampir semua siswa menyuarakan Voting-nya. Hasil sementara menunjukan mereka seri, dengan masing-masing 9 suara. Semua orang berdebar menunggu siapa kandidat yang akan Gill pilih, karena hanya dia lah nomer absen penentu.


"Terkahir. Vergile, silahkan maju!" Panggil Georghe.


"Vergile, di mana dia?" Tanya Georghe sambil mencarinya karena senyap dan tak nampak batang hidungnya.


"Vergile, ayo bangun!" Panggil Indyra sambil membangunkannya.


"Emh?" Gumam Gill pelan terbangun dari tidurnya, mengangkat kepala dari bantalan tangannya, dengan mata merah pecah-pecah karena masih mengantuk.


"Bangun, Vergile. Pak Georghe memanggilmu." Jelas Indyra.


Sontak Gill terkejut dan langsung mengucek matanya agar tidak terlihat mengantuk. "Vergile!" Panggil Georghe dari depan melihatnya baru bangun tidur.


'Ah!' terkejut langsung menoleh ke arahnya. "Iya Pak." Jawabnya.


"Ayo maju ke depan!" Perintahnya.


Dengan gugup dan wajah sedikit takut, Gill memberanikan dirinya maju ke depan. "Ada apa, Pak? ... Mau menghukum saya,- langsung menyodorkan spidol.


"Ini...?" Menerimanya dan mengamati spidol tersebut.


"Silahkan kamu pilih salah satu dari dua kandidat ini, sesuai keinginanmu." Sambil menunjuk ke arah papan tulis yang sudah tertera kolom Voting dan nama kandidat.


"Voting? ... Voting apa ini, Pak?" Tanya Gill yang masih belum paham.


"Kau ini! Sudah sampai mana mimpimu tadi, Paradise palace? Apakah aku mengganggu pernikahanmu dengan para Angels di sana?" Sindir Georghe mencandainya.


"Ha ha ha!" Tawa murid kelas A pecah mendengar Georghe mencandai Gill.


'Menikahi Angels Paradise, ya? (mengingat kembali saat dirinya di rayu oleh para Angels dahulu). Andai dia tahu se-ngeri apa para wanita itu.' kata Gill dalam hati tersinggung dengan candaannya.


"Makanya, kalau guru sedang menerangkan kamu jangan tidur. Sekarang jadi tidak tahu, kan?" Sindirnya lagi kian membuat Gill malu.


"He he, maaf Pak. Saya khilaf, bisa tolong dijelaskan lagi?" Tanya Vergile memerah wajahnya, salah tingkah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi mereka ini (menunjuk ke arah Greey dan Emilia) adalah dua Kandidat ketua kelas A. Saat ini kita sedang mengadakan Voting suara untuk memilih mereka secara adil. Tinggal kamu seorang yang belum, jadi sekarang giliran mu." Jelasnya.


"Baik, Pak." Angguknya langsung menoleh ke arah mereka berdua.


'Dari segi sikap aku lebih suka dengannya (menatap ke arah Greey) tapi aku tidak kenal siapa itu Gabriel, bisa saja dia bermuka dua. Sedangkan dia (menatap ke arah Emilia) sikapnya sungguh sangat buruk sama sekali tidak mencerminkan kalau dia murid Alin Xaverias.' pikirnya sesaat mengamati para kandidat.


'Tapi kalau aku tidak memilihnya, kasihan juga si Alin yang sudah banyak membantuku. Aku jadi tidak enak dengannya.' sambungnya langsung berbalik dan melepaskan tutup spidolnya langsung mengarahkannya ke kolom Voting Emilia, menggambar garis tegak lurus suara miliknya.


"Baiklah, dengan terpilihnya Miranda Emilia sebagai ketua kelas. Voting kali ini saya nyatakan, Selesai!" Ucap Georghe mengumumkan pemenangnya sekaligus mengakhiri voting kali ini.


"Wouhhuu! Yeah!" Sorak pendukung Emilia senang diiringi oleh tepuk tangan meriah.


"Greey Havord!" Panggil Georghe.


"Iya, Pak!" Jawab Greey dengan raut wajah sedikit kecewa berusaha tegar menerima kekalahannya.


"Apakah kamu sanggup menerima kekalahan mu, dan menerima Miranda sebagai Ketua kelasnya?" Tanya Georghe memastikan.


Menghela nafas panjang dan menghembuskannya. "Ya, saya siap." Jawab Greey berusaha menerima kenyataan.


"Apakah kamu rela dan tidak keberatan, membantu Emilia mengurus semua tugasnya?" Tanya Georghe memberinya sumpah.


"Saya siap dan saya rela." Jawabnya mantab.


"Semua murid dari kelas ini menyaksikan sumpah mu, Greey. Kalau kamu tidak amanah dan menyeleweng dari tugasmu, bukan hanya namamu saja yang akan tercemar tapi juga Master-mu." Jelas Georghe.


"Saya paham dan saya sadar, mengucapkan sumpah ini." Jawab Greey mantab.


'Dasar lelaki menyedihkan.' kata Gill dalam hati menatap tidak suka ke arah Greey.


"Mulai besok Emilia akan bertugas mengatur kelas ini dibantu oleh Greey sebagai wakilnya, kalian sebagai anggota jangan terlalu membebani mereka. Mengerti?" Tanya Georghe pada semua murid.


"Mengerti, Pak!" Jawab murid serempak setuju.


"Kalau begitu keluarkan buku kalian, kita mulai pelajaran pertama kita." Perintah Georghe.


'Haahhh (menghembuskan nafas panjang) akhirnya aku melakukannya juga.' kata Gill dalam hati lega kembali meletakan spidol tersebut ke atas meja Georghe, kemudian berjalan untuk kembali duduk.


"Kamu mau ke mana, Vergile?" Tanya Georghe menghentikan langkahnya.


"Siapa yang menyuruh kamu duduk?" Tanya Georghe dengan raut wajah dingin.


"Tidak ada sih, Pak. Tapi kan Anda tadi bilang pelajarannya akan di mulai, jadi saya otomatis duduk dan menyimak Anda dari,-


"Tidak, keluar kamu dari kelasku." Sahutnya.


"Loh kenapa, Pak? Saya sudah tidak ngantuk lagi. Saya siap belajar hari ini,-


"Kamu aku hukum tidak boleh mengikuti pelajaran ku hari ini. Sekarang keluar, KELUAR!" Bentaknya keras sambil menunjuk ke arah pintu, membuat semua murid kelas A terkejut sekaligus merasa takut.


"Baik, Pak. Maaf..." Ucapnya pelan merasa bersalah, perlahan berjalan keluar.


"Anak yang malang." Ejek Emilia pelan dengan senyum menghina.


"Kasihan sekali kamu Vergile." Ucap Indyra pelan melihatnya pergi, dengan raut wajah kasihan.


"Hari ini kita akan belajar Sains, buka buku kalian halaman tiga!" Perintah Georghe.


"Pergi kemana ya enaknya. Kalau seharian menunggu di sini pasti akan sangat membosankan." Ucapnya bingung sambil terus berjalan menyusuri lorong kelas yang sepi.


'Oh iya, aku kan belum pernah pergi ke atap gedung sekolah! Pasti sangat indah pemandangan sekolah ini dari sana. Yah... Sepertinya itu ide yang bagus!' langsung mempercepat langkahnya.


Sesampainya di tempat. "Woahhh! Tempatnya sangat luas dan sejuk, ini sungguh nyaman!" Ucapnya senang sekali menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.


"Pemandangannya juga indah! (Takjub melihatnya) Ini adalah tempat terbaik yang aku temukan di sekolah ini!" Sambungnya merasa sangat gembira.


"Kau sepertinya sangat menyukai tempat ini." Sahut orang lain mengagetkannya.


"Siapa itu?" Tanya Gill terkejut langsung menoleh ke sumber suara.


Nampak dari atas pintu masuk atap tersebut, ada seorang lelaki berambut merah sedang duduk dan melambaikan tangan padanya, dengan senyum manis menghiasi wajahnya. 'Siapa dia? Sepertinya dia murid senior.' ucap Gill dalam hati mengamatinya.


Si pria misterius tersebut langsung lompat turun untuk menghampiri Gill. "Kamu yang kemarin menebas leher naga itu, kan? Ehmm kalau tidak salah namamu, Vergile. Benar?" Sapa si pria misterius tersebut.


"Iya, itu benar. Kamu siapa?" Tanya Gill sedikit waspada.


Menyodorkan tangan mengajaknya berkenalan. "Namaku Fain, aku murid kelas 3A. Senang bertemu denganmu, Vergile." Dengan senyum bersahabat.


"Senang juga bertemu denganmu, Fain." Menerima jabat tangannya.


Saat mereka sedang berjabat tangan, tiba-tiba ekspresi wajah Fain berubah menjadi sangat terkejut sampai membuat kedua matanya melotot. Seketika ia langsung melepaskan jabat tangan tersebut dan berbalik menyingkurnya.


'Kekuatan ini! (Terkejut setelah merasakan Energi kuat dari dalam tubuh Gill) Ternyata dugaan ku benar. Vergile bukanlah siswa biasa yang lemah. Tapi kenapa waktu itu dia kalah? Padahal dia memiliki kekuatan sebesar ini,- Jadi begitu!' Ucap Fain dalam hati menyadari sesuatu.


Ternyata pria berambut merah tersebut adalah ketua dari Dewan Inti yang kemarin memimpin rapat penerimaan siswa baru. Rupanya ia memiliki niat tersembunyi dari sikap ramahnya tersebut, yakni untuk mengetahui seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh seseorang. Ia dapat merasakan energi tersebut melalui sentuhan kulit, oleh karena itu dia menggunakan cara licik tersebut.


'Dia! (menoleh sedikit ke belakang, melirik tajam ke arah Gill) sama kuatnya denganku. Tidak, mungkin lebih! Tadi aku sempat merasakan energi Dreamer's wing (Sayap yang memiliki kekuatan spesial) dari dalam tubuhnya. Tidak salah lagi, Masternya adalah Guardian besar sama sepertiku! ... Tapi siapa?' sambung Fain dalam hati menduganya.


"Fain. Kau tidak apa-apa?" Tanya Gill merasa khawatir.


"Ahh! (Langsung berbalik dengan raut wajah terkejut) Yah, aku baik-baik saja" Jawabnya sedikit gugup.


"Kenapa kamu tidak masuk kelas? Bolos kelas kau, ya!" duga Fain mencandainya.


"Tidak, kau salah paham." Sangkal Gill.


"Lalu?"


"Huffftt" menghembuskan nafas panjang. "Aku di hukum oleh Pak Georghe, tidak boleh mengikuti pelajarannya hari ini." Jawab Gill pelan merasa sedih.


"Bha ha ha ha! Kasihan sekali kau ini, Vergile." Malah menertawainya.


"Ternyata dia lebih tegas dari yang aku kira. Kamu sendiri?" Tanya Gill balik.


"Kalau aku sih sengaja bolos." Jawab Fain blak-blakan.


"Buset! Ternyata malah kau sendiri yang bolos." Ucap Gill terkejut hebat.


"He he he, maaf. Habisnya kelas hari ini membosankan, jadi ya aku bolos saja." Jawab Fain polos seperti tidak mempunyai rasa bersalah.


"Kau tahu? Ini adalah tempat terbaik untuk membolos. Tidak ada guru yang bisa menemukan kita di sini, kau tidak perlu khawatir. Kita aman!" Imbuhnya.


"Sepertinya ini bukan kali pertama kau bolos kelas." Sahut Gill mencurigainya.


"Aku jadi malu mengakuinya." Jawabnya merunduk malu.


"Kau memang contoh yang buruk." Kata Gill pelan, gedek-gedek melihat sifatnya yang aneh.


"Sudah-sudah, lupakan saja itu. Karena kita sudah ada di sini, mari kita nikmati waktu bolos kita!" ucap Fain mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya!" Jawab Gill setuju, langsung berjalan menghampiri kursi taman yang berada di pojok atap gedung tersebut.


"Fain." Panggil Gill pelan di sampingnya.


"Hemh? Ada apa, Vergile?" Jawabnya sambil menikmati hembusan angin segar.


"Aku dengar kemarin ada siswa yang membuat heboh sekolah dengan memanggil Centaurus ke arena. Waktu itu aku sedang tidak menyaksikan pertarungannya, jadi aku tidak tahu detail kejadiannya. Apakah kau melihatnya?" Tanya Gill.


"Maksudmu Greey Havord?" Tanya Fain memastikan.


"Iya!" Angguknya mengkonfirmasi.


"Bukannya kamu sekelas dengan anak itu?" Tanya Fain.


"Barusan dia mencalonkan diri sebagai ketua kelas." Jawab Gill.


"Benarkah, lalu bagaimana hasilnya? Apakah dia menang?" Tanya Fain sangat kepo.


"Tidak, Emilia yang menang. Greey hanya jadi wakilnya saja." Jelas Gill.


"Begitu, ya... Sayang sekali." Jawabnya pelan.


"Misalkan mereka berdua bertarung, menurutmu siapa yang akan menang? Secara garis besar, mereka kan memiliki Master yang sama hebatnya." Tanya Gill sangat penasaran.


"Aku tidak tahu, tapi kalau menurutku Emilia lah yang akan menang." Jawab Fain yakin.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Gill penasaran.


"Dari segi kekuatan, Emilia jauh lebih unggul dari Greey. Selain itu dia juga memiliki Naga sebagai peliharaannya. Yah meskipun bukan yang terkuat, tapi itu sudah sangat lumayan untuk murid wanita sepertinya." Jelas Fain.


"Sedangkan Greey hanya memiliki seekor Centaurus, teknik bertarungnya juga tergolong biasa. Malahan bisa aku katakan, mending kamu daripada dia kalau soal teknik bertarung. Amamine Sword yang dia gunakan juga tidak lebih hebat dari Claves Sancti milikmu." Imbuhnya.


"Kenapa kau malah membandingkannya denganku?" Tanya Gill.


"Maaf. Tapi saat ini, kau dan Greey lah yang menjadi pusat perhatiannya. Pertarungan mu itu merupakan yang paling apik, dari semua yang pernah ada di sekolah ini." jelas Fain.


"Bagian yang paling aku suka adalah saat kau bertarung gesit di belakang punggung Espher Dragon. Itu sungguh sangat keren! Bahkan para guru juga mengakuinya." Sambungnya.


"Para guru juga membicarakan, ku?" Tanya Gill terkejut.


"Iya, kau sangat terkenal, Vergile!" Yakinnya.


"Siapa sangka aksi nekat ku itu akan melahirkan banyak decak kagum." Ucap Gill tidak menyangka.


"Bukan hanya itu saja. Aksimu menebas leher naga itu juga tak kalah menyita perhatian, terutama dari para guru wanita. Sepertinya kau akan terkenal dikalangan para guru, Vergile." Imbuhnya.


"Dengar, ku beritahu kau, ya. Sebenarnya ada seorang guru wanita cantik, yang diam-diam menyimpan rasa suka padamu." Bisik pelan Fain di dekat telinganya.


"Tidak ... Kau pasti berbohong (dengan senyum tidak percaya). Itu sangat tidak mungkin!" Jawab Gill enggan untuk mempercayainya.


"Apakah wajahku ini terlihat meragukan?" Sambil menunjuk wajahnya sendiri.


"Emhh ... Sedikit." Jawab Gill mengamatinya.


"Apakah mata kamu buta, Hah! Wajah polos seperti ini kau bilang meragukan." ucapnya keras.


"Sudah! (Merangkul pundaknya dan mendekatkan telinganya untuk membisikan sesuatu). Aku jamin kau pasti akan terpesona dengan body bahenol-nya." Sambil menunjukan lekuk tubuh wanita yang dia maksud di depan wajahnya.


"Emhh.. aku rasa tidak." Jawab Gill datar, yakin kalau dirinya tidak akan tergoda.