
'Dewan Inti' duga Gill dalam hati yakin, "Siapa namanya?" sambungnya penasaran.
"Rahasia." jawabnya membuat Gill kesal, "Jangan cemberut seperti itu dong. meskipun aku tidak memberitahukan namanya padamu, tapi cepat atau lambat kau juga akan bertemu dengannya." sambungnya.
"Ya, kau benar." jawab Gill lesu tak bersemangat.
"Dia memang sedikit arogan orangnya, tapi sebenarnya dia itu adalah gadis yang baik." ucap Erfyona memberi gambaran kepribadian muridnya itu.
"Ia memiliki simbol seperti punyaku ini," sambil menunjuk simbol keluarga Lucifer di dahinya, memperlihatkannya pada Gill.
"Simbol apa itu?" tanya Gill.
"Ini adalah simbol keluargaku, Lucifer." jawabnya.
"Dia memintaku membuatkannya di dada supaya bisa selalu mengingatku dimanapun ia berada, dia sungguh sangat menghargaiku sebagai Masternya." jawab Erfyona.
"Kau pasti bangga punya murid sepertinya." ucap Gill pelan.
"Keinginannya menjadi kuat kini telah tercapai, semoga saja dia tidak berubah dan masih sama seperti dulu saat pertama kali kita bertemu." gumam Erfyona berharap.
"Yah habis." ucap Erfyona sedih makanan dipiringnya habis.
"Maaf ya Gill, kau bahkan belum sempat mencicipinya. Apa aku yang makan terlalu banyak ya, rasanya seperti sedikit." sambungnya.
"Tidak apa-apa, besok aku bisa membuatnya lagi. aku memasukan sisanya ke dalam kotak makan dan bisa kau bawa pulang nanti." jawab Gill.
"Benarkah!" ucap Erfyona bahagia mendengarnya.
"Ya, aku sudah menduga kalau kamu akan menyukainya jadi,-
Erfyona langsung memeluknya erat di dada, wajah Gill sampai tertimbun oleh gumpalan lemak, "Terima kasih Gill, kamu adalah adiku yang paling pengertian." pujinya senang sekali.
"Lepaskan, aku tidak bisa bernapas!" ucap Gill sambil meronta-ronta.
....
"Waktu berjalan cepat sekali, padahal aku masih ingin mengobrol banyak dengan mu." ucap Erfyona melihat ke arah jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam.
Ia segera mengeluarkan pedang tingkat pahlawan yang Gill minta sebelumnya, "Pilih lah Gill mana pedang yang ingin kau berikan?" ucap Erfyona memberinya pilihan.
"Banyak sekali pedangnya, darimana Kak Fyona mendapatkan semua pedang ini?" tanya Gill terkejut melihat pedang pahlawan itu berserakan di lantai seperti tak ada gunanya.
"Ceritanya panjang, ayo cepat ambilah. Kamu harus segera tidur, besok kau harus masuk sekolah." jawabnya.
"Aku tidak tahu mana pedang yang Alin suka. Apa boleh aku membawa semuanya untuk sementara waktu?" tanya Gill.
"Mau kau ambil semua juga tidak apa-apa, aku tidak membutuhkannya. semua pedang ini adalah barang yang langka dan mewah bagi para siswa." jawab Erfyona.
"Terima kasih tapi aku sudah punya pedang sendiri yang menjadi identitasku. Lagian aku akan dicurigai jika punya pedang sebanyak ini." ucap Gill.
"Lalu syaratnya?" sambung Gill.
"Sudah kamu ambil saja, aku menghapus syaratnya. Hari sudah terlalu malam." jawab Erfyona. Gil tersenyum dan berterima kasih padanya.
....
"Ini ambilah, lain kali aku akan memasakannya banyak jika ada banyak bahan pula." ucap Gill memberikan kotak makanan itu pada Erfyona.
"Terima kasih Gill, mampir lah ke Lockheim jika kamu ke Underworld. Aku akan balik menjamu dirimu dengan berbagai makanan yang tidak kalah enak." balasnya dengan senyum.
"Terima kasih, aku pasti akan datang." ucapnya.
"Sebelum datang kamu bilang dulu ya, penjagaan di Lockheim itu sangat ketat jadi kau perlu aku untuk bisa masuk." tutur Erfyona memberitahu.
"Tentu, pasti aku akan menghubungimu dulu." jawab Gill.
Erfyona tersenyum kemudian berbalik membuka portal dimensi, "Dah Gill, aku akan menunggumu di Lockheim." ucap Erfyona berpamitan pergi.
Gill tersenyum sambil melambaikan tangannya pelan dan portal itu pun lenyap, 'Akhirnya tanganku sudah kembali normal, saatnya beraksi.' batin Gill merasa senang melihat tangannya sudah bisa kembali digunakan.
.....
Pagi harinya Liliana memanggil Gill keras untuk segera bangun dan turun untuk sarapan. dengan mata yang masih mengantuk, Gill memaksakan diri untuk bangun dan menuju ke bawah. Terlihat Alice sudah siap dengan baju yang rapi, "Basuh lah wajah mu dengan air supaya rasa kantuknya hilang, kamu terlihat kusut sekali." ucap Alice.
"Oh ada Alice, pagi Alice." sapa Gill lesu.
"Sampai kapan kamu akan terus seperti ini Vergile, kamu sudah memasuki usia dewasa. Kamu harus lebih disiplin dan terampil dalam mengurus kebutuhanmu sendiri." ucap Laphia menasihatinya.
"Sudah-sudah," lerai Liliana menyodorkan sepiring sarapan di depan Gill, "Cepat kamu sarapan, setelah itu bersiap untuk sekolah. Ini sudah siang, jangan sampai nanti kamu terlambat." sambungnya melihat Gill masih menguap karena mengantuk.
"Terima kasih, tapi hari ini aku tidak akan pergi ke sekolah." jawab Gill mengejutkan mereka bertiga.
Berpindah ke kelas 1A tepat setelah bel masuk berbunyi. semua siswa segera duduk dibangkunya masing-masing menunggu gurunya datang, 'Aku tidak melihat batang hidung Vergile pagi ini, apakah dia akan terlambat sama seperti kemarin.' batin Indyra sambil mencarinya.
"Selamat pagi semuanya, hari ini adalah pertemuan kedua kita. Keluarkan buku Sains kalian, kita mulai belajar hari ini." ucap Joseph membuka pelajaran hari ini.
"Maaf saya menyela pak!" sela Indyra membuat seluruh siswa bertanya-tanya.
"Ada apa Indyra?" tanya Joseph.
"Saya tidak melihat Vergile pagi ini, sulit dipercaya jika dia terlambat lagi." jawabnya.
"Maaf aku sampai lupa tidak memberitahu kalian, mulai hari ini dan enam hari kedepan Vergile tidak akan masuk sekolah." ucap Joseph membuat seisi kelas heboh, mereka semua bertanya-tanya alasan Vergile tidak masuk.
'Akhirnya aku bisa menikmati tujuh hari masa ketenangan dengan tidak adanya Vergile di kelas ini.' batin Emilia dalam hati merasa senang.
"Kenapa Vergile tidak masuk, apakah dia sakit?" tanya Indyra cemas.
"Tidak, dia baik-baik saja." jawab Joseph.
"Lalu kenapa?" timpa Greey.
"Dia diskors selama tujuh hari oleh Dewan Inti karena sikap dan perilaku buruknya." jawab Joseph.
"Apakah sampai seburuk itu sikapnya sampai Dewan Inti langsung yang turun tangan?" tanya Vania.
"Aku tidak tahu kejadian aslinya seperti apa, yang jelas para guru sangat menyayangkan sikapnya itu," jawab Joseph, "Kalian bisa tanyakan kepada Emilia jika ingin lebih jelasnya." sambungnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Emilia?" tanya Greey.
"Kalian pasti tahu kejadian yang sempat heboh kemarin," jawab Emilia.
"Apakah Vergile yang menjadi pelaku dari tindakan sadis tersebut?" tanya Indyra, nampak wajagnya kaget mendengar hal itu.
"Tidak, bukan Vergile pelakunya. dia hanya orang yang dicurigai sebagai tersangka, saat dimintai keterangan Gill tidak kooperatif dan malah memberikan tutur kata yang tidak baik. Alhasil kami memberikan skors tujuh hari sebagai peringatan, jika dia mengulanginya lagi kami tidak segan untuk mendepaknya keluar dari sekolah ini." jawab Emilia menjelaskan kejadiannya.
"Sayang sekali, aku tidak menyangka Vergile punya sikap seperti itu." ucap Greey merasa kecewa.
"Baiklah kita kesampingkan dulu masalah Vergile, sekarang buku kalian. Kita mulai belajarnya." ucap Joseph dan jam pertama pun dimulai.
.....
Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 dan bel istirahat pertama pun berbunyi. semua siswa segera mengemasi alat tulis mereka sebelum pergi keluar meninggalkan kelas. saat akan pergi, mereka dikejutkan oleh kedatangan dua orang siswa kelas dua. mereka datang dengan membawa lembaran kertas seperti formulir.
"Selamat pagi semuanya, maaf kami mengganggu waktu istirahat kalian." sapa seorang wanita kelas dua.
"Perkenalkan namaku Nadine Iceburg dan dia Andras william, kami berdua adalah perwakilan dari OSIS Majesty Strengh Academy." sambung wanita tersebut memperkenalkan dirinya dan laki-laki disampingnya.
"Langsung saja keintinya agar mempersingkat waktu," Nadine langsung berkeliling membagikan lembaran kertas tersebut kepada masing-masing siswa, sembari menunggu Nadine membagikan kertas tersebut Andras mulai menjelaskan tujuannya.
"Kami membuka pendaftaran bagi para siswa yang tertarik bergabung bersama kami, syarat dan ketentuan sudah tercantum dalam formulir pendaftaran itu. jika kalian berminat berminat, silahkan berkumpul di gedung Aula sepulang sekolah." sambung Andras.
"Terima kasih atas perhatiannya, sekali lagi kami minta maaf karena telah memotong jam istirahat. Kami menunggu kedatangan kalian di gedung Aula, sampai jumpa nanti!" lanjut Nadine membungkuk sopan berpamitan dan mereka berdua pun pergi.
"Indyra, gabung yuk!" ajak Greey.
"Maaf Greey, aku tidak bisa karena ada perlu setelah pulang sekolah." tolaknya.
"Yah sayang sekali," menoleh ke arah Vania, "Vania, bagaimana dengan mu. Kau mau ikut?" tanya Greey.
"Tentu saja, kesempatan tidak datang dua kali." jawab Vania bersemangat.
"Bagaimana kalau kita datang bersama ke gedung Aula?" ajak Greey.
"Itu ide yang bagus." ucap Vania setuju.
"Aku tidak sabar ingin segera bergabung" ucap Greey sangat antusias, "Mau pergi ke kantin bersama, Greey?" ajak Greey.
Indyra tersenyum dan mengangguk, "Boleh." jawabnya.
"Sebaiknya kita cepat, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi." ucap Greey dan mereka berdua pun pergi.
....
Setelah memesan makanan mereka berdua langsung duduk sambil mengobrol dan sedikit bersenda gurau. Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba mereka mendengar suara kaca pecah membuat mereka terkejut.
"Maaf senior, aku tidak sengaja." ucap seorang gadis kecil tidak sengaja menumpahkan kuah soto pada baju seorang murid laki-laki.
"Ha tidak sengaja, kau ini buta atau gimana. Aku yang sebesar ini masa kau tidak lihat!" bentak laki-laki dengan tubuh gagah besar, mempunyai lengan otot yang kekar dan wajah yang sangar.
"Itu kan!" ucap Greey terkejut, ternyata gadis yang menabrak anak laki-laki itu adalah Alice kelas 1D.
"Gadis itu temanya Vergile kan?" sambung Indyra yang juga melihatnya.
"Perasaanku tidak enak." ucap Greey segera beranjak pergi dari tempat duduknya.
"Greey kamu mau kemana?" tanya Indyra.
"Kau tunggu saja disitu." ucap Greey sambil berjalan pergi.
"Tolong senior jangan bergerak dulu, saya akan membersihkannya,-
PLASS!
Alice berteriak kesakitan sampai pipinya memerah karena kerasnya tamparan tersebut, tubuhnya jatuh tersungkur di depan murid kekar tersebut, "Berani sekali kau menyentuh baju mahal ku, dasar gadis tidak tahu diri!" bentaknya marah.
Alice langsung bersujud meminta maaf di depan kakinya sembari menangis menahan rasa sakit, namun di luar dugaan laki-laki itu malah menendangnya keras hingga ia terpental membuat kepalanya mengalami luka yang cukup serius.
Ia langsung menghampiri Alice dan menjambak rambutnya, Alice sontak berteriak kesakitan dan memohon ampun padanya. Namun ia malah mengejeknya dan menginanya dengan berbakai kata kotor yang tidak pantas diucapkan, kejadian itu tak lama berlanjut saat Greey datang.
"Hentikan itu senior, kau sudah bertindak kelewatan!" ucap Greey keras.
"Hei itu kan," gumam siswa yang melihat kedatangan Greey.
"Dia murid Tuan Gabriel kan, ini pasti akan seru!" sambung penonton lain.
"Hemh?" menoleh menatap Greey, "Mau jadi pahlawan ya." gumamnya sambil bangkit berdiri.
Ia kemudian menghampiri Greey dengan lagaknya yang sombong dan meremehkan. Greey yang sedikit takut memilih mengambil langkah mundur untuk berjaga-jaga, "Aku tidak ingin menjadi pahlawan, aku hanya mau mengingatkan kalau tindakan yang kau ambil itu salah Senior. Gadis itu sudah meminta maaf padamu, harusnya kau,-
JLEBB!
JDUMBBG!
BRAAKH!
Lelaki itu langsung memukul perut Greey keras sampai ia memuntahkan darah, disusul oleh tendangan keras hingga membuat tubuhnya terpental menimpa meja makan dan membuatnya hancur berantakan.
Semua siswa langsung lari berhamburan karena merasa takut dan terancam, "Greey!" teriak Indyra histeris langsung berlari menghampirinya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Indyra cemas.
"Itu adalah pukulan paling keras yang pernah mendarat di tubuhku, Uhugh-Uhugh!" jawabnya terbata-bata.
"Kau terlalu gegabah Greey." ucap Indyra.
"Kau benar, tapi aku tidak bisa membiarkan gadis itu terus dipukuli." jawabnya.
Melihat para siswa bertebaran ketakutan Nadine langsung masuk ke dalam kantin dan mengecek apa yang terjadi, "Ada apa ini?" tanya Nadine.
"Kak Nadine, senior itu bertindak kelewatan hingga berani memukul para murid." ucap Indyra sambil menunjuknya.
"Khaby Gurc, dia selalu saja berbuat onar." gumam Nadine merasa geram langsung menghampirinya sambil mengeluarkan buku dan bolpoin dari sakunya.
"Khaby Gurc, Hentikan perbuatan Anarkismu ini atau aku akan menulis namamu dengan bolpoin merah dan kau bisa langsung di keluarkan dari sekolah ini!" ancam Nadine bersiap menulis namanya.
"Bantuan ya.." gumamnya melihat kedatangan Nadine.
Khaby langsung berjalan menghampirinya, "Apakah kau pikir aku akan takut?" ucapnya balik menantang.
"Diam ditempat atau akan kutulis namamu dalam catatan ini!" ucapnya tegas.
"Kau bukan lah apa-apa tanpa nama besar organisasi busuk itu." hinanya pada Nadine sambil terus berjalan mendekat.
"Khaby, diam ditempat! Kali ini aku tidak akan main-main!" ancamnya serius langsung menggoreskan tinta merah tersebut menulis namanya.
Belum selesai Nadine menulis namanya, Khaby langsung merampas buku catatan tersebut dan melayangkan pukulan keras ke arah wajahnya hingga Nadine terpental jauh, seketika ia langsung pingsan ditempat.
Khaby langsung merobek catatan itu dan tertawa puas mengagungkan dirinya, "Tak ada yang bisa mengganggu kesenanganku!" teriaknya congkak.
Saat ia sedang tertawa menyombongkan diri tubuhnya tidak sengaja tersenggol oleh seseorang, "Berani sekali kau menyenggolku!" ucapnya marah.
Lelaki itu tampak tak peduli dan terus berjalan menghampiri penjual makanan di kantin tersebut, "Hei tuli berhenti!" hinanya keras.
Ia seketika berhenti dan berbalik menatapnya, ternyata murid yang menyenggol Khaby sebelumnya adalah Fain, "Siapa yang kau panggil tuli?" jawab Fain meliriknya tajam.
Teman Khaby yang mengetahui kalau itu adalah Fain sontak memperingatkannya untuk lari, "Khaby lari lah, dia bukan tandingan mu!" ucap temannya memperingatkan.
Mendengar itu Khaby menjadi marah kepada temannya, ia tidak suka mendengar ada orang lain yang lebih kuat dari dirinya. Khaby sudah di kuasai oleh amarah dan ***** membuatnya tak bisa berfikir jernih dan tak menghiraukan peringatan temannya itu, "Baguslah kalau begitu, aku ingin tahu sebesar apa kekuatan mu!" ancamnya sambil memelototi Fain sombong.
Ia berjalan mendekati Fain dengan sombongnya dan berlagak kalau hanya dia lah yang paling kuat, "Aku akan membuat mu babak belur, Senior!" ucapnya meremehkan diikuti oleh gelak tawa ejekan.
'Aku tidak kuat melihat korban lain berjatuhan lagi.' batin Indyra langsung menutup matanya.
"Enyahlah kau brengsek!" teriak Khaby melancarkan pukulan kerasnya.
"Lari lah Senior!" teriak Greey memperingatkannya.
Namun dengan mudah Fain dapat menghindari pukulannya tanpa merubah posisi berdirinya. Ia langsung meraih pergelangan tangan Khaby dan membantingnya keras ke lantai hingga retak.
HUARGH!
Khaby langsung memuntahkan darah dari mulutnya, Fain kemudian memutar pergelangan tangannya membuat Khaby berteriak kesakitan. Dengan sadis Fain menginjak siku lengannya hinga patah 90° ke belakang.
Khaby langsung berteriak keras sejadi-jadinya merasakan tangannya patah dengan tragis, "Brisik!" ucap Fain geram langsung menginjak kepalanya hingga ia pingsan dan lantainya retak.
"Siapa sebenarnya Senior itu, kuat sekali." puji Greey kagung dalam pangkuan Indyra.
Indyra langsung membuka mata setelah mendengar hal itu, ia terkejut melihat Khaby sudah kalah dengan tragis ditangan seorng Senior yang sangat kuat.