The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 73 ~ Hallo Mama



Spontan Anastasya langsung bangkit dan meraih kedua pipi Gill, menatap matanya dari dekat penuh cinta, 'Oh sayang, akhirnya kamu pulang!' langsung memeluk kepalanya, menyandarkannya di dada.


Selang beberapa menit berpelukan, Anastasya merenggangkan dekapannya lalu memberi Gill kecupan bibir di dahi cukup lama sampai semua rindunya terobati. setelah rindu terobati baru lah dia menatap kedua mata Gill untuk pertama kalinya dari jarak yang sangat dekat, 'Nak, ibu sangat mengkhawatirkan kamu.' ucapnya sambil mengelus pipinya lembut.


Gill hanya diam dan mulai menggerakkan tangannya untuk meraih pipinya. Anastasya langsung mendekatkan pipi manisnya dan memegang telapak tangannya. Kedua matanya terpejam, menikmati belaian halus dari tangan Gill tersebut.


Saat sedang membelai pipi manis Anastasya. Gill tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan 'Ibu' dengan suara yang sedikit besar karena sudah tumbuh jakun di lehernya. Anastaya membuka kedua matanya dan menatap matanya hangat, tak mampu berpaling dari kedua bola mata biru indah tersebut.


"Ada apa sayang?"


Gill menjawabnya dengan mengatakan, 'ibu kamu memiliki wajah yang sangat cantik' pujinya pelan membuat Anastasya menangis.


Alasannya menangis bukan tanpa sebab, mengingat baru kali ini Gill bisa melihat wajahnya dengan mata kepalanya sendiri. Anastasya senang dan bahagia menerima pujian itu dan berkata kalau itu adalah pujian paling manis yang pernah ia dengar.


Anastasya menambahkan kalau kecantikannya ini hanya untuk Gill dan hanya miliknya seorang, dia juga balik memuji Gill dengan menyebut kalau ia memiliki bola mata yang sangat indah. Anastasya mengakui kalau hatinya sangat tergoda dengan keindahannya.


Gill kemudian berkata kalau dia tidak ingin kembali lagi ke tempat itu. Anastasya meyakinkannya kalau ia tidak akan membawa Gill kembali ketempat suaminya yang brutal tersebut.


Anastasya memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya pada Gill, kalau sebenarnya dari dulu dia ingin hidup bersama dalam satu rumah dan membuat hubungan yang harmonis. tanpa adanya gangguan dari orang lain dan kali ini dia sungguh akan mewujudkan hal itu. Anastasya langsung meraih telapak tangannya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat.


Tiba lah mereka di suatu bukit yang sangat tinggi, Anastasya berkata kalau mereka sudah sampai. Gill kebingungan dan bertanya kenapa dia membawanya ke tempat seperti ini.


Anastasya kemudian berbalik sedikit berjongkok dan memegang kedua pipinya, "Kita akan tinggal di sini sayang, dan membuat cerita bahagia bersama." jawabnya menatapnya dalam.


Anastasya balik bertanya apakah ia keberatan dengan keputusannya itu. Gill menggelengkan kepala pelan seraya berkata, "Aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, tapi kenapa harus di bukit tinggi seperti ini?" jawabnya.


Anastasya kemudian bangkit berdiri dan berjalan ke depan, mengangkat wajahnya ke atas menatap langit hitam, "Karena tempat ini memiliki sejarah yang tidak akan pernah bisa ibu lupakan." jawabnya dengan raut wajah sedih.


Ia kemudian menghentakkan salah satu kakinya dan berdiri lah satu buah rumah yang sangat megah. Gill terkejut melihatnya sekaligus terpukau melihat apa yang ibunya itu lakukan.


Anastasya berbalik dan tersenyum saat melihatnya terpukau dengan sihirnya, ia langsung meraih tangan Gill dan mengajaknya masuk ke dalam. Anastasya langsung menyuruh Gill untuk duduk disebuah kursi kayu, terlihat ruangan tersebut sangat sederhana sama seperti rumah yang Gill tinggali dulu saat bersama Imelda.


Anastasya memilih duduk di sampingnya, pandangannya masih tertuju ke arah wajah Gill bahkan saat ia sedang menggeser kursi ke belakang sebelum ia duduki.


Ia langsung meraih kedua telapak tangan Gill dan menggenggamnya erat, "Kesalahan terbesar ku adalah menitipkan mu pada Imelda, mulai sekarang Ibu lah yang akan merawat mu sayang." ucapnya berjanji.


Gill tersenyum dan berkata, "Ibu, mau kah kamu mendekat kepadaku. aku ingin melihat wajah cantik mu."


Jantung Anastasya langsung berdebar senang sekali mendengar pujian itu, ia langsung memberikan wajahnya dekat sekali. Gill langsung memegang kedua pipinya dengan telapak tangan, kedua jempolnya mengusap pipi bagian bawah kelopak matanya. mereka saling bertatap mata satu sama lain.


Dalam hati Anastasya merasa sangat bersyukur bisa dipertemukan lagi oleh buah hati kesayangannya. ia tidak menyangka bisa melihat wajahnya dari jarak sedekat itu.


Sedangkan hati Gill malah menjadi dilema, antara rasa dendam dan suka. dia tidak pernah menyangka kalau ibu nya memiliki wajah secantik itu, Gill menaruh rasa suka pada ibunya tersebut.


'Apakah aku akan kalah dengan wajah cantiknya ini dan melupakan tugasku sebagai pelayan Tuan Azazeal. mawar memang sangat indah, tapi dia memiliki duri yang tajam pada tangkainya. ibu kamu memang sangat cantik, tapi kau sudah menyakiti hatiku dengan masa lalu mu.' batin Gill dalam hati.


Gill kemudian mengangkat tangan kirinya dan meyingkap poni rambut Anastasya yang menutupi matanya, "Ibu" ucapnya.


"Ada apa sayang?" jawabnya.


Gill langsung mencium keningnya sontak membuat Anastasya terkejut sampai kedua alisnya terangkat, tapi rasa terkejutnya itu tak bisa menghalanginya untuk merasakan cinta tulus dari buah hatinya tersebut.


Ia seketika memejamkan kedua matanya menikmati kecupan hangat tersebut, 'Oh Gill, kamu adalah hadiah terindah yang diberikan oleh Tuhan untuk ibu.' sanjungnya dalam hati bahagia.


Lima menit kemudian Gill melepas bibirnya dari keningnya, Anastasya perlahan membuka mata dan menahan kepalanya untuk berdekatan selama beberapa saat. saking dekatnya bibir mereka hanya berjarak 3cm, mereka bisa saling mencium bau nafas dan desisannya satu sama lain.


Anastasya kemudian bertanya mengenai berapa umurnya sekarang, Gill menjawab kalau umurnya sekarang adalah 19 tahun. Lalu Anastasya lanjut bertanya apakah ia sudah mempunyai pacar, dia menjawabnya belum.


Anastasya tersenyum sampai giginya terlihat dan bertanya lembut padanya, 'Kenapa'. ia menjawab Tidak tahu dan mungkin dirinya belum tertarik dengan hal itu. Anastasya lalu memberinya pelukan seraya berkata, "Tidak apa-apa sayang, kamu tidak perlu memaksakannya." ucapnya lembut.


Anastanya kemudian bertanya apakah ia merasa lapar, Gill hanya menganggukan kepala tanpa berkata sepatah kata. Anastasya langsung bangkit dari kursi dan menyuruhnya untuk menunggunya sebentar. saat ia sedang menunggu, tak sengaja Gill mendengar suara rintihan dari arah dapur.


Karena terkejut ia langsung bangkit berdiri dan mengeceknya sendiri, terlihat melalui matanya Anastasya sedang memegang jarinya yang terluka sampai mengeluarkan darah. nampak jarinya tersebut terluka karena saat ia sedang memotong bawang, terlihat pisau yang ia gunakan terdapat sedikit noda darah.


Gill langsung menghampirinya, dia yang mendengar langkah Gill mendekat langsung menyembunyikan jarinya yang terluka. Anastasya terlihat gugup saat melihat Gill sedang menghampirinya, ia lalu meminta maaf dan akan segera memasakan makanan untuknya.


"Ibu, apa yang sedang kau sembunyikan?" tanya Gill sambil menatap wajahnya.


Anastasya mengelak dengan berkata tidak ada apa-apa, hal itu justru membuat Gill semakin marah terlihat dari tatapannya yang sangat tajam. dia lalu mengambil pisau itu dan mengusap noda darah tersebut kemudian menunjukannya pada Anastasya dengan tatapan penuh tanya.


"Berikan tangan mu ibu." perintahnya pelan.


Karena sudah tidak bisa mengelak lagi, dengan berat hati ia memperlihatkan jarinya yang terluka. meski sudah ketahuan Anastasya tetap berusaha untuk mengelak dengan berkata kalau dia tidak apa-apa dan meremehkan lukanya itu.


Gill langsung memegang telapak tangannya yang terluka dan mengeceknya, "Ibu tidak apa-apa sayang, kamu tidak perlu khawatir. Hal seperti ini sudah biasa ibu alami ketika sedang memasak di dapur,-


Ia terkejut saat melihat jari tangannya langsung dilahap oleh Gill seperti permen lolipop. Anastasya langsung merintih menahan rasa perihnya dengan bibir bawah yang digigit, "Sayang lepaskan, darah itu kotor!" bujuknya.


Namun Gill tidak mau melepasnya dan malah mencengkeram erat tangannya agar tidak di tarik, 'Dia **********, aku bisa merasakan lidahnya menggerayangi jariku di dalam!' batin Anastasya.


Setelah hampir dua menit akhirnya Gill mengeluarkannya dan mengusapinya dengan tisu di meja. Anastasya terkejut melihat jarinya kembali utuh, tak ada darah yang keluar maupun bekas luka. dia tersenyum senang dan mengucapkan terima kasih pada Gill.


Saat Anastasya hendak mengambil pisau untuk melanjutkan memasak, Gill tiba-tiba menahan tangannya membuatnya bertanya-tanya, "Gill lepaskan tangan mu, ibu mau memasak sayang." perintahnya.


Gill tersenyum dan berkata kalau dia akan menggantikannya memasak, Anastasya terkejut mendengar keinginanny itu. terbesit dipikirannya untuk bertanya, 'Memangnya kamu bisa' namun dia menahannya dan memilih untuk tidak mengatakannya.


Anastasya lalu tersenyum dan memilih mempercayainya, dalam hati ia merasa senang melihat putranya itu sudah tumbuh dewasa. ia kemudian mengangguk dan mempersilahkan Gill memasak sesuai keinginannya.


Gill bertanya menu apakah yang ingin Anastasya makan hari ini, dia menjawabnya 'bebas' asalkan mengenyangkan. Gill pun mengiyakan pilihannya itu dan berpikir sejenak menu apa yang akan dia masak, setelah berpikir cukup lama akhirnya pilihannya jatuh ke masakan rawon.


Dia pun langsung membuka lemari dan mempersiapkan semua bahan-bahannya, dari belakang Anastasya memperhatikannya yang sedang mengiris-iris bahannya. seperti saat memasakan rendang Erfyona kemarin, tangan Gill mencincang dengan sangat cepat.


Anastasya tersenyum merasa bangga melihat putranya tersebut, dia tidak menyangka waktu berjalan begitu cepat. ia sedikit bernostalgia dan mengingat kembali momen berharganya dulu bersama Gill, mulai dari mengunjunginya setiap minggu, memandikannya yang saat dia masih balita, menyuapinya, menggantikannya pakaian, dan lain sebagainya.


Tak terasa air mata Anastasya mulai membendung di kelopaknya saat mengingat momen yang lebih jauh. bagaimana dulu perjuangannya saat melahirkan, menimang, menggendong, menyusui, dan membantunya berjalan.


Air matanya jatuh saat Anastasya tersadar putranya itu sudah menjadi dewasa dan kini balik membalas jasanya. hatinya senang karena ia tidak pernah di perlakukan seperti ini oleh siapa pun, bahkan suami dan anak-anaknya sebelumnya.


Disisi lain jantungnya terasa sakit jika dia mengingat kembali apa yang pernah ia lakukan kepada putranya dulu. jika waktu bisa diputar kembali, dia pasti akan kembali ke masa itu dan memperbaiki semuanya. Anastasya berjanji akan membahagiakan Gill sepenuh hatinya dan akan melengkapinya dengan cinta yang belum pernah Gill dapat sebelumnya.


Saat Anastasya tengah melamun memikirkan semua itu, ternyata makanan yang Gill masak telah selesai dan sudah terhidang di depannya lengkap dengan sendok dan garpu di kanan dan kirinya. Gill yang melihat ibunya melamun dan meneteskan air mata seketika tangannya tergerak untuk mengusapnya, "Ibu" ucapnya pelan membangunkannya dalam lamunan.


Anastasya terkejut saat melihat Gill sudah berdiri di depannya, ia langsung mengusapi semua air matanya yang menetes, "Kamu sudah selesai sayang?" ucapnya berusaha menutupi raut wajah sedihnya.


"Ibu sedang memikirkan apa?" tanya Gill pelan sambil menarik kursi dan duduk di sampingnya.


Anastasya sengaja menutupinya dengan berkata 'Tidak ada apa-apa' dia lalu bertanya masakan apa yang Gill masak hari ini. Ia menjawabnya rawon, sup daging kuah hitam dengan toge yang masih segar imbuhnya menjelaskan tentang masakannya itu.


Anastasya lalu menghirup aroma masakannya dan memuji kalau baunya sangat nikmat dan menggugah selera. Gill lalu mengambil sendok dan garpu secara bersamaan seraya berkata, "Ibu biarkan aku yang menyuapimu hari ini."


Awalnya Anastasya menolak karena ia sudah memasakan makanan itu, namun Gill tidak mendengarkan penolakannya itu dan mulai menyendok kuah dan daging rawon dalam mangkuk besar tersebut.


"Ibu dulu kamu pernah menyuapi aku dengan lauk telur ceplok. kau sudah susah-susah membuatkannya dan masih sempat-sempatnya menyuapi aku, padahal umurku saat itu sudah bukan balita lagi." ucapnya dengan tatapan hangat sambil meniup perlahan makanan dalam sendok tersebut.


Anastasya langsung menangis karena terharu mendengar hal itu, "Saat itu aku sangat menyukai masakan mu, meskipun itu adalah hidangan yang sangat sederhana. bahkan aku sempat menobatkannya sebagai makanan yang paling enak, terlepas dari cara ibu yang lembut saat menyuapi aku." sambungnya.


Anastasya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa, hatinya langsung meleleh merasakan ketulusannya. ia hanya bisa mengusapi air matanya berusaha untuk tersenyum tak ingin terlihat lemah di depan putranya itu.


"Ibu, ayo buka mulut mu." ucapnya pelan sambil menyodorkan sendok itu perlahan.


Anastasya lalu membuka mulutnya, ia terkejut saat merasakan makanan itu menyentuh lidahnya. kombinasi rasa yang gurih, manis, renyah dan segar dari toge mentah membuat matanya melek seketika. dia langsung menutup mulutnya yang saat itu tersenyum nampak begitu menikmati saat sedang mengunyahnya.


"Bagaimana ibu, kau menyukainya?" tanya Gill pelan.


Anastasya menganggukan kepala dan tersenyum bahagia setelah menelan makanan tersebut, "Ibu tidak menyangka, bakat mu dalam memasak ternyata sangat luar biasa. Oh sayang barusan itu adalah makanan terlezat yang pernah ibu makan." jawabnya.


Gill tersenyum mendengar pujiannya itu. Anastasya lalu mengelus rambutnya yang sudah mulai panjang, "Terima kasih sayang, kamu telah membuat hari ibu terasa istimewa." ucapnya lembut lalu memberinya kecupan di pipinya.


Gill hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa, ia kemudian lanjut menyuapinya sampai makanan dalam mangkuk tersebut habis.


....


Terlihat Anastasya tengah duduk di kursi dengan perut buncit karena kekenyanyangan, Gill langsung menyabet tisu lalu mengelap sisa makanan yang masih menempel dipipinya. hati Anastasya seketika terenyuh saat merasakan kelembutan tangan putranya itu.


Anastasya lalu memegang tangan Gill yang sedang mengelap bibirnya dan bertanya kenapa dia tidak makan. Gill menjawab kalau dirinya belum terlalu lapar dan sengaja memasak banyak untuk mengenyangkan ibunya terlebih dahulu.


Jantung Anastasya langsung berdetak kencang setelah mendengar jawaban mulia yang keluar dari mulutnya itu, ia lalu meraih kedua pipi Gill menariknya mendekat dan memberinya kecupan di pipi penuh kasih sayang. Anastasya lalu menatap matanya dalam dengan jempol bergoyang mengusap pipinya yang halus.


"Sayang, cium ibu dong." rayunya dengan suara lembut dan manja. dia lalu menyodorkan dahinya mendekat dan Gill pun memberinya kecupan hangat di dahi manisnya tersebut.


"Aku tidak tahu kalau ibu akan semanja ini."ucap Gill menggodanya. Anastasya lalu tersenyum, nampak pipinya sedikit merona. ia lalu memeluk Gill dan berkata kalau dia belum pernah diperlakukan semulia ini sebagai seorang ibu.


Gill menjawab kalau pujiannya itu terlalu tinggi baginya. ia menambahkan kalau sudah sepantasnya seorang anak memuliakan orang tuanya, terutama seorang ibu karena dia lah sosok yang mengandung sang anak selama sembilan bulan di perutnya.


Gill lalu bertanya apakah ia suka dimanja. karena sudah sifat aslinya bahwa seorang perempun suka diperhatikan dan dimanja maka Anastasya hanya menganguk 'iya' sambil tersenyum manis. Gill lalu memperintahkannya untuk mengalungkan kedua tangannya pada leher Gill dan menyuruhnya untuk berpegangan erat.


Wajah Anastasya terlihat bingung mendengar kemauannya itu namun tanpa banyak cakap ia pun menurutinya. Anastasya terkejut sampai keluar sedikit jeritan saat tahu tubuhnya sedang di angkat oleh Gill. merasa takut kalau dirinya nanti akan jatuh, ia lalu memerintahkan Gill untuk menurunkannya dan menasihatinya agar tidak berbuat hal yang aneh-aneh.


Namun Gill tidak mau menurunkannya dan kekeh dengan keinginannya, ia lalu mengulangi perkataannya untuk berpegangan yang erat. Anastasya hanya bisa pasrah menuruti apa perintahnya. Gill lalu memegang erat tubuh ibunya itu dan sedikit mengangkatnya tinggi supaya mempermudah dirinya berjalan.


Anastasya terharu sekaligus merasa bangga, ia menatap Gill dari bawah dengan mata yang berkaca-kaca. dia lalu membayangkan bagaimana dulu ia menimang putranya tersebut, saat itu Gill masih sangat lemah dan sering menangis.


Waktu telah berjalan cepat, bayi yang dulu Anastasya timang itu kini balik balik menimangnya dengan keperkasaannya. ia terharu mendapat perlakuan spesial itu yang tidak dia dapatkan dari anak sebelumnya.


Sesampainya di kamar Gill lalu menurunkan tubuh Anastasya ke ranjang secara perlahan. ia lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil memperhatikan wajah ibunya yang sedang terbaring. Gill lalu bertanya apa yang akan ibunya itu lakukan setelah ini, dia menjawab kalau ia akan mandi dan berias diri.


Mendengar itu Gill sedikit terkejut, "Kenapa harus berias, padahal tanpa itu ibu sudah cantik." ucapnya.


Anastasya lalu tersenyum dan memegang tangannya, "Benarkah, bagian mana yang kamu suka dari ibu?" tanya dia.


Gill menjawab semuanya dan memujinya kalau dia adalah wanita yang sempurna, mendengar itu Anastasya tersenyum dan sedikit tertawa lirih. Ia lalu bertanya apakah benar dirinya masih secantik itu, Gill menjawab kalau itu benar. dia memberikan alasan bahwa sering bertemu dengan wanita seumurannya dan penampilannya tidak seindah ibunya itu.


Gill lalu berkata akan turun ke dapur untuk mencuci perkakas yang kotor bekas ia gunakan memasak sebelumnya. Anastasya mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih untuk makanan lezat tersebut dan Gill pun lalu turun.


Saat Gill telah pergi, wajah Anastasya tiba-tiba berubah menjadi merah merona. kedua tangannya memegang dada, nafasnya terengah-engah dan tersenyum merasa sangat senang. sepertinya dia menahan ekspresi senangnya itu saat mendapat pujian sebelumnya dan meluapkannya saat ia sedang sendiri.