
Waktu Gill sedang mengemasi barang yang akan dia bawa disaat yang sama ia mendengar deru langkah kaki kuda dari arah depan rumahnya. Ia segera berdiri dan berlari mendekati jendela kamar untuk mengeceknya.
Terlihat dari balik kaca salah satu pengawal Anastasya telah sampai dengan atribut tempur yang lengkap, nampak pula Imelda datang menghampirinya dan membicarakan sesuatu.
'Apa yang sedang mereka bicarakan?.. tanya Gill dalam hati penasaran. Setelah selesai mengobrol, Imelda berbalik untuk kembali masuk ke dalam rumah.
Melihat itu Gill segera bersembunyi agar Imelda tidak mengetahui kalau dirinya sedang mengintip mereka. Suara langkah kakinya terdengar jelas hendak mendatangi Gill di kamarnya, ia yang mendengarnya segera duduk memposisikan diri seperti semula.
"Jemputan Nona Anastasya telah sampai, Tuan. Beliau mengirimkan salah satu pengawalnya untuk menjaga Anda buat berjaga-jaga kalau nanti terjadi apa-apa." kata Imelda.
'Sial, kenapa malah ada hambatan lagi. Ternyata Ibu sangat protektif kepadaku. Bagaimana aku bisa kabur dari sini?' pikirnya bingung.
"Sudah kuduga ternyata Ibu tidak tega melihat aku sendirian di rumah. Tapi syukurlah, aku senang ada orang yang akan menemaniku." Jawab Gill dengan senyum palsu di wajahnya.
"Kalau begitu saya pergi dulu, Tuan. Jaga diri Anda baik-baik." Katanya berpamitan.
"Bibi juga hati-hati, pulanglah dengan selamat." Balas Gill.
"Terima kasih, Tuan. Permisi!" Kemudian Imelda pergi keluar dari kamar untuk berangkat membeli kopi luwak yang Gill inginkan.
Sementara Gill di dalam kamar masih sibuk sendiri bingung memikirkan cara agar bisa lolos dari penjaga di depan. 'Ayo Gill berpikir, Gunakan akal mu!' Katanya dalam hati kebingungan sambil mondar-mandir di depan cermin.
"Pintu belakang! Ya aku akan lewat pintu belakang, itu adalah ide yang sangat bagus." Katanya senang menemukan ide cemerlang. Ia langsung meraih tas bawaannya di bawah tempat tidur dan menggendongnya di belakang.
Lekas Gill hendak melangkahkan kakinya. "Tunggu Gill! Apa yang akan kau lakukan?" Tanya sisi gelap Gill dalam cermin.
"Tentu saja kabur!" Jawabnya.
"Dari pintu belakang? Jangan bodoh Gill, dia adalah seorang pengawal. Ia profesional dalam hal mencari atau melacak." Jelasnya.
"Lalu bagaimana? Kau ingin aku bertarung melawannya? Oh ayo lah, aku belum pernah bertarung selama ini. Dia pasti akan melumpuhkan ku dengan sangat mudah." Jawab Gill pesimis.
"Kau tidak lemah Gill, percayalah padaku. Sekarang majulah, tantang dia bertarung." Jawabnya.
Gill menghela nafas sebentar. "Baiklah aku percaya padamu." Dengan tatapan serius.
Saat Gill hendak berjalan pergi ke luar tiba-tiba dia di tegur dan di hadang oleh seseorang, "Berhenti!" Panggilnya seketika Gill menghentikan langkahnya dan berbalik kearahnya.
"Anda mau kemana, Tuan?" Sambungnya bertanya.
"Aku mau pergi ke tempat Ibuku, ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengannya." Jawabnya.
"Siapa kamu? Suaramu terdengar asing ditelingaku." Tanya Gill.
"Saya adalah pengawal pribadi Nona Anastasya. Saya diperintahkan untuk menjaga Anda di sini selagi Imelda pergi, beliau juga meminta Anda untuk tidak keluar meninggalkan rumah ini." Jawabnya.
"Begitu, ya maaf tapi aku tidak punya banyak waktu untuk berbicara denganmu." Jawabnya singkat kemudian berbalik dan lekas berjalan pergi.
"Berhenti! Kalau Anda masih ngotot ingin pergi, saya tidak akan segan untuk menggunakan kekerasan!" Katanya memperingatkan Gill.
'Dari sini biar aku yang ambil alih, Gill!' sahut sisi gelapnya.
"Kalau begitu lakukanlah." Jawab Gill mengancam balik perlahan membuka matanya.
"Mata itu! Kalau begitu aku tidak perlu segan lagi." Jawabnya terkejut melihat mata biru Gill dengan simbol unik di tengah matanya, dia segera mengeluarkan pedang dari sarungnya dan berlari cepat hendak membunuhnya.
"HYAATT!" Teriaknya keras.
'Lambat sekali.' ucap Gill dalam hati langsung mengepalkan tangannya keras dan mengayunkannya tepat ke arah perut lelaki tersebut.
"JDUMMMB!" Lelaki itu terpental sangat jauh menerima pukulan dari Gill.
"Huarrkkk!" Teriaknya sampai memuntahkan darah dari mulutnya.
"JDAARRKK!" Suara keras tubuhnya menghantam rumah Gill hingga hancur luluh lantah rata dengan tanah.
Perlahan simbol yang ada pada mata Gill memudar dan menghilang menjadi mata biru biasa, "Rumahku! Apa yang telah terjadi disini?" Tanya Gill melotot terkejut tidak percaya.
'Inilah kekuatanmu Gill, kau luar biasa.' jawabnya dalam kepala.
"Lalu bagaimana dengan lelaki itu, apa aku membunuhnya?" Sambungnya penasaran langsung mencari tubuh lelaki itu di antara puing-puing rumah yang hancur.
"Tidak, aku telah membunuh manusia yang tidak bersalah.'' Terkejut setelah melihat tubuh lelaki itu hancur secara mengenaskan.
'Tidak Gill, kau sudah melakukannya dengan baik. Lihatlah!" Kata sisi gelap dalam dirinya.
Tubuh lelaki itu perlahan berubah menjadi tubuh Iblis yang sangat jelek dan menyeramkan, "Dia,- kata Gill terkejut.
'Dia adalah Iblis tirani, makhluk laknat terkutuk yang pernah menentang Tuhan.' Potong sisi gelapnya menjelaskan.
"Jadi dia Iblis Tirani itu, kalau begitu Ibuku ..." Ucap Gill mulai cemas.
"Ayo Gill kita harus cepat!" Ajak sisi gelapnya.
Ia langsung berlari cepat karena khawatir dengan kondisi Ibunya di sana. Dia terkejut karena Ibunya berhubungan dengan bangsa Iblis terkutuk itu. 'Bu tunggulah aku.' katanya dalam hati sambil terus berlari.
Setelah menempuh perjalanan cukup lama melewati hutan, akhirnya dia menemukan sebuah desa di depan. 'Tunggu Gill, di depan sana adalah desa para Iblis Tirani. Gunakan jubahmu dan sembunyikan wajahmu!' perintahnya memberitahu Gill.
Gill berhenti sejenak dan mencari kembali jubah hitamnya di dalam tas yang ia bawa. Setelah ketemu dia langsung mengenakannya dengan baik dan mulai melangkahkan kaki memasuki gerbang desa tersebut. Ia sangat terkejut ketika sudah sampai di dalam desa.
Nampak dari lirikan matanya, penindasan ada di mana-mana. Para lelaki di perbudak untuk menarik rombong kereta Iblis. Tubuhnya sangat kurus dan pucat, salah satu dari mereka mulai melambat dan jatuh tersungkur di tanah, kusir Iblis tersebut menjadi murka dan mencambuknya terus menerus hingga babak belur.
Sedangkan para wanita, mereka di perbudak sebagai pemuas nafsu. Jika ada dari mereka yang membangkang dan tidak mau menuruti keinginan para Iblis rambut mereka akan di ikat pada ekor kuda dan di seret di arak keliling desa dengan tubuh telanjang.
Sedangkan para anak kecil, mereka di bunuh di tempat karena mencoba melindungi orang tua mereka dan mencoba kabur mencari bantuan.
Jeritan kesakitan dan kesedihan kian melengkapi penderitaan mereka saat ini. 'Aku tidak bisa membiarkan para Iblis itu berbuat seenaknya seperti ini! Aku harus melakukan sesuatu.' kata Gill dalam hati sedih bercampur marah.
'Jangan gegabah Gill! Tidak ada yang bisa kau lakukan saat ini. Bersabar lah dan tunggu saat yang tepat!' kata sisi gelapnya memberitahunya.
'Aku benci penindasan ini.' jawabnya marah sambil terus berjalan. Langkahnya melambat ketika dia melihat satu wanita cantik. Pakaian yang ia kenakan sama seperti seorang Ratu dari sebuah kerajaan. Nampak dia sedang di jaga ketat oleh Iblis di kanan dan kirinya sedang berjalan melewati Gill.
Gill melirik ke arahnya untuk melihat sedikit kecantikannya. Wanita itu mulai tersadar ketika sudah lumayan jauh melewati Gill. Dia sadar kalau barusan melihat seorang yang mengenakan jubah hitam dengan mata biru menyala, sedang melirik ke arahnya.
Dia segera menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang mencari lelaki berjubah hitam tersebut, namun lelaki tersebut sudah hilang dari pandangannya. 'Tadi itu! Apa cuman perasaanku saja?' Pikirnya kebingungan sambil mencari lelaki itu.
"Hei apa yang kau tunggu! Kenapa kau berhenti! Kau ingin membuat kami menunggu?" Bentak salah satu Iblis di sampingnya.
"Hei apa kau tidak dengar! Ayo jalan! Jangan khawatir kau akan puas dengan kami berdua, ha ha!" Timpal Iblis disampingnya sambil mendorongnya dengan tongkat tombak yang dia bawa.
"Baik Tuan!" Jawabnya patuh lanjut berjalan pergi.
"Tadi itu hampir saja," Kata Gill yang sedang bersembunyi di antara kerumunan para Iblis. Waktu Gill ingin melangkahkan kakinya untuk berjalan pergi,-
"Kalau bukan karena ide cerdik dari Nona Anastasya, kita tidak akan bisa mendapat kenikmatan ini." kata salah satu Iblis berbicara kepada temannya di antara kerumuman.
Langkah Gill terhenti ketika dia mendengar pembicaraan itu dan memutuskan menguping sejenak. "Kita beruntung sekali mempunyai seorang Ratu sepertinya." Jawab temannya.
'Jadi Ibu adalah dalang di balik penindasan ini? Aku tidak percaya kalau dia sekejam itu.' batinnya dalam hati terkejut.
Setelah Gill merasa cukup mendengar percakapan mereka, dia langsung memutuskan untuk pergi melanjutkan perjalanannya kembali. di perjalanan dia masih terngiang memikirkan apa yang telah dia dengar dari para Iblis tersebut.
'Kalau yang mereka katakan itu benar! Aku pasti akan sangat kecewa sekali denganmu, Bu!' sambungnya marah bercampur kecewa mengiringi langkah kakinya.
Dia berhenti sejenak kemudian mengangkat kepalanya menatap ke langit. 'Kalian para penduduk langit akan menjadi saksi! Kalau aku memang sudah muak dengan penindasan dan penderitaan ini!' imbuhnya dalam hati merasa dendam dengan apa yang telah dia lihat.
Gill melangkahkan kakinya kembali untuk mencari keberadaan Ibunya. Ia terus berjalan lurus menuju Kingdom Of Norman yang menjulang tinggi di depan sana. disepanjang perjalanan ia terus merunduk ke bawah tidak berani melihat sekeliling karena tak kuat menyaksikan mereka para manusia disiksa dan dilecehkan.
Tibalah dia di depan gerbang kerajaan Norman. Nampak penjaga berdiri gagah menyilangkan tombak melarang masuk siapa pun yang tidak memiliki kepentingan. Gill melangkahkan kakinya mendekati gerbang tersebut. "Berhenti!" Bentak prajurit padanya.
"Siapa Kau? Buka penutup kepalamu! Tunjukan wajahmu!" Perintah salah satu prajurit. Tangan Gill perlahan memegang kupluk penutup kepalanya tersebut dan membukanya perlahan.
"Rambut putih dan mata terpejam tidak salah lagi! Dia adalah Tuan muda Gill Fire!" Kata penjaga terkejut melihat wajahnya.
"Benarkah? Bukankah dia sudah meninggal tujuh belas tahun yang lalu!" Sahut temannya terkejut mendengar jawaban dari temannya.
"Bawa aku masuk ke dalam! Aku ingin bertemu Ibuku, Anastasya Gulleen." Katanya tegas kepada mereka para prajurit penjaga.
Di dalam kerajaan para keluarga Norman tengah berkumpul di ruangan tahta untuk merundingkan rencana penjajahan selanjutnya. Mereka terkejut ketika salah seorang prajurit masuk dan memberi tahu Norman ada seseorang yang ingin bertemu dengannya.
"Mohon maaf Tuan, di depan ada seorang anak muda yang ingin bertemu dengan Anda." Sambil berlutut memberi hormat padanya.
"Suruh dia masuk!" Perintahnya. Saat ia hendak berdiri memberitahu Gill tiba-tiba dia sudah masuk duluan dan mengagetkan seisi ruangan.
"Aku datang kemari untuk mencari Ibuku, Anastasya Gulleen. Apakah dia ada disini?" Tanya Gill terus terang dengan nada tegas dan keras.
"Gill... Kenapa dia masih hidup?" Tanya Norman terkejut langsung bangkit dari singgah sananya. "Bukankah aku dulu menyuruhmu untuk membunuhnya!" Sambungnya marah berbalik menghadap ke istrinya.
'Gill kenapa kau malah kemari!' ucap Anastasya dalam hati marah menatapnya tajam dari samping tahta Norman. "Jawab aku Anastasya! Kenapa kau membiarkannya hidup." Teriak Norman murka.
"Suara siapa itu? Berani sekali kau membentak Ibuku!" Teriak Gill marah pada Norman mendengar dia berteriak memarahi ibunya.
"Kau tak berhak mengaturku!" kata Norman pelan marah sekali menoleh ke arah Gill menatapnya tajam sekali.
"Norman, beraninya kau membohongi Ibumu. Kau tidak layak memperlakukannya seperti ini, dia adalah anakmu!" Sahut Saferaa keras.
'Apa, orang yang membentak ibuku tadi adalah Ayahku!' Kata Gill terkejut dalam hati.
Saferaa langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Gill, "Nak kamu baik-baik saja 'kan? Kamu sudah makan?" Tanya Saferaa khawatir sambil mengelus pipinya.
"Ibu ini siapa? Suara Anda asing ditelinga saya." Tanya Gill penasaran.
"Namaku Saferaa, kau adalah cucuku, Nak!" Jawabnya dengan senyum diwajahnya.
"Nenek tidak menyangka punya cucu setampan dirimu." Pujinya.
"Nenek? Tapi ibu bilang aku ini yatim, tidak mempunyai keluarga." jawab Gill keheranan.
Algreed bangkit dari kursinya dan menghampiri Istrinya untuk mengajaknya pergi menjauhi Gill. "Anastasya kenapa kau membohonginya? Ibu macam apa kau ini! Mengajarkan anaknya keburukan." Cela Saferaa marah.
"Ibu kenapa kau diam? Apakah semua penindasan dan kekejaman ini adalah ulah mu? Ada apa denganmu, Bu?" Tanya Gill memastikan.
"Saferaa ikutlah denganku!" Kata Algreed dengan paksa menarik tangannya menjauhi Gill.
"Tunggu! Lepaskan tanganku!" Sambil memberontak tidak mau pergi meninggalkan Gill.
"Sudah ayo!" Sambil terus menarik tangannya mengajaknya untuk kembali duduk di sampingnya.
"Jawab aku Bu!" Bentaknya kesal karena Anastasya hanya diam.
"Selama ini kau selalu mengajariku untuk saling menghargai dan menghormati satu sama lain, tapi kenapa sekarang kau malah bersikap sebaliknya? Apakah semua itu palsu, apa semua itu hanya trik mu untuk mengelabui ku?" Sambungnya menduga dan masih belum percaya kalau kenyataan sangat pahit baginya.
"Jawab!" Teriak Gill lantang sekali.
"Itu karena kau lemah!" Sahut Norman sangat keras sampai Gill terkejut dan diam ketakutan.
"Karena Kau sangat lemah sampai mudah sekali dibohongi! Kami tidak mau mempunyai anak cacat menjijikan seperti mu. Kelahiran mu ke dunia ini adalah sebuah kesalahan. Kau adalah kegagalan dan aib yang memalukan bagi kami!" Sambung Norman lantang sekali marah murka.
Mendengar itu Gill hanya bisa terdiam dan merasa apa yang Norman bilang itu adalah cerminan dirinya saat ini. Anastasya kasihan melihat Gill mengetahui kenyataan dirinya yang menyedihkan. "Apakah itu benar, Bu?" Tanya Gill pelan dengan wajah sedih. Anastasya hanya diam bersedih sampai air mata membasahi pipinya. "Aku benci jika kau terus membohongiku." Sambungnya pelan mengeluarkan isi hatinya.
"Itu benar." Sahut Anastasya seketika bangkit dari tempat duduknya dan turun menghampiri Gill.
"Aku telah memberimu peringatan agar kau jangan menemui ku kemari, tapi apa yang kau lakukan? Kau ingin kebenaran 'kan! Inilah kebenaran mu! Kau itu cacat dan terus merepotkan ku. Aku lelah terus mengunjungimu dan membawakan makanan setiap harinya." Jawabnya tegas bercampur isak tangis.
'Jadi semua yang dikatakannya itu benar! Aku ini bukanlah siapa-siapa disini.' Kata Gill dalam hati merasa kecewa dan sangat sedih.
"Aku menyesal telah melahirkan mu ke dunia ini." Ia berubah menjadi Valuetans Perffect Queen di hadapan Gill dan mengeluarkan aura membunuhnya yang menyeramkan.
"JDUG-JDUG!" Hati Gill seketika hancur setelah mendengar ucapan wanita yang selama ini dia sayangi. "Ibu kau.." ucapnya sedih tidak menyangka Anastasya akan mengucapkan hal itu.
"Anastasya! Tarik ucapan mu itu atau kau akan menyesal seumur hidup. Dia adalah putramu, darah daging mu sendiri!" Sahut Saferaa marah.
"Tidak, dia bukan darah daging ku. Selama ini aku selalu melahirkan bibit unggul tidak sepertinya, dia bukan anakku. Selamanya aku tidak akan mengakuinya!" Jawab Anastasya kian membuat hati Gill hancur.
"Kau akan menyesal karena tidak mematuhi perintahku." Sambungnya dengan mata merah melotot.
Gill yang merasakan aura mengerikan itu menjadi sangat ketakutan. Anastasya berubah wujud ke Valuetans Perfect Queen sama persis saat ia sedang memarahi Calista kemarin.
"Berhenti Anastasya! Sadarlah! Dia itu anakmu!" Teriak Saferaa ingin menghentikannya tetapi di cegah oleh suaminya.
Anastasya mengeluarkan kuku panjangnya hendak mencakar tubuh Gill membinasakannya di depan suaminya. "SLASH!" Cakaran pertama dia ayunkan ke dada Gill sampai merusak baju yang dia kenakan.
"ARGHH!" Teriak Gill kesakitan.
"Hentikan Anastasya! Jangan menyakiti cucuku!" Teriak Saferaa histeris.
"Inilah kebenaran tentangmu dirimu. Kebenaran yang selama ini kau cari." Sambil terus melayangkan cakaran ke tubuhnya. Dia lanjut mencengkeram lehernya dan mengangkat tubuhnya ke udara.
"Inilah hukuman karena kau tidak mendengarkan apa yang ku katakan!" Dia terus memberinya cakaran membabi buta sampai Gill sekarat.
'Hei Brengsek, apakah yang mereka katakan tentangku itu benar?' Tanya Gill pada dirinya sendiri yang sedang sekarat.
'Dasar, sudah kubilang 'kan. Kau itu spesial, tak ada duanya di dunia ini. Dia akan menyesal karena telah memperlakukan mu seperti ini.' jawab sisi gelapnya.
'Jangan banyak bergerak dan percayakan semua padaku. Aku akan menyelamatkanmu dari sini.' Sambungnya.
'Walaupun aku selamat, apa yang bisa aku lakukan?' Tanya Gill pada dirinya.
'Ternyata kau hanya pandai mengobral janji, kemana kata heroik mu tadi yang mempunyai keinginan membebaskan manusia dari penderitaan?' Tanya balik sisi gelapnya menggugah semangat hidupnya.
Gill tersenyum, 'Kau benar, misiku belum berakhir. Aku percayakan nyawaku padamu, teman.' Katanya dalam hati pasrah penuh keyakinan.
Sementara Anastasya tengah menyerangnya membabi buta seperti seorang yang sedang kerasukan Iblis buas. Ia terus mencakar tubuh Gill yang sudah tidak berdaya, darah berlinang membasahi lantai yang dia pijak.
Dia mendekatkan tubuh Gill padanya dan membuka mulutnya yang bertaring tajam lebar-lebar bersiap untuk menggigit leher tersebut dan mengoyaknya. Hap! dia beneran menggigit lehernya seperti dia menggigit leher mangsa buruannya. Saat Anastasya sedang menggigit lehernya dia terkejut melihat sosok Gill lain dalam dirinya, dengan mata biru mempunyai simbol unik di tengah matanya.
Anak itu adalah sisi gelap Gill yang selama ini bersemayam di dalam tubuhnya. Wajahnya sangat menyeramkan melebihi dirinya, ia melentangkan sayap birunya yang indah berkilauan nan gagah langsung menyerang Anastasya dengan cara mencekik lehernya dan mendorongnya hingga mentok ke tembok di tengah kegelapan.
'Lama tidak berjumpa ibu, ternyata selama ini kau hanya berpura-pura di depanku. Kenapa kau memalingkan wajahmu? Apakah aku menakuti mu?' mencekiknya tambah erat lagi dan memaksanya melihat wajah marah Gill.
Ia tersenyum seperti psikopat dan menatapnya tajam sekali, 'Aku senang karena kau lah Gill telah masuk dalam pengaruh ku, aku akan menguasai tubuhnya dan menghancurkan mu suatu hari nanti. Menyesal lah karena kebodohan mu!' Ancam Gill padanya.
Anastasya yang ketakutan melihat Gill jahat langsung menarik dan mengoyak lehernya. Dia mundur beberapa langkah dan berteriak seperti orang gila dengan mata melotot histeris ketakutan.
Gill kemudian tertawa ngikik sontak membuat semua orang terkejut, "Ha ha ha" tawa dan tangis, emosi dan kecewa bertabrakan menjadi satu. "Hei Gill menurutmu kata apa yang tepat untuk diriku yang menyedihkan ini? Tidak ada lagi malaikat dalam hidupku, tak ada lagi matahari esok. Semuanya padam, semuanya sirna. Sungguh menyedihkan 'bukan?" Ucapnya terbata-bata karena menahan rasa sakit.
Saferaa meneteskan linang air mata saat menyaksikan kejadian menyedihkan tersebut, ini merupakan kesedihan yang amat dalam baginya yang tidak pernah dia alami sepanjang hidupnya.
'Sungguh bodoh kau ini Gill, mengakui ketidakberdayaan mu di depan orang yang sama sekali tidak mengakui mu.' jawab sisi gelapnya.
"Ya kau benar, memang tidak ada yang mengakui keberadaan ku disini. Kalau saja Tuhan memberiku kekuatan, aku ingin sekali membinasakan kalian semua. Melihat kalian menderita, menjerit, menangis, memohon hingga tak punya tempat untuk mengadu. Pasti akan sangat menyenangkan bisa saling berbagi rasa sakit." Sambungnya sontak seluruh terkejut mendengar pengakuannya termasuk Anastasya.
"Anastasya! Kenapa denganmu!" Teriak Norman khawatir kemudian langsung bergegas menghampirinya.
"Nak Bertahanlah! Jangan berbicara seperti itu nenek sangat menyayangimu." Teriak Saferaa sedih dan langsung menghampiri tubuhnya yang terjatuh bersimbah darah di lantai tak berdaya.
"Sadarlah! Kenapa denganmu Anastasya!" Tanya Norman kebingungan. Anastasya sudah seperti orang gila, dia sangat ketakutan dan berteriak tidak jelas sambil memegang kepalanya.
"Ne, nek?" Panggil Gill lirih terbata-bata karena menahan sakit yang luar biasa.
"Iya Nak! Kamu jangan banyak bergerak dulu ya, nenek akan menyembuhkan luka mu." Katanya dengan wajah panik sekali.
Gill perlahan meraih tangan neneknya tersebut dan menggenggamnya erat sebisanya. "Percuma, itu akan sia-sia. Aku senang di akhir hidupku aku bisa bertemu dengan orang yang tulus menyayangiku." sambil berusaha tersenyum.
"JDUGG-JDUUGG!" Jantung Gill berdetak keras dua kali sebelum akhirnya tangannya lunglai lemas jatuh ke lantai.
"Tentu saja Nak. Kamu jangan berfikiran seperti itu, Gill ... Gill!" Panggilnya merasa khawatir kalau Gill memang sudah tiada. Namun Gill hanya diam dan tak menghembuskan nafas sama sekali.
"Bangunlah Nak!" Sambungnya langsung mengecek denyut nadinya dan ternyata senyap tidak ada detakkan sama sekali.
"Gill! Jangan tinggalkan nenek Nak, Gill!" Teriaknya histeris sambil memeluk tubuhnya yang sudah menjadi mayat, ia sangat sedih hingga air matanya membasahi pipi cucunya tersebut.