
Malam itu Gill berjalan-jalan untuk melihat seisi sekolah sambil menunggu surat konfirmasi tersebut diberikan. Saat dia sedang menikmati suasana malam yang indah, langkahnya terhenti saat melihat seorang murid perempuan sedang di bully oleh empat orang laki-laki yang memiliki postur tubuh tinggi besar.
'Itu kan gadis yang aku temui di depan tadi!' kata Gill dalam hati terkejut langsung menghampirinya.
Terlihat para pem-bully itu sedang main lempar tangkap buku milik si gadis lemah tersebut. Ia hanya bisa berlari ke sana kemari berusaha meraih bukunya kembali, namun sebelum dia sampai buku tersebut sudah di lempar kepada temannya yang lain.
"Aduh!" Rintih si gadis jatuh tersungkur dan kacamatanya lepas. Ia segera mencarinya dengan merangkak terbata-bata, tangannya merayap ke segala arah untuk mencari kacamata tersebut.
Melihat kacamata si gadis yang jatuh salah satu dari pem-bully itu dengan cepat langsung mengambilnya. "Ini kacamatamu, Ambilah!" Ucapnya sambil menyodorkan kacamata tersebut di depannya.
Nampak dari mata si gadis kacamata tersebut berada di depannya meski terlihat samar-samar. "Terima kasih." ucapnya dengan senyum senang kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambilnya.
Belum sampai tangan si gadis menyentuhnya, kacamata tersebut sudah di lempar kepada temannya yang lain. "Upss, sepertinya kau harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa mendapatkan kacamata itu." Kata orang yang menyodorkan kacamata sebelumnya.
"Ha ha ha ayo kemarilah. Sungguh aku akan memberikannya padamu." Ejek si pemegang kacamata tersebut.
"Tolong kembalikan padaku!" Pintanya dengan nada sedih by hampir menangis menoleh ke sana kemari tidak berdaya mencari kacamata tersebut. Ia sudah seperti hewan yang kepalanya di tutup oleh karung.
"Aku mohon berikan kacamata itu padaku!" Pintanya sedih meneteskan air mata dengan kepala menoleh ke sana kemari dan tangan yang meraba-raba di lantai mencari kacamata tersebut.
"Disini gadis kepang. Ayo kemarilah!" Ejek salah satu dari mereka.
'Gadis itu mirip sekali denganku. Ia memiliki kekurangan yang membuatnya lemah tak berdaya, tega sekali mereka!' kata Gill dalam hati kasihan melihat gadis tersebut.
Kemudian Gill mengambil selembar daun yang gugur di bawahnya dan meniupkannya ke udara. Setelah daun tersebut terbang cukup tinggi Gill merubah daun tersebut menjadi bayangan seekor naga besar dengan kekuatannya. Lalu dia bersembunyi dan menirukan auman naga asli.
"ROARGHH!" Aumnya keras sekali.
"Suara apa itu?" Tanya salah satu temannya merasa gemetar ketakutan.
"Tidak salah lagi itu adalah suara Naga!" Sahut temannya yang juga mendengarnya.
Seketika bayangan Naga tersebut menghalangi sinar bulan yang menerangi mereka membuatnya gemetar ketakutan langsung menatap ke atas "Itu!" Dengan mata mendelik ketakutan.
"Glekh." Menelan ludah saking takutnya, keringat dingin menetes, dan air kencing yang mulai merembes membasahi celana.
"Lari selamatkan diri kalian!" Sahut temannya yang terlebih dahulu lari meninggalkan mereka.
"Hoey tunggu aku!" Teriak temannya menyusulnya lari dengan terbirit-birit menjatuhkan buku dan kacamata gadis itu.
Gadis tersebut juga nampak ketakutan setelah mendengar suara tersebut. Ia dengan cepat terus mencari kacamatanya tersebut dengan wajah takut bercampur panik.
Setelah melihat para pem-bully itu pergi Gill langsung keluar dari balik pohon besar dan berjalan menghampiri gadis tersebut. Ia mengambilkan kacamata dan buku tersebut lalu memberikannya, "Ini ambilah." Sambil menyodorkan kacamata tersebut.
"Terima kasih." Dengan senyum senang menerima kacamatanya kembali kemudian langsung memakainya. Gadis itu terkejut saat mengetahui siapa yang memberikan kacamata itu padanya. "Kamu?" Ucapnya gugup tersipu malu melihat senyum manisnya.
"Kamu wanita yang di depan tadi pagi kan, namaku Vergile. Kamu?" Sambil mengulurkan tangan mengajaknya berkenalan.
"Alice Narefille." Jelasnya malu-malu kucing menerima jabat tangannya dengan gemetar karena gugup, grogi, dan malu berpadu jadi satu.
"Senang bertemu denganmu Alice, aku harap kita bisa jadi teman akrab." Dengan wajah senang.
"Emh" Angguknya pelan malu memalingkan wajahnya, "Senang juga bertemu denganmu." Dengan wajah merah merona.
Kemudian Gill membantunya untuk berdiri. "Kamu suka membaca ya?" Tanya Gill sambil memberikan buku tebal tersebut dan berusaha mengakrabinya. Namun ia hanya mengangguk 'iya' karena masih merasa malu kemudian memeluk buku tersebut erat di dadanya.
"Kamu sepertinya gadis yang sangat sibuk. Malam-malam seperti ini kamu masih mau pergi kemana lagi?" Tanya Gill penasaran.
"Sebenarnya aku ingin kembali ke kosan." Jawabnya pelan.
"Kebetulan sekali aku juga sedang mencarinya. apakah kamu membantuku mencari Kosan di sekitar sini, tapi yang sedikit murah ya karena aku tidak punya banyak uang untuk saat ini. Tidak bagus juga enggak apa-apa kok yang penting masih layak huni." Ucap Gill meminta bantuan padanya.
"Di tempatku masih ada satu ruangan yang kosong, ini bukan kosan melainkan hanya rumah biasa milik seorang mantan guru. Coba kau minta izin padanya terlebih dahulu siapa tahu dia memperbolehkan mu." Balasnya dengan niat membantu yang tulus.
"Terima kasih Alice, aku tertolong malam ini." Ucapnya senang sekali.
"Tidak apa-apa lagian kamu sudah membantuku." Balasnya pelan.
"Jadi di mana tempat itu berada?" Tanya Gill penasaran.
"Ikutlah denganku." Ajaknya pelan dengan wajah merah karena malu, terus memeluk erat buku tersebut di dadanya sambil berjalan memandu-Nya.
'Kalau nanti ada orang yang lihat bagaimana, tempat itukan lumayan jauh dari sekolah ini. Kalau sampai menimbulkan fitnah kan gawat ... Membayangkan lebih jauh.
"Baiklah aku ikut kau saja." Ucap Gill pasrah mempercayakan semuanya pada Alice.
'Lihat gadis itu kemarin malam aku melihatnya masuk ke tengah hutan bersama seorang lelaki Loh!' Ucap orang yang melihatnya dalam prasangka buruk Alice.
'Wanita bersama laki-laki tengah malam pergi ke hutan itu ngapain?' sambung prasangka buruknya yang lain.
'Apakah mereka kehabisan tempat sampai memutuskan main gelap-gelapan di tengah hutan?' timpa prasangka buruk yang lain.
'Aku tidak mau hal itu sampai terjadintapi sepertinya dia lelaki yang baik dan memang membutuhkan pertolongan. Tuhan pasti mengerti niat baik pasti akan berakhir baik juga. Sebaiknya aku berhenti berprasangka buruk dan bergegas cepat sebelum orang lain melihatnya.' katanya dalam hati mempercepat langkahnya.
Setelah sampai di tempat Alice langsung mengetuk pintunya agar di bukakan oleh si pemilik rumah tersebut.
"Tok-tok!" Ketuknya sedikit keras.
"Bibi, Alice pulang!" Panggilnya terus mengetuk pintu tersebut.
'Rumah ini mempunyai desain yang sangat bagus, aku suka dengan desain melengkung dan runcing seperti ini. Terlihat kalem namun berbahaya.' kata Gill dalam hati terpukau dengan rumah tersebut yang berbentuk seperti rumah gadang sumatra barat.
"Sebentar Nak." Terdengar suara wanita tua dari dalam rumah tersebut.
"Kamu sudah pulang Nak. Siapa itu di belakang?" Tanya wanita tersebut yang melihat Gill berdiri di belakangnya.
Alice bingung hendak menjawabnya apa karena ia baru pertama kali bertemu dan belum mengenal akrab satu sama lain.
"Perasaan baru tadi pagi kamu mendaftar kemari eh malamnya sudah bawa lelaki saja. Bibi sungguh tidak menyangka ternyata kamu pandai juga memikat hati para pria. Selain itu..." Mendekat dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Dia itu tampan juga, selera-mu sangat bagus Alice." Bisiknya memuji.
"Bukan, bukan seperti itu, bibi salah paham mengenainya!" Sahut Alice dengan wajah merah malu karena di goda olehnya.
"Bercanda kok, jadi siapa dia?" Tanya wanita misterius tersebut.
"Namanya Vergile Bi, tadi aku bertemu dengannya di jalan." Jelasnya.
"Selamat malam Bibi, perkenalkan nama saya Vergile. Maaf kalau kedatangan saya ini mengganggu waktu istirahat mu." Mengulurkan tangannya memperkenalkan diri dengan wajah percaya diri.
"Tidak apa-apa Nak, namaku Laphia Smaragdina panggil saja Bi Phia. Mari silahkan masuk, tidak enak ngobrol di luar malam-malam begini." Balasnya mengajak Gill masuk.
"Permisi." Ucap Gill sopan lekas memasuki pintu rumah tersebut.
"Silahkan duduk, sebentar ya bibi buatkan minuman hangat untukmu." Ucapnya mempersilahkan duduk.
"Tidak usah repot-repot Bi, saya tidak haus." Sahut Gill menolak tawarannya halus dengan wajah sungkan.
"Tidak apa-apa, kamu tunggu saja di sini." Ucapnya dengan senyum manis tulus kemudian pergi ke dapur.
"Tapi,-
"Sudah tidak apa-apa Vergile. Bi Phia itu wanita yang baik terima lah niat baiknya itu." Sahut Alice menegurnya.
"Iya, aku minta maaf." Ucap Gill pelan merasa bersalah.
Tak berapa lama Laphia datang dengan membawa tiga gelas cangkir berisi teh di dalam satu wadah besar. "Maaf menunggu." Ucapnya berjalan menghampiri mereka.
"Ini untuk Alice." Ucapnya sambil menaruh secangkir teh di depannya.
"Dan ini untuk Vergile." Menaruh secangkir teh di depannya.
"Terima kasih Bi." Jawab Gill sopan.
"Sama-sama." Jawabnya dengan senang hati.
"Jadi ada keperluan apa Nak Vergile malam-malam datang kemari?" Tanya Laphia penasaran.
"Slurph-Ahh!" Meletakan cangkirnya kembali "Jadi begini tujuan saya datang kemari adalah ingin meminta izin kepada Bi Phia untuk bermalam di sini. Apakah boleh?" Jelasnya meminta izin.
"Tentu saja boleh Nak. Mau kamu menginap sampai lulus pun bibi juga tidak keberatan." Jawabnya dengan senang hati.
"Tapi saya hanya punya uang segini. Apakah tidak apa-apa?" Sambil mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan menunjukannya di meja, terlihat Gill hanya memiliki 12 keping koin tembaga dan 3 keping koin perak.
'Ini sih terlalu sedikit untuk sewa penginapan bahkan untuk semalam.' ucap Alice merasa iba setelah melihat jumlahnya.
'Anak ini malang sekali, aku tidak tega mengambil keping koin terakhirnya.' ucap Laphia setelah mengetahui jumlahnya.
"Tidak usah bayar Nak bibi ikhlas membantumu. Malahan Bibi senang rumah ini tambah ramai karena adanya kamu. Besok kamu tidak perlu pergi kamu boleh menginap di sini selama yang kamu mau. Gratis!" Ucapnya dengan senang hati.
"Bibi baru ingat ternyata kamu anak yang melawan Emilia tadi pagi itu ya. Bibi sempat melihat pertarungan kalian berdua, sumpah itu seru banget. aksi kamu menebas leher naga itu uh ajib bener." Ucapnya penuh kagum.
"Wussshhh" Mengayunkan tangannya seperti yang Gill lakukan sebelumnya saat menebas leher naga Emilia.
"PRAKH! CTARR!" Tidak sengaja menyenggol cangkir tehnya karena terlalu bersemangat membuatnya jatuh pecah berantakan dan air tehnya luber kemana-mana.
"Astaga bibi hati-hati." Ucap Alice menasihatinya kemudian memunguti pecahan cangkir yang hancur berceceran di lantai.
"Maaf, tapi sungguh yang bagian itu keren sekali. Bibi serasa jadi muda kembali waktu menyaksikan pertarungan kalian tadi." Pujinya terkagum.
Gill hanya bisa tersenyum melihat aksinya yang kocak barusan "Terima kasih Bi, tapi aku harus mengakui kalau Emilia bukanlah lawan yang mudah. Dia sungguh bertalenta!" Pujinya.
"Bagi Bibi kamulah yang terbaik Vergile. Meskipun kalah tapi aksi bertarung mu itu keren sekali seperti seorang Guardian!" Jelasnya.
"Ngomong-ngomong kamu kok tidak bawa barang sama sekali. Kamu ini niat pergi ke sekolah atau bermain?" Tanya Laphia mencandainya.
"Tadinya saya ingin membawanya tapi karena ribet ibu menyarankan untuk tidak membawanya sementara. Dia akan mengantarkannya sendiri nanti setelah saya di terima masuk di sini." Jawabnya ngeles.
"Jadi seperti itu ternyata ibu mu adalah wanita yang pandai." Puji Laphia percaya begitu saja.
"Tok-tok!" Suara seseorang mengetuk pintu.
"Siapa itu?" Tanya Alice penasaran.
"Saya Andrew, staf malam Majesty." Jawab orang tersebut dari luar.
'Andrew!' pikir Laphia terkejut karena ternyata dia mengenalnya.
"Alice bukakan pintunya!" Perintahnya.
"Baik Bi." jawabnya patuh langsung bangkit dan menghampiri pintu di susul oleh Laphia di belakangnya.
"Selamat malam Bu Phia, maaf kalau kedatangan saya ini mengganggu." Ucap Andrew menyapanya.
"Andrew sudah lama kita tidak bertemu. Mari silahkan masuk!" Ajaknya membuka pintu lebar-lebar mempersilahkannya masuk.
"Tidak usah Bu Phia ini sudah larut malam, lagian saya juga sedang terburu-buru, saya hanya ingin memberikan surat ini padanya." Tolaknya halus menatap ke arah Alice sambil menyodorkan Amplop kertas tersebut.
"Ini?" Ucap Alice menerima surat tersebut dengan wajah penasaran, terus memperhatikan amplop tersebut.
"Ini adalah surat keputusan dari Dewan Inti." Jelasnya.
"Sepertinya di dalam ada pendaftar yang membuat heboh seleksi hari ini." Ucap Andrew tak sengaja melihat Gill sedang menyeruput teh hangat di dalam.
"Maksudmu Vergile?" Tanya Laphia memastikan.
"Kebetulan sekali aku bertemu dengannya di sini, tolong ini nanti kamu berikan padanya." Memberikan Amplop tersebut pada Alice, "Aku harus mengantarkan surat yang lain karena masih banyak, permisi Bu!" Berbalik dan pergi.
"Dari dulu dia tidak pernah berubah." Ucap Laphia pelan terkagum dengan kerja kerasnya kemudian mereka berdua kembali masuk dan mengunci pintunya.
"Siapa yang datang barusan itu Alice?" Tanya Gill penasaran meletakan kembali cangkir tehnya ke meja.
"Dia adalah anggota staf sekolah shift malam. Dia datang dan memberimu ini." Menyodorkan Amplop tersebut.
"Apa ini?" Tanya Gill menerima surat tersebut dengan sangat penasaran.
"Kau buka saja dulu." Sahut Laphia menasihatinya.
'Hah ini kan!' kata Gill terkejut dalam hati setelah mengetahui isi surat tersebut.
...Surat keterangan lulus...
Kepada : Vergile
Tanggal : 18 November 1239
Catatan.
Dengan adanya edaran surat ini pendaftar mengetahui keputusan akhir dari kami mengenai di terima/tidak-Nya saudara/saudari. Kami berharap Anda mampu menerima keputusan ini dengan sabar dan hati yang lapang.
Informasi.
Kami ucapkan selamat kepada Anda atas nama Saudara "Vergile" karena telah berhasil melewati seleksi yang telah kami berikan. Setelah berhasil melewati seleksi ujian tersebut berarti Saudara telah menunjukan kualitas dan kelayakan sebagai murid baru Majesty Strength Academy.
Dengan diterimanya Saudara di sini kami berharap Saudara mampu menjaga nama baik sekolah dan keluarga. Kami menunggu perkembangan Anda selanjutnya.
Status siswa.
Nama : Vergile
Jenis kelamin : Laki - laki
Kelas : 1A
No Absen : 01
Penting untuk di baca :
Jangan melihat nilai sebagai patokan Utama. Nilai hanyalah angka bukan faktor penentu kenaikan atau kelulusan. Yang terpenting adalah kekuatan. Giat lah belajar dan berlatih agar kamu bertambah kuat. Pantang menyerah dan terus semangat itulah hal Utama.
~Dewan Inti
"Apakah cuma ini yang kita dapat setelah kita berjuang mati-matian di seleksi ujian masuk?" Tanya Gill dengan raut wajah dan nada kecewa setelah membaca kertas tersebut.
"Wah luar biasa, kamu hebat Vergile bisa masuk ke dalam kelas 1A." Kata Alice terkejut saat mengetahui isi suratnya.
"Tapi setidaknya mereka memberimu ucapan selamat Vergile." Jawab Laphia.
"Aku tidak butuh ucapan itu. Ini mengecewakan!" Ucapnya langsung membuang kertas tersebut.
"Mereka sungguh tidak menghargai perjuangan para pendaftar, setidaknya berilah kelayakan atau fasilitas tertentu sebagai hadiahnya. Lah ini hanya ucapan selamat doang. Parah!" Keluhnya kecewa abis.
"Di Majesty orang yang menerima fasilitas itu adalah Anggota Dewan Inti." Jelas Laphia.
"Kau harus bersyukur Vergile, ingat sebelumnya kau telah kalah dan sekarang kau malah di terima di kelas tertinggi. Kau sungguh beruntung!" Kata Alice menasihatinya.
"Bagiku semua kelas tidak ada bedanya, di taruh di kelas D pun aku juga tidak keberatan. Ah sudahlah aku lelah..." Kata Gill dengan wajah lesu bercampur kecewa.
"Bi Phia di mana aku akan tidur malam ini, aku sangat lelah hari ini." Tanya Gill.
"Alice antar Vergile ke kamarnya, biarkan dia istirahat." Perintah Laphia.
"Baik Bi." Jawabnya patuh.
"Ayo ikut aku." Ajaknya berjalan menaiki tangga.
Di jalan lorong menuju kamar mereka mengobrol ringan "Oh iya Alice kamu tergabung ke dalam kelas apa?" Tanya Gill penasaran.
"Aku tergabung di kelas 1D, aku layak mendapatkannya karena memang kemampuanku belum setinggi dirimu." Jawabnya pelan sedikit malu.
"Kamu terlalu memujiku, masih ada banyak hal yang perlu kucari tahu." Ucap Gill merendah.
"Tapi aku senang setidaknya aku masih di beri kesempatan belajar di sekolah ini." Ucapnya mengeluarkan isi hatinya.
"Baiklah kita harus sama-sama berjuang Alice!" Dengan wajah semangat mengangkat lengan tangannya tinggi.
"Emh!" Angguknya setuju.
Setelah mereka sampai di tempat.
"Di sini kamarmu Vergile. Kamar kita berseberangan." Jelasnya memberitahu kamarnya juga.
"Aku beruntung kalau begitu." Jawab Gill senang sekali.
"Lebih baik kita segera tidur supaya besok tidak terlambat." Ucap Alice mengingatkannya.
"Kamu benar, aku masuk dulu ya. Selamat malam Alice." Masuk dan menutup pintunya.
"Malam Vergile..." Balasnya pelan dengan raut wajah sedih karena dalam hatinya dia ingin mengobrol lebih akrab lagi dengan Gill namun dia malah menyudahi obrolannya sendiri 'Setidaknya besok masih ada waktu' ucapnya dalam hati segera masuk ke kamar dan menguncinya.
Sesampainya di dalam kamar ekspresi wajah Gill berubah 180° dari yang semula bahagia, hangat, dan murah senyum kini kembali menjadi dirinya yang asli. Dengan raut wajah dan tatapan mata yang dingin. Ia langsung berjalan menuju jendela dan membuka kordennya membiarkan cahaya bulan purnama masuk.
'Sepertinya aku berhasil hari ini, ternyata bersandiwara itu lebih rumit dari yang aku kira.' katanya dalam hati.
'Aku harus memikirkan langkah selanjutnya, aku tidak bisa terus berdiam diri di sini. Mereka harus membayarnya!' kata Gill dalam hati dengan raut wajah marah menatap bulan purnama yang bersinar terang.