The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 69 ~ Kemarahan Enrylind



Sesampainya di TKP Enrylind langsung menggelar penyelidikannya kembali, satu jam lebih dia mencari tetapi tak menemukan bukti baru apapun. Karena merasa jengkel dan lelah ia memutuskan untuk duduk dan beristirahat di bawah pohon besar yang rimbun, tubuhnya benar-benar lelah sampai hembusan angin sepoi membuat matanya mengantuk.


"Sekarang aku tahu nikmat apa yang selalu didambakan oleh orang sibuk, tidur siang adalah bentuk penghargaan yang sepadan" ucapnya hendak tiduran di bawah pohon tersebut.


Saat Enry hendak menutup matanya, ia dikejutkan oleh noda darah yang membekas di sebuah daun kering. Seketika ia tak jadi menutup mata dan segera bangun mengambil daun tersebut.


Enry mengamati daun tersebut cukup lama sambil berkeliling mencari barang bukti lain, sampai akhirnya ia menemukan sebuah jejak sepatu di balik pohon tempat ia berteduh. Tanpa disangka-sangka ternyata Enrylind juga punya mata yang sama dengan Fain, namun polanya berbeda.


Dia langsung menggunakan kekuatan matanya itu untuk mencari ke arah mana perginya jejak tersebut, "Aku ingin tahu, alasan apa yang akan kau katakan pembunuh." ucapnya pelan melihat jejak sepatu tersebut mengarah ke kosan Laphia.


Dikosan, Laphia dan Liliana tengah membersihkan ruang tamu bersama. mereka kompak berbagi tugas bersama dimana Laphia mendapat tugas mengepel lantai sedangkan Liliana mengelap kaca dari debu yang menempel.


Saat sedang asik gotong royong mereka dikejutkan oleh suara orang mengetuk pintu, "Biar aku saja yang buka." sahut Laphia bergegas menghampiri pintu tersebut.


"Enrylind!" ucap Laphia terkejut melihatnya berdiri di depan pintu.


"Ada apa Laphia?" tanya Liliana dari belakang penasaran.


"Selamat siang Bu, aku cukup terkejut melihat mu tinggal di tengah hutan seperti ini selain itu membuat rumah pribadi di wilayah Majesty itu dilarang, kan?" sapanya.


"Apakah kamu datang untuk menggusur tempat ini?" tanya Laphia dengan wajah tegang penuh kekhawatiran.


Enrylind tersenyum, "Tidak, kita sampingkan dulu masalah itu. Boleh aku masuk?" ucapnya.


"Masuklah." langsung membukakan pintu lebar.


Liliana terkejut saat melihat Enrylind ada dihadapannya. ia tahu kedatangannya pasti ada sebab dan maksud tersendiri, 'Ada apa ini. Kenapa para Dewan tidak mengutus Emilia seperti biasa?' pikirnya bertanya-tanya melihat Enrylind lewat di depannya, ia hanya tersenyum melihat ekspresi Liliana yang terkejut.


Mereka bertiga langsung duduk di kursi ruang tamu. Saat Laphia hendak berdiri membuatkannya minuman, Enrylind langsung mencegahnya dan berkata kalau kedatangannya ini tidak akan lama. Laphia pun kembali duduk dan memulai perbincangan.


"Katakan Enry, Apa tujuan mu datang kemari?" ucapnya bertanya.


"Tidak ada, kebetulan aku berada disekitar sini dan tidak sengaja menemukan tempat ini." jawab Enrylind.


"Ngomong-omong apakah hanya Ibu saja yang tinggal di sini?" sambungnya.


"Ada dua orang siswa kelas satu, Vergile dan Alice Yumini." jawab Laphia.


"Apakah mereka ada disini?" tanya Enrylind.


"Vergile keluar sejak tadi pagi, kalau Alice baru saja." jawab Liliana.


"Ok baiklah," menghembuskan nafas panjang sambil menutup mata, "Sekarang kita mulai inti pembicaraannya." sambungnya mengaktifkan mata merah, langsung menginterogasinya.


Berpindah ke Emilia yang saat ini sedang melakukan proses otopsi bersama timnya, ia berusaha keras mencari bukti yang Enrylind perintahkan. Keringatnya mulai bercucuran dan tubuhnya mulai kelelahan, 'Hasilnya tetap sama, aku tidak menemukan bukti baru disini.' batinnya.


Emilia kemudian melepas maskernya dengan sarung tangan yang berlumuran darah, "Bagaimana Nona, Apakah Anda menemukan sesuatu?" tanya salah satu wanita timnya.


Ia menghembuskan nafas panjang dan berkata, "Tidak, semuanya masih sama. Tolong kalian rapikan kembali tubuh mereka bertiga dan langsung makamkan lah sore ini." sambil melepas sarung tangannya.


"Baik Nona." ucap mereka kompak patuh.


"Terima kasih." berbalik dan pergi keluar ruangan.


Ia berdiri sejenak di depan pintu dan menghirup udara segar, 'Aku sampai lupa kalau aku belum makan apapun sejak tadi pagi, makan apa ya hari ini...


Saat Emilia hendak melangkahkan kaki ia mendengar suara panggilan dari Vania, dia langsung berhenti dan berbalik ke arah sumber suara. Nampak dari matanya Vania sedang berlari ke arahnya sambil membawa sebuah keranjang kecil, tertutup oleh kain merah di atasnya.


"Vania!" ucap Emilia yang melihatnya datang ngos-ngosan.


"Apakah Nona sudah makan, ini saya bawakan Anda bekal. Maaf membuat Anda menunggu, saya kira Nona langsung kembali keruangan setelah rapat selesai." ucapnya.


Emilia tersenyum, "Tidak apa-apa, terima kasih Vania. Tunggulah aku disana, aku akan pergi untuk cuci tangan sebentar." perintahnya.


"Baik Nona." angguknya dan mereka pun pergi.


Karena hari sudah mulai sore Gill memutuskan untuk turun dan kembali ke kosan untuk mandi, sambil berjalan menuruni anak tangga ia berfikir bagaimana cara menyembuhkan luka tersebut dengan cepat.


'Aku menyesal telah memberitahu Kak Fyona kemarin. Semoga saja dia tidak datang kemari, bisa panjang urusannya kalau ada orang yang tahu.' pikirnya merenung.


Langkah Gill terhenti saat ia melihat adegan seksual di dalam kelas 1B yang sepi, nampak dari matanya terdapat dua orang gadis yang sedang asik bermain dengan satu orang pria dewasa. dari raut wajahnya kedua gadis itu nampak senang dan begitu menikmatinya.


Gill menyaksikan hal itu sejenak sambil merenungkan sesuatu, 'Rupanya tidak hanya lelaki saja yang brengsek, tapi wanita disini juga sama murahnya. Aku yakin pria itu pasti kuat dan tidak bisa diremehkan, karena itu lah gadis-gadis itu menggilainya.' pikirnya.


'Biarlah, tidak ada urusannya juga denganku.' sambungnya.


Saat hendak berjalan pergi, Gill dikejutkan oleh kehadiran seorang gadis yang tengah berdiri di hadapannya. Gadis tersebut juga merasa terkejut melihat Gill, saat ia hendak bertanya Gill langsung membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan.


Gadis itu terkejut melihat Gill melakukan itu padanya, namun Gill langsung memberitahu alasannya kenapa dia melakukan itu. Ia memberi kode lirikan pada mata gadis itu dan seketika gadis itu paham dengan maksudnya.


Melihat ekspresi dan matanya telah tenang Gill perlahan melepas telapak tangannya dari mulut gadis itu. Ia memberitahu lencana ketua kelas yang menempel di jas sekolahnya, ia memberikan kode menyilangkan kedua lengan tangan dan menunjuk ke arah mereka bertiga.


Gill membalasnya dengan menunjuk gadis tersebut kemudian melentingkan tiga jarinya dan menunjuk pria tersebut. Gadis itu menggelengkan kepala bingung dengan maksud kodenya.


Tanpa banyak berfikir Gill langsung mendekatkan bibirnya di telinga gadis tersebut dan membisikan sesuatu, "Sebaiknya kau jangan ikut campur, atau kau akan diperkosa oleh pria itu." bisiknya menjelaskan maksudnya.


"Lalu bagaimana dengan mereka berdua, mereka butuh bantuan,-


"Tidak kah kau lihat ekspresi mereka?" potong Gill.


Gadis itu langsung menoleh ke arah mereka dan memperhatikan raut wajahnya, ia terkejut saat tau kedua gadis itu sangat menikmati dirinya diperkosa. Gill lanjut berjalan pergi setelah ia melihat ekspresi terkejutnya.


Dari raut wajahnya gadis itu terlihat kecewa dan tidak habis pikir oleh kelakuan temannya itu, ia terlelap dalam lamunan kekecewaan cukup lama sampai akhirnya dia sadar kalau Gill sudah pergi meninggalkannya. Gadis itu kemudian mencarinya dan menemukan Gill sudah berjalan cukup jauh.


Ia kemudian pergi meninggalkan ruang kelas tersebut secara mengendap-endap untuk menyusul Gill yang sudah jauh.


"Vergile!" panggil gadis tersebut keras.


Gill langsung berhenti dan berbalik menatapnya, gadis itu langsung buru-buru mendekatinya, "Maaf, aku tidak sopan karena langsung memanggilmu menggunakan nama depan, padahal kita belum pernah bertemu" sambungnya dengan wajah malu-malu.


"Tidak apa-apa, memang itu lah namaku" jawabnya.


"Begitu ya..." ucapnya merundukkan kepala malu.


Saat Gill hendak berjalan pergi, "Tunggu!" sahutnya. Gill berhenti dan berbalik menatapnya penuh tanya, "Terima kasih." sambungnya pelan.


"Sebaiknya kau jangan mencampuri urusan orang lain, biarkan saja mereka!" ucap Gill menasihatinya.


"Tapi aku adalah ketua kelas, aku harus mengayomi dan menjaga ketentraman antar teman sekelasku. Ibu selalu berkata agar aku menjadi anak yang baik dan berguna untuk semua orang, jadi-


"Pikirkan lagi keputusan mu itu, Ingat kau sedang tidak berada di rumah. Semua hal bisa saja terjadi" potong Gill kemudian pergi meninggalkannya.


Dijalan saat hampir sampai kosan Gill kembali merenungi kata-katanya barusan, "Jika dipikir kembali benar juga apa yang aku katakan tadi, kenapa aku tidak menerapkannya kepada diriku sendiri?" ucapnya.


"Untuk apa juga aku menyelamatkan mereka, yang ada mereka akan semakin bergantung pada orang lain dan pada akhirnya aku akan terseret hal merepotkan yang bukan urusanku." sambungnya.


'Aku tidak peduli tindakan ku ini egois atau tidak, tapi yang jelas berbuat baik itu pasti ada balasannya dan jika balasannya tidak sesuai barulah kau sadar kalau kebaikan mu itu di bayar murah.' pikirnya.


"Aku sudah tidak sabar untuk segera mandi, sore-sore gini pasti segar sekali,- Ah!" Gill terkejut saat ia memegang gagang pintu kosannya.


'Kekuatan siapa ini, dahsyat sekali. Mereka berdua tidak mungkin punya kekuatan sebesar ini, tidak mungkin juga kekuatan ini berasal dari Bu Liliana harusnya saat ini dia sudah pulang. Kemarin aku juga tidak merasakan energinya sedahsyat ini saat di bertarung.' pikirnya.


'Sebaiknya aku berhati-hati, aku merasakan ada kekutan pengontrol pikiran di dalam sana.' batinnya perlahan membuka pintu masuk.


"Sreeekkhh!" suara engsel berbunyi.


"Akhirnya kau pulang Vergile." ucap Enrylind berbalik dan menatapnya dengan mata merah berkilau.


'Ah!' batin Gill yang mengetahui Laphia dan Liliana telah di kendalikan pikirannya, nampak pupil mata mereka berubah menjadi merah.


'Sayang sekali tapi mata merah itu masih belum cukup untuk mengendalikan ku.' pikirnya berdiri terdiam di tengah pintu saling tatap mata.


'Sepertinya dia tidak terpengaruh oleh kekuatan mataku, boleh juga.' batin Enrylind tersenyum.


"Siapa kau, apa yang kau lakukan kepada mereka berdua?" tanya Gill tegas.


"Namaku tidak lah penting, dari pakaian yang ku kenakan kau pasti sudah tahu siapa aku ini. Kemarilah ada hal yang ingin kubicarakan dengan mu." ucapnya menatapnya tajam serius.


Gill tahu kalau dia adalah Anggota Dewan dan dia juga telah memprediksi maksud dari kedatangannya dan arah percakapan yang akan terjadi. tanpa banyak bicara ia langsung menghampirinya dan duduk di seberang meja, "Aku sedang sibuk hari ini jadi akan ku buat cepat saja" ucap Enrylind.


"Ada apa?" tanya Gill terus terang.


"Apakah kau orang yang telah membunuh ketiga siswa dari kelas 2C?" tanya Enrylind.


"Iya." jawab Gill jujur tanpa banyak berkelit.


Enrylind terkejut mendengarnya yang langsung berkata jujur, "Kenapa?" tanya Enry penasaran dan sedikit memasang raut wajah curiga.


"Apa aku harus menjawabnya?" ucap Gill bartanya balik.


"Jangan menguji kesabaranku. aku tidak akan mengulangi kembali pertanyaanku!" ancam Enry geram pertanyaannya dijawab dengan nada candaan.


"Kau sudah dengar kan darinya?" jawab Gill sambil menoleh ke arah Liliana.


"Dalam kejadian itu ada istilah 'Membunuh atau kau yang dibunuh' aku hanya membela diri." jawab Gill singkat.


"Lalu kenapa kau meninggalkan jasad korban di tempat kejadian, Apakah kau memang sengaja melakukannya untuk memancing kehebohan?" tanya Enrylind.


"Sama sekali tidak, maksud ku untuk apa aku harus susah-susah menyembunyikannya jika menemukan jasad itu hanya masalah waktu. Kau adalah anggota Dewan Inti, harusnya kau lebih tahu tentang mereka bertiga dan orang-orang yang berbuat sama." jawabnya.


"Simpan saja kritikan mu itu, kau tidak tahu apa-apa mengenai Dewan Inti." ucapnya judes membuat tangan Gill mengeras (mengepal keras).


"Kami sudah mengamati mereka sejak lama dan tahu sikap asli mereka yang brengsek, suka melecehkan gadis di sekolah. Meskipun begitu aku juga tidak bisa membenarkan tindakan mu yang sadis. Aku akan memaafkan mu pada kasus kali ini, tapi kau akan diskors selama seminggu karena sikap tidak sopan mu." sambungnya.


Enrylind kemudian bangkit dari tempat duduknya, "Aku mengampuni mu bukan karena aku kasihan padamu. jika kau berani mengulanginya lagi, aku tidak akan segan menghukum mu dengan hukuman yang berlaku!" ucapnya tegas.


"Satu lagi" menoleh ke belakang tanpa membalik badan, menatap tajam ke arah Gill yang sedang duduk, "Dewan Inti tidak menerima kritikan dari siapa pun jadi sebaiknya kau belajar sopan santun dalam berucap. Mengkritik Dewan Inti ada sanksinya tersendiri dan itu sangat berat untuk bocah konyol sepertimu." ucapnya memperingatkan Gill.


Gill tersenyum mendengar itu seketika membuat Enrylind marah, "Terima kasih atas peringatannya, tapi aku sama sekali tidak peduli dengan ancaman mu itu." jawab Gill santai.


Enrylind balik mengepalkan tangannya keras, sebisa mungkin dia menahan amarahnya, 'Sombong sekali bocah ini!' batinnya marah.


Ia menghirup nafas panjang dan mengembuskannya, "Bagus lah jika kau tidak mendengarkan peringatanku. Lain kali jika kau terseret kasus lagi maka aku lah yang akan membereskan mu. Aku tidak akan segan untuk menggunakan kekerasan jika itu memang di perlukan dan saat hari itu tiba kau akan tahu sebodoh apa dirimu." Ancamnya terakhir kali setelah itu dia pergi.


Gill menghembuskan nafas panjang, 'Huh, apa semua Dewan Inti semenyebalkan ini?' batinnya.


Setelah Enrylind menutup pintu dari luar barulah mereka berdua tersadar, nampak wajah mereka kebingungan dengan apa yang terjadi, "Vergile, sejak kapan kamu pulang. Dimana Enrylind?" tanya Laphia sambil menengok kesana kemari.


'Jadi wanita itu namanya Enrylind!' batin Gill setelah mengetahuinya.


"Kok sudah sore ya, perasaan tadi..." Ucap Liliana yang masih bingung.


"Enrylind, siapa dia?" tanya Gill.


"Enrylind, jangan-jangan dia menggunakan kontrol pikiran kepada kita!" duga Liliana terkejut setelah teringat dengan kejadian sebelumnya.


"Dasar gadis biadab, berani sekali dia mempermainkan kita!" sambung Laphia marah memukul meja dengan keras.


"Sudah-sudah, dia sudah pergi." ucap Gill menenangkan mereka berdua.


"Kamu tidak apa-apa kan Vergile, gadis itu tidak mencelakai mu kan?" tanya Liliana cemas mengecek setiap bagian wajahnya.


"Aku baik-baik saja, aku hanya sedikit terkejut bertemu dengannya,-


Liliana langsung memeluknya senang sekali, "Syukurlah, aku senang kau tidak apa-apa." ucapnya bahagia.


'Kenapa dia sangat perhatian padaku, pakai peluk segala lagi.' pikir Gill bertanya-tanya di pelukan Liliana.


Ia kemudian melepas pelukannya dengan mata yang berbinar-binar, hatinya sangat takut jika dia kehilangn Gill dari hidupnya. Bagi Liliana tidak ada satu pun hal yang lebih berharga daripada Gill untuk saat ini.


"Siapa Enrylind itu?" tanya Gill mengulangi ucapannya.


"Dia adalah Anggota tertinggi Dewan Inti, ia menjabat sebagai wakil ketua di dalamnya. Wanita itu adalah mimpi buruk bagi siapa saja yang terlibat dengan para Dewan." jawab Laphia menjelaskan.


'Jadi begitu, pantas saja dia memiliki kekuatan besar luar biasa.' batin Gill dalam hati.


"Vergile, kau jangan dekat-dekat dengan wanita itu. Dia itu berbahaya, bergaulah dengan gadis yang seusia dengan mu." ucap Liliana menasihatinya lembut.


"Aku mengerti." jawab Gill menuruti apa katanya.


"Anak pintar." kembali memeluknya.


Saat dalam perjalanan pulang Enrylind menghubungi semua Anggota Dewan untuk segera berkumpul. Dia berkata akan mengumumkan sesuatu yang penting. Tanpa banyak cakap mereka semua langsung mengiyakan perintahnya.


Sesampainya di ruangan nampak mereka semua telah datang berkumpul, kecuali Fain. Enrylind bertanya kepada kepada para Anggota yang ada di sana namun mereka hanya menggedekan kepala tidak tahu kemana perginya, dalam hati Enrylind merasa kesal dan langsung menghubungi Fain menggunakan telepatinya.


Fain yang sedang enak-enaknya makan pentol yang ditusuk, sontak merasa terkejut mendengar bentakan keras dari seorang Enrylind. Ia marah kenapa Fain tidak hadir di sana tepat waktu, ia mengoceh panjang lebar dengan keras memarahi Fain dengan berbagai kata-kata yang menyakitkan.


"Tak ada satupun wanita yang mengerikan disekolah ini, kecuali dia." ucap lelaki rambut ungu takut melihat Enrylind marah-marah.


"Sebaiknya kau diam saja atau kau akan habis olehnya." bisik pedang pembantai menasihatinya.


"Cepat kau kembali atau kau kubuat babak belur!" ancam Enrylind.


'Iya-iya, aku kembali. Kau jangan marah dong.' ucap Fain membujuknya.


Ia langsung mematikan telepatinya dan menonjok meja hingga retak membuat semua anggota terkejut, "Ada apa Kak Enry, kenapa kau tiba-tiba marah seperti ini?" tanya gadis berkacamata dengan rambut di kepang dua.


"Anak itu, berani sekali dia mempermainkan ku!" ucap Enrylind geram.


"Sreekkhh Jduugh!" pintu ruangan terbuka dan Fain masuk sambil membawa sembilan tusuk pentol bakso digenggamannya, lima di kiri dan empat di kanan dan satu ia makan.


"Dari mana saja kau Fain. Apakah kau tidak dengar aku memintamu berkumpul?" tanya Enry tegas.


"Iya aku dengar kok, jangan marah kayak gitu lah. Aku baru saja sampai." ucap Fain tenang.


"Braakh!" Enry memukul meja untuk yang kedua kalinya membuat semua orang terkejut, Fain yang mengetahui mejanya retak karena pukulan Enry sontak bertanya-tanya, 'Jarang sekali Enry mengamuk separah ini, apa iya dia kesal gara-gara aku. Tidak, pasti ada hal lain yang membuatnya marah hingga seperti ini.' pikir Fain.


"Apa kau pikir aku sedang bercanda Fain!" ancam Enry serius hingga urat lehernya menonjol.


Fain baru sadar kalau dia membawa makanan di tangannya, tanpa banyak berpikir ia langsung menawarinya pentol bakso yang ia bawa, "Kau mau?" ucapnya sambil menyodorkan tusukan bakso tersebut.


Dengan wajah yang masih marah, Enrylind langsung mengambil dua tusuk bakso dari tangannya dan memakannya di tempat sambil menatap Fain tajam. Fain pun membagikan enam tusuk sisanya kepada Anggotanya yang lain.


"Maaf ya Clark, baksonya sudah habis." ucap Fain.


"Yah harusnya Kak Fain menyisakan yang terkahir untukku." gerutu Clark kesal (laki-laki berambut ungu anggur).


"Lain kali deh aku traktir." ucap Fain.


"Beneran?" tanya Clark.


"Iya." ucap Fain membuat Clark merasa senang.


"Ada apa Kak Enry, kenapa kau tiba-tiba menyuruh kami berkumpul?" tanya Emilia.


"Aku sudah menemukan pelakunya." jawab Enry terus terang membuat Fain dan Clark berhenti bercanda dan kembali menyimaknya.


"Benarkah, siapa pelakunya?" tanya Clark serius.


"Vergile, teman sekelas mu Emilia." jawabnya sambil menunjuk ke arahnya.


Seketika semua orang terkejut mendengarnya, kecuali Fain yang masih santai menghabiskan pentol baksonya, "B-bagaimana mungkin Vergile pelakunya, maksudku dia tidak mungkin sekuat itu." sangkal Emilia tidak percaya.


"Kau lengah Emilia, meremehkan musuh itu adalah kesalahan yang fatal." ucap Enrylind tegas.


"Tidak mungkin..." gumamnya masih tidak percaya, 'Akulah siswa terbaik di kelas satu, aku yakin tidak ada siswa lain yang mampu menandingi kekuatanku.' batinnya kekeh tidak mempercayainya.


"Bagaimana bisa kau langsung percaya begitu saja, Kak Enry?" tanya pedang pembantai.


"Karena semua bukti mengarah kepada dirinya." jawab Enry yakin.


"Tunggu-tunggu, kau lupa menjelaskan kejadiannya Kak Enry. Kita tidak bisa menyimpulkan begitu saja." ucap gadis kacamata dengan rambut di kepang dua.


"Kau benar." jawab Enry sambil menghirup nafas.


Ia pun mulai menjelaskan perkara awalnya persis seperti apa yang dikatakan oleh Liliana saat ia sedang terhipnotis. Ketika Enry menjelaskan tentang segel pertarungan itu, mereka semua terkejut dan bertanya-tanya, "Tunggu, kalau mereka bertarung dengan menggunakan segel, lalu bagaimana bisa Vergile menemukannya?" tanya Clark penasaran.


"Aku menduga kalau Vergile punya kekuatan mata yang sama sepertiku, aku cukup terkejut melihatnya tidak terhipnotis oleh kekuatan mataku." jawab Enrylind.


"Bagaimana bisa Vergile menembus segel itu?" tanya Emilia.


"Entahlah, dia tidak menjelaskan detail kejadiannya. Ia hanya mengakui kalau itu adalah perbuatannya." jawab Enrylind.


"Bukti baru apa yang kau temukan Kak Enry?" tanya gadis imut pemilik Buddy Bear.


"Noda darah dan jejak sepatu." jawab Enry.


"Apakah ada kemungkinan kalau dia akan mengulangi perbuatannya itu?" tanya Clark.


"Besar kemungkinan iya, karena saat aku mengancamnya dia sama sekali tidak takut dan malah menantangku balik." jawab Enry.


Emilia seketika tersenyum mendengar hal itu, "Ada apa Emilia, kau nampak senang melihat Kak Enry dipermainkan?" tanya gadis berkacamata dengan rambut di kepang dua.


Seketika Enry menoleh ke arah Emilia dengan ekspresi tersinggung, "Tidak, kau salah paham. Aku tersenyum mendengar sikap bodohnya yang berani menantang Kak Enrylind, anak itu sungguh tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa." jawab Emilia menjelaskan.


"Aku tidak menyangka Vergile akan jadi sesombong itu setelah dia mampu mengimbangi mu, tapi kali ini dia salah dalam memilih lawan. Kak Enrylind adalah lawan yang sangat kuat bahkan untuk ukuran murid kelas tiga sekali pun." sambung Clark.


'Ini menarik!' kata Fain dalam hati.


"Aku lah yang akan menangani Vergile secara langsung, jika dia berani melanggar peraturan yang telah kita buat." ucap Enrylind tegas.


'Vergile, kali ini kau akan termakan oleh omongan mu sendiri.' batin Emilia yakin.