
Saat Gill sedang menyerang Emilia dengan membabi buta tiba-tiba dia merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasakan nyeri otot pada setiap lengan dan bahunya membuat ayunan pedangnya sedikit melemah disusul oleh pandangan mata yang mulai kabur dan indera pendengaran yang mulai kacau.
'Ada apa ini, kenapa tubuhku tiba-tiba terasa sakit. Semua indera pada tubuhku menjadi kacau, ada apa denganku.' katanya dalam hati bingung mulai merasakan sakit.
'Tidak, aku harus terus bertarung sampai aku menang. Aku tidak ingin mengecewakan Tuan Azazeal, hal kecil seperti ini tidak akan mampu untuk menghalangiku.' imbuhnya seketika semangat kembali berkobar.
'Sepertinya efek Leghius-ku berhasil, sekaranglah kesempatanku.' kata Emilia dalam hati langsung menambah kecepatan menyerang dengan sisa tenaga yang ia miliki.
'Dia semakin cepat. Sial rasa sakit ini sangat menggangguku.' kata Gill dalam hati berusaha terus menahan serangannya dengan sedikit kesulitan.
"Akan ku akhiri ini, Hyaaaatt!" Teriak Emilia mengayunkan pedangnya keras.
"CTINGG! SWUSSH! JDUMBB!" Gill terhempas keras ke lantai arena.
Setelah Emilia berhasil memojokkannya akhirnya dia berani untuk turun dari tubuh naga tersebut. "Bagaimana Vergile, sudah mau menyerah?" Tanya Emilia melihat debu tebal itu beterbangan.
Di luar dugaan Gill langsung melesat menyerangnya lagi. Kali ini serangannya tidak sekuat sebelumnya tapi karena Emilia seorang wanita akhirnya dia sedikit kerepotan melawan tenaga laki-laki.
'Dia ini kenapa masih belum menyerah juga.' kata Emilia dalam hati merasa kesal.
"CTINGG!" Tebas Gill sedikit keras
"Kyaahhh!" Teriak Emilia terhempas cukup jauh dan pedangnya lepas dari cengkeramannya.
"Nona Emilia!" Teriak Vania khawatir.
"Argh ... Uhuk-uhuk!" Dengan luka babak belur dan nafas yang ngos-ngosan Emilia berusaha untuk bangkit.
'Seberapa jauh kemampuan orang ini?' tanya Emilia dalam hati mengamati Gill yang sedang berjalan ke arahnya.
Melihat Gill yang semakin melemah Emilia memerintah Naga-nya untuk mengalahkannya. Ia sudah kehabisan energi dan tidak mampu untuk berdiri lagi. Dengan tubuh penuh luka gores dan otot sendi yang mulai nyeri karena terus dia paksa mengayunkan pedang berat tersebut.
"ROARGHH!" Teriak Sang naga kembali membuka mulutnya hendak memakan Gill untuk yang kedua kali.
Tapi Gill masih bisa menghindar dengan cara melompat ke udara 'Aku tidak tahu apakah Claves Sancti sanggup untuk memotong leher naga ini. Baiklah aku akan mencobanya lagi pula naga ini sangat merepotkan.' katanya dalam hati memperhatikan naga tersebut dari atas dengan pandangan mata yang blur.
Karena gagal menerkam Gill membuat tubuh naga tersebut jatuh tersungkur jatuh ke lantai. Naga tersebut memiliki leher panjang di tambah posisinya saat ini yang lemah, hal tersebut merupakan peluang besar untuk Gill.
Dengan cepat Gill mengayunkan pedangnya dan menebas leher si naga, makhluk tersebut kemudian meraung kesakitan dengan sangat keras sebelum akhirnya menghilang berubah menjadi cahaya.
"Mengejutkan sekali seorang murid pendaftar mampu mengalahkan seekor Naga dalam sekali serang. Vergile sungguh sangat kuat, aku tidak menyangka ternyata penampilannya itu berhasil menipu kita!" kata Mentor pertandingan penuh decak kagum.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa dia mengalahkan Naga Espher ku semudah itu." Kata Emilia kaget setengah mati melotot tidak percaya.
'Masih ada 10 detik tersisa. Tapi rasa sakit ini terus bertambah parah!' ucapnya sambil terus berjalan menghampiri Emilia dengan tertatih - tatih.
"Aku tidak akan kal,- Ah!" Rintih Emilia jatuh kembali saat dia berusaha bangkit berdiri.
"DELAPAN!" kata para penonton bersorak membacakan sisa waktunya.
"Aku harus bangkit, aku tidak akan menyia-nyiakan harapan mereka!" Kata Emilia mengingat kembali keluarganya.
'Bertarung, terus berjuang. Kepercayaan Tuan Azazeal sangat berharga bagiku!' Kata Gill dalam hati terus berjuang walau sudah sempoyongan.
"ENAM!"
'Ayo Emilia. Bangkit lah bangkit!' ucapnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri walau kakinya sudah gemetar untuk menyangga tubuhnya.
"Berjuanglah Nona Emilia!" Teriak Vania keras menyemangatinya.
'Vania!' katanya dalam hati senang mendapat dukungan dari orang terdekatnya.
"EMPAT!"
'Sepertinya aku yang akan menang.' kata Gill dalam hati dengan pandangan mata yang sudah sangat parah.
"TIGA!"
"Berjuang lah Nona kau pasti bisa!" Sorak para pendukungnya kompak.
Akhirnya Emilia berhasil berdiri dengan kaki yang gemetar hebat. ia sangat kesusahan menyeimbangkan tubuhnya itu 'Kenapa tiga detik rasanya lama sekali. Andai saja pedang itu ada di tanganku.' ucapnya dalam menoleh ke arah pedangnya yang terlempar cukup jauh darinya.
"DUA!"
"Huarghhh!" Tiba-tiba jantung Gill terasa sakit seketika ia memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tubuhnya langsung kehilangan daya keseimbangan yang membuatnya langsung ambruk ke lantai.
'Tubuhku, ada apa ini. Aku tidak pernah merasa selemah ini sebelumnya.' katanya dalam hati kebingungan dengan tubuhnya.
"SATU!" Teriak penonton sangat bersemangat menyebutkan waktu terakhir.
"Pertarungan selesai!" ucap wasit pertandingan.
"Pemenangnya adalah Nona Miranda Emilia!" kata wasit keras mengumumkan nama sang pemenang.
"Berhasil!" Kata para pendukungnya bersorak senang.
"Seperti yang sudah kuduga." Kata salah satu penonton sebelumnya.
"Tadinya aku berfikir anak itu lah yang akan memenangkan pertarungan ini, dilihat dari skill bertarung aku lebih terpukau padanya daripada Nona Emilia." Kata si orang pertama sebelumnya.
"Tetap saja seorang amatiran tidak akan mampu mengalahkan mereka yang sudah berpengalaman." Kata temannya.
"Aku merasa seperti ada yang tidak beres dengan anak itu." Kata si orang pertama pelan menaruh rasa curiga.
"Sejauh ini aku masih belum melihat ada yang bisa mengalahkan junior kita itu, sepertinya dia akan menjadi siswa terkuat di angkatannya." Kata wanita senior misterius sebelumnya yang satu organisasi dengan pria berambut merah.
"Dari segi kekuatan aku lebih tertarik pada anak itu. Aku yakin kedepannya dia bisa lebih kuat lagi dan bisa saja menjadi ancaman bagi Emilia. Vergile yah, nama yang bagus." ucap pria misterius berambut merah tersebut berbalik kemudian pergi di ikuti oleh wanita sebelumnya di belakang.
'Menyedihkan sekali aku ini, pelayan dari Guardian tertinggi tapi kalah saat berhadapan dengan gadis kelas satu. Mau bilang apa aku nanti, semoga saja Tuan tidak tahu. Tapi sepertinya itu tidak mungkin.' katanya dalam hati dengan senyum sebelum akhirnya pingsan.
Setelah pertarungan mereka selesai Emilia langsung dilarikan ke UKS untuk mendapatkan perawatan, tak berapa lama berselang Ia terbangun dari pingsannya dan lekas membuka mata "Ini" Ucapnya pelan saat mengetahui dirinya sedang terbaring di atas ranjang.
"Nona Anda sudah sadar?" Tanya Vania dengan wajah cemas.
"Vania ... Kenapa aku bisa ada di sini?" Tanya Emilia pelan karena masih lemah.
"Anda tadi pingsan karena kelelahan." Jawabnya.
Emilia kembali mengingat kejadian saat sebelum ia pingsan. setelah dia mengingatnya Emilia sontak bangun dari tempat tidurnya dengan wajah panik "Pertarungan itu siapa yang menang?" Tanya Emilia khawatir kalau dirinya kalah.
"Masih belum ada yang mampu mengalahkan Anda sejauh ini." Jawab Vania dengan senyum senang.
"Syukurlah." Menarik nafas lega dengan wajah senang.
"Bagaimana dengan anak itu sekarang?" Tanya Emilia penasaran.
"Maksud Anda Vergile?" Jawab Vania memastikan.
"Iya saat itu dia kalah terkena Leghius-ku. Tanpa bantuan dariku dia tidak mungkin bisa sembuh." Jelasnya.
"Sebelum dia tumbang saya sempat melihat mulutnya memuntahkan darah segar. Sepertinya dia bertarung dengan keadaan tubuh yang kurang fit." Ucap Vania menyatakan pengamatannya.
"Apa katamu, memuntahkan darah?" Ucap Emilia terkejut mendengarnya.
"Iya (Angguknya yakin) walau sempoyongan tapi dia masih sanggup berdiri dengan baik. Tapi tiba-tiba hal itu terjadi padanya dan membuat tubuhnya langsung lemah sebelum akhirnya jatuh pingsan." Jelas Vania.
'Leghius Marsha-ku tidak akan menimbulkan luka dalam separah itu. Jangan-jangan yang dikatakan oleh Vania itu benar kalau dari awal dia bertarung dengan kondisi yang kurang fit.' kata Emilia dalam hati menaruh rasa curiga.
'Kalau itu benar pertarungan ini sungguh sangat tidak adil, meskipun begitu dia adalah lawan yang tangguh mampu bertarung dengan baik walau keadaan fisiknya sedang buruk. Aku harus mengecek keadaanya sekarang!' langsung bangun dan turun dari ranjang pergi ke luar ingin menemui Gill.
"Anda mau pergi kemana Nona, kondisi tubuh Anda masih lemah!" Ucap Vania keras khawatir dengan keadaannya 'Lebih baik aku mengikutinya.' sambungnya dalam hati langsung bangkit berdiri.
"Tunggu aku Nona!" Panggilnya keras menyusul Emilia.
Setelah sampai di depan UKS Emilia langsung masuk begitu saja dan membuka semua tirai kamar, mengecek satu per satu. Sontak hal itu mengejutkan mereka yang sedang di rawat membuat mereka berbunga-bunga di jenguk oleh Emilia.
'Dimana dia?' batin Emilia berdiri di tengah para pasien sambil terus mencari keberadaan Gill.
"Nona jangan sembarangan masuk ke ruangan lelaki, takutnya nanti menimbulkan kesalahpahaman." Ucap Vania menasihatinya namun Emilia sepertinya tidak mendengarkan ucapannya dan tetap fokus mencari Gill di tengah kerumunan pembesut.
Melihat mereka berdua yang mondar-mandir seperti sedang mencari sesuatu membuat salah seorang siswa petugas di sana menaruh rasa curiga. Akhirnya ia memutuskan untuk mendekati mereka dan menawarinya bantuan.
"Maaf, kalian berdua sedang mencari siapa. Ada yang bisa aku bantu?" Tanya lelaki misterius menawari mereka bantuan.
"Ahh!" Sontak mereka berdua terkejut dan langsung menoleh ke arahnya.
"Kak Richard, kebetulan sekali. Apakah tadi kakak melihat anak yang di rawat di sini, namanya adalah Vergile!" Tanya Emilia.
"Oh anak itu, dia baru saja pergi dengan kepala sekolah." Jawabnya Richard santai.
'Nona Stephanie memanggilnya?' ucap Emilia dalam hati terkejut tidak menyangka.
"Bagaimana dia bisa sembuh secepat itu, sebelum itu dia kan terluka parah dan sempat terkena Leghius Marsha?" Tanya Vania yang sontak menarik perhatian Emilia.
"Aku tidak tahu. tadi aku juga melihat tubuhnya terluka parah saat sedang di bawa oleh tim, namun pada saat aku datang dan ingin mengecek kondisinya, di luar dugaan dia sudah berdiri dan menatap ke luar jendela seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya. Sulit di percaya memang tapi itulah kenyataanya." Jawab Richard terbuka.
"Bagaimana dia bisa sembuh secepat itu?" Sahut Emilia dengan tatapan mata curiga, 'Aku ini bukan siapa-siapa, hanya manusia biasa yang lemah. Kau saja menganggapku terlalu tinggi.' Kata-kata Gill yang terngiang dalam ingatannya.
"Aku harus memastikannya sendiri." Sambungnya kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
"Maaf Kak Richard telah mengganggu mu." Ucap Vania meminta maaf membungkuk tulus kemudian pergi menyusul Emilia. "Nona tunggu!" Panggilnya menyusul.
Pada saat Emilia sampai di depan pintu ruang Kepala sekolah dan lekas menyentuh gagang pintunya bersiap membukanya, tiba-tiba niat tersebut dia urungkan saat ia mendengar pertanyaan yang terlontar dari dalam.
Mendengar itu Emilia memutuskan untuk menguping pembicaraan mereka.
"Nona!" Panggil Vania yang baru saja sampai.
"Ssttth!" Menyuruhnya diam dengan telunjuk tegak menempel di bibirnya.
Melihat itu Vania langsung menuruti apa yang dia perintahkan dan berjalan pelan menghampirinya, "Nona sedang apa, kenapa Anda mengendap-endap di sini. Kalau di lihat murid lain tidak enak tahu." Bisik Vania penasaran.
"Diam, jangan berisik!" Balas Emilia pelan.
"Jadi Vergile, siapa kau ini?" Tanya Stephanie sebagai kepala sekolah berusaha menginterogasinya.
"Aku hanyalah murid biasa dan petarung amatiran." Jawabnya merendah.
"Oh ayo lah anak muda, aku ini tidak sebodoh yang kau kira. Ceritakan dari mana kau berasal tapi sebelum itu kita mulai dulu dari keluargamu." Ucap Stephanie menatap matanya dekat dari seberang meja.
"Boleh aku tahu siapa nama Ibu mu?" Tanya Stephanie.
"Ibu ku bernama Karina Smith dia adalah sosok pekerja keras, setiap pagi ia selalu membuatkan ku telur dadar yang sangat enak sebelum dia berangkat kerja. Sepertinya aku akan sangat merindukan masakannya itu." Jawab Gill dengan bangga.
"Sepertinya Ibu mu adalah orang tua yang mempunyai peran besar dalam hidupmu, kau pasti sangat menyayanginya." Ucap Stephanie senang melihat Gill mulai terbuka untuk bicara.
Gill membalasnya dengan senyum manis, "Tentu saja aku sangat menyayanginya." Ucapnya.
Dari luar Gill tersenyum senang dan setuju dengan perkataan Stephanie, namun dalam hatinya dia menyimpan sebuah rasa kecewa dan marah yang tidak dapat dia ungkapkan melalui kata-kata.
"Lalu Ayahmu, apakah dia juga seorang pekerja keras?" Tanya Stephanie penasaran.
"Entahlah, aku tidak tahu ayah belum pernah pulang. Ia pergi saat aku masih dalam kandungan Ibu, dia pamit ingin mencari kerja di kota namun sampai saat ini masih belum kembali dan tidak ada kabar sedikitpun." Jelas Gill memasang wajah sedih.
"Sepertinya aku akan membuat harapan Ibuku pupus. aku sudah berjuang dengan sangat keras tetapi hasilnya mengecewakan, mau bagaimana lagi Nona Emilia itu memang lawan yang sangat kuat. aku tidak bisa menganggapnya lawan yang mudah, ia memang cocok bergelar murid Bidadari Agung." Kata Gill dengan senyum menerima kenyataan tak kuasa meneteskan air mata sedih.
Emilia terkejut saat mendengar pengakuannya itu 'Aku sudah salah sangka kepadanya, aku tidak pernah mengira kalau dia adalah anak yang rendah hati.' batin Emilia.
"Kau sudah berjuang Vergile, ibumu pasti bangga jika dia melihat kau bertarung segagah itu. Kau tahu hanya kamu murid yang berhasil membuat Emilia sampai terluka separah itu, sebelumnya semua peserta yang berhadapan dengannya akan kalah dengan sekali serang. Meski kamu tidak bisa mengalahkan Emilia, tapi membunuh naga dengan sekali tebas itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa." Ucap Stephanie berusaha menghiburnya.
"Ini bukan soal kemenangan tapi bagaimana kamu menghargai perjuanganmu sendiri." Jelasnya memberi motivasi untuk tidak menyerah.
"Terima kasi Nona, saya hargai motivasi Anda tapi nasi sudah jadi bubur. Saya yang sudah kalah pasti akan di tolak belajar di sini." Kata Gill pesimis.
"Belum tentu Vergile keputusan itu di buat oleh Dewan Inti. Kamu masih punya harapan, perjalananmu masih panjang. tidak sepantasnya kamu berhenti di sini." Kata Stephanie tak henti-hentinya memberinya dorongan.
"Aku dengar kau memicu amarah Emilia dengan menjamak nama Masternya,-
"Aku tahu itu tidak sopan tapi aku sudah minta maaf kepadanya, tapi dia terlanjur marah duluan. Sedikitpun aku tidak ada maksud meremehkan Nona Alin Xaverias, bagaimanapun beliau adalah Bidadari besar yang sangat hebat." potong Gill.
"Kau pernah bertemu dengannya, sepertinya kau tahu betul Nona itu seperti apa." Tanya Stephanie penasaran.
"Iya aku pernah." jawab Gill jujur.
"Apa!" Emilia terkejut mendengar hal itu, karena penasaran ia langsung membuka pintu dan bertanya langsung pada Gill.
"Dimana kau bertemu dengan Masterku?" Tanya Emilia lantang langsung masuk begitu saja mengagetkan mereka berdua.
"Emilia, kenapa kau bisa ada dis,- Apakah kau menguping pembicaraan kami?" Tanya Stephanie curiga.
"Maaf Nona kebetulan tadi saya sedang lewat di depan dan tidak sengaja mendengar Anda bertanya soal Nona Alin." Jawab Emilia ngeles.
'Dia berbohong!' kata Vania dalam hati mengetahui hal itu sedikit melirik ke arahnya.
"Begitu ya." Jawab Stephanie percaya begitu saja.
"Jadi dimana kamu bertemu dengannya Vergile?" Tanya Emilia penasaran.
"Di desa Kaname, beritanya sudah tersebar kan. Masa kalian tidak tahu?" Tanya Gill heran.
"Kami tahu soal itu tapi kami tidak tahu kalau kau juga ada di sana saat peristiwa itu terjadi. Ceritakan padaku detailnya!" Perintah Emilia karena sangat penasaran.
"Yang aku ingat waktu itu dia sedang melindungi warga desa dan bertarung melawan empat Iblis itu sendirian. Selebihnya aku tidak tahu lagi karena saat itu keadaan juga sedang kacau." Jawab Gill menjelaskan.
"Apakah dia menang melawan para Iblis itu?" Tanya Emilia khawatir bercampur penasaran.
"Aku tidak tahu, setelah itu aku langsung pergi dari desa tersebut karena situasi di sana sangat berbahaya." Jawab Gill menipunya dengan wajah polos.
"Kau tidak perlu cemas Emilia. Nona Alin baik-baik saja,-
'Gawat kalau sampai dia menceritakan detail kejadian yang sebenarnya.' ucap Gill dalam hati cemas.
"Nona mampu mengalahkan mereka berempat sendiri seperti yang kau tahu Emilia, Nona Alin itu terlampau kuat untuk menghadapi para Iblis terkutuk itu." Sambung Stephanie ternyata juga berbohong.
"Stephanie ini hanya antara kau dan aku, waktu itu aku selamat karena ada seorang remaja Dementor yang menyelamatkanku. Keempat iblis itu memegang senjata terkutuk, melawannya satu per satu saja sangat sulit apalagi sampai empat. Aku mohon padamu jangan kau ceritakan masalah ini pada siapa pun terutama pada Miranda." Ucapan Alin dalam ingatan Stephanie.
"Jika dia menanyakan keadaanku setelah peristiwa itu maka jawablah kalau aku baik-baik saja, terserah kamu mau mengarang cerita apa asal jangan kau ceritakan yang sebenarnya. Kau tahu kan hubungan kedua bangsa itu dari dulu selalu tidak baik, aku tidak mau masalah dulu terulang kembali. Kau mengerti kan apa yang aku maksud?" Kata-kata Alin yang terngiang di kepala Stephanie sampai saat ini.
"Syukurlah kalau begitu, aku senang mendengar Nona Alin baik-baik saja." Ucap Emilia senang menarik nafas panjang lega.
"Vergile." Panggil Emilia pelan dengan wajah merah merona karena malu mau mengakui kesalahannya.
"Ada apa, kau masih marah ya padaku soal itu. Maaf tapi sungguh,-
"Tidak-tidak bukan itu, aku minta maaf karena telah menuduh mu yang bukan-bukan..." Sangkal Emilia pelan menundukkan kepala dengan wajah yang sangat merah.
"Benarkah, syukurlah aku senang kau mau memaafkan ku. Dengan begini kita tidak perlu lagi bermusuhan karena masalah sepele seperti itu." Jawab Gill dengan wajah senang.
'Apa, sepele kata mu!' batin Emilia kesal seketika wajahnya merah bermakna lain.
'Haduh (Menepuk jidatnya) dia malah menggunakan kata-kata yang tidak tepat untuk menyelesaikan masalahnya ini.' kata Stephanie dalam hati menggelengkan kepala melihat Gill yang polos blak-blakan.
'Sifatnya jelek banget dia sungguh buka tipeku!' kata Vania dalam hati melihat sinis ke arah Gill.
"Vergile bodoh!" Teriaknya keras langsung pergi begitu saja dengan membanting pintu keras.
"Nona tunggu, Anda selalu saja meninggalkan aku!" Teriak Vania kesal menyusulnya pergi tanpa menghiraukan mereka berdua.
"Vergile saranku kau jangan langsung pergi setelah ini. Tunggu sampai besok, keputusan akan dibagikan malam ini. Berdoalah agar kau bisa diterima." Ucap Stephanie memberitahunya informasi penting.
"Iyah terima kasih Nona. Saya permisi!" Bangkit dari tempat duduk langsung membungkuk dan langsung pergi.
'Orang sepertimu lah yang di butuh kan oleh sekolah ini Vergile. Tidak banyak omong dan mempunyai semangat juang yang tinggi. Kau akan bersinar terang di bawah naungan kami.' kata Stephanie dalam hati memujinya sambil melihatnya berjalan pergi.
Sorenya rapat Dewan Inti pun di gelar, nampak mereka berenam sedang duduk melingkar dengan meja bundar besar di tengah. Mereka sedang merundingkan peserta mana yang akan lolos sesuai data dan pengamatan mereka hari ini.
Tak berapa lama kertas data dari Gill keluar menjadi bahan rundingan mereka semua. Beberapa ada yang Pro dan beberapa juga ada yang Kontra dengan keputusan tersebut.
"Aku rasa anak ini tidak layak belajar di sini, dia sungguh sangat tidak berbakat selain itu sikapnya juga sangat buruk." Ucap Emilia memfitnah Gill dengan menjelekan namanya di depan anggota lainnya.
"Menurutku Emilia tidak salah, kita juga melihat kalau penampilan anak ini sama saja dengan peserta lainnya." Imbuh seorang wanita imut kecil dari kelas dua dengan boneka beruang besar dibelakangnya berwarna pink.
"Kalau dia tidak kuat lalu kenapa kau bisa masuk UKS Emilia?" Sindir salah satu senior laki-laki dengan potongan rambut Mohawk menyandarkan pedang samurai panjang di depan dada kirinya.
"Aku kurang tidur semalam karena misi yang kalian berikan, setelah aku menyelesaikannya kalian langsung memberiku tugas ini." Jawab Emilia mencari alasan.
"Emilia benar, kita tahu dia adalah murid kelas satu terbaik saat ini. Aku yakin dia mampu mengalahkan Vergile dengan mudah jika kondisinya baik." Imbuh seorang pria senior kelas 3 berambut ungu dengan seragam rapi sambil mengukir sesuatu di permukaan meja dengan belati indah yang dia bawa.
"Bagaimana denganmu ketua?" Tanya wanita si rambut hitam yang sebelumnya menyaksikan pertarungan mereka.
"Anak ini ya (Mengamati fotonya) aku setuju denganmu pedang pembantai (Lelaki dengan gaya rambut Mohawk sebelumnya). Anak ini menarik untukku walaupun dia kalah dari Emilia tapi dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh peserta lainnya." Ucapnya dengan mata merah serius memiliki simbol unik di tengahnya.
"Apa itu?" Tanya Emilia penasaran.
"Apa kalian juga tidak mengetahuinya?" Tanya si ketua namun mereka hanya diam dan menatap penuh tanya kepadanya.
"Meskipun dia kalah tapi ia mampu mengalahkan Espher Dragon itu dengan sekali tebas. Kalian mungkin menganggap ini hal biasa tapi jika kalian berfikir lebih jauh lagi." Ucapnya memberitahu pengamatannya.
"Belum pernah ada satu pendaftar pun yang mampu membuat Emilia bertarung seserius ini. Saat aku melihat Emilia mengeluarkan naga itu aku tahu dia tadi sempat merasa terdesak dan terpojok. Benarkan Emilia?" Menatapnya penuh tanya dengan mata merah kuat sebelumnya.
"Soal itu ..." Jawab Emilia mati kutu.
"Tapi naga Emilia itu tidak termasuk naga yang kuat. Tentu saja anak itu bisa dengan mudah mengalahkannya, aku jadi kesal mendengar ini!" Kata si wanita kecil imut dengan beruang besar merah muda.
"Kuat atau tidak naga tetaplah naga. Hewan peliharaan kelas Legenda seperti itu tidak sembarangan orang bisa mengalahkannya. Apalagi hanya seorang pendatang baru sepertinya, kalau dia hanya murid biasa pasti sudah termakan sebelumnya." Kata si pedang pembantai pro dengan si ketua.
"Aku sih tidak peduli. Aku ikut suara terbanyak saja." Ucap si rambut ungu terus fokus mengukir meja.
"Ketua benar. Anak ini mempunyai sesuatu yang spesial yang mungkin kita sendiripun tak memilikinya. Gerakan bertarungnya itu seperti seorang Guardian dengan melesat bebas dan melancarkan berbagai serangan tanpa ampun. Aku yakin anak ini mampu berkembang lebih jauh dengan kemampuannya itu." Imbuhnya si wanita rambut hitam di samping ketua mengutarakan pengamatannya.
"Aku ingin melihat pertunjukannya lebih jauh lagi." Kata si ketua dengan senyum merasa tertarik langsung menstempel warna hijau kertas pendaftaran milik Gill menerimanya masuk.
"Baiklah yang merasa setuju segera stempel kertasnya, kita tidak punya banyak waktu. masih banyak kertas di belakang sana yang perlu kita proses." Sahut wanita berambut hitam menstempel kertas tersebut sebagai tanda persetujuannya di ikuti oleh lima orang lainnya kecuali Emilia.
'Kali ini kau beruntung bisa lolos Vergile. Kita lihat sejauh mana kau akan bertahan.' kata Emilia dalam hati kesal menatap foto Gill dan langsung memberinya stempel merah tanda penolakan.