
"Kak Mischelle!" Teriaknya Erfyona terbangun dari tidurnya dengan ekspresi kaget terengah-engah.
'Kak Mischelle, dimana kamu. kenapa langsung pergi begitu saja?' ucapnya dalam hati sedih sambil memegang erat kalung pemberian Mischelle yang melingkar di lehernya. Erfyona merasa sangat sedih sambil terus membayangkan kata-kata terakhir dari Azazeal sebelum pergi.
"Azazeal ya, sepertinya ini akan sangat sulit bagiku." Sambung Erfyona pelan.
'Bagaimana aku bisa menemuinya sedangkan menembus langit saja aku tidak bisa.' Pikirnya bingung mondar-mandir di depan tempat tidur cukup lama.
"Motty!" Ucapnya terbesit ide menarik, "Ya tepat sekali. aku bisa memanfaatkan Motty yang sudah terlanjur dibawa pergi." katanya dengan ekspresi senang berharap rencananya itu berhasil.
Sementara itu di lain sisi, Gabriel tengah berlari bersama Motty untuk membawanya pergi. Langkah Gabriel terhenti setelah dia merasakan aura penguasa yang sangat besar dari arah Lockheim Kingdom.
"Ada apa Gabriel, kenapa kamu berhenti?" Tanya Motty.
"Tidak, aku merasa ada energi yang sangat dahsyat barusan terjadi. Apa kamu juga merasakannya?" Tanya Gabriel.
"Apakah itu kekuatan dari Dementor tadi?" Duga Motty.
"Tidak, Sam tidak mungkin sekuat itu. Aura barusan itu sekelas Guardian Inti ... Mungkin kah!,-
"Kenapa, ada apa Gabriel?" tanya Motty yang penasaran melihatnya mata Gabriel melotot kaget.
"Apakah Sam kalah dan Tuan Azazeal turun!" Kata Sam menduganya.
"Siapa dia?" Tanya Motty.
"Dia adalah pemimpin kami para Guardian," Jawabnya menjelaskan. 'Kalau beneran Beliau yang turun maka habislah aku!' pikir Gabriel panik dengan raut wajah takut.
"Sebaiknya kita cepat kembali, kamu terluka cukup parah Gabriel." Kata Motty khawatir dengan keadaanya dan mereka lanjut berjalan untuk kembali ke Cluenon Kingdom.
Sementara itu Azazeal pulang dengan hati yang marah sekali kepada Gabriel. Setelah sampai di Orion dia langsung masuk dan mengabaikan semua prajurit yang memberinya hormat di sepanjang jalan. Ia duduk di kursi tahta dengan ekspresi wajah yang sangat dingin dengan tangan menggenggam erat tersandar kaku di tangan kursi.
'Ohh Tuan, andai saja aku bisa memelukmu disaat Anda sedang bersedih seperti ini. Jauh dalam lubuk hati ini aku ingin sekali mengusap pipi lembut mu itu.' batin Clemantiene dalam hati menghayal membayangkan hal tersebut. Ia terus memandangi wajah Azazeal dari bawah singgah sananya sambil senyum-senyum sendiri.
"Tuan, boleh saya tahu apa yang sebenarnya terjadi? Anda tidak pernah sedingin ini sebelumnya." Tanya Acquila pelan.
Tetapi Azazeal hanya diam dan mengabaikan pertanyaan darinya, tak berapa lama Sam datang dengan raut wajah bersalah segera berlutut di depan Azazeal. "Maafkan saya Tuan, saya merasa tidak layak menjadi tangan kanan Anda atas kegagalan saya ini." Ucapnya.
"Sam." Panggil Azazeal dengan suara pelan nan garang.
"Iya Tuan," jawabnya sedikit takut.
"Apa yang membuat Gabriel berkhianat kepadaku?" Tanya Azazeal terus terang.
"Soal itu," Jawab Sam gemetar takut. "Waktu kami sedang berjalan di tengah Kota Lockheim, tiba-tiba dia meminta saya untuk membantunya menyelamatkan Kekasihnya,-
"Kau bilang apa?" tanya Acquila. "berani sekali dia menaruh urusan pribadi di atas kepentingan misi,- sahut Acquila marah namun dihentikan oleh isyarat tangan Azazeal.
"Mohon maaf Tuan atas kelancangan saya." Sambungnya sadar telah menyela pembicaraan penting.
"Saya menolak tetapi Gabriel sangat bersikeras ingin menyelamatkan kekasihnya tersebut. saya tidak bisa berbuat banyak, secara tidak langsung kalau dia beneran melakukannya maka penyamaran kami akan terbongkar." Jelasnya.
"JDUUGG!" Azazeal sampai memukul lengan kursinya dengan tangannya yang mengepal keras sampai seisi ruangan kaget dan ketakutan hanya bisa diam seribu bahasa.
Tanpa banyak cakap Azazeal langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuruni anak tangga. Saat ia sedang berjalan tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari depan yang sedang berjalan masuk ke ruangan tersebut. Semua orang yang hadir di sana langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Edward." kata Azazeal datar menatapnya dingin.
"Hormat saya pemimpin Guardians, kalau saya boleh tahu. Anda hendak pergi kemana?" Kata Edward sambil membungkuk.
Edward adalah seorang Guardians tertinggi posisi kedua di bawah kepemimpinan Azazeal, Ia sangat patuh dan menjunjung tinggi tugas atau misi yang diberikan kepadanya. Edward adalah Guardians yang dapat kepercayaan penuh dari Azazeal.
"Kau datang disaat yang tidak tepat." Jawab Azazeal singkat dan lanjut berjalan pergi melewatinya.
"Tuan!" Panggil Sam secara mengejutkan seisi ruangan. Azazeal menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan dari Sam di belakang.
"Izinkan saya memperbaiki nama baik saya di mata para Dementor." Sambil mengeluarkan wujud Dementor sempurnanya.
"Kau hanya akan membuang waktu ku." Jawab Azazeal singkat lanjut berjalan pergi.
"Tuan saya mohon!" Mohonnya keras Menatap Azazeal tajam penuh keyakinan. "Saya tidak akan mengecewakan Anda." Sambungnya.
"Baiklah," Tanpa pikir panjang Azazeal menjawab. "Kau tahu kan apa yang harus kau lakukan?" Sambung Azazeal.
"Saya paham dengan apa yang akan saya lakukan." Jawab Sam.
"Pergilah!" Perintah Azazeal.
Sam langsung terbang melesat dengan sangat sangat cepat ke Cluenon Kingdom untuk memberikan Hukuman kepada Gabriel yang Khianat.
"Tuan kemana Sam barusan akan pergi?" Tanya Edward penasaran. "Nampaknya dia sangat marah." Sambungnya
"Ketempat Gabriel berada." jawab Azazeal singkat.
'Cluenon?' tebaknya. 'Ini bahaya, dia mau berbuat nekat di sana' pikirnya menerka sedikit melirik ke Azazeal. 'mengingat Tuan menciptakannya tanpa memiliki perasaan, itu sama saja ingin menghancurkan Cluenon Kingdom!' Pikir Edward lebih jauh.
"Maaf Tuan, saya permisi dulu." Kemudian terbang melesat menyusul Sam di depan.
______
Pagi yang cerah menghiasi Katinon Kingdom. Alin Xaverias bangun dengan senyum manis di wajahnya, dia beranjak bangkit dari tempat tidur dan keluar dari kamar untuk melihat indahnya mentari pagi.
Dia sempat mendengar kabar burung bahwa Gabriel telah kembali dari misinya mengintai Iblis Tirani di Underworld. Ia kemudian bersiap dan merias diri secantik mungkin agar Gabriel terkesima oleh penampilannya.
Setelah berhias cukup lama akhirnya dia selesai dan berdiri untuk bercermin. Alin tersenyum bahagia dan sangat bersyukur dikaruniai wajah yang cantik, tetapi itu tidak membuatnya menjadi sombong sedikit pun malahan itu membuatnya semakin rendah hati dari sekian banyak kelebihan yang ia miliki. Akhirnya dia keluar dari kamarnya dan memanggil pengawalnya untuk mengantarkannya ke Cluenon Kingdom.
Sesampainya di tempat Alin langsung disambut baik oleh para prajurit dan dipersilahkan masuk olehnya. "Selamat datang Nona, seperti biasa Anda selalu tampil mempesona." Puji Andora Michi tangan kanan dari Gabriel.
"Terima kasih Michi, Apakah Gabriel sudah pulang?" Tanya Alin.
"Ada, beliau baru saja sampai. Mari silahkan masuk." Jawab Andika Fushigi sambil mempersilahkannya.
Kemudian Alin dan pengawalnya masuk ke dalam. Mereka di ajak berkeliling ruangan melihat lukisan luar biasa indah dari Gabriel Alin sangat senang dan terkesima oleh apa yang dia lihat.
"Mohon maaf Nona saya harus pergi sebentar ada hal lain yang harus saya lakukan. Anda tidak perlu cemas, Tuan Gabriel mengizinkan Anda menjelajahi seluruh tempat yang ada di kerajaan ini." Sambil membungkuk memberi hormat.
"Iya tidak apa-apa, Terima kasih Michi." Sambil tersenyum manis.
Alin kemudian berjalan dengan pengawalnya dan melanjutkan melihat seni lukis tersebut. Sementara itu disudut lain Motty terbangun dari tidurnya dan mulai memanggil Gabriel atau orang yang berada disekitar ruangan tersebut untuk meminta bantuan.
"Gabriel ..." Panggilnya lirih.
"Apakah ada orang disini!" Sambungnya sedikit keras.
Tetapi semua hening dan tidak ada suara sedikitpun. Dia memutuskan untuk bangun dan beranjak pergi dari tempat tidur. Motty berjalan keluar dari kamar untuk menemui prajurit yang ada di luar. Setelah berjalan kesana kemari akhirnya dia menemukan seseorang yaitu Alin Xaverias yang sedang melihat-lihat lukisan di dinding.
"Siapa perempuan ini? Ia sangat cantik dan luar biasa, Apakah dia pelayannya Gabriel? Sebaiknya aku bertanya dulu barangkali dia mau membantuku.' batinnya dalam hati.
"Maaf, apakah kau tahu kemana Gabriel pergi?" Tanya Motty.
"Kamu!" Katanya dengan raut wajah siaga seketika Alin langsung mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya ke Motty.
"Maaf aku tidak bermaksud mengganggumu, aku hanya ingin tahu kemana Gabriel pergi." Sambil menahan dengan kedua tangannya mengisyaratkan tidak mau bertarung.
Tiba-tiba Motty merasa pengelihatannya berputar dan pandangannya kabur, akhirnya dia terjatuh tergeletak di lantai.
"Bruuuk!"
Setelah lama dia pingsan akhirnya dia mulai terbangun dan lekas membuka mata, Ia sangat terkejut melihat Alin duduk di samping tempat tidurnya, "Kamu!" Katanya terkejut.
"Sudah tidurlah dulu kamu sedang sakit 'kan?" Dengan senyum manis.
Kemudian Alin mengambilkan makanan dari meja di dekatnya dan menyuapkannya kepada Motty, "Ayo buka mulutmu, Aaaa." Dengan senyum manis.
Kemudian Motty membuka mulutnya dan melahap makanan yang disuapkan oleh Alin sambil terus memandangi wajahnya. Alin hanya membalasnya dengan senyuman manis sambil terus menyuapinya.
'Siapa perempuan ini? Kenapa dia sangat baik padaku?' pikirnya dalam hati bertanya-tanya.
"Maaf kalau boleh tahu namamu siapa? Kenapa kamu sangat baik padaku?" Tanya Motty.
"Namaku Alin Xaverias, panggil saja aku Alin." Dengan wajah senyum manis dan bahagia.
Alin! "Maksudmu Alin Xaverias!" Katanya terkejut.
"Kok kamu tahu? Kita kan baru saja bertemu hihi.." jawabnya sambil sedikit tertawa kecil.
'Berarti perempuan ini! Tidak salah lagi dia adalah wanita yang sering disanjung oleh semua Makhluk di Jagad Raya ini ... Jadi dia orangnya!' Pikirnya dalam hati dengan wajah terkejut sambil terus memandanginya.
"Hei-hei!" Kata Alin sambil memegang tangan Motty.
Motty kaget dan langsung malu menjadi pusat perhatian dari pengawal Gabriel dan Alin.
"Emhh, Maaf ada apa?" Dengan nada gugup dan malu.
Alin membalasnya dengan senyum manis, "Nama kamu siapa?" Dengan nada pelan.
"Namaku Motty, Motty Euginia. Panggil saja Motty." Jawabnya.
"Motty! Aku suka nama itu. (kemudian Alin menoleh ke arah para pengawal) Kalian bisa tolong tinggalkan kami sebentar!" Perintahnya.
"Aku ingin berbicara dengan Motty berdua saja," pintanya kepada para pengawal.
"Mohon maaf Ratu, saya diperintahkan Tuan Gabriel untuk terus mengawasi dan membantu Nona Motty." Kata Andora Michi.
"Apakah kamu tidak percaya denganku?" Sindirnya.
"Maaf Ratu maksud sa--," kata
"Sudah tidak apa-apa aku percaya kepadanya, kalian pergilah ke luar aku akan baik-baik saja." Sahut Motty meyakinkan mereka.
Kemudian mereka berempat pergi keluar dan hanya ada Alin Xaverias dan Motty Euginia di ruangan tersebut.
"Motty? Bisa tolong jelaskan bagaimana kamu bisa sampai kesini?" Tanya Alin menginterogasinya.
Motty kemudian menjelaskan panjang lebar dari awal dia bertemu dengan Gabriel dan sampai dia datang kemari.
"Jadi kamu adalah anak keempat dari keluarga Lucifer?" Tanya Alin dengan nada terkejut.
"Iya." Jawabnya pelan merunduk sedikit takut.
Sejenak Alin merenung dan terdiam.
"Kenapa kamu sangat baik kepadaku? Padahal kamu tahu aku ini termasuk banga Iblis Tirani, sedangkan kamu bangsa terhormat Archangel." Tanya Motty penasaran.
"Kenapa kamu berfikiran seperti itu? Di hadapan Tuhan kita semua sama." jawab Alin bijak.
"Aku hanya ingin menjadi makhluk yang bersyukur dan senantiasa berbuat baik kepada semua Makhluk yang ada dunia ini." Sambungnya.
Motty terkejut mendengar jawaban tulus dari Alin Xaverias, seketika dia terobsesi ingin menjadi seperti dirinya yang baik hati setelah dia mendengar perkataan Alin barusan.
"Ayo buka mulutmu Motty, aaa." Sambung Alin.
Kemudian Motty dengan senang dan senyum manisnya membuka mulut dan melahap makanan yang disuapkan oleh Alin.
"Istirahatlah kembali agar tubuhmu lekas pulih." Dengan nada pelan nan lembut sambil tersenyum manis.
Kemudian Alin memeluknya hangat.
Motty kaget seketika dia meneteskan air mata senang dan tidak menyangka bahwa dia yang merupakan bangsa Iblis mendapat sambutan yang hangat dari wanita yang luar biasa hebat dari seluruh alam semesta.
"Terima kasih, aku berjanji akan membalas ini suatu saat nanti." Sambil menangis di pelukan Alin.
Kemudian mereka melepaskan pelukannya masing-masing. Alin yang melihat dia menangis mengambil kain dari kantung bajunya dan mengusapkannya.
"Sudah tidak apa-apa yang penting kamu sembuh dulu." Sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Sementara itu di luar gerbang pintu masuk, "JDUMMB!" Sam telah datang dan mendarat dengan keras.
Semua prajurit bersiaga karena Sam datang dengan wujud Dementor mode tempur, dengan sayap terlentang gagah dan mata biru menyala. Dia lekas bangkit berdiri dan mulai melangkahkan kakinya menghampiri gerbang.
"Berhenti!" Teriak para prajurit menghadangnya di depan gerbang.
"Kembalilah ke tempat asal Mu! Atau kau ak,-
"JDARRR!" Sam mengeluarkan jurus Telekinesis-nya dan menghempaskan para prajurit tersebut.
"ARRKKKGGHH!" teriak para prajurit terhempas ke pintu gerbang.
"Sampah!" Kata Sam pelan kemudian mulai memasuki gerbang Cluenon Kingdom. Sesampainya di dalam dia kembali di hadang oleh ratusan prajurit lagi-lagi dia menghempaskan mereka semua hingga tubuh mereka hancur dan darah mengalir mengotori tembok dan lantai kerajaan.
"JDUMMB!" suara dari tubuh prajurit yang terhempas keras oleh kekuatan Sam.
"Huh!" Kata Motty dan Alin terkejut mendengar suara ribut di luar.
"Suara apa itu!" Tanya Alin.
"Entahlah, ayo kita lihat!" Jawab Motty kemudian mereka berdiri dan pergi keluar kamar untuk mengecek suara dentuman tersebut.
"Serang dia!" Perintah komandan prajurit sambil menunjuk Sam dengan pedang di tangannya.
"Wind Mustars!" Sambil mengangkat tangannya ke arah para prajurit tersebut.
"Arghhh!" Teriak para prajurit terpental tersapu angin yang sangat keras.
"BRUAKK!" prajurit terpental ke segala arah dan merusak tatanan dekorasi Cluenon Kingdom.
Dengan sangat cepat Sam bergerak yang seketika berada di depan komandan tersebut dan langsung mencengkeram lehernya kemudian mengangkat tubuhnya ke udara.
"Dimana Gabriel?" Dengan nada garang dan raut wajah marah sekali.
"Errghhh!" Teriak Komandan mencengkeram tangan Sam hendak melepaskan cekikan tersebut tetapi Sam malah menambah cengkraman tangannya lebih kuat lagi.
"Cepat katakan, dimana Gabriel!" Sambil mendekatkan wajahnya ke hadapannya.
'Sam!' kata Gabriel terkejut yang mengetahui suara ribut tadi.
"Hentikan!" Teriak Gabriel dari depan pintu ruang masuk tahtanya.
"Gabriel..." Kata Sam pelan menoleh ke arahnya seketika ia melepaskan cekikan nya pada Komandan prajurit tersebut dan menjatuhkannya.
"Syukurlah Sam kau baik-baik saja." Katanya senang sekali sambil berjalan menuruni anak tangga hendak menghampirinya.
"Dia!" Kata Motty terkejut melihat Sam datang.
"Kau mengenalnya?" Tanya Alin.
"Emhh! (Angguknya) dia adalah orang yang waktu itu datang bersama Gabriel dan membantu kami lari dari kejaran prajurit Lockheim." Jawab Motty.
"Kau tidak apa-apa 'kan?" Tanya Gabriel.
"JDARRR!" Tiba - tiba Sam memukulnya dengan sangat keras sampai dia terpental dan terhempas ke tembok hingga retak.
"Gabriel!" Teriak Alin dan Motty serempak.
Mereka berdua terkejut melihat tindakan tak terduga dari Sam yang melukai Gabriel, "Pertanyaan bodoh! Setelah kau menggagalkan misiku dengan santainya kau berani bertanya kepadaku "Apa kau baik-baik saja?" sambil berjalan perlahan menghampiri Gabriel.
"Apa kau pikir aku akan baik-baik saja setelah misi ku kau gagalkan, Hah!" Bentaknya marah dengan cepat langsung berada di depan Gabriel dan menendangnya begitu keras.
"JDUMMB!"
"Kau sudah menginjak harga diriku di depan Tuan Azazeal!" Sambungnya menatap mata Gabriel tajam.
"Maafkan aku, Sam! Aku tidak bermaksud menggagalkan misi mu. Semua terjadi begitu saja di luar kendaliku." Jawabnya sambil berusaha bangkit berdiri.
"Di luar kendali, ya?" Dengan senyum ia mencengkeram keras leher baju Gabriel dan mengangkat tubuhnya.
"Kalau saja kau mendengarkan ku waktu itu semua ini tidak akan terjadi! Dan sekarang kau masih berani bilang ini bukan salahmu? Cihh pengecut dari mana kau ini" Hina Sam dengan lantang.
"Hentikan!" Teriak Motty sambil berlari menghampiri Gabriel.
"Motty tunggu!" Teriak Alin dari belakang mengejarnya.
"Aku sungguh minta maaf Sam, Aku ak,-
"SHEEET! JDUMMB!" Dengan cepat Sam membanting tubuh Gabriel ke lantai hingga hancur kemudian menindih tubuhnya untuk memberinya puluhan pukulan menyakitkan.
"Semuanya sudah terlambat! Tidak yang bisa kau lakukan sekarang!" Teriak Sam dengan terus melancarkan pukulan ke wajah Gabriel.
"Hetikan!" Teriak Motty dari dekat dengan suara serak.
"Kumohon hentikan!" Sambung Motty memohon dari samping tubuh Gabriel.
"Tuan tolong ampuni Gabriel! Semua ini terjadi karena aku, saya siap menerima semua hukuman dari Tuan Azazeal!" Sambung Motty.
Kemudian Sam berhenti memukuli wajah Gabriel dan menoleh ke arah Motty dengan tatapan dingin dan benci. Tiba-tiba terbesit pikiran licik nan kejam dari dalam pikiran Sam.
"Benar semua ini terjadi karena ulah mu, Iblis rendahan! Karena kau lah misiku jadi gagal maka hukuman mu adalah ... MATI!" Kata Sam lirih di dekat telinganya sambil berjalan mengelilingi Motty.
Seketika Gabriel bangun bangun dengan gagahnya seperti tidak terjadi apa-apa dengannya, "Oh ternyata kau masih bisa bangun! Bagus lah kalau begitu. Jika kamu sungguh ingin bertanggung jawab atas kesalahan mu maka, BUNUH LAH PEREMPUAN INI!" Sambil memegang pundak Motty.
Motty hanya bisa tersenyum pasrah sambil meneteskan air mata sedih, "Tidak apa-apa Gabriel, kamu sudah menepati janjimu padaku. Sekarang tepati lah janjimu kepada Sam, kau sudah membawaku kemari 'kan? Aku sangat senang bisa bertemu denganmu kembali walau hanya sebentar, itu sudah bisa mengobati rasa rinduku selama 300 tahun." jawabnya lirih serak sedih dengan air mata terus berlinang.
"Tidak! Aku tidak mau kehilangan kamu lagi." Jawab Gabriel dengan sedih.
"Tidak apa-apa, bukankah kamu seorang lelaki? Lelaki itu harus menepati janjinya 'kan? Kamu yang mengatakan itu 50 tahun yang lalu." sambung Motty.
"Tidak dengan cara ini!" Jawab Gabriel.
"Kita pikirkan cara lain, ya masih ada cara yang lain 'kan?" Sambungnya dengan gugup dan kacau karena panik, bingung dan sedih saling bercampur aduk.
Alin yang menyaksikan mereka berdebat merasa sangat kasihan sampai meneteskan air mata dan tidak berbuat apa-apa untuk membantu mereka.
"Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu menyaksikan sandiwara ini." Teriak Sam memperingatkan.
Motty tersenyum dengan linang air mata membasahi pipinya dan mengangguk untuk memberikan kode kepada Gabriel kalau dia siap menerima hukuman tersebut. Tetapi Gabriel yang dengan berat hati menolak untuk mengakhiri nyawa kekasihnya tersebut.
"Tidak, aku tidak mau melakukannya. Tolong Sam berikan aku hukuman lain, selain menyakitinya!" Mohon Gabriel.
"Jangan merengek seperti itu Gabriel, Coba kau pikir! Karena siapa misi kita ini gagal?" Tanya Sam.
"Iya aku sadar tetapi tidak adakah hukuman yang lain?" Tanya Gabriel sekali lagi.
"Cukup! Kalau kau tidak mau membunuhnya biar aku saja yang melakukannya!" Kemudian lekas berjalan dan mengeluarkan pedangnya.
"PLEEEK!" Tiba-tiba Sam menepuk bahu Sam dan mencengkeramnya dengan kuat untuk menyuruhnya berhenti.
"Sedikit saja kau menyentuhnya, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup!" Ancamnya dengan tatapan marah sekali kepada Sam dengan berubah ke mode Awakening Archangel.
Sam menoleh ke tangan Gabriel yang sedang mencengkeram pundaknya dan dengan cepat mencengkeram balik tangan Gabriel dengan sangat keras, kemudian menariknya untuk bertatap muka dari dekat.
"Seorang pengkhianat tak berhak mengaturku!" Jawab Sam tegas dengan cepat mereka berdua mengeluarkan pedangnya masing-masing.
"CTINGG!" mereka berdua saling beradu pedang dan saling terpental terkena efek kekuatan yang sangat dahsyat yang saling bertabrakan antara Elemen petir dan Elemen Cahaya.
Sam kemudian terbang dan mengeluarkan kekuatan penuhnya. "Kau akan berakhir disini makhluk memalukan bangsa langit!" Kata Sam marah.
"GLERRRR! JDUAARRR!"
"JDARRRR! JDERRRR!" Suara gemuruh petir riuh dari kekuatan Lightning Sword yang sudah berubah ke mode Thunder Sword.
Gabriel juga tak mau kalah dia terbang dengan sayap Archangel-nya dan mengeluarkan kekuatan penuhnya. "Aku akan melindungi apa yang berharga bagiku walau semua yang aku miliki akan hilang dari genggamanku!" Jawabnya tegas.
"SWRIIINHGG! "SLAAASSSHH!"
"SWUTTHH! SWRINGHH!" Cahaya berpijar sangat terang menyinari Cluenon Kingdom yang keluar dari Durandal Sword milik Gabriel.
"Matilah kau!" Teriak Sam melesat dengan sangat cepat untuk menyerang Gabriel.
"Hiaattt!" Teriak Gabriel terbang dengan sangat cepat bersiap untuk menyerang Sam.
"Kalian berdua! Hentikan!" Teriak Alin sambil berlari berniat menghentikan pertarungan mereka.
'Ini tidak akan berhasil, siapa pun tolong aku menghentikan ini.' Katanya dalam hati memohon.
"JDUMMB!" tabrakan dahsyat antara kedua Elemen kuat tak tertahan lagi, debu tebal beterbangan menutupi Cluenon Kingdom.
"Gabriel!" Teriak Motty histeris.
"Ahh itu!" Kata Alin terkejut.
Debu perlahan mulai menghilang dan nampak lah hal yang mengejutkan, 'Siapa dia?' Tanya Alin dalam hati terkejut melihat ada seseorang berhasil menahan serangan dahsyat mereka berdua, nampak sedikit samar karena terhalang oleh debu dari kedua matanya.
'Ahh!' Sontak Gabriel dan Sam terkejut melihat ada seseorang yang bisa menghentikan pertarungan mereka berdua.
"Tuan Edward!" Kata Sam lirih terkejut melihatnya.
'Siapa pria perkasa ini, dia bahkan mampu menahan kekuatan penuh kami berdua?' tanya Gabriel terkejut dalam hati melihatnya.
Edward berdiri di tengah-tengah mereka dengan God Evil nya mata merah seperti milik Azazeal serta tanduk setan panjangnya yang menjadi mahkota. menunjukkan kalau dia adalah seorang Raja dari bangsa tersebut. Sayap gagahnya membuktikan kalau dia memanglah sangat kuat dan berkuasa.
'Apakah dia Tuan Azazeal itu?' tanya Alin dalam hati.
'Aura kekuatan orang ini sangat dahsyat! Sama seperti perasaanku waktu itu.' Pikir Motty sambil terus memperhatikan Edward.
"Sam kembalilah, Tuan Azazeal memanggil mu!" Kata Edward sedikit keras.
"Tidak! Urusanku belum selesai!" Jawab Sam tegas.
"Apa kau mau membuatnya marah untuk yang kedua kalinya?" Tanya Edward.
Sam kemudian terdiam untuk beberapa saat, "Cihh ingat Gabriel! Urusan kita belum selesai!" Ancamnya kemudian terbang pergi meninggalkan mereka semua.
'Ha ha ha ternyata mudah sekali menipunya.' kata Edward dalam hati tertawa kecil.
'Guardian ini tampan sekali, rambutnya kuning ke orange-an Aku belum pernah menemukan Guardian setampan dia sebelumnya.' ucap Alin terkagum tidak memalingkan pandangannya dari Edward.
"Maaf, apakah Anda yang bernama Tuan Azazeal?" Tanya Alin.
"Oh! Maaf aku sampai lupa tidak memperkenalkan diriku." Kata Edward sambil memberi senyum kepada mereka semua.
"Perkenalkan namaku Edward, aku adalah utusan Tuan Azazeal sekaligus posisi dua Guardians, entah kalian mengenalku atau tidak." jawabnya merendah.
'Tentu kami mengenal nama itu!' kata Alin dalam hati terkejut.
"Kenapa Anda tiba-tiba datang kemari?" Tanya Motty.
'Berarti dia masih di bawah Tuan Azazeal, tapi menjadi posisi dua dari seratus Guardians itu adalah posisi yang luar biasa hebat! Sebenarnya seberapa kuat orang ini?' ucap Alin dalam hati sambil terus memperhatikannya.
"Kau yang bernama Gabriel?" Tanya Edward sambil menunjuk dengan jarinya.
"Iya." Jawab dengan sedikit takut.
"Kalau begitu kemarilah." Panggilnya menyuruhnya mendekat.
Kemudian Gabriel dengan sedikit takut datang mendekat kepada Edward. "Ada apa Tuan Anda memanggil saya?" Tanya Gabriel.
"Gabriel, posisi ke-25 Guardians. Raja kelima dari Archangel dan pemilik kekuatan cahaya." kata Edward membeberkan data dirinya.
'Bagaimana dia bisa tahu semua tentangku?' Kata Gabriel terkejut mendengarnya.
"Kau tidak perlu terkejut! Aku tahu semua biodata dari keseratus anggotaku." Jawabnya.
"Sekarang aku mempunyai pertanyaan untukmu." Dengan tatapan mata serius.
"Apa yang mau Anda tanyakan?" Tanya Gabriel sedikit takut.
"Apa hukuman yang diberikan Sam berikan kepadamu?" Tanya Edward.
"Dia mau membunuh Motty tetapi saya menolaknya mentah-mentah!" Jawabnya tegas.
"Kenapa kamu menolaknya?" Kata Edward bertanya balik.
"Karena itu sangat bertentangan dengan hukum kami bangsa Archangel dan hukum mutlak dari Guardians!" Jawab Gabriel.
"Kau tahu? Hukum itu tidak mendapat persetujuan dari Tuan Azazeal lalu kenapa kau malah menerapkannya?" Tanya Edward menatapnya dingin.
"Tetapi 95 Guardians lainnya setuju dengan peraturan itu termasuk saya sendiri." Jawabnya tegas.
"Begitu, ya ..." Ucap Edward dingin kemudian diam sesaat.
"Baiklah, lupakan saja masalah barusan. Aku datang untuk memberimu ini." Edward menciptakan bola dari air yang sangat jernih melayang di atas jari telunjuknya.
"Wahh! Benda apa ini? Cantik sekali." Tanya Alin dengan mata berbinar-binar karena kagum.
"Wah indahnya!" Sambung Motty yang juga merasa kagum.
"CTISHHH!" Tiba-tiba bola air tersebut di sentil oleh Edward dan mengenai dada Gabriel.
"JDARRR!" Berlubang lah dadanya dengan kekuatan itu.
"Arrghhh!" Teriak Gabriel lirih melotot kaget merasakan sakit luar biasa dan memuntahkan darah segar dari mulutnya. Dia langsung jatuh tergeletak di lantai dengan darah yang berceceran.
"Gabriel!" Kata Alin sangat terkejut melihat Gabriel yang seperti itu.
"Gabriel!" Kata Motty terkejut sambil meneteskan air mata sedih sekali.
"Apa yang Anda lakukan Tuan! Membunuh sesama Guardians itu dilarang keras!" kata Alin dengan lantang dan marah.
"Tidak jika Guardians itu berkhianat!" kata Edward dingin.
"Itu adalah hukuman mu Gabriel! Kau naif sekali merelakan dirimu hancur demi membela kekasih kurang ajar mu itu." Katanya marah dan kecewa sambil menatapnya dengan mata merahnya.
"Dia akan sembuh dengan sendirinya selama 90 tahun dan selama itu berlangsung kalian tidak dapat menyembuhkannya. Hanya aku dan Tuan Azazeal saja yang dapat menyembuhkannya!" Sambungnya kemudian pergi terbang menghilang dengan cepatnya.
"Hei! Tunggu! Apa maks,- tetapi Edward sudah keburu menghilang sebelum Motty selesai bertanya...