The Sevent Guardian Of God

The Sevent Guardian Of God
Bab 52 ~ Kasta senjata dan Pelacur langit



Sesampainya di tempat. Alin langsung menyambutnya seolah - olah Paradise Palace adalah miliknya. "Selamat datang Gill. Kau adalah lelaki pertama yang beruntung bisa menginjakkan kaki di tempat suci ini. Perlu kau tahu belum pernah ada lelaki manapun yang berhasil sampai sini, bahkan Tuan Azazeal sendiri. Sekarang kau bisa bangga pada dirimu sendiri!" Kata Alin menyambutnya.


"Loh! Dimana dia?" Imbuhnya terkejut saat membuka matanya melihat Gill menghilang dari hadapannya. Seketika Alin langsung menoleh mencarinya ke segala arah.


"Woahh! Tempat ini sungguh sangat megah. Tapi desain dan warnanya kok wanita banget ya. Aku jadi kurang suka." Kata Gill berdiri dengan wajah terpukau di depan gerbang masuk Paradise Palace.


"Hei Gill! Kau dengar aku tidak!" Panggil Alin dari kejauhan nampak marah padanya.


"Hyooo Alin! Tempat ini ternyata lumayan juga." Jawab Gill sambil terus melihat sekeliling gerbang masuk tersebut.


"Tunggu! Kau jangan masuk ke sana tanpaku!" Teriak Alin memperingatkannya tapi sepertinya Gill tidak mendengarnya dan malah berjalan masuk ke dalam.


"Hehhh! Anak itu!" Kata Alin kesal kemudian berlari untuk menyusulnya.


Di sepanjang perjalanan Gill menjadi pusat perhatian bagi para Bidadari di sana. Ia sudah seperti aktor terkenal yang dikerubungi oleh banyak wanita cantik. Tapi Gill tidak menghiraukan mereka semua dan malah fokus melihat interior Istana yang indah.


"Lihat siapa itu yang datang?" Kata salah satu Bidadari pada teman di sampingnya.


"Imut sekali anak itu!" Sambung temannya yang ikut terpukau melihat wajah Gill.


"Aku jadi gemes melihatnya. Pipinya sangat Chuby dan lembut seperti bakpao. Hahh aku ingin sekali memakannya." Sahut Bidadari lain.


Para Bidadari itu sudah seperti hewan kelaparan yang melihat sepotong daging. Sehingga mereka semua saling memperebutkannya untuk memiliki daging tersebut. Sama halnya dengan saat ini mereka semua berlomba - lomba ingin merebut Gill dari Alin.


'Mereka semua pasti iri padaku.' pikir Alin dalam hati melirik ke arah para Bidadari dengan maksud memamerkan kemesraan mereka.


"Gill..." Panggilnya pelan dengan nada merayu meraih telapak tangannya.


"Eh! Apa - apaan ini,?! Tanya Gill terkejut karena tiba - tiba Alin menggenggam erat telapak tangannya layaknya seorang kekasih.


"Pffttt ha ha ha ha!" Tawa para Bidadari pecah saat melihat rayuan Alin gagal.


"Alin - Alin. Anak itu saja belum mengakui mu tapi kau mau memamerkannya pada kami. Urat malumu sudah putus, kah? Ha ha ha." Ucap salah Bidadari sambil tertawa kecil.


Seketika wajah Alin memerah dan langsung menyalahkan Gill karena telah membuatnya malu. "Kau ini kenapa sih? Bikin aku malu saja!" Bisiknya pada Gill kesal.


"Memangnya apa yang telah aku lakukan? Dari tadi aku hanya diam." Jawab Gill keras tidak terima dirinya di salahkan. Sontak hal itu membuat para Bidadari tertawa ngakak.


"Adik manis, kau jangan mau di perbudak olehnya. Dia yang salah tapi malah menuduh mu atas kesalahannya sendiri." Sahut Bidadari lain membelanya.


"Lebih baik kau ikut kami saja, Yuk! Mbak akan mengajarimu permainan yang seru." Sahut Bidadari lain berusaha merayunya.


"Kalian jangan ikut campur, ya! Siapa bilang aku menuduhnya. Aku hanya memberitahunya informasi mengenai tempat ini!" Jawab Alin ngeles dengan percaya dirinya.


"Siapa yang ikut campur. Ihhh galak amat sih Neng! Kami hanya mau bermain dengan anak ini." Jawab salah seorang Bidadari.


"Ayo sini! Mbak akan memberi apapun yang kamu mau." Rayu salah seorang Bidadari.


'Lama kelamaan tempat ini membuatku risih! Kalau aku tahu semua penghuni tempat ini adalah wanita, tentu aku tidak akan mau datang kemari!' kata Gill dalam hati jengkel dan menyesal.


"Abaikan saja mereka Gill. Kau mau senjata itu, kan? Ayo ikut aku!" Langsung menarik tangannya dan membawanya pergi menjauh dari mereka.


"Kau mau membawaku kemana? Hei jangan asal tarik!" Kata Gill merasa kesal atas tindakannya yang semena - mena. Namun para Bidadari itu tidak menyerah dan terus mengikuti kemana mereka berdua pergi.


Saat mereka berdua hendak masuk ke ruang tahta, tiba - tiba mereka dikejutkan dengan kemunculan Queen yang membuka pintunya dari dalam.


"Ratu!" Kata Alin terkejut langsung berlutut di hadapannya.


'Indah sekali!' Pikir Gill terkejut kagum melihat wajah cantiknya yang kalem. Ia sampai tidak berkedip melihatnya dan tak terasa darah merah keluar dari lubang hidungnya.


"Gill berlututlah! Kau ini tidak sopan!" Bisik Alin dari bawah menasihatinya.


"Ratu!" Kata salah satu Bidadari terkejut melihat Queen muncul di depan dan segera membungkuk memberinya hormat di ikuti oleh temannya yang lain.


"Jadi kamu..." Kata Queen sambil mengusapi darah yang mengalir keluar dari lubang hidungnya.


"Siapa namamu?" Sambungnya sambil terus mengusapinya.


Saat Queen sedang mengusapi darah yang keluar dari hidungnya, tiba - tiba Gill langsung meraih tangannya. "Tanganmu lembut sekali Nona." Puji Gill kagum sambil terus mengelus tangannya.


"Jadi...?" Tanya Queen menatapnya dari dekat.


"Ah, Maaf Nona!" Ucap Gill kaget tersadar dari perbuatannya yang tidak sopan seketika langsung melepaskan tangannya.


"Nama saya Gill. Nona sendiri?" Jawabnya membungkuk memberinya hormat.


"Aku Avhriela. Senang bertemu denganmu, Gill." Jawabnya dengan senyum manis.


'Nama yang sama dengan yang dikatakan oleh Tuan Azazeal kemarin. Jadi benar kalau Ratu dulu adalah pelayannya!' pikir Alin dalam hati terkejut mendengarnya.


'Avhriela? Jadi itu nama asli dari Ratu selama ini!!' kata para Bidadari dalam hatinya terkejut mendengarnya.


"Masuklah! Kita lanjutkan ngobrolnya di dalam." Ajak Queen.


"Tunggu Gill!" Bisik Alin menahan tangannya.


"Hidungmu berdarah. Apakah kau menatapnya dengan nafsu?" Tanya Alin mencurigainya.


"Yah, dia memang memiliki pesonanya tersendiri. Nona Avhriela memang cantik dan menggunggah hati untuk pria pada umumnya." Jawab Gill enteng.


"Maksudmu?" Tanya Alin bingung dengan jawabannya.


"Bagiku dia sama saja denganmu dan wanita yang aku temui sebelumnya, hanya saja dia memiliki pesona yang kuat. Aku datang kesini untuk satu tujuan yakni senjata itu!" Jawab Gill dengan tatapan serius ke arah Queen yang sedang berjalan naik anak tangga menuju kursi tahtanya.


'Ternyata dia adalah tipe lelaki yang menjunjung tinggi prinsipnya. Aku kira langkahnya akan terhenti di sini. Rayuan menggoda dan wanita cantik ternyata tidak mampu untuk menggoyahkan ambisinya. Hatinya sungguh setebal baja! Aku salut padamu Gill, kau lelaki yang hebat walaupun umurmu masih sangat muda.' kata Alin dalam hatinya kagum dengan


"Masuklah Gill! Tidak perlu sungkan." Perintah Queen dari atas singgah sananya.


"Permisi Nona saya masuk!" Kata Gill masuk sopan secara perlahan di ikuti oleh Alin dan beberapa Bidadari yang mereka temui sebelumnya.


"Setelah aku amati wajah dan rambutmu. Ternyata kau sangat mirip dengan murid-ku. Hanya saja dia wanita dan kau laki - laki. Sangat langka keturunan Dementor sepertimu memiliki rambut cerah seperti itu. Katakan padaku, dari mana kau dapat rambut putih kapas itu? Dan sepertinya aku kenal dengan pemilik aslinya." Tanya Queen penasaran.


"Rambut ini... (memegang rambutnya) Ibuku yang mewariskannya padaku. Entah bagaimana ceritanya aku bisa lahir dari rahimnya. Dia menyebut marganya sebagai Valuetans tapi setelah aku cari tahu. Tidak ada nama marga itu di Underworld! Apakah Anda tahu mengenai marga tersebut?" Tanya Gill berusaha mencari informasi.


"Seperti yang kau tahu. Nama marga itu memang tidak pernah ada atau mungkin hanya di buat - buat oleh seseorang." Jawab Queen jujur.


"Begitu, ya." Jawab Gill pelan sedih tidak mendapatkan informasi sedikitpun.


"Tunggu dulu!" Sahut Queen mengingat sesuatu. 'Anastasya Gulleen dan segala kemiripan ini,?! Tidak mungkin kalau ini hanya kebetulan, pasti ada yang tidak beres di sini. Apakah dia bereinkarnasi?' duganya dalam hati.


"Coba kau ceritakan sedetail mungkin mengenai ibumu. Ciri fisiknya, kekuatan, apapun itu yang masih kau ingat! Mungkin aku bisa membantumu." Sambung Queen.


"Baiklah. Ibuku bernama Anastasya Gulleen. Dia perempuan,-


"Pffftt." Alin berusaha menahan tawa saat mendengar kalimat itu. 'Yah pastilah dia perempuan! Kalau laki - laki mana mungkin kau bisa lahir, dia sungguh polos sekali.' katanya dalam hati.


"Kulitnya putih pucat rambutnya sama sepertiku. Matanya merah. Dia bisa berubah sangat menyeramkan saat marah, tapi aku tidak takut. Dan memiliki kuku yang tajam, setajam ini." Membuka sedikit bajunya dan memperlihatkan luka pada tubuhnya.


"Hah!!!" Kata para Bidadari terkejut langsung membungkam mulutnya syok melihat luka lebar pada tubuh Gill.


"Gill kau tidak perlu sampai menunjukkannya." Kata Alin memberinya nasihat.


"Tidak apa - apa. Aku berharap ini bisa sedikit membantunya." Jawab Gill tidak merasa keberatan.


"Sesuai dugaanku." Kata Queen dengan sangat yakin.


"Bagaimana? Nona mengingat sesuatu?" Tanya Gill sangat penasaran.


"Leona Havelyn. Sang Angels pengkhianat! Rupanya dia bereinkarnasi." Jawab Queen pasti dengan raut wajah marah.


"Leona?" Sambung Alin kaget penasaran dengan sosoknya.


"Leona? Siapa dia? Kalian mengenalnya?" Tanya salah satu Bidadari pada temannya.


"Tidak. Baru kali ini kami mendengarnya." Jawab salah temannya.


"Iya itu benar." Sahut temannya yang lain.


"Siapa Leona Havelyn itu Ratu? Maaf baru kali ini saya mendengarnya." Tanya Alin penasaran.


"Leona Havelyn adalah Angels generasi kedua jauh sebelum kalian ada. Dia merupakan seorang Angels yang tergolong kejam dan hina. Dulu dia sering menyiksa para manusia dan melacur bersama para Guardian rendahan. Sampai pada suatu saat Tuan Azazeal merasa geram dengan tindakannya tersebut dan mengutusku untuk memberinya sanksi berat berupa hukuman mati." Jawab Queen menjelaskan.


_____________


Note: Dahulu kala tugas dari seorang Bidadari/Angels adalah untuk melayani Tuannya, yaitu Azazeal dan Tuhan semesta alam. Mereka biasanya menerima tugas untuk mengawasi pelayan - pelayan yang lain atau misi berbahaya lainnya.


*Generasi pertama dari Angels diketuai oleh Erfyona Land Sankarea yang waktu itu bertugas sebagai pemimpin pelayan di Istana Tuhan. Kedudukannya sangat tinggi dan besar karena memimpin lebih dari seratus ribu pelayan, baik laki - laki maupun perempuan.


*Generasi kedua dari Angels diketuai oleh Avhriela Ivangels yang waktu itu bertugas di Orion sebagai pemimpin dari empat Angels besar. Yakni Acquila, Exifilia, Helfeany dan Stacia. Namun setelah peristiwa besar terjadi, Avhriela keluar dari Orion dan mendirikan kerajaannya sendiri yakni Paradise Palace. Yang sampai saat ini menampung seratus Angels dari setiap semesta.


_____________


'Tangannku sudah tidak sabar untuk segera membunuhnya, dia sungguh sangat memalukan!' kata Gill dalam hati marah besar mengepalkan tangannya keras.


"Aku tidak tahu kalau selama ini dia telah bereinkarnasi di tempat busuk itu. Tapi biarlah dia layak membusuk di sana dan pantas menyandang gelar Ratu lacur yang hina." Imbuhnya merasa puas tanpa sadar Gill mendengarkan ucapannya.


"Maaf Gill. Aku sampai terbawa suasana dan melupakan keberadaan-mu di sini. Mungkin ini berat untukmu,- kata Queen terkejut saat dia ingat di depannya ada Gill putra dari wanita yang dia bicarakan.


"Tidak apa - apa. Aku lega kau berani berkata yang sejujurnya. Dari dulu rasa penasaran ini selalu menyiksaku dan siapa sangka, di sini aku malah menemukan jawabannya." Sahut Gill dengan nada kesal bercampur marah.


'Aku baru ingat! Jadi anak ini yang mempunyai Ambisi gelap itu. Kalau dia sampai membunuhnya...' pikir Queen dalam hati teringat dengan perkataan Alin dahulu.


"Aku dengar kau memiliki Ambisi yang besar Gill? Yang ingin membinasakan semua Iblis Tirani. Apakah itu benar?" Tanya Queen memastikan.


"Itu benar. Dan kau jangan coba - coba untuk mencampuri urusanku! Aku tidak peduli apa statusmu saat ini. Tapi kalau kau mencampurinya! Aku pastikan tempatmu ini akan berlinang darah dan terbakar api hitam!" Ancam Gill dengan mata terkuatnya.


'Anak ini mempunyai mata yang sama dengan Azazeal! Dia bukan bocah biasa, dia kuat! Sebaiknya aku waspada dan tidak memandangnya remeh.' kata Queen dalam hati terkejut melihat mata Gill.


"Tidak. Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak akan mencampuri urusanmu, itu hak mu kau bebas melakukannya. Aku hanya minta satu hal padamu." Kata Queen berusaha untuk tetap tenang.


"Apa itu?" Tanya Gill penasaran.


"Kau jangan membunuh Leona, dan kalau bisa bawa dia kemari apapun kondisinya. Kau mau membantuku, kan? Aku sudah membantumu, loh!" Jawab Queen bernegosiasi dengannya.


"Kenapa aku harus menuruti perkataan-mu. Kau bukan Tuanku, loh!" Jawab Gill ketus membalik perkataanya.


"Baiklah aku minta baik - baik padamu. Gill sayang, kau mau kan membantu wanita lemah di depanmu ini." Rayu Queen dengan nada lembut.


"Satu hal lagi. Aku benci rayuan setan itu! Lebih baik kau hentikan cara yang hina itu. Percuma! Itu tidak akan bekerja padaku." Jawab Gill sombong dengan raut wajah datar.


'Kurang ajar! Belum ada lelaki yang sanggup menolak rayuan ini. Dasar kau bocah!' kata Queen dalam hati marah sekali ingin rasanya meremas Gill hingga hancur. Namun dia berusaha keras untuk tetap kalem dan santuy. Berusaha tersenyum manis untuk mendapatkan kesepakatan yang sesuai.


"Kalau Tuan Azazeal saja sudah merasa geram apa lagi aku yang terlahir dari lubang jorok najis itu. Tidak bisa dimaafkan!" Imbuh Gill meluapkan isi hatinya.


"Kendalikan emosimu Gill. Saat ini kita sedang berdiskusi." Kata Alin menasihatinya tapi sepertinya Gill tak menghiraukannya.


Kemudian Alin membisikan sesuatu ke dalam telinganya. "Ingat tujuanmu datang kemari. Kau mau senjata itu, kan? Ratu tentu tidak akan memberikannya padamu dengan mudah. Saran-ku terima saja tawarannya. Ingat kau sudah di bantu olehnya, ini bukan lagi negosiasi tapi balas budi. Coba kau pikirkan saat kau mendapatkan pedang tersebut. Pedang itu akan sangat membantumu, loh. Bukan hanya di sekolah itu saja tapi juga di Underworld!" Bisiknya pada telinga Gill.


'Apa yang mereka bicarakan?' pikir Queen penasaran.


"Baiklah, aku mengerti." Jawab Gill pelan.


"Sepertinya kau akan berubah pikiran Gill. Apa yang Alin bisikan kepadamu barusan?" Tanya Queen.


"Itu tidak penting untukmu. Sekarang aku tanya. Apa yang akan kau lakukan padanya nanti setelah aku berhasil membawanya kemari?" Tanya Gill berubah pikiran.


"Pertanyaan yang bagus. Tentu saja aku akan menghukumnya lebih berat lagi." Jawab Queen enteng.


"Kau akan membunuhnya lagi?" Tanya Gill menebaknya.


"Tidak. Lebih dari itu, mungkin kau juga akan puas setelah melihatnya nanti." Jawab Queen meyakinkannya.


"Kau bisa di percaya?" Tanya Gill memastikan.


"Kau sendiri?" Kata Queen bertanya balik.


"Baiklah, kita bersepakat! Aku tidak akan main - main kalau kau sampai berkhianat." Ancam Gill tegas.


"Wanita selalu memegang teguh janjinya!" Jawab Queen penuh percaya diri.


"Baiklah sekarang giliran-ku. Dimana senjata itu?" Tanya Gill terus terang.


"Senjata? Senjata apa yang kau maksud?" Tanya Queen kebingungan.


"Begini Ratu. Tadi waktu saya pulang. Saya sempat berpapasan dengan Gill di tengah jalan. Ia hendak pergi ke Majesty Strength Academy, namun ia bingung bagaimana cara melewati ujian seleksi masuknya. Kebetulan karena Anda waktu itu menyuruh saya untuk membawanya kemari jadi saya ajaklah dia kesini,-


"Iya sudah, aku paham. Kalian sebelumnya sudah bersepakat, bukan? Gill mau datang, asalkan dia mendapat senjata yang dia inginkan. Supaya ia bisa melewati ujian seleksi tersebut. Aku benar?" Sahut Queen.


"Iya Ratu. Bagaimana Anda bisa tahu?" Tanya Alin penasaran.


"Itu sudah menjadi rahasia umum." Jawab Queen santai.


"Ariella! Bawakan semua senjata itu kemari. Biarkan anak ini melihatnya!" Perintah Queen pada salah satu Bidadari.


"Baik Ratu." Berlutut dan pergi memenuhi perintahnya.


Tak berapa lama, Ariella datang dengan membawa berbagai pilihan senjata. Mulai dari jarak dekat sampai jarak yang paling jauh.


"Pilihlah Gill! Apa yang kau mau." Perintahnya.


"Semua senjata ini sangat bagus! Aku sampai bingung mau memilih yang mana." Kata Gill terkagum.


"Pilihlah sesuai kemampuanmu. Semua senjata ini adalah pusaka yang sangat langka. Kau tidak perlu lagi meragukan kekuatannya." Jelas Queen.


"Bagaimana dengan ini Gill! Sepertinya kau cocok menjadi seorang pemanah." Kata Alin sambil mengangkat sebuah busur yang sangat indah.


"Ini...?" Menerima busur tersebut dan mengamatinya.


"Arigma Stecion! Sang busur teror. Dapat melepaskan anak panah secepat cahaya dengan jangkauan yang tak terbatas. Senjata itu sangat cocok untuk memusnahkan satu buah negara atau sepetak kecil desa karena memiliki damage area yang sangat luas." Sahut Queen menjelaskan dengan bangganya.


"Luar biasa!" Kata Gill kagum setelah mendengarnya.


"Baiklah, sepertinya aku akan membutuhkannya. Apakah aku boleh mengambil lebih dari satu?" Tanya Gill dengan wajah sungkan.


"Ambilah sebanyak yang kau mau. Mau kau ambil semua juga tidak apa - apa asalkan itu bisa membantumu." Jawab Queen sukarela.


"Tidak, aku hanya mengambil yang perlu - perlu saja." Kata Gill dengan wajah yang tidak enak.


"Kau mau ini?" Tanya Ariella menawarinya sebuah tombak keren.


"Apa itu?" Tanya Gill penasaran.


"Egamossa (Tombak kemutlakan). Ambilah kau akan sangat membutuhkannya. Walaupun tombak itu terlihat panjang dan berat namun aslinya dia sangat ringan. Memungkinkan mu untuk bergerak leluasa saat kau sedang bertarung satu lawan satu. Tombak itu sangat kuat dan tajam dapat memanjang, membesar atau bahkan mengecil sesuai yang kau inginkan. Cocok untuk kau gunakan melawan para Raja iblis." Sahut Queen menjelaskan.


_______________


Note: Semua senjata memiliki tingkatan kasta yang berbeda - beda. Mulai dari yang terendah (biasa saja) sampai yang tertinggi (Powerfull adidaya). Berikut kasta dan pengertiannya:


1. Grace level : yakni tingkatan senjata paling mendasar dari semua tingkatan yang ada. Senjata yang berlevel ini tidak memiliki kekuatan sama sekali dengan kata lain hanya senjata biasa.


2. Ace level : Sama dengan Grace level yang membedakan adalah senjata ini bisa multifungsi.


3. Vaint level : Sebuah pusaka yang sedikit memiliki kekuatan magis. Senjata yang dimiliki oleh keluarga khusus yang diwariskan turun temurun.


4. Heroes level : Senjata kuat para tokoh kuat zaman dulu yang di abadikan di sebuah tempat khusus. Senjata ini menggunakan bahan yang sangat langka yang membuatnya tidak hancur terkikis oleh waktu.


5. Legendary level : Senjata yang bersumber dari Energon/energi khusus yang unik. Senjata ini biasanya banyak dimiliki oleh para Raja Iblis dan murid senior Majesty Strength Academy.


6. Ultimate level : Senjata kuat yang hanya dimiliki oleh para Guardian dan Angels bergelar tinggi.


7. Divine level : Tidak banyak senjata yang sampai bergelar ini. Hanya ada lima saja di seluruh alam semesta. Salah satu yang terkuat adalah Belatrix dan Sovereign.


8. God level : Senjata sempurna Adikuasa milik Sang pencipta.


_________________


"Semua senjata ini sangat menarik bagiku. Baiklah aku ambil itu. Aku hanya perlu satu lagi." Kata Gill senang sekali.


"Yang ini?" Kata Ariella memberinya sebuah tongkat.


"Tidak." Jawab Gill menolaknya sambil terus mencari yang dia mau.


"Kalau ini?" Tanya Alin menawarinya sebuah pisau sedikit besar.


"Tidak." Jawabnya tetap fokus mencari.


'Wah pedang ini cantik sekali. Warna putih peraknya sungguh sangat indah!' kata Gill dalam hatinya terkagum saat melihat satu buah pedang yang memiliki warna unik.


"Apa nama pedang ini?" Tanya Gill sambil menunjukkan nya.


"Pilihan yang bagus Gill! Pedang itu sangat cocok denganmu. Claves Sancti adalah pedang yang paling indah dari semua koleksiku. Namun sayang itu hanya pedang biasa, tampilannya saja yang bagus tapi tidak ada keistimewaan sama sekali." Jelas Queen.


"Tapi setidaknya pedang ini tajam, kan?" Tanya Gill memastikan.


"Lumayan, namun tidak terlalu kuat untuk pertarungan. Saran-ku kau jangan gunakan pedang itu untuk bertarung terutama melawan senjata kasta Legenda ke atas. Claves Sancti masuk ke dalam jajaran pedang Assassin. Pedang yang cocok digunakan untuk membunuh musuh secara diam - diam atau dengan serangan yang cepat. Itu adalah cara yang paling efisien kalau kau mau menggunakannya." Jawab Queen menjelaskan detail mengenai pedang tersebut.


"Aku suka tantangan. Baiklah! Sepertinya tiga senjata ini cukup. Terima kasih Nona! Aku tidak menyangka kau akan membantuku sebanyak ini." Kata Gill senang sekali.


"Tidak usah kau pikirkan. Anggap saja ini bentuk terima kasihku karena kau mau berubah pikiran. Sebenarnya kami para Angels juga sangat membenci para Iblis laknat itu. Dengan adanya kamu di sini itu akan sangat membantu kami untuk membereskan mereka. Jika kau menemui kesulitan atau masalah kau bisa datang kemari kapanpun yang kau mau. Kami akan berusaha untuk membantumu!" Jawab Queen dengan senyum cantik.


"Iyah! Tentu saja. Sekali lagi terima kasih!" Membungkuk memberinya hormat.


"Ngomong - omong. Apakah Tuan-mu sama sekali tidak membekali mu sesuatu? Sepertinya kau sangat terbantu dengan semua ini?" Tanya Queen penasaran.


"Beliau mengajari saya beberapa kekuatan sihir dan beberapa teknik bertarung. Tuan menaruh kepercayaan yang besar pada saya!" Jawab Gill jujur.


"Jadi begitu." Jawab Queen pelan merasa sedih karena ternyata Gill masih lebih menghormati Azazeal ketimbang dirinya.


"Kalau begitu saya permisi,- hendak berbalik dan pergi.


"Tunggu!" Sahut Queen mengentikannya.


"Kalau suatu saat kau bertemu dengan murid-ku. Katakan padanya untuk menemuiku! Dia juga sama sepertimu seorang pemburu Iblis. Namun beberapa tahun belakangan dia tidak ada kabar sama sekali, aku cemas dengan kondisinya." Imbuhnya meminta bantuan Gill.


"Siapa namanya?" Tanya Gill.


"Angeles Rose Marry. Ciri - cirinya sama persis denganmu namun dia seorang wanita." Jawab Queen.


"Menurut informasi yang saya dapat dari murid saya. Angeles Rose Marry baik - baik saja, Nona! Namun dia sering tidak masuk kelas dengan alasan yang tidak jelas." Ucap Alin memberitahunya.


"Begitu, ya." Kata Queen dengan wajah sedih.


"Anda jangan sedih Nona. Jika suatu saat saya bertemu dengannya, saya berjanji akan membawanya pada saat itu juga!" Jawab Gill tegas percaya diri.


"Terima kasih, Gill. Aku akan sangat menantikannya." Dengan meneteskan air mata bahagia.


"Kalau begitu sampai jumpa lagi Nona! Saya permisi dulu." Membungkuk kemudian pergi.


"Ayo Alin! Antarkan aku ke tempat itu." Ajak Gill sambil terus berjalan pergi.


"Kau ini tidak sopan! Umurku ini lebih tua darimu tahu!" Kata Alin kesal mengikutinya dari belakang.


"Baiklah - baiklah. Aku minta maaf." Jawab Gill enteng sambil terus berjalan.


"Minta maaf saja kau tidak tulus. Bagaimana aku mau memaafkan mu...." Kata Alin ngambek mengikutinya dari belakang.


"Kenapa Ratu menaruh kepercayaan yang tinggi pada anak itu? Anda tahu sendiri kalau dia adalah pelayan Tuan Azazeal! Apakah Ratu tidak takut kalau suatu saat dia akan mengkhianati Anda?" Tanya Ariella sambil melihat Gill berjalan pergi.


"Anak itu emosinya saja masih labil, dia tidak akan mungkin berfikir sampai sejauh itu." Jawab Queen yakin.


"Tapi,-


"Aku beruntung dapat bertemu dengannya. Tadinya aku berfikir ingin memanfaatkannya tapi sepertinya itu tidak perlu. Karena ternyata tujuannya sama denganku. Kita hanya perlu mensuport-nya dari belakang. Dia adalah pion yang sangat berharga!" Sahut Queen menjelaskan rencananya.


"Ariella! Awasi gerak - gerik Alin mulai dari sekarang. Sepertinya dia jatuh hati pada Dementor itu. Jangan sampai dia membocorkan rahasia kita!" Perintah Queen.


"Perintah Ratu adalah kehendak bagiku!" Jawab Ariella patuh dengan berlutut.