
Setelah mobil Helena pergi, Theo buru-buru turun ke bawah dan melihat Asyaa baru saja masuk ke rumah,
"Asyaa.. kamu dari mana?"
"Oh, aku tadi pergi ke beberapa panti asuhan membantu temanku memberikan sumbangan dari acara amal yang di gelar oleh yayasan mereka"
"Temanmu? Siapa?"
"Kak Helena, ya.. dia memang baru saja menjadi temanku"
"Di mana kamu mengenalnya?"
"Akh.. itu Arbi yang memperkenalkan kami, saat itu aku dan Arbi sedang di sebuah restoran, kebetulan kak Helena bersama temannya juga datang ke restoran itu, dia menyapa kami, jadi Arbi memperkenalkan aku, memangnya kenapa kak?"
"Tidak apa-apa, aku hanya takut kamu berteman dengan orang yang salah"
"Kak Theo jangan khawatir, kak Helena orang yang baik kok"
"Baguslah kalau begitu"
"Mm" Asyaa masuk ke kamarnya dan Freya, terlihat Freya yang sedang memainkan ponselnya di atas kasur,
"Apa kamu di kamar terus seharian ini?" Tanya Asyaa begitu heran
"Ya, aku kan sudah bilang hari ini aku malas untuk beraktivitas"
"Apa badanmu tidak pegal seharian berbaring saja?"
"Aku tidak hanya berbaring saja, tadi setelah kamu pergi aku bangun makan, terus nonton tv juga"
"Wah.. kamu benar-benar ajaib"
Di kamarnya Theo mengangkat ponselnya yang berbunyi, itu adalah telepon dari Rafka, setelah rapat Rafka melihat ada tiga kali panggilan dari Theo, maka dari itu dia kembali menghubunginya,
"Ada apa meneleponku? Tadi aku sedang rapat, jadi aku mematikan nada deringnya"
"Apa kamu tahu gadis kecilmu sekarang sudah memiliki teman perempuan selain Freya?"
"Teman perempuan selain Freya? Tidak, memangnya dia berteman dengan siapa?"
"Dia berteman dengan Helena sekarang"
"Apaaa?"
"Iya, kamu tidak salah dengar, dia sekarang berteman dengan tunanganmu. Wah.. aku akui kamu benar-benar hebat, tunanganmu berteman dengan gadis yang kamu cintai, itu benar-benar hal yang langka" ujar Theo mengejek
"Aku akan mengurusnya, terima kasih karena sudah menghubungiku" telepon di tutup,
"Semoga cintamu itu tidak akan membahayakan Asyaa" ujar Theo mengucapkan harapannya.
Malam hari, Rafka meminta Asyaa untuk bermain dengannya, Asyaa juga tidak bisa menolak karena dia sudah janji, Rafka datang menjemputnya, Freya juga ikut bersama mereka, tetapi di pertengahan jalan Freya sudah di tunggu oleh Martin, Asyaa dan Rafka tersenyum melihat tingkah Freya dan Martin yang pacaran diam-diam. Rafka membawa Asyaa untuk makan malam, setelah itu mereka jalan-jalan bersama di sebuah taman, pengunjung taman itu hanya sedikit, bisa dibilang taman itu sepi pengunjung, yang lebih sering bercerita hanyalah Asyaa, sedangkan Rafka hanya terus mendengar dan tersenyum, di saat mereka sedang berjalan-jalan tiba-tiba sebuah sepeda melaju kencang, mungkin karena pengendaranya merasa taman itu sepi, jadi dia mengendarainya dengan kecepatan tinggi, sepeda itu hampir menabrak Asyaa, untung saja refleks Rafka sangat cepat, dia menarik Asyaa ke dalam pelukannya, mereka berdua terjatuh tetapi karena perlindungan Rafka yang begitu kuat, Asyaa tidak terluka sedikit pun.
"Asyaa tidak apa-apa, bagaimana dengan kakak?
"Aku baik-baik saja"
Tanpa sengaja Asyaa melihat telapak tangan Rafka terluka,
"Baik-baik saja bagaimana, coba lihat tangan kak Rafka terluka" Asyaa segera memegang tangan Rafka dan memeriksa lukanya, sentuhan dan rasa khawatir yang tampak di wajah Asyaa membuat Rafka merasa senang.
"Cepat berdiri, kita harus pergi ke mobil, di mobil ada kotak obat kan?"
"Mm"
"Baguslah, ayo" Asyaa menarik tangan Rafka dan membawanya ke mobil, di dalam mobil setelah Asyaa mendapatkan kotak obat, dia dengan mahir membersihkan luka di tangan Rafka dengan alkohol, Rafka sedikit meringis saat Asyaa berusaha membersihkan lukanya,
"Tahan sedikit, memang sedikit perih" bujuk Asyaa sambil meniup lukanya bermaksud agar perihnya sedikit berkurang, dalam hatinya Rafka begitu bahagia, sebenarnya dia tidak merasa kesakitan, dia bahkan pernah terluka berkali-kali bahkan lebih parah dari ini, luka sekecil ini tidak ada apa-apanya bagi Rafka, tetapi dia ingin sedikit manja kepada Asyaa, jadi dia berpura-pura kesakitan, setelah membersihkan lukanya Asyaa mengoleskan salep anti biotik secara perlahan, lalu menempelkan plester agar lukanya terlindungi dari debu dan kotoran.
"Asyaa, seharian ini apa yang kamu lakukan?"
"Akh, tadi Asyaa pergi ke beberapa panti asuhan bersama seorang teman, dan beberapa relawan lainnya, Asyaa membantu teman itu membagikan hasil dari acara amal mereka, ada apa?"
"Tidak.. tidak ada apa-apa"
"Tau tidak, temanku itu sudah bertunangan tetapi kasian, katanya tunangannya itu tidak mencintainya" mendengar cerita Asyaa Rafka tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tentu saja dia tahu bahwa tunangan yang diceritakan oleh Asyaa adalah dirinya,
"Padahal kak Helena itu adalah gadis yang cantik, pintar, baik hati lagi, tetapi pria itu tidak mencintainya, sayang banget ya" wanita yang aku cintai hanya kamu, bagaimana mungkin aku mencintai wanita lain?
"Mu.. mungkin pria itu sudah memiliki orang yang dia cintai"
"Seharusnya jika pria itu mencintai gadis lain, dia tidak perlu bertunangan dengan kak Helena"
"Bagimana jika pria itu sudah mengatakan yang sebenarnya dari awal, dan menyuruh wanita itu memilih antara melanjutkan pertunangan atau tidak?"
"Kok kakak membela laki-laki itu sih" Tanya Asyaa tidak senang,
"A.. aku kan, laki-laki, jadi harus membela laki-laki dong" ujar Rafka dengan gugup, jika Theo melihat keadaan Rafka yang saat ini mungkin akan meledeknya habis-habisan, Rafka yang bahkan tidak gugup saat memperebutkan kontrak ratusan miliar dengan perusahaan lain bisa gugup di hadapan gadis kecil yang dia sukai.
"Sudahlah, ayo kita kembali"
"Iya, baiklah.. tetapi kamu harus menelpon Freya dulu"
"Akh iya.. Asyaa hampir lupa" Asyaa segera menelpon Freya, setelah mengatakan bahwa mereka akan pulang, Freya dan Martin juga bersiap pulang, seperti biasa Martin dan Freya menunggu mobil Rafka dan Asyaa di komplek perumahan, setelah mobil Rafka datang, Freya masuk ke dalam mobil dan kembali bersama Rafka dan Asyaa.
Mendengar suara mobil Theo keluar dari kamarnya, dia menyapa Rafka sebentar sebelum Rafka pulang, setelah Rafka pergi Theo masuk ke dalam rumah, Theo mengetuk pintu kamar Asyaa dan Freya,
"Ada apa kakak?" Teriak Freya dari dalam kamar,
"Keluarlah setelah mengganti pakaian, ada yang ingin aku bicarakan" mendengar Theo ingin membicarakan sesuatu Freya dan Asyaa saling menatap satu sama lain, mereka marasa tidak tenang karena tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh Theo.