That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 55



Sudah satu hari Asyaa menghilang, Viana terus menangis dan tidak tidur, begitu pun dengan Jebby. Dia mengerahkan semua koneksi dan uangnya untuk mencari Asyaa, tetapi tetap saja belum ada petunjuk sedikit pun,


Daren juga tidak tidur, dia terus berada di dalam kamar Asyaa menggunakan komputer milik Asyaa menghack semua cctv yang berada di jalan raya untuk melihat apakah ada petunjuk yang terlewatkan, tetapi tidak menemukan apapun.


Di vila tempat Asyaa berada, Asyaa bangun dari tidurnya, mengingat dia tidak berada di tempat ibu dan ayahnya, air matanya menetes, Bibi Alin yang selesai memasak di dapur, datang memeriksa apakah Asyaa sudah bangun, saat membuka pintu kamar Asyaa, Bibi Alin melihat Asyaa yang menangis, dia bergegas ke arah Asyaa dan memeluknya,


"Asyaa, Bibi Alin akan membantu Asyaa membersihkan diri ya." Asyaa yang sangat sedih itu tidak menanggapi dan juga tidak menolak, Bibi Alin seorang wanita yang terlihat imut dan manis, sepertinya seumuran dengan Viana. Bibi Alin membantu Asyaa mencuci muka, dan menyikat gigi setelah itu dia membawa Asyaa ke ruang ganti, di mana ruang ganti itu terdapat banyak pakaian anak perempuan yang sepertinya memang disiapkan untuk Asyaa, melihat itu Asyaa tidak merasa senang sedikit pun, karena di rumahnya juga dia punya ruang ganti sendiri berisi pakaian-pakaian indah yang disiapkan ayahnya Jebby, Setelah menggantikan pakaian Asyaa Bibi Alin membawa Asyaa bermain di ruang tamu, Bibi Alin menyiapkan banyak mainan dan boneka untuk menemani Asyaa bermain, tetapi Asyaa tidak tertarik,


"Bibi Alin aku ingin menonton tv" ujar Asyaa


"Nona kecil, tv lagi rusak jadi kita tidak bisa menonton"


"Bibi Alin berbohong" ujar Asyaa menatap Bibi Alin dengan tajam, Asyaa mengambil remot tv dan menekannya, tetapi benar saja tv itu tidak menyala, Asyaa kesal dan melemparkan remot itu, air matanya kembali menetes, Asyaa bukanlah anak yang kasar dan tidak sopan, tetapi dia ingin mengungkapkan kemarahannya dengan melemparkan remot itu. Dalam hatinya Bibi Alin memohon maaf kepada Asyaa, maaf Nona kecil, kamu tidak boleh menonton tv, karena orang tuamu mencarimu di tv.


Jebby meminta semua media menyiarkan berita dan memajang foto Asyaa di semua siaran tv, dan memberitakan bahwa putri dari pemilik JB Grup telah diculik, bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi atau menemukan keberadaan Nona Kecil dari JB Grup akan diberikan imbalan sejumlah 100 jt bagi yang memberikan informasi, 3 Miliar bagi yang dapat menemukannya. Semua masyarakat terkejut oleh berita itu,


di sebuah cafe.. pengunjung di salah satu meja yang berisi 4 orang itu juga ikut mendiskusikan soal Nona kecil dari JB Grup yang hilang.


"kasian ya, siapa yang berani menculik Nona kecil dari JB Grup" ujar salah satu pelanggan


"mungkin saja saingan bisnis dari JB Grup" Timpal yang pengunjung lain


"atau juga para penculik yang sudah putus asa tidak memiliki uang, jadi menculik Nona kecil agar bisa mendapat uang tebusan yang banyak"


"tetapi kasian ya jadi putri orang kaya raya, hidupnya tidak tenang karena bisa dalam bahaya kapan saja"


"Mm benar juga sih" diskusi mereka terdengar sampai ke beberapa pengunjung, yang ikut menyimak dan menerka-nerka,


Di meja sebelah duduk seorang pria yang sedang menikmati coffe expresso, mendengar diskusi itu dia hanya tersenyum menyeringai.


Jebby pulang dari kantor, saat membuka kamar dia melihat Viana yang memandangi foto Asyaa dengan air mata yang terus menetes, dia mendekat dan memeluknya, berusaha menguatkannya,


"Aku tidak kuat Jebb, aku tidak kuat.. aku gak tahu dia ada di mana sekarang, dia makan dengan baik atau tidak, dia pasti menangis mencari kita, apa yang harus aku lakukan agar dia bisa ditemukan, apa yang harus kita lakukan" mendengar ucapan Viana hati Jebby bagaikan diiris-iris, dia sudah mengerahkan semua kemampuannya tetapi belum juga ada petunjuk, seandainya dia bisa segera menemukan Asyaa, dia akan membunuh penculiknya dengan tangannya sendiri, pikir Jebby.


Tiga hari sudah Asyaa hilang...


Di vila tempat Asyaa tinggal, Asyaa sedang makan di sofa, bagaimana pun sedihnya dia, dia tetap harus makan, pikir Asyaa, Bibi Alin menemani Asyaa di sofa lainnya, karena pandangan Asyaa yang tidak ingin di dekati orang lain, tiba-tiba pintu terbuka dari luar, Asyaa melihat seorang pria masuk, dalam hati Asyaa sudah menebak bahwa pria ini yang membawanya ke vila ini, Asyaa menatap pria itu dengan tatapan permusuhan, pria itu tersenyum kepada Asyaa dan mendekati Asyaa yang sedang duduk di sofa,


"Halo Asyaa, bagaimana kabarmu sayang?" Tanya pria itu.


"Siapa kamu? Mengapa kamu membawaku ke sini?" ujar Asyaa dengan ketus tanpa rasa takut sama sekali, pria itu hanya tersenyum melihat tingkah Asyaa, di matanya Asyaa sangat menggemaskan, tetapi sangat disayangkan karena dia membenci orang tuanya.


"Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin bermain petak umpet dengan orang tuamu, aku senang melihat Jebby dan Viana menderita, hahaha" tawa pria itu membuat Asyaa marah, tanpa pikir panjang Asyaa berlari mendekati pria itu dan langsung menggigit tangannya,


"Aaaaaakkhhh, hey lepaskan.. cepat lepaskan, aku tidak ingin menyakitimu" teriak pria itu, Bibi Alin terkejut dengan tingkah Asyaa, dia bergegas menarik Asyaa yang menggigit tangan Tuannya, Bibi Alin sempat kesulitan memisahkan Asyaa dari Tuannya, tetapi akhirnya bisa terlepas juga, pria itu meringis kesakitan sambil memandang Asyaa yang menatapnya dengan marah, sejujurnya dalam hati Asyaa dia merasa bersalah karena sudah melukai orang lain, tetapi dia tidak ingin menunjukkan rasa bersalah itu, sedangkan Bibi Alin segera mengambil kotak obat dan dengan cepat mengobati Tuannya.


Pria itu sangat kesal tetapi dia tidak ingin menyakiti anak kecil, apalagi Asyaa yang terlihat begitu menggemaskan dengan tubuh yang sedikit berisi, kulit putih dengan pipi yang tembam dan rambut hitam sebahu diikat kuda membuat siapa saja yang melihatnya ingin sekali menyayanginya, pria itu masuk ke kamarnya setelah tangannya di obati oleh Bibi Alin, kemudian dia mulai menelpon dengan menutupi speaker ponsel menggunakan saputangan agar suaranya bisa disamarkan,


Jebby yang sedang di kantornya memeriksa dokumen-dokumen yang dibawa oleh asistennya Viko, tiba-tiba telepon kantor berbunyi, Jebby mengangkatnya,


"Halo" ujar Jebby


"Halo, bagaimana Jebby? Apakah kamu masih mencari putrimu? Putrimu sangat menggemaskan ya, bagaimana jika kulitnya yang putih dan lembut itu mengalirkan darah? Aaakh.. itu pasti sangat menyakitkan untuk kamu lihat bukan?" Mendengar perkataan pria itu Jebby sadar bahwa itu adalah telepon dari orang yang menculik Asyaa,


"Kamu jangan pernah menyentuhnya sedikit pun, jika putriku tergores sedikit saja aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri" ujar Jebby dengan nada dingin dan tatapan membunuh.


"Hahahahaa, bagaimana kamu bisa membunuhku jika kamu tidak bisa menemukanku, kamu sangat konyol hahahaa" pria itu hanya tertawa dengan santai seolah sedang mendiskusikan hal yang tidak penting.


"Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau, tetapi tolong kembalikan putriku" ujar Jebby dengan nada sedikit memohon.


"Hahahahaa.. Jebby aku sangat suka mendengar kamu yang memohon padaku, seandainya aku ada di sana, pasti aku akan lebih senang melihat wajahmu yang memohon itu" ujar pria itu dengan wajah sinis dan benci, kemudian pria tersebut langsung menutup teleponnya.