That Strong Woman Is Mine

That Strong Woman Is Mine
Bab 60



Karena libur sekolah Nina menerima berbagai tawaran syuting drama maupun iklan, saat ini Nina berada di kamarnya sedang menghafalkan naskah drama, tetapi dia merasa bosan jadi dia menelpon Daren,


"Halo" terdengar suara Daren dari seberang telepon


"Halo Daren, kamu sedang apa?" Tanya Nina


"Ada apa?" Ujar Daren tidak menjawab pertanyaan Nina, melainkan kembali bertanya,


"Temani aku membaca naskah lagi ya, aku bosan sendirian"


"Aku sibuk" Daren segera mematikan teleponnya, Nina yang di tutup teleponnya oleh Daren merasa sangat kesal,


"Dasar pria menyebalkan, aku tidak akan membiarkan kamu tenang" ujar Nina dengan senyum licik. Nina mengambil mantelnya, kemudian memakai masker dan topi agar tidak mudah dikenali oleh orang lain.


Dia pergi mengendarai mobilnya ke rumah Hasan dan Maya.


sesampainya di rumah Hasan dan Maya Nina segera mengetuk pintu, Daren yang berada di dalam kamarnya bangkit untuk membuka pintu, mengapa ibu dan ayah harus mengetuk rumah, apakah mereka tidak membawa kunci? Pikir Daren dalam hati, sebelumnya Hasan dan Maya berpamitan kepada Daren untuk pergi menemui kakak dari Hasan yang tinggal di pinggiran kota, sore tadi.


Setelah membuka pintu Daren melihat yang datang ternyata bukan Hasan dan Maya melainkan Nina,


"Mengapa kamu datang ke sini?" Ujar Daren yang berdiri di ambang pintu, Nina yang melihat Daren tidak memiliki niat untuk membiarkannya masuk langsung menerobos Daren yang tidak menyangka Nina akan memaksa masuk,


"Nina apa yang kamu lakukan?" Ujar Daren dengan nada dingin dan tatapan yang tidak bersahabat kepada Nina, melihat Daren Nina tidak peduli,


"Aku sudah bilang kan dari awal kita berkenalan bahwa kamu adalah temanku, kamu tidak boleh menolak permintaanku, jika bukan kamu yang membantuku berlatih dialog lalu siapa lagi?" Jawab Nina dengan santai dan langsung mendudukkan dirinya di sebuah sofa,


"Oh.. ya, Paman dan Bibi ada di mana? Aku ingin menyapa mereka" Tanya Nina sambil melihat ke se isi rumah


"Ayah dan Ibu tidak ada?" Ujar Daren berjalan perlahan ke arah Nina dengan senyum penuh makna,


"Apa? Apa yang ingin kamu lakukan?" Tanya Nina dengan posisi waspada,


"Menurutmu apa yang harus dilakukan oleh pria dan wanita yang belum menikah dalam kondisi rumah yang sepi?" Ujar Daren tersenyum jahil, Daren sudah duduk di sofa yang sama dengan Nina dan mulai mendekatkan tubuhnya secara perlahan kepada Nina, Nina yang sedang menyilangkan kedua tangannya itu terus bergerak menjauhkan dirinya dari Daren, tetapi dia sudah sampai di ujung sofa sehingga sudah tidak bisa bergerak lagi, sedangkan Daren terus sudah di dekatnya,


"Da.. Daren aku..." Nina terbata bata karena merasa gugup dengan tingkah Daren.


"Mengapa? Apa kamu takut?" Tanya Daren, wajah Daren dan Nina sudah sangat dekat bahkan bisa merasakan napas satu sama lain.


"A..aku" Nina tidak bisa berbicara dengan baik karena terlalu gugup.


Tiba-tiba ponsel Daren berbunyi, Daren yang sedang menatap Nina dari jarak yang sangat dekat sesungguhnya ingin tertawa melihat Nina yang begitu gugup, dia masih ingin menjahili Nina tetapi telepon masuk itu mengganggu rencananya, Daren segera memalingkan wajahnya kemudian mengangkat telepon yang berbunyi, itu adalah panggilan dari Maya,


"Daren sayang.. ibu dan ayah tidak bisa kembali malam ini, karena pamanmu sedang tidak sehat, apakah tidak apa-apa kamu sendirian di rumah?" Ujar maya dari seberang telepon,


"Baiklah ibu..aku tidak apa-apa, sampaikan salamku pada Paman dan Bibi" Jawab Daren.


"Iya ibu" kemudian Daren menutup teleponnya.


"Mengapa? Apa Paman dan Bibi tidak akan kembali?" Tanya Nina,


"Iya.. mengapa kamu takut aku akan memakanmu?"


"Tidak... Aku tidak perlu takut lagi, sesungguhnya aku datang ke sini ingin berlatih dialog denganmu, tetapi sepertinya kamu memberiku ide lain" kali ini Nina yang ingin menjahili Daren,


"Bagaimana kalau kita melakukan apa yang harus dilakukan oleh pria dan wanita dalam kondisi rumah yang sepi?" Nina mendekat ke arah Daren yang sedang duduk di sampingnya, disaat Nina makin mendekat Daren justru tidak bergerak sama sekali, bahkan disaat bibir Nina sedikit lagi akan menyentuh bibirnya,


"Huft, menyebalkan" Nina memalingkan wajahnya, karena Daren benar-benar tahu bahwa Nina hanya menggertaknya, dia tahu betul sifat Nina, Nina tidak akan berani melakukan hal itu.


"Sudahlah kamu ingin minum apa?" Tanya Daren sambil bangkit dari sofa,


"Aku ingin cola" jawab Nina


"Baiklah, tunggu di sini" Daren pergi berjalan ke dapur.


Tidak lama Daren kembali dengan sekaleng cola di tangannya, sebelum dia menyerahkan cola itu terlebih dahulu dia membukanya, agar Nina bisa segera meminumnya,


"Nih minum.. habis itu cepat pulang" Ujar Daren sambil menyerahkan cola yang ada di tangannya,


"Terima kasih" Nina mengambil cola itu dan mulai meminumnya,


"Tetapi aku tidak ingin pulang, temanku hanya kamu, jadi kamu harus membantuku"


"Aku tidak memiliki keinginan untuk membantumu"


"Mengapa?"


"Nina ini sudah malam, jika kamu kembali sekarang belum terlalu larut sampai di rumah, tetapi jika kamu tidak pulang sekarang juga, kamu akan sangat larut malam untuk pulang" jelas Daren


"Bagaimana jika aku memutuskan untuk tidak pulang?" Ujar Nina dengan tatapan provokasi, karena dia tahu Daren tidak akan melakukan hal yang tidak akan disetujui Nina, Daren sangat kesal dengan tingkah Nina,


"Kamu yakin tidak mau pulang?"


"Ya" jawab Nina dengan santai


"Sungguh" Daren segera mendekati Nina, dia menarik Nina dari sofa lalu menggendongnya,


"Hey, Daren kamu mau bawa aku ke mana" teriak Nina berusaha melepaskan diri, Nina tidak bisa melihat Daren yang sedang tersenyum jahil, Daren membuka sebuah kamar, yang ternyata adalah kamar Daren sendiri, dia melemparkan Nina ke atas ranjang, ranjang yang empuk membuat Nina tidak merasakan sakit meskipun dilempar begitu saja,


"Daren apa yang kamu lakukan" ujar Nina, sambil melihat ruangan itu, dia menyadari itu adalah kamar Daren, Nina bukan hanya tidak takut, justru dia bangkit dan melihat-lihat foto serta beberapa piagam penghargaan dan puluhan tropy yang terpajang di kamar itu, dan Nina mulai bertanya soal trophy-trophy itu, Daren ingin menertawakan dirinya sendiri melihat Nina yang ke sana ke mari sibuk melihat dan mempertanyakan trophy-trophy yang di raih Daren di berbagai lomba, mulai dari berbagai cabang olahraga hingga olimpiade matematika dan berbagai mata pelajaran lainnya, semua tropy itu di raihnya sejak dia berada di Negara B, sedangkan tropy yang diraihnya saat duduk di bangku sekolah dasar ada di rumah mereka di Negara C yang dikuasai oleh paman dan bibinya, Alex dan Rita, entah semua barangnya dan Viana masih ada di rumah itu atau tidak, kemungkinan besar semua telah dibuang oleh mereka.